Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MINERALOGI

Disusun Oleh :

Mira Nurseha (10060315044)

Nur Haliimah (10060315051)

Isna Randhany (10060315056)

Wibawa Mulyati (10060315062)

Melisa Olivia (10060315066)

PRODI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018 M/1439 H
KATA PENGANTAR

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Puji syukur senantiasa selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan limpahan Rahmat,Taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan
kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kebaikan dan kebenaran
di dunia dan akhirat kepada umat manusia.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama
Islam dengan judul “ Mineralogi” sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan serta
informasi yang semoga bermanfaat.
Makalah ini kami susun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal
mungkin. Namun, kami menyadiri bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu
tidaklah sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan.Maka dari itu kami
sebagai penyusun makalah ini mohon kritik, saran dan pesan dari semua yang
membaca makalah ini terutama Dosen Mata Kuliah Fiqih yang kami harapkan
sebagai bahan koreksi untuk kami.

Bandung, 26 Desember 2018

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………...…………............……………………………… i

DAFTAR ISI …….....……………………………............……………………… ii

BAB I PENDAHULUAN …………..……………………......……………… 1

BAB II ISI ……………………..…………………………………………


1.1 Latar belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mineral
2.1.1 penegrtian mineral
2.1.2 penjelasan mineral dalam al-qur’an
2.1.3 logam-logam berharga dalam al-qur’an.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Alat kesehatan yang terbuat dari logam
3.2 hukum menggunkan emas untuk laki-laki

BAB IV PENUTUP ……….....…………………………………………… 15


4.1 Kesimpulan ……………………………………………....…… 15
4.2 saran
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Allah SWT memberikan dan menetapkan pedoman untuk kehidupan manusia
melalui firman-firman-Nya kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu berupa Al-Quran.
Selain itu, semua prilaku, perbuatan, dan perkataan Rasulullah Saw menjadi pedoman
kedua setelah Al-Quran bagi seluruh umat manusia. Allah SWT menciptakan bumi
dan isinya melainkan ada manfaatnya bagi umat manusia. Salah satunya yaitu ada
ilmu yang membahas tentang mineralogi.
Ilmu tentang mineral (barang – barang tambang) merupakan salah satu
lapangan terpenting dalam kajian sejarah alam semesta yang mendapatkan dorongan
yang kuat dari Al-Quran. Ilmu ini amat berkaitan dengan lmu kimia dan ilmu logam
di satu sisi dan ilmu kedokteran di sisi lain. Para ilmuan muslim memperoleh
inspirasi dan dorongan yang besar dari Al-Quran untuk melakukan penelitian di
bidang mineral. Misalnya, Al-Quran menunjukan skema dan bayangan warna yang
ditemukan tidak hanya pada tumbuh – tumbuhan, tetapi tampak jelas pula dalam
bebatuan dan barang – barang tambang.
Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah
mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral. Di
alam mineral dijumpai bermacam – macam bentuk yang bervariasi, terkadang hanya
terdiri dari sebuah Kristal atau gugusan Kristal – Kristal dalam rongga – rongga atau
celah batuan, tetapi umumnya mineral dijumpai sebagai kumpulan butiran Kristal
yang tumbuh bersama membentuk batuan.
Oleh karena itu makalah ini dibuat bertujuan untuk membahas sedikit tentang
ilmu mineralogi untuk menambah pengetahuan mengetahui tentang mineral, baik
dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari sifat-
sifat fisik dan kimia, cara terdapatnya, cara terjadinya dan kegunaannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mineralogi

Mineralogi adalah salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai
mineral, baik dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain
mempelajari tentang sifat-sifat fisik, sifat-sifat kimia, cara terdapatnya, cara
terjadinya dan kegunaannya. Minerologi terdiri dari kata mineral dan logos, dimana
mengenai arti mineral mempunyai pengertian berlainan dan bahkan dikacaukan
dikalangan awam. Sering diartikan sebagai bahan bukan organik (anorganik). Maka
pengertian yang jelas dari batasan mineral oleh beberapa ahli geologi perlu diketahui
walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun persesuaian umum untuk definisinya
(Danisworo, 1994)

2.1.1 Pengertian Mineral

Mineral juga didefinisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat


secara alamiah, yang terdiri dari unsur unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu,
dimana atom-atom di dalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistematis.
Mineral dapat kita jumpai di mana-mana di sekitar kita, dapat berwujud sebagai
batuan, tanah, atau pasir yang diendapkan pada dasar sungai. Beberapa daripada
mineral tersebut dapat mempunyai nilai ekonomis karena didapatkan dalam jumlah
yang besar, sehingga memungkinkan untuk ditambang seperti emas dan perak.
Mineral, kecuali beberapa jenis, memiliki sifat, bentuk tertentu dalam keadaan
padatnya, sebagai perwujudan dari susunan yang teratur di dalamnya. Apabila
kondisinya memungkinkan, mereka akan dibatasi oleh bidang-bidang rata, dan
diasumsikan sebagai bentuk-bentuk yang teratur yang dikenal sebagai kistal. Dengan
demikian, Kristal secara umum dapat didefinsikan sebagai bahan padat yang
homogeny yang memiliki pola internal susunan tiga dimensi yang teratur. Studi yang
khusus mempelajari sifat-sifat, bentuk susunan dan cara-cara terjadinya bahan padat
tersebut dinamakan kristalografi. (Djauhari, 2011).

Definisi mineral menurut beberapa ahli:

1. L.G. Berry dan B. Mason, 1959

Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara
anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai
atom-atom yang tersusun secara teratur.

2. D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972

Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen mempunyai
komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.

2. A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977

Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi kimia
tertentu atau dalam batas-batas dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk di alam dan
bukan hasil suatu kehidupan. Tetapi dari ketiga definisi tersebut mereka masih
memberikan anomali atau suatu pengecualian beberapa zat atau bahan yang disebut
mineral, walaupun tidak termasuk didalam suatu definisi. Sehingga sebenarnya dapat
dibuat suatu definisi baru atau definisi kompilasi. Dimana definisi kompilasi tidak
menghilangkan suatu ketentuan umum bahwa mineral itu mempunyai sifat sebagai:
bahan alam, mempunyai sifat fisis dan kimia tetap dan berupa unsur tunggal atau
senyawa.

Definisi mineral kompilasi: mineral adalah suatu bahan alam yang mempunyai
sifat-sifat fisis dan kimia tetap dapat berupa unsur tunggal atau persenyawaan kimia
yang tetap, pada umumnya anorganik, homogen, dapat berupa padat, cair dan gas .
Mineral adalah zat-zat hablur yang ada dalam kerak bumi serta bersifat homogen,
fisik maupun kimiawi. Mineral itu merupakan persenyewaan anorganik asli, serta
mempunyai susunan kimia yang tetap. Yang dimaksud dengan persenyawaan kimia
asli adalah bahwa mineral itu harus terbentuk dalam alam, karena banyak zat-zat yang
mempunyai sifat-sifat yang sama dengan mineral, dapat dibuat didalam laboratorium.
Sebuah zat yang banyak sekali terdapat dalam bumi adalah SiO2 dan dalam ilmu
mineralogi, mineral itu disebut kuarsa. Sebaliknya zat inipun dapat dibuat secara
kimia akan tetapi dalam hal ini tidak disebut mineral melainkan zat Silisium dioksida

2.1.2 Penjelasan Mineral Dalam Al-Qur’an.


Di dalam Al-qur’an juga dijelaskan dalam bebrapa surat sebagai bertikut :
….dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang benar-
benar dan ukurlah anyamannya dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya
Aku melihat apa yang kamu kerjakan (QS Saba’ [34]: 10-11). Sementara itu,
penggunaan tembaga disebutkan dalam ayat ini: ... dan Kami alirkan cairan tembaga
baginya (QS Saba’ [34] 12). Dalam Surah Al-Kahi (18), kita dapati keterangan ini:
“... berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata
dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: “Tiuplah (api itu).
“Hingga apabila besi sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkaa: “Berilah
aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu” (QS Alh-
Kahfi [18]: 96). Sementara itu, dalam Surah Al-Hadid (57) difirmankan: ... Dan kami
ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat
bagi manusia, supaya mereka mempergunakan besi itu dan supaya Allah mengetahui
siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya
(QS Al-Hadid [57]: 25).
Ayat ini dengan jelas menunjukkan tujuan utama perjuangan hidup seorang
manusia, mengikuti petunjuk rasul Allah Swt, dan membantu menegakkan sebuah
sistem yang penuh dengan kebajikan, kedamaian, dan keadilan di muka bumi.
Semangat inilah yang menyebar ke segenap tingkat ilmu pengetahuan dalam Islam
serta mengajarkan manusia tentang prinsip kesatuan segala sesuatu yang ada di langit
dan di bumi di bawah hukum tunggal yang ditetapkan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
(Rahman, 2007)

2.1.3 Logam-Logam Berharga di Dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Quran juga menyebutkana mengenai logam-logam berharga


dalam berbagai konteksnya:

Di surga itumereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan


mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. (QS Al-Hajj {22}: 23)

Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala


yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca yang terbuat dari perak yang telah
diukir dengan sebaik-baiknya. (QS Al-Insan [76]: 15-16)

Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan
dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak ... (QS Al-Insan [16]: 21)

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah
yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman [55]: 22-23)

Ayat di atas mengingatkan manusia bahwa semua bahan tambang dan bahan-
bahan mineral lainnya yang diperoleh dari perut bumi yang digunakan untuk
kepentingan hidup manusia merupakan karunia dan rahmat Allah yang harus
disyukuri. Lebih jauh mengenai keharusan bersyukur ini, ayat Al-Quran yang lainnya
mengatakan: (Rahman, 2007)

Seakan-akan bidadari itu permata dan marjan. Maka, nikmat Tuhanmu yang
manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman [55]: 58-59)

Pada umumnya, orang tertarik kepada benda-benda logam seperti emas dan
perak karena keelokannya jika dikenakan sebagai perhiasan. Logam-logam ini pun
memiliki nilai yang sangat tinggi. Untuk itu, Al-Quran mengemukakan dua jenis
loggam ini secara khusus sambil memperingatkan manusia agar tidak berlaku tamak
dan rakus:

... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak
menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa
mereka akan mendapat siksa yang pedih. (QS At-Taubah [9]: 34)

Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang


diingini berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup
di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS Ali-Imran [3]: 14)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam
kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereke emas
sepenuh bumi, walaupun ia menebus diri dengan emas yang sebanyak itu. Bagi
mereka itulah jika yang pedih dan sekali-sekali mereka tidak memperoleh penolong.

Ayat-ayat yang disebutkan di atas menunjukkan parameter nilai yang abadi


dalam Islam dan menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan antara kehidupan
material dan spiritual. Dalam ayat lain, Al-Quran juga menyatakan mengenai
beberapa jenis logam dengan konteks yang berbeda-beda, antara lain: (Rahman,
2007)

... dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai
pakaian hijau dari sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-
dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang
indah. (QS Al-Kahfi [18]: 31)

Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di


dalam surga itu terdapat segala yang diingini oleh hati dan sedap dipandang mata
dan kamu kekal di dalamnya. (QS Al-Zukhruf [43]: 71)
Dan sekiranya bukan karene hendak menghindari manusia menjadi umat
yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir
kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan
(juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan Kami buatkan pula
pintu-pintu perak bagi rumah-rumah mereka dan begitu pula yang mereka bertelekan
di atasnya. Dan Kami buatkan pula perhiasan-perhiasan dari emas untuk mereka.
Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia. Sedangkan
kehiduoan akhirat itu di sisi Tuhan yang disediakan bagi orang-orang yang
bertakwa. (QS Al-Zukhruf [43]: 33-35)

Ayat-ayat tersebut di atas berisi pelajaran dan hikmah bagi mereka yang
sungguh-sungguh bertakwa kepada Allah dan bekerja keras untuk memikirkan tanda-
tanda kebesaran-Nya serta mengikuti Sunnah Rasul-Nya. Ini semua menjadi petunjuk
dan menjadi sumber motivasi yang sangat tinggi bagi para pencari ilmu pengetahuan
dan hakikat kebenaran dalam kerajaan Tuhan. Hal ini juga dapat dijadikan bukti
tentang bagaimana sebagian kaum Muslim mendapatkan inspirasi besar dari Al-
Quran untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terhampar di alam
semesta. Ayat-ayat itu juga menunjukkan dengan jelas bahwa manusia diperbolehkan
memanfaatkan segala sesuatu yang diinginkannya dan boleh mengikatkan diri dalam
sebuah pekerjaan untuk memperoleh keuntungan darinya, seperti berdagang dan
melakukan pekerjaan duniawi lainnya. Akan tetapi, semua itu harus dilakukan secara
halal dan dengan cara yang baik, karena pada hakikatnya semua aktivitas yang
dilakukannya adalah sebuah perjuangan dalam upaya meningkatkan kualitas
kehidupannya sebagai seorang hamba yang mensyukuri karunia nikmat yang
dianugerahkan Tuhan kepadanya. (Rahman, 2007)

Jalan terbaik untuk menempuh perjuangan itu adalah dengan mengikuti dan
menaati syariat Tuhan yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Sikap seperti ini
mendorong sebagian ilmuwan Muslim untuk melakukan penelitian dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang mineralogi. Beberapa nama yang
tersebut dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam sebagai orang yang memberikan
kontribusi dalam bidang ini antara lain: Al-Kindi, Al-Jahiz, Nash ibn Ya’qub Al-
Dinawari, Muhammad ibn Zakariyya, Al-Razi, Muhammad ibn Ahmad Al-Tamimi,
Ibn Sina, Al-Biruni, Maslamah ibn Waddah Al-Qurthubi Al-Majriti, ‘Abd ‘Abbas Al-
Thifashi, Nashir Al-Din Al-Thushi, ‘Abd Qasim Al-Qazani (Kayani), Qazwini,
Hamdallah Mustawfi Syamsudiin Al-Akhfani, Ibn Al-‘Atsir, Ibn Jauzi, dan Daud Al-
Antaqi. (Rahman, 2007)
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Penjelasan Surat Al-Hadid (Besi) Menurut Arifin Muftie

Surat Besi (Hadid) turun di antara masa-masa Perang Uhud, pada awal
terbentuknya Negara Islam di Medinah. Oleh karena itu, bisa dipahami jika cukup
banyak ayat yang memerintahkan untuk menafkahkan harta bagi kepentingan umum.
Nama surat terambil dari kalimat “wa anzalnal-hadida”, ayat 25. Ayat seperti ini,
menurut pandangan Malik Ben Nabi, laksana “kilauan anak panah” yang menarik
perhatian bagi kaum berakal; yang diselipkan di antara pelajaran-pelajaran yang
menyangkut ketuhanan.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa


bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan
neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami
ciptakan/turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai
manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah
mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah
tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (al-Hadid 57:
25).

Karakter pertama yang menarik perhatian adalah banyak penafsir menghindari


terjemahan “wa anzalnal-hadida” dengan “Kami ciptakan besi”,padahal secara
intrinksik seharusnya. “Kami turunkan besi”, sebagaimana terjemahan “Kami
turun¬kan bersama mereka al-Kitab dan mizan (keadilan, keseimbangan, keselarasan,
kesepadanan)”. Mengapa demikian? Karena dalam bayangan mufasir klasik,
bagaimana caranya besi diturunkan dari langit? Apakah dijatuhkan begitu saja?.
Namun seiring dengan perkembangan waktu, pengetahuan manusia
bertambah. Ilmuwan seperti Profesor Armstrong dari NASA atau Mohamed Asadi
berpandangan bahwa “memang besi diturunkan dari langit”. Sains memberikan
informasi kepada kita bahwa besi termasuk logam berat tidak dapat dihasilkan oleh
bumi sendiri. Elemen Berat Besi, Fe-57.

Karakter kedua, Bumi dan isinya dilindungi oleh Sabuk Van Allen yang
membungkus bumi seolah-olah perisai berbentuk medan elektromagnetik berenergi
tinggi. Perisai dengan "kekuatan hebat" ini tidak dimiliki oleh planet-planet lain.
Sabuk radiasi yang membentuk energi tinggi terdiri dari proton dan elektron,
mengelilingi ribuan kilometer di alas bumi, diberi nama Sabuk Van Allen. Sabuk ini
melindungi bumi dan isinya dari ledakan dahsyat energi matahari yang terjadi setiap
11 tahun sekali yang disebut solar flares.Ledakan dahsyat ini bila tidak ditahan di
angkasa dapat meluluh - lantakkan semua kehidupan di bumi, dengan kekuatan setara
100 juta bom atom Hiroshima. Perlindungan juga didapatkan dari serangan badai
kosmis yang membahayakan umat manusia. Sabuk ini terbentuk dari inti bumi yang
besar, yaitu terdiri dari besi dan nikel. Keduanya membentuk medan magnet yang
besar, yang tidak dimiliki oleh planet lain, kecuali planet Merkurius,dengan radiasi
yang lebih lemah.

Khikmah besi menempati salah satu judul surat di dalam al-Qur'an adalah inti
besi dan nikel "melindungi makhluk bumi" berupa perisai elektromagnetik
dengan "kekuatan yang hebat". Namun yang terpenting Al-Qur'an ingin
menunjukkan kepada pembaca bahwa besi tidak dapat diproduksi di bumi. Oleh
karena itu, ia langsung diturunkan dari langit untuk dimanfaatkan oleh manusia sesuai
dengan ayat 25.

Karakter ketiga berhubungan dengan elemen kimia dalam tabel periodik. Kita
tidak mungkin menafsirkan Surat Besi tanpa “membedah” elemen kimia besi berikut
karakterisistiknya, yang berhubungan dengan kata al- hadid. Tanpa mengenal
sifat¬sifat besi, pembaca tidak akan mengetahui “keindahan” Surat Besi ini, yang
diletakkan pada nomor 57. Nilai kata atau al-jumal al-hadid adalah 57. Terdiri dari
‘al’ (31) dan ‘hadid’ (26) (Tabel Bisa dilihat di Lampiran gambar)

Alif = 1, Lam = 30, Ha’ = 8, Dal= 4, Ya’ = 10, Dal = 41 + 30 + 8 + 4 +


10 + 4 = 31 + 26 = 57.

Fakta menunjukkan bahwa besi atau al-hadid mempunyai nilai (Al


Jumal/Gematria Huruf) 57, sama dengan nomor suratnya, atau (19 x 3). Kelipatan 19
dengan koefisien angka 3. Besi, menurut Peter Van Krogt ahli elementimologi, telah
lama digunakan sejak zaman prasejarah, 7 generasi sejak Adam as. Besi adalah salah
satu elemen berat, dengan simbol Fe, atau ferrum, yang
berarti “elemen suci” dari kata Iren (Anglo-Saxon). Diberi nama ferrum, ketika
pemerintahan Romawi, kaisar Roma yang bernama Marcus Aurelius dan Commodus
menghubung¬kan dengan mitos Planet Mars. Ilmu kimia modern mengatakan bahwa
besi atau Fe ini mempunyai 8 isotop, di mana hanya 4 isotop saja yang stabil, yaitu
dengan simbol Fe-54,Fe-56, Fe-57, dan Fe-58.

Besi mempunyai nomor atom 26, posisinya terletak di tengah-tengah tabel


periodik. Sedangkan Fe-57, salah satu isotop besi yang stabil mempunyai 31 neutron.
Ini berbeda dengan isotop stabil lainnya, misalnya Fe-56 mempunyai 30 neutron dan
Fe-58 mempunyai 32 neutron. Fe-57 juga diketahui mempunyai “ionisasi energi”
tingkat ke-3, sebesar 2957 jk/mol (dibulatkan), energi yang keluar untuk mengubah
status Fe +2 ke Fe+3. Besi sendiri mempunyai 4 tingkatan energi-itulah mengapa
hanya 4 isotop saja yang stabil. Terakhir yang tidak kalah penting, Fe-57 juga
diketahui mempunyai massa atom sebesar 56,9354.
Fakta selanjutnya yaitu :

1. Salah satu isotop besi yang stabil, Fe-57, mempunyai nomor simbol sama
dengan nomor Surat al-Hadid, dan al-jumal dari al-hadid adalah 57 juga.
2. Besi mempunyai nomor atom 26, ditunjukkan oleh al-jumal kafa hadid.
3. Fe-57 mempunyi elektron 31 buah, ditunjukkan oleh al-jumal dari kata “al”.
4. Koefisien 3, dari (19 x 3), ditunjukkan dengan ionisasi tingkat energi ke-3
yang dilepas sebesar2957jk/mol. Surat al Hadid mempunyai ayat berjumlah
29 buah atau kodetifikasi 2957.
5. Peneliti al-Qur’an dari kelompok Fakir 60 di Amerika Serikat menjelaskan
bahwa banyaknya kata dalam surat ini seluruhnya adalah 574 kata, sedangkan
banyaknya kata dari awal surat sampai dengan ayat ke-25 (kata pertama)
adalah 451. Bilangan 574 menunjukkan “Fe-57 adalah salah satu isotop yang
stabil dari 4 isotop yang ada” atau berarti juga “yang mempunyai 4 tingkatan
energi”.
6. Bilangan 451, banyaknya kata, adalah jumlah bilangan nomor simbol
kedelapan isotop besi: Fe-52, Fe-54, Fe-55, Fe-56, Fe-57, Fe-58, Fe-58,
sampai Fe-60; yaitu 52 + 54 + 55 + 56 + 57+ 58 + 59 + 60 = 451.
7. Enkripsi pada keempat isotop stabil, Fe-54, Fe-56, Fe-57, dan Fe-58
merupakan kelipatan 19 atau: 54565758 = 19 x 2871882.
8. Demikian juga massa atom Fe-57, 56.9354 adalah: 569354 = 19 x 29966
9. Bukan suatu kebetulan, jika nomor surat dan nomor ayat besi (QS 57:25)
ditunjukkan dengan angka 19. 5+7+2+5=19.
10. Bukan pula suatu kebetulan jika Surat Besi diletakkan di tengah-tengah al-
Qur’an, sebagaimana elemen besi nomor 26 terletak di tengah-tengah tabel
periodik.
11. Dari sisi matematika, angka 57 clan 29 tergolong ajaib karena angka-angka
tersebut merupakan: 57×29= 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 +…+ 57 atau (19 x 87)
Kata “besi” dalam al-Qur’an disebut 9 kali dalam 6 ayat yang berbeda. Surat
Besi ini menunjukkan keistimewaannya dengan berbagai cara, di antaranya adalah
besi diturunkan secara intrinksik dari langit melalui meteorit pada awal terbentuknya
bumi, miliaran tahun yang lalu. Besi diketahui mempunyai kekuatan yang dahsyat:
inti besi dan nikel membentuk perisai medan magnet bumi dengan energi yang luar
biasa untuk menahan solar flares dan badai magnetik angkasa.

Sedangkan nomor surat 57 sama dengan al-jumal dari al-hadid (57). Surat ini
juga memperlihatkan karakter Fe-57, salah satu isotop besi yang stabil. Selain itu,
ditunjukkan dengan kodetifikasi nomor atom (26) dan jumlah elektron (31) yang
mengelilingi inti atom besi. Kodetifikasi surat dan ayat juga ditunjuk¬kan dengan
jumlah digit nomor surat dan ayat besi (al-Hadid 57: 25), yaitu bilangan 19. (Muftie,
2004)

3.2 Hukum Memakai Emas Untuk Laki-Laki

Memang tidak terdapat satu ayat pun didalam Al-Qur’an yang menyatakan
dengan jelas (shorih) akan keharaman emas bagi kaum laki-laki. Namun hadits-hadits
shahih dari Rasulullah yang merupakan sumber hukum kedua didalam Islam telah
menyebutkan dan menjelaskan tentang keharaman memakai emas bagi kaum laki-
laki. Begitu juga ijma’ para ulama’ dan pendapat para ulama’ salaf dalam hal ini.

a. Hadits pertama

،‫سلَّ َم رأى خاتما من ذهب في يد رجل‬


َ ‫ص َّلى هللاُ َع َل ْي ِه َو‬
َ ‫ي هللاُ َع ْنهُ أن رسو ل هللا‬
َ ‫ض‬
ِ ‫عن عبد هللا بن عباس َر‬
‫صلَّى‬
َ ‫ ] يعمد أحدكم إلى جمرة من نار فيجعلها في يده[ فقيل للرجل بعد ما ذهب رسول هللا‬: ‫فنزعه فطرحه وقال‬
‫س َّل َم‬
َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ‫ وقد طرحه رسول هللا‬،‫ ال آخذه أبدا‬: ‫ قال‬،‫ خذ خاتمك انتفع به‬: ‫سلَّ َم‬
َ ‫هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬

Dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki
memakai cincin emas. Beliau mencabut cincin emas itu lalu membuangnya seraya
berkata; “Apakah salah seorang diantara kamu sudi meletakkan bara api ditangannya
?” Setelah Rasulullah pergi, ada yang berkata kepada lelaki itu ; “Ambillah cincinmu!
Engkau dapat memanfaatkannya!” Ia berkata ; “Demi Allah, aku tidak akan
mengambilnya lagi, sebab Rasulullah telah membuangnya.” (HR. Muslim)

b. Hadits kedua

Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash R.A dalam hadits marfu’ berbunyi :

‫َب ِم ْن أ ُ َّمتِي‬َ ‫س الذَّه‬ َ ‫ ]َ َم ْن لَ ِب‬: ‫سلَّ َم أَنَّهُ قَال‬ َّ ‫صلَّى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫ع ْن َر‬ َ ‫اصي‬ ِ ‫َّللاِ ب ِْن َع ْم ِرو ب ِْن ْال َع‬ َّ ‫َع ْن َع ْب ِد‬
َ ‫َّللاُ َع َل ْي ِه َح ِر‬
‫ير‬ َّ ‫سهُ َح َّر َم‬ ُ ‫ير ِم ْن أ ُ َّمتِي فَ َماتَ َوه َُو َي ْل َب‬
َ ‫س ْال َح ِر‬َ ‫َب ْال َجنَّ ِة َو َم ْن لَ ِب‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه ذَه‬ ُ ‫فَ َماتَ َوه َُو َي ْل َب‬
َّ ‫سهُ َح َّر َم‬
‫ِ] ْال َجنَّة‬

“Barangsiapa diantara umatku yang memakai perhiasan emas, lalu ia wafat sedang ia
masih memakainya, pasti Allah haramkan emas-emas jannah atasnya. Dan
barangsiapa yang memakai sutra dari umatku, lalu ia wafat sedang ia masih
memakainya, niscaya Allah haramkan atasnya sutra-sutra jannah. (HR. Ahmad, dan
sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albany)2

c. Hadits ketiga

‫صلَّى‬ َّ ‫سو َل‬


َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ ]َ ِإ َّن َر‬: ‫َّللاُ َع ْنهُ قَال‬
َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ب َر‬ ِ ‫طا‬ َّ ‫ع َم َر بْنَ ْال َخ‬ ُ ‫ار أ َ َّن‬
ٍ ‫ار ْبنُ أ َ ِبي َع َّم‬
ُ ‫َحدَّثَنَا َعفَّانُ َحدَّثَنَا َح َّماد ٌ أ َ ْنبَأَنَا َع َّم‬
ُ‫ق ذَا فَأ َ ْلقَاهُ فَتَ َخت َّ َم ِبخَات ٍَم ِم ْن َحدِي ٍد فَقَا َل ذَا ش ٌَّر ِم ْنه‬ ِ ‫ب فَقَا َل أَ ْل‬
ٍ ‫سلَّ َم َرأَى ِفي َي ِد َر ُج ٍل خَات َ ًما ِم ْن ذَ َه‬ َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َّ
ُ‫س َكتَ َع ْنه‬ َّ ِ‫] فَتَ َخت َّ َم بِخَات ٍَم ِم ْن ف‬
َ َ‫ض ٍة ف‬

Dari Umar bin Khattab R.A disebutkan bahwa Rasulullah SAW. melihat
seorang Shahabat memakai cincin emas, lalu ia berpaling darinya. Shahabat itu pun
membuang cincinnya dan menggantinya dengan cincin dari besi. Maka Rasulullah
SAW berkata kepadanya; “Ini lebih buruk lagi! Ini adalah perhiasan penduduk
neraka! “Shahabat itu membuangnya dan menggantinya dengan cincin dari perak.
Setelah itu Rasulullah membiarkannya. (HR. Ahmad) 3

d. Hadits keempat
‫سلَّ َم ذَ َهبًا‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫َّللاُ َع ْنهُ يَقُو ُل أ َ َخذَ َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ِ ‫س ِم ْعتُ َع ِليًّا َر‬َ ‫َّللاِ ب ِْن ُز َري ٍْر ْالغَافِ ِقي ِ قَا َل‬
َّ ‫َع ْن َع ْب ِد‬
[‫ور أ ُ َّمتِي‬ ِ ‫علَى ذ ُ ُك‬ ِ َ‫ ]َ َهذ‬: ‫يرا بِ ِش َما ِل ِه ث ُ َّم َرفَ َع بِ ِه َما يَدَ ْي ِه فَقَال‬
َ ‫ان َح َرا ٌم‬ ً ‫بِيَ ِمينِ ِه َو َح ِر‬

Dari Ali bin Abi Thalib ia berkata : Aku telah melihat Rasulullah SAW
mengambil sutra dan meletakkannya ditangan kanannya dan mengambil emas lalu
meletakkannya ditangan kirinya. Kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya dua hal
ini (sutra dan emas) diharamkan atas kaum laki-laki dari umatku”. (HR. Ahmad :
I/115, Abu Dawud : 4058, An-Nasa’I : VIII/160, dengan sanad hasan)

e. Hadits kelima

‫ور‬ِ ‫ب َعلَى ذُ ُك‬ ِ ‫اس ْال َح ِر‬


ِ ‫ير َوالذَّ َه‬ ُ ‫ ] ُح ِر َم ِل َب‬: ‫س َّل َم قَال‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫سى ْاْل َ ْش َع ِري ِ أ َ َّن َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬ َ ‫َع ْن أ َ ِبي ُمو‬
‫ص ِحي ٌح‬َ ‫س ٌن‬ ٌ ‫سى َهذَا َحد‬
َ ‫ِيث َح‬ َ ‫أ ُ َّمتِي َوأ ُ ِح َّل إل ناثهم [ قَا َل أَبُو ِعي‬

Dari Abu Musa Al-Asy’ary sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : “Telah


diharamkan pakaian sutra dan emas atas kaum laki-laki dari umatku dan dihalalkan
atas wanita-wanita muslimah mereka”. (HR. At-Turmudzi : 1720, ia berkata sanadnya
hasan shahih)

f. Hadits keenam

Dari Hudzaifah ia berkata : Rasulullah SAW telah melarang kami untuk


minum dengan bejana yang terbuat dari emas dan perak dan juga makan dengannya,
dan melarang kami juga untuk memakai pakaian yang terbuat dari sutra dan dibaj4,
dan duduk diatasnya”. (HR. Bukhari : 5834)

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Adapun memakai cincin emas


maka ia adalah haram bagi kaum laki-laki menurut Ijma’ (kesepakatan) Ulama’.
Begitu pula kalau sebagiannya terbuat dari emas, sedangkan sebagiannya yang lain
dari perak, maka ini juga adalah haram. Bahkan shahabat-shahabat kami berkata: Jika
mata cincin tersebut terbuat dari emas walaupun sedikit, maka ini juga adalah haram
berdasarkan keumuman hadits-hadits diatas.”
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Djauhari Noor. (2011). Geologi Perencanaan, Graha Ilmu : Yogyakarta hlm. 53.

Shahih bukhari, imam bukhari

Shahih muslim, imam muslim.

Rahman, afzalur.(2007) Enslikopedia ilmu dalam al-qur’an. Cetakan ke II Mizania :


Jakarta hal 179-182

Muftie, Arifin.2004.Matematika alam semesta kodetifikasi bilangan prima dalam al-


qur’an. PT kiblat kiblat utama bandung

Al-Qur’an