Anda di halaman 1dari 35

Case Report Session

Kecelakaan Lalu Lintas

Oleh:

Dwi Sekar Ayu Gunasari 1740312115


Marna Septian 1740312116
Fahjri Syahputra 1740312225
Fitri Sakinah 1740312227
Amalia Savira 1840312227
Yudia Septi Yenny 1840312228
Adila Hanna 1840312229
Rahmat Akbar 1840312234
Ivan Dwi Kurniawan 1840312423
Frissia Dwi Agseptya 1840312427
Wira Genalhen 1840312433
Muhammad Igo Pratama 1840312617

Preseptor :
dr. Taufik Hidayat, M.Sc, Sp.F

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M.DJAMILPADANG
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamiin, puji dan syukur atas kehadirat Allah S.W.T dan


shalawat beserta salam untuk Nabi Muhammad S.A.W, berkat rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah Case Report Session dengan judul “Kecelakaan
Lalu Lintas”. Makalah ini diajukan untuk melengkapi tugas kepaniteraan klinik pada
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada preseptor
Dr. Taufik Hidayat, M.Sc, Sp.F yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan
makalah ini. Akhir kata, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam
penulisan makalah ini. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran dari berbagai pihak
untuk menyempurnakan makalah ini.

Padang, Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI
Sampul Depan
Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Tujuan Penulisan 5
1.3 Metode Penulisan 5
1.4 Manfaat Penelitian 5
BAB 2. ILUSTRASI KASUS
2.1 Identifikasi Mayat 6
2.2 Pemeriksaan Luar 6
BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi Kecelakaan Lalu lintas 17
3.2 Klasifikasi Kecelakaan Lalu lintas 18
3.3 Identifikasi Mayat 19
3.4 Aspek Medikolegal Kecelakaan Lalu lintas 20
3.5 Langkah dan Prinsip Identifikasi Mayat 23
3.6 Sebab Kematian 30
BAB 4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan 32
4.2 Saran 32
DAFTAR PUSTAKA 33
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian – kejadian yang tidak

terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka, atau

kematian. Kecelakaan lalu lintas dibagi atas “A motor - vehicle traffic accident” dan

“Non motor -vehicle traffic accident”. “A motor - vehicle traffic accident” adalah setiap

kecelakaan bermotor di jalan raya. “Non motor -vehicle traffic accident” adalah setiap

kecelakaan yang terjadi di jalan raya, yang melibatkan pemakai jalan untuk lalu lintas

atau untuk mengadakan perjalanan, dengan kendaraan yang bukan kendaraan

bermotor.1

Kasus kecelakaan lalu lintas merupakan keadaan serius yang menjadi masalah

kesehatan di negara maju maupun berkembang. Di negara berkembang seperti

Indonesia, perkembangan ekonomi dan industri memberikan dampak kecelakaan lalu

lintas yang cenderung semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan

antara pertambahan jumlah kendaraan (14-15% per tahun) dengan pertambahan

prasarana jalan hanya sebesar 4% per tahun. Lebih dari 80% pasien yang masuk ke

ruang gawat darurat adalah disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, berupa tabrakan

sepeda motor, mobil, sepeda, dan penyeberang jalan yang ditabrak. Sisanya merupakan

kecelakaan yang disebabkan oleh jatuh dari ketinggian, tertimpa benda, olah raga, dan

korban kekerasan.2,3

Indonesia dewasa ini menghadapi permasalahan kecelakaan lalu lintas jalan yang

cukup serius, menurut data dari Mabes Polri setiap tahun tercatat 9.856 orang

meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Tingginya korban kecelakaan tersebut disadari

telah mendorong tingginya biaya pemakai jalan, dan secara ekonomi menyebabkan

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 4


terjadinya pemborosan sumber daya. Berbagai upaya penanganan dilakukan untuk

mengurangi jumlah dan kelas kecelakaan lalu lintas (accident severity) tersebut.4

1.2 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam makalah ini antara lain membahas ilustrasi kasus, definisi

dan klasifikasi kecelakaan lalu lintas, identifikasi mayat, aspek medikolegal kecelakaan

lalu lintas, langkah dan prinsip identifikasi mayat, serta sebab kematian.

1.3 Tujuan Penulisan


Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang

definisi dan klasifikasi kecelakaan lalu lintas, identifikasi mayat, aspek medikolegal

kecelakaan lalu lintas, langkah dan prinsip identifikasi mayat, serta sebab kematian

pada kecelakaan lalu lintas.

1.4 Metode Penulisan


Makalah ini disusun berdasarkan studi kepustakaan yang merujuk pada beberapa

literatur.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 5


BAB 2

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Mayat

Nama : Tn. MI

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 21 tahun

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat : Lubuk Gading Permai, Lubuk Buaya, Padang

Menurut keterangan keluarga dan teman korban, korban mengendarai sepeda

motor kemudian menabrak teman korban yang juga mengendarai motor dari arah

belakang, kejadian terjadi pada tanggal 13 Desember 2018 pukul 14.30 WIB di jalan

Sudirman, Padang. Mekanisme trauma tidak diketahui, saksi mengatakan korban jatuh

ke kanan sedangkan teman korban yang ditabrak jatuh ke kiri. Teman korban kemudian

langsung menghubungi temannya yang lain untuk meminta bantuan, selanjutnya korban

dibawa ke RSUP Dr. M. Djamil Padang untuk penatalaksanaan lebih lanjut.

Pada saat di IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang korban datang dengan keadaan

umum sakit berat dan tidak sadar. Pada sekitar pukul 16.30 WIB pasien diputuskan

untuk dilakukan operasi kemudian pada pukul 17.30 WIB korban dinyatakan meninggal

dunia.

2.2 Pemeriksaan Luar

Pada hasil pemeriksaan luar, tidak terdapat label mayat. Penutup mayat berupa

satu helai kain panjang berbahan katun warna dasar putih dengan garis biru dan pada

bagian tengahnya terdapat tulisan “IGD”. Perhiasan mayat tidak ada.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 6


Pakaian mayat berupa satu helai kemeja lengan pendek berbahan katun, warna

abu-abu dengan corak kotak-kotak bewarna hitam disertai bercak kemerahan di

punggung dengan terdapatnya satu kantong di dada kiri tanpa isi. Satu helai celana

pendek berbahan katun, warna dasar coklat dengan corak pada kantong berbentuk bulat

bewarna coklat muda dan terdapat dua kantong di sisi kanan dan kiri dengan isi

kosong. Benda samping mayat tidak ada.

Pada pemeriksaan kaku mayat didapatkan kaku mayat pada persendian jari

tangan dan rahang bawah mudah dilawan. Kemudian pada pemeriksaan lebam mayat

ditemukan lebam mayat terdapat pada punggung berwarna merah keunguan yang

hilang pada penekanan.

Mayat adalah mayat mayat seorang laki-laki, ras mongoloid, berumur dua puluh

satu tahun, kulit warna sawo matang, gizi sedang, panjang tubuh seratus lima puluh

delapan sentimeter, berat badan tidak ditimbang, zakar disunat. Identifikasi khusus pada

mayat tidak ada. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lurus, panjang sembilan

sentimeter. Alis mata berwarna hitam, tumbuh tipis, panjang nol koma lima sentimeter.

Bulu mata berwarna hitam, tumbuh lurus, panjang nol koma lima sentimeter. Kumis

berwarna hitam, tumbuhnya tipis, panjang satu sentimeter. Jenggot tidak ada.

Pemeriksaan pada bagian mata dan hidung mayat didapatkan mata kanan terbuka

nol koma empat sentimeter, selaput bening mata jernih, teleng mata warna hitam,

bentuk bulat diameter nol koma lima sentimeter, warna tirai mata kecokelatan, selaput

bola mata pucat, selaput kelopak mata pucat. Mata kiri terbuka nol koma empat

sentimeter, selaput bening mata jernih, teleng mata warna hitam, bentuk bulat diameter

nol koma lima sentimeter, warna tirai mata kecokelatan, selaput bola mata pucat,

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 7


selaput kelopak mata pucat. Hidung sedang. Kedua daun telinga berbentuk oval. Mulut

tertutup dan lidah tidak terjulur, tidak tergigit.

Gigi geligi berjumlah dua puluh delapan buah. Pada rahang kanan atas, jumlah

gigi geligi tujuh buah. Pada rahang kanan bawah, jumlah gigi geligi tujuh buah. Pada

rahang kiri atas, jumlah gigi geligi tujuh buah. Pada rahang kiri bawah, jumlah gigi

geligi tujuh buah.

Dari lubang mulut tidak keluar apa-apa, dari lubang hidung tidak ada, dari lubang

telinga kiri dan kanan tidak ada, dari lubang kemaluan tidak ada, dari lubang pelepasan

tidak ada.

Gambar 2.1

Pemeriksaan perlukaan pada mayat ditemukan pada kepala belakang bagian kiri,

enam sentimeter dari batas tumbuh rambut belaang, nol koma lima sentimeter dari garis

pertengahan belakang terdapat luka terbuka tepi tidak rata dengan dasar jaringan di

bawah kulit berukuran tiga sentimeter jika dirapatkan.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 8


Gambar 2.2

Pada dahi kiri dua koma lima sentimeter dari garis pertengahan depan, satu

sentimeter dari batas tumbuh rambut depan terdapat luka lecet geser berwarna

kemerahan arah kanan bawah ke kiri atas dengan ukuran tiga sentimeter kali tiga koma

lima sentimeter

Gambar 2.3

Pada pipi kiri tiga sentimeter dari garis pertengahan depan satu koma lima
sentimeter dari sudut luar mata kiri terdapat luka lecet geser berwarna kemerahan arah
kiri atas ke kanan bawah dengan ukuran empat sentimeter kali empat koma lima
sentimeter.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 9


Pada hidung tepat garis pertengahan depan terdapat luka lecet geser berwarna
kemerahan arah kanan atas ke kiri bawah dengan ukuran empat sentimeter kali satu
koma lima sentimeter

Gambar 2.4

Tepat pada bahu kanan terdapat luka memar bewarna biru kehitaman dengan

ukuran lima kali dua sentimer.

Gambar 2.5

Pada dada kanan tiga belas sentimeter dari puncak bahu, lima belas sentimeter
dari garis pertengahan depan terdapat luka berukuran dua kali satu sentimeter warna
kemerahan yang telah dijahit dengan benang bewarna hitam dan terdapat dua simpul.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 10


Gambar 2.6

Pada dada kanan, lima belas sentimeter dari puncak bahu, sepuluh sentimeter dari
garis pertengahan depan terdapat luka lecet bewarna kemerahan berukuran satu kali
satu sentimeter

Gambar 2.7

Pada perut kanan, tujuh sentimeter dari taju atas depan tulang usus, lima belas
sentimeter dari pertengahan depan terdapat luka lecet bewarna kemerahan dengan
ukuran satu kali nol koma lima sentimeter

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 11


Gambar 2.8

Pada lengan atas kanan sisi luar, enam sentimeter dari puncak bahu terdapat luka
lecet geser bewarna kemerahan, arah kanan ke kiri, berukuran tujuh sentimeter kali lima
sentimer

Gambar 2.9

Pada lengan atas kanan sisi luar, dua sentimeter dari lipat siku terdapat luka lecet
geser berwarna kemerahan arah luar ke dalam dengan ukuran empat koma lima
sentimeter kali dua sentimeter dikelilingi memar bewarna merah keunguan

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 12


Gambar 2.10

Pada lengan bawah kanan sisi depan, tiga sentimeter dari lipat siku terdapat luka
lecet geser arah dari atas ke bawah bewarna kemerahan dengan ukuran tiga sentimeter
kali dua sentimeter

Gambar 2.11

Pada lengan bawah kanan sisi depan, empat sentimeter dari pergelangan tangan
terdapat luka lecet berwarna kemerahan arah dari luar ke dalam berukuran satu
sentimeter kali nol koma tujuh sentimeter

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 13


Gambar 2.12

Pada tungkai bawah kiri sisi dalam empat sentimeter dari lutut kiri terdapat luka
lecet berwarna kemerahan arah kanan atas ke kiri bawah dengan ukuran dua koma lima
sentimeter kali satu koma lima sentimeter

Gambar 2.13

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 14


Pada tungkai bawah kiri sisi depan empat sentimeter diatas pergelangan kaki
terdapat luka lecet geser berwarna kemerahan arah atas ke bawah dengan ukuran dua
sentimeter kali nol koma tujuh sentimeter.

Gambar 2.14

Pada punggung kaki kiri dua sentimeter dari pergelangan kaki kiri terdapat luka
lecet geser berwarna kemerahan dari arah luar ke dalam dengan ukuran nol koma
sembilan sentimeter kali nol koma lima sentimeter dengan luka memar warna merah
keunguan ukuran empat koma lima sentimeter kali tiga sentimeter

Gambar 2.15

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 15


Tepat pada pergelangan kaki kanan sisi luar terdapat dua buah luka lecet geser
bewarna kemerahan arah atas ke bawah dengan masing-masing ukuran satu sentimeter
kali nol koma enam sentimeter dan satu koma empat sentimeter kali satu sentimeter.
Tidak terdapat patah tulang pada korban, terdapat lima buah kain perban panjang
bewarna putih, teriakt pada kepala, pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki dan ibu
jari kaki, satu buah kain perban bewarna putih ditutupi dengan plester bewarna coklat
terdapat pada dada sebelah kanan dengan ukuran lima kali lima sentimeter, dan satu
buah gelang pasien bewarna biru bertuliskan “RSUP DR.M.Djamil Padang” di
pergelangan tangan kiri.
Pada pemeriksaan mayat laki-laki yang menurut surat permintaan visum et
repertum berusia dua puluh satu tahun, ditemukan luka robek pada kepala belakang
bagian kiri, luka memar pada puncak bahu kanan , luka lecet geser pada dahi, pipi kiri,
hidung, lengan atas kanan, dada kanan, perut kanan, lengan bawah kanan sisi depan,
tungka bawah kiri, punggung kaki kiri, pergelangan kaki kanan akibat kekerasan
tumpul serta luka yang sudah dijahit pada dada kanan akibat kekerasan tajam. Sebab
kematian tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam (autopsi).

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 16


BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian – kejadian yang tidak


terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka, atau
kematian. Kecelakaan lalu lintas dibagi atas “A motor - vehicle traffic accident” dan
“Non motor -vehicle traffic accident”. “A motor - vehicle traffic accident” adalah setiap
kecelakaan bermotor di jalan raya. “Non motor -vehicle traffic accident” adalah setiap
kecelakaan yang terjadi di jalan raya, yang melibatkan pemakai jalan untuk lalu lintas
atau untuk mengadakan perjalanan, dengan kendaraan yang bukan kendaraan
bermotor.1

Menurut UU NO.22 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 24 tentang lalu lintas dan angkutan
jalan, Pasal 1 No.24 disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di
jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa
pengguna jalan yang lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta
benda.1

Berdasarkan UU NO.22 Tahun 2009 Pasal 229 ayat 1 membagi kecelakaan lalu
lintas sendiri menjadi 3, yaitu:

1. Kecelakaan lalu lintas ringan, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan


kerusakan kendaraan dan/atau barang.

2. Kecelakaan lalu lintas sedang, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan luka


ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang.

3. Kecelakaan lalu lintas berat, yaitu merupakan kecelakaan yang


mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat.1

Dalam penjelasan UU No. 22 tahun 2009, dijelaskan bahwa istilah "luka ringan"
adalah luka yang mengakibatkan korban menderita sakit yang tidak memerlukan
perawatan inap di rumah sakit atau selain yang di klasifikasikan dalam luka berat.
Istilah “luka berat” didefinisikan sebagai luka yang mengakibatkan korban:

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 17


1. Jatuh sakit dan tidak ada harapan sembuh sama sekali atau menimbulkan
bahaya maut

2. Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau


pekerjaan

3. Kehilangan salah satu pancaindra

4. Menderita cacat berat atau lumpuh

5. Terganggu daya pikir selama 4 (empat) minggu lebih

6. Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

7. Luka yang membutuhkan perawatan di rumah sakit lebih dari 30 (tiga


puluh) hari.1

3.2 Klasifikasi Kecelakaan Lalu lintas

Menurut Sartono (1993), korban manusia dalam kecelakaan lalu lintas


dikelompokan dalam empat macam kelas, yaitu :

1. Klasifikasi berat (fatal accident), yaitu jika terdapat korban yang meninggal
dunia meskipun hanya satu orang dengan atau tanpa korban luka-luka berat
atau ringan,

2. Klasifikasi sedang (serious injury accident), yaitu jika tidak terdapat korban
meninggal dunia, namun dijumpai sekurang-kurangnya satu orang yang
mengalami luka berat,

3. Klasifikasi ringan ( light injury accident), yaitu jika tidak terdapat korban
meninggal dunia meskipun hanya dijumpai korban dengan luka ringan saja,

4. Klasifikasi lain, jika tidak ada manusia yang menjadi korban, sedangkan
yang ada hanya kerugian materil saja, baik berupa kerusakan kendaraan,
jalan, jembatan.5

Menurut Hobbs (1993), di Inggris kecelakaan lalu lintas digolongkan menjadi :

1. Kecelakaan ringan : kecelakaan kecil yang tidak memerlukan perawatan


rumah sakit

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 18


2. Kecelakaan parah : kecelakaan yang menyebabkan korban harus dirawat di
rumah sakit.

3. Kecelakaan fatal : kecelakaan yang menyebabkan sedikitnya seorang


meninggal dunia,

4. Kelompok kecelakaan lain : kecelakaan yang menimbulkan kerusakan


(kerusakan fisik pada kendaraan atau hak milik tetapi tidak menimbulkan
kerusakan pada orang lain).6

Berdasarkan cara terjadinya kecelakaan, kecelakaan terbagi atas :

1. Hilang kendali/selip (Running off road).

2. Tabrakan di jalan (Collision On Road).

3. Dengan pejalan kaki.

4. Dengan kendaraan lain yang sedang berjalan

5. Dengan kendaraan yang sedang berhenti.

6. Dengan kereta, binatang, dll.6

Korban merupakan korban kecelakan dengan luka fatal karena kecelakaan yang
terjadi mengakibatkan seseorang atau lebih meninggal dunia. Menurut lokasi
kecelakaan, terdiri dari Jalan lurus, tikungan jalan, persimpangan jalan, dan tanjakan,
turunan, di dataran atau di pegunungan, di luar kota maupun di dalam kota. Kejadian
terjadi di dalam kota, tepatnya di atas rel kereta api. Kejadian ini terjadi di hari kerja.
Berdasarkan cara terjadinya kecelakaan, kecelakaan ini terjadi akibat tabrakan di jalan
(Collision on Road) , tepatnya tabrakan dengan kereta api.

3.3 Identifikasi Mayat

Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun
mati berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga diartikan
sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang
ada pada orang tak dikenal sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang
yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu.7

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 19


Pada kasus penemuan mayat, identifikasi forensik pada sisa-sisa tubuh manusia
sangatlah penting baik untuk alasan hukum maupun kemanusiaan. Proses identifikasi
dilakukan untuk mengetahui apakah sisa-sisa tubuh berasal dari manusia atau bukan,
jati diri mayat, penyebab kematian, dan perkiraan waktu kematian berdasarkan data
sebelum seseorang meninggal/hilang (antemortem data/AMD) untuk dibandingkan
dengan temuan pada mayat (postmortem data/PMD).7

Identifikasi dapat dilakukan dalam tiga cara : visual (kerabat atau kenalan melihat
jenazah); data secara rinci (misalnya, data ante-mortem yang cocok dengan informasi
yang dikumpulkan selama autopsy dan informasi situasional lainnya); dan secara ilmiah
atau objektif (misalnya, pemeriksaan gigi, sidik jari, atau DNA). Identifikasi tidak
mutlak berdasarkan urutan diatas; jika perlangsungan proses identifikasi menjadi lebih
sulit, cara selanjutnya yang dilakukan. Bila memungkinkan, identifikasi visual harus
dilengkapi dengan salah satu dari dua metode lain.8

Pada dasarnya, identifikasi terdiri dari dua metode utama, yaitu: 1) identifikasi
komparatif, yaitu bila selain data post mortem juga tersedia data ante mortem, dalam
suatu komunitas yang terbatas, dan 2) identifikasi rekonstruktif, yaitu bila tidak tersedia
data ante mortem dan komunitas tidak terbatas. Penentuan identitas personal dapat
menggunakan metode identifikasi visual, doukumen, properti, pemeriksaan medik, gigi,
serologik, sidik jari, analisis DNA, dan secara eksklusi. Identitas seseorang dapat
dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif
(tidak meragukan).8

Adapun tujuan dari identifikasi forensik adalah:

1. Kebutuhan etis dan kemanusiaan.

2. Pemastian kematian seseorang secara resmi dan yuridis.

3. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif dan pemakaman.

4. Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata.

5. Pembuktian klaim asuransi, pensiun dan lain-lain.

6. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal.8

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 20


3.4 Aspek Medikolegal Kecelakaan Lalu lintas
Kewajiban dan tanggung jawab pengemudi, pemilik kendaraan bermotor,
perusahaan angkutan, dan pemerintah serta hak korban sebagaimana tercantum dalam
UU. No. 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan di pasal-pasal berikut
ini :1
1. Kewajiban dan Tanggung Jawab Pengemudi, Pemilik Kendaraan Bermotor,
dan/atau Perusahaan Angkutan.

Pasal 234

 Ayat (1) Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/atau Perusahaan


Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh
Penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena
kelalaian Pengemudi.
 Ayat (2) Setiap Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/atau
Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerusakan jalan
dan/atau perlengkapan jalan karena kelalaian atau kesalahan Pengemudi.
 Ayat (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
tidak berlaku jika: a. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat
dielakkan atau di luar kemampuan Pengemudi; b. disebabkan oleh
perilaku korban sendiri atau pihak ketiga; dan/atau c. disebabkan gerakan
orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan.

Pasal 235

 Ayat (1) Jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu lintas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (1) huruf c, Pengemudi,
pemilik, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan
bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya pengobatan dan/atau
biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.
 Ayat (2) Jika terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban akibat
Kecelakaan Lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (1)
huruf b dan huruf c, pengemudi, pemilik, dan/atau Perusahaan Angkutan
Umum wajib memberikan bantuan kepada korban berupa biaya
pengobatan dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 21


Pasal 236

 Ayat (1) Pihak yang menyebabkan terjadinya Kecelakaan Lalu lintas


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 wajib mengganti kerugian yang
besarannya ditentukan berdasarkan putusan pengadilan.
 Ayat (2) Kewajiban mengganti kerugian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) pada Kecelakaan Lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal
229 ayat (2) dapat dilakukan di luar pengadilan jika terjadi kesepakatan
damai di antara para pihak yang terlibat.

Pasal 237

 Ayat (1) Perusahaan Angkutan Umum wajib mengikuti program asuransi


kecelakaan sebagai wujud tanggung jawabnya atas jaminan asuransi bagi
korban kecelakaan.
 Ayat (2) Perusahaan Angkutan Umum wajib mengasuransikan orang
yang dipekerjakan sebagai awak kendaraan.
2. Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemerintah

Pasal 238

 Ayat (1) Pemerintah menyediakan dan/atau memperbaiki pengaturan,


sarana, dan Prasarana Lalu lintas yang menjadi penyebab kecelakaan.
 Ayat (2) Pemerintah menyediakan alokasi dana untuk pencegahan dan
penanganan Kecelakaan Lalu lintas.

Pasal 239

 Ayat (1) Pemerintah mengembangkan program asuransi Kecelakaan Lalu


lintas dan Angkutan Jalan.
 Ayat (2) Pemerintah membentuk perusahaan asuransi Kecelakaan Lalu
lintas dan Angkutan Jalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
3. Hak Korban
Pasal 240 : Korban Kecelakaan Lalu lintas berhak mendapatkan:
 Pertolongan dan perawatan dari pihak yang bertanggung jawab atas
terjadinya Kecelakaan Lalu lintas dan/atau Pemerintah;

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 22


 Ganti kerugian dari pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya
Kecelakaan Lalu lintas; dan
 Santunan Kecelakaan Lalu lintas dari perusahaan asuransi.
Pasal 241
“Setiap korban Kecelakaan Lalu lintas berhak memperoleh pengutamaan
pertolongan pertama dan perawatan pada rumah sakit terdekat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Kasus ini menurut keterangan saksi, mayat ditabrak oleh kereta api,meskipun di
tabrak oleh kereta api menurut UU No. 72 tahun 2009, kasus ini tidak termasuk ke
dalam kasus kecelakaan perkeretaapian. Pada pasal 110 UU No.72 tahun 2009, yang
bukan termasuk kecelakaan perkerataapian adalah ketika terjadi pelanggaran yang
terjadi terhadap ayat (1) dan ayat (2), yang mana ayat 1 berbunyi “ Pada perpotongan
sebidang antara jalur kereta api dengan jalan yang selanjutnya disebut dengan
perpotongan sebidang yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus,
pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api” dan ayat 2 berbunyi
“Pemakai jalan wajib mematuhi semua rambu-rambu jalan di perpotongan sebidang”.9
Surat Keterangan Kematian dibuat bagi setiap manusia yang mati. Surat
Keterangan Kematian pada dasarnya menyatakan tentang telah meninggalnya seseorang
dengan identitas tertentu, tanpa menyebutkan sebab kematiannya. Keterangan ini dibuat
sekurang-kurangnya berdasarkan atas pemeriksaan luar jenazah. Pembuatan Surat
Keterangan Kematian harus dilakukan dengan hati-hati mengingat aspek hukumnya
yang luas, mulai dari urusan pensiun, administrasi sipil, warisan, santunan asuransi,
hingga adanya kemungkinan pidana sebagai penyebab kematian.10
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1964 Tentang
Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Lalu lintas JalanPasal 4 ayat 1 menjelaskan
bahwa setiap orang yang menjadi korban mati atau cacad tetap akibat kecelakaan yang
disebabkan oleh alat angkutan lalu lintas jalan tersebut dalam pasal 1, dana akan
memberikerugian kepadanya atau kepada ahli warisnya sebesar jumlah yang ditentukan
berdasarkan peraturan pemerintah. Hal yang dimaksud disini adalah yang mendapatkan
jaminan berdasarkan Undang-undang ini ialah mereka yang berada dijalan di luar alat
angkutan yang menyebabkan kecelakaan.11
3.5 Langkah dan Prinsip Identifikasi Mayat

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 23


Idenifikasi merupakan penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup
maupun mati berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga
diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah
ciri yang ada pada orang tak dikenal sehingga dapat ditentukan bahwa orang tersebut apakah
sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-
cirinya. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang
yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.
Identifikasi forensik dilakukan terhadap jenazah yang tidak diketahui identitasnya baik
akibat kejadian bencana massal, kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri maupun kejadian
lainnya.6,12

Pemeriksaan jenazah berupa pemeriksaan dalam dan luar. Dasar hukum


pemeriksaan jenazah adalah KUHAP Pasal 133 ayat 1 yang berbunyi “Dalam hal
penyidik untuk kepentingan pengadilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan kepada ahli Kedokteran Kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya”.13

A. Pemeriksaan Luar

Pemeriksaan luar adalah pemeriksaan terhadap tubuh jenazah bagian luar secara
menyeluruh, jelas, terperinci dan sistematis. Pada pemeriksaan luar jenazah untuk
kepentingan forensik , pemeriksaan harus cermat, terhadap apa yang dilihat, tercium,
maupun teraba baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu,
dan lain-lain serta tubuh mayat.13,14

Sistematika pemeriksaan luar meliputi :

1. Label mayat
Pada pemeriksaan luar harus dijelaskan label ada mayat terletak atau terikat
pada bagian tubuh yang mana, terbuat dari apa, berwarna apa, ada atau tidak
materai/cap dan bertuliskan apa. Pada mayat ini tidak terdapat label mayat.
Mayat seharusnya diberi label saat dikirim oleh kepolisian, biasanya berupa
sehelai karton yang diikatkan pada ibu jari kaki mayat serta penyegelan pada tali
pengkat label yang berfungsi untuk menjamin keaslian dari benda bukti. Hal
yang perlu dicatat pada label mayat, berupa warna dan bahan segel label,

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 24


materai atau segel label serta isi dari label mayat. Di samping label mayat dari
kepolisian, bisa didapatkan label identifikasi dari Instalansi Jenazah Rumah
Sakit.13,14
2. Tutup mayat
Mayat biasanya dikirim dalam keadaan ditutupi oleh sesuatu. Hal yang harus
dicatat adalah jenis atau bahan warna, serta corak dari penutup tersebut. Bila
terdapat bercak atau sesuatu yang lain pada penutup juga harus dicatat. Pada
mayat terdapat Penutup mayat berupa satu helai kain panjang berbahan katun
warna dasar putih dengan garis biru dan pada bagian tengahnya terdapat tulisan
“IGD”.13
3. Bungkus mayat
Mayat yang dikirim dapat dibawa dalam keadaan terbungkus. Bungkus mayat
harus dicatat jenis/bahan, warna, corak, serta adanya bahan yang mengotori.
Apabila terdapat tali pengikat, harus dicatat jenis/bahan tali pengikat, cara
pengikatan serta letak ikatannya. Pada mayat ini tidak terdapat pembungkus
mayat.13
4. Perhiasan mayat

Perhiasan mayat dicatat secara menyuluruh, yaitu jenis perhiasan, jumlah,


bahan, warna, merk, bentuk, terpasang dimana serta ukuran nama/inisial pada
benda perhiasan tersebut. Perhiasan pada mayat ini tidak ada. Perhiasan yang
digunakan mayat bermanfaat untuk identifikasi mayat berdasarkan dari
keterangan keluarga korban. 13,14

5. Pakaian mayat
Pakaian mayat harus dicatat secara spesifik, dimulai dari pakaian yang
dikenakan pada bagian atas sampai bagian bawah, dari lapisan terluar hingga
lapisan terdalam. Hal yang perlu dicatat pada pakaian, yaitu: bahan, warna
dasar, warna dan corak/motif dari tekstil, bantuk/model pakaian, ukuran,
merk/penjahit, cap binatu, monogram/inisial serta tambalan bila ada. Bila
terdapat bercak atau robekan pada pakaian, maka harus dicatat ukuran letaknya
dengan koordinatnya serta ukuran dari pengotoran dan atau robekan yang
ditemukan. Bila terdapat saku pada pakaian, maka saku harus diperiksa dan
dicatat isinya. Apabila korban mati akibat kekerasan atau yang belum diketahui,
maka pakaian sebaiknya disimpan sebagai barang bukti.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 25


Pada mayat ini ditemukan pakaian mayat berupa Satu helai kemeja lengan
pendek berbahan katun, warna abu-abu dengan corak kotak-kotak bewarna
hitam disertai bercak kemerahan di punggung dengan terdapatnya satu kantong
di dada kiri tanpa isi, satu helai celana pendek berbahan katun, warna dasar
coklat dengan corak pada kantong berbentuk bulat bewarna coklat muda dan
terdapat dua kantong di sisi kanan dan kiri dengan isi kosong. Pada kasus
kecelakaan lalu lintas, maka baju boleh disobek, tetapi apabila pada kasus yang
diduga pembuuhan, maka pakaian tidak boleh disobek dan dilepas satu
persatu.13,14,15
6. Benda di samping mayat

Pada saat pengiriman mayat, dapat pula bersamaan dengan benda di samping
mayat, seperti bungkusan atau tas. Benda-benda yang berada di samping
mayatpun harus dicatat dengan lengkap. Pada mayat ini tidak terdapat benda di
samping mayat. Benda samping mayat yang dijelaskan pada kasus ini
merupakan penjelasan rinci mengenai benda apapun yang terdapat di dekat
mayat pada waktu mayat ditemukan atau diantar oleh pihak yang berwajib.13,14

7. Tanda kematian
Setiap mayat yang datang untuk pemeriksaan jenazah, harus diperhatikan lagi
pemeriksaan bahwa mayat benar-benar mati. Pencatatan tanda kematian juga
bermanfaat untuk menentukan saat kematia. hal yang perlu dicatat, yaitu
mencatat waktu/saat dilakukannya pemeriksaan tanda kematian. Beberapa
pemeriksaan tanda kematian, yaitu: 13
a. Lebam mayat
Pencatatan pada lebam mayat yaitu letak dan distribusi lebam, adanya
bagian tertentu di daerah lebam mayat, daerah lebam mayat yang tidak
menunjukkan lebam seperti daerah tertekan, warna lebam mayat serta
intensitas lebam mayat ( menghilang dengan penekanan, sedikit menghilang
dengan penekanan atau sama sekali tidak menghilang dengan penekanan).
b. Kaku mayat
Pencatatan kaku mayat berupa distribusi, derajat kekakuan dan menentukan
apakah mudah atau sukar dilawan. Sendi yang diperiksa, yaitu sendi jari,
daerah dagu/tengkuk, lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut. Apabila
ditemukan adanya spasme kadaverik, catat dengan sebaik-baiknya karena

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 26


sppasme kadaverik menunjukkan apa yang sedang dilakukan oleh korban
saat terjadi kematian.
c. Suhu tubuh mayat
Perkiraan saat kematian menggunakan kriteria penurunan suhu tidak dapat
memberikan hasil yang memuaskan, tetapi pencatatan suhu tubuh mayat
masih dapat membantu perkiraan saat kematian. Pengukuran suhu tubuh
mayat dilakukan dengan termometer rektal dan pemeriksaan suhu ruangan
pada saat yang sama.
d. Pembusukan
Tanda pembusukan pertama yaitu tampak kulit perut sebelah kanan bawah
yang berwarna kehijau-hijauan. Mayat dapat diterima dalam keadaan kulit
ari telah terkelupas, terdapat gambaran pembuluh superisial yang melebar
berwarna biru-hitam, atau tubuh yang mengalami penggembungan yang
merupakan tanda pembusukan lebih lanjut.
e. Lain-lain
Pencatatan perubahan tanatologik yang mungkin terjadi yaitu mummifikasi
atau adipocere.

Tanda kematian mayat pada laporan kasus, yaitu pada pemeriksaan kaku mayat
didapatkan kaku mayat pada persendian jari tangan dan rahang bawah yang mudah
dilawan. Kemudian pada pemeriksaan lebam mayat ditemukan lebam mayat terdapat
pada punggung berwarna merah keunguan yang hilang pada penekanan.

Pemerisaan tanda kematian yang banyak digunakan saat ini adalah kaku mayat
dan lebam mayat. Tingkat kaku mayat yang dinilai dengan memfleksikan lengan dan
kaki untuk memeriksa tahanan akan mulai tampak sekitar 2 jam setelah mati klinis,
yang dimulai dari otot-otot kecil. Sementara lebam mayat terbentuk 20-30 menit setelah
mati somatis, serta lebam mayat masih hilang pada penekanan pada saat kematian
kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan. Pada kasus ini dapat disimpulkan
kematian yang terjadi pada mayat dalam waktu sekitar 30 menit hingga 2 jam.14

8. Identifikasi Umum
Identifikasi umum pada mayat yang perlu dicatat berupa identitas mayat, seperti
jenis kelamin, bangsa atau ras, umur, warna kulit, keadaan gizi, tinggi dan berat
badan, pada laki-laki apakah zakar disirkumsisi atau tidak, adanya striae

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 27


albicantes pada dinding perut. Identifikasi umum pada mayat ini didapatkan
mayat seorang laki-laki, ras mongoloid, berumur 21 tahun, kulit warna sawo
matang, gizi baik, panjang tubuh 158cm, berat badan tidak ditimbang, zakar
disunat.
9. Identifikasi Khusus
Apabila menemukan identifikasi khusus pada mayat, maka harus dicatat seperi:
a. Rajah/tato
Catat letak, bentuk, warna serta tulisan tato yang ditemukan dan
didokumentasi.
b. Jaringan parut
Catat letak dan jaringan parut yang ditimbulkan akibat penyembuhan luka
atau akibat tindakan bedah.
c. Kapalan (callus)
Catat lokasi dan distribusi dari callus, keterangan tersebut dapat
berhubungan dengan pekerjan mayat semasa hidupnya, seperti pada pekerja
atau buruh pikul callus terdapat pada bahu.
d. Kelainan pada kulit
Seperti adanya kutil, bercak hipo atau hiperpigmentasi, eksema maupun
kelainan kulit yang lain dapat membantu dalam penentuan identitas.
e. Anomali dan cacat pada tubuh
Kelainan berupa anomali maupun deformitas akibat penyakit maupun
bawaan lahir, atau kekerasan perlu dicatat.
Identifikasi khusus pada mayat ini tidak ada.
10. Pemeriksaan rambut

Pemeriksaan ini bertujuan untuk membantu identifikasi. Distribusi, warna,


keadaan tumbuh serta sifat (halus, lurus, atau ikal) dari rambut harus dicatat.
Pemeriksaan rambut yang dilakukan yaitu pada rambut kepala, alis, bulu mata,
kumis, jenggot dan rambut pubis. Dari pemeriksaan rambut pada mayat
didapatkan rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lurus, panjang 9 cm. Alis
mata berwarna hitam, tumbuh tipis, panjang 0,5 cm. Bulu mata berwarna hitam,
tumbuh lurus, panjang 0,5cm. Kumis tidak ada, jenggot tidak ada.13

11. Pemeriksaan mata

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 28


Pemeriksaan dilakukan berurutan, pertama lihat apakah kelopak mata terbuka
atau tertutup, jika terbuka ukur berapa cm terbukanya. Periksa apakah terdapat
tanda kekerasan maupun kelainan pada kelopak mata. Pemeriksaan juga menilai
keadaan selaput lendir kelopak mata, bagaimana warnanya, adakah pembuluh
darah yan melebar, adakah bintik perdarahan atau bercak perdarahan.13,14
Nilai apakah ada kelainan pada bola mata berupa tanda kekerasan, ptysis bulbi
atau pemakaian mata palsu dan lain-lain. Lihat juga keadaan selaput lendir bola
mata, adakah pelebaran pembuluh darah, bintik perdarahan atau kelainan lain.
Pemeriksaan terhadap kornea atau selaput bening mata apakah jernih, adakah
kelainan, fisiologis seperti arcus senilis maupun patologis seperti leucoma. Pada
tirai mata atau iris, nilai warnanya, pada teleng mata atau pupil nilai ukurannya,
sama kedua mata atau tidak serta apakah terdapat kelainan pada lensa mata.13,14
Pemeriksaan pada bagian mata mayat ini didapatkan mata kanan terbuka 4 mm,
selaput bening mata jernih, teleng mata bulat diameter 0,5 cm, warna tirai mata
kecokelatan, selaput bola mata pucat, selaput kelopak mata pucat. Mata kiri
terbuka 4 mm, selaput bening mata jernih, teleng mata bulat diameter 0,5 cm,
warna tirai mata kecokelatan, selaput bola mata pucat, selaput kelopak mata
pucat.
12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Pemeriksaan terhadap daun telinga dan hidung diperlukan untuk membantu
identifikasi mayat. Pemeriksaan juga untuk menilai apakah ada tanda kekerasan,
serta apakah keluar cairan atau darah dari telinga dan hidung. Pada pemeriksaan
hidung didapatkan hidung mayat sedang. Kedua daun telinga berbentuk oval.
13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut

Pemeriksaan meliputi bibir, lidah, rongga mulut serta gigi geligi. Periksa dan
catat apakah ada tanda-tanda kekerasan maupun kelainan yang ditemukan.
Periksa juga apakah terdapat benda asing pada rongga mulut atau tidak. Pada
pemeriksaan gigi geligi penting untuk periksa jumlah gigi. Ada dua jenis gigi,
yaitu gigi susu dan gigi permanen:

a. Gigi susu (milk teeth) disebut gigi sementara atau dens decidui dan
jumlahnya 20 buah, yakni 4 buah incisivus, 2 caninus, dan 4 molar di setiap
rahang. Bayi akan mengalami pertumbuhan gigi susu pada umur 6 bulan

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 29


dan selesai pertumbuhannya pada umur 24 bulan. Jika ada gigi susu incisivi
tumbuh, maka umurnya diperkirakan sekitar 6-8 bulan.
b. Gigi permanen (permanen teeth) disebut gigi tetap, jumlahnya 32 buah,
yakni 4 buah incisivus, 2 caninus, 4 premolar dan 6 molar di setiap rahang.
Penentuan umur berdasarkan jumlah dan jenis gigi hanya dapat ditentukan
secara umum sampai umur 18-25 tahun. Diatas umur ini yang diperhatikan
adalah keausan gigi (atrisi), warna dan lain-lain.16
Selain jumlah gigi, penting juga untuk menilai gigi geligi yang hilang, patah,
mendapat tambalan atau bungkus logam, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan
dan lain-lain. Data gigi geligi merupakan data yang penting dalam
identifikasibila terdapat data pembanding. Selain itu, gigi geligi merupakan
bagian tubuh yang paling keras dan tahan terhadap kerusakan.13,14

Pada pemeriksaan mulut pada mayat didapatkan mulut tertutup dan lidah tidak
terjulur, tidak tergigit. Gigi geligi berjumlah 28 buah. Pada rahang kanan atas,
jumlah gigi geligi 7 buah. Pada rahang kanan bawah, jumlah gigi geligi 7 buah.
Pada rahang kiri atas, jumlah gigi geligi 7 buah. Pada rahang kiri bawah, jumlah
gigi geligi 7 buah. Pada mayat, didapatkan molar ketiga pada setiap rahang
belum erupsi atau belum muncul sehingga dapat diperkirakan bahwa mayat
berusia kurang dari 18-25 tahun.15,16

14. Rongga-rongga tubuh


Pemeriksaan dilakukan pada lubang-lubang tubuh, dilihat cairan atau zat yang
keluar dan dicatat dengan lengkap. Dari lubang mulut tidak keluar apa-apa, dari
lubang hidung tidak keluar cairan, dari lubang telinga kiri dan kanan tidak
keluar cairan, dari lubang kemaluan dan lubang pelepasan tidak keluar apa-
apa.14
15. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan
Pada mayat laki-laki, nilai apakah terdapat kelainan bawaan, berupa hipospadia,
epispadia, dan lain-lain, adanya manik-manik yang ditanam di bawah kulit, serta
apakah ada cairan yang keluar dari lubang kemaluan serta kelainan lain.
Pada mayat perempuan, periksa keadaan selaput dara dan komisura posterior
untuk melihat tanda kekerasan. Jika curiga adanya persetubuhan sebelum
kematian dapat diperiksa cairan atau sekret dari liang senggama. Penting juga
untuk menilai lubang pelepasan, untuk menilai apakah terdapat perlakuan

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 30


sodomi, anus berbentuk corong dengan selaput lendir berubah menjadi lapisan
bertanduk dan hilangnya rugae.13
16. Lain-lain
Pemeriksaan lain yang perlu diperhatikan ialah:
a. Tanda perbendungan, ikterus, sianosis pada kuku/ ujung-ujung jari atau
adanya sembab
b. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheotomi, suntikan, pungsi
lumbal dan lain-lain.
c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan atau
serpihan cat, pecahan kaca, lumuran aspal dan sebagainya.
17. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka
Pada pemeriksaan tanda-tanda kekerasan atau luka nilai dan catat letak luka,
jenis luka, dasar luka, ukuran luka, dan sekitar luka.
18. Pemeriksaan terhadap fraktur atau patah tulang
Perlu dinilai dan catat letak patah tulang yang ditemukan beserta sifat atau jenis
masing-masing patah tulang. Fraktur yang terjadi dapat berupa fraktur terbuka
maupun tertutup, pada fraktur tertutup pemeriksa dapat merasakan krepitasi
pada perabaan tulang yang fraktur serta ditentukan juga adanya dislokasi. Pada
mayat ini tidak terdapat patah tulang. Pada kasus kecelakaan lalu lintas, maka
penting dicari adanya fraktur akibat dari trauma.13,14,15
3.6 Sebab Kematian

Kematian yang diakibatkan oleh luka yang parah lebih mudah dijelaskan,
misalnya luka parah yang terjadi di kepala kemudian mengalami gegar otak ataupun
perdarahan.

Saat kematian terjadi disebabkan kecelakaan di jalan, atau korban yang bertahan
beberapa saat sebelum meninggal setelah ditabrak, biasanya akan terdapat kerusakan
musculoskeletal atau organ, perdarahan parah, blockade aliran udara dari darah, atau
asfiksia traumatis akibat fiksasi bagian dada oleh karena benturan yang terjadi.

Korban yang sempat bertahan hidup tetapi selanjutnya meninggal, mungkin bisa
disebabkan oleh terjadinya perdarahan yang berkelanjutan, perdarahan sekunder,
kegagalan ginjal karena hipotensi, kerusakan otot yang ekstensif, metabolisme lemak,

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 31


infeksi lokal, infeksi toraks atau sistemik lainnya, infarksi miokardial atau serebral dan
sekuele lainnya.

Terdapatnya penyakit yang sudah dialami sebelumnya juga menjadi pertimbangan


yang penting dalam kematian yang disebabkan kecelakaan lalu lintas, karena adanya
kemungkinan kematian akibat penyakit alami yang diderita. Sebagai tambahan,
kerusakan pada indera penglihatan atau pendengaran juga mungkin memiliki hubungan
dengan menyebabkan kecelakaan, tetapi hal tersebut hampir tidak pernah dimasukkan
ke dalam catatan otopsi.

Selain itu, apabila pembahasan melibatkan pihak pengemudi atau pilot atau
bahkan kapten kapal, terdapat pula kemungkinan lainnya yaitu pengaruh konsumsi
alkohol yang menyebabkan intoksikasi pada diri korban, juga kemungkinan adanya
unsur penyakit. Hal tersebut merupakan unsur pengaruh yang sangat penting.

Penelitian yang dilakukan oleh Schmidt terhadap 39 kasus kematian di Jerman


menemukan bahwa 97% dari penyakit kardiovaskular dan 90% dari penyakit jantung
koroner menjadi penyebab kematian di jalan raya. Sementara itu Morild di Norwegia
menemukan bahwa 14 dari 133 kasus kematian yang disebabkan kecelakaan lalu lintas
disebabkan oleh penyakit, terutama atherosclerosis koroner.

Adapun pada pasien, ditemukan luka robek pada kepala belakang bagian kiri, luka
memar pada puncak bahu kanan , luka lecet geser pada dahi, pipi kiri, hidung, lengan
atas kanan, dada kanan, perut kanan, lengan bawah kanan sisi depan, tungka bawah kiri,
punggung kaki kiri, pergelangan kaki kanan akibat kekerasan tumpul serta luka yang
sudah dijahit pada dada kanan akibat kekerasan tajam. Berdasarkan anamnesis, pasien
meninggal setelah dilakukan operasi pasca kecelakaan lalu lintas. Terdapat banyak
kemungkinan penyebab kematian pasien ini. Sebab kematian tidak dapat ditentukan
karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam (autopsi).

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 32


BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian yang tidak


terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka,
atau kematian. Kecelakaan lalu lintas dibagi atas “A motor-vehicle traffic
accident” dan “Non motor-vehicle traffic accident”.
2. Identifikasi mayat dilakukan untuk mengetahui jati diri mayat, penyebab
kematian, dan perkiraan waktu kematian berdasarkan data sebelum seseorang
meninggal/hilang (antemortem data/AMD) untuk dibandingkan dengan temuan
pada mayat (postmortem data/PMD).
3. Kewajiban dan tanggung jawab pengemudi, pemilik kendaraan bermotor,
perusahaan angkutan, dan pemerintah serta hak korban tercantum dalam UU.
No. 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan.
4. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang
yang ditujukan untuk kepentingan forensik proses peradilan terhadap jenazah
yang tidak diketahui identitasnya, berupa pemeriksaan dalam dan luar.
5. Penyebab kematian pada kecelakaan lalu lintas dapat dikarenakan adanya
penyakit sebelum terjadinya kecelakaan ataupun multiple trauma, tapi pasien
ini karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam (autopsi) sebab kematian tidak
dapat ditentukan.

4.2 Saran

Pada laporan ini dijelaskan mengenai trauma akibat kecelakaan lalu lintas
khususnya kendaraan bermotor yang ditulis berdasarkan berbagai kepustakaan, namun
referensi yang digunakan masih terbatas pada beberapa sumber saja. Disarankan untuk
membahas mengenai dengan referensi yang lebih luas lagi.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 33


DAFTAR PUSTAKA
1. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun
2009 Tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Lembaran Negara RI Tahun
2009. Sekretariat Negara. Jakarta.
2. Fauzi AA. Penanganan cedera kepala di puskesmas. [updated 2007 Desember]
Available from: http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/pus-1.htm
3. Hardajati S. Penerapan variable traffic controllers system di dki Jakarta.
[updated 2007 Agustus] Available from : http://www.digilib.itb.ac.id.ai
4. Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum. Perhitungan besaran biaya
kecelakaan lalu lintas dengan menggunakan metoda the gross output. Available
from :
www.pu.go.id/satmika/balitbang/sni/buat%20web/rsni%202005/pedoman%20te
knik/pusjatan/pd%20t-02-2005-b.pdfSartono,Wardhani, 1993. Penelitian Daerah
Rawan Kecelakaan Lalu lintas Pada Ruas Jalan Kupang – Atambua di Propinsi
Nusa Tenggara Timur. Media Teknik No. I tahun XV, UGM, Yogyakarta.
5. Hobbs, F.D., 1979. Traffic Planning and Engineering, Second edition, edisi
Indonesia, 1995, terjemahan Suprapto T.M. dan Waldijono, Perencanaan dan
Teknik Lalu lintas, Edisi kedua, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
6. Toruan, NJ. 2013. Identifikasi Forensik. Universitas Katolik Santo Thomas,
Medan.
7. Monica, G, Siwu, J & Mallo, J. Maret 2013. Identifikasi Personal dan
Identifikasi Korban Bencana Massal di BLU Prof Dr R.D Kandou Manado
Periode Januari 2010 – Desember 2012. Jurnal Biomedik (JBM), Volume 5,
Nomor 1:119-126.
8. Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang No. 72 Tahun 2009 tentang Lalu
lintas dan Angkutan Kereta Api. Lembaran Negara RI Tahun 2009. Sekretariat
Negara. Jakarta.
9. Sempurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Peranan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam
Penegakan Hukum; sebuah pengantar. Jakarta: Forensik FKUI.
10. Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34
Tahun 1964 Tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Lalu lintas
Jalan.Jakarta.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 34


http://dinkes.sumutprov.go.id/img_perundangan/58UU_1964_34.Dana%20Pert
anggungan%20Wajib%20KLL.pdf Diakses 19 Desember 2018.
12. Zakirulla M, Allahbaksh M. 2011. Modern Tools in Forensic Dentistry. Int J
Contemp Dent. 2(3):28-33.
13. Susanti R, Manela C, Hidayat T. 2017. Modul Forensik Pemeriksaan Luar.
Padang: Bagian Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas. 2-12.
14. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FK UI. Pemeriksaan Luar. dalam:
Teknik Autopsi Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI. 12-20.
15. Ilmu kedokteran forensik FK UI.
16. Amir, Amri. Identifikasi pada Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, edisi
kedua, Medan: Ramadhan, 2008. Hal 178-203.

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 35