Anda di halaman 1dari 12

A.

Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional,
bukan hanya dalam keadaan tidak beraktifitas saja akan tetapi istirahat juga
membutuhkan ketenangan.Kata istirahat berarti menyegarkan diri atau diam setelah
melakukan kerja keras, suatu keadaan untuk melepaskan lelah, bersantai untuk
menyegarkan diri, atau suatu keadaan melepaskan diri dari segala hal yang
membosankan, menyulitkan, bahkan menjengkelkan.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan
oleh stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton, 2007). Tidur merupakan suatu
kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang tidak bermanfaat, tidur merupakan
proses yang diperlukan manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru,
perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, memberi waktu organ tubuh untuk istirahat
maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh (Mass,
2002). Dengan katalain, tidur merupakan suatu keadaan tidak sadarkan diri yang
relative, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih kepada
suatu urutan siklus yang berulang. Tidur memiliki ciri, yaitu adanya aktivitas yang
minimum, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapatnya perubahan proses
fisiologis, dan terjadinya penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar yang mana individu dapat
dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai atau juga dapat dikatakan suatu
keadaan tidak sadarkan diri yang relative, yang bukan hanya keadaan penuh
ketenangan tanpa kegiatan akan tetapi lebih merupakan sutu urutan siklus yang
berulang, dengan ciri-ciri minimnya aktifitas, memiliki kesadaran yang bervariasi,
terdapat perubahan-perubahan proses fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap
rangsangan dari luar.
Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati, secara umum akan
menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari
ketiga masalah, seperti : insomnia, gerakan atau sensasi abnormal dikala tidur dan
rasa mengantuk di siang hari.
Fungsi dan tujuan dari tidur secara jelas tidak diketahui akan tetapi diyakini
bahwa tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan
kesehatan, mengurangi stress pada pulmonary, kardiovascular, endokrin dan lain-lain.
Energi disimpan selama tidur, sehingga energy diarahkan kembali pada fungsi cellular
yang penting.Tidur dapat pula dipercaya mengkontribusi pemulihan psikologis dan
fisiologis. Tidur nampaknya diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara
rutin. Selama tidur gelombang rendah yang dalam (NREM tahap 4), tubuh
melepaskan hormon pertumbuhan manusia untuk memperbaiki dan memperbaharui
sel epitel dan sel otak.Teori lain tentang fungsi tidur adalah tubuh menyimpan energy
selama tidur. Otot skelet berelaksasi secara progresif, dan karena tidak adanya
kontraksi maka otot menyimpan energi kimia untuk proses seluler.

Tabel. Kebutuhan tidur Manusia

Umur Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan Tidur


0-1 bulan Bayi baru lahir 14-18 jam/hari
1-18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari
18 bulan-3 tahun Masa anak 11-12 jam/hari
3-6 tahun Masa prasekolah 11 jam/hari
6-12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari
12-18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari
18-40 tahun Masa dewasa 7-8 jam/hari
40-60 tahun Masa muda paruh baya 7 jam/hari
60 tahun ke atas Masa dewasa tua 6 jam/hari

2. Etiologi
Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor.Kualitas
tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan
memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya.Berikut ini faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan tidur, antara lain :
a. Status kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan dapat tidur
dengan nyenyak.Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka kebutuhan
istirahat dan tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga tidak dapat
tidur dengan nyenyak.Banyak penyakit yang dapat memperbesar kebutuhan
tidur, seperti penyakit yang disebabkan oleh infeksi terutama infeksi
limpa.Infeksi limpa berkaitan denga keletihan sehingga penderitanya
membutuhkan banyak tidur untuk mengatasinya.Banyak juga keadaan sakit
yang membuat penderitanya kesulitan tidur atau bahkan tidak bisa
tidur.Misalnya pada klien dengan gangguan pada sistem pernapasan.Dalam
kondisinya yang sesak napas, maka seseorang tidak mungkin dapat istirahat
dan tidur.
b. Lingkungan
Keadaan lingkungan yang nyaman dan aman bagi seseorang dapat
mempercepat proses terjadinya tidur. Sebaliknya, lingkungna yang tidak aman
dan nyaman bagi seseorang dapat menyebabkan hilangnya ketenangan
sehingga mempengaruhi proses tidur.
c. Stress psikologis
Kecemasan merupakan perasaan yang tidak jelas, keprihatinan dan
kekhawatiran karena ancaman pada sistem nilai atau pola keamanan seseorang
(Carpenito, 2000).Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada
frekuensi tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan
meningkatkan norepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan
mengurangi tahap IV NREM dan REM.
d. Obat-obatan
Obat dapat juga memengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang
memengaruhi proses tidur, seperti jenis golongan obat diuretic yang dapat
menyebabkan insomnia, antidepresan yang dapat menekan REM, kafein yang
dapat meningkatkan saraf simpatis sehingga menyebabkan kesulitan untuk
tidur, golongan beta blocker dapat berefek pada timbulnya insomnia, dan
golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.
e. Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi dapat mempercepat proses tidur.
Konsumsi protein yang tinggi dapat menyebabkan individu tersebut akan
mempercepat proses terjadinya tidur karena dihasilkan tripofan. Tripofan
merupakan asam amino hasil pencernaan protein yang dapat membantu
kemudahan dalam tidur. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang
dapat juga memengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur
f. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk
tidur, sehingga dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan
untuk tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
3. Gejala Klinis
Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan
menimbulkan gejala seperti adanya perubahan-perubahan pada siklus tidur
biologiknya, daya tahan tubuh menurun serta menurunkan prestasi kerja, mudah
tersinggung, depresi,kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat
mempengaruhikeselamatan diri sendiri atau orang lain.
Gejala tidur REM adalah sebagai berikut :
- Biasanya disertai dengan mimpi aktif
- Lebih sulit dibangunkan dari pada selama tidur nyenyak NREM
- Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan yang menunjukkan
inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistema pengaktivasi retikularis
- Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur
- Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur
- Mata cepat tertutup dan terbuka

4. Patofisiologi
Fisiologi tidur merupakan pengaturan tidur yang melibatkan hubungan
mekanisme serebral secara bergantian agar mengaktifkan dan menekan pusat otak
untuk dapat tidur dan bangun.Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem
pengaktivasi retikularis.Sistem tersebut mengatur seluruh tingkatan kegiatan
susunan saraf pusat, termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur.Pusat
pengaturan kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas
pons.Dalam keadaan sadar, neuron dalam reticular activating sistem (RAS) akan
melepaskan katekolamin seperti norepineprin. Selain itu, RAS yang dapat
memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga dapat
menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses
pikir. Pada saat tidur, terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang
berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional
(BSR), sedangkan saat bangun bergantung pada keseimbangan impuls yang
diterima dipusat otak dan sistem limbic.Dengan demikian, sistem batang otak
yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses fisiologis, yaitu:
- Penurunan tekanan darah dan denyut nadi
- Dilatasi pembuluh darah perifer
- Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktus gastrointestinal
- Relaksasi otot-otot rangka
- Basal matabolsme rate menurun 10-30%
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik merupakan hal penting dalam perawatan klien
di rumah sakit.Dimana validitas dari hasil pemeriksaan diagnostik sangat
ditentukan oleh bahan pemeriksaan, persiapan klien, alat dan bahan yang
digunakan serta pemeriksaannya sendiri.
6. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen,
gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, imobilisasi, nyeri pada kaki,
lingkungan yang mengganggu.
b. Cemas berhubungan dengan ketidakmampuan untuk tidur, henti nafas saat
tidur.
c. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia.
7. Penatalaksanaan
Penanganan gangguan tidur dibagi menjadi 2 tahap yaitu :
a. Terapi non farmakologi
Merupakan pilihan utama sebelum menggunakan obat-obatan karena
penggunaan obat-obatan dapat memberikan efek ketergantungan. Ada pun
cara yang dapat dilakukan antara lain :
- Terapi relaksasi
Terapi ini ditujukan untuk mengurangi ketegangan atau stress yang dapat
mengganggu tidur. Bisa dilakukan dengan tidak membawa pekerjaan
kantor ke rumah, teknik pengaturan pernapasan, aromaterapi, peningkatan
spiritual dan pengendalian emosi.
- Terapi tidur yang bersih
Terapi ini ditujukan untuk menciptakan suasana tidur bersih dan
nyaman.Dimulai dari kebersihan penderita diikuti kebersihan tempat tidur
dan suasana kamar yang dibuat nyaman untuk tidur.
- Terapi pengaturan tidur
Terapi ini ditujukan untuk mengatur waktu tidur perderita mengikuti irama
sirkardian tidur normal penderita. Jadi penderita harus disiplin
menjalankan waktu-waktu tidurnya
- Terapi psikologi/psikiatri
Terapi ini ditujukan untuk mengatasi gangguan jiwa atau stress berat yang
menyebabkan penderita sulit tidur. Terapi ini dilakukan oleh tenaga ahli
atau dokter psikiatri
- Mengubah gaya hidup
Bisa dilakukan dengan berolah raga secara teratur, menghindari rokok dan
alkohol, mengontrol berat badan dan meluangkan waktu untuk berekreasi
ke tempat-tempat terbuka seperti pantai dan gunung.

b. Terapi Farmakologi
Mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan seperti
ketergantungan, maka terapi ini hanya boleh dilakukan oleh dokter yang
kompeten di bidangnya. Obat-obatan untuk penanganan gangguan tidur antara
lain :
- Golongan obat hipnotik
- Golongan obat antidepresan
- Terapi hormone melatonin dan agonis melatonin
- Golongan obat antihistamin.
Ada terapi khusus untuk kasus-kasus gangguan tidur tertentu selain yang telah
disebutkan di atas.Misalnya pada sleep apnea yang berat dapat dibantu dengan
pemakaian masker oksigen (Continuous positive airway pressure) atau
tindakan pembedahan jika disebabkan kelemahan otot atas pernapasan.Pada
Restless Leg Syndrome kita harus mencari penyakit dasarnya untuk dapat
memperoleh terapi yang adekuat.

8. Komplikasi
a. Efek psikologis.
Dapat berupa gangguan memori, gangguan berkonsentrasi , irritable,
kehilangan motivasi, depresi, dan sebagainya.
b. Efek fisik/somatik.
Dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi, dan sebagainya.
c. Efek sosial.
Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti susah mendapat promosi
pada lingkungan kerjanya, kurang bisa menikmati hubungan sosial dan
keluarga.
d. Kematian.
Orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan hidup
lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini mungkin
disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek
angka harapan hidup atau karena high arousal state yang terdapat pada
insomnia mempertinggi angka mortalitas atau mengurangi kemungkinan
sembuh dari penyakit. Selain itu, orang yang menderita insomnia memiliki
kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mengalami kecelakaan lalu lintas jika
dibandingkan dengan orang normal.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
1) Identitas Pasien
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
No. Reg :
Tgl. MRS :
Tgl. Pengkajian :
Dx Medis :

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Hub.dgn pasien :
3) Riwayat Kesehatan
 Keluhan utama :
Perawat memfokuskan pada hal-hal yang menyebabkan klien meminta
bantuan pelayanan seperti :
- Apa yang dirasakan klien
- Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba atau
perlahan dan sejak kapan dirasakan
- Bagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari
- Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sangat mengganggu klien

 Riwayat penyakit sekarang :


Kaji kondisi yang pernah dialami oleh klien diluar gangguan yang
dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah berlangsung
lama bila dihubungkan dengan usia dan kemungkinan penyebabnya, namun
karena tidak mengganggu aktivitas klien, kondisi ini tidak dikeluhkan.

 Riwayat diit
Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat
mencerminkan gangguan pola tidur. Pola dan kebiasaan makan yang salah
dapat menjadi faktor penyebab, oleh karena itu kondisi ini perlu dikaji :
- Penurunan berat badan yang drastis
- Selera makan yang menurun
- Pola makan dan minum sehari-hari
- Kebiasaan mengonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi
pencernaan

 Riwayat Tidur :
Data yang perlu dikaji seperti deskripsi masalah tidur klien, pola tidur
biasa, perubahan tidur terakhir, rutinitas menjelang tidur dan lingkungan
tidur, penggunaan obat tidur, pola asupan diet, gejala yang dialami selama
terbangun, penyakit fisik yang terjadi secara bersamaan, status emosional
dan mental saat ini.
 Status Sosial Ekonomi
Kaji status sosial ekonomi klien dengan menghindarkan pertanyaan yang
mengarah pada jumlah atau nilai pendapatan melainkan lebih difokuskan
pada kualitas pengelolaan suatu nilai tertentu.Mendiskusikan dan
menyimpulkan bersama-sama merupakan upaya untuk mengurangi
kesalahan penafsiran.

 Riwayat kesehatan keluarga :


Mengkaji kondisi kesehatan keluarga klien untuk menilai ada tidaknya
hubungan dengan penyakit yang sedang dialami oleh klien.

4) Pola Kesehatan Fungsional Pola Gordon


 Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
 Pola nutrisi dan metabolic
 Pola cairan dan metabolic
 Pola istirahat dan tidur
 Pola aktivitas dan latihan
 Pola eliminasi
 Pola persepsi dan kognitif
 Pola reproduksi dan seksual
 Pola persepsi dan konsep diri
 Pola mekanisme koping
 Pola nilai dan kepercayaan

5) Pengkajian Fisik
 Keadaan umum pasien
 Kesadaran
 Pemeriksaan TTV
Secara umum, teknik pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam
memperoleh berbagai penyimpangan fungsi adalah :Inspeksi, Palpasi,
Auskultasi dan Perkusi.Pengkajian Psikososial : Mengkaji keterampilan
koping, dukungan keluarga, teman dan handai taulan serta bagaimana
keyakinan klien tentang sehat dan sakit.
Analisa (pengelompokan data)
DS :

 Klien mengeluh nyeri


 Klien mengaku tidak bisa beristirahat dengan baik dan selalu mengantuk
 Klien mengeluh sulit tidur dan jika tertidur terbangun lagi beberapa jam
kemudian
DO :

 Klien tampak pucat


 Klien tampak lemas
 Klien tampak bingung
 Klien sesak nafas
 Frekuensi pernafasan klien >24 x/menit
 Frekuensi nadi klien >100 x/menit

6) Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan radiologic

2. Diagnosa Keperawatan
Dari sekian penyakit yang berhubungan dengan gangguan pola tidur, saya
mengangkat penyakit insomnia.Pathway dari insomnia (terlampir).
Diagnosa yang berhubungan dengan gangguan pola tidur yaitu:
- Gangguan pola tidur dengan faktor lingkungan (bising) yang ditandai dengan
pasien menyatakan sulit tidur

3. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan
1 Gangguan Setelah diberikan asuhan NIC Label :
pola tidur keperawatan selama … Enviromental
berhubungan x24 jam, pasien dapat Management :
dengan factor tidur dengan rasa nyeri Comfort
lingkungan yang berkurang dengan  Pilih teman  Teman sekamar
(bising) yang criteria hasil: sekamar yang yang memiliki
ditandai Comfort Status: memiliki kepentingan
dengan pasien Enviroment kesamaan terhadap
menyatakan  Terciptanya kepentingan lingkungan yang
sulit tidur lingkungan yang lingkungan sama
kondusif untuk memungkinkan
tidur minimalisasi suara
 Terciptanya bising pada kamar
lingkungan yang  Kurangi  Pengunjung yang
penuh pengunjung terlalu banyak bisa
kenyamanan menimbulkan
suara yang bising
 Cegah interupsi-  Interupsi-interupsi
interupsi yang yang tidak perlu
tidak perlu dan mengurangi atau
izinkan dalam mengganggu
beberapa periode waktu tidur pasien
 Kecilkan volume  Volume yang kecil
dari bunyi bisa mengurangi
handphone atu gangguan tidur
alarm pada pasien

4. Evaluasi
S: Pasien mengatakan sudah mulai bisa tidur dengan nyenyak
O: Pasien tidak mengalami kesulitan dalam tidur
A: Insomnia
P: Intervensi dilanjutkan
Daftar Pustaka

Potter, Patricia A., Perry, Anne G. 2009. Fundamental Keperawatan, Edisi 7 Buku 3.
Jakarta: Salemba Medika

NANDA International.2018. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2017-


2018.Jakarta: EGC

Morhead, Sue, Johnson, Marion, Maas, Meriden L., Swanson, Elizabeth. 2017.
Nursing Outcomes Classification (NOC), Fourth Edition. Missouri: Mosby

Dochterman, Joanne Mccloskey, Bulechek, Gloria M. 2017. Nursing Interventions


Classification (NIC), Fourth Edition.Missouri: Mosby