Anda di halaman 1dari 21

RISET OPERASI

oleh
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN 1
Rio Afrianda S.T., M.T.

Tempat / Tgl Lahir : Bukittinggi / 28 April 1992


Jenis Kelamin : Laki –Laki
Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kresek Raya No.20D, Duri Kosambi, Cengkareng Jakarta Barat
Email : rio.sttpln@gmail.com
HP : +6285263313349
Riwayat Pendidikan : STT PLN S1 Teknik Elektro (Arus Kuat)
: STT PLN S2 Teknik Elektro (Energi dan Ketenagalistrikan)

Ketua Kelas :
HP :
Sekretaris Kelas :
HP :

Rio Afrianda S.T., M.T.


2
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Rio Afrianda S.T., M.T.

ASPEK PENILAIAN BOBOT

Kehadiran / Sikap 10 %
Tugas / Quiz 30 %
Ujian Tengah Semester 30 %
Ujian Akhir Semester 30 %

Rio Afrianda S.T., M.T.


3
Sekolah Tinggi Teknik PLN
ATURAN PERKULIAHAN
1. Toleransi keterlambatan 30 menit terhitung setelah kuliah
dimulai. bagi yang melebihi batas toleransi tidak di izinkan
untuk absen, tapi diperbolehkan mengikuti perkuliahan
termaksud mengumpul tugas dan mengikuti kuis.
2. Mahasiswa duduk berdasarkan urutan absensi dari depan
kebelakang yang akan bergantian setiap minggunya.
3. Dalam satu semester minimal ada 5 tugas dan kuis, 5 nilai
tertinggi yang akan di imput ke sistem penilaian.
(format penilaian terlampir).
4. Tugas ditulis tangan dengan tinta biru menggunakan kertas
HVS ukuran A4 (format penilaian terlampir).
5. Kuliah menggunakan baju berkerah dan sepatu
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Penilaian
1. Absensi 10%
2. Tugas 30%
3. UTS 30%
100 %
4. UAS 30%
5. BONUS* 10

*Diberikan kepada satu orang yang dapat menjawab pertanyaan dengan


benar, diberikan di setiah akhir sesi perkuliahan.

Rio Afrianda S.T., M.T.


Sekolah Tinggi Teknik PLN
Model Transportasi

Rio Afrianda S.T., M.T.


6
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Model Transportasi:
 Merupakan salah satu bentuk dari model jaringan kerja (network).
 Suatu model yang berhubungan dengan distribusi suatu barang
tertentu dari sejumlah sumber (sources) ke berbagai tujuan
(destinations).
 Setiap sumber mempunyai sejumlah barang untuk ditawarkan
(penawaran) dan setiap destinasi mempunyai permintaan terhadap
barang tersebut.
 Terdapat biaya transportasi per unit barang dari setiap rute (dari
sumber ke destinasi).
 Suatu destinasi dapat memenuhi permintaannya dari satu atau lebih
sumber.
 Asumsi dasar:
 Biaya transportasi pd suatu rute tertentu proporsional dengan
banyak barang yang dikirim

Rio Afrianda S.T., M.T.


7
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Contoh persoalan Model Transportasi:

Suatu perusahaan tekstil mempunyai tiga pabrik di tiga


tempat yang berbeda, yaitu P1, P2 dan P3 dengan kepasitas masing-
masing 60, 80 dan 70 ton per bulan. Produk kain yang dihasilkan
dikirim ketiga lokasi penjualan, yaitu G1, G2 dan G3 dengan
permintaan penjualan masing-masing 50, 100 dan 60.
Ongkos angkut (Rp. 000 per ton kain) dari masing-masing
pabrik ke lokasi penjualan adalah sbb:

G1 G2 G3
P1 5 10 10
P2 15 20 15
P3 5 10 20

Bagaimana cara perusahaan mengalokasikan pengiriman


kain dari ketiga pabrik ke tiga lokasi penjualan agar biaya pengiriman
minimum? Rio Afrianda S.T., M.T.
8
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Representasi Dalam Bentuk Jaringan

Pabrik Gudang
Kapasitas Permintaan
5
60 P1 G1 50
10
10

15
20 G2
80 P2 100
15
5
10
70 P3 G3 60
20

Rio Afrianda S.T., M.T.


9
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Representasi Dalam Bentuk Model LP

Fungsi Tujuan: minimum Z = 5 X11+ 10 X12 + 10 X13 + 15 X21


+ … + 10 X32 + 20 X33
Dengan kendala:
1. Kapasitas pabrik: X11 + X12 + X13  60
X21 + X22 + X23  80
X31 + X32 + X33  70

2. Permintaan: X11 + X21 + X31 = 50


X12 + X22 + X32 = 100
X13 + X23 + X33 = 60

3. Non-negativity Xij  0, untuk i = 1, 2, 3 dan j = 1, 2, 3.

Dimana Xij adalah jumlah kain yang dikirim dari pabrik i ke lokasi
penjualan j
Rio Afrianda S.T., M.T.
10
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Representasi Dalam Bentuk
Tabel Transportasi

G1 G2 G3 Supply

5 10 10
P1 60
15 20 15
P2 80
5 10 20
P3 70

Demand 50 100 60 210

Rio Afrianda S.T., M.T.


11
Sekolah Tinggi Teknik PLN
INITIAL SOLUTION

1. Northwest Corner

G1 G2 G3 Supply

5 10 10
P1 50 10 60

15 20 15
P2 80 80

5 10 20
P3 10 60 70

Demand 50 100 60 210

Solusi: 50x5 + 10x10 + 80x20 + 10x10 + 60x20 = 3250


Rio Afrianda S.T., M.T.
12
Sekolah Tinggi Teknik PLN
INITIAL SOLUTION

2. Least Cost: Minimum row / column / matrix


Prinsip:
 mendistribusikan barang sebanyak-banyaknya, sesuai dengan
penawaran dan permintaan, pada rute dengan biaya terendah pada
baris / kolom / matriks.
G1 G2 G3 Supply

P1 5 10 10 60

P2 15 20 15 80

P3 5 10 20 70

Demand 50 100 60 210

Rio Afrianda S.T., M.T.


13
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Solusi menggunakan metoda Least Cost:

Minimum matriks
G1 G2 G3 Supply

P1 5 10 10 60
50 10
P2 15 20 15 80
20 60
P3 5 10 20 70
70
Demand 50 100 60 210

Solusi : 50x5 + 10x10 + 20x20 + 70x10 + 60x15 = 2350

Rio Afrianda S.T., M.T.


14
Sekolah Tinggi Teknik PLN
INITIAL SOLUTION
3. Vogel Aproximation Method (VAM)
Prinsip:
 Meminimumkan penalty (opportunity cost) karena tidak menggunakan
jaringan termurah.
 Opportunity cost dihitung dari selisih 2 biaya terkecil pada setiap baris dan
kolom.
 Pilih baris/kolom yang memiliki opportunity cost terbesar, alokasikan
sebanyak mungkin ke sel dengan biaya termurah, sesuai dengan supply dan
demand.
Contoh: Lihat tabel awal transportasi sebagai berikut.

I II III Supply
A 8 5 6 120 Penalty
1

B 15 10 12 80 3
C 3 9 10 80 6
Demand 150 70 60 280
5 4 4 15
Penalty
Rio Afrianda S.T., M.T.
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Vogel Aproximation Method (VAM)

Langkah 2:
Demand I dipenuhi sebagian dari C sebanyak 80 unit, kapasitas C habis,
dan baris C dihilangkan. Penalty dihitung kembali berdasarkan matriks 2 x
3 (AI - AII - AIII - BI - BII - BIII)

I II III Supply
Penalty
A 8 5 6
120 1

B 15 10 12
80 3

C 3 9 10
80 80

Demand 150 70 70 60 280

Penalty 7 5 6
Rio Afrianda S.T., M.T.
16
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Vogel Aproximation Method (VAM)

Langkah 3:
Demand I dipenuhi lagi dari A sebanyak 70 unit, terpenuhi semua, dan
kolom I dihilangkan. Penalty dihitung kembali dari matriks 2 x 2 (AII - AIII -
BII - BIII).

I II III Supply
Penalty
A 8 5 6
70 120 50 1

B 15 10 12
80 2

C 3 9 10
80 80

Demand 150 70 60 280

Penalty 5 6
Rio Afrianda S.T., M.T.
17
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Vogel Aproximation Method (VAM)
Langkah 4:
Demand III dipenuhi dari sisa A sebanyak 50 unit. Dengan demikian
otomatis kekurangan demand III 10 unit dipenuhi dari B dan demand II
dipenuhi 70 unit dari B. Semua demand terpenuhi sehingga diperoleh
solusi awal.

I II III Supply
Penalty
A 8 5 6
70 50 120 50 1

B 15 10 12
70 10 80 2

C 3 9 10
80 80

Demand 150 70 70 60 280

Penalty Rio Afrianda


5 S.T., M.T. 6 18
Sekolah Tinggi Teknik PLN
Vogel Aproximation Method (VAM)

Pada Langkah semua demand terpenuhi sehingga diperoleh solusi


awal sebagai berikut:
AI = 70
AIII = 50
BII = 70
BIII = 10
CI = 80
Nilai fungsi tujuan : 70x8 + 50x6 + 70x10 + 80x3 = 1.800

Solusi yang diperoleh diatas, masih merupakan solusi awal. Akan


tetapi dibandingkan dengan metode yang lain, metode ini lebih baik
dan mendekati kondisi optimal

Rio Afrianda S.T., M.T.


19
Sekolah Tinggi Teknik PLN
IMPROVEMENT SOLUTION
1. STEPPING STONE
Prinsip:
 Trial and Error: Mencari alternatif terbaik dari rute yang tidak keluar
sebagai solusi
Initial Northwest Corner solution: 3250
G1 G2 G3 Supply

P1 5 10 10 60
50 10
P2 15 20 15 80
-1 80 +1
P3 5 10 20 70
+1 10 -1 60
Demand 50 100 60 210

Penggunaan rute P2-G3: setiap unit barang yang disalurkan menghemat biaya sebesar 40 –
25 = 15. Oleh karena itu rute ini dapat dimanfaatkan secara maksimum.
Rio Afrianda S.T., M.T.
20
Sekolah Tinggi Teknik PLN
IMPROVEMENT SOLUTION
2. MODIFIED DISTRIBUTION METHOD
Prinsip:
 Trial and Error: Mencari alternatif terbaik dari rute yang tidak keluar
sebagai solusi
Initial Northwest Corner solution: 3250

Rio Afrianda S.T., M.T.


21
Sekolah Tinggi Teknik PLN