Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN ANALISIS MATERIAL

TOPOGRAPHY MEASUREMENT SYSTEM

Oleh:
Nama : Fian Rifqi Irsalina
NIM : 165090301111016
Kelompok : 4
Tanggal : 26 Oktober 2018
Asisten : Mahardika Auditia Hanif

LABORATIORIUM FISIKA MATERIAL


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum tentang Topography Measurement System (TMS) yaitu untuk
diketahuinya nilai koefisien kekasaran (rougness coefficient) dari permukaan material QCM
yang dilapi polistirena yang dilarutkan pada beberapa macam pelarut seperti kloroform,
toluene, dan xilena.

1.2 Tinjauan Pustaka


Interferometer Michelson merupakan alat yang memproduksi interferensi antara
dua sinar cahaya. Operasi dasar dari interferometer adalah cahaya dari sumber terbagi
menjadi dua bagian. Bagian pertama dari cahaya akan bergerak pada Panjang jalur yang
berbeda dari yang lainnya. Setelah melintasi perbedaan Panjang jalur, dua bagian cahaya
akan bertemu kembali sehingga terjadi interferensi. Pola interferensi akan terlihat di layer.
Cahaya dari sumber mengenai beam splitter dan menerima 50% dari radiasi untuk
ditransmisikan ke cermin terjemah M1. 50% radiasi lainnya akan dipantulkan ke cermin
tetap M2. Plat kompensator C sebagai jalur yang membuat setiap jalur memiliki Panjang
jalur optic yang sama ketika M1 dan M2 pada jarak yang sama dari beam splitter. Setelah
kembali dari M1, 50% cahaya akan kembali dan dari M2 akan ditransmisikan ke kaca buram.
Pada layer, kedua sinar mengalami superposisi dan bisa diamati interferensi antara
keduanya.

Gambar 1.1 Interferometer Michelson

(Serway, 2011).
Kekasaran permukaan atau permukaan Ra merupakan pengukuran permukaan
ratarata. Pengukuran tersebut dilakukan oleh alat topografi pada skala yang mungkin
dianggap “tekstur” di permukaan. Kekasaran permukaan adalah perhitungan kuantitatif
dari kekasaran relatif profil linear atau daerah, dinyatakan sebagai parameter numerik
tunggal (Ra). Dalam profilometry optik tiga dimensi, kekasaran biasanya dinyatakan
sebagai daerah kekasaran permukaan (Sa). Profil kekasaran (Ra) dapat diekstraksi sebagai
garis melalui suatu daerah. Menariknya, kekasaran biasanya dinyatakan sebagai daerah
kekasaran permukaan. Kekasaran (Ra) dapat diekstraksi sebagai garis melalui suatu
daerah. Menariknya, Sa juga dapat melaporkan rata Ra melalui permukaan dengan rata-
rata beberapa profil. Pengukuran kekasaran pada permukaan dapat digunakan untuk
menganalisis cacat. Cacat dapat terjadi baik di permukaan material selama pemrosesan
atau setelah digunakan, dan analisis alat sering penting untuk menyediakan informasi
untuk meningkatkan efekti!itas, efisiensi dan daya tahan permukaan (Miszczak, 2014).
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu satu set alat Topography
Measurement System (TMS) keluaran Polytec QCM (spesimen), satu buah objek, satu
buah monitor, satu buah motor penggerak, dan beberapa kabel penghubung.

2.2 Tata Laksana


Pada praktikum ini, hal yang pertama kali dilakukan yaitu dinyalakannya peralatan
seperti TMS, monitor, dan motor penggerak. Kemudian objek diletakkan pada tempat
objek TMS. Selanjutnya yaitu dibuka kunci TMS, terdapat dua kunci TMS. Dua kunci ini
harus digerakkan bersamaan tetapi berlawanan arah, tujuannya agar sinar dari TMS dapat
keluar ke arah objek. Objek discanning oleh TMS dan hasilnya akan ditampilkan pada
monitor.

Jika hasil sudah ditampilkan pada monitor, titik tengah harus ditentukan. Kemudian
ditentukan batas atas dan batas bawah yang ingin ditampilkan. Objek diluruskan dengan
permukaan agar pada saat scanning, didapatkan data atau gambar yang presisi.
Diluruskannya objek dapat digunakan motor. Scanning kedua dimulai untuk diketahui
topografi dari objek tersebut.

Hasil scanning berupa gambar yang berwarna serta grafik. Gambar berwarna
tersebut menentukan tinggi rndahnya topografi objek tersebut. Setiap ketinggian objek
ditandai dengan berbagai warna. Jika hasil scan masih ada yang berwarna hitam, berarti
menandakan area tersebut tidak terkena scanning. Ini dapat ditanggulangi dengan cara
mendapatkan nilai rata-rata. Nilai rata-rata ini didapatkan dari dua titik yang berdekatan
kemudian dibagi dua. Setelah dilakukan rata-rata, didapatkan warna pada bagian hitam
tersebut. Jika ingin melihat ketinggian objek, maka dapat digunakan Line pada program
yang ada di monitor. Jika ingin mendapatkan kekasaran, maka dapat digunakan Area pada
programnya.
BAB III

ANALISA DAN PEMBAHASAN

3.1 Prinsip Kerja TMS ( Topography Measurement System)


Metode pengukuran pada TMS didasarkan pada prinsip Interferometri Michelson,
dimana konfigurasi optiknya berisi sumber cahaya yang panjangnya koheren dengan
rentang μm. Sebuah beam splitter membagi cahaya collimated balok ke balok pengukuran
(Measurement Beam) dan balok referensi (Reference Beam). Balok pengukuran
menembak objek (spesimen),balok referensi cermin. Terang tercermin dari cermin dan
spesimen direkombinasi di beamsplitter dan fokus ke kamera CCD. Kapan pun optiknya
Jalan menuju spesimen dan cermin sama, Interferensi konstruktif terjadi pada semua
panjang gelombang dari sumber cahaya yang menghasilkan intensitas tinggi pada yang
sesuaipixel kamera. Dengan mengukur traversing posisi cermin saat intensitas piksel tinggi
untuk masing-masing titik objek, tinggi semua titik bisa dipetakan.

Gambar 3.1 Prinsip Kerja Interferometri Michelson

Di interferometer, baik lengan referensi maupun spesimen dipindahkan relatif


terhadap beam splitter. Ketika melintasi jalur pengukuran, interferensi mengambil
tempatkan pixel demi pixel dan ketinggian objek bisa ditemtukan.. Setelah pengukuran
dilakukan lengkap, struktur topografi spesimen didigitalkan.

Instrumen dengan konfigurasi optik telecentric memungkinkan area permukaan


besar harus diukur dengan cepat dalam satu tembakan. Namun sistem mikroskop adalah
pilihan pertama jika tinggi resolusi lateral sangat dibutuhkan karena disini optik
konfigurasi termasuk lengan referensi terintegrasi menjadi tujuan perbesaran tinggi.

3.2 Penjelasan Ra, Rq, Rz, dan Rmax Pada Pengukuran Kekasaran
3.2.1 Ra (Roughness Average)
Roughness Average (Ra) adalah rata-rata aritmatika absolut nilai tinggi profil
melebihi panjang evaluasi.

Gambar 3.2 Ra (Roughness Average) dan Perumusannya

3.2.2 Rq (RMS Roughness)


RMS Roughness (Rq) adalah rata - rata akar kuadrat dari tinggi profil di atas atau
melebihi panjang evaluasi. Ra dan Rq digunakan sebagai deskripsi statistik, yaitu yang
memberikan nilai rata-rata dan tinggi permukaan.

Gambar 3.3 Roughness Average (Ra) dan RMS Roughness (Rq)


3.2.3 Rz (Average Maximum Height of the Profile)
Average Maximum Height of the Profile (Rz) adalah rata – rata nilai bilangan rima
berturut-turut dihitung selama panjang evaluasi. Parameter ini sama dengan Rz (DIN) bila
ada lima panjang sampling dalam panjang evaluasi. Rz (ten points high of irregularities)
merupakan pengukuran berdasarkan nilai rata-rata dari lima puncak tertinggi dan lima
lembah terendah.

Gambar 3.4 Grafik Rz adalah ketidakrataan ketinggian pada sepuluh titik dan
perumusannya

3.2.4 Rmax (Maximum Roughness)


Maximum Roughness Depth (Rmax) adalah nilai terbesar dari niilai rima berturut-
turut dihitung selama panjang evaluasi. Rmax digunakan sebagai deskripsi nilai ekstrem.

Gambar 3.5 Grafik Rmax


3.3 Perbandingan Kekasaran Pada Polytec dan QCM
Dengan melihat profil ini maka bentuk dari suatu permukaan pada dasarnya dapat
dibedakan menjadi dua yaitu permukaan yang kasar (roughness) dan permukaan yang
bergelombang (waviness). Permukaan yang kasar berbentuk gelombang pendek yang tidak
teratur dan terjadi karena getaran pisau (pahat) potong atau proporsi yang kurang tepat dari
pemakanan (feed) pisau potong dalam proses pembuatannya. Sedangkan permukaan yang
bergelombang mempunyai bentuk gelombang yang lebih panjang dan tidak teratur yang
dapat terjadi karena beberapa faktor misalnya posisi senter yang tidak tepat, adanya
gerakan tidak lurus (non linier) dari pemakanan (feed), getaran mesin, tidak imbangnya
(balance), perlakuan panas (heat treatment) yang kurang baik, dan sebagainya. Dari
kekasaran (roughness) dan gelombang (wanivess) inilah kemudian timbul kesalahan
bentuk. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 3.6 berikut ini:

Gambar 3.6 Spesimen Polytec yang Diuji Kekasarannya Menggunakan TMS

Berikut adalah hasil topografi permukaan dari spesimen Polytec dalam bentuk 2
dimensi. Terlihat jika pada area yang berada di dalam lingkaran putus-putus tersebut
memiliki nilai tingkat kekasaran yang berbeda. Hal itu dapat dilihat pada grafik di bawah
yang mana nilai Rz dan Rmax diperoleh 504,06 nm, Ra sebesar 35,28 nm, dan Rq sebesar
65,76 nm. Garis hitam yang muncul pada spesimen Polytec itu menunjukkan jika spesimen
tersebut antara sumbu y dan x-nya tidak sejajar. Untuk mengatur supaya posisi dari
spesimen ini sejajar sumbu xy-nya, maka digunakan motor penggerak atau langsung pada
monitor TMS. Kemudian perbedaan warna ini menunjukkan adanya perbedaan ketinggian
pada permukaan Polytec yang diakibatkan karena tingkat kekasaran dari bagian spesimen
juga berbeda.
Sedangkan pada QCM didapatkan hasil topografi permukaan seperti yang ada
pada gambar di bawah ini:

Gambar 3.7 Spesimen QCM yang Diuji Kekasarannya Menggunakan TMS

Dapat dilihat nilai Rz dan Rmax pada spesimen QCM ini sebesar 2,35 µm.
Kemudian nilai Ra-nya sebesar 320,03 µm dan nilai Rq sebesar 407,15 µm. Grafik yang
berada di bawahnya menunjukkan jika permukaan dari QCM itu mempunyai kekasaran
yang berbeda-beda sehingga grafik yang muncul terjadi ketidakteraturan, penyebabnya
antara lain karena adanya bekas-bekas proses pemotongan akibat bentuk pisau potong yang
salah atau gerak pemakanan yang kurang tepat (feed) atau adanya tatal (beram) pada proses
pengerjaan dan pengaruh proses electroplating.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum tentang Topography Measurement
System yaitu TMS berguna untuk mendapatkan data topografi dari suatu objek atau sampel
yang dipakai. Selain ketinggian, TMS juga dapat mengukur tingkat kekasaran dari objek
tersebut. Prinsip kerja dari TMS yaitu menggunakan Interferensi Cahaya Putih.

4.2 Saran
Sebaiknya praktikan mencoba menggunakan alat (TMS) dan melakukan
pengambilan data secara bergantian supaya mengerti cara mengoperasikan alat tersebut.
Daftar Pustaka

https://budidrawing76.wordpress.com/2012/08/19/konfigurasi-kekasaran-permukaan-3/.
Diakses pada 29 Oktober 2018.

Miszczak,A .2011. Surface Topography of slide journal bearings journal of KONES


Powetrain and Transport, vol. 18, no 3. Polandia: Gdynia Maritime University.

Mueller, Thomas, Andreas Poesch, dan Eduard Reithmeier. 2016. Topography


Measurement for Monitoring Manufacturing Processes in Harsh Conditions. Diambil dari:
https://file.scirp.org/pdf/ENG_2016052316170490.pdf.

S. Metrology. Surface Metrology When Accuracy Matters Competence Field Surface


Metrology in a New Dimension.German:Polytech.Diambil dari:
http://www.polytec.com/fileadmin/user_uploads/Products/Surface_Metrology/OM_CF_Surface_
Metrology_E_42360_01.pdf.

Serway, Raymond A. 2011. College Physics. Boston: Cengange Learning.

Surface Roughness Terminology and Parameters. Diambil dari:


http://www.predev.com/pdffiles/surface_roughness_terminology_and_parameters.pdf