Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

Kebebasan pers dalam masyarakat


demokrasi di Indonesia

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3
DASMA
ANDARIAS
MAGVIRAH
ISMAL
BAMBANG
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami ucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan hidayah-NYA serta keluasan ilmu-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Pendidikan Kewarganegaraan ini dengan baik.
Makalah yang berjudul “Kebebasan PERS dalam Masyarakat Demokrasi di
Indonesia” disusun untuk memenuhi tugas mata Pelajaran PKN. Makalah ini telah kami susun
dengan baik dan saksama berdasarkan landasan teori dari seluruh referensi yang terkumpul
sehingga dari beberapa refrensi tersebut kami pilih untuk dijadikan referensi utama. Tidak pula
dipungkiri bahwa bantuan dari banyak pihak yang dengan sukarela membantu kami sehingga
mempermudah proses penyusunan makalah ini.
Kami sebagai penyusun menyadari akan adanya beberapa kekurangan dalam susunan
makalah kami, sehingga saran dan masukan dari pembaca kami harapkan untuk memperbaiki
kekurangan-kekurangan dalam susunan makalah ini di penyusunan makalah berikutnya.
Besar harapan kami bahwa makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa pun yang
membacanya, serta dapat menjadi sumber kontribusi penambahan pengetahuan bagi para
pembaca.

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...............................................................................................................


KATA PENGANTAR .............................................................................................................
DAFTAR ISI ..........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................
A. Latar Belakang .........................................................................................................
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................................
A. Fungsi dan Peran Pers dalam Masyarakat ................................................................
B. Kebebasan Pers di Masyarakat : Perlukah dibatasi? .................................................
BAB III KESIMPULAN ..........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebebasan berkomunikasi di Indonesia sedianya telah diatur oleh undang-undang
1945 pasal 28 F yang berbunyi ‘Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk
mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Pada bagian pasal yang menyebutkan
menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia, ada pihak
yang bekerja dengan berdasarkan hal tersebut. Pihak tersebut dikenal dengan nama pers.
Sejak dahulu pers telah ada di Indonesia. Pada masa sebelum kemerdekaan, pers di
Indonesia pernah menyampaikan berita kekalahan Jepang, yang menyebabkan semakin
besarnya keinginan rakyat untuk merdeka. Pada masa orde lama pers di Indonesia
mengabarkan berita-berita seperti sepak terjang Belanda yang ingin kembali menjajah tanah
air maupun pemberontakan- pemberontakan yang terjadi pada masa itu. Pemerintah orde baru
di Indonesia merupakan rezim pemerintahan yang sangat membatasi kebebasan pers . Hal ini
terlihat, dengan keluarnya Peraturan Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izin
Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk
mengontrol isi redaksional pers.
Kini, berkat campur tangan mahasiswa Indonesia memasuki masa reformasi yang juga
dialami oleh pers. Berbeda dengan pada masa pemerintahan orde baru, pers tidak perlu
sembunyi lagi dalam menyampaikan berita. Semua ditampilkan apa adanya, seperti rekaman
percakapan Artalytha dengan jaksa Urip. Pers sendiri menyebutnya dengan kebebasan pers.
Namun, apakah kebebasan pers yang dimaksud sudah sesuai dengan undang-undang maupun
kode etik ataukah masih banyak pelanggaran pers yang terjadi? Hal inilah yang akan dibahas
lebih lanjut dalam isi makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah fungsi dan peran Pers dalam masyarakat ?
2. Apakah Perlu dibatasi peran Pers dalam masyarakat?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui fungsi dan peran Pers dalam masyarakat serta mengetahui apakah ada
batasan Pers dalam masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN

A. Fungsi dan Peran Pers dalam Masyarakat


Istilah pers berasal dari bahasa Belanda, yang berarti dalam bahasa Inggris berarti
press. Secara harfiah pers berarti cetak, dan secara maknafiah berarti penyiaran secara
tercetak atau publikasi secara dicetak. Dalam pandangan orang awam, jurnalistik dan pers
seolah sama atau bisa dipertukarkan satu sama lain. Sesungguhnya tidak, jurnalistik
menujuk pada proses kegiatan, sedangkan pers berhubungan dengan media. Dapat
dikatakan pers adalah suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
menjalankan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara
dan gambar serta data grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media
cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. Dimana pers saat ini tidak
hanya terbatas pada media cetak maupun media elektronik tetapi juga telah merambah ke
berbagai medium infromasi seperti internet.
Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungi pers ialah
sebagai
 Media informasi : dengan kata lain informasi yang disajikan oleh pers haruslah
akurat, up to date, data yang disajikan tidak setengah-setengah/kurang lengkap,
tentunya disajikan dengan menarik. Karena jika tidak memenuhi kriteria diatas pers
tersebut tidak akan bisa menarik perhatian masyarakat maupun kepercayaaan
masyarakat berkurang pada pihak pers tersebut.
 Pendidikan : informasi yang disajikan hendaknya bersifat mendidik, dengan kata lain
penting adanya menyajikan informasi berdasar data yang valid serta lengkap dan jelas.
 Hiburan : tentunya dengan menyampaikan informasi ringan nan menghibur, maupun
cerita – cerita lucu, fungsi pers dapat menjadi media pelepas stress.
 Kontrol sosial : terkandung makna demokratis yang didalamnya terdapat unsur-unsur
sebagai berikut:
1. Social particiption yaitu keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan.
2. Social responsibility yaitu pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat.
3. Social support yaitu dukungan rakyat terhadap pemerintah.
4. Social Control yaitu kontrol masyarakat terhadap tindakan-tindakan pemerintah.
 Lembaga Ekonomi: pers adalah suatu perusahaan yang bergerak dibidang pers dapat
memanfaatkan keadaan di sekitarnya sebagai nilai jual sehingga pers sebagai lembaga
sosial dapat memperoleh keuntungan maksimal dari hasil produksinya untuk
kelangsungan hidup lembaga pers itu sendiri.
Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan yaitu
untuk memenuhi hak masyarakat seperti
 Mengetahui menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi,
 Mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia,
 Menghormati kebhinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi
yang tepat, akurat, dan benar melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum serta,
 Memperjuangkan keadilan dan kebenaran
Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai
pilar keempat demokrasi (the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan
yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan
pers itu baru dapat dijalankan secara optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari
pemerintah.

B. Kebebasan Pers di Masyarakat : Perlukah dibatasi?


Hingga saat ini sejauh mana kebebasan pers di Indonesia masih diperdebatkan. Pihak pers
menganggap kebebasan pers masih kurang dan terlalu dibatasi oleh undang-undang.
Masyarakat berpendapat sebaliknya. Menilik berbagai pelanggaran kode etik yang
dilakukan pers, ada pendapat bahwa undang- undang yang mengatur kebebasan pers perlu
direvisi kembali agar pihak pers tidak kebablasan. Berbicara mengenai perubahan dalam
dunia pers menjadi suatu hal yang pada saat ini berada dalam suatu persimpangan dan
dikotomi, apakah akan dianut kebebasan pers secara murni sebagaimana di negara-negara
industri atau barat, atau pers yang akan tetap berada dalam batasan hukum, yang dalam hal
ini adalah batasan hukum pidana.
Mengenai nilai-nilai kebebasan pers sendiri, hal tersebut telah diakomodir di dalam UUD
1945 yang telah diamandemen, yaitu diatur dalam Pasal 28, Pasal 28 E Ayat (2) dan (3)
serta Pasal 28 F. Oleh karena itu jelas negara telah mengakui bahwa kebebasan
mengemukakan pendapat dan kebebasan berpikir adalah merupakan bagian dari
perwujudan negara yang demokratis dan berdasarkan atas hukum.
Namun demikian, perlu disadari bahwa insan pers tetaplah warga negara biasa yang tunduk
terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. Dalam hal ini, bagaimanapun juga asas
persamaan dihadapan hukum atau equality before the law tetap berlaku terhadap semua
warga negara Indonesia termasuk para wartawan, yang notabene adalah insan pers. Asas
persamaan di hadapan hukum tersebut juga diatur secara tegas dalam UUD 1945 yang
telah diamandemen yaitu di dalam Pasal 27 Ayat (1) dan Pasal 28 D Ayat (1). Dengan
demikian para insan pers di Indonesia tidak dapat dikecualikan atau memiliki kekebalan
(immune) sebagai subyek dari hukum pidana dan harus tetap tunduk terhadap Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang berlaku di Indonesia.
Salah satu contoh hangat tentang tidak sesuainya kebebasan pers di Indonesia,
yaitu di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) secara sensasional media pers
membuat foto, nama lengkap dosen dan mahasiswa yang melakukan hubungan intim
termasuk mahasiswa yang melakukan aborsi. Selain itu, hukum cambuk bagi bukan suami
istri berkencan di NAD disiarkan foto dan identitasnya. Sangat sedikit media berusaha
menghindari pelanggaran etika dalam pemberitaan itu.Padahal dalam kode etik
jurnalistik pasal 5 disebutkan bahwa “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan
menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang
menjadi pelaku kejahatan.”
Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti kebebasan pers telah dikekang oleh undang-undang.
Justru, konsep berpikir yang harus dikembangkan adalah perangkat perundang-undangan
tersebut dibuat dan diberlakukan dengan tujuan untuk membentuk pers yang seimbang,
transparan dan profesional.Bagaimanapun juga harus diakui bahwa pers di Indonesia
belum seluruhnya telah menerapkan suatu kualitas pers yang profesional dan bertanggung
jawab dalam membuat pemberitaan. Oleh karena itu kebebasan pers perlu diberikan
pembatasan-pembatasan paling tidak melalui rambu hukum, sehingga pemberitaan yang
dilakukan oleh pers, dapat menjadi pemberitaan pers yang
bertanggung jawab.Yangmenjadi masalah dalam pemberitaan pers adalah jika
pemberitaan pers digunakan sebagai alat untuk memfitnah atau menghina seseorang atau
institusi dan tidak mempunyai nilai berita (news), dan di dalam pemberitaan tersebut
terdapat unsur kesengajaan (opzet) dan unsur kesalahan (schuld) yang memenuhi unsur-
unsur tindak pidana. Jadi yang perlu ditekankan disini adalah, pidana tetap harus
diberlakukan terhadap pelaku yang dengan sengaja melakukan penghinaan atau fitnah
dengan menggunakan pemberitaan pers sebagai media. Sementara kebebasan pers untuk
melakukan pemberitaan jika memang dilakukan secara bertanggung jawab dan
profesional, meskipun ada kesalahan dalam fakta pemberitaan tetap tidak boleh dipidana.
Harus diakui bahwa belum semua pers Indonesia dikelola secara profesional dan mampu
melakukan pemberitaan yang bertanggung jawab, banyak perusahaan pers yang
mengeluarkan berita-berita gosip dan pernyataan-pernyataan yang tidak benar atau bias.
Di lihat dari sisi lain kepentingan masyarakat, tentu saja pers yang tidak berkualitas akan
sangat merugikan karena tidak mendidik masyarakat dan sebagai pembentuk opini publik,
pers akan sangat berbahaya jika dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu yang memiliki
tujuan-tujuan yang melanggar hukum.
Oleh karena itu jika dipandang dari sudut pandang hukum pidana khususnya dalam RUU
KUHP, hukum secara seimbang telah mengatur antara kebebasan pers dan pertanggung
jawaban isi dari beritanya, dan perlu diingat bahwa pasal-pasal penghinaan dan fitnah
dalam RUU KUHP adalah pasal-pasal yang mengatur mengenai tindak pidana penghinaan
dan fitnah secara umum (general) jadi tidak hanya mengacu pada pemberitaan pers saja.
Justru dengan adanya pasal-pasal mengenai penghinaan dan fitnah dalam RUU KUHP
maka pers Indonesia didorong untuk menjadi lebih profesional dan lebih bertanggung
jawab dalam menerbitkan pemberitaan. Hal tersebut karena pers selain mempunyai tugas
untuk memberikan informasi secara terbuka dan transparan terhadap masyarakat, pers juga
memiliki tanggung jawab untuk mendidik masyarakat dan untuk menjaga opini publik,
yang rentan terhadap situasi sosial politik di negara seperti Indonesia.
Akan tetapi ada yang perlu dikritisi dalam pasal-pasal mengenai penghinaan dan fitnah
RUU KUHP yaitu mengenai pembuktian akan kebenaran tuduhan yang dibuat oleh
terdakwa penghinaan atau fitnah yang didasarkan atas kepentingan umum atau pembelaan
diri. Berdasarkan Pasal 512 Ayat (2) RUU KUHP pembuktian kebenaran tuduhan yang
dibuat oleh terdakwa penghinaan atau fitnah sepenuhnya tergantung pada keputusan
hakim, sedangkan seharusnya pembuktian mengenai apa yang dituduhkan sebagai
penghinaan atau fitnah harus dilakukan tanpa kecuali karena hal tersebut merupakan bukti
apakah si terdakwa benar melakukan tindak pidana atau tidak.
Hal lain yang perlu dikritisi adalah tidak efisiennya persidangan, karena sidang
pembuktian akan kebenaran tuduhan fitnah atau penghinaan pasti akan memakan waktu
yang lama sehingga asas peradilan yang cepat, dan biaya murah sulit untuk diterapkan
dalam kasus penghinaan dan fitnah. Sebagai penutup, kebebasan pers merupakan hal yang
mutlak untuk dijaga dan dijamin secara hukum. Namun demikian pers sebagai bagian dari
demokrasi harus memiliki profesionalisme dan tanggung jawab dalam melakukan
tugasnya. Oleh karena itu hukum berada di tengah masyarakat guna untuk menciptakan
keseimbangan antara demokrasi, kebebasan, dan tanggung jawab. Pers tidak kebal hukum
tetapi kebebasan pers tidak pernah terancam karena kebebasan pers bukan merupakan
kejahatan.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pembahasan isi makalah diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
· Pers adalah suatu wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik
meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan
informasi dengan menggunakan berbagai media dan segala jenis saluran yang tersedia.
· Kebebasan pers tidak perlu dikekang, namun pers sebagai pihak yang memiliki kebebasan
pers harus memiliki tanggung jawab serta profesionalitas dalam melaksanakan tugasnya,
sehingga tidak ada lagi masalah hukum yang melibatkan kebebasan pers sebagai penyebab
utama.
· Namun kebebasan pers juga perlu diberikan pembatasan-pembatasan paling tidak melalui
rambu hukum agar pemberitaan yang dilakukan oleh pers tetap menjadi pemberitaan yang
bertanggung jawab
DAFTAR PUSAKA

http://www.duniaesai.com/hukum/hukum2.html

http://id.shvoong.com/law-and-politics/1785809-fungsi-dan-peranan-pers-di/

http://halil4.wordpress.com/2010/01/11/bab-3-peranan-pers/

http://www.scribd.com/doc/2654690/MAKALAH-PERS