Anda di halaman 1dari 6

BAGIAN 2

PEMBAHASAN

A. Duplikasi Kubus

Duplikasi kubus adalah melukiskan/mengkonstruksi rusuk suatu kubus sehingga


volumenya dua kali volume kubus yang di ketahui. Problem duplikasi kubus ini muncul
adanya perintah seorang raja di Yunani yakni Minos untuk memperluas makam anaknya
sehingga luasnya menjadi dua kali luas makam yang ada kepada bawahannya. Karena
bawahannya tidak mengerti matematika, perintah di laksanakan dengan mendua lipatkan
sisinya. Hal ini jelas salah karena hasilnya menjadi 4 kali luas semula. Problem ini di
kenal dengan Delian Problem. Problem ini di diskusikan di Akademi Plato dengan
pendekatan Geometri tingkat tinggi. Duplikasi kubus ini pertama kali di reduksi oleh
Hippocrates (± 440 SM) dengan konstruksi perbandingan dua rata-rata antara dua segmen
garis yang panjangnya s dan 2s. Dua perbandingan rata-rata misalnya x dan y, maka:

s : x = x : y = y :2s

dari perbandingan di atas di dapatkan x2 = sy dan y2 = 2sx. Dengan mengeleminir y di


dapatkan x3 = 2s3 dari persamaan terakhir maka x merupakan rusuk kubus yang di cari
dan s rusuk kubus yang di ketahui.

Setelah reduksi di kemukakan oleh Hippocrates, banyak tokoh matematika lain yang
mengemukakan penyelesaian duplikasi kubus ini, di antaranya oleh Archytas (± 400SM),
Eudoxus pada tahun ± 370 SM, Menachmus (± 350 SM), Eratosthenas (± 230 SM),
Apollonius (± 225 SM).

Metode yang di kemukakan oleh Plato sebagai berikut :

Pandanglah dua segitiga CBA dan DAB siku-siku di B dan di A (lihat gambar
berikut) dengan sisi sekutu AB.

1
D C R
U

P D

C
P
A B
S

V W

Hipotenusa kedua segitiga siku-siku masing-masing AC dan BD berpotongan saling


tegak lurus di P, sehingga segitiga CPB, BPA dan APD sebangun maka di dapatkan PC :
PB = PB : PA = PA : PD maka PB dan PA sebagai perbandingan dua rata-rata antara PC
dan PD. Problem duplikasi kubus ini terpecahkan jika pada konstruksi gambar PD = 2
PC.

Berdasarkan hasil analisis gambar di atas dapat di buat alat yang di sebut carpenter
seperti gambar di sampingnya, dengan RST bagian sisi carpenter sehingga segitiga siku-
siku UVW dapat di geser-geser untuk mendapatkan titk potong P sehingga titik potong
hipotunesa SC dan DP yang saling tegak lurus, maka PD = 2 PC.

B. Triseksi Sudut

Salah satu dari problem matematika Yunani yang menarik adalah triseksi sudut, yaitu
membagi sudut menjadi tiga bagian sama besar. Setiap tahun jurnal matematika memuat
tentang cara penyelesaian triseksi ini, begitu pula para matematikawan selalu
berkomunikasi melalui koran tentang cara penyelesaian triseksi ini.

Triseksi ini pertama kali di reduksi oleh bangsa Yunani yang di sebut dengan Verging
problem, seperti gambar berikut. Sudut ABC pada persegi panjang ABCD yang di bangun
oleh garis BC dan diagonal BA. Pandanglah garis yang melalui B memotong CA di E dan
DA di F sedemikian sehingga EF = 2 BA. Titik G merupakan titik tengah EF, maka EG =
GF = GA = BA sehingga < ABG = < AGB = < GAF + < GFA = 2 < GBC. Jadi garis BEF
sebagai garis bagi tiga < ABC.

2
D A F

B C

Cara lain yang di kemukakan oleh Nicomedes (± 240 SM) yang di sebut dengan
concoid Nicomedes dengan cara sebagai berikut :

Pandanglah sudut AOB yang akan di bagi tiga. Gambarlah garis MN tegak lurus OA,
memotong OA dan OB masing-masing di D dan L. buat garis lurus (sinar) melalui titik
O sebanyak mungkin untuk melukis concoid MN dengan titik pusat O dengan jarak tetap
2(OL) di hitung dari titik potong sinar yang di buat melalui titik O dengan garis lurus
MN. Gambar garis melalui L sejajar OA hingga memotong concoid di titik C. Garis OC
adalah garis bagi tiga sudut AOB.

A
C
B

M L D N

Cara lain untuk membagi suatu sudut tiga bagian sama besar menggunakan alat Euclid
berupa penggaris dan jangka. Alat tersebut di namakan tomahawk. Pencipta tomahawk

3
tidak di ketahui, tetapi alat terlukis di buku pada tahun 1835. Konstruksi tomahawk di
mulai dari suatu segmen garis lurus RU yang di bagi tiga bagian sama panjang di S dan
T. selanjutnya di gambar setengah lingkaran SU sebagai diameter dan gambar garis SV
tegak lurus RU. Membagi tiga sudut ABC dengan menempatkan tomahawk di sisi BA
pada R dan SV melalui B dan sisi BC menyinggung setengah lingkaran di D. dapat di
buktikan segitiga BSR, BST dan BDT kongruen, akibatnya garis BS dan BT sebagai
garis bagi sudut.

R S T U
A
C

1 2 3

Cara lain di kemukakan oleh Albrecht Durer dengan melalui lukisan.

Sudut AOB yang di bagi merupakan sudut pusat suatu lingkaran. Tali busur AB di bagi tiga
sama panjang dan tentukan titik C sebagai titk bagi yang dekat B. Melalui titik C buat garis
tegak lurus AB hingga memotong lingkaran di D. Dengan pusat titik B buat busur dengan
jari-jari BD hingga memotong AB di E. Dengan pusat titik B buat busur dengan jari-jari BF
hingga memotong lingkaran di G, maka garis OG sebagai garis bagi tiga sudut AOB dengan
ketelitian 1” jika sudut AOB = 600 dan 18” jika sudut AOB = 900. < garis EC di bagi tiga
sama panjang dan tentukan titik bagi F dekat dengan E.

D
G

A E C B
F

4
C. Quadratur Lingkaran

Quadratur Lingkaran adalah suatu problem untuk melukiskan suatu bujur sangkar
yang luasnya sama dengan lingkaran yang di ketahui. Di sekitar tahun 1800 SM bangsa
Mesir kuno sudah memecahkan problem ini, yakni dengan mengambil sisi bujur sangkar
yang sama dengan 8/9 diameterr lingkaran. Formula ini di gunakan oleh ribuan para
pekerja waktu itu.

Orang Yunani pertama memecahkan problem ini adalah Anaxagoras (499-427 SM),
tetapi cara ini tidak di ketahui. Penyelesaian problema Quadratur Lingkaran ini di
kemukakan oleh Archimedes (225 SM) yang di kenal dengan spiral Archimedes.

Suatu titik P pada sinar/garis yang berputar mengelilingi titik pangkal pada bidang
datar. Dengan menggunakan system koordiant polar (kutub) dengan posisi garis
horizontal OA dengan titik pangkal O sebagai kutub (pusat) di mana tiitk P berhimpit
dengan titik O yang akan menghasilkan sinar OP apabila garis OA berputar, sehingga di
dapatkan perbandingan OP dengan sudut AOP yang mendapatkan perbandingan jari-jari
spiral r = a dengan a sebagai jari-jari lingkaran seperti gambar berikut.

P ao
o

O a A

Gambarlah suatu lingkaran dengan titik pusat O dan jari-jari a, maka OP dan busur
lingkaran antara OA dan OP adalah sama yaitu AO. Jika OP tegak lurus OA, maka
panjang OP sama dengan seperempat keliling lingkaran.

5
Jika K luas lingkaran adalah perkalian setengah jari-jari dan keliling lingkaran,
sehingga di dapat :

K = ½ a (4OP)

= (2a) (OP)

Sisi bujur sangkar adalah perbandingan rata-rata antara 2a dan OP atau antara
diameter lingkaran dan panjang jari-jari sector spiral yang tegak lurus OA.

D. Kronologi Nilai π

Penyelesaian problem qadratur lingkaran menghasilkan perhitungan π, yakni sebagai


perbandingan antara keliling dan diameternya. Orang-orang kuno menggunakan nilai π =
3. Bangsa Mesir kuno dalam pembahasan quadratur lingkaran mendapatkan nilai π =
(4/3)4 = 3, 1604 . . .

Orang pertama yang menghitung nilai π secara scientific adalah Archimedes.

Kronologi perhitungan nilai π adalah sebagai berikut :

240 SM Pada awalnya di buat lingkaran dengan diameter satu-satuan. Keliling


lingkaran terletak antara keliling segibanyak beraturan yang di lukiskan
di dalam dan di luar lingkaran tersebut. Selanjutnya pada lingkaran
segibanyak beraturan sisi 6, 12, 24, 48 dan 96. Akhirnya Archimedes
mendapatkan nilai π antara 223/71 dan 22/7 atau nilai π = 3, 14 untuk
dua decimal. Perhitungan nilai π menggunakan segibanyak beraturan di
kenal dengan metode klasik.
190 AD Setelah perhitungan π oleh Archimedes, selanjutnya oleh Claudius
Ptolemy dari Alexandria seorang ahli astronomi bangsa Mesir
memberikan nilai π dengan basis 60 yakni 8’ 30” ; yakni 377/120 atau 3,
1416 . . .
480 AD Pekerja mekanika Cina menggunakan nilai π mendekati bilangan rasional
355/120 = 3, 1415929 . . .
530 AD Matematika Hindu Aryabrata pendekatan nilai π = 62832/20000 = 3,
1416 . . . cara mendapatkannya tidak di ketahui. Mungkin bersumber
dari Yunani atau dari perhitungan keliling segibanyak beraturan sisi 384.
1150 AD Matematika Hindu Bhaskara beberapa pendekatan nilai π yang di
gunakan, yakni 3927/1250 yang akurat, 22/7 yang kurang akurat dan 1 0
untuk pekerjaan.

Nilai π yang lain adalah 754/240 = 3, 1416. Perhitungan nilai ini di lakukan terus
menerus oleh ahli-ahli matematika hingga tahun 1961 oleh Wrech dan Daniel Shanks dari
Whasington DC menghitung nilai π menggunakan mesin IBM 7090 sampai 100265
desimal.

Anda mungkin juga menyukai