Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BANDUL

METODE INVERSI

MATAKULIAH : INVERSI

Oleh:

HARYO BIMO WICAKSONO

03411540000043

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL LINGKUNGAN DAN KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2018
LAPORAN PRAKTIKUM BANDUL METODE INVERSI

HARYO BIMO W

03411540000043

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL LINGKUNGAN DAN KEBUMIAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan bandul dengan metode inversi yang bertujuan


Mendapatkan nilai percepatan gravitasi dari percobaan bandul matematis dan memahami
hasil perhitungan percepatan gravitasi dengan menggunakan metode inversi. Alat dan
bahan yang digunakan yaitu dengan menggunakan objek sebagai bandul yang diikat oleh
benang dan kemudian disimpangkan sejauh 15° dan waktu saat 5 gelombang dicatat. Data
percobaan yang didapat diolah dengan software MATLAB Didapat hasil berupa nilai
percepatan gravitasi g1 = 9.4555 m/s2 (sebelum pembobotan) dan g2 = 9.4535 m/s2
(setelah pembobotan).
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari ilmu fisika, dimulai dari yang ada
dari diri kita sendiri seperti gerak yang kita lakukan setiap saat, energi yang kita
pergunakan setiap hari sampai pada sesuatu yang berada diluar diri kita, salah satu gerak
yang banyak dijumpai yaitu gerak harmoni sederhana. Gerak harmoni sederhana yang
banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah getaran benda pada pegas dan
getaran pada ayunan yang banyak ditemui di taman kanak kanak. Benda dikatakan
bergerak atau bergerak harmonis jika benda tersebut berayun melalui titik keseimbangan
dan kembali lagi keposisi awal karena adanya pengaruh gaya gravitasi yang bekerja
didalamnya.
Metode inversi merupakan suatu kesatuan teknik atau metode matematika dan
statistika untuk memperoleh informasi yang berguna mengenai suatu sistem fisika
berdasarkan observasi terhadap sistem tersebut. Dalam hal ini, observasi merupakan data
dan informasi dalam artian model.
Untuk memahami prinsip kerja gaya gerak harmoni perlu dilakukan percobaan
dengan menggunakan beberapa alat dan bahas lingkup laboratorium yaitu bandul yang
dibuat sedemikian rupa dan juga menggunakan metode inversi dari data observasi guna
membuktikan hasil data yang telah dimodelkan adalah benar.

1.2 Permasalahan
1. Bagaimana mendapatkan nilai percepatan gravitasi dari percobaan bandul matematis?
2. Bagaimana hasil perhitungan percepatan gravitasi dengan menggunakan metode
inversi?

1.3 Tujuan
1. Mendapatkan nilai percepatan gravitasi dari percobaan bandul matematis.
2. Memahami hasil perhitungan percepatan gravitasi dengan menggunakan metode
inversi.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Gerak harmonik sederhana

Gerak harmonik sederhana adalah gerak bolak-balik suatu benda melalui titik
keseimbangannya tanpa teredam. Beberapa benda yang melakukan gerak harmonik sederhana
antara lain gerak benda pada ayunan sederhana, gerak benda pada lintasan licin yang
berbentuk busur lingkaran, gerak benda yang digetarkan pada pegas, dan gerak zat cair yang
digerakkan naik turun pada sebuah pipa U.

Simpangan gerak harmonik dapat diperoleh dengan memproyeksikan kedudukan benda


yang bergerak melingkar beraturan pada diameter lingkaran.

Gambar 2.1 Simpangan Gerak Harmoni Sederhana

Dari gambar diatas diketahui bahwa proyeksi kedudukan benda (y) pada diameter
lingkaran menghasilkan fungsi sinus. Oleh karena itu, simpangan gerak harmonik sederhana
dirumuskan sebagai berikut.

y = A sin θ = A sin ωt
A adalah amplitudo, yaitu simpangan terjauh yang mampu dicapai benda. θ adalah besarnya
sudutfase yang dilalui benda. Benda menempuh satu kali getaran (satu fase) apabila sudut
yang ditempuh sebesar 2π radian (360°). Apabila benda telah menempuh sudutfase sebesar
0O pada saat t = 0, rumus simpangan benda menjadi:

y = A sin (ωt + θ0 )
oleh karena ω = 2π f t , persamaan simpanagan dapat ditulis sebagai berikut:

y = A sin (ωt + θ0 )
= A sin (2π f t + θ0 )
2.1.1 Periode dan Frekuensi Gerak Harmonik Sederhana
Periode (T) adalah waktu yang diperlukan suatu benda untuk melakukan satu getaran
lengkap. Frekuensi (f) adalah banyak getaran yang dilakukan tiap satuan waktu. Satuan
periode dalam SI adalah sekon (s), sedangkan satuan frekuensi dalam SI adalah hertz (Hz)
atau s-1. Dari kedua pengertian tersebut, hubungan antara periode dan frekuensi sebagai
berikut.

Besarnya gaya pemulih pada ayunan sederhana:


Fp = -mg sin θ
Berdasarkan hukum II newton, F = ma sehingga:

Percepatan gerak harmonic sederhana bernilai a = ω2y. persamaan tersebut menjadi

2.2 Gaya Gravitasi

Gaya gravitasi adalah gaya tarik menarik antar dua benda yang memiliki massa.
Gravitasi matahari menyebabkan benda-benda disekitar matahari beredar mengelilinginya.
Begitu juga dengan gravitasi bumi yang menarik benda disekitarnya baik itu didalam atau
diluar angkasa (bulan, meteor, satelit dan sebagainya) asalkan benda tersebut memiliki massa.
Hukum gravitasi universal menyatakan bahwa setiap massa benda menarik massa
benda lainnya dengan gaya yang menghubungkan kedua benda. Besar gaya ini yaitu
berbanding lurus dengan perkalian kedua massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak
antara kedua massa benda tersebut.
Jika dua buah benda bermassa m1 dan m2 dipisahkan oleh jarak R, maka besar gaya
gravitasi antar kedua benda adalah :
Keterangan :
F = gaya tarik gravitasi (N)
G = konstanta gravitasi umum (6,673 x 10–11 Nm2/kg2)
m1, m2 = massa masing-masing benda (kg)
R2 = jarak antara kedua benda (m)

Gambar 2.2 Visualisasi Gaya Gravitasi

Pada gambar diatas, F12 merupakan gaya gravitasi yang dikerjakan m1 pada m2
sedangkan F21 merupakan gaya yang dikerjakan m2 pada m1. F12 bekerja pada m2 menuju
m1, begitu juga sebaliknya F21 bekerja pada m1 dan menarik m1 menuju m2. F12 dan F21
mempunyai besar yang sama dengan arah yang saling berlawanan sehingga disebut dengan
pasangan aksi reaksi. Pada gambar juga terdapat unsur r, dimana r merupakan jarak antara
pusat m1 dan pusat m2.

Pada gambar sudah terdeskripsikan bagaimana hubungan antara gaya, massa dan jarak.
Namun, ada yang kurang bila dilihat berdasarkan rumusnya yaitu nilai konstanta gravitasi
umum. Nilai konstanta gravitasi umum (G) ditentukan dari hasil percobaan yang dilakukan
oleh Henry Cavendish pada tahun 1798 dengan menggunakan peralatan neraca Cavendish.

Gambar 2.3 Neraca Cavendish

Seperti yang terlihat pada gambar diatas neraca Cavendish mempunyai dua bola kecil
yang bermassa masing-masing m1 yang diletakkan di ujung batang kecil yang digantungkan
dengan seutas tali. Selain bola kecil ada dua bola besar dengan massa m2. Pada bagian atas
serat penggantung diletakkan sebuah cermin kecil untuk memantulkan berkas cahaya yang
akan diamati puntiran seratnya. Dengan keberadaan gaya gravitasi antara kedua bola maka
serat akan terpuntir. Puntiran ini menggeser berkas cahaya pada skala pengukur. Setelah gaya
antara dua massa dan massa masing-masing bola terukur, maka akan didapatkan konstanta
gravitasi umum seperti yang ditemukan Cavendish yaitu sebesar 6,673 x 10–11 Nm2/kg2.

2.3 Inversi Model Garis

Pengukuran temperatur terhadap kedalaman di bawah permukaan bumi menunjukkan


bahwa semakin dalam, temperatur semakin tinggi. Misalnya telah dilakukan sebanyak empat
kali (N= 4) pengukuran temperatur (Ti) pada kedalaman yang berbeda beda (zi). Tabel
pengukuran secara sederhana disajikan seperti ini: Grafik sebaran data observasi ditampilkan
pada Gambar 2.1. Lalu kita berasumsi bahwa variasi temperatur terhadap kedalaman
ditentukan oleh rumus berikut ini:
m1 + m2zi = Ti

Tabel 2.1: Data temperatur bawah permukaan tanah terhadap kedalaman

Pengukuran ke-i Kedalaman (m) Temperatur (0C)


1 z1 = 5 T1 = 35
2 z2 = 16 T2 = 57
3 z3 = 25 T3 = 75
4 z4 = 100 T4 = 225

Gambar 2.4 Grafik Temperatur vs Variasi Temperatur Terhadap Kedalaman

dimana m1 dan m2 adalah konstanta-konstanta yang akan dicari. Rumus di atas disebut mod-
el matematika. Sedangkan m1 dan m2 disebut parameter model atau biasa juga disebut
unknown parameter. Pada model matematika di atas terdapat dua buah parameter model, (M
= 2). Sementara jumlah data observasi ada empat, (N = 4), yaitu nilai-nilai kedalaman, zi, dan
temperatur, Ti. Berdasarkan model tersebut, kita bisa menyatakan temperatur dan kedalaman
masing-masing sebagai berikut:
m1 + m2z1 = T1
m1 + m2z2 = T2
m1 + m2z3 = T3
m1 + m2z4 = T4
Semua persamaan tersebut dapat dinyatakan dalam operasi matrik berikut ini:

Lalu ditulis secara singkat


Gm = d

dimana d adalah data yang dinyatakan dalam vektor kolom, m adalah model parameter, juga
dinyatakan dalam vektor kolom, dan G disebut matrik kernel. Lantas bagaimana cara
mendapatkan nilai m1 dan m2 pada vektor kolom m? Manipulasi1 berikut ini bisa
menjawabnya
GtGm = Gtd

dimana t disini maksudnya adalah tanda transpos matrik. Selanjutnya, untuk mendapatkan
elemen-elemen m, diperlukan langkah-langkah perhitungan berikut ini:

1. Tentukan transpos dari matrik kernel, yaitu Gt

2. Lakukan perkalian matriks GtG

dimana N = 4 dan i = 1,2, 3, 4.

3. Kemudian tentukan pula Gtd


4. Sekarang persamaan sebelumnya dapat dinyatakan sebagai

Berdasarkan data observasi pada tabel di atas, diperoleh

Operasi matriks di atas akan menghasilkan nilai m1 = 25 dan m2 = 2. Program Matlab


telah menyediakan sebuah baris perintah untuk menghitung elemen-elemen m, yaitu

m=inv(G’*G)*G’*d

Demikianlah contoh aplikasi teknik inversi untuk menyelesaikan persoalan model garis.
Kemudian dapat mengaplikasikan pada kasus lain, dengan syarat kasus yang anda tangani
memiliki bentuk model yang sama dengan yang telah dikerjakan pada catatan ini, yaitu model
garis:
y = m1 + m2x
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan pada percobaan ini yaitu:

1. Statif
2. Benang
3. Objek sebagai bandul
4. Penggaris
5. Busur derajat
6. Stopwatch
7. Software MATLAB

3.2 Cara Kerja

Alat dan bahan pada sub bab 3.1 dipersiapkan terlebih dahulu. Setelah siap, benang
dengan panjang L yang diukur dengan penggaris diikat dengan objek sebagai bandul.
Kemudian, benang yang telah terikat dengan objek sebagai bandul diikatkan pada statif
sehingga ayunan bandul siap untuk dilakukan percobaan. Setelah itu, ayunan bandul yang
telah siap dimiringkan sebesar 15° yang diukur dengan busur derajat. Ketika tepat pada 15°
bandul dilepas, disaat yang sama stopwatch diaktifkan untuk merekam waktu. Bandul yang
berayun ditunggu dan dihitung hingga menghasilkan 5 gelombang. Ketika bandul tepat
menghasilkan 5 gelombang, stopwatch dinonaktifkan kemudian waktu yang terekam dicatat.
Lakukan pengulangan percobaan sebanyak 10 kali. kemudian, ulangi percobaan diatas
dengan variasi panjang L benang sebanyak 5 variasi. Setelah data observasi terkumpul,
kemudian diolah dengan menggunakan software MATLAB untuk proses inversi.
BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data

Setelah dilakukan percobaan bandul dengan 5 variasi panjang L tali (dalam hal ini
benang) telah didapat data percobaan sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Data Percobaan

panjang L waktu (s) / 25 4.42


no.
(m) 5 gelombang 26 4.45
1 3.35 27 4.36
2 3.3 28 4.39
3 3.26 29 4.48
4 3.29 30 4.37
5 3.39 31 4.77
0.09
6 3.2 32 4.55
7 3.4 33 4.9
8 3.27 34 4.81
9 3.33 35 4.79
10 3.28 0.21
36 4.81
11 3.52 37 4.68
12 3.71 38 4.75
13 3.6 39 4.72
14 3.55 40 4.83
15 3.64 41 5.33
0.13
16 3.48 42 5.28
17 3.57 43 5.31
18 3.7 44 5.27
19 3.68 45 5.35
20 3.5 0.28
46 5.25
21 4.35 47 5.27
22 4.46 48 5.3
0.18
23 4.35 49 5.29
24 4.38 50 5.28

4.2 Perhitungan

Setelah didapatkan data hasil percobaan, dapat dilakukan perhitungan untuk


mendapatkan nilai percepatan gravitasi. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan
software MATLAB sebagai proses inversi. Berikut perhitungan data percobaan:
clc
clear all
close all

data=load('bandul.txt'); -> untuk memanggil data hasil percobaan


t=data(:,2); -> untuk memanggil data percobaan domain waktu
T=t./5; -> perhitungan periode gelombang, waktu dibagi 5 karena saat
pengukuran waktu yang dicatat adalah waktu per 5 gelombang
T2=T.^2;
L=data(:,1); -> untuk memanggil data percobaan domain panjang
L=L./100; -> perhitungan panjang dalam satuan meter, dikarenakan saat
pengukuran panjang benang yang digunakan masih dalam satuan centimeter
n=length(L);

for i=1:n
G(i,1)=L(i).*(4*((3.14)^2)); -> matriks kernel
end

m=inv(G'*G)*G'*T2; -> proses perhitungan inversi

T2inv=4*((3.14)^2)*L*m;

misfit=(T2inv-T2).^2;
w=(misfit).^(-2);
m2=(inv(G'*diag(w)*G))*G'*diag(w)*T2;
Tbobot=G*m2;

->Script diatas digunakan untuk pembobotan

for i=1:50
E(i)=w(i)*(T2inv(i)-T2(i))^2;
Ei=sum(E);
end

->Crosscheck data

g1=1/m
g2=1/m2

plot(L,T2,'o')
hold on
plot(L,Tbobot,'-b')
hold on
plot(L,T2inv,'r--o')
hold on
xlabel('panjang tali(m)');
ylabel('periode(s)');

`->Script plot diatas merupakan script untuk membuat grafik regressi


linear dengan hasil pada sub bab 4.3

Script diatas merupakan script yang digunakan untuk mendapatkan nilai percepatan
gravitasi dengan metode inversi. Dengan prinsip inversi yang berlaku yaitu menjadikan data
observasi menjadi model informatif, dari sampling data yang bermacam macam tersebut
dilakukan pengelompokan yang kemudian dicari nilai rata rata dengan proses iterasi dengan
tujuan hasil nilai yang didapat berupa sebuah nilai percepatan gravitasi rata rata dengan nilai
eror minimum.
4.3 Hasil dan Pembahasan

Setelah dilakukan perhitungan didapatkan hasil percepatan gravitasi dan grafik regresi
linear antara panjang L tali (m) dengan periode (s). berikut hasil perhitungan percobaan ini:

g1 = 9.4555 m/s2

g2 = 9.4535 m/s2

Grafik 4.1 Regresi Linear Antara Panjang L tali (m) dengan Periode (s)

Dilakukan percobaan bandul dengan metode inversi dengan tujuan mendapatkan nilai
percepatan gravitasi dari percobaan bandul matematis dan memahami hasil perhitungan
percepatan gravitasi dengan menggunakan metode inversi. Alat dan bahan yang dibutuhkan
pada percobaan ini yaitu statif yang berfungsi sebagai penyangga bandul, benang sebagai
lengan bandul, penggaris yang berfungsi mengukur panjang benang, busur derajat berfungsi
untuk mengukur simpangan bandul, stopwatch digunakan untuk merekam waktu percobaan,
dan software MATLAB digunakan untuk pengolahan data proses inversi. Telah didapat data
percobaan yang dapat dilihat pada Tabel 4.1 yang kemudian diolah dengan secara inversi
dengan software MATLAB dan didapat nilai percepatan gravitasi yaitu g1 = 9.4555 m/s2
(sebelum pembobotan) dan g2 = 9.4535 m/s2 (setelah pembobotan). Hasil nilai percepatan
gravitasi yang didapat merupakan iterasi dari 10 data sampling sehingga didapat nilai
percepatan gravitasi rata rata tersebut. Namun, jika percobaan menggunakan lebih banyak
sampling data kemungkinan nilai percepatan gravitasi yang didapat bisa mencapai eror
minimum. Nilai percepatan gravitasi tersebut mendekati nilai ketetapan percepatan gravitasi
yaitu g= 9.8 m/s2 dan masih dianggap benar. Dari grafik 4.1 dapat dilihat bahwa semakin
panjang benang yang digunakan dalam percobaan semakin besar nilai periode. Hal ini
disebabkan karena semakin panjang tali maka waktu yang dibutuhkan bandul semakin lama
untuk membuat 1 gelombang. Nilai percepatan gravitasi pada percobaan ini terdapat
perbedaan dengan nilai percepatan gravitasi pada literature (g= 9.8 m/s2). Hal ini dikarenakan
ada beberapa faktor saat pengukuran, yaitu faktor human error salah melakukan percobaan
yaitu saat menyimpangkan bandul sebelum dihitung waktu kecepatan geraknya, ketidak
tepatan dalam merekam waktu, dsb. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan
nilai percepatan gravitasi yaitu faktor gesekan udara yang tidak ditinjau, ataupun bisa jadi
nilai percepatan gravitasi yang diukur merupakan nilai percepatan gravitasi residual (sekitar).
BAB V

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Nilai percepatan gravitasi g1 = 9.4555 m/s2 (sebelum pembobotan) dan g2 = 9.4535


m/s2 (setelah pembobotan).
2. Hasil inversi mendapatkan nilai percepatan gravitasi dengan pendekatan matriks
transpose dan matriks kernel untuk mendapatkan nilai yang ditinjau dalam proses
inversi yang kemudian dilakukan proses iterasi untuk mendapatkan sebuah nilai
percepatan gravitasi dengan eror minimum.
DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, D.C, Yuhlisa Hanum (Alih Bahasa). 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga.
Jakarta.

Meju, A Max.1994. Geophysical Data Analysis: Understanding Inverse Problem Theory and
Practice.). Society of Exploration Geophysicists (SEG).

Wibawa Satria, I Made. 2009. Penintun Praktikum Fisika Dasar 2. Laboratiorium F. MIPA
Universitas Udayana. Denpasar.
LAMPIRAN