Anda di halaman 1dari 128

HMI

Secangkir Kopi

Qiki Qilang Syachbudy


dalam

HMI dalam Secangkir Kopi Qiki Qilang Syachbudy


HMI DALAM SECANGKIR KOPI

i
UU No. 28 T ahun 2014 tentang Hak Cipta

Ketentuan Pidana
Pasal 113

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak
ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk
Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjar a paling lama
1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000
(seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e,
dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

ii
HMI DALAM SECANGKIR KOPI

QIKI QILANG SYACHBUDY

Cakrawala Budaya
2017
iii
HM I dalam Secangkir Kopi
Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Cakrawala Budaya

Cetakan pertama Februari 2017


All Right Reserved
Hak cipta dilindungi undang-undang

Penulis: Qiki Qilang Syachbudy

Perancang sampul: Cakrawala Budaya Team


Penata letak: Cakrawala Budaya Team

HM I dalam Secangkir Kopi


x + 117: 13 cm x 20,5 cm
ISBN: 978-602-1349-16-9

Cakrawala Budaya
Perumnas Flat Klender,
Blok 4, Lt. II, No. 6,
Jakarta Timur 13460
Email: cakrawalabudaya@yahoo.com
HP: 0856-9586-9769

Isi di luar tanggungjawab percetakan.

iv
KATA PENGANTAR

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan


organisasi ekstrakampus yang menarik untuk di-
perhatikan. Kita tentunya banyak melihat tentang
cerita “anak-anak HMI” yang kemudian berkiprah
pada proses kemajuan kehidupan berbangsa dan
bernegara di Indonesia. Biasanya, hal yang paling
melekat pada diri mereka adalah tentang kapasitas
keilmuan yang dimiliki, disertai dengan pemaha-
man tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang
matang.
Wajarlah memang jika organisasi HMI dapat
melahirkan banyak Sumberdaya Manusia yang
berkualitas. Karena pada hakikatnya, menurut
pendapat penulis buku ini organisasi HMI bisa kita
analogikan sebagai “masjid kaum muda progres-
sive” atau bisa dianalogikan juga sebagai “koperasi
berbasis sumberdaya manusia” yang berisi anak-
anak muda yang sedang membangun dirinya men-
jadi insan kamil dengan prinsip dari anak muda;
oleh anak muda; dan bagi anak muda.
Oleh karena itu, supaya HMI dapat selalu prima
dalam menghasilkan kader-kader yang pilih tan-
ding, maka diperlukan sebuah proses dalam “me-
rawat” organisasi. Dalam hal ini, penulis juga

v
menyentuh tentang sebuah konsep manajemen
yang disebut sebagai organisasi belajar. HMI harus
menjadi sebuah organisasi pembelajar yang berisi
anggota-anggota yang selalu belajar dan memper-
baiki diri. Salah satu konsep menarik yang muncul
dalam tulisan ini adalah tentang entepreneurship
organization yang merujuk pada sebuah tujuan
terciptanya banyak inovasi pengaderan di dalam
internal organisasi sehingga kemudian HMI men-
jadi organisasi yang mampu menjawab segala tan-
tangan zaman yang dilaluinya.
Buku ini berisi kumpulan tulisan dan wawan-
cara Qiki Qilang Syachbudy selama menjadi kader
HMI di HMI Cabang Bogor. Ditulis secara krono-
logis berdasarkan waktu penulisannya dari yang
paling terbaru. Meskipun buku ini sifatnya seperti
sebuah catatan perjalanan batin si penulis selama
menjadi kader HMI, namun menurut hemat saya,
buku ini bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya
bagi seluruh keluarga besar HMI Cabang Bogor
terutama dalam menumbuhkan semangat juang
dalam membangun generasi muda bangsa, insan
akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan
Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT.
Seluruh anggota HMI Cabang Bogor sebaiknya
membaca buku ini sebagai titik tolak dalam ber-
pikir dalam mengembangkan diri di HMI. Dengan
vi
membaca buku ini juga diharapkan para pembaca
bisa mendapat inspirasi dalam upaya meluaskan
makna HMI sebagai wahana pengaderan para ge-
nerasi muda yang kedepan pasti akan memiliki
kesempatan untuk memegang estafet kepemim-
pinan bangsa.
Penulis adalah Ketua Umum HMI Cabang
Bogor Periode 2013-2014. Oleh karena itu, buku
ini sangat tepat untuk hadir di tengah-tengah kita
karena ditulis oleh orang yang pernah terlibat
langsung di pusaran pengaderan HMI. Hadirnya
buku ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi ge-
nerasi selanjutnya. Sehingga proses pemaknaan
terhadap HMI akan berlangsung secara terus me-
nerus dan semakin luas lagi.

Prof. Dr. Asep Saefuddin, MSc


Presidium KAHMI Daerah Bogor 2014-2018;
Ketum HMI Cabang Bogor Periode 1979-1980;
Rektor Universitas Trilogi;
Wkl Ketua Forum Rektor Indonesia 2017;
Guru Besar Statistika FMIPA IPB.

vii
viii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................. V


Keuangan di HMI Tanggung Jawab Bersama . 1
Di HMI, Kita Sedang Safari Batin .................. 6
Sekolah Menulis, Arisan Baca, dan FLD? ....... 14
Zaman Boleh Berubah, HMI Harus Dinamis . 18
Menyeret Arah Gerak HMI Cabang Bogor
di Masa Depan ................................................. 22
Bangun Budaya HMI (Cabang Bogor) ............ 29
Omong – Omong Model Persatuan di HMI
Cabang Bogor (Menyambut Lahirnya
Komisariat STEI Tazkia
Dan Komisariat FEMA) ................................... 31
Alasan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Hadir di Setiap Kampus ................................... 34
Apa Sich Gan Latihan Kader I (Basic Training )
HMI Itu? .......................................................... 39
Selayang Pandang Mengenai Paham
Keislaman di HMI ........................................... 43
Apa dan Bagaimana Setelah Masuk HMI? ...... 48
Palestina Berdarah Ujian Persatuan Umat...... 53
Orkestra Perkaderan HMI Cabang Bogor ...... 57
Analogi Hmi sebagai Koperasi Mahasiswa
Berbasis SDM? ................................................. 61

ix
Semangat Masjid dalam Organisasi Mahasiswa
Islam Ekstrakampus .......................................... 68
Masa Depan HMI Kita ..................................... 72
HMI Surau Pergerakan Kaum Muda
Progressive ....................................................... 76
Wahai Para Pejuang Hijau Hitam Bersatulah
(Sebuah Ikhtiar Untuk Kebaikan
Kongres Ke-28)................................................. 81
Menyambut Musda KAHMI Daerah Bogor
Masa Bakti 2013 – 2018 ................................... 86
HMI Masa Dulu, Masa Kini, Dan Masa Depan 89
Antara FOREI IPB dan Semangat
Anti Zionisme................................................... 94
Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan
Demokrasi Ekonomi ......................................... 98

Lampiran 1: Pendapat Cak Nur Mengenai


HMI Saat Ini ............................... 102
Lampiran 2: Sejarah Ringkas HMI .................. 106
Biodata Penulis ................................................. 116

x
HMI dalam Secangkir Kopi 1

KEUANGAN DI HMI
TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Ketika saya memberika materi di depan adik-


adik yang sedang melakukan LK I, tak jarang
diantaranya yang bertanya mengenai masalah keu-
angan organi-sasi di HMI. Mereka biasanya berta-
nya mengenai dari mana sumber pendapatan keu-
angan organisasi.
Memang serasa sulit rasanya ketika mendapati
pertanyaan seperti itu. Tapi ya bagaimana lagi,
salah satu jalan yang paling baik menurut saya
adalah menjelaskan apa adanya. Karena organisasi
ini memang milik umat, sedangkan para pengu-
rusnya hanya ditugasi untuk merawatnya saja. Jadi
tugas penguruslah yang menyampaikan semua hal
yang ingin diketahui umat tanpa ada tedeng aling-
aling.
Alasan kesulitan saya untuk menjelaskan me-
ngenai hal keuangan karena memang harus diakui
bahwa dalam hal keuangan, peraturan tersebut di
HMI terbilang sulit untuk diterapkan. Padahal, su-
dah dijelaskan dalam konstitusi, diantaranya keua-
ngan HMI didapat dari iuran wajib anggota, iuran
sukarela anggota, serta pendapatan lain di luar itu
yang sifatnya tidak mengikat.
2 Qiki Qilang Syachbudy

Kita harus sadari, mungkin di setiap cabang di


Indonesia, saat ini sudah tidak menerapkan iuran-
iuran bagi anggotanya, apalagi tentang ada aturan
di dalam konstitusi bahwa Pengurus Besar (PB)
HMI juga mendapat bagian atas iuran wajib para
anggota di tingkat cabang.
Padahal, dengan adanya peraturan adanya iuran
di HMI bagi para anggotanya itu menunjukkan
bahwa HMI merupakan sebuah organisasi modern.
Kita bisa melihat tentang organisasi modern pada
saat ini yang bersifat internasional, semua mereka
menggunakan sistem iuran kepada para anggo-
tanya untuk melaksanakan kegiatan operasional
organisasi. Makanya sangat disayangkan jika di
HMI, aturan tentang iuran ini hanya menjadi
pelengkap konstitusi saja tanpa ada implementasi
yang berani.
Tapi disini memang terasa serba sulit, sebab
yang saya rasakan sendiri, memang kondisi keua-
ngan mahasiswa tidak sama sekali bisa diandalkan.
Rasa-rasanya ada perasaan keberatan jika peratu-
ran ini begitu tegas dijalankan. Belum lagi karena
banyak karakter mahasiswa, pasti kemudian akan
terdapat mahasiswa yang rajin bayar iuran, dan
yang malas bayar iuran. Sementara di konstitusi
tidak dibuat secara jelas tentang sanksi bagi mere-
ka yang tidak membayar iuran.
Alhasil, karena iuran di dalam organisasi tidak
berjalan, para penguruslah yang harus pintar-
HMI dalam Secangkir Kopi 3

pintar mencari uang untuk membiayai segala kegi-


atan di organisasi. Sumber-sumber keuangan yang
biasanya menjadi andalan para pengurus adalah
Alumni HMI dan lembaga-lembaga yang terkait
seperti KNPI atau lembaga terkait seperti perusa-
haan dan kementerian.
Kondisi di atas, dimana iuran internal organisasi
sulit untuk diwujudkan sehingga pengurus disi-
bukkan mencari uang keluar, menurut hemat saya
kurang baik. Hal ini setidaknya dapat menyebab-
kan dua dampak negatif berikut: 1) dengan sibuk-
nya mencari uang keluar, pengurus biasanya ku-
rang fokus dalam hal perbaikan kurikulum penga-
deran, akhirnya proses pengaderan hanya bersifat
asal terlaksana saja tanpa memerhatikan lagi kuali-
tas, 2) seperti pepatah “tidak ada makan siang yang
gratis”, tentu di antara para donatur itu ada yang
ikhlas dalam memberi bantuan, tetapi ada juga
yang memberi bantuan dengan tujuan mengha-
rapkan timbal balik HMI sebagai penekan salah
satu golongan disaat mereka butuhkan.
Suatu waktu saya sendiri pernah mendengar
sebuah ide supaya mengadakan iuran bersama di
antara KAHMI atau simpatisan untuk sebagai dana
abadi kegiatan per cabang HMI. Idenya cukup
bagus, yaitu dengan cara mengadakan iuran auto
debet dari rekening donatur kepada rekening
KAHMI secara rutin setiap bulan dengan besaran
nilai iuran minimal Rp 10.000 dan maksimal Rp
4 Qiki Qilang Syachbudy

100.000 per bulan. Ketika nanti HMI membutuh-


kan dana untuk kegiatan, mereka tinggal mengaju-
kan pencairan uang ke KAHMI, dan ketika selesai
kegiatan, mereka tinggal menyampaikan laporan
kegiatannya saja.

Lalu pertanyaan yang paling mendasar adalah


kenapa harus KAHMI yang bertanggung jawab
untuk keuangan di HMI? Apakah karena KAHMI
dianggap memiliki hutang budi kepada HMI?

Saya dengan tegas menjawab tidak. Saya mema-


hami adanya ide untuk dana abadi HMI dengan
sistem auto debet tersebut bukan sama sekali
terkait adanya hutang budi KAHMI terhadap
HMI. Namun menurut saya, lebih tepatnya disini
adalah karena adanya dorongan moral sebagai
sesama umat seiman. Kebetulan dalam hal ini
KAHMI merupakan “tetangga” terdekat HMI. Se-
mentara itu, HMI juga disini merupakan organisasi
non profit yang tujuannya ingin membangun
generasi muda melalui pelatihan dan transfer
pengetahuan.
Jika dihubungkan maka ada sebuah kedekatan
moral antara KAHMI dan HMI. Sewajarnyalah
KAHMI dalam hal ini “keluar uang” untuk HMI
karena memang diantara keduanya memiliki tuju-
an yang sama, yaitu demi terciptanya masyarakat
adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Apalagi,
HMI dalam Secangkir Kopi 5

hidup dan matinya, berwibawa atau tidaknya


KAHMI di masa depan tergantung kepada HMI
zaman sekarang.
Namun memang layak kita sadari bahwa untuk
menciptakan kemandirian organisasi HMI melalui
jalur keuangan bak harus menegakkan benang ba-
sah. Kita tidak tahu untuk memulainya dari mana.
Makanya, di akhir diskusi saya dengan para kader
yang sedang melaksanakan LK I tersebut selalu
menegaskan bahwa “HMI adalah organisasi yang
dirahmati Allah SWT. HMI adalah rumah Allah,
mesjid para generasi muda dalam melaksanakan
sholat sosial maupun solat lima waktu. Sebisa
mungkin kita berinfaq sebesar-besarnya di HMI.
InsyaAllah, nilai infaq ke HMI dengan nilai infaq
ke mesjid raya nilainya sama saja, bahkan mung-
kin nilainya lebih berkelanjutan, sebab uang yang
digunakannya dipakai langsung untuk membiayai
pembangunan manusia unggulan, dengan manusia
unggulan itu akan membangun peradaban yang
saling sambung menyambung sepanjang zaman.”
6 Qiki Qilang Syachbudy

DI HMI, KITA SEDANG


SAFARI BATIN

Tanggal 24 April 2015 ini kami dengar akan


dilaksanakan Konferensi Cabang HMI Cabang
Bogor ke-54 untuk melakukan prosesi pergantian
pengurus HMI Cabang Bogor Periode 2013-2014
ke pengurus HMI Cabang Bogor Periode 2015-
2016. Kegiatan perhelatan acara tahunan cabang
tertinggi ini akan digelar di GSMI dengan dihadiri
oleh seluruh pengurus komisariat yang ada. Di
sela-sela kesibukannya mempersiapkan Konferensi
Cabang, kami ajak Ketum HMI Cabang Bogor, Sdr.
Qiki Qilang Syachbudy, untuk berdiskusi santai
seputar HMI dan impian-impiannya mengenai
HMI Cabang Bogor ke depan.

W: Selamat siang Bang. Bagaimana kabar anda saat


ini?

Q: Alhamdulillah baik.

W: Oya bang, sebelumnya kami mengucapkan


selamat atas akan berakhirnya kepengurusan HMI
Cabang Bogor Periode 2013-2014.
HMI dalam Secangkir Kopi 7

Q: Terima kasih.

W: Berbicara mengenai akan berakhirnya


kepengurusan ini, apa sebetulnya yang sudah dica-
pai dari kepengurusan periode ini?

Q: Tidak banyak. Tetapi saya kira kita sudah ber-


buat yang terbaik yang bisa kami lakukan. Yang
terpenting adalah bahwa sedikit banyaknya, kepe-
ngurusan ini sudah bisa mengomunikasikan me-
ngenai pentingnya kader sebagai tujuan utama
adanya pengurus HMI Cabang Bogor dan penting-
nya kita menggali lebih dalam potensi diri kita
sendiri, kepercayaan diri organisasi.

W: Apa maksud Abang dari kader sebagai tujuan


utama dan kepercayaan diri organisasi?

Q: Begini analogi sempitnya... banyak orang yang


mengira secara sempit bahwa ber-HMI itu harus
berkontribusi kepada masyarakat dengan cara
rame-rame melakukan “kerja bakti” dengan cara
bawa bendera atau bawa pacul dengan semangat
turun ke masyarakat. Jika ada sebuah kebijakan
pemerintah yang salah maka HMI dicaci maki
untuk turun bawa bendera di jalan-jalan dengan
semangat membela masyarakat, pro terhadap rak-
yat kecil, dan sebagainya. Kemudian setelah adik-
adik HMI ini turun jalan, maka mereka ditepuk-
8 Qiki Qilang Syachbudy

tepuk punggungnya dan diberi pujian bahwa me-


reka sudah berada di jalan yang benar, sudah
berhasil pro kepada rakyat.

W: Apakah Abang tidak suka dan anti dengan aksi


turun jalan atau aksi turun ke masyarakat terse-
but?

Q: Saya berbicara seperti itu bukan berarti saya


anti dengan demonstrasi atau turun ke masyara-
kat. Kalau Anda lihat di buku catatan saya, saya
selalu catat setiap kali saya demonstrasi beserta
tanggalnya. Anda akan lihat bahwa selama studi
S1 saya hampir melakukan demo dua bulan sekali
baik yang demonstrasinya dilakukan di HMI atau
di luar HMI. Saya rasa tidak ada yang salahnya
dengan demonstrasi atau turun ke masyarakat,
malah itu menjadi suatu hal yang positif guna
menyampaikan aspirasi dan melatih kader untuk
lebih percaya diri. Yang saya sesalkan adalah
ketika demonstrasi itu menjadi suatu parameter
bagus atau tidaknya suatu kepengurusan cabang.
Dan yang saya sesalkan juga adalah ketika kita
turun ke masyarakat, justru hal itu membuat
kader-kader kita ancur prestasi akademiknya.
Kalau perlu kita dalam satu tahun itu tidak ada
demonstrasi atau tidak ada turun ke masyarakat,
asalkan pengaderan tetap jalan. Saya sering
berbicara ke kader-kader, “bahwa sekiranya HMI
HMI dalam Secangkir Kopi 9

ini hanya membuat nilai akademik adik-adik kecil,


maka jangan terlalu aktif di HMI”. Sebab tujuan
utama kita di HMI adalah untuk membesarkan
kader dengan cara meng-install nilai-nilai HMI ke
dalam jiwa kader sehingga jiwa-jiwa kader itu
menjadi jiwa-jiwa yang sejahtera dan jiwa-jiwa
yang lapang dan besar. Sebab, nanti juga kader-
kader itu akan bergerak sendiri baik atas nama
HMI atau bukan atas nama HMI dalam mengapli-
kasikan perenungannya yang di dapat selama ber-
HMI.

W: Jadi menurut Abang pengaderan para kader-


kader HMI lah yang paling penting?

Q: Ya, itu yang paling wajib. Pengurus harus


mampu membekali para anggotanya bukan saja
dengan nilai-nilai tauhid (nilai-nilai batin) yang
ada di HMI. Namun juga harus awas dan waspada
dengan perkembangan zaman. Mendampingi para
kader dalam mewujudkan impiannya menjadi ma-
nusia-manusia yang mampu menjadi gerbong kuat
penarik masyarakat Indonesia, untuk mengangkat
harkat martabat bangsanya.

W: Apa bayangan ideal Abang tentang HMI


Cabang Bogor di level komisariat, cabang, dan
alumni?
10 Qiki Qilang Syachbudy

Q: Saya kira kondisinya sudah baik, tinggal diper-


tahankan saja. Seperti misalnya kita sudah terbiasa
berpikir bahwa di HMI itu jangan terlalu menjeli-
met. Sederhana saja. Kita kan sama-sama orang
sibuk. Kita sama-sama tahu ilmu masing-masing.
Kita sama-sama satu guru. Kita sama-sama orang
perantauan yang harus hidup di tanah orang. Kita
sudah terbiasa saling rukun, saling menghargai,
saling meringankan, saling membesarkan, saling
membangun, saling bersilaturraHMI. Sesekali kita
harus berbeda pendapat itu boleh. Wong dengan
ibu kandung saja kita kadang beda pendapat, asal
jangan sakit hati(an). Kalau semuanya berpikir
besar dan berpikir ringan maka semua jalan rezeki
akan terbuka.

W: Lalu bayangan ideal Abang mengenai aktifitas


perkaderan di HMI dari level komisariat sampai
cabang seperti apa?

Q: Begini, pada intinya HMI ada untuk memper-


mudah kader dalam proses studinya dan membe-
rikan tambahan nilai-nilai dan soft skill sehingga
kader memiliki keunggulan dibanding mahasiswa
lain yang memungkinkan kader kemudian bisa
berkarya lebih banyak dan karyanya lebih berkua-
litas. Tidak hanya sekedar menjadi tenaga kerja
yang baik.
HMI dalam Secangkir Kopi 11

Q: Menurut saya, pola pengaderannya harus dise-


derhanakan dan dibuat langsung kepada substansi-
nya. Selain itu juga kita jangan terlalu bangga jika
kader HMI hanya fasih berdiskusi masalah isu
nasional.

W: Maksud Anda?

Q: Begini, kasarnya, kegiatan di komisariat itu cu-


kup dengan mengadakan LK I saja, TITIK. Semen-
tara itu, Cabang, selain mengadakan LK 2 dan
LKK, juga membekali para kader dengan kemam-
puan menulis (SEKOLAH MENULIS HMI); ke-
mampuan berdiskusi (ARISAN BACA); dan ke-
mampuan bahasa (FOREIGN LANGUAGE DE-
PARTEMENT). Kita lupakan sajalah mengenai
kegiatan event organizer berupa seminar nasional
atau mengundang tokoh nasional. Toh ternyata
kanda-kanda kita di cabang Bogor saya rasa setaraf
dengan tokoh-tokoh nasional. Kita harus didik
kader kita ini supaya bisa berpikir jauh ke depan
menerobos lorong waktu beberapa ratus tahun ke
depan. Berpikir bukan saja untuk Indonesia, bukan
saja untuk Islam, tetapi untuk semua umat dan
makhluk di alam ini. Saya kadang berkhayal,
bahwa suatu saat ada kader HMI yang mendapat-
kan Penghargaan Nobel dari HMI Cabang Bogor.
12 Qiki Qilang Syachbudy

W: Lalu apa maksud Anda bahwa kita jangan


terlalu bangga jika kader HMI hanya fasih berdis-
kusi masalah isu nasional?

Q: Begini. Biasanya, kebanyakan diskusi di HMI


hanya di sekitar masalah isu nasional. Padahal se-
bagai anak-anak muda, kader HMI juga harus kita
bawa kepada masanya. Seperti misalnya kita me-
ngadakan diskusi tentang menikah, diskusi ten-
tang pacaran sebelum menikah, diskusi tentang
cara menghasilkan uang lewat wirausaha, diskusi
tentang gaji di perusahaan multinasional dan
BUMN, dll. Intinya, kita harus bisa meraba kebu-
tuhan batin mereka. Kita buat mereka menjadi
optimis menghadapi hidup. Mereka kan para anak
muda yang tidak lama lagi lulus kuliah, menjadi
ayah/suami, menjadi ibu/istri, dan menjadi tulang
punggung keluarga.

W: Apakah Anda optimis bisa?

Q: Saya rasa dengan semangat bersyukur dan


ikhlas kita bisa. Ditambah dengan kerja bersama
segenap kader HMI.

W: Terima kasih bang atas waktunya.

Q: Iya sama-sama.
HMI dalam Secangkir Kopi 13

Demikian para pembaca hasil wawancara de-


ngan Sdr. Qiki Qilang Syachbudy, Ketum HMI
Cabang Bogor Periode 2013-2014. Semoga terins-
pirasi. Yakin Usaha Sampai. (20 April 2015)
14 Qiki Qilang Syachbudy

SEKOLAH MENULIS,
ARISAN BACA, DAN FLD?

Judul di atas memang menarik untuk dibahas


pada kesempatan ini mengingat kita sama-sama
tahu bahwa HMI Cabang Bogor harus terus eksis
dalam mencetak kader-kader militan umat dan
bangsa. Judul di atas merupakan sebuah kurikulum
jitu HMI Cabang Bogor, dan merupakan mantra
sakti untuk merubah manusia HMI yang tadinya
hanya dipandang sebelah mata menjadi seorang
ksatria HMI yang bijaksana, pandai berdiplomasi,
dan pandai memainkan pedang di arena perang.
Dan kemudian menjadi ksatria pilih tanding yang
tidak akan pernah gentar dalam suatu pertempu-
ran besar, menerjang badai yang sangat dahsyat
sekalipun.
Tulisan ini tidak begitu komprehensif dalam
memaparkan judul di atas. Tulisan ini merupakan
buah dari perenungan mengenai program pokok
yang sederhana, ringan, tidak memerlukan biaya,
dan tidak harus mengorbankan waktu akademik,
dari HMI Cabang Bogor selama kepengurusan
SATU PERIODE, dalam menjalankan kodratnya
sebagai organisasi perkaderan (tentu saja diluar
tugas pokok pengaderan yang sudah tertulis di
HMI dalam Secangkir Kopi 15

konstitusi berupa LK I, LK II, dan LKK). Lalu, apa


itu SEKOLAH MENULIS, ARISAN BACA, DAN
FLD? Berikut adalah pemaparannya:
SEKOLAH MENULIS: Sekolah Menulis HMI
merupakan sebuah kegiatan pelatihan menulis
yang mengkhususkan diri pada penulisan opini
untuk surat kabar. Kegiatan ini sudah dilakukan
oleh kepengurusan HMI Cabang Bogor periode
2013-2014. Kegiatan ini dilakukan selama 4 kali
pertemuan. Materinya mencakup Filsafat Menulis,
Logika Menulis, Menemukan Ide dalam Menulis,
dan Kejurnalistikan. Pemateri yang diundang pada
acara Sekolah Menulis ini adalah senior dari HMI
Cabang Bogor yang jago dengan menulis populer
dan sudah terbukti tulisannya sering nongol di
media massa yang memiliki latar belakang akade-
misi dan wartawan. Tahun 2015 ini telah berhasil
dilaksanakan untuk angkatan pertama. Sekolah
menulis ini penting guna melatih kader untuk
berlatih “Pedang Intelektual” mereka sehingga
bisa berperang lewat ide dan gagasannya guna
menciptakan cita-cita HMI. Sekolah Menulis ini
adalah sebagai follow up terhadap kader yang baru
melaksanakan LK I agar mereka bisa langsung
mengaktualisasikan dirinya. Kegiatan ini cocok
dilakukan pada setiap hari Sabtu jam 13:00, karena
waktu tersebut biasanya kader sudah tidak ada
kegiatan perkuliahan.
16 Qiki Qilang Syachbudy

ARISAN BACA: Kegiatan ini terinspirasi dari


budaya belajar kitab di mushola-mushola dan mes-
jid-mesjid dengan cara seperti tadarrus Al Qur’an.
Hanya uniknya, Arisan Baca ini yang dibahas
adalah buku-buku yang merupakan buku-buku
penting dan bergizi yang menyangkut Sejarah
(dunia, Islam, Indonesia), Pemikiran, Sastra, Sosial
Politik, Keagamaan, dll. Arisan Baca ini sudah
terlaksana di HMI Cabang Bogor Periode 2013-
2014 dengan membedah buku karangan Kanda
Prof. Azyumardi Azra yang berjudul “Jaringan
Ulama Nusantara dan Timur Tengah Abad 17 dan
18”. Sistemnya seperti ini: Cabang membuat maje-
lis diskusi yang terdiri dari cabang dan komisariat,
kemudian menugaskan kepada salah satu anggota
untuk membaca 2 bab awal buku tersebut untuk
kemudian dipresentasikan di hadapan teman-te-
man yang lain dengan bantuan pemutaran video
yang diunduh dari Youtube. Setelah pembahasan
dan pemutaran video, maka dipersilakan untuk
melakukan diskusi mengenai pokok bahasan
tersebut. Untuk bab selanjutnya, buku dipinjam-
kan kepada anggota lain untuk dibaca 2 bab
berikutnya, dan dipresentasikan minggu selanjut-
nya. Melalui kegiatan ini, maka para kader akan
terpelihara dari kegiatan membaca. Selain itu, ke-
giatan ini sama sekali tidak membutuhkan pema-
teri dari luar. Kegiatan ini sangat efektif dilakukan
pada malam Jum’at setiap minggunya sebagai
HMI dalam Secangkir Kopi 17

pengajian intelektual. Jika saja kegiatan ini ber-


langsung setiap minggu maka sudah bisa dihitung
bahwa selama satu tahun, HMI Cabang Bogor akan
bisa membedah buku minimal 12 buku.
FLD (Foreign Language Departement) of HMI
Cabang Bogor: Adalah sebuah lembaga bahasa
yang berada di bawah naungan HMI Cabang
Bogor yang bertugas khusus dalam pembelajaran
bahasa Inggris kader yang menitik beratkan pada
kemampuan speaking dan TOEFL. Lembaga ini
akan segera dibuat dan akan menjadi sebuah reko-
mendasi pada Konferensi Cabang ke-54 menda-
tang. Sistem pelatihan bahasa ini akan mengikuti
sistem pembelajaran Bahasa Inggris di Pare, Kediri
dengan metode fun learning, dengan pembimbing
dari alumni jebolan Pare dan sesekali mendatang-
kan native untuk berdiskusi. Rencana kegiatan ini
akan dilaksanakan pada hari Minggu setiap ming-
gu kedua dan minggu keempat di setiap bulannya.
Mudah-mudahan FLD ini akan bermanfaat.
Sekian pemaparan ketiga kurikulum wajib HMI
Cabang Bogor dalam satu periode kepengurusan.
Dengan harapan mudah-mudahan ketiga kuriku-
lum ini menjadi kurikulum wajib HMI Cabang
Bogor, sehingga kita bisa lantang berteriak bahwa
anak HMI itu HARUS SUKA BACA (pemiki-
rannya keren, pengetahuannya luas), HARUS
FASIH BERBAHASA, dan HARUS JAGO NULIS.
Yakusa!!! (10 April 2015)
18 Qiki Qilang Syachbudy

ZAMAN BOLEH BERUBAH,


HMI HARUS DINAMIS

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan


organisasi ekstrakampus yang tertua saat ini. Ke-
hadiran HMI di masa lalu sudah sangat familiar
dalam sejarah sebagai sebuah kekuatan civil socie-
ty yang berasal dari mahasiswa dan cukup diperhi-
tungkan dalam proses perjalanan sejarah berbang-
sa dan bernegara.
Pada awalnya, HMI didirikan sebagai buah dari
kegelisahan mahasiswa untuk meningkatkan ke-
mampuan sumber daya manusia para mahasiswa
sehingga mereka bisa memiliki kemampuan yang
lebih dibanding dengan mahasiswa lainnya dalam
bidang tatacara berorganisasi atau cara berpikir
dan menyampaikan pikiran. Dengan kata lain bah-
wa objek utama dari HMI adalah anggotanya itu
sendiri atau yang lebih familiar disebut sebagai
kader HMI. Dengan harapan supaya kadernya
tersebut bisa menularkan kebermanfaatan bagi
masyarakat yang lebih luas dengan cara yang
luwes dan bijaksana.
Berdasarkan hal itu maka organisasi HMI di-
tuntut untuk terus senantiasa dinamis dalam per-
jalannya sehingga bisa memenuhi kebutuhan
HMI dalam Secangkir Kopi 19

kader yang sesuai dengan tuntutan zaman dengan


selalu memelihara inti dari nilai-nilai HMI, yaitu
terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi
yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab
atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi Allah SWT.
HMI harus selalu mengalami perluasan makna
dari periode ke periode sesuai dengan tuntutan
zaman yang dilewatinya dan harus mampu mele-
paskan diri dari belenggu romantisme masa lalu.
HMI sekarang harus mampu dan mau untuk ber-
bicara masa kini dan masa depan serta mengu-
sahakan kemungkinan-kemungkinan terbaik un-
tuk menghadapi periode-periode tersebut.
Seperti misalnya pada saat ini kita harus berani
berbicara dan mempersiapkan diri untuk bersama-
sama menghadapi era perdagangan bebas Masyara-
kat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai
pada awal tahun 2016 mendatang. Tentunya kon-
disi tersebut sudah selayaknya menjadi fokus
utama sekaligus tantangan bagi HMI dimana harus
bisa mengarahkan para kadernya untuk siap dan
bisa berkompetisi pada era situasi tersebut. Sehing-
ga kemudian melalui para kadernya, HMI kemu-
dian bisa menggiring serta mendudukkan masya-
rakat Indonesia untuk mampu menjadi tuan ru-
mah di negaranya sendiri dan mampu untuk ber-
kompetisi di dalam masyarakat ekonomi ASEAN
yang jumlahnya sekitar 600 juta jiwa.
20 Qiki Qilang Syachbudy

Secara kuantitas, saat ini HMI yang memiliki


200 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia
sangat memungkinkan baginya untuk bisa menjadi
motor penggerak kemajuan masyarakat sekaligus
menjadi kontrol sosial bagi terciptanya suasana
pemerintahan yang sehat. Namun demikian, perlu
adanya keberanian untuk melakukan introspeksi
dari dalam menyangkut silabus pengaderan di
HMI sehingga “motor penggerak HMI” ini senan-
tiasa dalam kondisi yang prima dalam menja-
lankan tugasnya. Dengan kata lain bahwa HMI
dalam silabusnya harus senantiasa rajin untuk
membina dan melengkapi kemampuan para kader-
nya dengan pelatihan-pelatihan yang berguna se-
bagai tambahan life skill bagi mereka di saat para
kader tersebut terjun di masyarakat.
Seperti misalnya, salah satu kemampuan yang
paling penting pada saat ini adalah kemampuan
berbahasa khususnya Bahasa Inggris. Tidak dapat
dipungkiri bahwa saat ini bahasa Inggris sudah
menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat dalam
menghadapi era globalisasi. Pada era ini kita tidak
bisa lagi untuk menghindar dari pemakaian bahasa
Inggris, karena bahasa Inggris saat ini sudah men-
jadi semacam sebuah syarat utama untuk bisa ber-
saing di era globalisasi.
Melihat kebutuhan tersebut HMI harus sece-
patnya bergerak untuk bisa menjawabnya. Mem-
HMI dalam Secangkir Kopi 21

baca peluang seperti ini, HMI harus secara dinamis


dan berani keluar dari gembok psikologis yang
selama ini melekat padanya sebagai organisasi per-
gerakan yang kental dengan demonstrasinya atau
sikapnya dalam mengkritisi segala kebijakan pe-
merintah. HMI harus mulai arif dan bijaksana
melihat kondisi yang ada tanpa tidak melupakan
identitasnya sebagai organisasi pengaderan.
Kedinamisan HMI inilah yang kemudian bisa
menjadi alat ampuh dalam mempertahankan eksis-
tensi HMI di setiap tantangan zamannya. Sehingga
HMI senantiasa hadir dengan wajah yang segar
dan menarik dalam setiap pergerakannya. Kedina-
misan HMI ini pulalah yang kemudian akan
berdampak kepada organisasi yang lain sehingga
HMI dapat menjadi rujukan yang bergizi dan
inspirasi bagi pengembangan sumber daya manu-
sia (pengaderan) bagi organisasi-organisasi yang
lainnya. (8 April 2015)
22 Qiki Qilang Syachbudy

MENYERET ARAH GERAK HMI


CABANG BOGOR DI MASA DEPAN

Selamat beraktifitas kawan-kawan sekalian,


hari ini kembali kami menyajikan sesi wawancara
dengan Ketua Umum HMI Cabang Bogor, Bang
Qiki Qilang Syachbudy, mengenai sekelumit arah
gerak HMI Cabang Bogor masa kini dan masa
depan. Kita tentunya ingin banyak tahu mengenai
tanggapan Bang Qiki di akhir masa kepenguru-
sannya. Judul wawancara ini sengaja kami buat
yang bombastis dengan kata “Menyeret” sehingga
lebih menarik untuk dibaca. Berikut adalah hasil
petikan wawancaranya:

W: Selamat siang bang, bagaimana kabarnya?

Q: Baik, alhamdulillah.

W: Ngomong-ngomong, apa yang Anda ingin


garis bawahi selama kepengurusan HMI Cabang
Bogor Periode 2013-2014?

Q: Tidak banyak, saya kira banyak kelebihan


dan kekurangannya selama kami menjadi pengu-
rus HMI Cabang Bogor.
HMI dalam Secangkir Kopi 23

W: Bisa diperinci mengenai kelebihan dan


kekurangannya tersebut?

Q: Hal tersebut banyak orang yang menilai. Bo-


leh saja orang berpendapat seperti apapun. Tetapi
di dalam kepengurusan sendiri saya boleh menilai,
yang terpenting, bahwa kita kadang tidak menja-
lankan konstitusi dengan benar. Mengenai hal itu
kami masih merumuskannya. Mengingat kadang,
konstitusi tersebut tidak bisa mewadahi kondisi
yang ada di cabang. Jadi kita harus berijtihad ber-
sama dalam menyikapi butir-butir konstitusi.

W: Dengan kondisi ini, apakah Anda tidak ta-


kut untuk disebut inkonstitusi?

Q: Saya rasa inkonstitusi itu bisa kita maknai


sebagai hal yang negatif dan positif. Parameter an-
tara positif dan negatif itu adalah kepentingan
bersama. Saya rasa ke depan, kita harus berani da-
lam melakukan reinterpretasi dan rethinking ter-
hadap konstitusi yang ada. Sebab kondisi tersebut-
lah yang dinamakan dengan kedinamisan dalam
berorganisasi. Jangan kakulah!. Kita harus jadikan
organisasi ini sebagai organisasi pembelajar. Sebab
kekakuan kadang menyiratkan pemikiran yang
kurang luas.
24 Qiki Qilang Syachbudy

W: Selain masalah konstitusi, apakah ada hal


lain yang menjadi kekurangan kepengurusan ini?

Q: Ada.

W: Bisa disebutkan?

Q: Saya rasa kurang baik jika saya sebutkan se-


muanya disini, karena hal itu merupakan masalah
internal pengurus yang harus diselesaikan di da-
lam. Silakan, ini adalah opini terbuka bagi siapa-
pun. Yang terpenting menurut saya, secara pribadi
sebagai pengurus, saya sangat jarang sekali untuk
membuka konstitusi dan merenungkan mengenai
tugas dan kewajiban saya sebagai ketua umum.
Saya rasa ini adalah penyakit kita semua dan
hampir di setiap organisasi, dimana rasa memiliki
terhadap organisasi itu kurang. Padahal, jika saja
setiap komponen yang ada di organisasi itu berja-
lan dengan baik, maka organisasi ini akan sangat
baik. Sehingga tidak ada kalimat-kalimat seperti
“Kami tidak mengerti apa-apa di HMI” atau
“Abanglah yang lebih lama di HMI, kami tinggal
melaksanakan instruksi saja”. Padahal di HMI ini
semuanya sudah jelas, semuanya sudah tertulis di
konstitusi, tinggal mau atau tidaknya bergerak,
mau tidaknya bersikap sebagai kader. Di HMI ini
kan memungkinkan untuk setiap bidang berdiri
sendiri, setiap komisariat berdiri sendiri, setiap
HMI dalam Secangkir Kopi 25

badan khusus berdiri sendiri, dan setiap lembaga


berdiri sendiri. Organisasi ini organisasi yang me-
gah dan sah di dalam hukum, secara akta notaris
ada, dan secara hukum di Kementrian Hukum dan
HAM ada. Jadi, kalaulah kita sadar, bahwa men-
jadi pengurus HMI itu adalah sebuah keberuntu-
ngan dimana kita belajar bagaimana mengelola se-
buah organisasi, bagaimana membuat kerjasama
dengan organisasi atau lembaga lain, dll. Pembe-
lajaran itulah yang akan dibawa oleh kader HMI
dimanapun mereka berada, baik sebagai pengu-
saha, NGO, akademisi, Birokrat, dll. Saya akui
bahwa kita sekarang masih berpikir sempit me-
ngenai HMI.

W: Lalu apa yang harus dilakukan agar ke


depan, HMI Cabang Bogor bisa lebih baik lagi?

Q: Menurut saya ada dua kunci penting yang


harus dilakukan untuk membangunnya kembali,
yaitu dari sisi HMInya itu sendiri dan dari sisi
Alumni HMInya (KAHMI). Dari sisi KAHMI, se-
karang sudah banyak KAHMI yang mulai mena-
ruh perhatian terhadap HMI. Sebagai contoh, jika
ada kegiatan apapun, Alumni kita tersebut selalu
siap untuk membantu baik secara pemikiran (con-
toh sebagai pemateri) atau membantu secara fi-
nansial. Bahkan saya dengar, sekarang makin ha-
ngat perbincangan di sekitar KAHMI untuk
26 Qiki Qilang Syachbudy

membangun kembali ghiroh berHMI. Tinggal


kunci yang paling penting itu ada di kadernya itu
sendiri. Banyak kader yang “kurang sabar” dalam
berHMI sehingga mereka memutuskan untuk
tidak berHMI lagi. Padahal pada saat demikianlah
mental kita diuji dan ditempa. Kita disinikan bela-
jar untuk tidak jadi “anak manja” kita belajar un-
tuk kuat dan tegar dalam setiap situasi. Disinilah di
HMI saya pribadi memiliki banyak pengalaman
batin dimana kadang waktu ngaret, uang tidak ada
sedangkan kegiatan harus jalan, kritikan yang pe-
das, kadang harus mengorbankan uang beasiswa,
kegiatan kadang bentrok dengan ujian di kampus,
dan lain-lain. Tapi itulah seninya dalam berorgani-
sasi HMI, bagaimanapun banyak permasalahan,
kita harus selalu tersenyum menghadapinya.

W: Lalu apa yang Anda harapkan untuk HMI


Cabang Bogor di masa depan?

Q: InsyaAllah sebentar lagi konferensi cabang


akan digelar. Saya pribadi sangat berharap, ke de-
pan HMI Cabang Bogor menjadi lebih baik dari
sekarang. Hal yang terpenting menurut saya, HMI
harus “diseret” untuk kembali bisa berkiprah da-
lam memenuhi kebutuhan kader.

W: Menurut Anda, apa langkah riil yang harus


dilakukan?
HMI dalam Secangkir Kopi 27

Q: HMI Cabang Bogor harus bisa berkiprah


dalam pemenuhan kebutuhan kader, seperti misal-
nya membuat “FOREIGN LANGUAGE DEPART-
MENT HMI CABANG BOGOR” yang kegiatannya
khusus membedah buku TOEFL dan melakukan
TOEFL Test Prediction di setiap 2 bulan sekali.
Atau mengadakan “SEKOLAH MENULIS HMI”
yang akan menghasilkan kader sebagai “pendekar
pena”. Jika dua ini saja kita dorong, insyaAllah,
dalam jangka 10 tahun ke depan, kita akan panen
kader yang KEREN dan MANTAP (sambil menga-
cungkan 2 jempol tangan).

W: Terima kasih Bang atas waktunya, semoga


bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. By
the way, mendekati Konfercab ini, apakah sudah
ada calon ketua cabang berikutnya Bang?

Q: Ada beberapa, saya jamin para calonnya ini


lebih baik daripada saya. Saya selalu memperhati-
kan perkembangan kemajuan mereka. Siapapun
mereka yang menjadi ketua cabang selanjutnya,
saya jamin lebih baik dari saya. Saya pribadi, akan
terus membantu sesuai proporsi saya, dan jika di-
perlukan. Yang terpenting, kita harus selalu mera-
sa optimis ketika memandang generasi muda, se-
bab di pundak merekalah kemajuan akan tercipta.
Demikianlah sesi wawancara dengan Bang Qiki
Qilang Syachbudy, Ketum HMI Cabang Bogor
28 Qiki Qilang Syachbudy

Periode 2013-2014. Semoga bermanfaat. (11 Maret


2015)
HMI dalam Secangkir Kopi 29

BANGUN BUDAYA HMI


(CABANG BOGOR)

Dalam kebersamaan kita meriah


Dalam kesederhanaan kita bersahaja
Ringan hati selalu berkarya dan memberi
Besar hati menjalani kodrat kemahasiswaan

Tak ada mengeluh jika waktu harus terrampas


Tetap bahagia walau makan hanya dengan tempe
Asal bersama kita tetap bahagia
Sebab makna persaudaraan ada di saat menderita

Terhadap sesama tetap kita mawas diri


Pandai menempatkan diri dan memosisikan diri
Gerak kita adalah gerak pasukan khusus
Tak dapat diterka tak dapat terbaca

Terhadap penempaan diri kita pantang menyerah


Siang malam kita membaca dan menuntut ilmu
Sebab disini rumah para pejuang
Tempat mencetak kader militan bangsa

Selalu tegak melangkah kader hijau hitam


Di dalam belantara hidup dan dentuman badai
Kita sadar dan kuat jiwa dalam melangkah dan
30 Qiki Qilang Syachbudy

berkarya
Dalam persaudaraan, Tuhan menjadikan kita
cahaya

(9 Maret 2015)
HMI dalam Secangkir Kopi 31

OMONG – OMONG
MODEL PERSATUAN
DI HMI CABANG BOGOR

(Menyambut lahirnya komisariat STEI Tazkia dan


komisariat FEMA)

Di awal tulisan ini penulis terlebih dahulu


mengucapkan selamat atas berdirinya komisariat
STEI Tazkia dan komisariat FEMA (FEMA sedang
dalam proses pembentukan). Semoga dua komisa-
riat tersebut senantiasa menjadi organisasi yang
bermanfaat bagi sesama mahasiswa pada khusus-
nya dan bagi sesama hidup pada umumnya. Penu-
lis mengucap beribu-ribu rasa syukur kepada Allah
SWT karena pada saat ini HMI Cabang Bogor
telah diberikan rezeki dan kekuatan berupa ber-
tambahnya dua komisariat baru sehingga jumlah
komisariat yang ada di HMI Cabang Bogor kini
menjadi sebelas komisariat. Dengan bertambahnya
jumlah komisariat tersebut menandakan bahwa
HMI bukan hanya dibutuhkan oleh umat, tetapi
juga ini menjadi isyarat akan bertambahnya nilai
manfaat HMI untuk sesama yang lebih luas.
Sebagai organisasi ekstrakampus yang berang-
gotakan para mahasiswa, tentunya perjalanan HMI
32 Qiki Qilang Syachbudy

Cabang Bogor tidak lepas dari dinamika yang silih


berganti. Berbagai macam hambatan datang dari
dalam maupun dari luar. Namun untunglah, gang-
guan-gangguan tersebut tidak sampai menyurut-
kan tekad para kadernya untuk terus ikut mem-
bina umat dengan tujuannya yaitu Terbinanya
Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Berna-
faskan Islam dan Bertanggung Jawab atas Terwu-
judnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi
Allah SWT. Tidak ada sedikitpun rasa gentar
dalam hati untuk terus berjuang karena kita yakin
bahwa kita adalah pewaris Muhammad SAW yang
tidak pernah mengeluh ataupun berhenti untuk
berjuang. Kita selalu menyempatkan waktu atau-
pun tenaga untuk sebisa mungkin, walaupun tidak
besar, kita berharap bisa memberikan kontribusi
bagi pencerahan terhadap sesama melalui HMI ini.
Sebab dalam HMI inilah kita menterapi jiwa diri
sendiri untuk bisa terbiasa dengan mengusahakan
transformasi kehidupan umat.
Untuk perjuangan yang panjang dan tidak
ringan itu maka persatuan di dalam tubuh HMI
Cabang Bogor tersebut adalah mutlak harus selalu
diusahakan. Karena hanya dengan persatuan itulah
maka beban yang berat akan terasa ringan karena
kita saling berkontribusi untuk mencari solusi.
Semangat persatuan yang ada di dalam tubuh HMI
Cabang Bogor merupakan sebuah semangat jiwa
yang harus selalu dijaga, karena semangat persa-
HMI dalam Secangkir Kopi 33

tuan itulah yang terus membuat kehangatan kita


untuk terus bekerjasama dan berteman lebih dari
saudara.
HMI Cabang Bogor Komisariat STEI Tazkia dan
HMI Cabang Bogor Komisariat FEMA adalah dua
komisariat yang ke depan akan meramaikan dan
semakin menghangatkan rasa persaudaraan kita.
Kedua komisariat itu adalah bagian dari tubuh
keluarga besar HMI Cabang Bogor, yang jika salah
satunya merasa sakit, maka kita semua merasakan
kesakitannya tersebut. Jika diibaratkan sebagai
manusia, maka kedua komisariat itu laksana dua
ruh manusia utuh yang kemudian bergabung de-
ngan ruh manusia-manusia lain yang sudah ada
sebelumnya menjadi sebuah raksasa besar yang
bernama keluarga besar HMI Cabang Bogor. Sete-
lah bergabung tersebut maka ruh tangan kita
menjadi satu, ruh kaki kita menjadi satu, dan ruh
kepala kita menjadi satu. Yaitu satu persepsi
tentang tujuan kita bersama untuk membangun
SDM yang akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi Allah SWT. Yakusa. (28 Desember 2014)
34 Qiki Qilang Syachbudy

ALASAN HIMPUNAN
MAHASISWA ISLAM (HMI)
HADIR DI SETIAP KAMPUS

Akhir – akhir ini kita disuguhkan dengan nada


– nada pesimis orang-orang yang memandang
keberadaan organisasi Himpunan Mahasiswa
Islam. Tidak jarang kita sebagai kader dibuatnya
minder dan tersinggung ketika ada yang bernada
sinis terhadap himpunan kita ini. Sinis yang tidak
membangun dan keblinger yang kadang datang
dari orang yang kita hormati dan kita cintai. Tapi
tidak apalah, sebab jalan perjuangan dan dakwah
itu sifatnya terjal dan banyak berduri. Namun
demikian, kita selaku kader HMI harus selalu
senantiasa optimis dan besar hati karena kita telah
ditakdirkan sebagai umat Nabi Muhammad SAW
dan kita memiliki tugas mulia Beliau sebagai
penerus estafet sejarah untuk selalu hadir di te-
ngah-tengah umat membawa risalah kebaikan dan
kebermanfaatan. Kita harus selalu percaya bahwa
jalan perjuangan tidak akan pernah sunyi.
Lalu apakah sebabnya HMI harus terus hadir di
setiap kampus? Untuk mempermudah pemahaman
kita semua, maka saya akan menganalogikannya
sebagai berikut:
HMI dalam Secangkir Kopi 35

Ibarat seorang manusia yang bodoh dan lemah


maka Allah SWT memberikan ilmu pengetahuan
kepada manusia sebagai sebuah alat hidup sehing-
ga manusia bisa mengemban tugasNya sebagai
khalifah di muka bumi. Dengan ilmu tersebut ma-
ka manusia kemudian bisa menggali gunung, me-
nembus ruang angkasa, dan menyelam sampai ke
dasar samudera. Jika diibaratkan sempit bahwa
ilmu itu sebuah alat hidup seperti halnya pedang,
maka kemudian Allah SWT berikan pedang itu
kepada manusia sebagai bekalnya untuk hidup,
mempertahankan diri, membangun, dan menghi-
dupi orang lain selama pengembaraannya di muka
bumi.
Lalu pertanyaannya, bagaimana fungsi pedang
itu supaya bisa sesuai dengan kehendak dari Sang
Maha Pencipta? Sedangkan di dalam hati manusia
Allah SWT mengilhamkan kebaikan dan keburu-
kan? Maka disinilah Dia membimbing hati manu-
sia ini dengan wahyu, baik yang secara tertulis dan
tidak tertulis. Dari wahyu tersebutlah maka manu-
sia mendapatkan ilham kebaikan sehingga bisa
menggunakan pedang tersebut kepada hal-hal
yang baik dan membangun, sesuai dengan kehen-
dak dari Yang Maha Berkehendak. Pedang itu kita
gunakan untuk kebaikan diri dan kebaikan umat
manusia.
36 Qiki Qilang Syachbudy

PERTANYAAN BESAR SELANJUTNYA ADA-


LAH, DIMANAKAH POSISI HMI DALAM BAGI-
AN SKENARIO ANALOGI TERSEBUT?

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melalui


tujuannya yang berbunyi “Terbinanya insan aka-
demis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam
dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyara-
kat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” meru-
pakan sebuah organisasi yang berazaskan Islam
yang selalu berusaha menggiring para kadernya
untuk cinta ilmu pengetahuan, dan melalui ilmu
pengetahuannya tersebut mereka bisa mencipta
dan mengabdi kepada masyarakat atas dasar syu-
kur dan ikhlas semata-mata hanya mengharap
ridho Allah SWT.
Dengan kata lain maka di HMI, para kadernya
tersebut diinstall dan dibangunkan jiwanya kem-
bali untuk bisa memahami api Islam yang sesung-
guhnya sehingga mereka bisa merebut kembali
kejayaan Islam di masa yang akan datang melalui
ilmunya.
Di HMI kita biasakan untuk terus membaca
berbagaimacam buku dan belajar kepada siapapun
sehingga mereka tidak memiliki pemahaman sem-
pit dan berkacamata kuda. Sebab di dalam panda-
ngan yang sempit tersebut biasanya manusia
mudah dibodohi dan diperalat oleh orang lain.
Seorang kader HMI ditempa untuk menjadi seo-
HMI dalam Secangkir Kopi 37

rang gentleman dalam setiap tingkah lakunya,


yaitu menyatakan benar terhadap yang benar,
menyatakan salah terhadap yang salah, dan me-
ngakui jika dirinya salah, dengan terus bersandar
kepada ilmu pengetahuan yang terbimbing oleh
wahyu.
Maka tidaklah salah jika penulis disini menga-
nalogikan HMI sebagai sebuah software jiwa yang
harus terinstall kepada setiap mahasiswa di pergu-
ruan tinggi pada umumnya sehingga mereka bisa
menggunakan pedang (baca: ilmu pengetahuan)
mereka kepada kebaikan. Tidak hanya itu, HMI
juga bisa dijadikan sebuah alat asah untuk mem-
pertajam mata pedang sehingga pedang tersebut
bisa jitu dan makin sakti.
Maka di akhir tulisan ini saya ingin mene-
gaskan kembali bahwa HMI harus selalu hadir di
dalam bagian proses pendidikan di setiap pergu-
ruan tinggi. Karena olah intelektual dan dan api
Islam tidak akan bisa timbul hanya dari metode-
metode ceramah melainkan dari pergulatan pemi-
kiran dan dialog dimana para mahasiswa itu dibe-
rikan keleluasaan untuk bisa berpikir secara man-
diri, memutuskan sendiri, dan memaknai dirinya
sendiri sebagai bagian dari kesatuan umat yang
akan memperkokoh kemajuan bangsa dan Negara
di masa yang akan datang. Sehingga kemudian
melahirkan naiknya harkat dan martabat bangsa di
dunia internasional.
38 Qiki Qilang Syachbudy

Karena kita tidak ingin mahasiswa ini hanyalah


seorang mahasiswa biasa, tetapi mahasiswa yang
bisa hadir dalam kehidupan, mentransformasi
masyarakat seperti halnya para pejuang. (22
November 2014)
HMI dalam Secangkir Kopi 39

APA SICH GAN LATIHAN KADER I


( BASIC TRAINING ) HMI ITU?

Jika kita baca AD/ART HMI, disitu jelas Gan


bahwa HMI adalah sebuah organisasi yang memi-
liki tujuan: Terbinanya insan akademis, pencipta,
pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung
jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur
yang diridhoi Allah SWT . Apalagi jika agan baca
fungsi HMI pada pasal 8 Anggaran Dasar bahwa
HMI berfungsi sebagai organisasi kader. So, seba-
gai organisasi kader artinya HMI harus memberi-
kan manfaat sebesar-besarnya khususnya bagi
anggotanya.
Jadi, kalo Agan tanya apa itu LK I. Ehemm... LK
I itu adalah salah satu bentuk training formal yang
ada di HMI. Sekaligus LKI juga sebagai penanda
bahwa orang tersebut resmi menjadi anggota HMI
(cieee… keren bangeud jadi anggota HMI).
LK I bukan sebuah training yang asal-asalan Gan.
Agan bisa lihat bahwa tata cara LK I diatur dalam
konstitusi HMI terutama di dalam pola dasar
training. Oleh karena itu, LK I juga punya tujuan.
Mau tau apa itu tujuan dari LK I? Pantengin ya….
Terbinanya kepribadian muslim yang berkua-
litas akademis, sadar akan fungsi dan perannya
40 Qiki Qilang Syachbudy

dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya


sebagai kader umat dan kader bangsa. Keren kan
tujuan LK I Gan? Ya…iyalaah, makanya Ane
masuk HMI….hehee. Kurang gimana kerennya
coba. Disaat orang lain sedang asyik-asyiknya
menikmati masa muda sebagai mahasiswa. Kita di
HMI malah belajar untuk jadi kader umat dan
kader bangsa yang baik…ngeurii Gan. Kita di HMI
diingatkan untuk jadi orang besar.
Oya..kembali ke laptop. Selain punya tujuan,
LK I juga punya target. Apa sich targetnya?
Hmm…. Kasi tau ga ya?…hehee. Baiklah, ada 4
target dalam LK I Gan. Diantarnya adalah: 1)
Memiliki kesadaran menjalankan ajaran Islam
dalam kehidupan sehari-hari, 2) Mampu mening-
katkan kemampuan akademis, 3) Memiliki kesa-
daran akan tanggung jawab keumatan dan kebang-
saan, dan 4) Memiliki kesadaran berorganisasi.
So, seru kan di HMI? Tapi tunggu dulu Gan…
Ada yang lebih seru lagi nih. Kalo yang ini Ane
bela-belain deh buat buka-bukaan informasi.
Hal yang makin seru di HMI adalah ketika kita
sudah masuk dan terdaftar sebagai anggota HMI
(Ya tentunya sesudah Agan dinyatakan lulus dari
LK I. Kalo gak lulus, berarti Agan harus mengu-
lang pada LK I berikutnya. So, harus bener-bener
ya ikutin LK I nya). Serunya dimana Gan? Gini…
Bismillah… Ya gimana gak seru gan, setelah Agan
masuk HMI, Agan otomatis memiliki temen di
HMI dalam Secangkir Kopi 41

seluruh Indonesia (HMI connection) yang jumlah-


nya ada 192 cabang yang tersebar hampir di selu-
ruh universitas negeri atau swasta. Bukan itu saja,
Agan juga berarti sudah masuk pada lingkaran
atau keluarga orang-orang terkemuka di republik
Indonesia ini. Mau tau siapa saja mereka? Tenang
Gan, di paragraf berikutnya Ane sebutin ya….
Beberapa Alumni HMI yang sudah sukses di
Indonesia ini diantaranya adalah: Jusuf Kalla,
Akbar Tandjung, Mahfud MD, Prof. Herry
Suhardiyanto, Prof. Asep Saepuddin, Abraham
Samad, Muliaman D. Hadad, Anas Urbaningrum,
Prof. Rochmin Dahuri, de el el. Ane ga sanggup
ngabsen satu persatunya Gan. Agan bayangin saja,
HMI sudah berdiri dari tahun 1947 (tepatnya HMI
berdiri pada tanggal 5 Februari 1947). So, klo Ane
sebut atu per atunya, ga akan kelar dalam 100 bab
gan hehee… Beliau yang ane sebutin itu hanya
beberapa saja supaya Agan makin mantep dan
tidak ragu masuk HMI. Mudah-mudahan Allah
SWT meridhoi, mungkin ke depannya, nama
aganlah yang akan menggantikan posisi-posisi
beliau tersebut. Amin ya robbal a’lamiin.
Tapi yang paling penting Gan, kita di HMI itu
dituntut untuk bisa terus menambah ilmu melalui
aktifitas membaca, menulis, dan berdiskusi (pe-
ngajian/seminar/kuliah/ de el el). Karena itu sudah
menjadi janji Tuhan bahwa Dia akan meninggikan
beberapa derajat umatnya dikarenakan ilmunya.
42 Qiki Qilang Syachbudy

Apalagi di HMI ini kita diajarkan untuk berpe-


gang kepada tiga dasar nilai HMI, yaitu Iman,
Ilmu, Amal. So, klo Agan sudah masuk HMI, Agan
harus terus berproses supaya tidak malu-maluin
jadi anggota HMI…hehee. Baca buku apa saja
yang penting Agan suka. Mau yang berbau kiri
kek, mau yang berbau kanan kek. Yang terpen-
ting, setelah baca buku, agan diskusikan sama
senior atau rekan-rekan yang lain.
Pokoknya Ane disini gak bisa panjang lebar deh
cerita ke agan…. Yang penting rasakan dulu
kedahsyatannya Gan. Baru agan bisa bilang nyesel
ato bersyukur masuk HMI.
So, klo Agan mw gabung di HMI (khususon
HMI Cabang Bogor), Agan harus rajin begadang
sambil cari-cari info di internet (hahaaa… sorry
becanda gan)…. Gampang saja, Agan contact saja
di FB: Himpunan Islam. Atau datang langsung di
sekretariatnya di Jl. Batu Hulung No. 91 Kelu-
rahan Marga Jaya, Dramaga (di depan SMA BBS)
atau cari-cari tahu saja info dari kakak kelasnya
(ehemmm… HMI Cabang itu terkenal kalee di
Bogor….hehee). (20 Oktober 2014)
HMI dalam Secangkir Kopi 43

SELAYANG PANDANG MENGENAI


PAHAM KE-ISLAM-AN DI HMI

Himpunan Mahasiswa Islam atau yang dising-


kat HMI merupakan sebuah organisasi mahasiswa
yang sangat terang benderang menjadikan Islam
sebagai sebuah alasan untuk berkumpul. Namun
demikian, banyak diantara masyarakat yang me-
ngerutkan dahi karena pikirannya dipenuhi de-
ngan berbagaimacam pertanyaan tentang jenis
Islam manakah yang HMI ikuti? Dan termasuk di
jajaran golongan Islam yang manakah HMI berdi-
ri? Lalu pertanyaannya kembali bertambah ten-
tang apakah Islam di HMI termasuk Islam garis
keras atau Islam konservatif.
Jika benar para pembaca tertarik dengan jawa-
bannya, maka penulis akan memberikan sebuah
narasi tentang pemahaman ke-Islam-annya HMI
sehingga para pembaca bisa merenungkan dan me-
nyimpulkannya sendiri. Berikut adalah narasinya.
Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia
yang dikirim Allah SWT ketika zaman jahiliyah
dahulu. Zaman jahiliyah adalah zaman yang sa-
ngat pekat dengan politeisme dan tidak adanya
peri kemanusiaan yang adil dan beradab. Akibat
adanya politeisme dan perbudakan itulah maka
44 Qiki Qilang Syachbudy

manusia sulit sekali untuk berkembang dan men-


jalani tugas sejarahnya sebagai khalifah di muka
bumi. Menyikapi hal tersebut maka Allah SWT
selain memperkenalkan diri (melalui perantaraan
Rosululloh) juga memberikan petunjuknya yang
agung melalui Al Qur’an yang berisi ilmu penge-
tahuan. Melalui perkenalan diriNya beserta Al
Qur’an, Allah SWT seolah menyeru kepada sege-
nap umat manusia bahwa tidak ada tuhan lagi
selain Allah SWT. Maka dari itu, berlomba-lomba-
lah untuk mencari karunia Allah SWT yang ter-
simpan di segenap alam ciptaannya. Termasuk ja-
ngan ragu lagi untuk meneliti pohon-pohon besar,
sapi-sapi, dan patung-patung yang dahulu nenek
moyang kita pertuhankan. Untuk mempermudah
kerja manusia tersebut maka Allah SWT menu-
runkan Al Quran sebagai sebuah alat baca dalam
aktivitas kerja manusia sehingga terjadi keharmo-
nisan dan kemakmuran.
Perkenalan Allah SWT (konsep tauhid) dan
ilmu pengetahuan (Al Qur’an yang diiringi oleh Al
Hadits) inilah yang kemudian mampu melintasi
lorong zaman sebagai sebuah pelita tentang cita-
cita kehidupan yang damai, harmonis dan sejah-
tera. Melalui konsep tauhid dengan diiringi ilmu
pengetahuan, maka kemudian manusia bukan ha-
nya digiring untuk memiliki kemerdekaan hidup
tetapi juga digiring untuk bisa terus meningkatkan
kualitas hidupnya. Maka tidaklah heran ketika
HMI dalam Secangkir Kopi 45

dahulu pada zaman perjuangan meraih kemerde-


kaan, Islam menjadi leader semangat kemerdekaan
bersama dengan nasionalis dan marxis. Bahkan
setelah kemerdekaan, Islam senantiasa mengawal
stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia un-
tuk selalu berada di jalur yang benar meletakkan
fungsi negara sebagai tempat bernaung yang aman
bagi seluruh warganya dan sesama manusia lain-
nya sehingga bisa dengan leluasa untuk memenuhi
tugas sejarahnya sebagai pemimpin di muka bumi.
Semangat tauhid dan ilmu pengetahuan inilah
yang kemudian juga mengilhami ruh Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI). HMI berkeyakinan bah-
wa hanya dengan ilmu pengetahuanlah manusia
akan bisa tercerahkan hidupnya, dan hanya de-
ngan bergantung kepada Allah SWT lah manusia
akan benar-benar terbebas dari belenggu perbuda-
kan yang membatasi kodrat kemanusiaan. Di HMI,
Islam tidak hanya dipandang sebagai rutinitas
ibadah fisik, namun lebih dari itu bahwa aktiftas
ibadah fisik itu harus bisa terimplementasi kepada
kehidupan nyata di masyarakat. Oleh karena itu
maka di HMI, para anggotanya dibiasakan dengan
aktivitas memberi (baik dalam bentuk pemikiran,
waktu, materi, atau tenaga). Sebab pada hakikat-
nya, kemuliaan hidup itu terletak pada kekuatan
memberi.
Melalui alam pemikiran tauhid dan ilmu
pengetahuan inilah maka HMI tidaklah mengi-
46 Qiki Qilang Syachbudy

dentikkan dirinya dengan salah satu golongan atau


aliran. HMI mengharapkan bahwa yang NU tetap-
lah bangga dengan ke-NU-annya, yang muham-
madiyah tetaplah bangga dengan ke-Muhamma-
diyah-annya, dan yang bukan termasuk ke dalam
keduanya juga tetaplah bisa saling menghormati
dan mengayomi. Mau apapun golongan atau aliran
Islamnya maka ketika masuk di HMI mereka ha-
rus menambah berpuluh-puluh bahkan beratus
kali lipat semangat ketauhidan dan kecintaan ter-
hadap ilmu. Mereka harus sadar sesadar-sadarnya
bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan dan alam
pikiran yang tebukalah umat Islam akan kembali
berjaya menjadi motor penggerak peradaban yang
sampai saat ini kita belum tahu dimana titik
ujungnya. Kemudian dengan ilmunya tersebut
para generasi muda Islam ini menjadi renaissance
paedagogie, yaitu yang akan memberikan pendidi-
kan kepada masyarakat agar masyarakat lebih baik
lagi.
Jiwa yang bertauhid (yang melahirkan rasa
syukur dan ikhlas), alam pikiran yang terbuka, di-
tambah punya kemampuan untuk berjuang inilah
yang kemudian HMI jabarkan dalam butir tujuan-
nya yang berbunyi “Terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan
bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat
adil makmur yang diridhoi Allah SWT” . Yang
kemudian diperas lagi menjadi ilmu, iman, dan
HMI dalam Secangkir Kopi 47

amal. Bahagia HMI, yakin usaha sampai (Yakusa).


(7 Oktober 2014)
48 Qiki Qilang Syachbudy

APA DAN BAGAIMANA


SETELAH MASUK HMI?

Pada kesempatan ini kami sengaja kembali


menghadirkan sesi wawancara khusus dengan
ketua umum HMI Cabang Bogor periode 2013-
2014, Bang Qiki Qilang Syachbudy. Wawancara
ini sengaja dilakukan karena banyaknya pertanya-
an baik dari kader ataupun masyarakat umum ten-
tang apa dan bagaimana yang harus dilakukan
setelah menjadi anggota Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI). Berikut adalah wawancaranya.

W: Salam Bang, bisakah abang menjelaskan apa itu


Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)?

Q: Menurut saya, HMI adalah sebuah organisasi


yang semua anggotanya adalah mahasiswa yang
beragama Islam. Para mahasiswa ini berhimpun di
organisasi HMI atas dasar sebuah pemahaman bah-
wa mereka memerlukan proses kerja bersama
untuk memperbaiki diri dan memperbaiki lingku-
ngan sekitar atas dasar nilai-nilai Islam. Kalau
ingin lebih lengkapnya, saudara bisa baca sendiri
pada konstitusi HMI.
HMI dalam Secangkir Kopi 49

W: Lalu apa ciri khas HMI dibandingkan dengan


organisasi kemahasiswaan yang lainnya?

Q: Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa


melihatnya di tujuan HMI, yaitu, “Terbinanya
insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafas-
kan Islam. Dan bertanggung jawab atas terwujud-
nya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT”. Dari tujuannya tersebut maka jelas bahwa
HMI sangat menjunjung nilai ilmu pengetahuan
(insan akademis). Sehingga diharapkan dengan
ilmunya tersebut, para kadernya bisa menjadi
pelaku dalam proses kemajuan zaman dengan te-
rus berpegang teguh terhadap nilai-nilai Islam
yang rahmatan lil a’lamin.

Q: Anak HMI harus memiliki karakter mencintai


ilmu, dan mereka diharapkan menjadi jagoan-
jagoan dalam bidangnya masing-masing sesuai de-
ngan ilmu yang mereka pelajari di perguruan
tinggi. Basic keilmuan yang mereka punyai inilah
yang kemudian HMI perkaya dengan ruh sema-
ngat ke-Islaman yang rahmatan lil a’lamin, sema-
ngat ingin menebar manfaat ilmunya tersebut
kepada manusia lain.

W: Bukankah yang saya dengar HMI itu terlalu


politis dan mengajarkan para kadernya supaya jadi
para politikus?
50 Qiki Qilang Syachbudy

Q: Pendapat itu merupakan pendapat yang kurang


tepat. Alumni HMI memang banyak yang terjun
di dunia politik. Tapi lebih banyak lagi yang terjun
di dunia nonpolitik. Artinya, bahwa HMI tidak
pernah membatasi kadernya untuk berkontribusi
pada sektor apapun. Alumni HMI dipersilakan un-
tuk berkontribusi pada bidang apapun asal mereka
memiliki keinginan dan ilmunya. Seperti misalnya
Akbar Tanjung dan Anas Urbaningrum, mereka
besar pada bidang ilmu mereka. Baik Akbar mau-
pun Anas, mereka kuliah di bidang politik (Akbar
Tanjung adalah doktor dalam ilmu politik, dan
Anas pun calon doktor dari ilmu politik). Dan
terbukti bahwa mereka terjun di dunia politikpun
bukan hanya team hore, tetapi mampu menjadi
motor penggerak dan pemikir di lingkungannya
masing-masing.

Q: Kadang pemberitaanpun tidak berimbang.


Orang-orang lebih menyerap tentang hal yang ka-
sat mata saja dari HMI, tanpa melihat secara
ilmiah dan melakukan cek dan ricek.

W: Apa maksud Anda mengatakan demikian?

Q: Ya seperti Anda tadi. Yang Anda dengar ten-


tang HMI kan cuma kata orang. Anda pernah ti-
dak menanyakan kepada anak HMI-nya langsung
HMI dalam Secangkir Kopi 51

tentang apa yang terjadi, dan proses apa yang


dilakukan oleh anak HMI selama ber-HMI?

(Wartawan hanya diam dan mengangguk-angguk-


kan kepala)

W: Oya bang, kembali kepada judul wawancara


pada kali ini. Apa sih yang harus dilakukan para
kader HMI setelah masuk menjadi anggota HMI?

Q: Ini pertanyaan bagus. Saya akui bahwa ada


kader yang masih merasa kebingungan ketika
mereka menjadi anggota HMI. Padahal, ber-HMI
itu mudah. Kita membaca (Qur’an, buku, dll), itu
sudah melakukan cita-cita HMI; kita menulis
(laporan, makalah, jurnal ilmiah, skripsi, dll), itu
sudah melakukan keinginan HMI; kita belajar
(mengaji, ceramah, untuk ujian, dll.), itu sudah
melakukan tugas ber-HMI. Pokoknya, apapun
kegiatan yang bermanfaat itu adalah anjuran HMI.
Dengan para mahasiswa ber-HMI, diharapkan
akan bisa mempermudah dan memberikan sema-
ngat kepada mereka untuk memperkaya diri de-
ngan ilmu, persaudaraan, dan life skill.

Q: Jadi, ber-HMI itu mudah. Pertama, kita sele-


saikan tugas kuliah kita dengan baik. Berbarengan
dengan itu, kita berintekasi dengan sesama kader
HMI atau alumni HMI untuk saling sharing dan
52 Qiki Qilang Syachbudy

berbagi ilmu dan pengalaman. Serta jangan lupa,


sesekali kita melakukan kegiatan sosial bersama
seperti misalnya mengajari anak-anak mengaji di
mushola, aksi solidaritas, dll.

W: Apa pesan Abang untuk para kader HMI khu-


susnya kader HMI Cabang Bogor?

Q: Jadilah mahasiswa yang mumpuni dalam bi-


dang keilmuan masing-masing, dan gunakan HMI
sebaik mungkin untuk menambah soft skill . Saya
bisa menjamin, belajar soft skill di HMI paling
oke, asal SERIUS dan TOTAL!! (8 Agustus 2014)
HMI dalam Secangkir Kopi 53

PALESTINA BERDARAH
UJIAN PERSATUAN UMAT

Akhir-akhir ini kita disuguhi kembali berita


tentang serangan Israel ke Palestina yang sudah
membunuh ratusan korban dan melukai ribuan
warga Palestina. Kejadian ini kembali mendapat-
kan simpati rasa kemanusiaan dari warga masyara-
kat dunia. Namun demikian, serangan terus dila-
kukan. Dengan congkaknya Israel terus menghuja-
ni Jalur Gaza dengan tidak memperdulikan lagi
bahwa disana banyak warga sipil tidak berdaya
yang meninggal dunia akibat serangan tersebut.
Atas dasar keinginan mengembalikan kejayaan ke-
rajaan Daud dan Sulaiman mereka telah secara
egois merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dan
menghalalkan darah sesama manusia.
Ketegangan antara Israel dan Palestina ini dila-
tarbelakangi oleh akar sejarah yang sangat pan-
jang. Namun demikian, secara hukum modern,
sejarah mencatat bahwa saat ini Israel telah men-
caplok wilayah negara Palestina dari ketegangan
yang sengaja diciptakan dari tahun 1946. Dengan
berbekal dukungan dari Amerika Serikat kemu-
dian Israel terus melakukan perebutan wilayah
54 Qiki Qilang Syachbudy

Palestina, negara yang dahulu pernah menjadi kib-


lat sujudnya umat Islam di seluruh dunia.
Ada satu pertanyaan besar yang menggelitik
dari sangat beraninya Israel terus menerus menye-
rang masyarakat Palestina yang berpenduduk ma-
yoritas muslim dan merupakan negara yang memi-
liki nilai historis (masjidil Aqso) sangat kental
dengan perkembangan penyebaran agama Islam.
Seolah mereka sangat yakin bahwa umat Islam
tidak akan bersatu untuk membantu saudara-sau-
daranya di Palestina. Seolah Israel menganggap
bahwa jumlah muslim yang sekarang terbesar di
dunia itu hanyalah buih di lautan yang tidak akan
sanggup menghentikan keinginannya untuk mem-
perluas luas wilayah negaranya, memperkaya la-
dang minyaknya, dan mengembalikan kejayaan-
nya pada masa Daud dan Sulaiman.
Sebagai introspeksi diri, pendapat Israel yang
menganggap umat Islam ini sebagai buih di lautan
perlu kita kaji bersama. Kondisi umat Islam saat
ini memang tidaklah jauh dari prediksi bangsa
Israel. Jangankan untuk memikirkan dan
membantu saudara-saudara di Palestina sana, se-
dangkan dengan tetanggapun banyak yang tidak
akur. Jangankan untuk membantu saudara yang
jauh, saudara yang dekatpun kita jarang terenyuh
jika diantara mereka ada yang tidak bisa makan
atau tidak bisa sekolah. Lebih jauhnya lagi, jangan-
kan kita rukun, untuk masalah kepentingan ber-
HMI dalam Secangkir Kopi 55

samapun kita tidak bisa menyatukan pendapat.


Kita kadang hanya sibuk untuk saling menyalah-
kan dan mengkafirkan. Kita masih mengaku mus-
lim, namun kelakuan kita jauh dari nilai-nilai
Islam. Kita lebih suka dan senang bercerai berai
(mengeksiskan diri) daripada mencari titik temu
untuk melakukan kerja bersama yang kemudian
menghasilkan karya bersama.
Padahal, Islam sendiri sangat menganjurkan
nilai-nilai persatuan dari setiap ajarannya. Hal itu
dapat dilihat dari ajaran Islam mengenai shalat
berjamaah, zakat, puasa ramadhan, dan berhaji ke
baitullah. Semua ajaran-ajaran tersebut memiliki
nilai-nilai persatuan (ukhuwah islamiyah) yang
kemudian diharapkan untuk menjadi sumber ke-
kuatan umat dimana antara muslim satu dengan
yang lainnya merasa bersaudara.
Melalui peristiwa yang menimpa saudara-sau-
dara di Palestina ini hendaknya mari kita kembali
me-reinstrospeksi diri dan me-reshape pemaha-
man kita sebagai bagian dari keluarga besar umat
Islam dan kemudian bertanya dimanakah posisi
kita disaat saudara kita terkena musibah dan kesu-
litan dimana pada setiap detik dalam 24 jam nya-
wanya terancam. Kalau perlu kita kirimkan keri-
ngat dan darah kita untuk menggantikan keringat
dan darah yang telah saudara-saudara kita keluar-
kan di Palestina. Disinilah kita dipertanyakan
kembali tentang persatuan umat sebagai senjata
56 Qiki Qilang Syachbudy

paling ampuh kaum muslimin yang telah hi-


lang.(Tulisan ini dibuat dalam rangka aksi solida-
ritas rakyat Palestina di Tugu Kujang, Bogor) (16
Juli 2014)
HMI dalam Secangkir Kopi 57

ORKESTRA PERKADERAN
HMI CABANG BOGOR

(Sebuah Ikhtiar dalam Membangun Mimpi Kita


Bersama Menuju HMI Sebagai Entrepreneurship
Organization)

Perkaderan merupakan kata yang sangat pen-


ting dalam tubuh organisasi HMI. Karena melalui
kader tersebutlah kita bisa mempersiapkan Sum-
berdaya Manusia (SDM) yang mumpuni bagi ke-
majuan kehidupan bangsa dan Negara. Melalui
tujuannya, yaitu Terbinanya Insan Akademis,
Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan
Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat
Adil Makmur yang Diridhoi Allah SWT, HMI te-
rus tegak percaya diri dalam menjalankan aktivitas
– aktivitas perkaderannya.
Khusus di HMI Cabang Bogor, aktivitas perka-
deran dari waktu ke waktu semakin menunjukkan
peningkatan dan kemajuan. Ukuran peningkatan
dan kemajuan tersebut bisa dilihat dari semakin
banyaknya aktivitas Basic Training (LK I) yang
diadakan oleh komisariat – komisariat di lingku-
ngan keluarga besar HMI Cabang Bogor (tercatat
dari mulai bulan Desember 2013 sudah ada bebe-
58 Qiki Qilang Syachbudy

rapa komisariat yang melakukan LK I, diantaranya


adalah HMI Kom. Diploma, HMI Kom. FPIK, HMI
Kom. Fapet, dan HMI Kom. FEM) serta aktivitas
lain yang dilakukan oleh pengurus cabang (seperti
LK II Se-Bogor Raya, Buletin Jum’at Dwiming-
guan, Program Pohon Kader, dll.).
Namun demikian, ukuran peningkatan dan ke-
majuan tersebut hendaknya kita lihat bukan hanya
dari banyaknya aktivitas, tetapi juga dalam hal
inovasi teknik penyelenggaran kegiatannya. Seba-
gai contoh misalnya, dalam penyelenggaraan kegi-
atan LK I, banyak model baru yang sudah ditun-
jukkan oleh masing-masing panitia penyelenggara
seperti misalnya Komisariat Diploma mengadakan
kegiatan LK I selama satu minggu berturut – turut
dengan waktu antara ba’da maghrib sampai pukul
20:00 pada setiap harinya. Kemudian ada lagi
model LK I yang dilakukan oleh Komisariat Fapet
yang diselenggarakan pada hari Jum’at, Sabtu, dan
Minggu di GSMI dengan melakukan masak-masak
bersama untuk bahan konsumsi pesertanya. Serta
model LK I yang dilakukan oleh Komisariat FPIK
dan FEM dengan masing – masing menggunakan
hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu di GSMI.
Semua model penyelengaraan yang dilakukan
oleh masing – masing komisariat sangat bagus dan
menarik untuk diperhatikan, karena hal tersebut
sudah merupakan sebuah ikhtiar dari masing-
masing komisariat dalam menyesuaikan diri de-
HMI dalam Secangkir Kopi 59

ngan kondisi kesibukan aktivitas akademik para


calon kadernya. Namun demikian, dari sekian pili-
han tersebut, model perkaderan yang sudah dicon-
tohkan oleh Komisariat Diploma patut untuk kita
jadikan perhatian secara seksama mengingat mo-
del tersebut adalah sesuatu hal yang baru kebera-
daannya khususnya di lingkungan keluarga besar
HMI Cabang Bogor.
Model perkaderan yang dicontohkan oleh Ko-
misariat Diploma mirip dengan model pengajian
“sorogan” ketika waktu penulis belajar mengaji di
kampung halaman. Waktunya sama, yaitu penga-
jian dilakukan ba’da maghrib sambil menunggu
waktunya shalat Isya’ berjamaah. Model perkade-
ran tersebutlah yang menurut hemat penulis pan-
tas untuk kita kembangkan ke depan sebagai solusi
untuk menjawab semakin padatnya kegiatan aka-
demik yang dialami oleh para calon kader. Dengan
demikian para calon kader merasa semangat dalam
mengikuti LK I karena mereka bisa mengisi waktu
luang dengan hal-hal yang positif.
Mengenai tempatnya, kita dapat menggunakan
beberapa alternatif tempat yang sederhana misal-
nya masjid kampus atau tempat lesehan lahan ter-
buka yang biasa mahasiswa gunakan untuk rapat-
rapat organisasi. Dengan demikian juga akan se-
makin menjadi daya tarik bagi para mahasiswa lain
untuk berbondong-bondong bergabung dengan
HMI.
60 Qiki Qilang Syachbudy

Berbagai model pengaderan harus selalu kita


upayakan. Zaman semakin maju, hal ini menun-
jukkan bahwa kita tidak harus selalu diam di
tempat. Kita harus selalu mengusahakan kemajuan
karena HMI berisikan orang-orang terpelajar yang
mampu berpikir progressif. HMI harus menjadi
sebuah organisasi pembelajar karena diisi oleh
orang-orang yang senang dengan belajar dan
memperbaiki diri. Dan HMI harus bisa menjadi
entrepreneurship organization yang bukan hanya
mampu memperbanyak kader tetapi juga mampu
untuk menjaga kualitas kader-kadernya. (10 Mei
2014)
HMI dalam Secangkir Kopi 61

ANALOGI HMI SEBAGAI KOPERASI


MAHASISWA BERBASIS SDM?

HMI sebagai koperasi? Mengapa HMI dianalo-


gikan dengan koperasi? Dan apa yang menarik dari
analogi HMI sebagai koperasi? Pertanyaan-perta-
nyaan seperti itulah yang kemudian semakin seru
untuk kita menjadi bahan renungan pada kesem-
patan kali ini. Untuk itu, mari kita tanyakan
langsung kepada Ketum HMI Cabang Bogor, Sdr.
Qiki Qilang.

Wartawan: Bang Qiki, akhir-akhir ini anda pernah


melontarkan analogi mengenai analogi HMI seba-
gai koperasi mahasiswa berbasis SDM. Bisakah
Anda menjelaskan mengenai maksud dari analogi
tersebut?

Q: Ya, saya memang pernah melontarkan analogi


tersebut untuk lebih bisa menjelaskan secara se-
derhana kepada para kader mengenai apa itu Him-
punan Mahasiswa Islam (HMI). Karena sekarang
ini banyak kader, apalagi kader yang baru masuk
HMI kurang bisa memahami apa itu HMI secara
menyeluruh. Banyak yang menganggap HMI ini
62 Qiki Qilang Syachbudy

mirip dengan LSM, lembaga think tank atau partai


politik. Terutama saya sering mendengar HMI ini
diidentikkan dengan PRD yang dulu dipimpin
Budiman Sudjatmiko.

W: Apakah Anda merasa keberatan jika HMI


diidentikkan dengan LSM, lembaga think tank
atau partai politik?

Q: Ya, saya sangat keberatan.

W: Kenapa?

Q: Karena saya merasa bahwa HMI lebih dari se-


kedar LSM, lembaga think tank, atau partai poli-
tik. HMI merupakan organisasi yang komplit, dan
tentu kekuatannya lebih dari itu.

W: Bisakah Anda menjelaskan mengenai apa itu


perbedaan HMI dibandingkan dengan lembaga-
lembaga yang sering dianggapkan orang tersebut?

Q: Sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indone-


sia, HMI telah memiliki sistem organisasi yang
baik, Hal ini terlihat dari konstitusi organisasinya
yang lengkap dari A sampai Z-nya komplit. HMI
di-create untuk bisa menjadi kampus kedua bagi
mahasiswa yang nyaman untuk mengembangkan
kemampuan mereka masing-masing di berbagai
HMI dalam Secangkir Kopi 63

bidang minat dan bakat. Bahkan HMI telah memi-


liki budaya organisasi yang khas dan kental.
Seperti misalnya sesama anggota HMI bisa saling
mengenali hanya dari mengidentifikasi cara
berbicara, alur berpikir, dan cara mengungkapkan
pendapatnya.

Hal terpenting dari perbedaan HMI dengan


organisasi-organisasi tersebut adalah bahwa fungsi
dari organisasi HMI adalah fungsi pengaderan.
Dengan kata lain, tugas pokok dari HMI adalah
pengaderan. Masalah nanti ke depan para kader
mau jadi professional, akademisi, politisi, atau
yang lainnya. Itu terserah mereka. Yang terpen-
ting HMI sudah memberikan bekal yang maksi-
mal. Dalam kegiatan, kami senantiasa berpatokan
kepada tujuan HMI, yaitu terbinanya insan akade-
mis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam,
dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyara-
kat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

W: Jadi merut Anda analogi koperasi mahasiswa


berbasis SDM itu adalah analogi yang pas untuk
menggambarkan HMI?

Q: Ya, itu yang menurut saya paling mendekati.

W: Bisakah Anda menjelaskan mengenai analogi


tersebut?
64 Qiki Qilang Syachbudy

Q: Begini, koperasi sebagaimana dari akar katanya


adalah cooperation, yang berarti bekerjasama. Ar-
tinya, suatu kesatuan usaha yang dikerjakan secara
bersama-sama dengan tujuan untuk kesejahteraan
anggotanya. Di HMI kita mengenal juga anggota
dan pengurus. Pengurus adalah orang yang diberi-
kan legitimasi melalui suatu rapat anggota untuk
menjalankan segala tugas organisasi yang bersifat
rutin dan menjalankan segala keputusan dari rapat
anggota. Pengurus inilah yang kemudian memiliki
kewajiban untuk mengembangkan asset yang ada
demi mensejahterakan anggotanya.

W: Apa yang dimaksud anda dengan asset yang


ada di HMI?

Q: Asset yang ada di HMI tidak lain adalah kader


HMI itu sendiri. Jadi, pengurus harus bisa menge-
lola asset itu sehingga kemudian asset itu bisa
bertambah di akhir kepengurusannya nanti.

W: Maksud Anda bertambah dalam hal apa?

Q: Maksud asset yang bertambah menurut saya


adalah baik kuantitas, yaitu semakin banyaknya
anggota HMI. Tetapi yang menjadi hal terpenting
adalah bertambahnya kualitas dari para kader
tersebut. Artinya HMI bisa memberikan manfaat
HMI dalam Secangkir Kopi 65

yang berarti bagi kader, yaitu bertambahnya kapa-


sitas mereka. Dengan bertambahnya kualitas ka-
der, maka itu berarti telah ikut menyejahterakan
kader baik dalam hal kekayaan berpikir maupun
kekayaan jiwanya.

W: Ooo.. jadi itu toh alasannya kenapa Anda


menganalogikan HMI sebagai sebuah koperasi.
Lalu pertanyaannya, apakah anggota yang Anda
anggap sebagai asset HMI ini Anda analogikan
juga sebagai benda mati seperti halnya asset yang
ada di koperasi?

Q: Tentu tidak dong. Makanya disini diperlukan


pemikiran yang logis dalam beranalogi. Asset yang
ada di HMI ini memiliki tanggung jawab terhadap
himpunan dan yang terpenting mereka harus ber-
tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri.

W: Lalu apa bentuk tanggung jawab mereka terha-


dap himpunan dan terhadap diri mereka sendiri?

Q: Tanggung jawab terhadap himpunan adalah


bahwa mereka harus senantiasa menjaga nama
baik himpunan dan menjalankan AD/ART yang
ada di aturan himpunan. Sedangkan tanggung ja-
wab terhadap diri mereka sendiri adalah bahwa
mereka juga memiliki tanggung jawab terhadap
bertambahnya kapasitas yang ada di dalam diri
66 Qiki Qilang Syachbudy

mereka sendiri. Dalam hal ini anggota harus bisa


mendefinisikan apa fashion mereka, dan setelah
itu mereka secara aktif (secara mandiri) menggu-
nakan sarana HMI dan keluarga besar HMI untuk
mewujudkan apa yang diinginkan tanpa menung-
gu aba-aba dari pengurus. Contoh, jika saya ingin
menjadi seorang pengusaha maka saya harus ber-
tanggung jawab terhadap diri sendiri untuk me-
wujudkannya. Sebagai organisasi mahasiswa Islam
tertua di Indonesia yang masih bertahan sampai
saat ini, tentunya HMI sudah memiliki banyak
alumi yang bergerak di bidang kewirausahaan. Jika
butuh informasi mengenai alumni yang bergerak
di bidang wirausaha, tanya kepada pengurus. Sete-
lah tahu, maka jangan segan-segan untuk bersi-
laturahim kepada mereka. Tentu mereka akan
welcome dan senang dikunjungi karena memang
silaturahim adalah salah satu tradisi di HMI yang
juga merupakan tradisi para ulama.

W: Oke, sepertinya maksud dari analogi Anda


sudah dapat kami mengerti. Tapi ada satu lagi
pertanyaan terakhir yang dari tadi sepertinya
belum kita sentuh, yaitu mengenai kebiasaan
demonstrasi yang ada di HMI. Dimana letak dari
gerakan mahasiswanya jika Anda masih mengang-
gap analogi HMI sebagai koperasi ini relevan?
HMI dalam Secangkir Kopi 67

Q: Ini merupakan pertanyaan yang menarik. Sela-


ma ini memang demonstrasi menjadi hal yang
sangat diidentikkan dengan HMI. Banyak panda-
ngan negatif dari masyarakat mengenai demons-
trasi yang dilakukan oleh kader maupun simpati-
san HMI. Bagi saya, masalah demonstrasi itu ada-
lah bagian dari sebuah strategi saja dalam upaya
menyampaikan pendapat. Kadang sesekali kita
perlu berdemonstrasi agar ide kita cepat mendapat
tanggapan dan cepat tersebar di masyarakat. Tidak
ada hal yang negative dalam berdemonstrasi. Me-
lainkan demonstrasi secara positif bisa dijadikan
sebagai sebuah wahana untuk perkaderan bagi
anggota HMI agar bisa lebih tampil percara diri
mengemukakan pendapat di muka umum. Yang
negatif adalah jika demonstrasi itu sudah merusak
property milik umum dan merugikan masyarakat.

Demikianlah wawancara yang dilakukan pada


kesempatan ini. Semoga menginspirasi. Bahagia
HMI. (17 April 2014)
68 Qiki Qilang Syachbudy

SEMANGAT MASJID
DALAM ORGANISASI MAHASISWA
ISLAM EKSTRAKAMPUS

Sampai saat ini kita mengenal banyak organisasi


ekstrakampus yang mengatasnamakan mengusung
nilai-nilai Islam di dalamnya. Beberapa organisasi
yang familiar diantarnya Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indo-
nesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
(IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indone-
sia (KAMMI), dan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul
Ulama (KMNU).
Organisasi-organisasi tersebut terbentuk atas
dasar keinginan untuk menjadikan Islam sebagai
ruh perjuangan demi menjawab segala permasala-
han yang ada di masyarakat. Di dalam organisasi-
organisasi ini mahasiswa bukan hanya dikenalkan
dengan ibadah-ibadah yang bersifat ritual, namun
juga dikenalkan dengan ibadah yang bersifat so-
sial. Islam dijadikan sebagai sebuah dorongan se-
mangat untuk memberikan manfaat bagi masyara-
kat.
Melalui organisasi-organisasi ini, mahasiswa di-
biasakan untuk melakukan kerjasama dalam mela-
kukan kebaikan dan dibiasakan pula untuk memi-
HMI dalam Secangkir Kopi 69

liki semangat memberi apa saja, baik materi atau


nonmateri, kepada umat sesuai dengan kemam-
puannya masing-masing. Diharapkan dengan ke-
mampuan kerjasama dan semangat memberi itu
kemudian akan tercipta banyak kader mahasiswa
Islam yang setelah berada di sekitar masyarakat
mampu menjadi motor penggerak bagi kemajuan
umat. Dan memang seperti banyak kita saksikan
bersama, gerakan-gerakan kemajuan yang ada di
masyarakat banyak dimulai oleh alumni-alumni
dari organisasi mahasiswa Islam ekstrakampus.
Namun demikian, seiring dengan perkemba-
ngan zaman, organisasi-organisasi Islam ini kian
surut dari minat mahasiswa. Banyak faktor yang
menyebabkan kurangnya minat mahasiswa, dian-
taranya adalah semakin banyaknya organisasi-
organisasi yang berkembang di intrakampus, dan
sistem pendidikan yang semakin menuntut maha-
siswa untuk ahli di bidangnya masing-masing serta
lulus tepat waktu. Sehingga kemudian organisasi
Islam ekstrakampus semakin tersisihkan dan di-
anggap asing.
Kurangnya minat dari mahasiswa untuk berga-
bung dengan organisasi Islam ekstrakampus seha-
rusnya menjadi sebuah kritik alami bagi organi-
sasi-organisasi Islam yang ada untuk bisa dinamis
dalam menghadapi tuntutan zaman. Karena dalam
melakukan sebuah kebaikan tidak hanya cukup
dengan bergerak saja, tetapi juga harus diikuti oleh
70 Qiki Qilang Syachbudy

taktik dan strategi dalam perjuangannya. Sehingga


kemudian pesan yang dibawa akan sampai dengan
baik kepada si penerima pesan.
Organisasi-organisasi Islam ektrakampus terse-
but harus menjadi bangunan yang nyaman bagi
tumbuh dan berkembangnya benih-benih para
pejuang umat. Seperti halnya fungsi masjid yang
ada pada zaman Rosullah SAW, maka bangunan
organisasi Islam ekstrakampus ini selain menjadi
tempat yang nyaman juga harus mampu menye-
diakan inspirasi-inspirasi atau solusi-solusi yang
segar bagi para pengunjungnya.
Di saat sedang terjadinya degradasi fungsi mas-
jid yang ada sekarang maka organisasi-organisasi
Islam ekstrakampus harus mampu terus melesta-
rikan tradisi masjid yang sesungguhnya baik seba-
gai tempat diskusi, pendidikan, membuat strategi,
bertukar pikiran, dan hal-hal lain yang berguna
bagi perkembangan umat ke depan.
Organisasi Islam ekstrakampus harus menjadi
organisasi yang dinamis dalam menghadapi per-
kembangan zaman. Hal yang kemudian kadang
menjadi faktor penghambat adalah karena alat
baca yang digunakan oleh organisasi Islam eks-
trakampus tersebut masih menggunakan alat baca
tahun 60’ an sehingga orang-orang yang masuk ke
dalamnya serasa sedang melakukan perjalanan se-
jarah atau sedang melakukan romantisme di tahun
60’an.
HMI dalam Secangkir Kopi 71

Organisasi Islam ekstrakampus ke depan seha-


rusnya menjadi sebuah bangunan mesjid yang
megah dimana bukan saja sebagai tempat untuk
berkontemplasi dan menggalang kekuatan bersa-
ma tetapi juga sebagai “bidan” bagi para anggota-
nya dalam menemukan jati dirinya. Kita tentunya
rindu akan sosok negarawan seperti Bung Hatta,
Bung Sjahrir, atau KH. Agus Salim yang semasa
kecilnya dibesarkan di surau-surau. Kita juga
tentunya rindu dengan sosok Bung Karno dan Tan
Malaka yang dibesarkan di rumah besar HOS
Tjokroaminoto. Kita juga tentunya rindu dengan
tokoh-tokoh negarawan yang bertebaran namanya
di sepanjang sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Pada dasarnya mereka memiliki ghiroh seperti itu
karena adanya sentuhan nurani dimana bathinnya
dikenalkan kepada permasalahan-permasalahan
umat melalui proses membaca, berkumpul, ber-
diskusi, dan berfikir.
Organisasi Islam ekstrakampus memiliki pelu-
ang dalam melahirkan negarawan-negarawan baru
yang sesuai dengan konteks perjalanan bangsa saat
ini. Semangat Islam merupakan satu senjata yang
sangat ampuh dan teruji dalam membaca perkem-
bangan zaman. Hanya kadang senjata itu tidak
dipergunakan dengan baik sehingga organisasi
yang seharusnya megah menjadi sempit dan tidak
dinamis. 8 Februari 2014
72 Qiki Qilang Syachbudy

MASA DEPAN HMI KITA

Di awal tulisan ini terlebih dahulu penulis ingin


mengucapkan selamat milad HMI ke-67 semoga
HMI senantiasa menjadi arsitek dalam pembangu-
nan bangsa ke depan.
Enam puluh tujuh tahun sudah organisasi yang
bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ber-
diri. Hiruk pikuk sejarah sudah dilaluinya dengan
penuh hikmah sehingga menghasilkan pengala-
man batin yang matang. Jika dianalogikan, HMI
adalah sosok manusia yang tidak saja sanggup
hidup dalam berbagai zaman, namun juga memi-
liki kemampuan berdialog terhadap lintas zaman
dan lintas generasi yang dilaluinya. Ibarat seorang
guru besar arsitek pembangunan umat, dia mampu
membuat dan melahirkan para kader yang sesuai
dengan kebutuhan konteks zamannya di masa
depan. Seolah HMI memiliki jargon “kita berbuat
hari ini untuk masa depan”.
Bangunan HMI sekarang memang terlihat
megah sehingga siapapun yang memasuki bangu-
nan ini bukan hanya merasakan kemegahannya
tetapi juga merasa “tiba-tiba terbawa megah”. Se-
hingga kadang lupa bahwa siapapun yang mema-
suki bangunan ini memiliki tugas sejarah yang
HMI dalam Secangkir Kopi 73

penting dalam ikut andil menambah kemegahan-


nya. Karena kemegahan bangunan ini pada dasar-
nya hasil dari patungan (wakaf) waktu, tenaga,
keringat, dan materi para pendahulunya pada saat
mereka sama-sama sedang menyandang status
sebagai mahasiswa.
Sungguh hebat, suprastruktur HMI yang sangat
megah dan kokoh ini ternyata hasil dari produk
pikiran mahasiswa yang terus saling sambung me-
nyambungkan cita-cita dari generasi ke generasi.
Maka jika saja dibedah satu per satu cita-cita kader
HMI maka akan terlihat bahwa semuanya memili-
ki satu tujuan yang maha agung yaitu Negara
Indonesia yang baldatun toyyibatun wa robbun
ghafur yang senantiasa berada dalam ruang ridho
Allah SWT. Di dalam kebesaran Indonesia itu kita
berharap bahwa nilai Islam selalu menjadi denyut
pendorong kemajuannya sehingga Islam besar di
dalam Indonesia yang besar.
Enam puluh tujuh tahun sudah HMI senantiasa
mengawal kemajuan bangsa Indonesia yang selalu
bergerak maju dan semakin modern. Di HMI para
kadernya disuguhkan dengan cara pandang yang
positif dan kritis terhadap proses kemajuan-kema-
juan bangsa sehingga mereka bukan saja hanya
bisa mengawal kemajuan, tetapi juga mampu
mengoreksi dan mengusahakan kemajuan-kemaju-
an dengan cara lain yang sesuai dengan bathin
masyarakat Indonesia.
74 Qiki Qilang Syachbudy

Sepanjang sejarah berdialog tersebut tentunya


tidak selalu menuai pujian. Banyak hal-hal yang
kemudian membuat HMI kadang harus terhempas
dari hati dan penglihatan umat. Tetapi itulah jalan
perjuangan yang selalu saja ada kerikil, onak dan
durinya. Tentu saja hal tersebut bila dipandang
secara positif akan menghasilkan sebuah kedewa-
saan yang luar biasa. Justru kemudian kerikil, onak
dan duri tersebut adalah sebuah kawah candradi-
muka yang membuat para penghuninya semakin
kuat, semakin sakti, dan semakin memiliki men-
tal-spiritual yang sama kuatnya dengan urat kawat
balung wesi-nya Gatot Gaca. Semakin ditempa
semakin menjadi, semakin diasah semakin tajam.
Di usianya yang ke-67 tahun ini sudah lengkap
rasanya pengalaman HMI dalam medapat cacian
atau pujian. Sehingga kemudian semakin menya-
darkan para kadernya bahwa cacian ataupun puji-
an itu tidak akan pernah menyurutkan langkah
gerak HMI. Yang terpenting selalu berjalan di atas
syukur dan ikhlas maka insyaAllah kita akan ber-
temu pada ujung Yakin Usaha Sampai. Semangat
tersebutlah yang pada dasarnya diperlukan dari
seorang muslim, dengan semangat ke-Islamannya,
ikut serta dalam proses tinggal landas pembangu-
nan nasional.
Tantangan sejarah yang dihadapi HMI ke depan
akan semakin kompleks dan berat. Maka diperlu-
kan sebuah alat baca yang canggih dalam proses
HMI dalam Secangkir Kopi 75

pergerakannya. Maka tentunya alat baca yang


paling canggih tersebut sebenarnya sudah ada di
dalam konstitusi HMI, yaitu Al Qur’an dan Al
Hadits. Maka alangkah bijaksana bila segala kriti-
kan dan cacian terhadap HMI selama ini dianggap
sebagai sebuah nasihat yang santun dan alami dari
masyarakat untuk kembali mendalami, mengjayati
dan menggali nilai-nilai Islam dalam mengisi rua-
ng-ruang semangat jiwa para kader sehingga mere-
ka pada akhirnya sanggup menjadi para penerus
risalah Muhammad SAW dan berbuat untuk umat
dengan menampilkan wajah Islam yang rahmatan
lil ‘alamin. 5 Februari 2014
76 Qiki Qilang Syachbudy

HMI SURAU PERGERAKAN


KAUM MUDA PROGRESSIVE

Lahirnya HMI pada tahun 1947 tidak lepas dari


suatu semangat dalam mempertahankan kemerde-
kaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal
17 Agustus 1945. Kesadaran tersebut timbul atas
dasar keyakinan bahwa diperlukan sebuah kerja
bersama dalam proses membangun masyarakat.
Maka pada waktu itu sekumpulan mahasiswa
Islam yang dipelopori oleh Lafran Pane dan ka-
wan-kawan mengucapkan perasaan, kemauan, dan
pikirannya dalam faham agama Islam untuk me-
nyalurkannya melalui suatu organisasi sebagai alat
untuk mengabdi kepada agama, nusa dan bangsa.
Hal itulah yang kemudian menjadi landasan ter-
bentuknya Himpunan Mahasiswa Islam pada tang-
gal 5 Februari tahun 1947.
Seiring berjalannya waktu, sejarah telah mem-
buktikan bahwa kader-kader HMI telah banyak
berkiprah dalam proses kemajuan bangsa. Alumni-
alumni HMI yang tersebar dalam berbagai bidang
kehidupan (seperti akademisi, sosial budaya, en-
trepreneur, ekonomi, politik, pers, LSM, birokrasi,
dll.) telah setia menjadi pengawal pergerakan ke-
majuan bangsa Indonesia sampai saat ini. Berbagai
HMI dalam Secangkir Kopi 77

karya dan nama besar alumni HMI telah banyak


berserakan di sepanjang jalan sejarah Indonesia.
Hal ini tentulah sangat wajar karena di HMI, ka-
der-kader muda Islam secara serius batinnya selalu
dikenalkan (didakwahkan) dengan tujuan HMI,
yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pe-
ngabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung
jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur
yang diridhoi Allah SWT. Hal itu sesuai dengan
ruh pergerakan Islam yang tercermin dalam kata
Iman, Ilmu, dan Amal.
Tantangan zaman demi tantangan zaman telah
HMI lalui dengan berbagai cerita yang berbeda.
Ada cerita yang mengenakkan dan ada pula cerita
yang tidak mengenakkan. Namun demikian, epi-
sode-episode tersebut tentulah harus kita sikapi
bersama sebagai sebuah proses dalam sebuah per-
juangan yang tentu tidak selamanya berjalan de-
ngan baik dan mulus. Yang terpenting bagi kita
sekarang adalah bagaimana bisa mengambil hik-
mah dari segala episode terdahulu dan membuat
sebuah perbaikan di masa yang akan datang.
Tantangan zaman ke depan semakin kompleks
dan membutuhkan keseriusan dalam berjuang
berpuluh-puluh kali lipat lagi. Nuansa persaingan
global telah menjadi pemikiran kita bersama ten-
tang kemanakah kita akan membawa masyarakat
Indonesia secara umum? Dan dengan seperti apa-
kah kita akan membawa bangsa Indonesia menjadi
78 Qiki Qilang Syachbudy

bangsa yang mampu bersaing dalam nuansa per-


saingan global?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentulah harus
kita jawab secara bersama-sama dengan sebuah
perjuangan ekstra dan cerita yang berbeda se-
hingga menghasilkan hasil memuaskan yang sesuai
dengan konteks tantangan zaman saat ini. HMI
merupakan organisasi yang sudah mapan baik
dalam hal tatacara organisasi maupun dalam hal
budaya organisasi. Tatacara organisasi dan budaya
organisasi yang aplikatif di masyarakat itu semakin
sempurna dengan diisi oleh manusia-manusia
progressive yang memiliki posisi sebagai maha-
siswa. Sehingga kemudian setiap gerak langkah
organisasi HMI bisa menjadi inspirasi bagi kha-
zanah kemajuan kehidupan dalam berbangsa dan
bernegara.
Menanggapi besarnya tanggung jawab yang
diemban oleh HMI tersebut maka sudah waktunya
HMI kini melakukan pembenahan-pembenahan
secara lebih baik mengenai pola perkaderan (pola
pembangunan SDM anggota) secara inovatif dan
terintegrasi sebagai hasil dari proses membaca da-
lam konteks perkembangan zaman saat ini. Kita
harus mampu menciptakan kader yang mampu
mengintegrasikan antara kemampuan berfikir; ke-
mampuan merasa; dan kemampuan berbuat secara
nyata di masyarakat sesuai dengan bekal ilmunya
masing-masing di universitas. Kita harus mencip-
HMI dalam Secangkir Kopi 79

takan kader-kader yang bukan hanya secara pri-


badi bisa bersaing di dalam situasi global namun
juga bisa menjadi motor penggerak di dalam ma-
syarakat untuk kemajuan umat. Oleh karena itu
maka salah satu jalan untuk menuju arah tersebut
adalah dengan menguatkan kembali tradisi keil-
muan di-HMI sebagai bekal para kader untuk
berbuat di masyarakat. Ke depan HMI harus lebih
banyak lagi menghasilkan para doktor disamping
keterampilan berorganisasi yang di dapat di HMI.
Bekal keilmuan yang mumpuni yang dibalut de-
ngan kemampuan mengelola masyarakat akan
menghasilkan suatu karya yang berguna seperti
halnya karya-karya para pendahulu HMI yang se-
suai pada zamannya.
Oleh karena itu maka HMI harus menjadi se-
buah tempat yang nyaman bagi para kader dalam
proses kontemplasi mengasah diri. HMI harus
menjadi rumah besar mahasiswa Islam yang siap
menjadi pengayom dan pendorong bagi setiap ka-
dernya dalam mengembangkan dirinya. HMI
harus konsisten sebagai teman terbaik dari setiap
mahasiswa Islam dalam proses perjuangannya me-
nempa diri di universitas sehingga kemudian
mereka bisa menjadi mahasiswa paripurna yang
siap untuk mengawal arah pergerakan masyarakat
dalam menghadapi segala tantangan zaman ke
depan melalui karya-karyanya.
80 Qiki Qilang Syachbudy

Marilah kita bersama-sama menghilangkan sti-


gma bahwa di HMI ini mahasiswa lebih banyak
diajarkan untuk menjadi para politisi. Mari kita
bersama menatap jauh ratusan bahkan ribuan ta-
hun ke depan bahwa akan muncul gelombang
kemajuan bangsa dari berbagai lini dimana ada ruh
HMI di setiap lininya. Mari kita gelorakan lagi
bersama bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat
Indonesia.
Dalam kesempatan ini pula kami mengajak
kepada seluruh elemen organisasi kemahasiswaan
yang ada untuk mari bersama-sama melakukan
pembangunan terhadap calon-calon pembangun
masyarakat yang sekarang sedang membina diri di
universitas-universitas. HMI Cabang Bogor tidak
bisa berjalan sendiri dalam memberikan inspirasi
kepada setiap mahasiswa yang ada. Kita perlu terus
bergandengan tangan dan saling nasihat menasi-
hati dalam perjalanan perjuangan dan pengabdian
kita ke depan. Kita harus selalu rukun di dalam
semangat ke-Indonesiaan yang ber-Bhineka Tung-
gal Ika. (17 Desember 2013)
HMI dalam Secangkir Kopi 81

WAHAI PARA PEJUANG HIJAU


HITAM BERSATULAH

(Sebuah Ikhtiar Untuk Kebaikan Kongres Ke-28)

Kawan-kawan HMI se-Indonesia yang kami


hormati dan banggakan. Kami yakin bahwa kita
yang sama-sama kader HMI merasa berkabung
atas peristiwa yang terjadi di kongres HMI ke-28
ini. Kami yakin kita sama-sama prihatin dengan
ini karena pada hakikatnya kita sama-sama memi-
liki darah yang sama-sama hijau hitamnya. Kita
sama-sama memiliki semangat suci yang merah-
nya sama dengan merah Sang Merah Putih. Kita
akan selalu dalam satu kegelisahan dan satu sema-
ngat karena kita sama-sama sebagai anak yang
dilahirkan dari rahim yang sama, yaitu Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI). Maka sebagai anak yang
berbakti kepada ibunya tersebutlah hari ini kita
berkumpul untuk bersama-sama memenuhi pang-
gilan seorang ibu yang meminta kita saling bersi-
laturrahim dalam sebuah acara yang dinamakan
sebagai Kongres HMI Ke-28.
Pada hakikatnya, kongres HMI merupakan
sebuah ikhtiar kita bersama untuk saling bersila-
turrahim dan saling memperkenalkan diri bagi
82 Qiki Qilang Syachbudy

seluruh kader yang lahir di setiap pelosok negeri


sehingga kemudian kita semua bisa saling menge-
nal dan sama-sama menyatukan tekad bagi lang-
kah perjuangan kita kedepannya yang seirama
dalam rangka ikut membangun negeri menuju
negara adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Untuk menjaga kemurnian tekad yang telah kita
buat bersama itulah maka kita memilih Pengurus
Besar HMI (PBHMI). Melalui PBHMI inilah kita
meletakkan amanat untuk bertindak sebagai imam
dalam sebuah sholat sosial sehingga arah perge-
rakan dan perjuangan kita akan selalu sesuai
dengan komitmen mulia kita bersama yang telah
dihasilakan di dalam kongres. Oleh karena itulah
maka PBHMI dianggap sebagai sebuah komponen
yang sangat penting dan memiliki tanggung jawab
besar dalam berputarnya mesin perjuangan HMI.
Namun demikian, akibat oknum-oknum yang
tidak bertanggung jawab maka pada praktiknya,
PBHMI tidak lagi bisa dianggap sebagai sebuah
imam dalam sholat sosial bagi seluruh kader HMI
se-Nusantara. Hal ini terjadi karena PBHMI telah
luput dari menjaga komitmen bersama yang
dihasilkan dalam sebuah kongres. PBHMI bukan
lagi dipandang sebagai sebuah amanah tetapi
sudah dipandang sebagai sebuah legitimasi bagi
kepentingan individu dan golongan. PBHMI tidak
bedanya sebagai seorang kakak jahat dalam sebuah
rumah di dalam sebuah lakon sandiwara dimana
HMI dalam Secangkir Kopi 83

kakak tersebut mencorengi para adik-adiknya de-


mi mendapat simpati dan penghargaan dari orang
lain. Bukannya menjaga adik-adiknya, tetapi ma-
lah menjadi kepanjangan tangan dari oknum yang
ingin mendzolimi adik-adiknya.
Oleh karena itu, kita sebagai kader HMI harus
selalu berupaya agar tidak sekali-kali lagi memilih
PBHMI yang tidak bertangung jawab. Di kongres
yang Ke-28 ini marilah kita sama- sama menun-
dukkan kepala seraya memohon perlindungan dan
petunjuk kepada Allah SWT agar terpilih PBHMI
yang berwibawa dan bijaksana sehingga bukan saja
sanggup menjadi wajah baik bagi HMI se-Nusan-
tara, namun juga mampu menjadi sumber inspirasi
yang tidak ada habis-habisnya bagi tumbuh subur-
nya benih-benih para pejuang Hijau Hitam se-
Nusantara.
Namun demikian, sulit memang rasanya untuk
mendapatkan PBHMI yang baik di kongres ke-28
ini. Momen-momen politik nasional yang akan
berlangsung ke depan di negeri ini telah sedikit
banyaknya mempengaruhi suasana kekeluargaan
yang seharusnya tercipta begitu mesra di kongres
ini. Tentunya ini adalah bagian dari jalan sejarah
yang harus dilewati HMI. Setelah HMI mampu
secara gemilang mengawal momen-momen peru-
bahan di Negara tercinta ini, kini saatnya Allah
SWT memberikan sebuah momen besar bagi HMI
84 Qiki Qilang Syachbudy

untuk bisa melakukan perubahan di dalam tubuh-


nya sendiri.
Oleh karena itulah kawan-kawan sekalian ma-
ka tidak ada jalan lain bagi kita untuk bisa menga-
wal momen perubahan di PBHMI ini selain de-
ngan persatuan dan kesatuan. Semua kita harus
menyadari bahwa kita, seluruh cabang dari Sabang
sampai Merauke adalah bersaudara. Kita satu war-
na darah yang sama-sama berwarna hijau hitam.
Masalah-masalah yang terjadi di dalam internal
cabang harus kita lebur menjadi satu rasa, yaitu
rasa rindu dan cinta akan keberlangsungan HMI
sebagai organisasi mahasiswa Islam terbesar di
Indonesia di masa depan. Kini kita harus sepakat
semua bahwa tujuan kita dalam berkongres kali ini
adalah untuk menjalin silaturrahim, menjawab
tantangan zaman, dan memilih PBHMI yang baru.
Adapun beberapa permasalahan yang terjadi di
kongres Ke-28 ini harus segera ditemukan solu-
sinya. Inilah saatnya bagi kita sebagai kader HMI
untuk menunjukkan kepada dunia bahwa HMI
adalah organisasi yang sangat diperhitungkan dan
bukan organisasi murahan yang tunduk hanya
karena alasan materi. Beberapa langkah besar dan
fenomenal sepertinya harus kita lakukan bersama
demi penyelamatan organisasi yang kita cintai ini.
Persatuan dan kesatuan yang di dalamnya ada
nuansa pikiran dan hati yang jernih merupakan
kata kunci untuk kita bersama menerjang badai
HMI dalam Secangkir Kopi 85

ini. Kini HMI sebagai rahim yang melahirkan kita


semua sedang lara. Maka sudah selayaknyalah
sebagai anak yang berbakti, kita semua wajib
merawat dan mengobati luka lara tersebut.

Selamat bersatu dan berjuang wahai para kader


umat Islam seluruh Nusantara!
Jayalah HMI!
Jayalah Hijau Hitam!
YAKUSA! (25 Maret 2013)
86 Qiki Qilang Syachbudy

MENYAMBUT
MUSDA KAHMI DAERAH BOGOR
MASA BAKTI 2013 – 2018

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam


(KAHMI) berdiri sejak tanggal 17 September 1966
bersamaan dengan Korps HMI-Wati (KOHATI)
yaitu pada kongres HMI ke-8 di Solo. Pada awal
didirikannya, KAHMI merupakan badan khusus
HMI, sebagai tempat informasi sekaligus berfungsi
sebagai wadah konsultasi bagi HMI setempat. Na-
mun sejak tahun 1987, KAHMI tidak lagi memiliki
hubungan organisatoris dengan HMI karena saat
itu KAHMI sudah menjadi ormas tersendiri. Sejak
saat itu kemudian dibentuk presidium KAHMI
nasional.
Semenjak dari awal berdirinya, sudah banyak
hal yang telah KAHMI lakukan dalam rangka ikut
serta dalam memajukan kehidupan bangsa. Hal ini
memang bisa dianggap sesuatu hal yang wajar me-
ngingat pada dasarnya, seorang anggota KAHMI
adalah juga seorang kader HMI yang telah me-
miliki pemahaman sangat baik mengenai cita-cita
“Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang
Diridhoi Allah SWT”. Individu-individu yang
sudah mengalami proses pengaderan di HMI
HMI dalam Secangkir Kopi 87

sehingga memiliki tujuan yang sama kemudian


berhimpun kembali di dalam KAHMI untuk terus
bersama-sama melakukan kerja kolektif. Melanjut-
kan perjuangan ketika ber-HMI merupakan dasar
utama dari keberadaan KAHMI.
Melihat dasar utama dari keberadaan KAHMI
tersebut maka sebenarnya ada dua fungsi yang
sangat penting dari KAHMI. Kedua fungsi itu
menyangkut fungsi kesejarahan dan fungsi masa
depan. Di dalam hal fungsi kesejarahannya, KA-
HMI sebagai kumpulan dari para alumni HMI me-
miliki tanggung jawab moral bagi berlangsungnya
pengaderan yang ada di HMI. Meskipun secara
organisatoris sudah tidak ada hubungannya lagi
tetapi secara pertalian batin masih memiliki peran
yang penting. Dalam hal ini KAHMI memiliki
fungsi sebagai guru atau pendidik bagi adik-
adiknya sehingga terjadi interaksi dalam rangka
mewujudkan perkaderan yang bermutu yang dida-
sarkan atas kondisi kekinian dan atas dasar potensi
terbaik yang dimiliki para kader HMI baik secara
individu maupun kolektif. Sedangkan dalam fungsi
masa depan, KAHMI memiliki tanggung jawab
untuk menjadi peletak batu pertama terobosan ide
yang inovatif (fungsi pembangun wacana) bagi
pembangunan Indonesia di masa depan. Sebagai
ormas yang didasarkan atas kemampuan intelek-
tual yang baik, KAHMI diharapkan bukan saja
mampu melihat masa depan tetapi juga diharapkan
88 Qiki Qilang Syachbudy

mampu membuat step by step untuk mewujud-


kannya. KAHMI diharapkan bisa menjadi garda
terdepan rujukan bagi ormas-ormas lain dalam
bergerak.
Baik fungsi kesejarahan maupun fungsi masa
depan yang diemban KAHMI memang terasa be-
rat. Namun demikian, hal itu akan menjadi mudah
dan sederhana jika terjalin kerjasama yang baik
antara KAHMI dan HMI. Pada dasarnya, KAHMI
dan HMI adalah dua bersaudara yang terlahir
sebagai anak psikologis dari cita-cita sejarah HMI.
Kita boleh memiliki tubuh yang berbeda dan cara
pergerakan yang berbeda, tetapi selama tujuan dan
semangat kita sama maka insyaAllah pada akhir-
nya kita akan sampai kepada tujuan, suatu negara
yang diberkahi, yang di dalamnya terdapat suatu
kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah SWT.
Menyambut MUSDA KAHMI Daerah Bogor
Masa Bakti 2013-2018, kami segenap pengurus
HMI Cabang Bogor Periode 2012-2013 mengucap-
kan selamat atas terselenggaranya acara tersebut.
Melalui momen ini kami berharap semoga banyak
curahan pemikiran yang Kanda/Yunda berikan
bagi keberlangsungan perkaderan khususnya di
HMI Cabang Bogor di masa kini dan masa depan.
(8 Februari 2013)
HMI dalam Secangkir Kopi 89

HMI MASA DULU, MASA KINI,


DAN MASA DEPAN

Sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua yang


masih bertahan sampai saat ini, HMI tidak surut-
surutnya selalu memberi sumbangan besar terha-
dap perjalanan kehidupan bangsa Indonesia mela-
lui para kadernya yang telah digodok dalam
candradimukanya budaya organisasi yang ada.
Semenjak awal HMI didirikan oleh Lafran Pane di
Yogyakarta, organisasi ini terus mendapat banyak
simpati dari kalangan masyarakat luas. Hal itu
mungkin terkait dengan budaya keintelektualan
HMI yang sangat kental di dalamnya. Wajar saja
karena niatan utama dibentuknya HMI pada wak-
tu itu adalah untuk menangkal ideologi komunis
yang mulai memasuki wilayah kampus. Bahkan
setelah ideologi komunis itu tumbangpun HMI
masih bisa berdiri dan terus mencetak para ka-
dernya. HMI tetap kokoh sebagai organisasi
pengaderan, bak sumur yang tidak akan pernah
surut dilanda kemarau.
Kegemilangan-kegemilanganpun terus dicapai,
bahkan sejarah telah mencatat bahwa HMI telah
berperan besar dalam robohnya dua periode ke-
kuasaan. Bahkan sampai saat inipun para kader
90 Qiki Qilang Syachbudy

HMI telah banyak tersebar di berbagai elemen


penting penjuru Indonesia. Wajarlah kiranya me-
reka bisa gemilang di dalam karirnya karena pada
hakikatnya dunia pekerjaan tidaklah jauh berbeda
dengan dunia organisasi. Secara tidak terasa, pasca
keluarnya para kader HMI, para alumni HMI ini
telah mendapatkan bekal soft skill yang luar biasa
sebagai hasil dari pendidikan di HMI. Di dalam
organisasi HMI inilah mereka mendapatkan pem-
belajaran berupa loyalitas, solidaritas, pemahaman
peran masing-masing, pemahaman karakter orang
per orang, pemahaman struktur organisasi yang
rapi, pengelolaan rapat, cara berdebat, cara me-
nyampaikan pendapat yang baik, cara membina
hubungan, dan lain sebagainya. Pada intinya bah-
wa hasil inilah yang seharusnya kita syukuri
sebagai kado terbesar selama kita ber-HMI. Karena
sebetulnya inti dari keberhasilan para alumni HMI
itu bukan karena mereka diajak oleh alumni lain-
nya atau numpang beken dari keberhasilan orang
lain, melainkan mereka maju dengan karya dan
keterampilan mereka sendiri dalam memahami
seni kehidupan ini.
Semenjak awal pendiriannya HMI ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam
konteks kehidupannya yang berkisar diantara wi-
layah ke-Islaman, kemahasiswaan, dan ke-Indone-
siaan. Oleh karena itulah sebagai lembaga yang
dikelola dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan un-
HMI dalam Secangkir Kopi 91

tuk mahasiswa maka sangat diharapkan organisasi


HMI ini bisa dinamis dalam menjawab kebutuhan
mahasiswa yang disesuaikan pada konteks zaman-
nya masing-masing. Cukuplah kiranya kita semua
bernostalgia terhadap kejayaan HMI zaman dahu-
lu yang sudah banyak mencetak kader terbaiknya.
Kini kita saatnya untuk melangkah ke depan un-
tuk bersama-sama mewujudkan tujuan HMI. Meli-
hat dan memperbaiki ke dalam agar HMI kian
bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Jika diibaratkan sebuah mesin maka HMI harus
selalu diusahakan agar produknya tetap baik bah-
kan bisa menghasilkan produk yang lebih baik dan
lebih bermanfaat lagi bagi kehidupan di masa kini
dan masa mendatang.
Zaman semakin maju ke depan. Maka dalam
perkembangan sebuah demokrasi yang kuat dibu-
tuhkan civil society yang kuat pula. Dalam ranah
civil society inilah maka HMI seharusnya secara
total berkiprah dengan baik. HMI harus bisa men-
jadi pengawas dan “wasit” dalam arena demokrasi
ini. Akibat kelalaian sebagian oranglah yang ke-
mudian HMI ini kadang terbawa arus oleh ranah
political society, ranah birokrasi, atau ranah peme-
rintah (government). Disinilah maka diperlukan
sebuah independensi yang kuat. Karena keinde-
pendenan civil society dalam pro terhadap kese-
jahteraan rakyatlah yang menjadi suatu indikator
telah matangnya sebuah masyarakat.
92 Qiki Qilang Syachbudy

Cara pergerakanpun sudah seharusnya dapat


dikoreksi kembali. Sudah tidak menjadi rahasia u-
mum lagi bahwa gerakan turun jalan yang kadang
bersifat brutal dengan membawa bendera atau
lambang HMI sedikit demi sedikit telah mengu-
rangi simpati masyarakat terhadap HMI. Akibat-
nya adalah berdampak kepada pelarangan para
orang tua mahasiswa kepada anaknya untuk tidak
ikut bergabung dengan HMI. Kegiatan menyam-
paikan aspirasi dengan melalui turun ke jalan
mungkin tidak seluruhnya negatif. Malah menurut
penulis, yang pernah ikut beberapa kali aksi turun
jalan, lebih banyak sisi positifnya daripada negatif-
nya. Seperti misalnya dengan mengadakan aksi
turun jalan kita dengan cepat bisa menyadarkan
masyarakat tentang peristiwa yang tengah terjadi.
Apalagi misalnya peristiwa itu sangat penting dan
menyangkut hajat hidup orang banyak. Tetapi me-
nurut penulis ada yang lebih penting yang diha-
rapkan bisa melengkapi cara pergerakan yang su-
dah ada, yaitu dengan cara merebut wacana publik
agar kemudian bisa menjadi suatu kebijakan.
Karena pada hakikatnya publik ini adalah sebuah
arena perang wacana (war of discourse) antara
yang pro rakyat dan yang tidak pro rakyat. Cara
pergerakan yang seperti inilah yang sepertinya
pada masa sekarang kurang dibudayakan di dalam
tubuh HMI.
HMI dalam Secangkir Kopi 93

Oleh karena itulah sudah menjadi tugas kita


semua sebagai kader HMI pada masa sekarang ini
untuk secara bersama-sama membersihkan rumah
besar kita dan jangan pernah meminta bantuan
kepada siapapun kecuali Allah swt. Mari kita
bekerja bakti saling bahu membahu seluruh kader
HMI Se-Indonesia untuk memperbaiki genteng,
menyapu dan mengepel lantai, mengelap kaca,
membersihkan sisa-sisa makan, mengecat dinding,
dan menata pekarangan rumah kita. Agar kemu-
dian kita kembalikan kemegahan HMI ini kepada
sedia kala. Mari kita bersama-sama menghormati
para pembangun HMI dan memaafkan mereka
yang telah membuat rumah ini berantakan. Dan
mari kita beritahu semuanya bahwa kader HMI
sekarang ini sudah bebas dari penyakit moral etat
dan telah bebas pula dari penyakit rent seeking
political activity. Sehingga kemudian rumah ini
tampak megah namun bersahaja. Indah dipandang
mata, sehingga siapapun ingin memasukinya. (5
Desember 2012)
94 Qiki Qilang Syachbudy

ANTARA FOREI IPB


DAN SEMANGAT ANTI ZIONISME

Setelah melalui perbincangan yang mendalam


antara perwakilan dari organisasi HMI, IMM,
KAMMI, dan KMNU pada tanggal 2 Muharram
1434 H bertepatan dengan tanggal 15 November
2012, akhirnya tercetuslah sebuah usulan untuk
membentuk sebuah forum organisasi-organisasi
Islam ekstra kampus. Nama yang kemudian dise-
pakati untuk forum ini adalah Forum Organisasi
Ekstra Kampus Islam (FOREI) IPB. Melalui Forum
inilah diharapkan akan adanya ikhtiar-ihtiar yang
semakin terorganisir diantara para mahasiswa
Islam dalam rangka ikut berkontribusi dalam me-
majukan kehidupan umat.
Sebagai gerak awal dalam mengawali forum ini
maka telah disepakati bahwa isu kemerdekaan Pa-
lestina akan dijadikan sebagai isu yang akan dika-
wal bersama. Hal ini dianggap penting karena pada
isu kemerdekaan Palestina terletak pokok-pokok
permasalahan yang tidak sesuai dengan semangat
hidup masyarakat Islam, nilai-nilai ke-Indonesia-
an dan nilai-nilai universal yang berlaku di selu-
ruh dunia. Maka dengan tanpa mengenyamping-
kan persoalan-persoalan umat di dalam negeri,
HMI dalam Secangkir Kopi 95

perlu adanya gerak nyata dari berbagai pihak


dalam menyelesaikan permasalahan ini sehingga
kehidupan di dunia akan berjalan harmonis tanpa
adanya penindasan antara satu warga dunia terha-
dap warga dunia yang lain.
Pada dasarnya, Islam sebagai agama yang sesuai
dengan fitrah manusia menghendaki sebuah kehi-
dupan yang harmonis sehingga manusia-manusia
yang hidup di dalamnya dapat dengan tenang un-
tuk memenuhi segala kebutuhannya melalui men-
cari dan mengembangkan seluruh potensi yang
Allah SWT telah disediakan di bumi ini. Islam
sangat mengutuk keras siapapun yang telah senga-
ja merampas hak-hak orang lain, sehingga meng-
hambat orang lain untuk hidup dan beribadah
melalui karya-karyanya.
Serangan yang telah dilakukan oleh Zionis
Israel kepada rakyat sipil Palestina menurut pan-
dangan Islam adalah sebuah kesombongan yang
disebabkan oleh ego yang merasa dirinya paling
mulia dan paling benar sehingga orang lain atau
bangsa lain dianggap salah. Hal ini tentu sangat
bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat
menghargai perbedaan. Sampai-sampai Allah SWT
menyebutkan di dalam salah satu ayat-Nya bahwa
tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam.
Tujuan Islam diturunkan ke muka bumi ini
adalah untuk menciptakan keselamatan bagi selu-
ruh bangsa. Tidak ada sama-sekali di dalamnya
96 Qiki Qilang Syachbudy

bentuk-bentuk primordialisme. Bahwa Islam ada-


lah agama yang sempurna memang diakui di da-
lam Alquran, tetapi kesempurnaan itu tidaklah
benar jika disampaikan dengan cara-cara yang me-
nyebabkan hak orang lain terganggu.
Disinilah letak mendasar perbedaan antara
Zionisme dan Islam. Melalui kader-kadernya (red:
umat Islam) Islam mengajarkan untuk terus ber-
buat kebaikan (beribadah secara luas) di muka
bumi ini sehingga menjadi rahmat bagi semesta
alam. Islam sangat melarang umatnya untuk ber-
laku seperti halnya para Zionis yang menganggap
dirinya paling baik dan menganggap orang lain
tidak baik. Malah ajaran Islam menghendaki per-
satuan antar umat Islam untuk melakukan kerja
sosial bagi kemakmuran dunia dengan menyebut-
kan bahwa umat Islam itu bagaikan satu kesatuan
tubuh yang apabila satu bagian tersakiti maka
bagian lainnya akan merasa sakit pula. Semangat
saling membesarkan, mengayomi, memperbaiki,
membangun, dan menasihati inilah yang seharus-
nya berkembang diantara umat Islam pada masa
kontemporer ini sehingga dengan barisan yang
teratur akan bisa berbuat banyak bagi kemajuan
umat. Perasaan paling benar sendiri, paling mulia
sendiri, dan paling memiliki niat yang mulia sen-
diri adalah warisan Zionis yang secepatnya harus
segera dijauhi oleh seluruh umat Islam. Atas dasar
HMI dalam Secangkir Kopi 97

pemikiran itulah maka FOREI IPB sengaja diben-


tuk.
Diawali oleh semangat anti Zionis Israel
terhadap Palestina, mudah-mudahan kedepannya
akan selalu menjadi wadah yang baik bagi para
mahasiswa Islam khususnya yang ada di IPB untuk
melakukan gerakan secara berjamaah. Selain masa-
lah internasional, masih banyak permasalahan
umat yang ada di Indonesia baik dalam bidang
politik, ekonomi, dan budaya yang harus secepat-
nya diselesaikan. Belum lagi Indonesia akan me-
nyambut era perdagangan bebas pada tahun 2015
yang berarti menuntut peran dari para kaum ter-
pelajar untuk menempatkan posisi umat pada
peran sebagai pelaku, dan bukan malah menjadi
penonton. Mudah-mudahan semangat FOREI IPB
ini bisa disadari, dirasakan dan menjadi inspirasi
bagi kampus-kampus di luar IPB. (29 November
2012)
98 Qiki Qilang Syachbudy

PERAN MAHASISWA
DALAM MEWUJUDKAN DEMOKRASI
EKONOMI

Istilah demokrasi ekonomi erat sekali kaitannya


dengan suatu proses pemenuhan kebutuhan eko-
nomi dengan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat. Menyitir pendapat Sukarno bahwa
demi terciptanya kesejahteraan rakyat, maka
tidaklah cukup hanya demokrasi secara politik saja
melainkan harus ada pula demokrasi ekonomi.
Pentingnya masalah demokrasi ekonomi ini
telah mengilhami para pendiri bangsa dalam mem-
buat rumusan sila kelima Pancasila yang berbunyi
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Butir
Pancasila inilah yang merupakan sintesis dari
suasana ketidakadilan di zaman kolonial, dimana
rakyat secara struktural dimiskinkan oleh kaum
kolonial yang memiliki kepentingan untuk me-
ngumpulkan kapital. Pada konteks kekinian, butir
pada sila kelima di atas menjadi sebuah pandangan
bersama rakyat Indonesia dalam menciptakan
suatu bangsa yang berkeadilan. Dengan adanya
cita-cita tersebut diharapkan agar terjadi sebuah
perubahan gerak maju secara kontinu mendekati
suatu keadaan yang ideal. Khususnya dalam kea-
HMI dalam Secangkir Kopi 99

dilan ekonomi atau demokrasi ekonomi inilah


maka sangat diperlukan sebuah gerak dari seluruh
komponen bangsa dalam fungsi dan kapasitasnya
masing-masing.
Mahasiswa sebagai bagian dari elemen masya-
rakat yang dipandang memiliki kemampuan inte-
lektual dan fisik mumpuni diharapkan bisa men-
jadi sebuah solusi dalam mempercepat tercapainya
demokrasi ekonomi. Potensi dan fungsi mahasiswa
ini hendaknya dipahami oleh seluruh mahasiswa
sehingga kemudian akan mengilhami arah gerak
mahasiswa ke depan dan memperkaya diskursus
yang ada selama ini.
Kesibukan dalam hal akademis merupakan se-
buah penghambat yang sangat besar untuk maha-
siswa bisa turun langsung secara total ke lapangan
demi mempraktikkan ilmunya di tengah-tengah
masyarakat. Padahal secara kemampuan dan secara
historis, mahasiswa memiliki nilai psikologis yang
kuat dalam pandangan masyarakat sebagai agen
perubahan yang bersih dari berbagai muatan ke-
pentingan. Oleh karena itulah diperlukan suatu
usaha menata ulang pererakan mahasiswa kembali
dalam menjawab kondisi kekinian. Sehingga
kemudian terjadi penyegaran di dalam sejarah per-
gerakan mahasiswa yang semakin efisien terhadap
tujuan yang ingin dicapai.
Di era semakin majunya sistem demokrasi di
Indonesia, dimana akses informasi dan media
100 Qiki Qilang Syachbudy

sudah sangat mudah didapat, seharusnya menjadi-


kan sebuah peluang besar bagi pergerakan maha-
siswa yang lebih mengedepankan variasi pergera-
kan yang “cantik”. Membuat diskursus sehingga
menjadi wacana publik merupakan salah satu cara
yang efektif dalam memanfaatkan kondisi seperti
ini. Pergerakan seperti itulah yang sebenarnya
dilakukan oleh para pendiri bangsa dalam mem-
perjuangkan kemerdekaan Indonesia. Yaitu mela-
lui penyadaran kepada masyarakat akan cita-cita
kemerdekaan sebagai sebuah jembatan emas dalam
menuju kesejahteraan dan keadilan bangsa.
Dalam konteks kekinian, upaya merebut waca-
na publik seharusnya menjadi suatu agenda yang
sangat penting. Salah satu upaya merebut wacana
publik tersebut bisa dilakukan dengan suatu gera-
kan moral dalam bentuk ajakan kepada masyara-
kat. Khususnya dalam upaya ikut serta dalam men-
ciptakan demokrasi ekonomi, maka mahasiswa
membentuk semisal gerakan cinta produk dalam
negeri dan gerakan selalu menggunakan produk
bermerek dalam negeri, sehingga kemudian gera-
kan moral itu bisa berefek bola salju dan menular
ke seluruh rakyat Indonesia menjadi sebuah
gerakan nasional.
Namun demikian, gerakan mahasiswa ini juga
harus mendapat dukungan dari pihak pemerintah
dan media sepenuhnya. Kedua pihak tersebut
harus bersifat kooperatif dan menjadi “bensin”
HMI dalam Secangkir Kopi 101

dalam memanfaatkan momentum percikan api


semangat yang keluar dari gerakan mahasiswa ter-
sebut sehingga semangatnya bisa membawa keber-
kahan bagi seluruh rakyat Indonesia. (22 Mei
2012)
102 Qiki Qilang Syachbudy

Lampiran 1: Pendapat Cak Nur Mengenai HMI Saat


Ini

Cak Nur, panggilan hangat Nurcholish


Madjid, lahir di Mojoanyar, Jombang, 17
Maret 1939. Kota ini sendiri kemudian men-
jadi terkenal sekali dan itu, sebagian, karena
dia. Tokoh yang tidak suka berolah raga (me-
rasa tak berbakat, hingga paling banter Cuma
main tenis melawan tembok di rumahnya dan
selalu menang) itu, memang bukan tipe orang
yang kelewat mengagungkan jargon mens
sana incorpore sano . Panggilan hidupnya me-
mang bukan untuk olah raga, melainkan olah
pikir.
Pemikiran keagamaan maupun politiknya
yang pluralis itu, dampak sosial politisnya
luar biasa bagi Indonesia. Gagasan-gagasannya
sering mengundang kontroversi. Tapi ia sadar
akan risiko semacam itu. Aneka gempuran ia
hadapi dengan sikap tawaduk. Cak Nur sem-
pat pula “bertapa” di sebuah gua yang berna -
ma Universitas Chicago, di Amerika. Ia tetap
tegar, dibabat makin lebat, digempur malah
makin subur.
Akhir-akhir ini Ridwan Saidi ngamuk-nga-
muk tanpa juntrungan menghajar Cak Nur
dan Paramadinanya, termasuk Dr. Komarud-
HMI dalam Secangkir Kopi 103

din Hidayat. Bahkan seorang “nabi” tanpa


wahyu, dan nyaris tanpa pengikut, seperti
Djohan Effendi pun ikut dihajar. Tapi dari
pihak Cak Nur tetap tak terdengar reaksi apa-
pun. Kemarahan Ridwan Saidi hanya menam-
bah kharisma lulusan Fakultas Adab IAIN
Syarif Hidayatullah, Jakarta (1968), yang me-
raih gelar Ph.D (1984) di Universitas Chicago
itu.
Ketika masih kuliah di IAIN itulah Cak
Nur terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI,
September 1966-1969. Bahkan setelah ia me-
namatkan kuliahnya di situ (1968), ia masih
diminta lagi untuk menjabat Ketua periode
kedua: 1969-1971. Nurcholis memang dikenal
sebagai aktivis yang handal dalam pemikiran.

Posisi politisi HM I sekarang ini bagai -


mana, sih?

Menurut saya, HMI sekarang ini memang


dalam keadaan sulit. Tapi kesulitan itu sebe -
tulnya umum dari organisasi ekstra. Tapi HMI
itu, mungkin karena volumenya yang besar,
masih tetap yang paling lumayan. Artinya
HMI jelas eksis. Eksistensinya riil . Yang lain
itu kan banyak yang tinggal papan nama. Ba-
nyak organisasi yang proses pergantian kepe-
mimpinannya pun tidak jelas. Ada yang sudah
104 Qiki Qilang Syachbudy

bapak-bapak masih menjadi ketua organisasi -


nya. Dalam soal itu HMI paling baik. Metabo -
lisme kepemimpinan itu cepat sekali. Rata -
rata dua tiga tahun sudah diganti.
Cuma, dalam situasi di mana orang ditun-
tut untuk berjuang dalam tema-tema proaktif,
bukan reaktif, maka usaha meneguhkan eksis -
tensi itu lebih sulit. Kalau dalam perjuangan
reaktif itu kan gampang saja. Dengan pidato,
retorika, sudah bisa.

Apa karena itu pula maka sekarang HMI


terasa agak lebih kecil dibanding dulu?

O, ya dengan sendirinya. Tapi tidak berarti


dulu lebih hebat dari sekarang. Menurut saya,
dulu itu besar karena faktor-faktor demo-
grafis-sosiologis. Faktor demografis-sosiologis
yang saya maksud itu ialah saat-saat tahun 60-
an itu kan tahun-tahun pertama para santri
terwakili dengan jumlah yang banyak sekali
di perguruan tinggi, di universitas. Sekitar
tahun 60-an awal.

Tapi kabarnya anak kota agak kurang ter-


tarik, gitu?

Nah, di situ sayangnya. Kalau tahun 60-an,


HMI itu adalah organis asi tengah. Artinya di
HMI dalam Secangkir Kopi 105

tengah persoalan betul. Di tengah persoalan


universitas. Sekarang itu HMI itu periferi. Ja -
di marginal. Makin terdesak ke pinggir. Jadi,
secara politis tidak lagi berada di pusat -pusat
pengambilan keputusan gerakan mahasiswa di
universitas besar. Secara fisik, ada gejala HMI
sekarang menjadi organisasi perguruan tinggi
kecil, marginal.

Majalah Matra , Desember 1992


No.77, Hlm. 13-23
106 Qiki Qilang Syachbudy

Lampiran 2: Sejarah Ringkas HMI

Lahirnya HMI

HMI lahir pada waktu bangsa Indonesia sedang


dalam suatu perjuangan yang dahsyat memperta-
hankan kemerdekaannya yang telah diproklamir-
kannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Lahirnya
HMI pada saat masyarakat mahasiswa harus ber-
satu untuk merupakan suatu potensi bagi perta-
rungan melawan kekuatan imperialis, tentu
mudah menimbulkan sangkaan adanya gerakan
separatisme. Padahal timbulnya HMI sebetulnya
tidak lepas dari hukum proses masyarakat, yaitu
adanya differensiasi dengan integrasinya di dalam
masyarakat, setelah melalui masa-masa agregasi.
Hidup manusia sepanjang masa memang selalu
mengalami proses differensiasi dengan integra-
sinya. Masyarakat kuno mengenal differensiasi
yang berdasarkan keturunan ataupun daerah atau-
pun mata pencaharian, sedangkan integrasinya
berupa raja-raja dalam masyarakat feodal, atau
pater familias dalam masyarakat Romawi. Tapi
adanya sistem-sistem integrasi ini oleh masyarakat
kuno itu tidak atau kurang disadari.
Masyarakat modern mengenal differensiasi ber-
dasarkan ideologi, yaitu suatu ucapan atau perwu-
judan kesadaran manusia akan dirinya sendiri
sebagai makhluk yang berperasaan berkemauan
HMI dalam Secangkir Kopi 107

dan berpikiran dan yang karena itu pula meng-


hendaki suatu tata hidup yang memberikan ke-
mungkinan perkembangan perasaan, kemauan,
dan pikiran masing-masing. Sedangkan sistem in-
tegrasinya berupa republik atau monarki. Tapi
berlainan dengan masyarakat kuno, sistem integ-
rasi masyarakat modern adalah disadari dan ma-
lahan ditetapkan oleh anggota-anggota masyara-
katnya.
Maka adanya sekumpulan manusia yang
kebetulan berkedudukan sebagai mahasiswa dalam
masyarakat Indonesia yang mengucapkan perasa-
an, kemauan, dan pikirannya dalam faham agama
Islam dan yang ingin menyalurkannya melalui
suatu organisasi untuk mengabdi kepada agama,
nusa dan bangsa, menyebabkan timbulnya HMI
pada tanggal 5 Februari tahun 1947.
Setelah HMI berdiri akibat differensiasi itu,
HMI terus berusaha untuk menemukan dan me-
laksanakan sistem integrasi, baik dengan perhim-
punan-perhimpunan mahasiswa lainnya maupun
dengan golongan-golongan masyarakat lainnya.
Keburukan-keburukan juga timbul akibat
differensiasi modern ini tidaklah terletak pada
adanya differensiasi itu sendiri, melainkan terletak
pada caranya mencari dan melaksanakan sistem
integrasi itu.
108 Qiki Qilang Syachbudy

Timbulnya HMI

Lahirnya HMI pada tanggal 5 Februari 1947 itu,


adalah di Kota Yogya. Beberapa mahasiswa juga
bercita-cita untuk menyalurkan ideologinya mela-
lui suatu organisasi telah bertemu dengan kawan-
kawan lain yang secita-cita dan seideologinya
dengan mereka.
Segeralah mereka bertekad dan didirikanlah
HMI dengan pengurusnya. Kawan-kawan tersebut
diantaranya adalah Lafran Pane, Mintaredja, Sanu-
si, Hutagalung, Ahmad, dll. Setelah HMI terben-
tuk di Yogya, saudara-saudara tersebut tidak ting-
gal diam. Diantaranya saudara Lafran Pane telah
berusaha mengembangkan sayap HMI ke kota-
kota universitas lain. Tidak lama kemudian
hasilnya kelihatan di Klaten dan Solo. Di kota-
kota itu berdirilah HMI.
Usaha-usaha yang pertama pada waktu itu
adalah menyelenggarakan ceramah-ceramah yang
selalu menarik pendengar yang penuh sesak,
sehingga ceramah-ceramah HMI menjadi populer
yang disebabkan pula karena pembicara-pembica-
ranya orang-orang tersohor yang menilik subyek-
nya dengan mengingat psikologi dari zaman.
Disamping itu pula diadakan juga malam-malam
kesenian yang mendapat sambutan yang gilang
gemilang dari khalayak ramai yang merasakan
betapa luasnya jiwa yang meliputi HMI.
HMI dalam Secangkir Kopi 109

Sesudah pengurus besar HMI yang berkedu-


dukan di Yogya dibentuk setelah kongres yang
pertama pada bulan Desember 1947 di Yogya yang
dihadiri oleh cabang-cabang Yogya, Klaten dan
Solo, bertambah semaraklah nama HMI. HMI
mempunyai kantor sekretariat yang mentereng
dan mempunyai bibliotik serta mengeluarkan
majalah yang diberi nama Kriterium. Kelihatanlah
bahwa HMI merupakan suatu organisasi yang
kompak dan diantara organisasi-organisasi pemuda
juga pada waktu itu timbul dimana-mana, HMI
menjadi inspirasi bagi organisasi-organisasi yang
sepaham dan sejalan dan disegani oleh kumpulan-
kumpulan yang lain ideologinya. Tidaklah berle-
bih-lebihan jika dikatan bahwa HMI di federasi-
federasi yang luas seperti PPMI yang didirikan
pada tanggal 8 Maret 1947, Front Pelajar, dan
sebegainya memegang suatu hegemoni.
Walaupun jiwa HMI nonpolitis, tapi jika
mengenal soal tenggelam tidaknya to be or not to
be-nya bangsa Indonesia, HMI selalu ada di muka.
Hegemoni yang ada pada HMI telah digunakan,
melalui PPMI atau federasi lain, untuk membantu
pemerintah menjalankan tugasnya dan mencegah
bangsa Indonesia dari keruntuhan dan kemusna-
han. HMI telah turut memecah kekuatan FDR dan
turut menjatuhkan kabinet Amir Sjafrudin serta
mendesak Bung Hatta untuk membentuk kabinet
presidensial. Dalam kongres pemuda, HMI selalu
110 Qiki Qilang Syachbudy

merupakan tegenwicht terhadap Pesindo. Dan


pada waktu komunis berontak pada bulan Septem-
ber 1947. Saudara Ahmad, Wakil Ketua HMI yang
juga menjadi ketua PPMI, telah menggerakkan se-
luruh tenaga PPMI untuk membantu pemerintah
dalam soal-soal penerangan dan pamong praja
menumpaskan pemberontakan tersebut.
Pada aksi militer kedua HMI tetap meme-gang
peranan yang penting dalam kalangan mahasiswa.
Saudara Ahmad disamping menjadi ketua PPMI,
kemudian sesudah bulan Oktober 1948 mengoper
pimpinan HMI dari Saudara Mintaredja dan pada
aksi militer tersebut dia juga menjadi komandan
korps mahasiswa di Yogya. Tenaga HMI disam-
pingnya organisasi-organisasi mahasiswa lain dike-
rahkan untuk memperkuat aparat pemerintah RI
baik dalam lapangan kemiliteran maupun pereko-
nomian, kesehatan, pengajaran, dan sebagainya.
Setelah penyerahan kedaulatan mahasiswa yang
tersebar kembali ke bangku fakultas, dan mencu-
rahkan seluruh perhatiannya kepada pelajaran-
pelajaran yang ketinggalan. Hal ini sedikit kurang-
nya memengaruhi organisasi-organisasi mahasiswa
termasuk juga HMI. Kurang lebih setahun sesudah
penyerahan kedaulatan dirasakan adanya vacuum
dalam HMI. Cabang-cabang Klaten dan Solo bubar
karena dipindahkannya fakultas-fakultas di kota-
kota tersebut ke Yogya.
Tapi dalam pada itu mahasiswa-mahasiswa Is-
HMI dalam Secangkir Kopi 111

lam di kota-kota lain mulai terdengar suaranya


dan tidak lama kemudian berdirilah cabang HMI
di Jakarta dan Bandung.
Pada bulan Desember 1951 Pengurus Besar
HMI dipindahkan ke Jakarta. Mula-mula diketuai
oleh Saudara Lukman dan kemudian oleh Saudara
A. Dahlan Ranuwihardjo. Sebulan sesudah PB
HMI ada di Jakarta, HMI mengadakan kongresnya
yang kedua yang dihadiri oleh cabang Jakarta,
Bandung, dan Yogya. Dalam kongres ini cabang
Jakarta diserahi untuk membentuk suatu studie-
commissie untuk memperbaiki AD dan ART lama
yang disahkan pada kongres HMI ke-1 dan cabang
Bandung diserahi untuk membuat atribut HMI.
Dengan perlahan HMI mulai terdengar lagi
suaranya. Pada akhir tahun 1952 HMI telah me-
luas ke kota-kota Bogor, Solo, Surabaya dan
Medan. Dan pada konferensi yang diadakan pada
tanggal 26-28 Desember 1952 cabang-cabang HMI
berkumpul di Jakarta.
HMI terus tumbuh, dan suaranya semakin deras
terdengar di kalangan masyarakat umumnya dan
mahasiswa khususnya. Usaha-usahanya di PPMI-
pun tetap seperti sebelum penyerahan kedaulatan.
Pada tahun 1950-1951 Saudara Dahlan Ranuwi-
hardjo disamping menjadi Ketua PB HMI juga
menjadi ketua PPMI.
Pada hari ulang tahun HMI yang ke-VI telah
disahkan berdirinya Cabang HMI di Padang dan
112 Qiki Qilang Syachbudy

pada bulan Agustus 1953 cabang HMI di Makassar


telah berdiri pula. Sehingga HMI sekarang telah
memiliki cabang di tiap-tiap kota universitas di
seluruh kepulauan Nuasantara.
Maka jika pada kongres HMI yang pertama
hanya dihadiri oleh tiga cabang saja, pada kongres
HMI yang ketiga, yang diadakan pada tanggal 30
Agustus sampai dengan tanggal 4 September 1953
di Jakarta, yang hadir ada delapan cabang.
Pada kongres ini disyahkan AD serta ART yang
baru dan atribut yang diajukan oleh cabang
Bandung. Disamping itu Saudara A. Dahlan Ranu-
wihardjo mengundurkan diri sebagai ketua PB
HMI dan telah dipilih Saudara Deliar Noer sebagai
ketua pengurus besar untuk periode 1953-1955.

HMI dan Organisasi -Organisasi Islam

Hubungan dan kerjasama dengan organisasi-


organisasi Islam terutama organisasi-organisasi pe-
mudanya selalu diadakan dan dipelihara. Pada
Muktamar Muslim seluruh Indonesia pada bulan
Desember 1949 di Yogya HMI telah turut serta
dan setelah hasil muktamar tersebut, yaitu Badan
Kongres Muslim Indonesia didirikan, HMI turut
menjadi anggota.
Pada pertengahan tahun 1951 HMI bersama-
sama dengan organisasi-organisasi pemuda Islam
lainnya telah berkonferensi di Jakarta dan mem-
HMI dalam Secangkir Kopi 113

bentuk suatu front yang dinamakan Front Pemuda


Islam Indonesia yang disingkat menjadi FPII. Sa-
ngat disayangkan bahwa tidak seluruh organisasi
pemuda Islam turut serta di dalamnya sehingga
lama kelamaan dirasakan kebutuhannya untuk
sekali lagi mengadakan usaha agar seluruh orga-
nisasi pemuda Islam dapat merupakan suatu kebu-
latan. Akhirnya kemudian HMI turut mengambil
inisiatif untuk mengundang seluruh organisasi
pemuda Islam yang ada di seluruh kepulauan, ke
suatu kongres. Dan syukur alhamdulillah kongres
tersebut telah dapat dilangsungkan pada tanggal 4-
7 Desember 1953 di Jakarta, serta telah dapat
menelurkan suatu perserikatan yang diberi nama
Perserikatan Organisasi-Organisasi Pemuda Islam
Indonesia yang disingkat menjadi PORPISI. Dalam
kongres ini HMI telah mendapat kepercayaan dari
para peserta kongres yang terbukti diantaranya
dengan terpilihnya Saudara Mashud, ketua cabang
Yogya yang turut menjadi anggota delegasi HMI,
dengan suara terbanyak sebagai anggota Dewan
Pimpinan Kongres.
Dengan partai-partai Islam HMI juga menga-
dakan hubungan-hubungan. Dan dengan pemim-
pin-pemimpinnya HMI sering mendapatkan cera-
mah-ceramah dan keterangan-keterangan menge-
nai berbagai masalah. Mengenai hubungan-hubu-
ngan ini perlu ditegaskan, bahwa HMI tidak ter-
ikat atau dipengaruhi oleh partai Islam manapun
114 Qiki Qilang Syachbudy

juga. Walau kerjasama ada tetapi HMI berdiri


sendiri serta mempunyai pandangan sendiri. HMI
juga telah turut duduk dalam panitia haji. Dan
pada jemaah haji yang baru lalu, Saudara Turmuzi,
anggota cabang Yogya telah ditugaskan untuk
duduk dalam panitia tersebut.
Disamping hubungan-hubungan dengan or-
ganisasi-organisasi Islam di dalam negeri, HMI
mengadakan juga hubungan-hubungan dengan or-
ganisasi-organisasi mahasiswa/pemuda Islam di
luar negeri. Diantaranya telah diadakan saran-
saran dengan mahasiswa-mahasiswa Pakistan ten-
tang kemungkinan didirikannya World Moslem
Student Association.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada bulan
Januari 1955 yang lalu, ide untuk mengadakan
Kongres Pemuda Islam se-dunia telah dilaksana-
kan di Karachi dan disebut IAMY sebagai kepen-
dekan dari International Assembly of Muslim
Youth. Dimana dalam IAMY tersebut HMI pun
ikut serta memperkuat delegasi Indonesia dengan
mengirim Saudara O.K. Rachmat yang bertugas
sebagai sekretaris II dari delegasi Indonesia.

Penutup

Sebagai penutup HMI mengucap syukur Al-


hamdulillah ke hadirat Allah Ta’ala bahwa HMI
selalu dikaruniainya rahmat dari mulai lahir hing-
HMI dalam Secangkir Kopi 115

ga sekarang ini yaitu hari peringatan ulang tahun


HMI yang ke VIII, dan semoga HMI seterusnya
mendapatkan perlindunganNya serta pimpinan
Nya.
Dan terima kasih yang tidak terhingga HMI
sampaikan kepada semua instansi, organisasi dan
segenap pencinta, penyokong serta seluruh ang-
gota HMI di seluruh kepulauan Indonesia atas
bantuan-bantuan materil maupun moril, tenaga
atau pikiran yang telah mereka berikan kepada
HMI. Mudah-mudahan Allah memberi balasan
atas kebaikan mereka.

Wasalam
Jakarta, Februari 1955
Pengurus Besar
Himpunan Mahasiswa Islam.

Media, No. 7 Th. I, Februari 1955, hlm. 41


116 Qiki Qilang Syachbudy

BIODATA PENULIS

Penulis bernama lengkap Qiki Qilang


Syachbudy. Lahir pada tanggal 17 Maret 1988 di
Desa Galaherang, Kecamatan Maleber, Kabupaten
Kuningan, Jawa Barat. Ayahnya meninggal dunia
ketika ia berumur 5 bulan dalam kandungan.
Setelah lulus dari SMA, penulis pernah kuliah
selama 5 bulan di Universitas Kuningan (Uniku)
pada jurusan Pendidikan Ekonomi dan Adminis-
trasi Perkantoran (PEAP). Selama kuliah, untuk
menambah uang saku, penulis pernah bekerja pada
sebuah counter HP dan juga pada Radio ASTIA
FM Kuningan. Namun karena gajinya tetap tidak
memungkinkan untuk melanjutkan kuliah, akhir-
nya penulis memutuskan untuk mengikuti prog-
ram beasiswa English Teacher Training di Pare,
Kediri, Jawa Timur, yang dibiayai secara penuh
oleh Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al Multazam
Yayasan Pondok Pesantren Husnul Khotimah,
Kuningan, Jawa Barat. Setelah menyelesaikan
program training selama satu semester di Kediri,
kemudian penulis menjadi guru bahasa Inggris
pada lembaga bahasa asing SIT Al Multazam
(Foreign Language Departement) selama tahun
2008 – 2009.
HMI dalam Secangkir Kopi 117

Berkat izin dari Tuhan Yang Maha Kuasa,


melalui dorongan seorang hambaNya yang baik
hati, pada tahun 2009 penulis disarankan untuk
mengikuti ujian SNMPTN sehingga kemudian
berhasil diterima menjadi mahasiswa di Institut
Pertanian Bogor (IPB) pada Fakultas Ekonomi dan
Manajemen (FEM), Departemen Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan (IESP) dengan beasiswa
dari Kementerian BUMN.
Pada tanggal 26 November 2012, penulis bersa-
ma teman-teman dari organisasi KAMMI, KMNU,
dan IMM membentuk sebuah Forum Organisasi
Ekstra Kampus Islam IPB yang disingkat menjadi
FOREI IPB. Melalui forum inilah diharapkan akan
bisa menjembatani kesatuan gerak di antara sesa-
ma para aktivis mahasiswa Islam ekstra kampus.
Sampai akhirnya pada tahun 2013 penulis diperca-
ya untuk menjadi Ketua Umum HMI Cabang
Bogor Periode 2013-2014.
Saat ini penulis tercatat telah menyelesaikan S2
di program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Pertanian
(EPN) IPB atas bantuan beasiswa Fresh Graduate
dari Dikti. Buku ini sengaja dibuat sebagai kenang-
kenangan bagi seluruh kader keluarga besar
(adinda/kanda/yunda) di HMI Cabang Bogor yang
telah mendidik penulis baik secara langsung atau-
pun tidak langsung. Dengan ini penulis mengu-
capkan salam hormat dan terimakasih.