Anda di halaman 1dari 10

ISLAM DI INDONESIA

Salah satu cara untuk mengamati perilaku Islam di dunia adalah dengan bercermin
pada Islam di Indonesia. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Islam di
Indonesia telah memperlihatkan suatu ciri khas tertentu, yang mungkin berbeda dari tempat
asal Islam itu sendiri, Mekkah.

Sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam telah membuktikan kebenarannya. Kebenaran
Islam telah terbukti di berbagai belahan dunia. Setidaknya itulah hasil perjuangan Rasulullah
SAW yang menyebarkan Islam mati-matian sampai-sampai harus menghadapi berbagai
cobaan yang datang silih berganti. Ketika beliau masih hidup, setidaknya, beliau telah
melihat orang secara berbondong-bondong masuk Islam pada masa Fathu Mekah. Jauh
setelah itu, Islam kini berada di setiap jengkal negeri di seluruh dunia.

Di Indonesia Islam merupakan agama resmi dan menjadi mayoritas. Oleh karena itu, umat
Islam perlu bangga akan tingginya umat Islam di indonesia. Mengapa Islam di Indonesia
dapat menjadi besar dan terhormat? Itu tidak terlepas dari usaha para pendahulu kita yang
dengan tekun dan gigih menyebarkan dan mempertahankan Islam di Indonesia. Mereka tidak
hanya menyebarluaskan pesan Islam, tetapi juga mempertahankan agar pesan ini tidak punah.

A. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Pada tahun 30 H/651M, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW,
Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah
Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para
utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian,
tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat
Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut
dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari
negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran.
Aceh adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam
pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada
saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang
menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari
Maghribi yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh
telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang
ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang
salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun.
Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari.
Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang
Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara
secara besar-besaran. Pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara
massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara
besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki
kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak
Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para
penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan
para pendatang Arab.

Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya
kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit,
Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa
kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol.
Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan
merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar
menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-


pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin
dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga
semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam
Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah
Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya
menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan
terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin
Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan
yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara,
mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan
dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam
Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus
tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan
akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab
dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur
makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka
mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, sehingga
semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu
daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi
yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum
Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama
dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa.
Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang
pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M.
Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab
Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah.
Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan
Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari
serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin
Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya
kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas
pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran
akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah
terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang.
Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang
penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun
justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada
akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah
mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan
Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka
(Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga
perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa
(Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

B. Perkembangan Islam di Indonesia

1. Babak Pertama, Abad 7 Masehi (Abad 1 Hijriah)

Pada abad 7 M, islam sudah sampai ke Nusantara. Para da’i yang datang ke Indonesia berasal
dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada
juga yang beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni jalur sutera (jakur
perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.

Sampainya dakwah di Indonesia yakni melalui para pelaut dan pedagang yang membawa
dagangannya dan juga membawa akhlak islami dan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai
yang islami. Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas Muslim
yang berada di daerah-daerah pesisir yang terus berkembang sampai akhirnya menjadi
kerajaan-kerajaan Islam.

2. Babak Kedua, Abad 13 Masehi

Pada abad ini berdiri kerajaan-kerajaan Islam di berbagai penjuru Nusantara. Pada abad 13
Masehi ada fenomena yang disebut Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan
dakwah di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Wali Songo mengembangkan dakwah atau
melakukan proses Islamisasinya melalui berbagai cara dan saluran, antara lain:
a. Perdagangan
b. Pernikahan
c. Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya Indonesia, dan
juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-
nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran islam.
d. Seni dan Budaya
Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan mewarnai wayang
tersebut dengan nilai-nilai Islam. Para wali juga mengubah lagu-lagu tradisional
dalam langgam islami. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
e. Tasawuf
Ajaran tasawuf pada dasarnya mirip dengan ajaran Hindu, yaitu praktek Islam yang
mengedepankan kehidupan yang sederhana dan banyak mendekatkan diri pada sang
Khalik. Dengan ini, Islam dengan mudah dapat diterima karena memiliki keserupaan
dengan alam pikiran penduduk pribumi yang sudah memiliki latar belakang agama
nenek moyang mereka.

3. Babak Ketiga, Masa Penjajahan Belanda


Pada abad 17 Masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda ke
Indonesia dengan kamar dagangnya VOC, semenjak itu hampir seluruh wilayah
Nusantara dijajah oleh Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di
Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan
proses penyebaran dakwah terpotong.

Pada masa itu, ketika penjajahan datang, pesantren-pesantren diubah menjadi markas-
markas perjuangan, santri-santri menjadi jundullah (pasukan Allah SWT) yang siap
melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Ulama-ulama
menggelorakan jihad melawan Belanda.

4. Babak Keempat, Abad 20 Masehi


Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas
budi yang sebenarnya hanya membawa manfaat bagi lapisan masyarakat yang dapat
membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan
pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi
sebsenarnya bertujuan untuk mensosialkan ilmu-ilmu Barat yang jauh dari Al Quran dan
Hadits dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan
untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin dipegang lagi oleh orang-orang Belanda.
Yang mendapat pendidikan tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi
(bangsawan), karena itu pemimpin-pemimpin pergerakan adalah dari golonhan
bangsawan. Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih bersifat organisasi
formal daripada dengan senjata.

5. Babak Kelima, Pasca Kemerdekaan


Setelah Indonesia merdeka, perkembangan islam dengan sendirinya mengalami
pergeseran. Dakwah Islam di Indonesia banyak dikembangkan oleh institusi-institusi
seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Persis, dan lain-lain. Hingga sekarang dakwah
Islam lebih banyak dimainkan oleh organisasi-organisasi Islam ini, terutama
Muhammadiyah dan NU.

Pada masa ini juga berlangsung “pemurnian Islam” yang merupakan pengaruh dari
perkembangan pemurnian Islam di Timur Tengah. Jadi pengertian Islamisasi pada ranah
ini adalah usaha untuk “mengislamkan” orang Islam. Maksudnya membersihkan umat
Islam dari unsur-unsur keyakinan lama yang tidak ada kaitannya dan bahkan dianggap
bertentangan dengan ajaran Islam, berupa bid’ah, khufarat, dan tahayul.

Usaha Muhammadiyah untuk melakukan pemurnian agama sebagian mendapat


tantangan dari NU. Ini disebabkan karena beberapa praktek NU, seperti tahlilan, talqin.
Dan mengazani orang mati dianggap bid’ah (mengada-ada) oleh Muhammadiyah.
Sampai sekarang perbedaan pendapat masih ada. Namun, sekarang ini masing-masing
pihak sudah dapat menerima satu dengan yang lainnya.

Di era reformasi, kekuatan-kekuatan Islam yang baru bermunculan. Ini disebabkan


karena beberapa hal:
1. Adanya kebebasan mengemukakan pendapat pendapat di muka umum.
2. Jalur pendidikan Islam di luar negeri, baik di Timur Tengah maupun negeri-negeri
Barat.
3. Krisis ekonomi yang berdampak pada krisis-krisis lain baik dibidang sosial,
pendidikan, maupun agama.
4. Perkembangan model-model pemahaman Islam tersebut dengan sendirinya
menambah keragaman Islam di Indonesia. Tampaknya Islam yang dapat diterima di
Indonesia sudah pasti adalah Islam yang dapat berdamai dengan Negara. Sejauh ini,
Muhammadiyah dan NU tetap konsisten pada semangat ini. Pada babak ini proses
dakwah di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan gerakan-
gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam
lebih utuh meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah
maka proses dakwah di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat
kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awal masuknya
Islam yg secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian
besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan
membangun ekonomi masyarakat.

Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang


merupakan kota-kota yangg perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota
muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan
merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian, Allah
Subhanahu wa ta’ala mentakdirkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah
penduduk muslim terbesar di dunia.

C. Karakteristik Islam di Indonesia

1. Majemuk / Plural
Kemajemukan merupakan ciri khas masyarakat Indonesia pada umumnya. Keragaman
model-model beragama dapat ditemukan di dalam Islam. Seorang antropolog Amerika
Serikat bernama Clifford Geertz pernah membagi perilaku keberagaman umat Islam
Indonesia ke dalam tiga kelompok, yaitu abangan, santri dan priyai.

Abangan merupakan turunan dari kata abang (Jawa: merah). Istilah abangan dipakai bagi
pemeluk Islam yang tidak begitu memperhatikan perintah-perintah agama Islam dan kurang
teliti dalam memenuhi kewajiban-kewajiban agamanya.

Santri merupakan penganut islam yang taat. Istilah ini seringkali kita dengar untuk menyebut
orang-orang yang belajar di pesantren.

Priyai adalah kelompok ketiga penganut Islam, yang menurut Greetz adalah kelompok Islam
kelas elit. Biasanya adalah mereka yang disebut sebagai Muslim birokrat atau Muslim
berdasi.

2. Toleran

Toleransi adalah salah satu semangat dari Islam. Semangat ini tumbuh seiring dengan
“perkawinan” antara budaya Islam dan budaya lokal. Sehingga corak singkretisme (campuran
faham) tidak isa dihindarkan.

Sifat toleransi Muslim Indonesia muncul karena bangsa Indonesia disatukan dalam rumpun
budaya. Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan ragam budaya dan agama sejak mula
kedatangannya.

3. Moderat

Islam di Indonesia adalah Islam yang moderat. Moderat dalam hal ini dimaksudkan untuk
menggambarkan kehidupan keagamaan yang berada di tengah-tengah, tidak ekstrim dan tidak
liberal. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, umat Islam adalah mayoritas di negeri
ini, iini berarti bahwa religiusitas bangsa Indonesia adalah cerminan religiusitas umat Islam
itu sendiri. Islam indonesia merupakanagama yang melindungi kehidupan agama dan
kepercayaan lain. Agama dan kepercayaan lain dapat hidup aman dan damai di tengah-tengah
mayoritas umat Islam. Hal ini tentu saja berbeda dengan keadaan umat Islam di beberapa
negara yang hidup mayoritas di tengah-tengah mayoritas agama lain.

4. Singkretik

Singkretisme juga bisa dikatakan merupakan akibat dari akulturasi Islam dan budaya lokal.
Makna singkretik di sini maksudnya adalah adanya campuran unsur Islam dan budaya lokal
yang tidak bertentangan dengan semangat fundamental Islam itu sendiri.
Singkretisme Islam dan budaya lokal inilah yang melahirkan Islam dalam bentuknya
sekarang. Sebagai contoh, tradisi menggunakan peci hitam sebenarnya adalah tradisi orang-
orang Turki yang kemudian menjadi pakaian orang Indonesia, terutama oleh orang-orang
Islam. Demikian pula dalam ritual-ritual Islam, unsur-unsur budaya lokal masih sangat jelas,
termasuk pada sebagian bangunan masjid. Jadi meskipun berasal dari Timur Tengah,
tampilan Islam di Indonesia tidak selalu bernuansa Arab.

D. Peran Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat yang Adil dan Makmur

1. Di Bidang Politik dan Ekonomi

Sejak awal kedatangannya, sebenarnya umat Islam sudah mulai memainkan peran politik
mereka. Sultan atau raja adalah penguasa sekaligus pengembang Islam. Sultan atau Raja
mengadakaan konsultasi dengan para ulama dalam setiap kebijakan yang hendak dijalankan,
sebagaimana terlihat misalnya pada Raden Fatah, raja Kesultanan Demak yang selalu
menghargai petunjuk Wali Songo.

Pada sisi lain dapat dilihat bahwa semenjak abad ke-16 sampai abad ke-20 umat Islam di
bawah para pemimpinnya menghadapi berbagai corak tantangan kekuasaan Barat dan
mengadakan perlawanan bagi setiap fase penjajahan, misalnya pada:

a. Fase persaingan dagang

b. Fase penetrasi

c. Fase perluasan daerah jajahan

d. Fase penindasan

Ajaran Islam untuk cinta tanah air mendorong segenap penduduk Nusantara untuk
memberontak melawan penjajah. Maka lahirlah pemimpin-pemimpin Islam yang demikian
besar yang menentukan arah pergerakan di Indonesia.. Sejak itu peran umat Islam dalam
dunia politik semakin jelas. Dalam Panitia Persiapaan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) para
ulama dan pemimpin Islam berperan aktif dalam menyusun dasar kehidupan negara, dan ikut
serta merumuskan UUD 1945.

Setelah Indonesia merdeka, peran unat Islam tetap besar di bawah Soekarno. Meskipun ia
berhaluan nasionalis-sosialis, tetapi pandangan-pandangan agamnya menjadi ilham bagi
pembangunan bangsa. Hingga masa reformasi umat Islam tetap menunjukkan sikap politik
yang luar biasa. Setelah berhasil menjalankan pemilu 1999, 2004, dan 2009, dunia
Internasional semakin kagum bahwa masyarakat Islam di Indonesia adalah yang paling
berhasil menjalankan demokrasi.

2. Di Bidang Agama dan Sosial

Agama dan sosial adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Ini disebabkan karena sejak
kedatangannya di Nusantara, Islam telah berpadu dengan masyarakat yang kemudian
membentuk sebuah masyarakat Muslim Indonesia.
Sebagai bangsa yang religius dan berketuhanan Yang Maha Esa, pemerintah memiliki
perhatian besar tehadap agama, terutama agama Islam yang penganutnya adalah mayoritas.
Perhatian tersebut diwujudkan dalam pembinaan kehidupan beragama, antara lain:

a. Mendirikan Departemen Agama pada tanggal 3 januari 1945.

b. Menetapkan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

c. Menyelenggarakan pengurusan ibadah haji dari tanah air.

d. Membentuk MUI pada tahun 1975 dengan struktur organisasi yang menyebar sampai ke
tingkat desa.

e. Melembagakan MTQ secara nasional dari tingkat pusat sampai tingkat desa, mendirikan
dan meresmikan mesjid Istiqlal sebagai masjid yang sepenuhnya dibiayai pemerintah,
membentuk Badan Amil Zakat dan sebagainya.

3. Di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Di bidang pendidikan dan kebudayaan, peran Islam sangatlah besar. Sejak Islamisasi negeri
ini telah berdiri lembaga-lembaga pendidikan, khususnya pesantren dan surau yang telah
menjadi benteng Islam yang demikian kuat dan berpengaruh. Pemerintah telah mendirikan
madrasah dari tingkat dasar, menengah hingga tingkat atas.

Lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia telah berdiri sejak 1940. Kemudian berdiri
pula lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikelola negara dan swasta di seluruh Indonesia,
seperti Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTIAIN), Institut Agama Islam Negeri
(IAIN), Universitas Islam

Negeri (UIN), Universitas Islam Indonesia (UII), dll. Dalam bidang kebudayaan di Indonesia,
Islam mempunyai peranan penting, antara lain di bidang:

a. Arsitektur, khususnya pada bangunan mesjid.

b. Hidup rohani, paham sufismi atau mistik yang tumbuh pada hidup rohani orang
Indonesia sejak awlnya masuknya Islam di Indonesia, seperti Kadiriah, Khalwatiah,
Naksyabandiah, dan sebagainya.

c. Hari-hari besar Islam.

d. Seni kaligrafi

e. Bahasa Indonesia, yang menyerap sebagian bahasa Al Quran (Arab) ke dalam bahasa
Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia sehingga bahasa Arab itu terabadikan dalam
bahasa Indonesia, seperti pada kata rakyat (ra’iyyah). Musyawarah, shalat, zakat, dan
sebagainya.
E. Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara

Akhir-akhir ini muncul kekhawatiran di tengah-tengah umat Islam khusunya dan bangsa
Indonesia pada umumnya, mulai pudarnya nilai-nila Pancasila di tengah-tengah anak bangsa
ini, hal ini dapat dilihat dalam beberapa gambaran, seperti munculnya radikalisme di tengah-
tengah masyarakat.

Di era reformasi yang ditandai dengan kebebasan di segala bidang, kebebasan tersebut juga
turut dinikmati beberapa kelompok Islam yang konservatif dan radikal. Ironisnya,
perjuangan besar itu bermuara pada obsesi mengganti pancasila sebagai dasar negara
Indonesia, meski melalui banyak varian bentuk, ide, gagasan dan cita-cita yang
dikembangkan dari obsesi tersebut. Varian tersebut antara lain pendirian khilafah Islamiyah,
pendirian negara Islam, pelaksanaan syariat Islam dan sebagainya. Apalagi tumbangnya Orde
Baru juga dibarengi dengan problem berupa meluasnya krisis multidimensi, baik sosial,
politik, ekonomi dan sebagainya, sehingga kondisi tersebut semakin melegitimasi obsesi
mengganti Pancasila, karena dianggap telah gagal membawa negara ini ke arah yang lebih
baik.

Ada dua aliran yang muncul yakni golongan Islamis yang ingin menjadikan Indonesia
sebagai sebagai negara Islam dan golongan nasionalis, yang menginginkan pemisahan urusan
negara dan urusan Islam, pendek kata, tidak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.
Golongan nasionalis menolak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam karena melihat
kenyataan bahwa non-Muslim juga ikut berjuang melawan penjajah untuk mencapai
kemerdekaan. Golongan ini juga menegaskan bahwa untuk menjadikan Indonesia sebagai
negara Islam akan tidak adil memposisikan penganut agama lain (non-Muslim) sebagai
warga kelad dua.

Bagi tokoh golongan nasionalis seperti Soekarno, ia berpendirian bahwa Islam tidak relevan
sebagai dasar negara karena rasa persatuan yang mengikat bangsa dan melahirkan negara ini
adalah spirit kebangsaan. Dasar kebangsaan bukan dalam pengertian sempit sehingga
mengarah kepada chauvinisme, melainkan dalam pengertian yang menginternasionalisme.

Pada tanggal 17 agustus 1945, seluruh rakyat Indonesia menyambut penuh antusias
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namun, “duri dalam daging” dalam UUD 1945 dengan
Piagam Jakarta sebagai sesuatu yang mengganggu sebagian anggota BPUPKI. Duri dalam
daging yang dimaksud adalah tambahan 7 kata dalam sila 1. Pada tanggal 18 Agustus 1945
ketika ada pertemuan panitia penyusun draft UUD, informasi datang dari Tokoh Kristen asal
Sulawesi Utara yakni AA Maramis yang menyatakan bahwa ia secara serius telah memprotes
kalimat tambahan 7 kata sila 1 Pancasila dalam Piagam Jakarta. Sehingga setelah melakukan
konsultasi, sebuah kalimat ditambahkan dalam sila 1 dari kata Ketuhanan, menjadi kalimat
Ketuhanan Yang Maha Esa.

Saat ini, kekuatan-kekuatan politik dan sosial kemasyarakatan umat Islam Indonesia sampai
pada kesimpulan menerima Pancasila dan pilar bangsa yang lain sebagai penerimaan yang
final. Sikap umat Islam Indonesia yang menerima dan menyetujui Pancasila dan UUD 1945,
dapat di pertanggung jawabkan sepenuhnya dari segala segi pertimbangan. Umat Islam
Indonesia sebagai penduduk mayoritas, secara langsung maupun tidak langsung menjadi
gambaran dari Indonesia.

Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa proses untuk memutuskan Pancasila sebagai
dasar negara bukan main sulit perjuangannya. Hal itu juga menunjukkan betapa para
founding fathers kita telah berkorban dan secara bijaksana mencari titik temu tentang
ideologi yang disepakati bersama. Pancasila tidak hanya menonjolkan spirit demokrasi dan
Hak Asasi Manusia (HAM) yang memberi ruang kepada kebebasan individu dan menarik
peran negara untuk mengaturnya, tetapi juga meletakkan bingkai ketuhanan Yang Maha Esa.

Dan tentu saja nilai-nilai dasar Pancasila yang seperti di atas tidak bertentangan dan
dibenarkan di dalam ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam di Indonesia pada
umumnya berada di jalan tengah, tidak mendukung radikalisme dan tidak pula setuju dengan
liberalisme. Islam inilah yang sering di gambarkan sebagai Islam moderat. Islam yang
insyaallah menjadi harapan dan cita-cita semua bangsa Indonesia.

A. Kesimpulan
Dari uraian makalah ini penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
• Islam lahir dan dikembangkan di Indonesia di bawa oleh para wali songo.
• Perkembangan Islam di Indonesia melalui proses babakan yang sangat panjang, mulai
dari sebelum Indonesia merdeka hingga pasca kemerdekaan Indonesia.
• Model-model pemahaman Islam di Indonesia menambah keragaman Islam di
Indonesia, seperti organisasi-organisasi Islam yaitu NU, Muhammadiyah, Persis dll.
• Karakteristik Islam di Indonesia yaitu, Majemuk/plural, toleran, moderat dan
singkretik.
• Umat Islam berperan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur baik dari
masa penjajahan hingga masa pembangunan.