Anda di halaman 1dari 9

UANG TIDAK DAPAT DI TUKAR DENGAN SAHABATAN

Kata orang, persahabatan tidak mengenal namanya perbedaan,

waktu, jarak, harta, ataupun suku. Apapun itu, sahabat akan tetap ada.

Sahabat sejati tidak akan pergi walaupun dia telah disia-siakan. Bahkan

tidak dianggap arti kehadirannya. Dan juga perbuatan yang ada dalam

benak dari seorang sahabat adalah bisa selalu ada untuk orang-orang

didekatnya. Entah orang tersebut hanya menganggapnya hanya sebatas

teman biasa, atau orang berarti. Yang terpenting baginya bisa

membantu orang yang ada didekatnya. Dan ini kisah persahabatanku,

aku adalah seorang anak perempuan biasa yang hidup ditengah

masyarakat jawa yang sangat kental ikatan kekeluargaannya.

Penampilanku sehari-hari hanya biasa-biasa saja tidak bergaya seperti

anak perempuan lain. Aku sedari kecil dididik dan diajari orang tuaku

untuk bisa menghargai orang lain dan saling membantu sesama.

Diajarkan tentang kelapangan dada, diajarkan untuk menolong sesama

tanpa balasan budi, tapi aku adalah seorang anak perempuan yang

mudah bergaul dan mudah disenangi orang-orang.


Hari-hariku sering kuisi dengan membantu orangtua karena aku

sudah diajarkan dari kecil untuk emmbantu orangtua hingga suatu hari

aku didatangi oleh seseorang yang merubah hariku.

“Hay, nama kamu Nayla ya..?” tanya orang itu

“Iya, kamu siapa..?” ranyaku sambil menatap orang itu

“Kenalin, aku Tia .” Sambil mengulurkan tangannya.

Ternyata dia adalah tetangga baruku baru saja pindah dari

padang ke rumah neneknya untuk bersekolah disini. Aku tidak tahu

darimana dia tahu namaku. Mungkin saja telah lama mengenalku.

Haaa…. Dia adalah seorang yang baik hati dan suka menolong.

Setelah lama berteman denganku, dia sering kerumahku dan ia sering

mambantu pekerjaanku di rumah. Aku sangat suka dengan orang baru

itu. Dia sering membantuku dengan sangat asyik untuk diajak bermain.

“Kamu lagi ngapain Nayla.?” Tanya Tia

“Emmm ini aku lagi nggak apa-apa. Aku lagi santai aja” kataku

kemudian.

“Emangnya kamu lagi nggak ada kerjaan ya Nay.?”

“Enggak”

“kalau gitu ayo kita main.”

“Kamu ngapa sih Tia, kok ramah banget sama aku”


“karena kamu adalah teman aku satu-satunya disini”

“Masa iya? Padahal kamu kan kelihatannya suka menolong ?

tapi kok nggak punya teman ?

Tia hanya diam tidak menjawab hanya menunduk. Atau mungkin

perkataan ku menyinggungnya.

“Maaf ya Tia, aku tu nggak ada maksud menyinggung perasaanmu. Aku

Cuma pengen kamu punya temen dan bangkit. Dunia ini tak sebesar daun

kelor” kataku pada Tia.

Lalu Tia tidak menjawab pertanyaanku. Dia berjalan pulang

ke rumahnya dan meninggalkanku sendiri. Mungkin kemudian Tia

termenung di rumahnya, akhirnya beberapa hari ini Tia tidak pernah

main lagi ke rumahku. Mungkin dia masih marah kepadaku atau mungkin

perkataanku yang terlalu menyinggung hatinya

Tapi setelah beberapa lama, kami sudah jarang bermain dan

bertemu. Aku mencoba mengirim pesan kepada Tia, tapi Tia

tidak membalasnya. Aku merasa bersalah dan mungkin ada yang

berubah darinya. Aku tak tahu penyebab semua pesan yang aku

kirim dari mulai surat, sms, dan sosial media tidak ada satupun
yang dibalasnya. Aku merasa ada yang kurang perubahan Tia

kepadaku. Kini, tak ada lagi pesan dari Tia yang kuterima.

Apa kini Tia sudah benar melupakanku karena dia telah

mendapatkan teman baru. (pikirku dalam hati). Seingatku Roni hanya

sekali menghubungiku. Itu juga karena minta tolong untuk dibuatkan

surat izin karena saat itu dia dalam keadaan sakit. Pada saat itu aku

lega. Aku kira Tia sudah lupa dengan aku, tapi ternyata aku salah. Itu

bisa dibilang Tia terakhir menghubungiku. Setelah satu setengah bulan

atau lebih tidak berkomunikasi.

“Hy Nayla…?, ngelamun aja..? emangnya ada apa..? kakakku

mengagetkanku

“Eh… kakak bikin aku kaget aja.”

“Gak abisnya kamu ngelamun aja mikirin apa Nay..? “

“Aku bingung aja kak. Kakak tau kan selama ini berteman

baik sama Tia. Tapi udah satu bulan setengah ini, dia

berubah kak” keluhku kepada kakak

“Berubah bagaimana Nay..?”

“Iya kak, kalau aku telepon juga nggak pernah diangkat

kak.”

“Ya mungkin aja dia lagi sibuk Nayla..”


“Iya masa sibuk 1 bulan lebih kak?”

“Emm… ya udah nanti biar kakak bantu nyati tau deh.”

Waktu hari minggu aku emmutuskan pergi bermain bersama

teman lamaku. Aku melihat Tia bersama seorang perempuan yaitu Egi.

Aku berhenti sejenak. Aku mencoba mendekati Tia, tapi kemudian

langkahku terhenti.

“Gimana Tia, kamu sudah berhasil menjauhi Nayla..? tanya

pria tersebut kepada Tia.

“Iya, aku sudah buat dia benci sama akujuga, sekarang lo

puas kan.” Kata Tia.

“Bagus Tia, kerja yang bagus, ini uang buat lo Tia,” sambil

memberikan uang.

Aku tak mengerti apa maksud dari semua itu, aku tak tahan lalu aku

langsung menghampiri mereka.

“Tia, apa maksud kamu ini, jadi kamu selama ini baik sama aku

dan pura-pura jadi sahabat aku karena uang..??? aku berkata

sambil emosi

Egi hanya diam, lalu Egi menjelaskan.


“Iya betul sekali, dan Tia sudah berhasil melakukannya. 1 tahun

lalu kami sudah membuat perjanjian dan taruhan. Jika Egi

berhasil buat kamu jadi sahabatnya, maka Tia akan mendapatkan

uang.”

“Aku nggak nyangka Tia, ternyata kamu begini, dulu kamu bilang

bahwa sahabat itu lebih berharga dari apapun, tapi kenapa,

justru kamu melakukan ini sama aku…?” kataku sambil emosi.

Orang yang aku anggap selama ini sahabatku ternyata gak lebih dari

seorang yang gak punya perasaan dia menukar arti persahabatan ini

dengan uang.

“Maafin aku Nay, sebenarnya aku juga gak mau ngelakuin ini,

karena aku terpaksa” kata Tia.

“Sebenarnya aku punya salah apa sih sama kamu sampai kamu

tega kayak gini” kataku.

“Aku benar-benar minta maaf ya Nayla, saat ini aku emmang

lagi butuh uang untuk pulang ke Padang” kata Tia.

“Lalu kenapa aku yang harus jadi bahan taruhannya” kataku


“Aku sebenarnya juga menganggapmu sahabat terbaik aku

Nayla. 1 bulan ini aku menjauhi kamu karena aku nggak mau

kamu tahu soal ini. Aku mohon maafin aku ya Nayla.”

“Udahlah Tia, kamu nggak perlu minta maaf. Aku sudah

maafin kamu. Makasih atas semuanya Tia …!!!”

Aku pulang dengan emosi. Aku gak nyangka ternyata sekarang

persahabatan bisa ditukar dengan uang. Padahal aku telah benar-benar

menganggap Tia adalah teman baikku, tapi ternyata malah kebalikannya.

Aku pulang dengan raut wajah yang sangat tidak menyenangkan, emosi,

campur aduk didalam hatiku dan rasanya sangat sakit. Lebih sakit

dirasa diputusin pacar. Sesampai di rumah aku ditanya sama keluarga

aku, aku Cuma diam saja dan aku langsung menuju ke kamar dan aku

mengunci diri didalam kamar. Setelah beberapa jam aku mengunci diri

di dalam kamar, tiba-tiba kudengar suara ketukan pintu kamarku.

“Nayla, aku mohon maaf, aku tahu aku salah, pada saat itu

aku punya utang sama orang tadi karena uang yang aku

pinjam untuk buat uang jajan aku sekolah. Jadi, aku terima

taruhan itu demi menutup utang aku sama dia.

“Tapi, kenapa harus aku Tia, kenapa kamu kok begitu..?”


“Itu karena pilihan dia Nayla!!!”

“Ya sudah aku akan keluar kamar maafin kamu!!!”

Akhirnya aku keluar dari kamar ku untuk menemui Tia dan untuk

memaafkannya. Setelah aku keluar dari kamar, Tia pun merasa lega dan

sangat gembira saat aku emmaafkannya.

“Ya Tia, aku maafin kamu…”

“Makasih Nayla, mungkin gara-gara aku. Kamu jadi begini”

“Ya sudah Tia, jangan diulangi lagi, karena persahabatan itu

tidak bisa ditukar dengan uang. Uang itu tidak segala-galanya di

dunia ini.”

“Makasih Nayla.”

Setelah aku memaafkan Tia, aku bermain bersama Tia. Kemana-

mana selalu berdua. Saat suka maupun duka tetapi suatu hari Tia tidak

lagi main-main ke rumah ku, lalu aku bingung dan bertanya dalam hati,

kemana Tia tidak lagi main ke rumahku. Apa jangan-jangan dia

membenciku lagi. Akupun datang ke rumahnya. Setelah sampai disana,

Tia tidak ada di rumahnya, terus aku bertanya sama neneknya.

Ternyata ia sudah kembali ke padang tadi pagi tanpa memberi tahu ku

sama sekali. Mendengar Tia sudah kembali lagi ternyata Tia benar-
benar tak akan muncul kalau sebelum hari raya. Kini semua tentang aku

dan Tia hanya tinggal kenangan