Anda di halaman 1dari 37

FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, sekitar
40.000 species tumbuhan ditemukan di Indonesia dan 180 species di antaranya berpotensi
sebagai tanaman obat. Plasma nutfah tumbuhan mempunyai fungsi dan peranan yang penting
bagi kehidupan dan penghidupan manusia di muka bumi. Dari plasma nutfah inilah dapat dirakit
bibit-bibit unggul. Tumbuh-tumbuhan yang sehari-hari dipandang tidak berguna mungkin
memiliki sifat khusus yang sangat berharga bagi perakitan varietas-varietas unggul. Sifat-sifat
khusus ini sering baru diketahui dan diperlukan setelah timbul keadaan darurat.

Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat,
terlebih dengan adanya isu back to nature. Obat tradisional dan tanaman obat banyak digunakan
masyarakat terutama dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif. Sementara ini banyak
orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat tradisional relatif lebih aman
dibandingkan obat sintesis. Agar penggunaannya optimal, perlu diketahui informasi yang
memadai tentang tanaman obat. Informasi yang memadai akan membantu masyarakat lebih
cermat untuk memilih dan menggunakan suatu produk obat tradisional atau tumbuhan obat
dalam upaya kesehatan.

Salah satu tanaman yang bermafaat sebagai obat adalah tanaman kumis kucing
(Orthosiphon stamineus Benth), mudah sekali ditemukan di seluruh nusantara. Tanaman ini
sangat mudah tumbuh sehingga mudah dikembangbiakan. Kumis kucing sudah digunakan
masyarakat untuk diuretik, pengobatan hipertensi, dan rematik. Kandungan ortosifonin & garam
Kalium (terutama pada daunnya) adalah komponen utama yang membantu larutnya asam urat,
fosfat & oksalat dalam tubuh manusia (terutama dalam kandung kemih, empedu maupun ginjal)
sehingga dapat mencegah endapan batu ginjal (Anoim, 2011a). Kandungan kimia kumis kucing
mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol (Hutapea, 1993). Dalam simplisia daun
kumis kucing dapat dijadikan ekstrak dengan menggunakan cairan pelarut berupa etanol 70%.
Cairan pelarut dalam pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk kandungan

1
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

senyawa tersebut agar dapat terpisahkan dari bahan dan kandungan senyawa lainnya, sehingga
hanya menggandung senyawa yang diinginkan. Pelarut etanol bisa digunakan untuk menyari zat
yang kepolaran relatif tinggi sampai relatif rendah, karena etanol merupakan pelarut universal.
Etanol mempunyai kelebihan yaitu lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol
20% keatas, tidak beracun, netral, absorbsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air pada
segala perbandingan, panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit.

1.2. TUJUAN PENELITIAN

1.2.1. Mahasiswa memahami dan mampu melakukan proses ekstraksi senyawa dari bahan alam
melalui proses maserasi

1.2.2. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menghilangkan cairan penyari dan mendapatkan
ekstrak tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth) yang lebih pekat.

1.2.3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi golongan senyawa yang terdapat pada ekstrak kasar
dan mengetahui profil TLCnya.

1.2.4. Mahasiswa mampu menguasai teknik fraksinasi ekstrak kasar menggunakan metode kolom
kromatografi.

2
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kumis Kucing

Kumis kucing merupakan tanaman asli dari Indonesia.Tanaman kumis kucing merupakan
tumbuhan terna berbatang basah, tumbuh tegak, dan tingginya 1-2 meter.Batang kumis kucing
berbentuk segi empat, pada buku-buku batang bagian bawah timbul akar.Daun kumis kucing
merupakan daun tunggal, tepi daun bergerigi dan berbulu halus, ujungnya meruncing.Bunga
tersusun dalam bentuk tandan dalam jumlah banyak, berwarna putih keunguan (Dalimartha, 2000).
Menurut Herbarium Bogoriense (2014), taksonomi daun kumis kucing adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Lamiales

Famili : Lamiaceae

Genus : Orthosiphon

Spesies : Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.

Nama Daerah :

Sumatera :Kumis Kucing (melayu)

Jawa :Kumis Kucing (sunda) Remujung (Jawa Tengah)

Habitus :Semak, tahunan, tinggi 50-150cm

Uraian makroskopik:

Daunnya berwarna hijau

Daun :Tunggal, bulat telur, panjang 7-10cm, lebar 8-50cm, tepi bergerigi, ujung dan pangkal
runcing, tipis, hijau.

3
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Batang :Berkayu, segi empat, beruas, bercabang, coklat kehijauan.

Bunga :Majemuk, bentuk malai, di ujung ranting dan cabang, kelopak berlekatan, ujung terbagi
empat, hijau, benang sari empat, kepala sari ungu, putik satu, putih, mahkota bentik bibir, putih.

Buah :Kotak, bulat telur, masih muda hijau setelah tua coklat.

Biji :Kecil, masih muda hijau setelah tua hitam

Akar :Tunggang, putih kotor.

Daun orthosiphon spicatus berkhasiat sebagai peluru air seni, obat batu ginjal, obat kencing
manis, obat tekanan darah tinggi, dan obat untuk peluruh seni. Kandungan kimia orthosipon
spicatus mengandung alkaloid, saponin, flavonoida, dan polifenol (Hutapea, 1993). Bagian
tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah bagian herba (terutama daunnya), baik yang
segar maupun yang telah dikeringkan. Herba kumis kucing rasanya manis sedikit pahit, sifatnya
sejuk. Tanaman ini berkhasiat sebagai antiradang, hipertensi, peluruh kencing (diuretik),
menghilangkan panas dan lembab, serta menghancurkan batu saluran kencing (Wijayakusuma,
1994).

2.2. Ekstraksi

Ekstrak adalah produk tanaman obat yang dibuat dengan jalan menyari sebagian atau
seluruh bagian tanaman obat yang sebelumnya dilarutkan dalam cairan alkohol. Hasil penyarian
tersebut kemudian diuapkan sehingga diperoleh cairan kental (Yuli, 1997). Ekstraksi adalah
kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak
dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat
larut dan senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain. Senyawa
aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri,
alkaloid, flavonoid dan lain-lain (Anoim, 2000). Hal-hal yang sangat mempengaruhi lama waktu
proses ekstraksi antar lain:

a. Kapasitas produk mesin.


b. Jenis bahan baku herbal.
c. Kandungan zat aktif bahan herbal.
d. Pelarut yang dipakai yang sesuai dengan kandungan zat aktif

4
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Hasil akhir yang diperoleh pada proses ekstraksi adalah: ekstrak kental/ liquid kental yang
mengandung senyawa kandungan yang diinginkan dari bahan baku tanaman tanpa adanya ampas
tanaman. Hasil ekstrak / liquid kental di atas dapat dilanjutkan ke proses lebih lanjut, seperti
berikut ini :

e. Dibuat ekstrak powder / kapsul ekstrak


f. Ekstrak granul instant
g. Ekstrak powder instant untuk minuman
h. Kaplet ekstrak (Anonim, 2011c)

2.3. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan


beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperature ruangan (kamar). Secara teknologi
termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi
kinetic berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus). Remaserasi berarti dilakukan
pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya.
Prinsip maserasi penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar, terlindung dari cahaya, cairan
penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan
senyawa kandungan yang diinginkan dalam hal ekstrak total, maka cairan pelarut dipilih yang
melarutkan hampir semua metabolit sekunder yang terkandung. Faktor untuk pertimbangan pada
pemilihan cairan pelarut adalah sebagai berikut :

a. Selektif.
b. Kemudahan bekerja dan proses dengan cairan tersebut.
c. Ekonomis.
d. Ramah Lingkungan
e. Keamanan (Anonim, 2000).

5
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

2.4. Uji Kandungan Kimia Ekstrak

Uji kandungan kimia ekstrak dilakukan dengan berbagai prinsip kimia dapat ditentukan
keberadaan suatu golongan kimia terentu. Ada beberapa golongan kimia yang dapat
dikembangkan dan di tetapkan metodenya yaitu :

a. Golongan Alkaloid.
Alkaloid, sekitar 5500 telah diketahui merupakan golongan tumbuhan sekunder yang
terbesar. Tidak ada satu pun istilah ‘alkaloid’ yang memuaskan, tetapi pada umumnya alkaloid
mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam
gabungan, sebagai bagian dari system siklik. Alkaloid sering kali beracun bagi manusia dan
banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jadi digunakan secara luas dalam
bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tanpa warna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan
berbentuk Kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar
(Harbone, J.B, 1987). Alkaloid tidak mewakili golongan yang dari segi kimia bersifat homogeny,
sehingga setiap rampatan, mengenainya pasti mengandung perkecualian. Semuanya mengandung
nitrogen yang sering kali terdapat dalam cicin heterosiklik dan banyak, tetapi tidak semuanya,
bersifat basa seperti ditunjukkan oleh namanya (Robinson Trevor, 1995).
b. Golongan Saponin
Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol dan telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku
tanaman (Tschesche dan Wulf, 1973). Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat
seperti sabun, serta dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis
sel darah. Pencaharian saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber
sapogenin yang mudah diperoleh dan dapat diubah dilaboratorium menjadi sterol hewan yang
berkhasiat penting (misalnya kortison, estrogen kontraseptif, dan lain-lain) (Harbone, J.B, 1987).
c. Golongan Flavonoid
Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetative maupun dalam
bunga. Sebagai pigmen bunga flavonoid berperan jelas dalam menarik burung dan serangga
penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tanpa warna, tetapi flavonoid menyerap sinar UV penting
juga dalam mengarahkan serangga (Robinson Trevor, 1995). Glikosida flavonol dan aglikon
biasanya dinamakan flavonoid. Glikosida ini merupakan senyawa yang sangat luas penyebarannya
di dalam tanaman. Di alam dikenal adanya sejumlah besar flavonoid yang berbeda-beda dan
merupakan pigmen kuning yang tersebar luas diseluruh tanaman tingkat tinggi. Rutin, kuersitrin,

6
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

ataupun sitrus bioflavonoid (termasuk hesperidin, hesperetin, diosmin dan naringenin) merupakan
kandungan flavonoid yang paling dikenal (Anonim. 2011a).
d. Golongan Tanin dan Polifenol.
Dalam industry tannin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu
mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya
menyambungsilangkan protein. Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim
sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi
pemyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan
pencernaan hewan. Kenyataannya sebagian besar tumbuhan yang banyak bertanin dihindari oleh
hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Kita menganggap salah satu fungsi utama
tannin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan (Harbone, J.B, 1987).

2.5. Fraksinasi.

Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan yang bertujuan memisahkan golongan utama


kandungan yang satu dari kandungan yang lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke
pelarut polar dan senyawa non polar akan masuk ke pelarut non polar.

Metode fraksinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kromatografi
kolom. Kolom diisi dengan penyerap padat sebagai fase tetap dan dialiri dengan pelarut sebagai
fase gerak. Cuplikan yang akan difraksi dimasukan ke dalam kolom dan dialiri fase gerak yang
akan membentuk jalur-jalur serapan dari senyawa. Bila pelarut dibiarkan mengalir melalui kolom,
ia akan mengangkut senyawa-senyawa yang merupakan komponen-komponen dari campuran.
Pemisahan komponen suatu campuran tergantung pada tingkat kepolaran dari fase gerak dan
senyawa yang terkandung dalam campuran tersebut.

2.6. Kromatografi Lapis Tipis

Merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murni dan mengetahui
kuantitasnya. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa yang bersifat
hidrofobik seperti lipida –lipida dan hidrokarbon dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT
dapat juga berguna pereaksi eluen untuk kromatografi kolom ,analisi fraksi yang diperoleh dari

7
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi dan isolasi senyawa murni skala
kecil. Pelarut yang dipilih untuk pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutanya senyawa yang
dianalisis, Bahan lapisan tipis seperti silica gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan
pereaksi – pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat.

Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi senyawa. Nilai Rf
untuk senyawa – senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa sekunder .Nilai
Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik awal dibagi dengan
jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal dengan rumus sebagai berikut:

Rf Jarak noda

Jarak eluen

RF selalu lebih kecil dari 1,0

Pelaksanaan KLT

a. Fase Diam
Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penyerap berukuran kecil dengan
diameter partikel antara 10- 30,semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan
semakin sempit kisaran ukuran fase diam maka semakin baik kinerja KLT dalam hal
efisiensi dan resolusinya. Penyerap yang paling sering digunakan adalah silica dan serbuk
selulosa, sementara mekanisme sorbsi yang utama pada KLT adalah adsorbsi dan partisi.
b. Fase Gerak
Fase gerak yang lebih sering digunakan adalah sistem yang paling sederhana yaitu
campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran dua pelarut dapat mudah diatur
sedemikian rupa sehingga penyerapan dapat terjadi secara optimal.

Beberapa cara dalam fase gerak

i. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang tinggi karena KLT merupakan teknik
yang sensitif.
ii. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletk antara
0,2- 0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
iii. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silica gel, polaritas
fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang berarti juga menentukn

8
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

nilai RF, penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti Dietil kedalam
pelarut non polar seperti metil akan meningkatkan harga Rf secara signifikan.
iv. Solut-solut ionik dan solute–solute polar lebih baik digunakan campuran pelarut
sebagai fase gerak seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu.

c. Aplikasi ( Penotolan ) Sampel


Untuk memperoleh reproduksibilitas, volume sampel yang ditotolkan paling sedikit 0,5
jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2-10 maka totolan harus dilakukan
secara bertahap,dengan dilakukan pengeringan antar totolan.
d. Pengembangan

Setelah dilakukan penotolan maka tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan sampel
dalam dalam bejana kromatografi. Chamber kromatografi harus tertutup rapat dan harus
mampu mengluen lempeng sampai sampai ketinggian lempeng yang telah ditentukan,
untuk melakukan penjenuhan fase gerak biasanya dilapisi kertas saring, jika fase gerak
telah tercapai maka dapat dikatakan maka fase gerak telah jenuh.

e. Deteksi bercak
Deteksi gerak dapat dilakukan secara fisik dan kimia. Cara fisik yang digunkan untuk
menampakkan bercak adalah dengan cara pencacahan radioaktif dan flourensi sinar
ultraviolet. Flourensi sinar ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat berflourensi
maka bercak akan terlihat jelas.
Cara Kimia untuk meneteksi bercak:
Menyemprot KLT dengan reagen kromagenik yang akan bereaksi secara kimia dengan
solute yang mengandung gugus fungsi tertentu sehingga bercak menjadi berwarna.
Mengamati lempeng dibawah lampu ultraviolet yang dipasang panjang gelombang 254
atau 366 untuk menampakan bercak yang gelap .
f. Perhitungan Nilai Rf

Rf = Jarak yang ditempuh oleh komponen

Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Nilai Rf dinyatakan hingga angka 1,0 beberapa pustaka menyatakan nilai yang baik yang
menujukkan pemisahan yng cukup baik berkisar antara 0,2- 0,8. KLT dapat digunakan

9
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

untuk analisa kualitatif maupun kuantitatif ,bahkan dapat juga digunakan untuk keperluan
preparatif analisa kualitatif. KLT juga dapat digunakan untuk menentukan kemurnian zat
dan mengetahui kadar yang terdapat pada zat karena setiap zat memiliki nilai tertentu

2.7. Kromatografi Kolom

Kromatografi kolom merupakan yang tertua dari cara kromatografi yang banyak itu, dan
seperti yang di praktekan secara tradisional, merupakan bentuk kromatografi cair. Fase diam, baik
bahan yang jerap (Kromatografi Cair Vakum) atau film zat cair pada penyangga, ditempatkan
didalam tabung kaca bentuk silinder, pada bagian bawah tertutup dengan katup atau keran, dan
fase gerak dibiarkan mengalir kebawah melaluinya. Kromatografi cair yang dilakukan di dalam
kolom besar merupakan metode kromatografi untuk pemisahan campuran dalam jumlah besar
(lebih dari 1 gram). Kadang-kadang cara ini disebut kromatografi cair preparatif.

Kolom kromatografi atau tabung untuk pengaliran karena daya tarik bumi (gravitasi) atau
sistem bertekanan rendah biasanya terbuat dari kaca yang dilengkapi keran jenis tertentu di bagian
bawahnya untuk mengatur aliran pelarut. Setiap rancangan kolom, terdapat penopang atau sejenis
piringan pelat di dalam tabung, diatas keran yang berguna untuk menahan penjerap. Penopang
tersebut dapat berupa segumpal kecil wool atau kapas yang ditutupi pasir bersih 50-100 mesh
setebal 30-60 nm, maupun dapat berupa piringan kaca masir.

Campuran kasar kadang-kadang mengandung ter atau produk berupa polimer yang tidak
bergerak sama sekali didalam sistem kromatografi yang dapat menggerakkan produk utama. Untuk
menghilangkan senyawa yang tidak bergerak, kolom tebal yang agak pendek (10 x ,5 cm) dengan
perbandingan antara penjerap dengan zat terlarut yang rendah (10:1). Untuk pemisahan normal,
perbandingan bobot 30:1 ternyata memadai jika pemisahan tidak terlalu sukar. Jika pemisahan
lebih sukar, harus digunakan perbandinga penjerap dengan zat terlarut lebih tinggi, mungkin
sekitar 100:1 atau bahkan 300:1, dan lebih sering digunakan kolom kecil panjang.

Sifat, derajat, atau tingkat keaktifan penjerap, dan ukuran partikelnya betul-betul penting
dalam pengembangan sistem kromatografi. Mengemas kolom harus dilakukan dengan hati-hati,
agar dihasilkan kolom kemas yang serba sama. Jika kolom tidak mempunyai penyaring kaca masir,
maka kita harus menyumbat kolom dengan segumpal kaca wool atau kapas. Sumbat ini harus
terendam dengan pelarut pengelusi setinggi 10 cm. Selanjutnya kemasan kolom dijadikan bubur
dalam gelas piala memakai pelarut yang sama, lalu dituangkan hati-hati ke dalam kolom dan tidak

10
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

terputus-putus, untuk mencegah terbentuk lapisan. Setelah itu kemasan dibiarkan turun dan
kelebihan pelarut dikeluarkan melalui keran. Laju gerakan zat dipengaruhi oleh sejumlah variabel,
diantaranya daya absorpsi zat penjerap, ukuran partikel dan luas permukaan, sifat dan polaritas
pelarut, tekanan yang digunakan dan suhu sistem kromatografi .

2.8. Antioksidan

Antioksidan dalam pengertian kimia adalah senyawa pemberi elektron (electron donors)
dan secara biologis antioksidan merupakan senyawa yang mampu mengatasi dampak negatif
oksidan dalam tubuh seperti kerusakan elemen vital sel tubuh. Keseimbangan antara oksidan dan
antioksidan sangat penting karena berkaitan dengan kerja fungsi sistem imunitas tubuh, terutama
untuk menjaga integritas dan berfungsinya membran lipid, protein sel, dan asam nukleat, serta
mengontrol tranduksi signal dan ekspresi gen dalam sel imun. Produksi antioksidan di dalam tubuh
manusia terjadi secara alami untuk mengimbangi produksi radikal bebas. Antioksidan tersebut
kemudian berfungsi sebagai sistem pertahanan terhadap radikal bebas, namun peningkatan
produksi radikal bebas yang terbentuk akibat faktor stress, radiasi UV, polusi udara dan lingkungan
mengakibatkan sistem pertahanan tersebut kurang memadai, sehingga diperlukan tambahan
antioksidan dari luar. Antioksidan di luar tubuh dapat diperoleh dalam bentuk sintesis dan alami.
Antioksidan sintetis seperti buthylatedhydroxytoluene (BHT), buthylated hidroksianisol (BHA)
dan ters-butylhydroquinone (TBHQ) secara efektif dapat menghambat oksidasi. Namun,
penggunaan antioksidan sintetik dibatasi oleh aturan pemerintah karena, jika penggunaannya
melebihi batas justru dapat menyebabkan racun dalam tubuh dan bersifat karsiogenik, sehingga
dibutuhkan antioksidan alami yang aman. Salah satu sumber potensial antioksidan alami adalah
tanaman karena mengandung senyawa flavonoid, klorofil dan tanin. Antioksidan berfungsi sebagai
senyawa yang dapat menghambat reaksi radikal bebas penyebab penyakit karsinogenis,
kardiovaskuler dan penuaan dalam tubuh manusia. Antioksidan diperlukan karena tubuh manusia
tidak memiliki sistem pertahanan antioksidan yang cukup, sehingga apabila terjadi paparan radikal
berlebihan, maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen (berasal dari luar). Fungsi utama
antioksidan adalah memperkecil terjadinya proses oksidasi dari lemak dan minyak, memperkecil
terjadinya proses kerusakan dalam makanan, memperpanjang masa pemakaian dalam industri
makanan, meningkatkan stabilitas lemak yang terkandung dalam makanan serta mencegah
hilangnya kualitas sensori dan nutrisi. Antioksidan berdasarkan mekanisme reaksinya dibagi
menjadi tiga macam, yaitu antioksidan primer, antioksidan sekunder dan antioksidan tersier:

11
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

a. Antioksidan Primer:
Antioksidan primer merupakan zat atau senyawa yang dapat menghentikan reaksi
berantai pembentukan radikal bebas yang melepaskan hidrogen. Antioksidan primer dapat
berasal dari alam atau sintetis. Contoh antioksidan primer adalah Butylated hidroxytoluene
(BHT). Reaksi antioksidan primer terjadi pemutusan rantai radikal bebas yang sangat reaktif,
kemudian diubah menjadi senyawa stabil atau tidak reaktif. Antioksidan ini dapat berperan
sebagai donor hidrogen atau CB-D (Chain breaking donor) dan dapat berperan sebagai
akseptor elektron atau CB-A (Chain breaking acceptor).
b. Antioksidan Sekunder:
Antioksiden sekunder disebut juga antioksidan eksogeneus atau non enzimatis.
Antioksidan ini menghambat pembentukan senyawa oksigen reatif dengan carapengelatan
metal, atau dirusak pembentukannya. Prinsip kerja sistem antioksidan non enzimatis yaitu
dengan cara memotong reaksi oksidasi berantai dari radikal bebas atau dengan menangkap
radikal tersebut, sehingga radikal bebas tidak akan bereaksi dengan komponen seluler.9
Antioksidan sekunder di antaranya adalah vitamin E, vitamin C, beta karoten, flavonoid, asam
lipoat, asam urat, bilirubin, melatonin dan sebagainya.
c. Antioksidan Tersier
Kelompok antioksidan tersier meliputi sistem enzim DNA-Repair dan metionin
sulfoksida reduktase. Enzim-enzim ini berperan dalam perbaikan biomolekuler yang rusak
akibat reaktivitas radikal bebas. Kerusakan DNA yang terinduksi senyawa radikal bebas
dicirikan oleh rusaknya Single dan Double strand baik gugus non-basa maupun basa.

2.9. Uji Aktivitas Antioksidan Metode DPPH

Metode penentuan aktivitas antioksiadan ada bermacam cara, salah satunya adalah metode
DPPH 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (α,α-difenil βpikrilhidrazil). DPPH merupakan radikal bebas
yang stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari electron bebas pada seluruh
molekul.30 Delokalisasi elektron bebas ini juga mengakibatkan terbentuknya warna ungu pada
larutan DPPH, sehingga bisa diukur absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 520 nm.
Ketika larutan DPPH dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, maka
warna ungu dari larutan akan hilang seiring dengan tereduksinya DPPH. Uji aktivitas antioksidan
dengan menggunakan metode ini dapat diamati berdasarkan dari hilangnya warna ungu akibat

12
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

tereduksinya DPPH oleh antioksidan. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui
spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Hasil persen (%) inhibisi
tersebut disubstitusikan dalam persamaan linear. Hasil dari substitusi persen (%) inhibisi tersebut
kemudian diinterpretasikan sebagai IC50. Persen inhibisi adalah perbandingan antara selisih dari
absorbansi blanko dan absorbansi sampel dengan absorbansi blanko. Persen inhibisi digunakan
untuk menentukan persentase hambatan dari suatu bahan yang dilakukan terhadap senyawa radikal
bebas. IC50 didefinisikan sebagai jumlah antioksidan yang diperlukan untuk menurunkan
konsentrasi awal DPPH sebesar 50%. Parameter ini diperkenalkan oleh Brand- Williams dan
rekan-rekannya pada tahun 1995.Pada metode ini memiliki keuntungan, yaitu lebih sederhana dan
waktu analisis yang lebih cepat. Reaksi antara DPPH dengan antioksidan.

Tabel 1. Tingkat kekuatan antioksidan dengan metode DPPH (27)

Intensitas Nilai IC50

Sangat kuat < 50 µg/mL

Kuat 50-100 µg/mL

Sedang 101-150 µg/mL

Lemah > 150 µg/mL

13
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Reaksi peredaman DPPH oleh antioksidan

DPPH DPPH-H

(Ungu) (Kuning)

λmax = 516-520 nm λmax = 330 nm

2.10. Spektrofotometri UV – Visible

Spektrofotometri ultraviolet merupakan metode analisa suatu senyawa yang menggunakan


instrumen spektrofotometer, dimana prinsip kerja alat tersebut berdasarkan pengukuran terhadap
transmitan atau absorban suatu sampel atau berdasarkan kemampuan atom/molekul
mengabsorpsi dan memancarkan cahaya.

Sinar tampak (Visible) adalah sinar polikromatis yang dengan bantuan monokromator
misalnya prisma dapat diuraikan menjadi beberapa sinar monokromatis dengan berbagai panjang
gelombang. Analisa spektrofotometri UV-Visible biasanya dilakukan pada panjang gelombang
absorpsi maksimum (λ maks) yang didefinisikan sebagai jarak antara dua puncak dari suatu
gelombang. Dimana sinar ultraviolet berada pada panjang gelombang 200 – 400 nm sedangkan
sinar tampak pada panjang gelombang 400 – 800 nm.

Spektrum serapan kandungan tumbuhan dapat diukur dalam larutan yang sangat encer
dengan pembanding blanko pelarut serta menggunakan spektrofotometer yang merekam
otomatis. Senyawa tanpa warna diukur pada jangka 200 sampai 400 nm, senyawa berwarna pada
jangka 200 sampai 700 nm. Panjang gelombang serapan maksimum dan minimum pada spektrum
serapan yang diperoleh direkam dalam nm (nano meter), demikian juga kekuatan absorbansinya
pada maksima dan minima yang khas. Bahan yang diperlukan hanya sedikit saja karena sel
spektrofotometri baku (1x1 cm) hanya dapat diisi 3 ml larutan Penyerapan sinar UV-visible oleh
suatu molekul akan menyebabkan transisi diantara tingkat energi elektronik dari molekul.
Transisi ini dapat terjadi antar orbital ikatan (bonding) atau ikatan anti-bonding. Panjang
gelombang yang diserap sebanding dengan perbedaan tingkat energi orbital. Kegunaan utama
spektroskopi ini adalah untuk mengidentifikasi jumlah ikatan rangkap/konjugasi aromatik.

14
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Pelarut yang banyak digunakan untuk spektroskopi UV – Visible adalah etanol 95% atau
etanol absolut karena kebanyakan golongan senyawa larut dalam pelarut tersebut. Alkohol niaga
harus dihindari karena mengandung benzena yang menyerap di daerah UV pendek. Pelarut lain
yang sering digunakan ialah air, metanol, heksana, eter minyak bumi, dan eter. Pelarut seperti
kloroform dan piridina umumnya harus dihindari karenya menyerap kuat di daerah 200-260 nm
; tetapi sangat cocok untuk mengukur pigmen tumbuhan, seperti karotenoid, di daerah spektrum
tampak.

2.11. ROTARY EVAPORATOR

Rotary evaporator adalah alat yang digunakan untuk melakukan ekstraksi, penguapan
pelarut yang efisien dan lembut. Komponen utamanya adalah pipa vakum, pengontrol, labu
evaporasi, kondensator dan labu penampung hasil kodensasi (Rahayu, 2009). Prinsip rotary
evaporator adalah proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang
dipercepat oleh putaran dari labu, cairan penyari dapat menguap 5-10º C di bawah titik didih
pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum,
uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi
molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu penampung. Prinsip ini
membuat pelarut dapat dipisahkan dari zat terlarut di dalamnya tanpa pemanasan yang tinggi
(Rachman, 2009).
Ekstraksi menggunakan rotary evaporator dapat digunakan pada bahan makanan seperti
pandan. Pandan merupakan tumbuhan monokotil yang memiliki beraroma wangi. Pandan
mempunyai akar tunjang besar, daunnya roset rapat. Daunnya dapat berkhasiat sebagai penambah
nafsu makan karena kandungan alkaloida, saponin, dan flavonoida. Selain itu dapat digunakan
untuk pewarna makanan karena memiliki klorofil yang berwarna hijau dan juga mengandung
minyak atsiri. Klorofil merupakan pigmen fotosintesis pada tumbuhan yang dapat menyerap
cahaya merah, biru, ungu dan merefleksikan cahaya hijau. Klorofil banyak terdapat pada daun dan
merupakan ciri tumbuhan autotrof (Anonim, 2009).
Penguapan dapat terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu
alas bulat dibantu dengan penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan

15
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

penyaring akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan
pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung (Ahyari, 2009).
Sampel atau ekstrak cair yang akan diuapkan dimasukkan ke dalam labu alas bulat dengan
volume 2/3 bagian dari volume labu alas bulat yang digunakan, kemudian waterbath dipanaskan
sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah suhu tercapai, labu alas bulat yang telah berisi
sampel atau ekstrak cair dipasang dengan kuat pada ujung rotor yang menghubungkan kondensor.
Aliran air pendingin dan pompa vakum dijalankan, kemudian tombol rotor diputar dengan
kecepatan tertentu (5-8putaran) (Ahyari, 2009).
Proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai dengan
terbentuknya gelembung-gelembung udara yang pecah-pecah pada permukaan ekstrak atau jika
sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat penampung. Setelah proses
penguapan selesai, Rotary Evaporator dihentikan dengan cara terlebih dahulu dilakukan pemutaran
tombol rotor kearah nol (menghentikan putaran rotor) dan temperatur pada waterbath di-nol-kan.
Pompa vakum dihentikan, kemudian labu alas bulat dikeluarkan setelah sebelumnya kran pengatur
tekanan pada ujung kondensor dibuka (Ahyari, 2009).

16
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Tempat dan Waktu Penilitian

Penelitian terhadap simplisia daun Kumis Kucing(Orthosiphon stamineus Benth),


bertempat di Laboratorium Fitokimia Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor yang
beralamat di Jl. Parung Aleng, Cikeas, Sukaraja, Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini berlangsung
selama 6 minggu.

3.2.Bahan

Adapun bahan-bahan yang diperlukan selama penelitian ini berlangsung diantaranya :

a. Daun Kumis Kucing.


b. Aquadest
c. Etil Asetat
d. Hexane
e. HCl
f. Pereaksi Mayer
g. H2SO4
h. CHCl3
i. Pereaksi Dragendorf
j. Silica gel

3.3.Alat
Adapun alat-alat yang diperlukan selama penelitian ini berlangsung diantaranya :
a. Neraca Analitik
b. Tabung Reaksi
c. Tabung Ulir

17
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

d. Chamber
e. Plat KLT
f. Lampu UV
g. Beker Glass
h. Gelas Ukur
i. Erlen Meyer
j. Pipet Tetes
k. Pipet Volume
l. Vial
m. Set Bunsen
n. Corong Pisah
o. Statif
p. Kolom
q. Kapas

3.4.Instrumen

Adapun instrumen yang digunakan yaitu :

a. Rotary Evaporator
b. Spektrofotometer Uv-Vis

3.5.Mekanisme Kerja
3.5.1. Pembuatan Simplisia
a. Pengumpulan bahan baku.
Pada proses pengumpulan/panen, factor byang perlu di perhatikan agar bahan baku yang
diambil memenuhi standar sesuai yang di syaratkan untuk memperoleh simplisia yang baik.
Bagian yang diambil adalah daun, daun telah membuka sempurna dan yang dipilih yang
mendapat sinar matahari penuh, atau daun yang sudah tua.

18
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

b. Sortasi basah.
Sortasi basah dilakukan untuk pemisahan bahan-bahan dari pencemar. Pada pembuatan
simplisia kali ini terdapat kotoran tanah.
c. Pencucian.
Tujuannya, menghilangkan sisa tanah atau pencemar yang melekat dan mengurangi jumlah
mikroba. Pencucian ini menggunakan air bersih dan mengalir.
d. Perajangan
Tujuannya, untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakkan, dan penggilingan.
Tanaman yang baru di ambil jangan langsung di Rajang tetapi di jemur dalam keadaan utuh
selama 1 hari. Perajangan ini menggunakan pisau.
e. Pengeringan.
Tujuannya, hasil panen segera dikeringkan, untuk mengurangi kadar air agar tidak busuk
dan todak terjadi reaksi enzimatik. Pengeringan simplisia dilakukan dengan diangin-
anginkan dan tidak dengan sinar matahari langsung. Cara ini digunakan untuk
mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti daun dan mengandung senyawa aktif
mudah menguap.
f. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti tanaman yang tidak
diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan teringgal pada simplisia
kering.
g. Penghalusan.
Penghalusan simplisia ini dengan cara menggunakan alat penghalus yaitu blender
h. Pengepakkan dan penyimpanan.
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena factor luar dan dalam, antara
lain cahaya,oksigen,reaksi kimia intern,dehidrasi,penyerapan air,pengotoran,serangga dan
kapang. Penyimpanan simplisia ini dengan cara memasukan bahan kew dalam botol coklat
dan ditutup dengan rapat.

19
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

3.5.2. KLT (KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS) PENDAHULUAN


a. Potong plat sesuai ukuran. Biasanya, untuk 1 spot menggunakan plat selebar 1cm.
b. Buat garis dasar (base line) dibagian bawah, sekitar 0,5 cm dari ujung bawah plat, dan
garis akhir di bagian atas.
c. Menggunakan pipa kapiler, totolkan sampel cairan yang telah disiapkan sejajar, tepat di
atas base line. Jika sampel padat, larutkan pada pelarut tertentu.keringkan totolan.
d. Dengan pipet yang berbeda, , masukan masing-masing eluen ke dalam chamber dan
campurkan.
e. Sampel 1 : 5gram simplisia + air
Sampel 2 : 5gram simplisia + Hexan
Sampel 3 : 5gram simplisia + Etil ASetat
f. Tempatkan plat pada chamber berisi eluen. Dan jenuhkan :Etil Asetat : Hexan ( 5:1) ; Etil
Asetat : Hexan (1:5)
g. Tutuplah chamber. Tunggu eluen mengelusi sampel sampai mencapai garis akhir, di sana
pemisahan akan terlihat.
h. Setelah mencapai garis akhir, angkat plat dengan pinset, keringkan dan ukur jarak spot.
Jika spot tidak kelihatan, amati pada lampu UV. Jika masih tak terlihat, semprot dengan
warna tertentu seperti kalium kromat, asam sulfat pekat dalam alcohol 96%,.
i. Tiap bercak dari titik penotolan di ukur dan di catat untuk tiap bercak yang di amati
kemudian harga Rf di tentukan.

3.5.3. MASERASI
a. Rendam simplisia Daun Kumis Kucing dengan Etil Asetat selama 1x24 jam.
b. Saring hasil rendaman, ambil filtratnya.
c. Lakukan hal poin 1 dan 2 selama 3kali .
d. Kemudian simpan filtrat ke dalam botol coklat tutup dengan rapat.

20
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

3.5.4. EVAPORASI
a. Masukan ekstrak dalam labu evaporasi
b. Hidupkan instrument agar air dalam wadah menjadi panas.
c. Setelah air panas, labu evaporator diturunkan sampai sebagian dari labu tercelup wadah
(heating bath).
d. Klik tombol rotary agar labu mulai berputar.
e. Sementara itu, penghisap dihidupkan untuk menghisap uap hasil pemanasan. Gas panas
dari uap etanol akan mengalir ke kondensor dan mengenai pipa yang berisi air dingin,
sehingga uap mengalami pengembunan dan masuk ke dalam labu penampung.

3.5.5. UJI FITOKIMIA


a. Identifikasi flavonoid
1ml laruttan diuapkan, sisa dilarutkan dalam 1-2ml etanol (95%) ditambahkan 500mg
serbuk Zn, asam klorida 2 N, diamkan 1 menit, tambahkan 10 tetes asam klorida pekat, jika
dalam 2-5 menit terbentuk warna merah dan mengandung flavonoid.
b. Identifikasi uji saponin
Timbang 1 gram serbuk simplisia lalu dimasukan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10
ml airpanas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik dan berbentuk buih
putih yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm, pada penambahan 1
tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang, menunjukan bahwa edalam simplisia daun kumis
kucing tersebut mengandung saponin.
c. Uji Alkaloid
Ekstrak daun kumis kucing di larutkan dengan HCL 2% kemudian larutan dengan dibagi
3 bagian. Pada tabung 1 ditambah 0,5ml larutan asam encer, tabung 2 di tambah 2-3 tetes
pereaksi Dragendorf, dant abung 3 di tambah 2-3 pereaksi meyer. Adanya alkaloid di tandai
dengan timbulnya endapan kuning (Mayer) dan orange (dragendorf).
d. Identifikasi steroid/triterpenoid.
Masing-masing ekstrak dimasukan dalam tabung reaksi dilarutkan dalam 0,5 ml asam
asetat anhidrat, kemudian dilarutkan dalam CHCl3 0,5 ml lalu tambahkan 1-2 ml H2SO4 .
dan terbentuknya cincin merah kecoklatan atau ungu menunjukan adanya triterpenoid dan
steroid.

21
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

3.5.6. FRAKSINASI
a. Ambil ¾ ekstrak hasil evaporasi masukan dalam corong pisah lalu tambahkan hexane
sebanyak 50 ml dan aquadest 100ml, letakan pada statif, setelah terbentuk 3 fase, ambil
fase hexan masukan dalam botol coklat. Lakukan triplo.
b. Masukan kembali extrak dalam corong pisah tambahkan Etil Asetat sebanyak 50ml, setelah
terbentuk 2 fase, pisahkan antara fraksi Air dan fraksi Etil Asetat.
c. ¼ dari ekstrak masukan ke dalam vial.

3.5.7. UJI ANTIOKSIDAN


a. Menyiapkan larutan blanko
i. Vitamin C /Asam askorbat 50 mg dilarutkan dengan Alkohol 96 % 140 ml
ii. Aduk hingga bercampur rata,
b. Menyiapkan larutan Baku
i. Pipet larutan baku
ii. Masukkan kedalam labu ukur 100 ml 7 buah
iii. Larutkan dengan Etil Asetat add 100 ml
c. Menyiapkan sampel
i. Pipet larutan baku 2ml masukkan kedalam tabung reaksi 7 buah
ii. Tambahkan Sampel.
d. Menyiapkan DPPH.
i. Encerkan DPPH dengan etil asetat sebanyak 70 ml
ii. Masukkan kedalam botol coklat tutup rapat
e. Uji DPPH
i. Nyalakan spektrofotometer
ii. Cari panjang gelombang
iii. Masukkan larutan blanko
iv. Masukkan larutan baku
v. Masukkan sampel yang sudah ditetesi larutan DPPH
vi. Ukur abs.
vii. Buat kurva standart

22
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

3.5.8. KROMATOGRAFI KOLOM


a. Persiapan kolom
i. Sebelum dilakukan elusi, kolom dibasahi dulu dengan sejumlah fase gerak yang
akan digunakan.
ii. Timbang silica gel 5 gram + 20 ml Heksan
iii. Masukan kedalam kolom yang sudah diberi kapas, dan melarutkan sebagian silica
dengan heksan hingga terbentuk bubur.
iv. Ketuk dinding kolom agar silica tertara rapih padat dan tidak ada udara yang masuk.
b. Pemisahan pigmen dalam sampel daun kumis kucing
i. Masukan ekstrak sampel ke dalam kolom.
ii. Tambahkan eluen dengan perbandingan 1:1
iii. Ekstrak yang keluar dari kolom ditampung dalam vial.
iv. Lakukan KLT, dan cek pemisahan warna yang terbentuk dengan lampu UV.
v. Tambahkan kembali eluen dengan perbandingan yang lebih tinggi bila warna yang
didapatkan masih menggumpal.

23
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. PEMBUATAN SIMPLISIA

Berat Simplisia Berat Simplisia


Basah Kering

700 gram 180 gram

Pada praktikum ini, dilakukan ekstraksi dari bahan-bahan alam yang mengandung
zat berkhasiat yang berada di lingkungan sekitar.Bahan alam yang digunakan pada
percobaan ini adalah daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus).
Percobaan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui dan memahami cara
mengekstraksi dan mengidentifikasi komponen kimia yang terkandung dalam bahan alam
atau simplisia. Pada praktikum ini, ekstraksi komponen kimia dilakukan dengan metode
maserasi kemudian diisolasi dengan cara ekstraksi cair-cair setelah itu di KLT.
Adapun pemilihan metode untuk ekstraksi simplisia, disesuaikan dengan tekstur
dari bahan alam yang akan diekstraksi. Daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus)
memiliki tekstur daun lunak sehingga diekstraksi dengan metode maserasi.
Pengolahan simplisia dilakukan sebelum dilakukan ekstraksi, seluruh sampel
disortasi basah terlebih dahulu.Daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dipotong
kecil-kecil untuk memudahkan keluarnya zat aktif yang berada dalam sel, kemudian
dikeringkan di bawah sinar matahari pada pagi hari pukul 07.00-10.00 dan pengeringan
selanjutnya pada pukul 15.00-17.00 selanjutnya hanya di angina-anginkan pada malam
hari. Pengeringan pada waktu tertentu ini dilakukan agar zat aktif dalam simplisia berupa
minyak-minyak yang mudah menguap tidak hilang/menguap oleh pemanasan sinar
matahari.

24
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

4.2. UJI PENDAHULUAN

Uji Organoleptis
o Warna : Hijau Pekat
o Bau : Khas Aromatic
o Rasa : Pahit
o Texture : Serbuk kasar

Susut pengeringan
Timbang sampel(simplisia) 2 gram
Bobot botol timbang kosong(a) 35,83 gram
Bobot botol timbang kosong+simplisia(b) 37,86 gram
Bobot botol timbang+simplisia setelah pemanasan(c) 37,76 gram
Susut kering = c-a x 100% = 37,76 – 35,83 x 100% = 1,93 x 100% = 95,07%
b-a 37,86 – 35,83 2,03
maka susut pengeringan nya adalah 100% - 95,07% = 5%

25
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

4.3. KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

Jumlah Noda
Hasil Pengamatan Eluen Eluen
Lampu UV
terpilih

Hexan : Etil Asetat


2 spot Etil Asetat
5:1

Perhitungan RF
RF = Jarak yang ditempuh oleh komponen = 1,5 = 0,6 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 2,5

Dalam praktikum KLT ini kami menggunakan tiga perbandingan eluen antara hexan
dengan etoac yaitu 1:1 , 1:5 , 5:1 . Mula-mula 1 gram sampel dalam tabung reaksi ditambahkan
masing-masing 10ml air, 10ml hexan, dan 10ml etoac. Kemudian diteteskan ke dalam lempeng
KLT yang di sediakan, dimasukan ke dalam chamber. Kemudian lempeng dibiarkan hingga
terelusi sampai batas atas.Adanya perbedaan kepolaran setiap komponen kimia menyebabkan
terjadinya pemisahan. Komponen kimia ini akan tampak sebagai noda pada lempeng KLT jika
dilihat dengan lampu UV. Dalam pengamatan, spot paling banyak dan paling terang terjadi pada
perbandingan eluen 5:1 pada eluen etoac. Oleh karena itu kami simpulkan eluen yang akan kami
gunakan pada praktikum ini adalah etil asetat.

26
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

4.4. MASERASI

Simplisia yang telah kering kemudian di maserasi selama 3x24jam. Kami gunakan 150
gram sampel dengan 1,5 L etoac.Di masukkan ke dalam botol ditambahkan 750 ml etil asetat,di
diamkan selama 24jam kemudian disaring dan ampasnya direndam kembali dengan 375ml etoac
disaring kembali setelah 24 jam. Begitupun dengan hari ketiga.

4.5. ROTARY EVAPORATOR

Rotary Evaporator atau Rotary Vacuum Evaporator merupakan alat yang menggunakan
prinsip vakum distilasi. Prinsip utama alat ini terletak pada penurunan tekanan sehingga pelarut
dapat menguap pada suhu di bawah titik didihnya dan terpisah dari sumbernya dengan pemanasan
secara vakum. Rotary Evaporator mampu menguapkan pelarut dibawah titik didih sehingga zat
yang terkandung di dalam pelarut tidak rusak oleh suhu yang tinggi.

27
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Banyak cairan organik yang tidak dapat didistilasi pada tekanan atmosfer karena
temperatur yang diperlukan untuk berlangsungnya distilasi dapat menyebabkan senyawa
terdekomposisi (biasanya terjadi pada senyawa bertitik didih lebih dari 200oC).Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pengoperasian Rotary Evaporator ini adalah:

i. Selang air serta tekanan in dan out agar jangan sampai tertukar.
ii. Kemampuan alat pompa vakum.

Perhatikan petunjuk masing-masing alat, jika tertera “matikan vakum setiap 30 menit untuk
menghindari panas berlebih atau “tekanan maksimal 30 Psi (perhatikan jarum pengatur tekanan,
jangan sampai melebihi ketentuan karena dapat mengakibatkan ledakan), pengurangan tekanan
dengan cara membuka kran pengatur tekanan pada ujung kondensor atau pada alat pompa vakum.

i. Urutan pemasangan dan pengoperasian juga pelepasan serta pengnonaktifkan.


Terutama saat ingin melepas labu alas bulat. Jika alas bulat sulit dilepas, kemungkinan
masih tersisa tekanan pada kondensor, bukalah kran pengatur dengan seksama.
ii. Suhu & Tekanan. Suhu pada waterbath harus sesuai dengan pelarut yang Anda
gunakan. Jika tidak senyawa yang ingin kita pisahkan tidak akan terpisah.

Larutan ekstrak dimasukkan dalam labu evaporasi kemudian rotary evaporator dihidupkan
agar air dalam wadah panas. Setelah air panas, labu evaporator diturunkan sampai sebagian dari
labu tercelup dalam wadah (heating bath). Kemudian labu diputar dengan menghidupkan tombol
pemutar (rotary). Sementara itu, penghisap dihidupkan untuk menghisap uap hasil pemanasan. Gas
panas dari uap etil asetat akan mengalir ke kondensor dan mengenai pipa yang berisi air dingin,
sehingga uap mengalami pengembunan dan masuk ke dalam labu penampung. Tujuan adanya
penguapan yaitu untuk mempercepat penguapan etil asetat sehingga yang tersisa pada filtrat hanya
klorofil.

28
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

4.6. SKRINING FITOKIMIA

Hasil Pengamatan Keterangan


Sampel+3tetes dragendrof

Terdapat endapan orange

+ Alkaloid

Sampel+1ml air

Terdapat sedikit busa

+ Saponin

ChCl3+2tetes Asetat
Anhidrat+2 tetes Asam sulfat

Terdapat cincin ungu

+ Steroid/Terpenoid

5ml etanol+0,2 gram


MG+3tetes HCl

Tidak terdapat warna merah


jingga

-Flavonoid

29
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Kandungan Kimia Tumbuhan kumis kucing

Tumbuhan kumis kucing menghasilkan senyawa-senyawa terpenoid dan senyawa fenol


seperti diterpenoid jenis isopimaran, flavonoid, benzokromen, dan turunan asam organik. Ciri khas
senyawa diterpenoid yang diisolasi dari kumis kucing adalah mempunyai kerangka karbon jenis
isopimaran yang terdiri dari tiga cincin dan mengandung banyak gugus fungsi oksigen (utamanya
pada C-1, 2, 3, dan 7). Cincin C mengandung gugus hidroksi tersier pada C-8 dan gugus karbonil
pada C-14 dan dapat pula mengandung gugus fungsi oksigen pada C-11, 12, dan 20. Gugus-gugus
fungsi hidroksi ini seringkali teresterifikasi dengan asam asetat dan benzoat . Senyawa diterpen
jenis isopiraman yang banyak mengandung gugus fungsi oksigen (highly oxygenated diterpenes)
telah ditemukan dari kumis kucing di antaranya yaitu

Gambar 1. Kerangka karbon ortosifol (Farmasi, 2011)

Gambar 2. Kerangka karbon sitofonol A, B, C, dan D(Farmasi, 2011)

30
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Untuk membuktikan adanya senyawa golongan alkaloid menggunakan serbuk simplisia


daun kumis kucing, alkaloid termasuk senyawa yang bersifat basa lemah dapat diekstraksi dengan
pelarut semipolar dalam suasana basa atau dengan alkohol dalam suasana asamUntuk senyawa
golongan flavonoid dibuktikan pada tanaman kumis kucing (bagian daun).
Flavonoid merupakan senyawa yang bersifat asam. Filtrat dari daun kumis kucing tersebut
ditambahkan serbuk magnesium dan HCl pekat. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang mudah
larut dalam air karena umumnya mereka sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida, HCl
ditambahkan agar kemudian terbentuk aglikon flavonoid (memisahkan flavonoid dari senyawa
gula yang mengikatnya). Setelah amilalkohol ditambahkan dan dikocok kuat akan terbentuk 2
lapisan, lapisan amilalkohol berada diatas dan lapisan amilalkohol menjadi berwarna merah
menunjukan adanya senyawa flavonoid.Namun pada praktikum yang kami lakukan tidak terdapat
warna merah, dikarenakan magnesium yang kami gunakan kualitas nya kurang baik.
Pada uji saponin yang menggunakan filtrat kumis kucing setelah dilakukan pengocokan
kuat pada filtrat akan terbentuk busa, busa ini terjadi karena rantai gula yang terkandung dalam
filtrat pecah. Untuk membuktikan busa yang terbentuk merupakan hasil dari adanya rantai gula
yang pecah dapat ditambahkan HCl encer, jika saponin maka busa akan tetap stabil.

31
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

4.7. FRAKSINASI
Nama Fraksi Pemerian Fraksi Volume Fraksi
Cairan hijau pekat (fraksi 50 ml
Hexan) → triplo

Cairan keruh berwarna kuning 50 ml


susu kehijauan, endapan putih
susu.(pemisahan lapisan atas
berwarna kuning adalah fraksi
EtoAc, lapisan bawah putih
susu adalah fraksi air)→ triplo

Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan komponen-komponen berdasarkan perbedaan


kepolaran tergantung dari jenis senyawa yang terkandung dalam tumbuhan.
Dalam metode fraksinasi pengetahuan mengenai sifat senyawa yang terdapat dalam ekstrak akan
sangat mempengaruhi proses fraksinasi. Oleh karena itu, jika digunakan air sebagai pengekstraksi
maka senyawa yang terekstraksi akan bersifat polar, termasuk senyawa yang bermuatan listrik.
Jika digunakan pelarut non polar misalnya heksan, maka senyawa yang terekstraksi bersifat non
polar dalam ekstrak. Pada prakteknya dalam melakukan fraksinasi digunakan dua metode yaitu
dengan menggunakan corong pisah dan kromatografi kolom. Kami menggunakan metode corong
pisah.
Corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair
untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan
densitas yang berbeda yang tak tercampur.
Umunya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa organic lipofilik seperti eter,
MTBE, diklorometana, kloroforom, ataupun etilasetat. Kebanyakan pelarut organik berada di atas
fase air kecuali pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen. Pemisahan ini didasarkan pada
tiap bobot dari fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada pada bagian dasar sementara fraksi yang
lebih ringan akan berada di atas.

32
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

Tujuannya untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan yang
lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke pelarut polar dan senyawa non polar akan masuk
ke pelarut non polar.
Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola, mempunyai penyumbat di
atasnya dan di bawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca
borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi
antara 50 ml sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan
dipasang sentrifuge.
Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan kedalam corong
dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat
untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk
melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara
dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini
dipisahkan dengan mengontrol keran corong.

33
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

4.8. UJI ANTIOXIDANT (DPPH)

Ket.
Sample 1 : blanko
Sample 2 : Air
Sample 3 : Hexan
Sample 4 : Etil Asetat

Dari uji yang telah dilakukan maka diperoleh data hasil chart sebagai berikut :

Percobaan ini
UJI DPPH SAMPEL dilakukan untuk
4
mengetahui
3.5
seberapa besar
3
aktivitas antioksidan
2.5

2
yang terdapat pada
y = 1,0001x - 8E-05
1.5 sampel secara
R² = 1
1 spektrofotometri
0.5 dengan DPPH.
0 Metode yang
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
-0.5
digunakan dalam
pengujian aktivitas antioksidan adalah secara spektrofotometri dengan DPPH karena merupakan
metode yang sederhana, mudah, dan menggunakan sampel dalam jumlah yang sedikit dengan
waktu yang singkat (Hanani 2005). Menurut Prakash & Miller (2001), adanya aktivitas antioksidan
dari sampel mengakibatkan perubahan warna pada larutan DPPH yang semula berwarna ungu
menjadi kuning pucat. Perubahan internsitas warna disebabkan oleh berkurangnya ikatan rangkap
terkonjugasi pada DPPH, karena elektron pada radikal DPPH berpasangan dengan atom hidrogen
dari antioksidan sehingga menjadi DPPH-H yang merupakan radikal stabil. Kapasitas antioksidan
dinyatakan dalam Ascorbic acid Equivalent Antioxidant Capacity (AEAC).
Dalam pengukuran aktivitas antioksidan adalah vitamin C karena yang telah diketahui
bahwa vitamin C adalah salah satu antioksidan sekunder yang memiliki fungsi menangkap radikal

34
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

bebas, mencegah terjadinya reaksi berantai, dan mencegah proses penuaan sel-sel tubuh sehingga
membuat fungsi tubuh tetap terjaga dengan baik. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut dapat
dilihat bahwa semakin besar konsentrasi standar maka hasil pengukuran absorbansi semakin kecil.
Hal ini menandakan bahwa semakin kecil absorbansi, maka semakin banyak antioksidan di dalam
tubuh yang menyerap radikal bebas, dimana menunjukkan bahwa semakin besar bahan pangan
yang mengandung antioksidan, maka pangan tersebut membantu dalam peredaman terhadap
radikal bebas dalam tubuh.

4.9. KROMATOGRAFI KOLOM DAN KLT

Dari percobaan yang kami lakukan yaitu kromatografi kolom dan


kromatografi ini memberikan tujuan menjelaskan teori dan prinsip dasar
kromatografi kolom, melakukan pemisahan dengan berbagai teknik
kromatografi kolom, serta melaksanakan analisis kualitatif maupun
kuantitatif dari pemisahan menggunakan kromatografi kolom.
Kromatografi kolom termasuk dalam LC (liquid chromatography) karena
fase diamnya padatan, fase geraknya cairan, dan sampel berupa cairan. Fase
diam yang digunakan yaitu silika. Fase diam yaitu suatu zat/senyawa/lapisan
pada medium pendukung yang berinteraksi dengan analit. Jadi, fase diam itu
bisa bergerak karena dialirkan, bila tidak dialirkan maka tertahan. Fase diam
dapat berupa padatan maupun cairan. Sedangkan fase gerak yaitu pelarut ( solvent ) yang mengalir/
bergerak sepanjang media pendukung, biasanya berupa cairan maupun gas.
Pengisian silica kedalam kolom bisa dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode basah
maupun kering. Tetapi dlam praktikum ini kita menggunakan metode kering. Karena sebelumnya
kami gunakan metode basah setinggi 10cm sebanyak 9x pengulangan namun sampel tidak juga
mau turun. Oleh karena itu kami coba dengan metode kering setinggi 2cm saja. Metode kering
adalah dengan memasukkan silica dalam kolom dengan tinggi silica 2/3 dari panjang
kolom.Sedangkan cara basah adalah dengan melarutkan silika dengan pelarut tidak langsung pada
kolom, jadi silika itu dibuat larutan dulu kemudian dimasukkan ke dalam kolom. Keuntungan dari
cara basah yaitu silika dapat terlarut dan tercampur merata, sehingga bubur silica menjadi

35
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

homogen. Pembuatan fase diam dengan cara kering ini harus hati-hati, karena bisa saja kolomnya
pecah atau crack karena solventnya tidak dijaga. Namun kelompok kami tidak berhasil
menggunakan cara basah dan akhirnya berhasil dengan cara kering. Hal ini kemungkinan
terjadinya human error pada praktikum sebelumnya. Fungsi glass wol / kapas pada praktikum ini
adalah menyumbat kolom bagian bawah supaya silica tidak mengalir keluar kolom.

Fase gerak yang kami gunakan adalah Hexan : Etil Asetat dengan perbandingan 1:1 dan 1:9.
Setelah ditampung dalam vial, kami lakukan uji KLT dibawah sinar UV. Hasil yang kami dapatkan
yaitu terdapat setitik spot noda pada perbandingan 1:1 sedangkan pada perbandingan 1:9 tidak
terdapat spot noda.
Perhitungan RF :
RF = Jarak yang ditempuh oleh komponen = 3 = 1,2 cm
Jarak yang ditempuh pelarut 2,5

36
FITOKIMIA - DAUN KUMIS KUCING

BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa dalam
pelaksanaan KLT pendahuluan di dapatkan pelarut yang cocok untuk maserasi simplisia daun
kumis kucing yaitu Etilasetat dengan perbandingan eluen pada chamber yaitu 5:1
(hexan:etilasetat), dan diperoleh nilai RF sebesar 0,6 cm.

Pada pelaksanaan uji anti oksidan didapatkan hasil absorbansi yang terkecil yaitu pada
fraksi air, dengan nilai absorban ; abs:0,005 ; k*abs : 0,0045. Hal ini menunjukan bahwa semakin
kecil nilai absorban, maka semakin banyak antioksidan di dalam tubuh yang menyerap radikal
bebas, dimana menunjukkan bahwa semakin besar bahan pangan yang mengandung antioksidan,
maka pangan tersebut membantu dalam peredaman terhadap radikal bebas dalam tubuh.
Dengan hasil absorbansi yang terkecil yaitu fraksi air maka dilakukan Kromatografi Kolom
pada fraksi air. Nilai Rf akhir yang diperoleh setelah KLT kromatografi kolom yaitu 1,2cm dengan
perbandingan eluen 1:1 (hexan:etilasetat).

5.2. SARAN
Semoga dalam beberapa waktu kedepan pihak kampus dapat lebih meningkatkan
kebutuhan praktikum mahasiswa.

37