Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN

TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI OSSA MANUS DENGAN

KASUS GOUTARTHRITIS
DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD dr. SOEDONO MADIUN

Disusun Oleh :

FATHUR RACHMAN HIDAYAT


P1337430217018

PRODI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI SEMARANG

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2018

PENGESAHAN
Laporan ini telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sebagai laporan

kasus guna memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan 1 Program Studi Diploma IV

Teknik Radiologi Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Semarang.

Nama : Fathur Rachman Hidayat

NIM : P1337430217018

Judul Laporan Kasus : “ Laporan Teknik Pemeriksaan Radiografi Ossa Manus

Dengan Kasus Goutarthritis Di Instalasi Radiologi RSUD

dr. Soedono Madiun”

Madiun, Oktober 2018


Pembimbing

Dwi Purwanto, AMd.Rad.


NIP : 19731220 200701 1 013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala karena atas segala rahmat

yang dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan yang

berjudul “Teknik Pemeriksaan Radiografi Ossa Manus Dengan Kasus

Goutarthritis Di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soedono Madiun” ini.

2
Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan

(PKL) 1 Semester III, Prodi D-IV Teknik Radiologi Poltekkes Kemenkes

Semarang, yang bertempat di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soedono Madiun.

Dalam penyusunan laporan kasus ini tidak akan lepas dari segala bantuan

dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis juga mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada :


1. Orang tua penulis
2. Ibu Siti Masrochah, S.Si, M. Kes. selaku Ketua Prodi D-IV Teknik

Radiologi Poltekkes Kemenkes Semarang


3. Bapak Dwi Purwanto, AMd.Rad. selaku pembimbing dalam membuat

laporan ini
4. Bapak Santoso Adi P., Amd.Rad. selaku Clinical Instructure (CI) Praktek

Kerja Lapangan I di RSUD dr. Soedono Madiun


5. Seluruh Radiografer dan Staf Instalasi Radiologi RSUD dr. Soedono

Madiun
6. Semua pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan kasus ini
Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penyusunan

laporan kasus ini. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang

membangun dari pembaca, guna memperbaiki laporan kasus selanjutnya. Penulis

juga berharap laporan kasus ini bermanfaat bagi penulis maupun para pembaca.

Madiun, Oktober 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN ..............................................................................2

KATA PENGANTAR ...........................................................................................3

DAFTAR ISI .........................................................................................................5

DAFTAR GAMBAR.............................................................................................7

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................8

1.1. Latar Belakang Masalah................................................................8

1.2. Rumusan Masalah.........................................................................9

1.3. Tujuan Penulisan...........................................................................9

1.4. Metode Pengumpulan Data ..........................................................9

1.5. Manfaat Penulisan.........................................................................10

1.6. Sistematika Penulisan...................................................................10

BAB II DASAR TEORI........................................................................................12

2.1. Anatomi..........................................................................................12

2.2. Patologi Goutarthritis.....................................................................14


4
2.3. Teknik Radiografi Ossa Manus......................................................18

2.4. Proteksi Radiasi.............................................................................28

BAB III PROFIL KASUS DAN PEMBAHASAN...............................................29

3.1. Identitas Pasien..............................................................................29

3.2. Riwayat Pasien...............................................................................29

3.3. Prosedur Pemeriksaan....................................................................30

3.4. Hasil Pembacaan Radiograf...........................................................35

3.5. Pembahasan Kasus.........................................................................37

BAB IV PENUTUP...............................................................................................39

4.1. Kesimpulan....................................................................................39

4.2. Saran..............................................................................................39

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................40

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi Ossa Manus...........................................................................12

Gambar 2. Goutarthritis.........................................................................................14

Gambar 3. Posisi Pasien Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi PA.................18

Gambar 4. Posisi Objek Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi PA.................19

Gambar 5. Radiograf Ossa Manus Proyeksi PA....................................................20

Gambar 6. Posisi Objek Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi Lateral...........22

Gambar 7. Radiograf Ossa Manus Proyeksi Lateral.............................................23

Gambar 8. Posisi Objek Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi Oblik.............25

Gambar 9 & 10 Radiograf Ossa Manus Proyeksi Oblik.......................................26

Gambar 11. Posisi Pasien Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi PA...............31

Gambar 12. Posisi Objek Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi PA...............32

Gambar 13. Posisi Objek Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi Oblik..........34

Gambar 14. Foto Hasil Radiograf Ossa Manus Ny.S............................................36

6
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan suatu institusi pelayanan kesehatan

yang padat profesi dan padat modal. Sekarang ini masyarakat

sangat banyak membutuhkan pelayanan kesehatan yang maksimal

dan efektif berupa jasa pelayanan rumah sakit. Salah satu jenis

pelayanan penunjang di rumah sakit adalah pelayanan radiologi

yang merupakan tempat penyelenggaraan pelayanan radiologi

kepada pasien yang membutuhkan, dengan menegakkan diagnosis

yang cepat, tepat dan akurat melalui pemeriksaan radiodiagnosti k.

Dalam praktek kerja lapangan I kali ini, penulis mendapat

kesempatan untuk menerapkan pembelajaraan yang telah diperoleh

selama waktu perkuliahan, yakni dalam bidang radiodiagnostik

yang bertempat di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soedono Madiun.

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan penulis selama praktek

yaitu mengenai pemeriksaan ossa manus yang mana mengalami

suatu kasus goutarthritis. Oleh karena itu penulis membuat laporan

kasus ini dengan judul “Teknik Pemeriksaan Radiografi Ossa

Manus dengan Kasus Goutarthritis di Instalasi Radiologi RSUD dr.

Soedono Madiun”

1.2. Rumusan Masalah


7
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan, maka

dapat dirumuskan data sebagai berikut:

1. Apa itu Ossa manus?


2. Apa itu Goutarthritis?
3. Bagaimana teknik pemeriksaan ossa manus dengan kasus goutarthritis

pada phalanges manus di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soedono

Madiun?
4. Apakah radiograf yang dihasilkan telah cukup memberikan informasi

yang diharapkan?
1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan kasus ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tentang ossa manus.


2. Untuk mengetahui tentang goutarthritis.
3. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan radiografi ossa manus dengan

kasus goutarthritis.
4. Untuk mengetahui informasi dari radiograf yang dihasilkan.
1.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan laporan kasus ini, penulis menggunakan metode

pengumpulan data sebagai berikut:


1. Metode Kepustakaan
Yaitu metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencetak serta

mengolah bahan penelitian. Penulis lakukan pada metode ini yaitu

mengumpulkan informasi dari berbagai buku dan media internet yang

berhubungan dengan masalah yang dikemukakan untuk mendukung

pembahasan masalah.
2. Metode Observasi
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan

observasi secara langsung mengenai teknik pemeriksaan radiografi

8
ossa manus dengan kasus goutarthritis di Instalasi Radiologi RSUD dr.

Soedono Madiun.
3. Metode Dokumentasi
Yakni metode pengumpulan data dengan mengambil data dari

dokumen-dokumen antara lain dari hasil radiograf, rekam medik dan

hasil pembacaan radiograf.

1.5. Manfaat Penulisan


Manfaat dari pembuatan laporan kasus ini yakni diharapkan dapat

digunakan sebagai acuan untuk menambah wawasan bagi penulis khususnya

dan bagi para pembaca pada umumnya mengenai patologi goutarthritis serta

tata laksana pemeriksaan radiografi ossa manus.


1.6. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca untuk memahami isi laporan kasus ini.

Penulis menyajikan sistematika penulisan dengan rincian sebagai berikut :

BAB I, Pendahuluan
Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data,

manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II, Dasar Teori


Bab ini menjelaskan tentang anatomi, patologi dan teknik

pemeriksaan radiologi serta proteksi radiasi yang dijadikan

sebagai dasar teori dalam penulisan laporan kasus ini.

BAB III, Profil Kasus dan Pembahasan


Bab ini berisi tentang profil kasus pasien yang mengalami

goutarthritis, prosedur pemeriksaan, hasil pembacaan

radiograf serta pembahasannya.


9
BAB IV, Penutup
Pada bab ini, dikemukakan kesimpulan dari bab-bab

sebelumnya serta saran dari penulis.


DAFTAR PUSTAKA

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Anatomi

2.1.1. Ossa Manus

Gambar 1. Anatomi Ossa Manus

Ossa manus terdiri dari 27 tulang, yang dibagi menjadi beberapa

kelompok, yaitu :

1. Phalang adalah tulang digit (jari dan jempol)


10
2. Metacarpal adalah tulang-tulang telapak tangan
3. Carpal adalah tulang pergelangan tangan

Phalang terdiri dari 14 tulang yaitu tulang digit 1,2,3,4 dan 5

yang setiap tulang digit mempunyai 3 bagian tulang yaitu

proksimal,tengah, dan distal.

Metacarpal terdiri dari 5 tulang yang terdapat di pergelangan

tangan dan bagian proksimalnya berarticulasi dengan bagian distal

tulang carpal. Persendian yang dihasilkan oleh tulang carpal dan

metacarpal membuat tangan menjadi sangat flexible. Khusus di tulang

metacarpal I (ibu jari) dan metacarpal II (jari telunjuk) terdapat tulang

sesamoid.
Terdiri dari caput (berarticulasi dengan phalanx), corpus dan basis

(sebelah proximal berarticulasi dengan ossa carpalis). Caput lebih besar

dari pada basis.


• Metacarpal 1 : lebih pendek, mempunyai facies articularis

berbentuk oval, berarticularis dengan multangulum majus.


• Metacarpal 2 : paling panjang, basis terlebar, bentuk tak beraturan.
• Metacarpal 3 : basis berbentuk segi tiga mempunyai prosesus

styloideus.

• Metacarpal 4 : basisnya berbentuk segi empat.


• Metacarpal 5 : basisnya berbentuk segi tiga.

Carpal terdiri dari bagian proksimal dan bagian distal. Bagian

proksimal terdiri dari scapoid, lunate, triquetrum, dan pisiform.

Sedangkan bagian distal terdiri dari trapezium, trapezoid, capitate dan

hamate.

2.2. Patologi Goutarthritis

11
Gambar 2. Goutarthritis

Penyakit goutarthritis merupakan suatu reaksi radang pada sendi

yang disebabkan oleh deposisi kristal monosodium urat, kalsium pirofosfat

dihidrat, kalsium hidroksiapatit, dan kalsium oksalat. Penyakit ini biasanya

menyerang pria berusia paruh baya hingga lanjut usia dan pada wanita

biasanya terjadi setelah masa menopause. Timbulnya penimbunan mineral

ini disebabkan oleh deposisi yang patologis pada sendi, setelah itu akan

terjadi reaksi inflamasi sebagai respon tubuh terhadap deposit kristal

tersebut yang dianggap sebagai antigen. Pada tahap lanjut akan dijumpai

deposisi kristal dalam jumlah banyak dan mengalami granulasi, khusus

pada goutarthritis hal ini dinamai sebagai tofi.

Asam urat merupakan kristal putih tidak berbau dan tidak berasa

lalu mengalami dekomposisi dengan pemanasan menjadi asam sianida

(HCN) sehingga cairan ekstraseslular yang disebut sodium urat. Jumlah

12
asam urat dalam darah dipengaruhi oleh intake purin, biosintesis asam

urat dalam tubuh, dan banyaknya ekskresi asam urat (Kumalasari,2009).

Kadar asam urat dalam darah ditentukan oleh keseimbangan

antara produksi (10% pasien) dan ekskresi (90% pasien). Bila

keseimbangan ini terganggu maka dapat menyebabkan terjadinya

peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut dengan

hiperurisemia (Manampiring, 2011).

Goutarthritis ditandai dengan serangan-serangan nyeri hebat dan

kemerahan pada bagian bawah sendi dari ibu jari kaki, yang terjadi

pada waktu tengah malam. Serangan berkurang dalam beberapa hari

tetapi berulang kembali. Lama kelamaan, sendi dirusak oleh endapan

kristal asam urat didalam sinovia dan tulang rawan. Asam urat didalam

serum meningkat. Penyakit ini dianggap sebagai suatu penyakit

orang berada yang memakan makanan yang kaya akan DNA, yang

memproduksi banyak asam urat (Sibuea, 2009). Berdasarkan American

College of Rheumatology pada tahun 2012 mengenai pedoman

penatalaksanaan gout, derajat goutarthritis berdasarkan beratnya serangan

akut seperti dijelaskan pada Tabel berikut:

13
Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat membuat seseorang

menjadi lebih mudah untuk terkena penyakit goutarthritis. Secara garis

besar, terdapat dua faktor risiko untuk pasien dengan penyakit

goutarthritis, yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang

dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah

usia dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko yang dapat

dimodifikasi adalah pekerjaan, Glomerular Filtration Rate (GFR),

kadar asam urat, dan penyakit-penyakit penyerta lain seperti Diabetes

Melitus (DM), hipertensi, dan dislipidemia yang membuat individu

tersebut memiliki risiko lebih besar untuk terserang penyakit goutarthritis

(Festy P, 2009).Hubungan antara hiperurisemia dan gangguan sistem

serebrovaskular telah diketahui sejak tahun 1990. Peningkatan kadar

asam urat serum merupakan temuan yang umum diperlihatkan

pada penderita dengan tekanan darah tinggi, resistensi insulin,

obesitas dan gangguan serebrovaskuler (Cerezo C,2012).Dengan

penatalaksaan yang kuat terhadap penyakit penyerta seperti di atas, dapat

membuat prognosis dan penatalaksanaan goutarthritis menjadi lebih baik

14
Subkomite The American Rheumatism Association menetapkan

bahwa kriteria diagnostik untuk gout, yaitu:

1.Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi.

2.Tofi terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan kimiawi

dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi.

3.Diagnosis lain, seperti ditemukan 6 dari beberapa fenomena klinis,

laboratoris, dan radiologis sebagai tercantum dibawah ini:

 Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut


 Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari
 Serangan artrtis monoartikuler.
 Kemerahan di sekitar sendi yang meradang
 Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa

sakit atau membengkak.


 Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki)
 Serangan unilateral pada sendi MTP 1.
 Dugaan tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium

urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula

sendi
 Hiperurikemia, yaitu pembengkakan sendi secara asimetris

(satu sisi tubuh saja) (Anastesya W, 2009).

Secara umum penanganan goutarthritis adalah memberikan

edukasi, pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan. Pengobatan

dilakukan dini agar tidak terjadi kerusakan sendi ataupun komplikasi lain

(Anastesya W, 2009). Tujuan terapi meliputi terminasi serangan akut;

mencegah serangan di masa depan; mengatasi rasa sakit dan peradangan

dengan cepat dan aman; mencegah komplikasi seperti terbentuknya tophi,


15
batu ginjal, dan arthropati destruktif. Pengelolaan gout sebagian bertolakan

karena adanya komorbiditas;kesulitan dalam mencapai kepatuhan terutama

jika perubahan gaya hidup diindikasikan; efektivitas dan keamanan terapi

dapat bervariasi dari pasien ke pasien. (Azari RA, 2014).

2.3. Teknik Radiografi Ossa Manus

2.3.1. Proyeksi PA

 Posisi pasien
Pasien duduk menyamping meja pemeriksaan dengan sisi

yang sakit dekat dengan meja pemeriksaan, atur ketinggian posisi

duduk sehingga lengan dapat diletakkan di atas meja pemeriksaan

dengan nyaman.

Gambar 3. Posisi pasien teknik radiografi manus proyeksi PA


 Posisi objek
1) Letakkan lengan pada meja pemeriksaan dan letakkan telapak

tangan menempel diatas kaset/prone. Posisi tangan dan

lengan dalam satu garis lurus.


2) Atur tangan sehingga tepat berada di pertengahan lapangan

penyinaran, renggangkan jari-jari tangan agar tidak saling

berhimpit.
16
3) Atur kedua processus stiloideus berjarak sama terhadap kaset

agar tidak terjadi rotasi.


4) Berilah arahan kepada pasien untuk dalam keadaan rileks

untuk menghindari pergerakan.


5) Untuk fiksasi di samping kedua sisi lengan diberi sandbag

dan bagian bawah dapat diber softbag untuk kenyamanan

pasien.

Gambar 4. Posisi objek teknik radiografi manus proyeksi PA


 Pengaturan sinar dan eksposi
1) Arah sinar/central ray (CR) : Vertikal tegak lurus terhadap

kaset.
2) Titik bidik/central pint (CP) : Pada metacarpophalangeal

joint digiti III


3) Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
4) Ukuran film dan kaset : 18 x 24 cm
5) Eksposi : 40-50 kVp, 4-5 mAs, non

grid

17
Gambar 5. Radiograf Ossa Manus Proyeksi PA
 Kriteria radiograf
1) Tampak gambaran carpal, metacarpal dan phalang dalam

posisi PA kecuali thumb (oblique), interarticulasio dari ossa

manus, distal radius dan ulna.


2) Soft tissue tampak, trabecula tulang tampak.
3) MCP dan interphalangeal joint membuka.

2.3.2. Proyeksi Lateral

 Posisi pasien
Pasien duduk menyamping meja pemeriksaan dengan sisi

yang sakit dekat dengan meja pemeriksaan, atur ketinggian posisi

18
duduk sehingga lengan dapat diletakkan di atas meja pemeriksaan

dengan nyaman.
 Posisi objek
1) Fleksikan lengan pada meja pemeriksaan dan atur tangan

sehingga tepat berada di pertengahan lapangan penyinaran.


2) Letakkan tangan secara tegak miring diatas kaset dimana sisi

jari kelingking menempel pada kaset dan jari-jari tangan saling

bertumpuk. Ibu jari diberi softbag untuk fiksasi. Posisi tangan

dan lengan dalam satu garis lurus.


3) Atur kedua processus stiloideus sehingga saling superposisi.
4) Berilah arahan kepada pasien untuk dalam keadaan rileks

untuk menghindari pergerakan.


5) Untuk fiksasi di samping kedua sisi lengan diberi sandbag dan

bagian bawah dapat diberi softbag untuk kenyamanan pasien.

Gambar 6. Posisi objek teknik radiografi manus proyeksi lateral


 Pengaturan sinar dan eksposi
1) Arah sinar/central ray (CR) : Vertikal tegak lurus terhadap

kaset
2) Titik bidik/central pint (CP) : Pada metacarpophalangeal

joint digiti II
19
3) Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
4) Ukuran film dan kaset : 18 x 24 cm
5) Eksposi : 40-50 kvp, 4-5 mAs, non

grid.

Gambar 7. Radiograf Ossa Manus Proyeksi Lateral


 Kriteria radiograf
1) Tampak gambaran tulang carpal, metacarpal, phalang, distal

radius dan ulna superposisi.


2) Tampak thumb bebas superposisi.
3) Soft tissue dan trabecula tampak.

20
2.3.3. Proyeksi Oblik

 Posisi pasien
Pasien duduk menyamping meja pemeriksaan dengan sisi

yang sakit dekat dengan meja pemeriksaan, atur ketinggian posisi

duduk sehingga lengan dapat diletakkan di atas meja pemeriksaan

dengan nyaman.
 Posisi objek
1) Fleksikan lengan pada meja pemeriksaan dan atur tangan

sehingga tepat berada di pertengahan lapangan penyinaran.


2) Letakkan tangan secara tegak miring diatas kaset dimana sisi

jari kelingking menempel pada kaset kemudian rotasikan

tangan sehingga membentuk sudut 45 derajat terhadap kaset

pada posisi prone.


3) Jari-jari tangan diatur sedemikian rupa sehingga jari-jari

tangan membuka dan tidak saling bertumpuk. Gunakan jari-jari

tangan untuk fiksasi atau dapat menggunakan spon/busa yang

dibentuk 45 derajat untuk menempatkan masing-masing jari.


4) Berilah arahan kepada pasien untuk dalam keadaan rileks

untuk menghindari pergerakan.

Gambar 8. Posisi objek teknik radiografi manus proyeksi oblik

21
 Pengaturan sinar dan eksposi
6) Arah sinar/central ray (CR) : Vertikal tegak lurus terhadap

kaset
7) Titik bidik/central pint (CP) : Pada metacarpophalangeal

joint digiti III


8) Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
9) Ukuran film dan kaset : 18 x 24 cm
10) Eksposi : 40-50 kvp, 4-5 mAs, non

grid.

Gambar 9. Radiograf Ossa Manus Proyeksi Oblik dengan

menempatkan jari-jari tangan pada busa

22
Gambar 10. Radiograf Ossa Manus Proyeksi Oblik tanpa

menempatkan jari-jari tangan pada busa


 Kriteria radiograf
1) Tampak gambaran tulang carpal, metacarpal, phalang dalam

posisi oblik.
2) Tampak caput metacarpal 3,4 dan 5 sedikit overlap.
3) Soft tissue dan trabecula tampak.
4) MCP dan interphalangeal membuka.

2.4. Proteksi Radiasi

2.4.1. Proteksi bagi pasien

23
 Pemeriksaan dengan sinar-x hanya dilakukan atas permintaan

dokter
 Mengatur luas lapangan pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan
 Menggunakan faktor eksposi yang tepat untuk menghindari

pengulangan foto
 Tidak terjadi pengulangan foto karena kesalahan
 Waktu penyinaran sesingkat mungkin
 Pasien menggunakan apron
 Pasien hamil pada triwulan pertama ditunda pemeriksaannya

2.4.2. Proteksi bagi petugas

 Tidak menggunakan berkas sinar–x yang mengarah ke petugas


 Berlindung dibalik tabir / tirai saat melakukan eksposi
 Menggunakan alat monitoring radiasi secara kontinu selama

bertugas

2.4.3. Proteksi bagi masyarakat umum

 Pintu pemeriksaan tertutup rapat


 Tidak mengarahkan sinar sumber sinar – X keruangan umum
 Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke ruang

pemeriksaan
 Apabila diperlukan orang lain untuk membantu jalannya

pemeriksaan, orang tersebut harus menggunakan apron

BAB III
PROFIL KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1. Identitas Pasien

Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 67 Tahun
Alamat : Madiun
No. RM : 6523069
No. Foto : 4623018
Dr. Pengirim : dr. X, Sp.Ot.
Tanggal Pemeriksaan : 03 Oktober 2018

24
Permintaan Pemeriksaan : Manus dextra dan sinistra proyeksi AP dan

Oblik

Keterangan Klinis : Goutarthritis

3.2. Riwayat Pasien

Pada tanggal 03 Oktober 2018, pasien mendatangi RSUD

dr.Soedono Madiun untuk memeriksa kelainan yang terlihat dan dirasakan

pada daerah jari-jari tangannya. Pasien datang ke dokter spesialis ortopedi

dengan keluhan sakit tersebut, kemudian dokter mendiagnosa telah terjadi

kekakuan pada daerah jari-jari tangan dan menyarankan untuk melakukan

foto rontgen ossa manus di Instalasi Radiologi RSUD dr.Soedono Madiun.

Pasien datang ke instalasi radiologi dengan membawa surat permintaan

pemeriksaan radiologi dari dokter. Selanjutnya pasien melakukan foto

rontgen ossa manus dextra dan sinistra dengan proyeksi AP dan Oblik.

3.3. Prosedur Pemeriksaan

3.3.1. Persiapan Alat

1. Pesawat Sinar-X siap pakai


Merk : SIEMENS
2. Scanner reader
3. Barcode reader
4. Console set computer radiografi siap pakai,yaitu :
Monitor
CPU
DICOM server
5. Marker L
6. Plester
7. Gunting

3.3.2. Persiapan Pasien


25
Pada dasarnya pemeriksaan manus ini tidak membutuhkan

persiapan khusus, hanya saja pasien diharuskan melepaskan benda-

benda asing yang berada di sekitar daerah tangan agar tidak

menimbulkan bayangan radiopaq pada radiograf. Dalam hal ini

diantaranya yakni cincin, maupun benda – benda logam lainnya.


Selain itu juga sebelum pemeriksaan petugas harus

memberitahu prosedur pemeriksaan kepada pasien agar tidak terjadi

kesalahpahamaan dari pasien tersebut.

3.3.3. Teknik Pemeriksaan

Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi PA

 Posisi pasien
Pasien duduk menyamping meja pemeriksaan dengan sisi

yang sakit dekat dengan meja pemeriksaan, atur ketinggian posisi

duduk sehingga lengan dapat diletakkan di atas meja pemeriksaan

dengan nyaman.

Gambar 11. Posisi pasien teknik radiografi manus proyeksi PA

 Posisi objek

26
6) Letakkan lengan pada meja pemeriksaan dan letakkan telapak

tangan menempel diatas kaset/prone. Posisi tangan dan

lengan dalam satu garis lurus.


7) Atur tangan sehingga tepat berada di pertengahan lapangan

penyinaran, renggangkan jari-jari tangan agar tidak saling

berhimpit.
8) Atur kedua processus stiloideus berjarak sama terhadap kaset

agar tidak terjadi rotasi.


9) Berilah arahan kepada pasien untuk dalam keadaan rileks

untuk menghindari pergerakan.


10) Untuk fiksasi di samping kedua sisi lengan diberi sandbag

dan bagian bawah dapat diber softbag untuk kenyamanan

pasien.

Gambar 12. Posisi objek teknik radiografi manus proyeksi

PA
 Pengaturan sinar dan eksposi
1) Arah sinar/central ray (CR) : Vertikal tegak lurus terhadap

kaset.
2) Titik bidik/central pint (CP) : Pada metacarpophalangeal

joint digiti III


3) Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
4) Ukuran film dan kaset : 18 x 24 cm

27
5) Eksposi : 40-50 kVp, 4-5 mAs, non

grid
 Kriteria radiograf
4) Tampak gambaran carpal, metacarpal dan phalang dalam

posisi PA kecuali thumb (oblique), interarticulasio dari ossa

manus, distal radius dan ulna.


5) Soft tissue tampak, trabecula tulang tampak.
6) MCP dan interphalangeal joint membuka.

Teknik Radiografi Ossa Manus Proyeksi Oblik

 Posisi pasien
Pasien duduk menyamping meja pemeriksaan dengan sisi

yang sakit dekat dengan meja pemeriksaan, atur ketinggian posisi

duduk sehingga lengan dapat diletakkan di atas meja pemeriksaan

dengan nyaman.

 Posisi objek
1) Fleksikan lengan pada meja pemeriksaan dan atur tangan

sehingga tepat berada di pertengahan lapangan penyinaran.


2) Letakkan tangan secara tegak miring diatas kaset dimana sisi

jari kelingking menempel pada kaset kemudian rotasikan

tangan sehingga membentuk sudut 45 derajat terhadap kaset

pada posisi prone.


3) Jari-jari tangan diatur sedemikian rupa sehingga jari-jari

tangan membuka dan tidak saling bertumpuk. Gunakan jari-jari

tangan untuk fiksasi atau dapat menggunakan spon/busa yang

dibentuk 45 derajat untuk menempatkan masing-masing jari.


4) Berilah arahan kepada pasien untuk dalam keadaan rileks

untuk menghindari pergerakan.


28
Gambar 13. Posisi objek teknik radiografi manus proyeksi oblik

 Pengaturan sinar dan eksposi


11) Arah sinar/central ray (CR) : Vertikal tegak lurus terhadap

kaset
12) Titik bidik/central pint (CP) : Pada metacarpophalangeal

joint digiti III


13) Focus Film Distance (FFD) : 100 cm
14) Ukuran film dan kaset : 18 x 24 cm
15) Eksposi : 40-50 kvp, 4-5 mAs, non

grid.
 Kriteria radiograf
5) Tampak gambaran tulang carpal, metacarpal, phalang dalam

posisi oblik.
6) Tampak caput metacarpal 3,4 dan 5 sedikit overlap.
7) Soft tissue dan trabecula tampak.
8) MCP dan interphalangeal membuka.

3.4. Hasil Pembacaan Radiograf

Foto rontgen ossa manus dextra dan sinistra :

Tak terlihat dislokasi tulang, phalang distal digit 4 dextra dan phalang distal

digit 3,4 sinistra terlihat goutarthritis.

29
Gambar 14. Foto Hasil Pemeriksaan Radiografi Ny.S

30
3.5. Pembahasan Kasus

Penyakit goutarthritis merupakan suatu reaksi radang pada sendi yang

disebabkan oleh deposisi kristal monosodium urat, kalsium pirofosfat dihidrat,

kalsium hidroksiapatit, dan kalsium oksalat. Penyakit ini biasanya menyerang pria

berusia paruh baya hingga lanjut usia dan pada wanita biasanya terjadi setelah

masa menopause. Timbulnya penimbunan mineral ini disebabkan oleh deposisi

yang patologis pada sendi, setelah itu akan terjadi reaksi inflamasi sebagai respon

tubuh terhadap deposit kristal tersebut yang dianggap sebagai antigen. Pada tahap

lanjut akan dijumpai deposisi kristal dalam jumlah banyak dan mengalami

granulasi, khusus pada goutarthritis hal ini dinamai sebagai tofi.

Gejala klinis dari goutarthritis sangat dipengaruhi oleh proses

terjadinya penyakit s e p e r t i y a n g t e l a h d i j e l a s k a n s e b e l u m n y a .

P a d a f a s e a k u t d i m a n a t e r j a d i d e p o s i s i k r i s t a l dalam jumlah

minimal yang memicu reaksi radang akan dijumpai gejala yang

mencolok berupa rasa panas, nyeri, bengkak, dan warna kemerahan pada sendi

yang terkena. diagnosa dari goutarthritis ditegakkan berdasarkan

anamnesa, pemeriksaan klinis,dan pemeriksaan penunjang. Umumnya

berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis sudah dapat ditegakkan

diagnosa sementara berupa suatu goutarthritis, namun untuk

menegakkan suatu diagnosa definitif diperlukan beberapa pemeriksaan

penunjang untuk goutarthritis, contoh pemeriksaan radiografi.

Pada pemeriksaan radiografi dengan diagnosa goutarthritis pada

persendian ossa manus, dianjurkan untuk dibuat proyeksi AP dan Oblik. Maksud
31
dari dibuatnya proyeksi antero-posterior (AP) dan oblik adalah untuk

memperlihatkan sendi-sendi pada ossa manus. Selain itu juga untuk melihat sendi

mana yang terkena goutarthritis.

Di instalasi radiologi RSUD dr. Soedono Madiun, pemeriksaan ossa

manus dengan kasus goutarthritis dibuat dengan proyeksi antero-posterior (AP)

dan oblik sesuai permintaan dan diagnosa dari dokter pengirim.

Dengan proyeksi ini akan terlihat sendi-sendi dari ossa manus yang

terkena goutarthritis pada sendi dari phalang ossa manus dextra dan sinistra digit 3

& 4 tampak pada hasil radiograf dengan gambaran opaq.

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

1. Pemeriksaan radiografi pada ossa manus dengan kasus goutarthritis di

RSUD dr. Soedono Madiun menggunakan proyeksi antero-posterior (AP)

dan oblik sehingga sendi-sendi dari ossa manus dapat dilihat dan

dibandingkan..

32
2. Proyeksi antero-posterior (AP) dan oblik ossa manus dengan kasus

goutarthritis adalah proyeksi yang mampu menampakan sendi dan tulang

ossa manus secara jelas dan tidak superposisi. Proyeksi antero-posterior

(AP) dan obik pada ossa manus sangat informatif untuk menegakkan

diagnosa pada kasus goutarthritis.

4.2. Saran

Pemeriksaan ossa manus pada kasus goutarthritis sebaiknya

menggunakan proyeksi antero-posterior (AP) dan oblik dengan jari-jari

tangan direnggangkan secara maksimal agar jari-jari tangan tidak saling

superposisi. Namun, jika jari-jari tangan pasien tidak mampu direnggangkan

secara maksimal, hal tersebut dapat dilakukan seadanya untuk kenyamanan

pasien.

33
DAFTAR PUSTAKA

Bontranger, K.L. 2001. Text Book of Radiographic Positioning and Related


Anatomy, Fifth Edition. St. Louis Missori : The CV Mosby Company.
Frank, Eugene D, Long, Bruce W, Smith, Barbara J, 2012. Merril’s Atlas of

Radiographic Positioning and Procedures, Volume One, Twelfth Edition,

St. Louis : Mosby Elsevier

Price, Sylvia. A, Dan Wilson, Lorrains, M. 1995. Patofisiologi konsep klinis

proses-proses penyakit. Jakarta : Penerbit EGC.

http://digilib.unila.ac.id/6587/15/BAB%20II.pdf

https://id.scribd.com/doc/297407743/Paper-Gambaran-Foto-Polos-Pada-Gout-

Arthritis

34

Anda mungkin juga menyukai