Anda di halaman 1dari 14

Disusun Oleh :

-Muhamad Nasir -Miraz Ibrahim

-Tommy Tantowi -Dede Dali Mutakin

-Denden Muhamad Rr - Muhamad Ihsan Nul Hakim

-Juharika -Encep Dinar Romana

-Angga Rengga Mahendra -Irfan Jamaludin

Smk Kbu Limbangan Angkatan 2015 - 2016


Kata pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah PKN tentang pers pada era reformasi

Adapun makalah PKN tentang pers pada era reformasi ini telah kami usahakan
semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan
bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah PKN ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah PKN ini dapat diambil
hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
Daftar isi

Bab I pendahuluan

Latar belakang ………………………………………………………….………………………………..1

Tujuan …………………………………………………………………………..…………………………. 1

Ruang lingku ……….…………………………………………………….………………………………1

Bab ii isi

Pers pada era reformasi………………………………….………………………………………….. 2

Kebebasan pers di era reformasi……………….……………………………………………….. 4

Pembahasan materi lebih lanjut…………………...…………………………………………….. 7

Bab iii

Kesimpulan dan saran ………………………………………………………………………..…….11


BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perjalanan demokrasi di Indonesia masih dalam proses untuk mencapai suatu kesempurnan.
Wajar apabila dalam pelaksaannya masih terdapat ketimpangan untuk kepentingan penguasa
semata. Penguasa hanya mementingkan kekuasaan semata, tanpa memikirkan kebebasan rakyat
untuk menentukan sikapnya . Sebenarnya demokrasi sudah muncul pada zaman pemerintahan
presiden Soekarno yang dinamakan model Demokrasi Terpimpin, lalu berikutnya di zaman
pemerintahan Soeharto model demokrasi yang dijalankan adalah model Demokrasi Pancasila.
Namun, alih-alih mempunyai suatu pemerintahan yang demokratis, model demokrasi yang
ditawarkan di dua rezim awal pemerintahan Indonesia tersebut malah memunculkan
pemerintahan yang otoritarian, yang membelenggu kebebasan politik warganya.

Tujuan

Maklah ini di bertujuan untuk memberi informasi bagi para siswa untuk melengkapi materi pada
bab ini kebebasan pers pada setiap era terutama pers pada era reformasi

Ruang Lingkup

Penelitian ini akan mencakup cara membuat makalah yang baik dan benar dengan
memperhatikan tanda tanda tanda baca, cara penulisan, tata bahasa yang baik dan benar.

1
BAB II MATERI

Pers Pada Era Reformasi

Tak ada demokrasi tanpa kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat


merupakan salah satu hak paling mendasar dalam kehidupan bernegara. Sesuai
Prinsip Hukum dan Demokrasi, bahwa perlindungan hukum dan kepastian hukum
dalam menegakkan hukum perlu ada keterbukaan dan pelibatan peran serta
masyarakat. Untuk itu, kebebasan pers, hak wartawan dalam menjalankan fungsi
mencari dan menyebarkan informasi harus dipenuhi, dihormati, dan dilindungi.
Hal ini sesuai dengan UUD 45 Pasal 28 tentang kebebasan berserikat, berkumpul
dan berpendapat.

Sungguh ironi, dalam sistem politik yang relatif terbuka saat ini, pers
Indonesia cenderung memperlihatkan performa dan sikap yang dilematis. Di satu
sisi, kebebasan yang diperoleh seiring tumbangnya rezim Orde Baru membuat
media massa Indonesia leluasa mengembangkan isi pemberitaan. Namun, di sisi
lain, kebebasan tersebut juga sering kali tereksploitasi oleh sebagian industri media
untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan
fungsinya sebagai instrumen pendidik masyarakat. Bukan hanya sekedar celah
antara rakyat dengan pemimpin, tetapi pers diharapkan dapat memberikan
pendidikan untuk masyarakat agar dapat membentuk karakter bangsa yang
bermoral. Ada hal lain yang harus diperhatikan oleh pers, yaitu dalam membuat
informasi jangan melecehkan masalah agama, ras, suku, dan kebudayaan lain,
biarlah hal ini berkembang sesuai dengan apa yang mereka yakini.
Sayangnya, berkembangnya kebebasan pers juga membawa pengaruh pada
masuknya liberalisasi ekonomi dan budaya ke dunia media massa, yang sering kali
mengabaikan unsur pendidikan. Arus liberalisasi yang menerpa pers, 2
Liberalisasi ekonomi juga makin mengesankan bahwa semua acara atau
pemuatan rubrik di media massa sangat kental dengan upaya komersialisasi. Sosok
idealisme nyaris tidak tercermin dalam tampilan media massa saat ini. Sebagai
dampak dari komersialisasi yang berlebihan dalam media massa saat ini,
eksploitasi terhadap semua hal yang mampu membangkitkan minat orang untuk
menonton atau membaca pun menjadi sajian sehari-hari.
`Ide tentang kebebasan pers yang kemudian menjadi sebuah akidah pelaku
industri pers di Indonesia. Ada dua pandangan besar mengenai kebebasan pers ini.
Satu sisi, yaitu berlandaskan pada pandangan naturalistik atau libertarian, dan
pandangan teori tanggung jawab sosial.
Menurut pandangan libertarian, semenjak lahir manusia memiliki hak-hak
alamiah yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk oleh
pemerintahan. Dengan asumsi seperti ini, teori libertarian menganggap sensor
sebagai kejahatan. Hal ini dilandaskan pada tiga argumen. Pertama, sensor
melanggar hak alamiah manusia untuk berekspresi secara bebas. Kedua, sensor
memungkinkan tiran mengukuhkan kekuasaannya dengan mengorbankan
kepentingan orang banyak. Ketiga, sensor menghalangi upaya pencarian
kebenaran. Untuk menemukan kebenaran, manusia membutuhkan akses terhadap
informasi dan gagasan, bukan hanya yang disodorkan kepadanya.

Kebebasan pers sekarang yang dipimpin presiden Susilo Bambang


Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, negara dan bangsa kita membutuhkan
kebebasan pers yang bertanggung jawab (free and responsible press). Sebuah
perpaduan ideal antara kebebasan pers dan kesadaran pengelola media massa
(insan pers), khususnya untuk tidak berbuat semena-mena dengan kemampuan,
kekuatan serta kekuasaan media massa (the power of the press). Di bawah Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kebebasan 3
Indonesia idealnya dibangun di atas landasan kebersamaan kepentingan
pengelola media, dan kepentingan target pelayanannya, tidak peduli apakah
mereka itu mewakili kepentingan negara (pemerintah), atau kepentingan rakyat.

Dalam kerangka kebersamaan kepentingan dimaksud, diharap aktualisasi


kebebasan pers nasional kita, tidak hanya akan memenuhi kepentingan sepihak,
baik kepentingan pengelola (sumber), maupun teratas pada pemenuhan
kepentingan sasaran (publik media).

Pers harus tanggap terhadap situasi publik, karena ketidakberdayaan publik


untuk mengapresiasikan pendapatnya kepada pemimpin pers harus berperan
sebagai fasilitator untuk dapat mengapresiasikan apa yang diinginkan publik
terhadap pemimpinnya dapat terwujud.

KEBEBASAN PERS di ERA REFORMASI

Perjalanan pers di Indonesia masih dalam proses untuk mencapai suatu


kesempurnan. Wajar apabila dalam pelaksaannya masih terdapat ketimpangan
untuk kepentingan penguasa semata. Penguasa hanya mementingkan kekuasaan
semata, tanpa memikirkankebebasan rakyat untuk menentukan sikapnya .
Sebenarnya demokrasi sudah muncul pada zaman pemerintahan presiden Soekarno
yang dinamakan model Demokrasi Terpimpin, lalu berikutnya di zaman
pemerintahan Soeharto model demokrasi yang dijalankan adalah model Demokrasi
Pancasila. Namun, alih-alih mempunyai suatu pemerintahan yang demokratis,
model demokrasi yang ditawarkan di dua rezim awal pemerintahan Indonesia
tersebut malah memunculkan pemerintahan yang otoritarian, yang membelenggu
kebebasan politik warganya.

Begitu pula kebebasan pers di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden


Soekarno dan masa pemerintahan Presiden Soeharto sangat dibatasi oleh
kepentingan pemerintah. Pers dipaksa untuk memuat setiap berita harus tidak boleh
bertentangan dengan pemerintah, di era pemerintahan Soekarno dan Soeharto,
kebebasan pers ada, tetapi lebih terbatas untuk memperkuat status quo, ketimbang
guna membangun keseimbangan antarfungsi eksekutif, legislatif, yudikatif, dan
kontrol publik (termasuk pers). Karenanya, tidak mengherankan 4
pers saat itu lebih tampak sebagai wujud kebebasan (bebasnya) pemerintah,
dibanding bebasnya pengelola media dan konsumen pers, untuk menentukan corak
dan arah isi pers

Bagi Indonesia sendiri, pengekangan pemerintah terhadap pers di mulai tahun


1846, yaitu ketika pemerintah kolonial Belanda mengharuskan adanya surat izin
atau sensor atas penerbitan pers di Batavia, Semarang, dan Surabaya. Sejak itu
pula, pendapat tentang kebebasan pers terbelah. Satu pihak menolak adanya surat
izin terbit, sensor, dan pembredelan, namun di pihak lain mengatakan bahwa
kontrol terhadap pers perlu dilakukan.

Sebagai contoh adanya pembatasan terhadap pers dengan adanya SIUPP (Surat
Izin Usaha Penerbitan Pers) sesuai dengan Permenpen 01/1984 Pasal 33h. Dengan
definisi ”pers yang bebas dan bertanggung jawab”, SIUPP merupakan lembaga
yang menerbitkan pers dan pembredelan.
Terjadinya pembredelan Tempo, Detik, Editor pada 21 Juni 1994, mengisyaratkan
ketidakmampuan sistem hukum pers mengembangkan konsep pers yang bebas dan
bertanggung jawab secara hukum. Ini adalah contoh pers yang otoriter yang di
kembangkan pada rezim orde baru..

Sungguh ironi, dalam sistem politik yang relatif terbuka saat ini, pers Indonesia
cenderung memperlihatkan performa dan sikap yang dilematis. Di satu sisi,
kebebasan yang diperoleh seiring tumbangnya rezim Orde Baru membuat media
massa Indonesia leluasa mengembangkan isi pemberitaan. Namun, di sisi lain,
kebebasan tersebut juga sering kali tereksploitasi oleh sebagian industri media
untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan
fungsinya sebagai instrumen pendidik masyarakat. Bukan hanya sekedar celah
antara rakyat dengan pemimpin, tetapi pers diharapkan dapat memberikan
pendidikan untuk masyarakat agar dapat membentuk karakter bangsa yang
bermoral. Kebebasan pers dikeluhkan, digugat dan dikecam banyak pihak karena
berubah menjadi ”kebablasan pers”. Hal itu jelas sekali terlihat pada media-media
yang menyajikan berita politik dan hiburan (seks). Media-media tersebut
cenderung mengumbar berita provokatif, sensasional, ataupun terjebak mengumbar
kecabulan.

Ada hal lain yang harus diperhatikan oleh pers, yaitu dalam membuat informasi
jangan melecehkan masalah agama, ras, suku, dan kebudayaan lain, biarlah hal ini
berkembang sesuai dengan apa yangmereka yakini.

5
Sayangnya, berkembangnya kebebasan pers juga membawa pengaruh pada
masuknya liberalisasi ekonomi dan budaya ke dunia media massa, yang sering kali
mengabaikan unsur pendidikan. Arus liberalisasi yang menerpa pers, menyebabkan
Liberalisasi ekonomi juga makin mengesankan bahwa semua acara atau pemuatan
rubrik di media massa sangat kental dengan upaya komersialisasi. Sosok idealisme
nyaris tidak tercermin dalam tampilan media massa saat ini. Sebagai dampak dari
komersialisasi yang berlebihan dalam media massa saat ini, eksploitasi terhadap
semua hal yang mampu membangkitkan minat orang untuk menonton atau
membaca pun menjadi sajian sehari-hari.

Ide tentang kebebasan pers yang kemudian menjadi sebuah akidah pelaku industri
pers di Indonesia. Ada dua pandangan besar mengenai kebebasan pers ini. Satu
sisi, yaitu berlandaskan pada pandangan naturalistik atau libertarian, dan
pandangan teori tanggung jawab sosial.

Menurut pandangan libertarian, semenjak lahir manusia memiliki hak-hak alamiah


yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk oleh pemerintahan.
Dengan asumsi seperti ini, teori libertarian menganggap sensor sebagai kejahatan.
Hal ini dilandaskan pada tiga argumen. Pertama, sensor melanggar hak alamiah
manusia untuk berekspresi secara bebas. Kedua, sensor memungkinkan tiran
mengukuhkan kekuasaannya dengan mengorbankan kepentingan orang
banyak. Ketiga, sensor menghalangi upaya pencarian kebenaran. Untuk
menemukan kebenaran, manusia membutuhkan akses terhadap informasi dan
gagasan, bukan hanya yang disodorkan kepadanya.

Kebebasan pers sekarang yang dipimpin presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
Wakil Presiden Jusuf Kalla, negara dan bangsa kita membutuhkan kebebasan pers
yang bertanggung jawab (free and responsible press). Sebuah perpaduan ideal
antara kebebasan pers dan kesadaran pengelola media massa (insan pers),
khususnya untuk tidak berbuat semena-mena dengan kemampuan, kekuatan serta
kekuasaan media massa (the power of the press). Di bawah Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kebebasan pers Indonesia
idealnya dibangun di atas landasan kebersamaan kepentingan pengelola media, dan
kepentingan target pelayanannya, tidak peduli apakah mereka itu mewakili
kepentingan negara (pemerintah), atau kepentingan rakyat.

Dalam kerangka kebersamaan kepentingan dimaksud, diharap aktualisasi


kebebasan pers nasional kita, tidak hanya akan memenuhi kepentingan sepihak,
baik kepentingan pengelola (sumber), maupun teratas pada pemenuhan
kepentingan sasaran (publik media). 6
Pers harus tanggap terhadap situasi publik, karena ketidakberdayaan publik untuk
mengapresiasikan pendapatnya kepada pemimpin pers harus berperan sebagai
fasilitator untuk dapat mengapresiasikan apa yang diinginkan publik terhadap
pemimpinnya dapat terwujud.

B.Metodologi
Dalam penelitian ini kami menggunakan metode komparatif. Metode Komparatif
merupakan metode yang digunakan dalam penelitian yang diarahkan untuk
mengetahui apakah antara dua variable ada perbedaan dalam suatu aspek yang
diteliti. Dalam konteks ini relevansi penggunaan metodologi komperatif adalah
untuk mengetahui peran serta hambatan didalam berlangsungnya suatu
pemerintahan yakni perbandingan antara masa orde baru dan masa reformasi.
Kendatipun demikian, berdasarkan pengetahuan sejarah yang ada dan hasil dari
pembandingan diantara kedua masa kekuasaan tersebut menghasilkan analisa
secara statistic untuk mencari perbedaan variable yang diteliti.

C.Rumusan Masalah
1.Bagaimana peran pers dalam demokratisasi di Indonesia khususnya
dalam peristiwa revolusi Mei 1998? 2.

Faktor-faktor apa saja yang menghambat pers dalam upaya mewujudkan


demokratisasi di Indonesia, khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998?

D.Batasan Masalah
Mengingat cukup luasnya bahasan dalam kajian kali ini, guna mempermudah
memahami Penulis mengambil batasan masalah mulai dari peran pers pada massa
Soeharto, khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998, serta kendala-kendala
yang dihadapi oleh pers.

Pembahasan materi lebih lanjut tentang pers


Tidak bisa dipungkiri bahwa pers memiliki peran yang sangat penting di suatu
negara. Tanpa pers, tidak ada informasi yang bisa tersalurkan baik dari rakyat ke
pemerintahnya maupun sebaliknya. Singkat kata, pers memiliki posisi tawar yang
tidak bisa diremehkan. Konsepsi Riswandha (1998 : 101) mengatakan bahwa ada
empat pilar pemelihara persatuan bangsa, salah satunya adalah kaum intelektual
atau pers. Pers berfungsi sebagai pemikir dan penguji konsep-konsep yang
diterapkan pada setiap kebijakan. Pada masa orde baru, pers bisa dikatakan tidak 7
ada fungsinya untuk warga negara. Pers sangat terlihat hanya sebagai
boneka penguasa. Tidak ada kebebasan berpendapat yang dijanjikan pemerintah
pada awal awal kekuasaan orde baru. Keberadaan pers diawasi secara ketat oleh
pemerintah di bawah naungan departemen penerangan. Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi hal

hal buruk di dalam pemerintahan orde baru sampai di telinga masyarakat. Pers
tidak bisa melakukan apapun selain patuh pada aturan yang ditetapkan oleh
pemerintah. Aspirasi masyarakat untuk pemerintah tidak tersalurkan sama sekali.
Hal ini dikarenakan komunikasi politik yang terjadi hanya top

down. Artinya pers hanya sebagai komunikator dari pemerintah ke rakyat. Pers
tidak dapat melakukan fungsinya sebagai komunikator dari rakyat ke pemerintah.
Selain itu, pemberitaan yang disalurkan ke masyarakat mengenai pemerintah harus
merupakan berita

berita yang menjunjung tinggi keberhasilan pemerintah. Yang diberitakan
hanyalah sesuatu yang baik. Apabila suatu media nekat menerbitkan pemberitaan

pemberitaan miring soal pemerintah, bisa di pastikan nasib media tersebut berada
di ujung tanduk. Berdasarkan teori politik yang dipaparkan diatas, jelas bahwa pers
pada masa orde baru sangat dikendalikan oleh pemerintah. Kontrol pemerintah
terhadap pers tidak dapat diragukan lagi, begitu juga dengan pegaruhnya.
Kebijakan

kebijakan yang dikeluarkan pemerintah orde baru sangat tidak mendukung
keberadaan pers. Salah satu contohnya adalah kebijakan SIUPP, yakni Surat Izin
untuk Penerbitan Pers, yang mana sangat tidak pro-pers. Pers mengalami kesulitan
saat dituntut untuk melasanakan fungsi

fungsi yang secara alamiah melekat padanya, khususnya fungsi mereka bagi
masyarakat. Fungsi pers bagi masyarakat adalah menampilkan informasi yang
berdimensi politik lebih banyak dibandingkan dengan

ekonomi, dengan didominasi subyek negara serta kecenderungan pers untuk lebih
berat ke sisi negara harus dilakukan dengan cara lebih memilih realitas psikologis
dibanding dengan realitas sosiologis. Tidak hanya itu, 9 elemen dasar Bill Kovach
mengenai jurnalisme yang seharusnya diamalkan oleh pers tidak terlaksana. 9
elemen dasar tersebut adalah :
8
1.Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
2.Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
3.Esensi utama jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4.Jurnalis harus menjaga indepedensi dari objek liputannya
5.Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan
6.Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan
kompromi
7.Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8.Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9.Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personelnya Jika sudah
begitu, bisa dikatakan pers telah kehilangan jati dirinya.
Contoh
kediktatoran pemerintah terhadap pers adalah peristiwa 21 Juni 1994. Saat itu
beberapa media massa seperti Tempo, deTIK, dan editor dicabut surat izin
penerbitannya atau dengan kata lain dibredel setelah mereka mengeluarkan laporan
investigasi tentang berbagai penyelewengan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat
Negara. Akan tetapi, meskipun pemerintah telah membungkam media sedemikian
rupa, tetapi saja ada media yang pantang menyerah melakukan perlawanan pada
pemerintah. Salah satunya adalah Tempo. Pemerintah orde baru selalu merasa
terancam dengan keberadaan Tempo. Hal tersebut wajar karena sikap pantang
menyerah yang ditanamkan media tersebut kepada wartawan

wartawannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Tempo menjadi media terpenting
pada masa orde baru. Sesungguhnya pada masa orde baru terdapat lembaga yang
menaungi pers di Indonesia, yaitu Dewan Pers. Sesuai UU Pers Nomor 40 tahun
1999, dewan pers adalah lembaga independen yang dibentuk sebagai bagian dari
upaya untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan
pers nasional. Berdasarkan amanat UU, dewan pers meiliki 7 fungsi :

1.Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain, bisa pemerintah
dan juga masyarakat
2.Melakukan pengkajian untuk pengembangan keidupan pers
3.Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik jurnalistik
4.Memberikan pertimbangan dan pengupayaan penyelesaian pengaduan
masyarakat atas kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers
5.Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah.
6.Memfasilitasi organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan
meningkatkan kualitas profesi wartawan
7.Mendata persahaan pers Namun sangat disayangkan bahwa dewan pers masa
orde baru tidak melaksanakan fungsinya dengan efektif. 9
Ironisnya, dewan pers justru tidak melindungi rekan sesama jurnalis. Hal
tersebut terlihat saat peristiwa pembredelan media tahun 1994. Banyak anggota
dewan pers yang tidak meyetujui pemberedelan tersebut, namun dewan pers
dipaksa menyetujui langkah pemerintah tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukan
dewan pers selain mematuhi instruksi pemerintah. Menolak sama artinya dengan
melawan pemerintah. Bisa disimpulkan keberadaan dewan pers masa orde baru
hanya sebatas formalitas.

Bagaimana dengan kebebasan pers pada masa reformasi? Tidak bisa


dipungkiri bahwa pers pada masa orde baru sangat berbeda dengan pers pada masa
reformasi. Tidak ada kebebasan pers pada masa orde baru. Namun, saat orde baru
tumbang, pers seperti kehilangan kendali. Arus kebebasan dibuka lebar

lebar secara spontan. Gelombang kebebasan pers tercipta secara besar besaran,
bukan perlahan dengan proses yang seharusnya. Suatu kebijakan yang monumental
karena dianggap sebagai tonggak dimulainya kebebesan pers di Indonesia yakni
dikeluarkannya Permenpen No. 01/per/Menpen/1998, tentang Kententuan

Ketentuan SIUPP. Pada Permenpen ini, sanksi pencabutan SIUPP maupun
pembreidelan bagi pers ditiadakan. Ada lima peraturan, baik berupa Peraturan
Menteri maupun Surat Keputusan Menteri, yang keseluruhannya menghambat
ruang gerak pers, dicabut. Puncaknya adalah dikeluarkannya Undang- Undang No.
40 Tahun 1999 tentang Pers. Terdapat pasal di dalam undang-undang ini yang
menyatakan pencabutan semua undang- undang pers yang ada sebelumnya. Sejak
saat itu, tidak ada lagi kebijakan pemerintah yang memberatkan pers. Akibatnya,
permintaan untuk izin penerbitan meningkat. Pers masa reformasi selalu
dihubungkan dengan demokrasi. Yang mana demokrasi berarti kebebasan untuk
berbicara dan mengeluarkan pendapat. Salah satu indikator demokrasi adalah
terciptanya jurnalisme yang independen. Walaupun pada kenyataannya saat

10
BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Perjalanan pers di Indonesia masih dalam proses untuk mencapai suatu


kesempurnan. Wajar apabila dalam pelaksaannya masih terdapat ketimpangan
untuk kepentingan penguasa semata. Penguasa hanya mementingkan kekuasaan
semata, tanpa memikirkankebebasan rakyat untuk menentukan sikapnya .
Sebenarnya demokrasi sudah muncul pada zaman pemerintahan presiden Soekarno
yang dinamakan model Demokrasi Terpimpin, lalu berikutnya di zaman
pemerintahan Soeharto model demokrasi yang dijalankan adalah model Demokrasi
Pancasila.

Saran

Dengan dibuatnya makalah ini semoga para siswa dapat mengerti tentang
perkembangan pers di setiap eranya terutama pers di era reformasi.

www.pknnisme.neks.com 11