Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DISTRESS SPIRITUAL


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Keperawatan Kesehatan Jiwa I
Dosen Pembimbing : Rully Andika, MAN

Disusun oleh:

1. Fiorentina Angie Al Fadli (108116011)


2. Atika Nur Hapsari (108116013)
3. Sukma Wardahana (108116031)
4. Yola Amelia (108116034)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun makalah ini
dengan sebaik-baiknya.
Penyusunan makalah ini atas dasar tugas mata kuliah Keperawatan Dan
Kesehatan Jiwa tentang “Asuhan Keperawatan Spiritual” untuk melengkapi materi
berikutnya. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada nara sumber yang
telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Mohon maaf penulis
sampaikan apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini, karena
kami masih dalam tahap belajar.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai referensi untuk menambah
wawasan kepada pembaca. Penulis sadari dalam penyusunan makalah ini masih
terdapat banyak kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik
guna perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih.

Cilacap, 5 April 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Cover............................................................................................................... i
Kata Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar Isi ....................................................................................................... iii
BAB I Pendahuluan....................................................................................... 1
A. Latar Belakang Penulisan ..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan ................................................................................... 1
D. Manfaat Penulisan ................................................................................. 2
BAB II Pembahasan ..................................................................................... 3
A. Pengertian ............................................................................................. 3
B. Penyebab ............................................................................................... 3
C. Patofisiologi .......................................................................................... 3
D. Tandan Dan Gejala ............................................................................... 5
E. Karakteristik distres spiritual ................................................................ 5
F. Asuhan Keperawatan ............................................................................ 6
BAB III Penutup ......................................................................................... 18
A. Kesimpulan ......................................................................................... 18
B. Saran ................................................................................................... 18
Daftar Pustaka .............................................................................................. 19

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap orang dalam hidupnya pasti akan menghadapi yang namanya
masalah, sikap seseorang dalam menghadapi sangat ditentukan oleh keyakinan
mereka masing-masing. Keyakinan yang dimiliki setiap orang selalu dikaitkan
dengan kepercayaan atau agama. Spiritual, keyakinan dan agama merupakan
hal yang berbeda namun seringkali diartikan sama. Penting sekali bagi seorang
perawat memahami perbedaan antara Spiritual, keyakinan dan agama guna
menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan
perawat dengan pasien.
Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan
keperawatan yang holistik dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan
asuhan keperawatan secara komprehensif bukan hanya pada masalah secara
fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual diberikan kepada
calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.
Spiritual berasal dari bahasa latin spiritus, yang berrti bernafas atau angin.
Ini berarti segala sesuatu yang menjadi pusat semua aspek dari kehidupan
seseorang (McEwan, 2005).
Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan
Maha Pencipta (Achir Yani, 2000).

B. Rumusan Masalah
1. Apa konsep dari spiritual?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan Spiritual?

1
C. Tujuan
Makalah ini disusun bertujuan untuk:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan dan Kesehatan Jiwa.
2. Untuk menambah informasi kepada mahasiswa mengenai Asuhan
Keperawatan Spiritual.

D. Manfaat
1. Manfaat Bagi Masyarakat
Meningkatkan kesadaran terhadap perlunya pengetahuan mengenai tanda-
tanda bahaya dan usaha penanggulangan sehingga diharapkan dapat
dicegah secara dini.
2. Manfaat Bagi Mahasiswa
Merupakan sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat untuk
mendapatkan pengalaman nyata.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Spiritualitas adalah suatu aktivitas individu untuk mencari arti dan tujuan
hidup yang berhubungan dengan kegiatan spiritual atau keagamaan. Distress
spiritual merupakan suatu respon akibat suatu kejadian yang traumatis baik
fisik maupun emosional yang tidak sesuai dengan keyakinan atau kepercayaan
pasien dalam menerima kenyataan yang terjadi.
Masalah berencana atau stressor yang dihadapi individu mungkin akan
menimbulkan percayaan bagi individu tentang apa yang telah dilakukan atau
apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap dirinya. Individu terkadang ragu,
bingbang atau antipati dengan spiritual atau agama yang dianutnya. Menurut
Rousseau (2003), distress spiritual harus pula diperhatikan atau
dipertimbangkan bila individu mengeluhkan gejala-gejala fisik dan tidak
berespon terhadap intervensi yang aktif.
Distress spiritual adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan prinsip
kehidupan, keyakinan, kepercayaan atau keagamaan pasien yang
menyebabkan pada aktivitas spiritual akibat masalah-masalah fisik atau
psikososial yang dialami (Dochterman, 2004).

B. Penyebab
1. Factor fisik : kecacatan akibat kecelakaan atau bencana alam atau buatan
manusia.
2. Factor psiologis : kehilangan orang yang berarti atau harta benda akibat
bencana.
3. Factor lingkungan : gangguan akibat kerusakan atau hilangnya potensi atau
situasi linhkungan yang selama ini akrab dengan pasien.

3
C. Patofifsiologi
Patofisiologi distress spiritual tidak bisa dilepaskan dari stress dan struktur
serta fungsi otak.
Stress adalah realitas kehidupan manusia sehari-hari. Setiap orang tidak
dapat dapat menghindari stres, namun setiap orang diharpakan melakukan
penyesuaian terhadap perubahan akibat stres. Ketika kita mengalami stres, otak
kita akan berespon untuk terjadi. Konsep ini sesuai dengan yang disampikan
oleh Cannon, W.B. dalam Davis M, dan kawan-kawan (1988) yang
menguraikan respon “melawan atau melarikan diri” sebagai suatu rangkaian
perubahan biokimia didalam otak yang menyiapkan seseorang menghadapi
ancaman yaitu stres.
Stres akan menyebabkan korteks serebri mengirimkan tanda bahaya ke
hipotalamus. Hipotalamus kemudian akan menstimuli saraf simpatis untuk
melakukan perubahan. Sinyal dari hipotalamus ini kemudian ditangkap oleh
sistem limbik dimana salah satu bagian pentingnya adalah amigdala yang
bertangung jawab terhadap status emosional seseorang. Gangguan pada sistem
limbik menyebabkan perubahan emosional, perilaku dan kepribadian.
Gejalanya adalah perubahan status mental, masalah ingatan, kecemasan dan
perubahan kepribadian termasuk halusinasi (Kaplan et all, 1996), depresi, nyeri
dan lama gagguan (Blesch et al, 1991).
Kegagalan otak untuk melakukan fungsi kompensasi terhadap stresor akan
menyebabkan seseorang mengalami perilaku maladaptif dan sering
dihubungkan dengan munculnya gangguan jiwa. Kegagalan fungsi kompensasi
dapat ditandai dengan munculnya gangguan pada perilaku sehari-hari baik
secara fisik, psikologis, sosial termasuk spiritual.
Gangguan pada dimensi spritual atau distres spritual dapat dihubungkan
dengan timbulnya depresi.
Tidak diketahui secara pasti bagaimana mekanisme patofisiologi
terjadinya depresi. Namun ada beberapa faktor yang berperan terhadap
terjadinya depresi antara lain faktor genetik, lingkungan dan neurobiologi.

4
Perilaku ini yang diperkirakan dapat mempengaruhi kemampuan
seseorang dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya sehingga terjadi distres
spritiual karena pada kasus depresi seseorang telah kehilangan motivasi dalam
memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan spritual.

D. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada pasien distress spiritual :

1. Selalu menanyakan kebenaran keyakinan yang dianut ( contohnya :


pasien kurang atau tidak yakin lagi dengan nilai yang selama ini
dianutnya ).
2. Merasa tidak nyaman terhadap keyakinan atau nilai yang dianutnya.
3. Ketidakmampuan melakukan kegiatan keagamaan yang bisa
dilakukannya secara rutin
4. Perasaan ragu terhadap nilai atau keyakinan yang dimilikinya.
5. Menyatakan perasaan tidak ingin hidup.
6. Merasakan kekosongan jiwa yang berkaitan dengan keyakinan atau
agamanya.
7. Menyatakan putus hubungan dengan orang lain dan Tuhan.
8. Mengekspresikan perasaan, marah, takut, cemas terhadap arti hidup ini,
penderitaan atau kematian.

E. Karakteristik distres spiritual


Karakteristik Distres Spritual menurut EGC (2008) meliputi empat hubungan
dasar yaitu :

A. Hubungan dengan diri


1. Ungkapan kekurangan
a. Harapan
b. Arti dan tujuan hidup
c. Perdamaian/ketenangan
d. Penerimaan

5
e. Cinta
f. Memaafkan diri sendiri
g. Keberanian
2. Marah
3. Kesalahan
4. Koping yang buruk
B. Hubungan dengan orang lain
1. Menolak berhubungan dengan tokoh agama
2. Menolak interaksi dengan tujuan dan keluarga
3. Mengungkapkan terpisah dari sistem pendukung
4. Mengungkapkan pengasingan diri
C. Hubungan dengan seni, musik, literatur, dan alam
1. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan kreativitas (bernyanyi,
mendengarkan musik, menulis)
2. Tidak tertarik dengan alam
3. Tidak tertarik dengan bacaan keagamaan
D. Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya
1. Ketidakmampuan untuk berdo’a
2. Ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan
3. Mengungkapkan terbuang oleh atau karena kemarahan Tuhan
4. Meminta untuk bertemu dengan tokoh agama
5. Tiba-tiba berubah praktik agama
6. Ketidakmampuan untuk introspeksi
7. Mengungkapkan hidup tanpa harpaan, menderita

F. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Puchalski’s FICA
Spritiual History Tool (Pulschalski, 1999) :
a. F : Faith atau keyakinan (apa keyakinan saudara?) Apakah saudara
memikirkan diri saudara menjadi sesorang yang spritual ata religius?

6
Apa yang saudara pikirkan tentang keyakinan saudara dalam
pemberian makna hidup?
b. I : Impotance dan influence. (apakah hal ini penting dalam kehidupan
saudara). Apa pengaruhnya terhadap bagaimana saudara melakukan
perawatan terhadap diri sendiri? Dapatkah keyakinan saudara
mempengaruhi perilaku selama sakit?
c. C : Community (Apakah saudara bagian dari sebuah komunitas
spiritual atau religius?) Apakah komunitas tersebut mendukung
saudara dan bagaimana? Apakah ada seseorang didalam kelompok
tersebut yang benar-benar saudara cintai atua begini penting bagi
saudara?
d. A : Adress bagaimana saudara akan mencintai saya sebagai seorang
perawat, untuk membantu dalam asuhan keperawatan saudara?
e. Pengkajian aktifitas sehari-hari pasian yang mengkarakteristikan
distres spiritual, mendengarkan berbagai pernyataan penting seperti :
1) Perasaan ketika seseorang gagal
2) Perasaan tidak stabil
3) Perasaan ketidakmmapuan mengontrol diri
4) Pertanyaan tentang makna hidup dan hal-hal penting dalam
kehidupan
5) Perasaan hampa

2. Faktor Predisposisi :
a. Gangguan pada dimensi biologis akan mempengaruhi fungsi kognitif
seseorang sehingga akan mengganggu proses interaksi dimana dalam
proses interaksi ini akan terjadi transfer pengalaman yang pentingbagi
perkembangan spiritual seseorang.
b. Faktor prediposisi sosiokultural meliputi usia, gender, pendidikan,
pendapattan, okupasi, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan,
politik, pengalaman sosial, tingkatan sosial.

7
3. Faktor Presipitasi :
a. Kejadian Stresful
Mempengaruhi perkembangan spiritual seseorang dapat terjadi
karena perbedaan tujuan hidup, kehilangan hubungan dengan orang
yang terdekat karena kematian, kegagalan dalam menjalin hubungan
baik dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan zat yang maha
tinggi.
b. Ketegangan Hidup
Beberapa ketegangan hidup yang berkonstribusi terhadap terjadinya
distres spiritual adalah ketegangan dalam menjalankan ritual
keagamaan, perbedaan keyakinan dan ketidakmampuan
menjalankan peran spiritual baik dalam keluarga, kelompok maupun
komunitas.

4. Penilaian Terhadap Stressor :


a. Respon Kognitif
b. Respon Afektif
c. Respon Fisiologis
d. Respon Sosial
e. Respon Perilaku

5. Sumber Koping :
Menurut Safarino (2002) terdapat lima tipe dasar dukungan sosial bagi
distres spiritual :
a. Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati, caring, memfokuskan
pada kepentingan orang lain.
b. Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekspresi
positif thingking, mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain.

8
c. Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu
menyediakan pelayanan langsung yang berkaitan dengan dimensi
spiritual.
d. Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat,
petunjuk dan umpan balik bagaimana seseorang harus berperilaku
berdasarkan keyakinan spiritualnya.
e. Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan
dukungan kelompok untuk berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor,
dkk (2003) menambahkan dukungan apprasial yang membantu
seseorang untuk meningkatkan pemahaman terhadap stresor spiritual
dalam mencapai keterampilan koping yang efektif.

6. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien yang mengalami gangguan berkaitan
dengan prinsip dan aktivitas kehidupan spirituial atau keagamaan akibat
masalah fisik atau psikososial yang dialami oleh pasien adalah distress
spiritual.
 Distres Spiritual
Definisi gangguan kemampuan untuk mengalami dan
mengintegrasikan makna dan tujuan hidup melalui hubungan dengan
diri sendiri, orang lain, seni, musik, literature, alam, dan/atau kekuatan
yang lebih besar daripada diri sendiri
 Batasan Karakteristik
1. Hubungan dengan diri sendiri
a. Marah
b. Mengungkapkan kurang dapat menerima (kurang pasrah)
mengungkapkan kurangnya motivasi
c. Mengungkapkan kurang dapat memaafkan diri sendiri
d. Mengungkapkan kekurangan harapan
e. Mengungkapkan kekurangan cinta
f. Mengungkapkan kurangnya makna hidup

9
g. Mengungkapkan kekurangan tujuan hidup
h. Mengungkapkan kurangnya ketenangan (mis., kedamaian)
i. Merasa bersalah
j. Koping tidak efektif
2. Hubungan dengan orang lain
a. Mengungkapkan rasa terasering
b. Menolak interaksi dengan orang yang dianggap penting
c. Menolak interaksi dengan pemimpin spiritual
d. Mengungkapkan dengan kata-kata telah terpisah dari system
pendukung
3. Hubungan dengan Seni, Musik, Literatur, Alam
a. Tidak berminat pada alam
b. Tidak berminat membaca literature spiritual
c. Ketidakmampuan mengungkapkan kondisi kreativitas
sebelumnya (mis.,menyanyi/mendengarkan music/menulis)
4. Hubungan dengan Kekuatan yang lebih besar daripada dirinya
sendiri
a. Mengungkapkan kemarahan terhadap kekuatan yang lebih
besar dari dirinya
b. Mengungkapkan telah diabaikan
c. Mengungkapkan ketidakberdayaan
d. Mengungkapkan penderitaan
e. Ketidakmampuan berintrospeksi
f. Ketidakmampuan mengalami pengalaman religiositas
g. Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan
h. Ketidakmampuan berdoa
i. Meminta menemui pemimpin keagamaan
j. Perubahan yang tiba-tiba dalam praktik spiritual
 Faktor yang Berhubungan
1. Menjelang ajal
2. Ansietas

10
3. Sakit kronis
4. Kematian
5. Perubahan hidup
6. Kesepian
7. Nyeri
8. Keterasingan diri
9. Keterasingan social
10. Gangguan sosioliltural
 Resiko Distres Spiritual
Definisi : Beresiko mengalami gangguan/hambatan kemampuan
untuk mengalami dan mengintegrasikan makna dan tujuan hidup
melalui suatu hubungan dengan diri sendiri, orang lain, seni, music,
literature, alam, dan/atau kekuatan yang lebih besar daripada diri
sendiri.
Factor Resiko
Perkembangan
 Perubahan hidup
Lingkungan
 Perubahan lingkungan
 Bencana alam
Fisik
 Sakit kronis
 Penyakit fisik
 Penyalahgunaan zat
Psikososial
 Ansietas
 Hambatan untuk mengalami cinta
 Perubahan dalam rituan agama
 Perubahan dalam praktek spiritual
 Konflik cultural
 Depresi

11
 Ketidakmampuan untuk memaafkan
 Kehilangan
 Harga diri rendah
 Hubungan buruk
 Konflik rasial
 Berpisah denangan system pendukung
 Stress

7. Kriteria hasil:
a. Individu :
2) Klien dapat melakukan spiritual yang tidak mengganggu
kesehatan
3) Klien dapat mengekspresikan pengguguran perassaan bersalah
dan ansietas
4) Klien dapat mengekspresikan kepuasan dengan kondisi
spiritual.

8. Intervensi :
 NIC :
Intervensi Krisis
Konseling
Dukungan Emosional
 NOC :
Kesehatan Spiritual
 Sp. 1-P :
a. Bina hubungan saling percaya dengan pasien
b. kaji faktor penyebab distress spiritual pada pasien
c. bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran terhadap agama
yang diyakininya
d. bantu klien mengembangkan kemampuan untuk mengatasi
perubahan spritual dalam kehidupan.

12
 Sp. 2-P :
a. Fasilitas klien dengan alat-alat ibadah sesuai keyakinan klien,
b. fasilitas klien untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang
lain
c. bantu pasien untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan.

9. Tindakan keperawatan
Tujuan intervensi keperawatan untuk pasien :
1. Mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat.
2. Mampu mengungkapkan penyebab distress spiritual.
3. Mampu mengungkapkan kemampuan mengatasi masalah dan
perubahan keyakinan.
4. Mampu mengembalikan kemampuan mengatasi masalah dan
perubahan keyakinan.
5. Mampu melakukan kegiatan keagamaan.

Tindakan keperawatan untuk pasien Distress spiritual :


1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien.
2. Kaji factor penyebab distress spiritual pada pasien.
3. Bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran
4. Bantu klien mengembangkan keterampilan untuk mengatasi
perubahan spiritual dalam kehidupan.
5. Fasilitas pasien dengan alat-alat ibadah sesuai agamanya.
6. Fasilitas pasien untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang
lain.
7. Bantu pasien untuk ikut serta daloam kegiatan keagamaan.
8. Bantu pasien mengevaluasi perasaan setelah melakukan kegiatan
keagamaan.

10. Fase kerja

13
1. SP 1-P: Bina hubungan saling percaya dengan pasien, Kaji factor
penyebab distres spiritual pada pasien, bantu pasien untuk
mengungkakan perasaan dan pikiran terhadap agama yang
diyakininya, bantu klien mengembangkan kemampuan mengatasi
perubahan spiritual dalam kehidupan.
Orientasi:
selamat pagi pak, nama saya suster. . . suka dipanggil. . nama bapak
siapa? Suka di panggil apa? Saya perawat disini yang akan merawat
bapak saya akan datang secara berkala kerumah bapak. Bagaimana
perasaan bapak hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang
masalah yang bapak alami, kita ngobrol selama 30 menit yaa? Dimana
tempatnya? Mari pak kalau begitu.
Fase Kerja:
Apa masalah yang bapak rasakan saat ini coba bapak sampaikan apa
penyebab bapak tidak aktif solat dan pengajian yang di adakan di
masjid seperti dulu. Oh ya
Pak masih adakah faktor lain yang menyebabkan bapak tidak aktif
lagi?
Apa saja kegiatan ibadah dan sosial yang dapat bapak jalankan
Mana yang kira-kira ingin bapak jalankan? Bagus sekali. Mari bapak
coba ya.
Terminasi:
Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang?
Tampaknya bapak semangat menjawab pertanyaan suster ya?
Coba bapak ulangi apa yang udah kita diskusikan ya bagus sekali
selain itu bapak juga telah mengungkapkan perasaan dan pikiran
bapak tentang agama yang bapak bisa lakukan seminggu lagi kita
bertemu untuk mengetahui manfaat kegiatan yang bapak lakukan
2. SP 2-P : Fasilitasi klien dengan alat-alat ibadah sesuai
keyakinannya,fasilitasi klien untuk menjalankan ibadah sendiri atau

14
dengan orang lain, bantu pasien untuk ikut serta dalam kegiatan
keagamaan
Orientasi :
Selamat pagi pak bagaimana keadaan bapak saat ini? Sudah dicoba
melakukan ibadah? Bagaimana perasaan bapak setelah mencobanya?
Hari ini kita akan mendiskusikan tentang persiapan alat-alat solat dan
cara-cara menjalankan solat baik sendiri maupun berjamaah bersama
orang lain. Bagaimana kalau kita ngobrol selama 30 menit? Dimana
bapak mau ngobrolnya? Bagaimana kalau disini saja?
Fase Kerja:
Pak, sepengetahuan bapak apa saja persiapan solat baik alat maupun
diri kita. Bagus sekali menyiapkan kopiah, sejdah dan sarung. Dan
sebelum solat bapak harus mandi dulu dan berwudhu. Coba bapak
sebutkan solat lima waktu sehari semalam solat subuh jam berapa?
Bagaimana ucapannya, sampai dengan solat isa. Selain itu, bapak
dapat melakukan solat berjamaah dirumah. Bagaimana kalau kita buat
tempat solat dirumah bapak ini. Setujukan pak? Baik, kalau begitu
kamar depan ini bapak siapkan untuk tempat solat lima waktu nanti
dan dapat bersama-bersama. Mulai hari ini bapak sudah bisa
melakukan solat dan berdoa secara teratur agar diberikan ketenangan
oleh tuhan dalam menghadapi masalah ini. Pada hari jumat nanti
bapak bisa pergi bersama dengan warga lain untuk solat jumat di
masjid. Bagaimana pak?
Terminasi:
Bagaimana perasaan bapak setelah diskusi tentang cara-cara
menyiapkan alat solat dan mengerjakan solat dirumah berapa kali
sehari bapak mencobanya? Mari kita buat jadwalnya, kalau sudah
dilakukan, beri tanda ya! Tiga hari lagi,saya akan datang untuk
mendiskusikan tentang perasaan bapak dalam melakukan solat serta
membahas kegiatan ibadah yang lain. Kalau begitu saya permisi dulu.
Samai jumpa. Selamat pagi.

15
11. Tujuan tindakan keperawatan untuk keluarga pada pasien distres spritual,
agar keluarga mampu:
a. mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat pasien dengan
masalah spiritual
b. mengetahui terjadinya masalah spiritual yang dihadapi oleh pasien
c. mengetahui cara merawat keluarga yang mengalami masalah spiritual
d. melakukan rujukan pada tokoh agama apabila diperlukan
Tindakan keperawatan untuk keluarga:
a. mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam merawat pasien
b. jelaskan proses terjadinya masalah spiritual yang dihadapi pasien.
c. jelaskan pada keluarga cara merawat anggota keluarga yang
mengalami masalah spiritual
d. bantu keluarga untuk membantu pasien melaksanakan kegiatan
spiritual
e. beri pujian bila keluarga mampu melakukan kegiatan yang pasitif

12. Fase Kerja


SP 1-K : Bantu keluarga mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam
merawat pasien, bantu keluarga untuk mengetahui proses terjadinya
masalah spiritual yang dihadapi dan perawatannya.
Orientasi
Selamat pagi, pak. Bagaimana keadaan anak bapak, hari ini? Hari ini kita
akan mendiskusikan tentang masalh yang bapak hadapi dalam merawat
atau membantuanak bapak, selama 30 menit. Di sini saja ya, pak.
Kerja
Menurut bapak apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat atau
membantu anak bapak? Jadi A malas sholat dan tidak mau mengikuti
pengajian?

16
Apakah hal tersebut terjadi setelah gempa atau akibat dari stunami yang
lalu. Oh, jadi masalah yang bapak hadapi adalah susah memberi tahu dan
mengajak A untuk sholat lima waktu ya?

13. Evaluasi
a. Pasien
1) Pasien mampu membina hubungan saling percaya
2) Pasien mampu mengetahui faktor penyebab distres spiritual
3) Pasien mampu mengungkapkan perasaan dan pikiran tentang
keyakinan
4) Pasien mampu mengembangkan kemampuannya untuk mengatasi
masalah dan perubahan keyakinan
5) Pasien mampu melakukan kegiatan keyakinan
b. Keluarga
1) Keluarga ampu mengidentfikasi masalah yang dihadapi
2) Keluarga mengetahui proses terjadinya masalah spiritual
3) Keluarga mengetahui cara merawat pasien
4) Keluarga mampu melakukan rujukan.

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni,
musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya namun
adapun penyebabnya yaitu dapaat dilihat dari pengkajian fisik, pengkajian
psikologis  Status mental, mungkin adanya depresi, marah, kecemasan,
ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah, dan pemikiran
yang bertentangan dan Pengkajian sosial budaya  dukungan sosial dalam
memahami keyakinan.
B. Saran
Perlu banyak pembelajaran tentang spiritualitas karena spiritual sangat
penting bagi manusia dalam berbagai hal. dalam ilmu kesehatan juga perlu
ditingkatkan agar seorang tenaga kesehatan tidak salah mengambil sikap atau
tindakan dalam menghadapi klien dengan gangguan spiritualitas. perhatian
spiritualitas dapat menjadi dorongan yang kuat bagi klien kearah penyembuhan
atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritualitas. untuk itu
seorang perawat tidak boleh mangesampingkan masalah spiritualitas klien.

18
DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani S. Hamid, Bunga rampai asuhan keperawatan kesehatan jiwa


Achir Yani S. Hamid: editor, Monica Ester,Onny Anastasia Tampubolon. Jakarta:
EGCC, 2008.

Budi Anna Keliat, Akemat Pawiro Wiyono, Herni Susanti ; editor


penyelaras, Monica Ester, Egi Komara Yudha.-Jakarta, 2011, Manajemen Kasus
Gangguan Jiwa CMHN (intermediate Course), Penerbit Buku Kedokteran EGC.
http://ekosehatoke.blogspot.co.id/2016/02/makalah-distres-
spiritual.html?m=1diakses pada tanggal 11 april 2018

19

Anda mungkin juga menyukai