Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNVERSITAS JEMBER

PRAKTIKUM PROBIOTIK & PREBIOTIK

Nama : Muhammad Teguh T

Nim : 161710101075

Kelompok/Kelas : 4/THP-C

Acara : Perhitungan dan Pertumbuhan Mikroba

Hari/Tgl. Praktikum : Kamis,Sabtu,Rabu/6,8,12 Desember 2018

Asisten :
1. Oriza Krisnata Wiwata
2. Rizka Dwi Khairunnisa
3. Sayyidah Nilatul Fauziyah
4. Dewi Astuti Purnama S.
BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan jumlah mikroba probiotik

Pada penelitian ini digunakan media MRSA sebagi medi pertumbuhan


mikroba probiotik. MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann,
Rogosa, dan Shape (1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis
Lactobacillus dari seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat,
magnesium, dan mangan yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor
pertumbuhan bagi Lactobacillus, sebaik nutrien diperkaya MRS agar tidak sangat
selektif, sehingga ada kemungkinan Pediococcus dan jenis Leuconostoc serta jenis
bakteri lain dapat tumbuh.

Sampel bahan yang digunakan sebanyak 6 bahan produk pangan yaitu yakult,
yogurt drink biokul, yakult drink chimory, yogurt biokul, yogurt elvire, yogurt
multirasa. Pengambilan sampel dilakukan pada pengenceran 6, 7 dan 8. Dengan total
sampel sebanyak 6 per sampel bahan. Diperoleh data bahwa mikroba terbanyak
tumbh pada sampel bahan BAL yakult dengan pengenceran 10-6 yaitu 90 dan 100.
Untuk sampel bahan lainnya terbilang tidak terjadi penumbuhan mikroba BAL.
Untuk mikroba non BAL pertumbuhan paling tinggi didaptkan sebanyak 11 jumlah
mikroba pada ssampel bahan yakult pengenceran 10-7, sedangkan bahan lainnya
berkisar kurang lebih 5 mikroba yang tumbuh, bahkan terdapat bebrapa sampel yang
tidak ditumbuhimikroba.

Faktor – faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan viabilitas bakteri


probiotik diantaranya kondisi fisiologis, suhu, pH, aktivitas air dan oksigen. Sejumlah
faktor – faktor tersebut perlu diperhatikan untuk mendapat efek maksimal dan
probiotik yang dikonsumsi (Neha et al. 2012).

Suhu penyimpana menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi


ketahanan hidup bakteri. Selama proses pembuatan, penggunaan suhu melebihi 45 –
50 derajat C akan merusak kelangsungan hidup bakteri probiotik karena viabilitas
bubuk probiotik menurun degnna meningkatnya suhu penyimpanan. Sedangkan pada
suhu rendah 4 – 7 derajat C kelangsunga hidup bakteri dapat dipertahankan (Yuan
Kun Lee, 2009). Menurut Desmon viabilitas bubuk probiotik menurun dengan
meningkatnya suhu penyimpana. Pada peningkatan panas terjadi dehidrasi sel yang
mengakibatkan sel shock osmotik dan terjadi kebocoran sel. Untuk penelitian ini suhu
yang dipakai telah sesuai yaitu 37 derajat C yang dapat dipastikan merupakan suhu
optimal pertumbuhan mikroba.

Kondisi fisiologis bakteri ketika dipreparasi dan terkandung dalam produk itu
sendiri merupakan faktor penting dalam ketahanan probiotik. Pengeringan dalam
produk makanan dapat menjaga stabilitas bakteri selama penyimpanan, sedangkan
produk dalam bentuk cair memungkinakan adanya aktivitas metabolit aktif dari
bakteri. Keadaan lingkungan bakteri akan mempengaruhi masa simpan bakteri
tersebut, contohnya pada suhu rendah dapat memperpanjang ketahanan dari bakteri
(Neha, 2012). Kondisi ini dapat berpengaruh pada penelitian ini, penelitian ini
menggunakan sampel bahan cair yang memungkinkan adanya aktivitas metabolit
aktif dari bakteri. Bebrapa hal dapat terjadi seperti penanganan yang salah oleh para
peneliti dapat menyebabkan kondisi fisiologis yang buruk sehingga mikroba tumbuh
sedikit bahkan tidak tumbuh sama sekali.
Beberapa bakteri seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria dapat bertahan pada
pH rendah karena menghasilkan senyawa organik dari metabolisme karbohidrat.
Sejumlah penelitian membuktikan bahwa pasda cairan lambung bakteri probiotik
dapat bertahan hidup dimana bakteri terpapar pH yang rendah yakni 2 dalam waktu 1
sampai 2 jam. Pada produk makanan bakteri ini dapat tumbuh dan bertahan dengan
pH antara 3,7 – 4,4. Namun bifidobacteria cenderung kurang dapat mentoleransi
asam pada produk fermenatsi (Neha, 2012). Pada praktikum ini pH yang digunakan
telah sesuai dengan penambahan CaCO3 sehingga kadar asam tidak terlalu kuat.

Lactobacillus dan bifidobacterua tidak daapt tumbuh dengan baik karena


adanya oksigen. Walau bagaimanapun tingkat sensitivitas terhadapa oksigen akan
berbeda – beda tiap strain bakteri. Sebagian besar lactobacillus merupakan aerofilik
yang lebih mentoleransi oksigen dibanding bofidobacteria. (Neha, 2012). Terdapat
beberapa cara seperti pengemasan yang baik dan meminimalkan proses aerasi (Yuan
kun lee, 2009). Hal ini bisa menjadi penyebab tidak tumbuhnya mikroba probiotik,
disebabkan penanganan yang salah oleh para peneliti seperti oksigen yang masuk dari
hidung kedalam capet sehingga memungkinkan adanya sumber O2 disana
mnyebbkan mikroba sulit tumbuh bahkan tidak tumbuh sama sekali.

4.2 Pengaruh penambahan prebiotik terhadap pertumbuha mikroba probiotik

Penelitian ini menggunakan media MRSA dan tambahanmedia NA. Nutrien


agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk
pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian
mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari
ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum
digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, seewage, produk
pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan
untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.

Pada sampel jenis media prebiotik yang digunakan adalah ketela, edamame
dan pisang. Hasil pengamatan yang didapatkan tidak terjadi petumbuhan mikroba,
sehingga terbilang 0 mikroba. Kebutuhan zat –zat nutrisi jasad renik bervariasi.
Streptococcus, lactobacillus, bifidobacterium dan berbagai organisme heterotrof
membutuhkan berberapa sumber nitrogen organik dalam bentuk asam amino, purin,
dan pirimidin, serta faktor-faktor pertumbuhan seperti vitamin B, vitamin B1,
vitamin B2, asam nikotinat, vitamin B6, asam pantotenat dan vitamin B12 (Fardiaz,
1992). Beberapa sampel prebiotik yang diberikan pada penelitian ini semestinya
telah mendukung nilai nutrisi untuk pertumbuhan mikroba lactobacillus maupun
Ecoli. E Coli termasuk dalam bakteri enterik, yang berarti bakteri E Coli dapat hidup
dalam saluran pencernaan, termasuk rongga mulut, esofagus, lambung, usus rektum
dan anus maka dari itu E Coli disebut bakteri anaerob fakultatif karena bakteri ini
hidupnya tidak membutuhkan oksigen (Ballows 1992).

Dapat terlihat nutrisi telah ditambahkan pada media, namun mikroba tetap
tumbuh. Beberapa hal menjadi faktor tidak tumbuhnya mikroba yaitu suhu, sifat
fungsiologis, pH, Oksigen. Beberapa hal juga dapat menjadi penyebab seperti
kesalahan para praktikan yaitu terlalu banyak dalam menuangkan prebiotik dan
perlakuan pegnambia, penuangan yang kurang benar.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Proses kultur mikroba yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba


Lactobacillus dan E. Coli adalah media NA dan MRSA. Perlakuan pengenceran
dimaksudkan memudahkan dalam perhitungan jumlah mikroba. Pengaruh
penambahan nutrisi prebiotik untuk mikroba probiotik seharusnya membuat mikroba
dapat tumbuh, beberapa kesalahan dapat terjadi sehingga menyebabkan mikroba tidak
dapat tumbuh seperti faktor suhu, pH, oksigen dan sifat fisiologis.

5.2 Saran

Praktikum yang dilakukan cukup baik, penangan mengkultur mikroba oleh


para praktikan perlu perbaikan. Sehingga hal ini tidak terulang untuk kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Neha A, Kamaljit S, Ajay. 2012. Probiotic as Effective Tretment of Disease.


International Research Journal Of Pharmacy : India ISSN : 2230-8407, 98.

Yuan Kun Lee. 2009. Hnadbook of Probiotic and Prebiotic Second Edition A
john Wiley add Sons Inc Hoboke. New jersey in Kanada.
DOKUMENTASI

No. Gambar Keterangan

Pengambilan sampel
1
probiotik

Pengenceran dengan larutan


2
fisiologis

3 Perhitungan total probiotik

Pengambilan mikroba
4
unggul dengan jarum ose
5 Mikroba untuk uji prebiotik

Pengambilan suspensi
6
mikroba

7 Penuangan prebiotik

Prebiotik dalam probiotik


8
dan mikroba patogenik