Anda di halaman 1dari 9

Induktif Dan Reflektif

A. Induktif
1. Pengertian Metode Induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir
dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan
difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Metode
Induktif adalah kebalikan dari metode deduktif. Contoh-contoh kongkrit
dan fakta-fakta diuraikan terlebih dahulu, baru kemudian dirumuskan
menjadi suatu kesimpulan atau jeneralisasi. Pada metode induktif, data
dikaji melalui proses yang berlangsung dari fakta (Anwar, 2007).
2. Kelebihan dari metode induktif
adalah sebagai berikut:
a. Metode induktif lebih dapat menemukan kenyataan yang kompleks
yang terdapat dalam data.
b. Metode induktif lebih dapat membuat hubungan antara peneliti dengan
responden menjadi eksplisit, dapat dikenal dan dipertimbangkan.
c. Metode induktif lebih dapat memberikan latar secara penuh dan dapat
membuat keputusan-keputusan tentang dapat tidaknya pengalihan
kepada latar lainnya.
d. Metode induktif lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang
mempertajam hubungan-hubungan.
e. Metode deduktif memperhitungkan nilai-nilai secara eksplisit sebagai
bagian dari setuktur analitik.
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir
dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan
difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif (Anwar,
2007).
Contoh :
1) Jika dipanaskan, besi memuai.
2) Jika dipanaskan, tembaga memuai.
3) Jika dipanaskan, emas memuai.
4) Jika dipanaskan, platina memuai.
5) Jika dipanaskan, logam memuai.
6) Jika ada udara, manusia akan hidup.
7) Jika ada udara, hewan akan hidup.
8) Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
9) Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

B. Reflektif
1. Pengertian Berpikir reflektif
Berpikir reflektif (reflective thinking) merupakan bagian dari metode
penelitan yang dikemukakan oleh John Dewey. Pendapat Dewey
menyatakan bahwa pendidikan merupakan proses sosial dimana
anggota masyarakat yang belum matang (terutama anak-anak) diajak
ikut berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan pendidikan adalah
memberikan kontribusi dalam perkembangan pribadi dan sosial
seseorang melalui pengalaman dan pemecahan masalah yang
berlangsung secara reflektif (Reflective Thinking). Menurut John
Dewey metode reflektif di dalam memecahkan masalah, yaitu suatu
proses berpikir aktif, hati-hati, yang dilandasi proses berpikir ke arah
kesimpulan-kesimpulan yang definitif melalui lima langkah yaitu :
a. Siswa mengenali masalah, masalah itu datang dari luar diri siswa
itu sendiri.
b. Selanjutnya siswa akan menyelidiki dan menganalisa kesulitannya
dan menentukan masalah yang dihadapinya.
c. Lalu dia menghubungkan uraian-uraian hasil analisisnya itu atau
satu sama lain, dan mengumpulkan berbagai kemungkinan guna
memecahkan masalah tersebut. Dalam bertindak ia dipimpin oleh
pengalamannya sendiri.

d. Kemudian ia menimbang kemungkinan jawaban atau hipotesis


dengan akibatnya masing-masing.
e. Selajutnya ia mencoba mempraktekkan salah satu kemungkinan
pemecahan yang dipandangnya terbaik. Hasilnya akan
membuktikan betul-tidaknya pemecahan masalah itu. Bilamana
pemecahan masalah itu salah atau kurang tepat, maka akan di
cobanya kemungkinan yang lain sampai ditemukan pemecahan
masalah yang tepat (Soetriono & Rita,2007).

Kemampuan berpikir reflektif terdiri dari kemampuan berpikir kritis


dan berpikir kreatif sama seperti kemampuan berpikir lainnya.

a. Berpikir Kritis
Krulik dan Rudnick (NCTM, 1999) mengemukakan bahwa yang
termasuk berpikir kritis adalah berpikir yang menguji,
mempertanyakan, menghubungkan, mengevaluasi semua aspek
yang ada dalam suatu situasi ataupun suatu masalah. Sebagai
contoh, ketika seseorang sedang membaca suatu naskah ataupun
mendengarkan suatu ungkapan atau penjelasan ia akan berusaha
memahami dan coba menemukan atau mendeteksi adanya hal-hal
yang istimewa dan yang perlu ataupun yang penting. Demikian
juga dari suatu data ataupun informasi ia akan dapat membuat
kesimpulan yang tepat dan benar sekaligus melihat adanya
kontradiksi ataupun ada tidaknya konsistensi atau kejanggalan
dalam informasi itu. Jadi dalam berpikir kritis itu orang
menganalisis dan merefleksikan hasil berpikirnya. Tentu
diperlukan adanya suatu observasi yang jelas serta aktifitas
eksplorasi, dan inkuiri agar terkumpul informasi yang akurat yang
membuatnya mudah melihat ada atau tidak ada suatu keteraturan
ataupun sesuatu yang mencolok.
b. Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif adalah suatu kemampuan berpikir yang berawal
dari adanya kepekaan terhadap situasi yang yang sedang dihadapi,
bahwa di dalam situasi itu terlihat atau teridentifikasi adanya
masalah yang ingin atau harus diselesaikan. Selanjutnya ada unsur
originalitas gagasan yang muncul dalam benak seseorang terkait
dengan apa yang teridentifikasi. Hasil yang dimunculkan dari
berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu yang baru bagi
yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari
yang biasanya dia lakukan. Untuk mencapai hal ini orang harus
melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi, dan
tidak tinggal diam saja menunggu. Dalam keadaan yang ideal,
manakala siswa dihadapkan (oleh guru) pada suatu situasi, siswa
diminta untuk melakukan suatu observasi, eksplorasi, dengan
menggunakan intuisi serta pengalaman belajar yang mereka miliki,
dengan hanya sedikit panduan atau tanpa bantuan guru (Sobel, dan
Maletsky, 1988). Tetapi pendekatan seperti ini khususnya tidak
hanya cocok bagi siswa yang pandai, namun memberikan suatu
pengalaman yang diperlukan bagi mereka di kemudian hari dalam
melakukan penelitian. Berpikir kreatif juga nampak dalam bentuk
kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru,
serta memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari
yang biasanya (Soetriono & Rita,2007).
3. Hubungan antara Filasafat Ilmu dengan Berpikir Reflektif
Menurut Endang Komara (2010) dalam Endang Komara’s Blog
menyatakan bahwa hubungan antara filsafat ilmu dengan metode
penelitian yang didalamnya terdapat urutan berpikir reflektif adalah
filsafat ilmu menjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science itu, apa
yang menjadi landasan asumsinya, bagaimana logikanya (doktrin
netralistik etik), apa hasil-hasil empirik yang dicapainya, serta batas-batas
kemampuannya. Sedangkan Metodologi penelitian menjelaskan tentang
upaya pengembangan ilmu berdasarkan tradisi-tradisinya, yang terdiri dari
dua bagian, yaitu deduktif maupun induktif. Demikian pula tentang hasil-
hasil yang dicapai, yang disebut pengetahuan atau knowledge, baik yang
bersifat deskriptif (kualitatif dan kuantitatif) maupun yang bersifat
hubungan (proporsi tingkat rendah, proporsi tingkat tinggi, dan hukum-
hukum). Filsafat ilmu maupun metodologi penelitian bersifat mengisi dan
memperluas cakrawala kognitif tentang apa yang disebut ilmu, yang
diharapkan akan menimbulkan pengertian untuk berdisiplin dalam
berkarya ilmiah, sekaligus meningkatkan motivasi sebagai ilmuwan untuk
melaksanakan tugas secara sungguh-sungguh (Soetriono & Rita, 2007).

Metode ilmiah merupakan prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam


mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan
yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur
atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang
sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis keilmuan menurut
Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007:157) sebagai berikut:
a. Mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah.
b. Menyusun kerangka pemikiran (logical construct).
c. Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah)
d. Menguji hipotesis secara empirik.
e. Melakukan pembahasan.
f. Menarik kesimpulan.
Tiga langkah pertama merupakan metode penelitian, sedangkan langkah-
langkah selanjutnya bersifat teknis penelitian. Dengan demikian maka
pelaksanaan penelitian menyangkut dua hal, yaitu hal metode dan hal
teknis penelitian. Namun secara implisit metode dan teknik melarut di
dalamnya.
1) Mencari, merumuskan dan mengidentifikasi masalah, yaitu
menetapkan masalah penelitian, apa yang dijadikan masalah penelitian
dan apa obyeknya. Menyatakan obyek penelitian saja masih belum
spesifik, baru menyatakan pada ruang lingkup mana penelitian akan
bergerak. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah yang
spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan penelitian (research
question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberikan penjelasan
(explanation) yang memuaskan berdasarkan teori (hukum atau dalil)
yang ada. Misalnya menurut teori dinyatakan bahwa tidak semua orang
akan bersedia menerima suatu inovasi, sebab ada golongan penolak
inovasi (laggard). Tetapi pada kenyataannya (faktual) terdapat inovasi
yang mudah diterima sehingga tidak mungkin ada golongan yang
menolaknya (laggard). Oleh karena itu pertanyaan penelitiannya dapat
diidentifikasikan pada situasi mana atau pada kondisi mana tidak ada
golongan laggard. Dengan mengidentifikasi situasi atau kondisi yang
memungkinkan atau tidak memungkinkan secara lebih lanjut berarti
telah merumuskan masalah penelitian. Cara yang paling sederhana
untuk menemukan pertanyaan penelitian (research question) adalah
melalui data sekunder. Wujudnya berupa beberapa kemungkinan
misalnya:
a) Melihat suatu proses dari perwujudan teori.
b) Melihat linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud
memperbaikinya.
c) Merisaukan keberlakuan suatu dalil atau model di tempat tertentu
atau pada waktu tertentu.
d) Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada.
Kemudian bermaksud meningkatkannya.
e) Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang telah
ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
2) Menyusun kerangka pemikiran yaitu mengalirkan jalan pikiran
menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini
tidak lain dari mendudukperkarakan masalah yang diteliti
(diidentifikasi) dalam kerangka teoretis yang relevan dan mampu
menangkap, menerangkan, serta menunjukkan perspektif terhadap
masalah itu. Upaya ditujukan untuk menjawab atau menerangkan
pertanyaan peneltian yang diidentifikasi. Cara berpikir (nalar) kearah
memperoleh jawaban terhadap masalah yang diidentifikasi ialah
dengan penalaran deduktif. Cara penalaran deduktif ialah cara
penalaran yang berangkat dari hal yang umum (general) kepada hal-hal
yang khusus (spesifik). Hal-hal yang umum ilah teori/dalil/hukum,
sedangkan hal yang bersifat khusus (spesifik) tida lain adalah masalah
yang diidentifikasi.
3) Merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah kesimpulan yang diperoleh
dari penyusunan kerangka pemikiran, berupa proposisi deduksi.
Merumuskan berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan
kemungkinan-kemungkinan serta tingkat-tingkat kebenarannya.
Bentuk-bentuk proposisi menurut tingkat keeratan hubungannya
(linkage) serta nilai-nilai informasinya (informative value). Jika dikaji
kembali kalimat-kalimat proposisi, baik berupa teori maupun hipotesis,
ternyata kalimat-kalimat itu mengandung juga komponen, yaitu
komponen antiseden, konsekuen, dan depedensi.
4) Menguji hipotesis ialah membandingkan atau menyesuaikan
(matching) segala yang terkandung dalam hipotesis dengan data
empirik. Pembandingan atau penyesuaian itu pada umumnya
didasarkan pada pemikiran yang beranggapan bahwa di alam ini suatu
peristiwa mungkin tidak terjadi secara tersendiri. Dengan kata lain,
suatu sebab mungkin akan menimbulkan beberapa akibat, atau
mungkin pula suatu akibat ditimbulkan oleh beberapa penyebab.
Pengujian hipotesis dalam penelitian mutakhir mempergunakan
metode matematika/statistika, dengan mempergunakan rancangan uji
hipotesis yang telah tersedia. Dengan kata lain, peneliti tinggal
memilih rancangan uji mana yang tepat dengan hipotesisnya.
Meskipun demikian jika peneliti tidak memahami sifat-sifat
data/informasi (variabel) yang akan diukur maka akan sulit baginya
untuk memilih rancangan uji statistik.
5) Membahas dan menarik kesimpulan. Dalam membahas sudah
termasuk pekerjaan interpretasi terhadap hal-hal yang ditemukan
dalam penelitian. Dalam interpretasi, pikiran kita diarahkan pada dua
titik pandang. Pertama, kerangka pemikiran yang telah disusun,
bahkan ini harus merupakan frame of work pembahasan penelitian.
Kedua, pandangan diarahkan ke depan, yaitu mengaitkan kepada
variabel-variabel dari topic aktual. Pembahasan tidak lain adalah
mencocokkan deduksi dalam kerangka pemikiran dengan induksi dari
empiric (hasil pengujian hipotesis), atau pula kepada induksi yang
diperoleh orang lain (hasil penelitian orang lain) yang relevan.
Bagaimana hasil dari mencocokkan ini, apakah cocok (parallel atau
analog), atau sebaliknya (bertentangan atau kontradiktif). Apabila
ternyata bertentangan atau tidak cocok maka perlu dilacak di mana
letak perbedaan atau pertentangan itu dan apa kemungkinan
penyebabnya.
6) Hasil pembahasan tidak lain ialah kesimpulan. Kesimpulan penelitian
adalah penemuan-penemuan dari hasil interpretasi dan pembahasan.
Penemuan dari interpretasi dan pembahasan harus merupakan jawaban
terhadap pertanyaan penelitian sebagai masalah, atau sebagai bukti dari
penerimaan terhadap hipotesis yang diajukan. Pernyataan-pernyataan
dalam kesimpulan dirumuskan dalam kalimat yang tegas dan padat,
tersusun dari kata-kata yng baik dan pasti, sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda (apa yang dimaksud oleh
peneliti harus ditafsirkan sama oleh orang lian). Pernyataan tersusun
sesuai dengan identifikasi masalah tahu dengan susunan hipotesisnya.

4. Manfaat Berpikir Reflektif dalam Filsafat Ilmu


Manusia berfikir karena sedang menghadapi masalah, masalah inilah yang
menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan tenggelam dalam
berpikir untuk dapat menjawab dan mengatasi masalah tersebut, dari
masalah yang paling sumir/ringan hingga masalah yang sangat
"Sophisticated"/sangat muskil. Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya
merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai
pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan [knowledge].
Berpikir reflektif dalam filsafat ilmu bermanfaat dalam:
a) menemukan pertanyaan penelitian (research question) melalui data
sekunder.
b) Melihat suatu proses dari perwujudan teori
c) Melihat linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud
memperbaikinya.tertentu.
d) Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada. Kemudian
bermaksud meningkatkannya.
e) Menjelaskan segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori
yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
f) Menyusun kerangka pemikiran yaitu mengalirkan jalan pikiran
menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini
tidak lain dari mendudukperkarakan masalah yang diteliti
(diidentifikasi) dalam kerangka teoretis yang relevan dan mampu
menangkap, menerangkan, serta menunjukkan perspektif terhadap
masalah itu. Upaya ditujukan untuk menjawab atau menerangkan
pertanyaan peneltian yang diidentifikasi (Soetriono & Rita, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Saeful. (2007). Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan


Aksiologi. Bandung: Pustaka Setia.

Soetriono & Rita, Hanafie. (2007). Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.
Yogyakarta: And