Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIK KLINIK

KESEHATAN JIWA I
KONSELING PADA KLIEN NARKOBA DAN PENCURIAN

LAPAS II – B MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH :

RUCHUS ADHI PRADANA

201401137

PROGRAM STUDY S1 KEPERAWATAN


STIKES BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
2016
KASUS I : NARKOBA
RABU, 08 JUNI 2016
Tn.A 24 tahun, masuk Lapas bulan Mei 2016 jam 23.00 WIB dibawa dari rumahnya jombang
saat pesta narkoba, oleh polres jombang, dengan alasan menggunakan/mengonsumsi narkoba
dengan teman – temannya. Tn. A 24 tahun, mengatakan pernah melihat para pengguna narkoba
di tv, yang kemudian muncul fikiran untuk mencicipi bagaimana rasanya barang berbahaya /
narkoba tersebut. Untuk menghilangkan rasa ingin tahunya terhadap narkoba, Tn A mencoba
narkoba dengan teman – temannya. Meskipun begitu, Tn A masih mendapat support dari pihak
keluarga, istri, dan anak klien masih baik, ini dapat dibuktikan dengan kondisi klien yang mau
berinteraksi dengan keluarga maupun istri dan anaknya, serta temannya. Di keluarga Tn A,
masih memiliki istri dan satu anak laki – laki. Setiap kali diajak bicara klien mau melihat lawan
bicaranya, bicaranya cepat, volume lembut. Jawabannya datar dan singkat. Klien berharap
dirinya bisa berkumpul kembali lagi dengan keluarganya dan tidak ingin merasakan narkoba
lagi. Klien mengatakan “kapok” dengan narkoba. Klien masih menyayangi anaknya yang masih
kecil serta tidak mau merusak masa depan anaknya sendiri akibat narkoba.
Klien dalam memenuhi kebutuhannya masih baik. Perawatan kesehatan klien yang tampak
baik Rambut tidak kusut, bersih, rapi, dan “cepak” tidak “gondrong”. Gigi tampak putih normal.
Dari segi kebutuhan keamanan klien tidak merasa curiga dengan orang lain. Kebersihan badan
bersih, badan tidak bau. Kuku terlihat pendek, putih normal, dan terawat. Terdapat banyak tato di
lengannya.

JAWAB :
1. Faktor Predisposisi
Tn. A 24 tahun, mengatakan pernah melihat para pengguna narkoba di tv, yang kemudian
muncul fikiran untuk mencicipi bagaimana rasanya barang berbahaya / narkoba tersebut.

2. Faktor Presipitasi
Klien mengatakan asalnya mencoba atau “kepingin” merasakan bagaimana enaknya
narkoba.

3. Secondary Apprasial
Support dari pihak keluarga, istri, dan anak klien masih baik, ini dapat dibuktikan dengan
kondisi klien yang mau berinteraksi dengan keluarga maupun istri dan anaknya, serta
temannya.
 Psikososial : Klien memiliki tidak masalah dalam hubungan dalam rumah dan juga tidak
memiliki masalah dalam hubungan dengan lingkungan, seperti bermusuhan dengan
seseorang.
 Status Mental
- Penampilan : Klien dalam memenuhi kebutuhannya baik. Perawatan kesehatan klien
yang tampak baik Rambut tidak kusut, bersih, rapi, dan “cepak” tidak “gondrong”.
Gigi tampak putih normal. Dari segi kebutuhan keamanan klien tidak merasa curiga
dengan orang lain. Kebersihan badan bersih, badan tidak bau. Kuku terlihat pendek,
putih normal, dan terawat. Terdapat banyak tato di lengannya.
- Emosi : Klien suka bergaul, klien sangat kecewa dengan dirinya yang mengonsumsi
narkoba, sehingga akan dapat merusak masa depan keluarga dan anaknya.
- Interaksi saat wawancara : Setiap kali diajak bicara klien mau melihat lawan
bicaranya, bicaranya cepat, volume lembut. Jawabannya datar dan singkat.

4. Mekanisme Koping
Tn. A memiliki mekanisme koping yang dekstruktif sehingga timbul respon atau perilaku
yang maladaptif, ini ditunjukkan dengan perilaku klien yang mengonsumsi narkoba untuk
menghilangkan rasa ingin tahunya terhadap narkoba.

5. KONSELING
1. Memberi penjelasan tentang dampak pengguna narkoba, baik secara fisik seperti dapat
merusak tubuh, maupun secara psikososial.
2. Memberikan motivasi dukungan klien agar tidak terjerusmus ke “lembah hitam” narkoba.
“Pak nanti setelah keluar dari lapas, bapak tidak lagi menggunakan narkoba lagi ya.
Meskipun kita ingin tahu apa itu narkoba dan bagiamana sih rasanya itu gak pakai dicoba
pak, bapak juga perlu memfiltering perilaku – perilaku mana yang baik dan yang buruk
yang ada di tv – tv, ya pak.”
3. Mengingatkan menggunakan narkoba hukumnya berdosa.
KASUS II : PENCURIAN
RABU, 08 JUNI 2016
Tn.E 46 tahun, masuk Lapas bulan sejak dua tahun yang lalu dibawa dari kantor
perusahaannya di trowulan, saat dipergoki mencuri barang kantor perusahaan. Tn. E ditangkap
polres trowulan, dengan alasan mencuri barang kantor, guna keperluan sehari – hari. Ia
dilaporkan oleh satpam yang menjaga kantor tersebut ke polisi. Dan kemudian dikirim ke Lapas
II B Mojokerto untuk dibina. Tn. E 46 tahun, mengatakan bahwa ia pernah mencoba meminjam
ke tetangganya, tetapi ia tidak mendapat pinjaman. Gaji pekerjaan Tn E kurang mencukupi untuk
kebutuhan sehari – hari, sehingga ia mencoba untuk meminjam ke tetangga serta teman
sejawatnya, namun masih saja tidak mendapat pinjaman. Ia dirumah mempunyai istri satu dan
mempunyai satu laki – laki dan satu perempuan, yang satunya masih kecil, dan yang satunya
masih SMA.
Meskipun klien melakukan kesalahan, klien masih mendapat support dari pihak keluarga,
istri, dan anak klien dengan baik, ini dapat dibuktikan dengan kondisi klien yang mau
berinteraksi dengan keluarga maupun istri dan anaknya tanpa ada hambatan. Saat diwawancara
ekspresi datar. Klien tampak kooperatif, sopan, dan tingkah lakunya tidak bergerak terus saat
diwawancara. Klien berharap dirinya bisa berkumpul kembali lagi dengan keluarganya dan tidak
ingin mencuri lagi. Rambut tidak kusut, bersih, rapi, dan sedikit panjang. Gigi tampak putih
normal. Kusut, tampak sedih saat ditanya tentang keluarga. Kebersihan badan bersih, badan tidak
bau. Kuku terlihat pendek, putih normal, dan terawat.
Klien mengatakan tidak akan mengulangi lagi dan masih menyayangi anaknya yang masih
kecil dan yang sekolah. Tn E juga mengatakan ingin mencari pekerjaan kembali yang lebih layak
untuk menghidupi kebutuhan sehari – hari keluarganya. Klien mengalami rasa kekecewaan pada
dirinya sendiri karena sudah melanggar norma dan peraturan dalam masyarakat yaitu mencuri.

JAWAB :
1. Faktor Predisposisi
Tn. E 46 tahun, mengatakan bahwa ia pernah mencoba meminjam ke tetangganya, tetapi
ia tidak mendapat pinjaman. Gaji pekerjaan Tn E kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari
– hari, sehingga ia mencoba untuk meminjam ke tetangga serta teman sejawatnya, namun
masih saja tidak mendapat pinjaman. Klien masih mengalami masalah dengan pekerjaannya,
dikarenakan ia telah dipecat oleh perusahaan yang telah ia curi barangnya.

2. Faktor Presipitasi
Tn.E 46 tahun, mencuri barang kantor perusahaan untuk mencukupi keperluan sehari –
hari dan menghidupi keluarganya yang mengalami krisis keuangan.

3. Secondary Aprasial
Klien mendapat support dari pihak keluarga, istri, dan anak klien dengan baik, ini dapat
dibuktikan dengan kondisi klien yang mau berinteraksi dengan keluarga maupun istri dan
anaknya.
 Psikososial : Klien memiliki tidak masalah dalam hubungan dalam rumah dan juga tidak
memiliki masalah dalam hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
 Status Mental
- Penampilan : Rambut tidak kusut, bersih, rapi, dan sedikit panjang. Gigi tampak
putih normal. Kusut, tampak sedih saat ditanya tentang keluarga. Kebersihan badan
bersih, badan tidak bau. Kuku terlihat pendek, putih normal, dan terawat.
- Emosi : Klien suka bergaul, klien sangat kecewa dengan dirinya yang telah mencuri
barang kantor perusahaan. Klien mengalami rasa kekecewaan pada dirinya sendiri
karena sudah melanggar norma dan peraturan dalam masyarakat yaitu mencuri.
- Interaksi saat wawancara : Klien tampak kooperatif, sopan, dan tingkah lakunya
tidak bergerak terus saat diwawancara. Klien berharap dirinya bisa berkumpul
kembali lagi dengan keluarganya dan tidak ingin mencuri lagi. Klien mengatakan
tidak akan mengulangi lagi

4. Mekanisme Koping
Tn. E memiliki mekanisme koping yang dekstruktif sehingga timbul respon atau perilaku
yang maladaptif, ini ditunjukkan dengan perilaku klien yang mencuri barang di kantor
perusahaan untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari keluarganya.

5. KONSELING
1. Memberi tahu tentang dampak mencuri itu, secara psikososial, seperti sering dicemooh
oleh masyarakat. Secara agama, dapat menyebabkan orang itu dosa.
2. Memberi motivasi
“ Bapak, jangan bersedih ya pak. Meskipun bapak terkena masalah seperti ini, bapak
harus tetap tegar dan sabar. Tetap semangat ya pak, baik dalam menjalani tahanan,
maupun nantinya setelah keluar lapas untuk menjalani kehidupan.”
3. Memberi saran
“ Maaf bapak, sebaiknya bapak bisa mencari alternatif lain dalam mencukupi kehidupan
sehari – hari seperti bapak bekerja sampingan berjualan gorengan atau yang lain. Jadi
bapak jangan terlalu putus asa terus mencuri, jangan ya pak”.
KASUS III : SABU – SABU
RABU, 10 JUNI 2016
Tn. Al berusia 26 tahun belum menikah. Tn Al belum bekerja karena faktor ekonomi, setelah
menjomblo selama hidupnya Tn Al larut dalam kesedihan sehingga ia mencoba mengonsumsi
sabu-sabu yang ditawarkan oleh temanya yang menyebabkan ia kecanduan dan terus
mengkonsumsi sabu bila ia merasa sedih.
Saat wawancara klien Tn Al mengatakan bahwa ia ditangkap oleh polisi 2 tahun yang lalu
karena diketahui mengkonsumsi sabu di rumahnya dengan temannya. Saat dilapas ia sering
dijenguk oleh keluarga. Keluarga sering menasehati dan memberi dukungan untuk Tn Al agar
tidak mengulangi kembali mengsonsumsi sabu lagi. Selama di lapas Tn Al rajin beribadah
mendekatkan diri kepada sang Pencipta dan taat akan peraturan yang ada, serta bersosialisasi
dengan narapidana yang lain. Saat diwawancara klien tampak kooperatif, sopan, dan tingkah
lakunya tidak bergerak terus saat diwawancara. Ekspresi klien datar. Klien juga berharap dirinya
bisa berkumpul kembali lagi dengan keluarganya dan tidak ingin menjadi pengguna sabu – sabu
lagi. Klien mengalami rasa bersalah dan kekecewaan pada dirinya sendiri dan keluarganya
karena sudah mencoreng nama baik keluarga dalam masyarakat yaitu mengonsumsi sabu – sabu.
Klien berharap dirinya bisa berkumpul kembali lagi dengan keluarganya dan tidak ingin
merasakan sabu – sabu lagi. Klien mengatakan akan menghentikan kebiasaannya tersebut agar
tidak merusak masa depan dirinya sendiri dan keluarga akibat barang “haram” tersebut.
Klien tampak Rambut tidak kusut, bersih, rapi, dan sedikit panjang. Gigi tampak putih
normal. Kusut, tampak sedih saat ditanya tentang keluarga. Bersih, badan tidak bau. Kuku
terlihat pendek, putih normal, dan terawat.

JAWAB :
1. Faktor Predisposisi
 Tn Al belum bekerja karena faktor ekonomi.
 Menjomblo selama hidupnya, Tn Al larut dalam kesedihan

2. Faktor Presipitasi
Saat Tn Al larut dalam kesedihan ia mencoba mengonsumsi sabu-sabu yang ditawarkan
oleh temanya yang menyebabkan ia kecanduan dan terus mengkonsumsi sabu bila ia merasa
sedih.

3. Secondary Apprasial
Support dari pihak keluarga klien masih ada dan baik, ini dapat dibuktikan dengan
kondisi klien yang sering dijenguk dua kali dalam seminggu, keluarga juga sering menasehati
dan memberi dukungan untuk Tn Al agar tidak mengulangi kembali mengsonsumsi sabu
lagi, dan klien juga mau berinteraksi dengan keluarga.
 Psikososial : Klien memiliki tidak masalah dalam hubungan dalam rumah dan juga tidak
memiliki masalah dalam hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi klien masih
mengalami masalah dengan pekerjaannya, dikarenakan ia telah dipecat oleh perusahaan
yang telah ia curi barangnya.
 Status Mental
- Penampilan : Rambut tidak kusut, bersih, rapi, dan sedikit panjang. Gigi tampak
putih normal. Kusut, tampak sedih saat ditanya tentang keluarga. Bersih, badan tidak
bau. Kuku terlihat pendek, putih normal, dan terawat.
- Emosi : Ekspresi klien datar. Klien mengalami rasa bersalah dan kekecewaan pada
dirinya sendiri dan keluarganya karena sudah mencoreng nama baik keluarga dalam
masyarakat yaitu mengonsumsi sabu – sabu.
- Interaksi saat wawancara : Saat diwawancara klien tampak kooperatif, sopan, dan
tingkah lakunya tidak bergerak terus saat diwawancara.

4. Mekanisme Koping
Tn. Al memiliki mekanisme koping yang dekstruktif sehingga timbul respon atau
perilaku yang maladaptif, ini ditunjukkan dengan perilaku klien yang mengonsumsi sabu –
sabu untuk menghilangkan rasa sedihnya.

5. KONSELING
1. Memberi informasi tentang dampak pengguna sabu – sabu, baik secara fisik seperti dapat
merusak tubuh, maupun secara psikososial, seperti dapat dikucilkan oleh masyarakat,
dihindari oleh orang – orang yang disekitar, & bisa menyebabkan dosa.
“Saat bapak keluar dari lapas, bapak harus bisa menghindari sabu – sabu ya pak, kasihan
keluarga yang harus ditinggal saat bapak masuk penjara karena kedapatan memakai sabu
– sabu, di masyarakat juga bapak di cap sebagai orang yang jahat, sehingga dijauhi oleh
warga sekitar, bahkan keluarga pun malu.”
2. Memberikan motivasi berupa dukungan terhadap klien agar tidak memakai sabu – sabu
lagi. seperti:
- Jika bapak sedih, bapak bisa menceritakannya ke orangtua biar nanti dapat dibantu
oleh orantua tentang masalahnya
- Atau jika bapak sedih, bisa di ceritakan ke pemuka agama tentang masalah yang
dihadapi bapak
- Dan jika bapak belum bisa mendapatkan pendamping hidup, bapak tidak boleh
berputus asa, karena jodoh itu sudah diatur sama yang di “Atas”
3. Memberikan cara agar terhidar dari sabu – sabu
- Tidak menjadikan sabu – sabu sebagai alternatif terakhir
- Menyalurkan perasaaan sedih dengan ibadah dan bermunajat ke Allah
- Menghindari ajakan teman yang mengajak main sabu – sabu.
4. Mengingatkan menggunakan sabu – sabu itu hukumnya haram.