Anda di halaman 1dari 23

BAB III

TEORI DASAR

3.1 Teori Kompresor Secara Umum

3.1.1 Gambaran Umum

Kompresor adalah suatu peralatan mekanik yang digunakan untuk menaikan


tekanan pada fluida compressible ( gas atau udara ). Kenaikan tekanan udara/gas yang
dihasilkan kompresor disebabkan adanya proses pemampatan yang dapat berlangsung
secara intermittent ( berselang ) dan kontinyu. Gas dan udara yang masuk kedalam
kompressor akan memperoleh tambahan energy tekanan dan kecepatan dari
kompressor yang digerakkan oleh penggerak mula ( primover ).

Pemamfatan udara atau gas dari kompresor sangat bermacam-macam sesusai


kebutuhan dan penggunaanya, sehingga jenis dan ukurannya juga bervariasi.
Kompressor secara umum digunakan untuk keperluan proses transportasi dan
distribusi.

3.1.2 Azas Pemampatan Zat

Kompresor pada dasarnya bekerja memampatkan gas. Adapun zat yang dapat
dimampatkan bukan hanya gas saja melainkan juga zat yang padat. Untuk pemampatan
zat padat dapat dilihat dengan jelas pada pemampatan sebuah pegas. Energi regangan
dapar diperoleh kembali jika pegas diberi kesempatan memuai kekeadaan semula.
Namun energi regangan benda padat tidak mudah disalurkan ketempat lain yang
memerlukannya.

Adapun pemampatan fluida, yaitu gas dan zat cair dapat direangkan dengan
cara yang sama dengan zat padat. Namun berbeda dengan zat padat, fluida dapat
menempati ruangan yang berbentuk apa saja serta dapat mengalir. Selain itu, fluida
memenuhi hukum Pascal yaitu : “Tekanan yang diberikan dari suatu fluida didalam
bejana tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar dan tegak lurus terhadap
bidang”.

Untuk lebih jelas perhatikan penjelasan berikut :

Gambar 3.1 Pemampatan Fluida

Fluida yang ada didalam bejena dengan luas penampang A dan kedalaman L
dimampatkan dengan gaya F melalui sebuah torak, maka harga tekanannya akan
menjadi :

P = F / A ………………………………………………………( 168, Sularso )

Tekanan inilah yang diteruskan kesegala arah didalam bejana dengan harga
yang sama besar.

3.1.3 Teori Kompresi

Jika sebuah alat peyuntik tanpa jarum dan berisi udara atau gas tertutup
ujungnya dengan jari telunjuk terasa adanya tekanan yang bertambah besar.
Bertambahnya tekanan tersebut merupakan akibat dari mengecilnya volume udara
didalam silinder karena dimampatkan oleh torak. Jika volume semakin dikecilkan,
tekanan akan semakin besar.
Gambar 3.2 Kompresi

Hubungan antara tekanan dan volume gas dalam proses kompresi tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut, jika kompresi temperatur gas dijaga tetap ( tidak bertambah
panas ) maka pengecilan volume menjadi 1/2 kali akan menaikkan menjadi dua kali
lipat. Demikian jug ajika volume menjadi 1/3 kali, tekanan akan menjadi tiga kali lipat.
Jadi secara umum dapat dikatakan sebagai berikut : “Jika gas dikompresikan ( atau
diekspansikan ) pada temperature tetap, maka tekanannya akan berbanding terbalik
dengan volumenya “. Pernyataan ini disebut dengan hukum Boyle dan dapat
dirumuskan pula sebagai berikut : Jika suatu gas mempunyai volume V1 dan tekanan
P1 dimampatkan ( atau dieskpansikan ) pada temperatur tetap hingga volumenya
menjadi V2, maka tekanannya akan menjadi P2 dimana :

P1V1 = P2V2 = tetap …………………………………………........(181, Sularso)

Disini tekanan dapat dinyatakan dalam kgf/cm2 ( atau Pa ) dan volume dalam
m3 .

3.1.4 Azas Kompresor

Jika suatu gas dalam sebuah ruangan tertutup diperkecil volumenya, maka gas
akan mengalami kompresi. Kompresor yang menggunakan azas ini disebut kompresor
jenis perpindahan ( displacement ). Di sini digunakan torak yang bergerak bolak balik
di dalam sebuah silinder untuk menghisap, menekan, dan mengeluarkan gas secara
berulang-ulang. Dalam hal ini gas yang ditekan tidak boleh membocor melalui celah
antara dinding torak dan dinding silinder yang saling bergesek. Untuk itu digunakan
cincin torak sebagai perapat.

Pada kompresor yang sesungguhnya torak tidak digerakkan dengan tangan


melainkan dengan motor melalui poros engkol. Dalam hal ini katup hisap dan katup
keluar dipasang pada kepala silinder. Adapun sebagai penyimpan energi dipakai tangka
udara. Tangka ini dapat di persamakan dengan ban pada pompa ban. Kompresor
semacam ini di mana torak bergerak bolak-balik disebut kompresor bolak-balik.

Gambar 3.3 Unit Kompresor

Gambar 3.4 Dengan kompresi dalam ( jenis sudu dan sekrup )


Kompressor bolak-balik menimbulkan getaran karena gaya inersia sehingga
tidak sesuai untuk beroperasi pada putaran tinggi. Karena itu berbagai kompresor putar
( rotary ) telah dikembangkan dan tersedia banyak di pasaran.

Kompresor putar jenis sudu lundur mempunyai sebuah rotor bersudu dan
berputar di dalam stator berbentuk silinder. Rotor dipasang secara eksentrik ( tidak
bersumbu ) terhadap silinder, sudu-sudu dipasang alur-alur disekeliling rotor dan
ditekan ke dinding silinder oleh pegas di dalam alur, jika rotor berputar maka sudu akan
ikut berputar sambal meluncur di permukaan dalam dinding silinder.

Adapun cara pemampatan gas di dalam kompresor putar ini dapat diterangkan
dengan bagan, dalam bagan ini bentuk permukaan rotor ( yang seharusnya berbentuk
lingkaran ) disederhanakan menjadi lurus dan diperlengkapi dengan sudu-sudu
menekan permukaan silinder disederhanakan pula menjadi lurus dan miring.

Dengan demikian ruang antara rotor dan silinder menyempit kearah kanan.
Sekarang jika rotor digerakkan ke kanan, gas yang ada diantaradinding rotor dan
silinder yang dikurung diantara dua sudu ( misalnya ruang 1 ) akan terbawa kekanan,
ruang ini akan mengecil ( menjadi 2,3,dst ). Jadi gas akan diisap dari kiri dan kanan
dengan tekanan yang lebih tinggi. Sebaliknya jika rotor digerakkan ke sebelah kiri
maka gas akan diisap dari kanan, dibawa kekiri sambal dikembangkan lalu dikeluarkan.

Azas kerja seperti ini diuraikan diatas dilaksanakan dalam kompresor putar
sudu luncur dengan gerakkan berputar oleh rotor dan stator berbentuk silinder. Azas
pemampatan gas pada kompresor ini pada dasarnya sama dengan kompresor torak
dimana gas dikurung lalu dimampatkan dengan mengecilkan volume ruangan yang
mengurungnya hingga naik tekannya. Jadi secara prinsip berbeda dengan kompresor
sentrifugal dimana pemampatan gas diperoleh dengan gaya sentrifugal yang diciptakan
oleh impeller.

Kompresor putar getaran yang sangat kecil dibandingkan dengan kompresor


torak. Hal ini disebabkan oleh sudu-sudu kompresor putar ( yang merupakan elemen
yang bergerak bolak-balik ) mempunyai masa yang lebih jauh lebih kecil daripada
torak. Selain itu, kompresor putar tidak memerlukan katup, sedangkan proses alirannya
sangat kecil dibandingkan dengan kompresor torak.

Namun demikian, pada kompresor sudu luncur terdapat masalah kerugian


gesek, keausan, dan kebocoran yang besar pada sisi sudu. Selain itu, performasinya
akan menjadi buruk jika perbandingan tekanan kerjanya tidak sesuai dengan harga
optimalnya. Hal ini disebabkan oleh cara kompresi dimana gas dimampatkan sampai
suatu perbandingan volume tertentu sebelum keluarkan. Jadi tekanan yang dihasilkan
pada saat akan keluar, tidak selalu sama dengan tekanan kerja di pipa keluar.

Kompresor putar jenis sekrup mempunyai sepasang sekrup mempunyai


sepasang rotor bebentuk sekrup. Pasangan ini berputar serempak dalam arah yang
berlawanan dan saling mengait seperti roda gigi, putaran serempak ini dapat
berlangsung karena kaitan gigi-gigi rotor itu sendiri atau dengan perantaraan sepasang
roda gigi penyerempak putaran. Karena gesekan antara rotor sangat kecil, kompresor
ini mempunyai performasi yang baik untuk umur kerja yang panjang. Perbedaan
tekanan maksimum yang diizinkan pada kompresor jenis ini ditentukan oleh deflaksi
lentur rotor dan besarnya adalah 30 kgf/cm2 (2900Kpa).

Azas pemampatan gas dalam kompresor putar jenis sekrup diperlihatkan dalam
bagan. Disini gas seolah-olah didorong oleh torak bersudu dimana tinggi sudu adalah
tetap. Disini gas idak mengalami kompresi pada waktu didorong dari kiri ke kanan.
Baru setelah gas dikeluarkan ke sisi luar yang mempunai tekanan yang lebih tinggi,
disitu terjadi kompresi.

Dalam pelaksanaan kompresor ini mempunyai bentuk jenis roots. Karena


kompresi tidak dilakukan didalam maka pulsasi dan bunyi menjadi besar.
Performasinya menurun cepat bila dioperasikan pada perbandingan tekanan yang
tinggi. Kompresor ini biasanya dipakai untuk tekanan lebih ( gauge pressure ) kurang
dari 6000 mm H2O ( 60 Kpa ).
Gambar 3.5 Tanpa Kompresi Dalam ( Jenis Root )

3.1.5 Klasifikasi Kompresor

Kompresor terdapat dalam berbagai jenis dan model tergantung pada volume
dan tekanannya. Sebutan kompresor ( pemampatan ) dipakai untuk jenis yang
bertekanan tinggi, blower ( peniup ) untuk bertekanan yang agak rendah. Atas dasar
cara pemampatannya kompresor dibagi atas jenis turbo dan jenis perpindahan. Jenis
turbo menaikkan tekanan dan kecepatan gas dengan gaya sentrifugal yang ditimbulkan
oleh impeller, atau dengan gaya angkat ( lift ) yang ditimbulkan oleh sudu. Jenis
perpindahan menaikkan tekanan dengan memperkecil atau memampatkan volume gas
yang diisap ke dalam silinder atau stator oleh torak atau sudu.
Gambar 3.6 Klasifikasi Kompresor
Kompresor jenis perpindahan dapat dibagi atas jenis putar dan jenis bolak-
balik. Kompresor putar dapat dibagi lebih lanjut atas jenis roots, sudu luncur, dan
sekrup. Kompresor juga dapat dibagi atas dasar kontruksinya seperti dibawah ini :

3.1.5.1 Klasifikasi berdasarkan jumlah tingkat kompresi : satu tingkat, dua tingkat, dan
banyak tingkat.

3.1.5.2 Klasifikasi berdasarkan langkah kerja ( pada kompresor torak ) : kerja tunggal
( single acting ) dan kerja ganda ( double acting ).

3.1.5.3 Klasifikasi berdasarkan susunan silinder ( untuk kompresor torak ) : mendatar,


tegak, bentuk –L, bentuk-V, bentuk-W, bentuk bintang, lawan berimbang
( balans opposed ).

3.1.5.4 Klasifikasi berdasarakan cara pendinginan : pendinginan air dan pendinginan


udara.

3.1.5.5 Klasifikasi berdasarkan transmisi penggerak : langsung, sabuk-V, roda gigi.

3.1.5.6 Klasifikasi berdasarkan penempatannya : permanen ( stationary ), dapat


dipindah ( portable ).

3.1.3.7 Klasifikasi berdasarkan cara pelumasan : pelumasan minyak, dan tanpa minyak.

3.2 Teori Secara Khusus

3.2.1 Pengenalan Kompresor Screw

Kompresor screw termasuk jenis kompresor perpindahan positif yang tergolong


kompresor putar ( rotary ). Kompresor ini akhir-akhir ini mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Kompresor sekrup cenderung untuk lebih banyak dipakai daripada
kompresor torak.

Kompresor sekrup mempunyai sepasang rotor berbentuk sekrup. Yang satu


mempunyai alur yang permukaannya cembung dan yang satu permukaannya cekung.
Pasangan rotor ini berputar dalam arah saling berlawanan seperti sepasang gigi. Rotor
dikurung di dalam sebuah rumah. Apabila rotor berputar maka ruang yang terbentuk
antara bagian cekung dari rotor dan dinding rumah akan bergerak kea rah aksial
sehingga udara akan dimampatkan. Pada gambar di bawah ini terlihat bahwa :

3.2.1.1 Pada posisi (a) udara diisap sepenuhnya melalui lubang hisap kedalam ruang
alur. Isapan akan selesai setelah ruang alur tertutup sepenuhnya oleh dinding rumah (
casing ). Langkah ini disebut langakh akhir hisapan.

3.2.1.2 Pada posisi (b) menunjukan pertengahan proses kompresi dimana volume udara
di dalam ruang alur sudah ada di tengah, langkah ini disebut langkah awal kompresi.

3.2.1.3 Pada posisi (c) memperlihatkan akhir proses kompresi diaman udara yang
terkurung sudah mencapai lubang keluar di ujung kanan atas rumah. Langkah ini
disebut langkah akhir kompresi.

3.2.1.4 Dan pada posisi (d) udara yang terkurung di dalam alur tadi telah dikeluarkan
sebagian sehingga tinggal sebagian yang akan diselesaikan, langkah ini disebut langkah
pengeluaran. Karena proses pengisapan, kompresi, dan pengeluaran dilakukan secara
kontimyu, dengan begitu alirannya lebih stabil dibanding kompresor torak.

Gambar 3.7 Proses pemampatan pada kompresor screw


Cara kerja dari kompresor screw adalah sama dengan torak, yaitu penghisapan,
kompresi, dan pengeluaran. Akan tetapi, berbeda dengan kompresor torak yang
kapasitasnya stabil atau terputus-putus, kompresor ini menghasilkan kapasita udara
mampat yang stabil atau terus-menerus. Kompresor screw dibedakan menjadi dua yaitu
tipe oil-free dan oil-flooded.

3.2.1.4.1 Tipe Oil-Free

Tipe ini tidak perlu diinjeksikan oil ke area screw untuk proses sealing
(proses pelumasan menggunakan oil) dan pendinginan di area screw karena
penggunaan udara kompresi yang dihasilkan harus bebas dari oil. Keuntungan dari
kompresor tipe ini adalah udara kompresi yang dihasilkan lebih bersih karena bebas
dari oil, sehingga tidak dibutuhkan proses separasi antara udara dengan oil.

3.2.1.4.2 Tipe Oil-Flooded

Pada kompresor jenis ini, di area screw diinjeksikan oil yang berfungsi sebagai
media pendingin dan sealing, udara kompresi yang dihasilkan akan sedikit tercampur
dengan oil, kemudianmelewatioil separator untuk dipisahkan antara udara dengan oil
tersebut. Oil yang terserapoil separator akan difilter dan kembali disirkulasikan ke
sistem. Keuntungan dari kompresor screw tipe oil-flooded adalah tekanan dan kapasitas
udara kompresi yang dihasilkan lebih besar, karena ada proses pendinginan di area
screw.

3.2.2 Prinsip Kerja

Adapun prinsip kerja kompresor screw adalah sebagai berikut :

3.2.2.1 Unloading valve diatas rotor berfungsi untuk membuka atau menutup jalur
udara menuju rotor yang bekerja berdasarkan perintah dari panel elektronikon melalui
venting valve. Unloading valve terbuka akibat adanya hisapan dari 2 rotor yang
digerakkan oleh motor listrik. Sebelum udara masuk menuju rotor, terlebih dahulu
udara melewati air filter untuk di filtrasi ( disaring ). Agar udara yang akan masuk ke
dalam rotor adalah udara bersih.
3.2.2.2 Oli berada di dalam tangki, kemudian oli mengalami proses filtrasi (disaring)
oleh oil filter.

3.2.2.3 Apabila suhu oli ≤ 40 0C maka oli bisa mengalir langsung ke rotor. Jika suhu
oli > 40 0C maka thermostatic valve akan terbuka dan oli dialirkan ke oil cooler untuk
di dinginkan.

3.2.2.4 Oil stop valve dibawah rotor berfungsi untuk membuka atau menutup jalur oli
menujurotor saat loading dan unloading.

3.2.2.5 Selanjutnya oli akan menuju ke rotor.

3.2.2.6 Udara dan oli akan bercampur didalam rotor dan terjadi proses kompresi.
Kompresi terbentuk akibat putaran 2 rotor (male dan female) yang kontak dengan
putaran tinggi. Akibat 2 rotor ini kontak, untuk itu dibutuhkan oli sebagai pelumas baik
saat loading maupun unloading.

3.2.2.7 Kemudian oli dan udara yang terkompresi kembali lagi ke tangki melalui check
valve,di sini terdapat separator yang berfungsi memisahkan antara oli dengan
udara.Minimum pressure valve diatas tangki berfungsi untuk safety agar udara
bertekanan dari kompresor lain tidak masuk ke dalam tangki. Adapun persyaratan
tekanan untuk start awal kompresor < 2,5 bar. Apabila terjadi permasalahan pada
minimum pressure valve, tekanan dari kompresor lain akan masuk ke dalam system
dan menyebabkan tekanan didalam system melebihi 2,5 bar.

3.2.2.8 Selanjutnya udara akan mengalir ke after cooler untuk didinginkan, sementara
oli akan tetap berada di bawah.

3.2.2.9 Setelah itu udara akan mengalir melalui sebuah pipa menuju water trap untuk
memisahkan kandungan air yang terdapat pada udara. Terakhir, udara bertekanan siap
untuk dialirkan ke seluruh sistem yang kinerjanya menggunakan udara bertekanan.
3.2.3 Komponen-komponen Utama Kompresor Screw

Adapun komponen-komponen utama Kompresor Screw Merk Atlas Copco


adalah sebagai berikut :

3.2.3.1 Rotor

Merupakan elemen utama dari screw compressor, berfungsi sebagai


media pemampat udara. Kedua rotor berputar pada arah yang berlawanan, rotor
tersebut berbentuk sekrup. Yang satu mempunyai alur yang permukaannya cembung
dan yang satu permukaannnya cekung. Pasangan rotor ini berputar dalam arah yang
berlawanan dan saling mengait seperti sepasang roda gigi.

Gambar 3.9 Rotor Kompresor Screw

3.2.3.2 Motor

Digunakan sebagai penggerak yang akan menggerakkan Screw

Gambar 3.10 Motor


3.2.3.3 Valve

3.2.3.3.1 Check Valve

Check valve berfungsi untuk safety apabila terjadi trip tiba-tiba agar
udara dan oli pada tangki tidak kembali ke rotor dan menembus unloading valve serta
filter udara. Tanda-tanda check valve sudah bermasalah apabila pada filter udara sudah
terkontaminasi oli.

Gambar 3.11 Check Valve

3.2.3.3.2 Oil Stop Valve

Oil stop valve dibawah rotor berfungsi untuk membuka atau menutup
jalur oli menuju rotor saat loading dan unloading.

Gambar 3.12 Oil Stop Valve


3.2.3.3.3 Thermostatic Valve

Katup yang berfungsi sebagai pembuka jalur / akses oli yang


bertemperatur tinggi > 40 0C menuju oil cooler, katup thermostat bekerja berdasarkan
nilai temperature pada oli.

Gambar 3.13 Thermostatic Valve

3.2.3.3.4 Unloading Valve atau Inlet Valve

Unloading valve diatas rotor berfungsi untuk membuka atau menutup


udara menuju rotor yang bekerja berdasarkan perintah dari panel elektronikon melalui
venting valve. Udara yang masuk menuju rotor terlebih dahulu akan difiltrasi oleh filter
udara.

Gambar 3.14 Unloading Valve


3.2.3.3.5 Solenoid Valve atau Venting Valve

Berfungsi untuk mengatur loading atau unloading tergantung perintah


dari panel.

3.2.3.3.6 Minimum Pressure Valve

Berfungsi untuk pengaman agar udara yang bertekanan dari kompresor


yang tidak masuk kedalam tangka, karena jalur outlet udara yang bertekanan
dihubungkan satu line. Adapun persyaratan tekanan untuk start awal kompresor < 2,5
bar. Apabila terjadi permasalahan pada minimum pressure valve, tekanan dari
kompresor lain akan masuk kedalam system dab menyebabkan tekanan didalam system
melebihi 2,5 bar.

Gambar 3.16 Minimum Pressure Valve


3.2.3.4 Water Trap

Berfungsi untuk memisahkan udara yang mengandung molekul air, agar


udara tersebut kering. Water trap yang terdiri dari manual dan otomatis akan bekerja
untuk membuang air hasil dari proses pendinginan. Jika air yang keluar dari water trap
sudah bercampur dengan udara bertekanan menandakan water trap otomatis sudah
bermasalah.

Gambar 3.17 Water Trap

3.2.3.5 Cooler

Ada 2 jenis cooler yang biasa dipakai, yaitu menggunakan cooler fan (
air cooler ), dan menggunakan pendingin air ( water cooler ). Pada kompresor merk
Atlas Copco media pendingin yang dipakai adalah water cooler.

3.2.3.5.1 Oil Cooler

Berfungsi untuk membuang panas yang terdapat pada oli dalam


pengoperasian kompresor.
Gambar 3.18 Oil Cooler

3.2.3.5.2 After Cooler

Berfungsi untuk membuang panas yang terdapat pada udara tekan


dalam pengoperasian kompresor.

Gambar 3.19 After Cooler

3.2.3.6 Oil Separator Tank

Berfungsi untuk tempat oli dan udara sebelum atau saat bersirkulasi.
Gambar 3.20 Oil Separator Tank

3.2.3.7 Separator Element

Berfungsi untuk memisahkan oli dengan udara. Batasan normal untuk


DP yang terbaca di elektronikon adalah 0,3 – 0,5 bar. Jika DP > 0,8 bar akan muncul
alarm yang menandakan pada oil separator terjadi penyumbatan. Jika DP < 0,2 bar
yang menandakan pada oil separator terjadi kebocoran.

Gambar 3.21 Separator Element


3.2.3.8 Oil Filter

Berfungsi untuk menyaring oli dari kotoran agar oli selalu dalam
keaadan bersih.

Gambar 3.22 Oil Filter

3.2.3.9 Air Filter

Berfungsi untuk menyaring udara dari debu atau kotoran sehingga ruang
kompresi tidak terkontaminasi dan tetap bersih.

Gambar 3.23 Air Filter


3.2.3.10 Display Panel ( Panel Elektronikon )

Digunakan untuk mengetahui kondisi kompresor operasi.

Gambar 3.24 Display Panel

3.2.3.11 Level Oil

Berfungsi untuk mengukur atau mengetahui kapasitas oli dalam tangki


oli dengan melihat stick level.

Gambar 3.25 Level Oli


3.3 Teori Dasar Cooling System

3.3.1 Pengertian Cooling System

Cooling system adalah suatu alat yang berfungsi untuk mendinginkan dan
menjaga temperatur dari sebuah proses yang dapat menghasilkan panas, misalnya
adalah mesin diesel, kompresor, turbine, dan lain-lain.

Cooling system dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :

a) Air Cooling System ( Sistem Pendingin Udara )


Pendingin udara merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menurunkan
temperatur dengan menggunakan udara sekitar yang dihembuskan oleh sebuah
kipas.
b) Water Cooling System ( Sistem Pendingin Air )
Pendingin air adalah metode pemindahan panas dari komponen dan peralatan
industri. Berbeda dengan pendingin udara, air digunakan sebagai konduktor
panas.
3.3.2 Komponen-komponen Cooling System pada Kompresor Screw
3.3.2.1 Oil Cooler ( Pendingin Oli )
Oil cooler terdiri dari satu set tabung didalam rumahnya. Pada contoh
ini cairan pendingin mengalir melalui tabung-tabung untuk membuang panas oli yang
ada di sekeliling tabung. Oil cooler membuang panas dari oli pelumas sehingga sifat-
sifat konsentrasi oli tetap terpelihara. Selanjutnya oli akan menuju ruang screw.
Didalam ruang screw oli berfungsi sebagai media pendingin dan pelumas rotor yang
saling bergesekan.
3.3.2.2 Thermostatic Valve
Thermostatic valve merupakan komponen yang berfungsi untuk
membuka jalur oli menuju oil cooler. Apabila temperatur oli ≤ 40oC maka oli akan
langsung menuju ruang screw melalui saluran bypass. Namun apabila temperatur oli >
40 oC maka thermostatic valve akan membuka jalur oli menuju oil cooler untuk
didinginkan.
3.3.2.4 After Cooler
After cooler merupakan media pendingin udara. Prinsip kerjanya sama
dengan oil cooler hanya saja disini yang didinginkan bukan oli tetapi udara. Sebelum
udara bertekanan dialirkan ke sistem, terlebih dahulu udara tersebut melalui after
cooler untuk didinginkan.
3.3.2.4 Hose Serta Pipa-pipa Penghubung
Pada cooling sytem terdapat hose dan pipa yang menghubungkan salura-
saluran pendingin pada compressor. Seringkali terjadi kebocoran pada hose dan pipa
yang mengalami penyumbatan sehingga cooling system tidak bekerja secara sempurna.
Sewaktu melakukan rekondisi pada cooling system, komponen ini harus dibersihkan,
baik dari kotoran maupun karat yang dapat menyumbat pipa-pipa pada oil cooler dan
after cooler.