Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


Sediaan Steril Salep Mata Acyclovir 3%

Disusun oleh:

Fitriyanti Dwi Rahayu


P17335116016

Dosen Pembimbing:

Siska Tri Apriyoanita, S.Farm.

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG

JURUSAN FARMASI

2018
OTM ACYCLOVIR 0,5%

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu membuat formulasi, melaksanakan pembuatan sediaan dan
melakukan evaluasi sediaan steril obat salep mata dengan bahan aktif
Acyclovir 3%
II. PENDAHULUAN
Obat merupakan sedian atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi
dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatankesehatan, dan kontrasepsi. Obat didefinisikan sebagai suatu zat
yang digunakan dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau
mencegah penyakit pada manusia atau hewan (Ansel and Allen, 2014).
Berdasarkan cara pemberiannya, obat dapat diklasifikasikan kedalam 5
jenis yaitu oral, perektal, sublingual, parenteral serta langsung ke organ seperti
intrakardial (Anief, 2006). Berdasarkan beberapa cara pemberian obat diatas,
pemberian obat secara oral merupakan pilihan yang paling banyak digunakan.
Namun pemberian obat secara oral juga memiliki beberapa kelemahan yaitu
tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar dan efek yang diberikan
tidak segera karena obat harus diabsorpsi terlebih dahulu sebelum masuk ke
sistem sistemik, sehingga jika diberikan pada pasien dengan penanganan gawat
darurat pengobatan dengan sediaan oral tidak efektif. Oleh karena itu dibuat
alternatif sediaan optalmik, dimana sediaan optalmik dapat memberikan efek
lokal karena obat langsung digunakan pada organ yang dikehendaki.
Sediaan ophthalmic adalah bentuk sediaan khusus yang dirancang untuk
diaplikasikan ke permukaan luar mata (topikal), diberikan di dalam
(intraokular) atau berdekatan (periokular) ke mata, atau digunakan bersamaan
dengan perangkat oftalmik. Persiapannya mungkin memiliki beberapa tujuan,
terapeutik, profilaksis atau paliatif untuk agen yang diberikan secara topikal,
termasuk tindakan mekanik, agen kimia dan biokimiawi yang digunakan
dalam perawatan peralatan okular, dan profilaksis jaringan selama atau setelah
operasi. Karena bahaya terkait dengan pemakaian tunggal maupun berulang-
ulang, sediaan intraokular dan periokular terbatas pada aplikasi terapeutik atau
tambahan operasi (Abate & Abel, 2006).
Sediaan farmasi yang diaplikasikan secara topikal ke mata untuk
merawat permukaan atau kondisi intraokular, termasuk bakteri, jamur, dan
infeksi virus pada mata atau kelopak mata; alergi atau konjungtivitis menular
atau pembengkakan; tekanan intraokular tinggi dan glaukoma; dan mata kering
karena produksi caran yang tidak seimbang di mata. Dalam mengobati tertentu
kondisi oftalmik, seperti glaukoma, baik penggunaan obat sistemik maupun
pengobatan topikal bisa digunakan. Volume cairan air mata yang normal di
kantung mata manusia sekitar 7 sampai 8 μL (Allen & Ansel, 2014).
Mata yang tidak berkedip bisa menampung maksimum sekitar 30 μL
cairan, tapi saat berkedip, hanya bisa menampung 10 μL. Karena kapasitas
mata mempertahankan sediaan cair dan semi padat terbatas, aplikasi topikal
diberikan dalam jumlah kecil, untuk cairan diberikan tetes demi tetes, dan
untuk salep seperti pita tipis yang diaplikasikan pada garis dari kelopak mata.
Volume cairan yang lebih besar bisa digunakan untuk membasuh dan mencuci
mata (Allen & Ansel, 2014).
Kategori obat utama yang diterapkan secara topikal untuk mata adalah
sebagai berikut (Allen & Ansel, 2014) :
1. Anestetik: anestesi topikal, seperti tetrakain, kokain, dan
proparakain, digunakan untuk pereda nyeri sebelum operasi, pasca
operasi, untuk trauma oftalmik, dan selama pemeriksaan ophthalmic.
2. Agen antibiotik dan antimikroba: Digunakan secara sistemik dan
lokal untuk melawan infeksi oftalmik. Diantara agen yang digunakan
topikal adalah azitromisin, gentamisin sulfat, natrium sulfasetamida,
siprofloksasin hidroklorida, oflooksasin, polymyxin B-bacitracin,
dan tobramycin.
3. Agen antijamur: Diantara agen yang digunakan topikal terhadap
endophthalmitis jamur dan keratitis jamur adalah amfoterisin B,
natamycin, dan flucytosine.
4. Agen anti-inflamasi: Digunakan untuk mengobati radang mata,
sebagai alergi konjungtivitis. Di antara topikal anti- inflamasi agen
steroid adalah fluorometholon, prednisolon, dan garam
dexamethasone. Agen antiinflamasi nonsteroid adalah diklofenak,
flurbiprofen, ketorolak, dan suprofen.
5. Agen antiviral: Digunakan untuk melawan infeksi virus, seperti yang
disebabkan oleh virus herpes simpleks. Diantara agen antiviral yang
digunakan secara topikal adalah trifluridin, gansiklovir, dan
vidarabin.
6. Astringents: Digunakan dalam pengobatan konjungtivitis. Seng
sulfat sering digunakan sebagai astringent dalam larutan oftalmik.
7. Agen pemblokir beta-adrenergik: Agen semacam itu seperti
betaxolol hydrochloride, levobunolol hidroklorida, metipranolol
hidroklorida, dan timolol maleat digunakan secara topikal dalam
pengobatan tekanan intraokular dan glaukoma sudut terbuka kronis.
8. Miotik dan agen glaukoma lainnya: Miotik digunakan dalam
pengobatan glaukoma, esotropia akomodatif, dan konvergen
strabismus dan untuk pengobatan lokal dari myasthenia gravis.
Beberapa jenis lainnya agen digunakan dalam perawatan glaukoma,
inhibitor, seperti acetazolamide (oral); beta-blocker, seperti timolol;
alfaadrenergik agen, seperti apraclonidine hidroklorida;
simpatomimetik.
Aciclovir aktif melawan virus herpes simplex tipe 1 dan tipe 2 dan
melawan virus varicella-zoster. Aksi ini memerlukan konversi intraseluler dari
asiklovir oleh viral kinase thymidine ke monofosfat dengan konversi
berikutnya oleh enzim seluler ke difosfat dan triphosphate aktif. Bentuk aktif
ini menghambat sintesis DNA virus dan replikasi dengan menghambat enzim
DNA polimerase herpes virus serta dimasukkan ke dalam DNA virus. Proses
ini sangat selektif untuk sel yang terinfeksi. Studi pada hewan dan in vitro telah
menemukan berbagai kepekaan tetapi menunjukkan bahwa virus target
dihambat oleh konsentrasi asiklovir yang mudah dicapai secara klinis. Virus
herpes simplex tipe 1 tampaknya paling rentan, kemudian tipe 2, diikuti oleh
virus varicella-zoster. Virus Epstein-Barr dan CMV juga rentan terhadap
asiklovir pada tingkat yang lebih rendah. Namun, untuk CMV tampaknya tidak
diaktifkan oleh timidin kinase dan dapat bertindak melalui mekanisme yang
berbeda. Virus Epstein-Barr mungkin telah mengurangi aktivitas timidin kinase
tetapi DNA polymerase-nya sangat sensitif terhadap penghambatan oleh
aciclovir triphosphate, yang dapat menjelaskan aktivitas parsial. Aciclovir tidak
memiliki aktivitas melawan virus laten, tetapi ada beberapa bukti yang
menghambat herpes simplexvirus laten pada tahap awal reaktivasi
III. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi dan Fisiologi Mata
Karakteristik anatomi dan mekanisme fisiologis melindungi mata terhadap efek
eksternal yang beracun. Mekanisme ini termasuk struktur spesifik kornea, berkedip,
baseline dan refluks lachrymation, drainase, komposisi air mata film dan
sensitivitas kornea. Kombinasi dari semua karakteristik mekanistik, anatomi dan
fisiologis mempertahankan integritas mata, bersama-sama dengan sifat imunologi
dan antimikroba dari cairan lachrymal.
3.1.1 Struktur Mata

Sumber : Bouwman, 2009.


Gambar 3.1 Struktur Mata
Gambar 3.1 menunjukkan secara skematis struktur mata manusia. Secara
rinci struktur kornea ditunjukkan. Kornea memisahkan aqueous humor dari cairan
lachrymal dan melindungi struktur internal mata yang halus dari pengaruh
eksternal. Kornea adalah jaringan avaskular yang jelas di mana nutrisi dan
oksigen dipasok oleh cairan air mata dan aqueous humor. Ini terdiri dari lima
lapisan: epitel lipofilik berlapis, membran Bowman, stroma hidrofilik, membran
Descemet dan endotelium lipofilik. Sel-sel epitel erat dikemas bersama seperti
trotoar, membentuk tidak hanya penghalang yang efektif untuk sebagian besar
mikro-organisme, tetapi juga untuk penyerapan zat aktif. Permeabilitas rendah
kornea adalah karena adanya persimpangan yang ketat antara sel-sel epitel. Sel-sel
epitel kornea superfisial dieksfoliasi dari permukaan okular, kehidupan rata-rata
mereka adalah 4-8 hari. Kornea sangat disarafi dengan saraf sensorik, yang
melayani fungsi sensorik dan refleks penting (Bouwman, 2009).
Bola mata memiliki dinding yang terdiri dari tiga lapisan: lapisan luar
atau sklera dan kornea, lapisan tengah atau mantel uveal dan lapisan bagian dalam
atau retina. Kornea tidak memiliki pembuluh darah dan sklera hanya sedikit,
akibatnya pasokan imunoglobulin ke jaringan-jaringan ini terbatas. Oleh karena
itu pengobatan infeksi sulit. Konjungtiva adalah membran transparan tipis, yang
melapisi permukaan bagian dalam kelopak mata dan direfleksikan ke dunia.
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian: bulbar pada permukaan mata (sklera), fornix
atau kantung konjungtiva dan palpebra pada sisi dalam kelopak mata. Konjungtiva
bulbar terletak pada sclera dan hanya menempel pada sclera pada limbus.
Strukturnya menyerupai palisade dan lebih permeabel daripada kornea
(Bouwman, 2009).
3.1.2 Tear Film and Lachrymal Secretion
Kelenjar air mata mengeluarkan cairan lachrymal, yang menyebar di
bagian mata yang terbuka membentuk lapisan sobekan precorneal. Sebuah film
utuh melindungi permukaan okular dari pengeringan. Hasil saring hasil dari unit
fungsional lachrymal yang terdiri dari (Bouman, 2009):
 Lachrymal glands
 Permukaan mata
 Saraf sensorik yang terlibat Lapisan sobek adalah campuran dari beberapa
produk ekskresi
 Fluida encer (95% air, garam, glukosa , urea, protein) disekresikan oleh
kelenjar air mata
 Soluble mucins yang diproduksi oleh sel goblet yang ada di konjungtiva
 Lipid dari kelenjar Meibom yang tertanam di piring tarsal kelopak mata
Komposisi lipid disimpan dalam batas fisiologis oleh androgen.
Penurunan sekresi mereka pada orang tua adalah salah satu alasan untuk
pengembangan sindrom mata kering. Pasien dengan disfungsi kelenjar
Meibomian menunjukkan tingkat penguapan film air mata yang tinggi dan
osmolalitas air mata yang tinggi (Bouwman, 2009).
Struktur film sobekan Menurut “tiga lapisan teori”, film sobekan terdiri dari
lapisan lipid superfisial, lapisan berair sentral dan lapisan lendir bagian dalam.
Tidak ada pemisahan yang jelas antara lapisan berair dan lapisan lendir karena
mucin dilarutkan dalam lapisan berair. Untuk menjaga integritas film air mata
adalah yang paling penting selama pemberian obat tetes mata. Peran glikokaliks
sangat penting. Glikokaliks terdiri dari anionik membran-spanning atau mucins
terkait-membran disekresikan oleh sel-sel epitel kornea dan konjungtiva. Karena
sifatnya yang mengikat kelembaban maka ia menstabilkan film air mata. Terlebih
lagi lapisan lipid superfisial mencegah penguapan lapisan berair kental sentral
(Bouwman, 2009).
Sekitar 1,2 microlitres cairan lachrymal disekresi per menit. Fungsi cairan
lachrymal adalah (Bouwman, 2009):
 Peningkatan atau pemeliharaan kualitas optik penglihatan (homeostasis)
 Pelumasan bola mata
 Penghapusan benda asing
 Pasokan nutrisi ke permukaan okular
 Pertahanan terhadap infeksi (virus dan bakteri)
 Oksigen transportasi ke epitel kornea avaskular
Larutan cairan air mata yang disekresikan menyebar ke permukaan okular oleh
kelopak mata (precorneal tear film) dan didistribusikan ke kantung konjungtiva
selama berkedip. Sementara itu air mata menyapu kantus medial dan dikeringkan
melalui puncta, canaliculi, kantung lachrymal dan nasolachrymal duct yang
membuka ke bagian hidung inferior. Volume cairan sobekan precorneal berjumlah
sekitar 7 mikroliter. Kantung konjungtiva dapat menampung sekitar 30 mikroliter,
tetapi pada beberapa orang hanya 20 mikroliter atau bahkan kurang. Lapisan air
mata menguap pada tingkat 6-12 mikroliter per jam (Bouwman, 2009).
Mekanisme Imunologi dan Antibakteri dari Mata Permukaan okular adalah
domain dari sistem kekebalan mukosa. Sistem ini memainkan peran penting
dalam memerangi infeksi dengan membunuh mikro-organisme. Ini terdiri dari
kelenjar air mata, konjungtiva dan struktur terkait. Selain imunoglobulin, enzim
dan komponen bakterisida hadir: IgA, lisozim, laktoferin, lipocalins, cathelicidine
dan mungkin beta-defensins. Lipocalin dianggap sebagai komponen yang paling
penting dalam menghilangkan racun (phospho) lipid dan asam lemak dari
permukaan okular. Eliminasi diperlukan, jika tidak hanya hidrasi parsial dari
epitel kornea akan terjadi, yang dapat menyebabkan ulserasi (Bouwman, 2009).

3.2 Pengertian Sediaan Obat Mata


Sediaan obat mata adalah sediaan cair, semi-padat atau padat steril yang
ditujukan untuk pemberian pada bola mata dan / atau ke konjungtiva atau untuk
dimasukkan ke dalam kantung konjungtiva (Council of Europe, 2005). Sediaan obat
mata adalah bentuk sediaan khusus yang dirancang untuk ditanamkan ke
permukaan luar mata (topikal), diberikan di dalam mata (intraokular) atau
berdekatan dengannya (periokular, misalnya, juxtascleral atau subtenon), atau
digunakan bersama dengan perangkat oftalmik. Sediaan mungkin memiliki
beberapa tujuan (misalnya, terapi, profilaksis, atau paliatif untuk agen yang
diberikan secara topikal) tetapi termasuk tindakan mekanik, kimia, dan biokimia
dari agen yang digunakan dalam perawatan peralatan okular dan profilaksis
jaringan selama atau setelah pembedahan. (Felton, 2013). Guttae Ophthalmicae
(obat tetes mata) adalah sediaan steril, berupa larutan jernih atau suspensi, bebas
partikela sing, digunakan untuk mata engan cara meneteskan obat pada selaput
lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata (Syamsuni, 2007).
3.3 Bentuk Sediaan Obat Mata
Obat mata tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, beberapa diantaranya
memerlukan perhatian khusus (Felton, 2013)
1. Obat tetes mata
Obat tetes mata adalah larutan atau suspensi steril berair atau suspensi dari
satu atau lebih zat aktif yang ditujukan untuk berangsur-angsur ke mata.
Tetes mata dapat mengandung eksipien, misalnya, untuk menyesuaikan
tonisitas atau viskositas persiapan, untuk menyesuaikan atau menstabilkan
pH, untuk meningkatkan kelarutan zat aktif, atau untuk menstabilkan
persiapan. Zat-zat ini tidak mempengaruhi tindakan obat yang
dimaksudkan atau, pada konsentrasi yang digunakan, menyebabkan iritasi
lokal yang tidak semestinya.
2. Eye lotion
Eye lotion adalah larutan berair steril yang dimaksudkan untuk digunakan
dalam mencuci air bekas mata untuk menghilangkan tekanan. Eye lotion
mungkin mengandung eksipien, misalnya untuk menyesuaikan tonisitas
atau viskositas persiapan atau untuk menyesuaikan atau menstabilkan pH.
Zat-zat ini tidak mempengaruhi tindakan yang dimaksudkan atau, pada
konsentrasi yang digunakan, menyebabkan iritasi lokal yang tidak
semestinya. Eye lotion yang dipasok dalam wadah multidose mengandung
pengawet antimikroba yang sesuai dalam konsentrasi yang tepat kecuali
bila sediaan itu sendiri memiliki sifat antimikroba yang memadai.
3. Porder of eyes drops and powders for eye lotions
Serbuk untuk sediaan tetes mata dan lotion mata disediakan dalam bentuk
kering, steril untuk dibubarkan atau ditunda dalam kendaraan cair yang
sesuai pada saat pemberian. Mereka mungkin mengandung eksipien untuk
memfasilitasi pembubaran atau dispersi, untuk mencegah penggumpalan,
untuk menyesuaikan tonisitas, untuk menyesuaikan atau menstabilkan pH
atau untuk menstabilkan persiapan. Setelah pembubaran atau suspensi
dalam cairan yang ditentukan, mereka mematuhi persyaratan untuk tetes
mata atau lotion mata yang sesuai.
4. Sediaan mata semisolid
Sediaan mata semi-padat adalah salep steril, krim atau gel yang
dimaksudkan untuk aplikasi ke konjungtiva. Sediaan ini mengandung satu
atau lebih zat aktif yang dilarutkan atau didispersikan dalam basis yang
sesuai. Sediaan ini memiliki penampilan yang homogen. Sediaan mata
semi-solid memenuhi persyaratan monografi pada persiapan semi-solid
untuk aplikasi kulit. Dasarnya tidak menyebabkan iritasi pada konjungtiva.
Sediaan mata semi-solid dikemas dalam tabung kecil yang bisa disterilkan
dan dipasang dengan kanula atau dilengkapi dengan kanula dan memiliki
kandungan tidak lebih dari 5 gram persiapan. Tabung harus tertutup
dengan baik untuk mencegah kontaminasi mikroba. Sediaan mata semi-
solid juga dapat dikemas dalam wadah dosis tunggal yang dirancang
dengan tepat. Wadah, atau nosel tabung, berbentuk seperti untuk
memudahkan administrasi tanpa kontaminasi.
5. Ophthalmic insert
Ophthalmic insert adalah preparat steril, padat atau semi-padat dengan
ukuran dan bentuk yang sesuai, yang dirancang untuk dimasukkan ke
dalam kantung konjungtiva, untuk menghasilkan efek okular. Sediaan ini
umumnya terdiri dari reservoir zat aktif yang tertanam di amatrix atau
dibatasi oleh membran pengontrol laju. Zat aktif, yang kurang lebih larut
dalam cairan fisiologis, dilepaskan selama periode waktu yang ditentukan.
Ophthalmic inserts didistribusikan secara individual ke dalam wadah
steril.
3.4 Biofarmasetika
Pemberian zat aktif harus mencapai jaringan target mereka. Oleh karena itu
obat tetes mata harus memenuhi persyaratan tertentu. Sifat-sifat berikut ini penting
(Bouwman, 2009):
 Lipofilisitas bahan aktif farmasi (zat aktif)
 Konsentrasi zat aktif
 Pengenceran oleh cairan dan cairan lachrymal
 Viskositas lapisan air mata
 Nilai pH dan kapasitas buffer dari sediaan
 Nilai osmotik dari sediaan

3.5 Bahaya Sediaan Tidak Steril


Kemungkinan infeksi okular yang serius yang dihasilkan dari penggunaan
larutan ophthalmic yang terkontaminasi telah banyak didokumentasikan dalam
literatur. Solusi seperti itu telah berulang kali menjadi penyebab bisul kornea dan
bahkan kehilangan penglihatan. Larutan yang terkontaminasi telah ditemukan untuk
digunakan di kantor dokter, klinik mata, dan ruang perawatan industri, dan telah
ditiadakan pada resep di apotek komunitas dan rumah sakit. Mikroba yang paling
sering ditemukan sebagai kontaminan adalah kelompok staphylococci.
Pseudomonas aeruginosa adalah kontaminan yang kurang umum, dan larutan yang
paling sering ditemukan terkontaminasi adalah sodium fluorescein (Felton, 2013).
Ps. aeruginosa (Bacillus pyocyaneus; Pseudomonas pyocyanea; blue pus
bacillus) adalah organisme yang sangat berbahaya dan oportunistik yang tumbuh
dengan baik di sebagian besar media kultur dan menghasilkan racun dan produk
antibakteri yang terakhir cenderung membunuh kontaminan lain dan
memungkinkan Ps. aeruginosa tumbuh dalam budaya murni. Bakteri Gram-
negatif ini juga tumbuh dengan mudah dalam larutan mata, yang dapat menjadi
sumber infeksi kornea yang sangat serius. Ini dapat menyebabkan hilangnya
penglihatan total dalam 24 hingga 48 jam. Pada konsentrasi yang ditoleransi oleh
jaringan mata, sebagian besar agen antimikroba yang dibahas pada bagian berikut
mungkin tidak efektif terhadap beberapa strain Ps. Aeruginosa (Felton, 2013).
Larutan ophthalmic steril dalam wadah multi-dosis dapat terkontaminasi
dengan berbagai cara kecuali tindakan pencegahan diambil. Misalnya, jika botol
penetes digunakan, ujung pipet saat keluar dari botol dapat menyentuh permukaan
meja atau rak jika diletakkan, atau dapat menyentuh kelopak mata atau bulu mata
pasien selama pemberian. Jika jenis botol Drop-Tainer (Alcon) digunakan, ujung
penetes dapat menyentuh bulu mata atau topi saat dilepas untuk memungkinkan
pemberian, atau ujungnya dapat menyentuh meja atau jari, dan ujung itu dapat
menyentuh ujung pipet sebagai tutup diganti. Solusinya mungkin mengandung
antimikroba yang efektif, tetapi penggunaan berikutnya dari larutan yang
terkontaminasi dapat terjadi sebelum waktu yang cukup telah berlalu untuk semua
organisme yang akan dibunuh, dan organisme hidup dapat menemukan jalan
mereka melalui abrasi ke stroma kornea. Sekali di stroma kornea, sisa-sisa agen
antimikroba residu dinetralkan oleh komponen jaringan, dan organisme
menemukan media kultur yang sangat baik untuk pertumbuhan yang cepat dan
diseminasi melalui kornea dan segmen anterior mata (Felton, 2013).
Bacillus subtilis dapat menghasilkan abses yang serius ketika menginfeksi
vitreous humor. Jamur patogen yang dianggap sangat penting dalam solusi mata
adalah Aspergillus fumigatus. Jamur atau jamur lain dapat menyebabkan
kerusakan dengan mempercepat kerusakan obat-obatan aktif. Berkenaan dengan
virus, sebanyak 42 kasus keratokonjungtivitis epidemi disebabkan oleh satu botol
larutan tetrakain yang terkontaminasi virus. Kontaminasi virus sangat sulit untuk
dikendalikan, karena tidak ada pengawet yang tersedia saat ini adalah virus.
Terlebih lagi, virus tidak dapat dilepas dengan penyaringan. Namun, mereka
dihancurkan oleh autoclaving. Apoteker dan dokter belum cukup menyadari
bahaya penularan infeksi virus melalui solusi yang terkontaminasi. Hal ini
terutama berkaitan dengan adenovirus (tipe III dan VIII), sekarang diyakini
sebagai agen penyebab konjungtivitis virus, seperti epidemi keratoconjunctivitis.
Bahaya persiapan tidak steril secara eksponensial meningkat untuk produk yang
ditujukan untuk injeksi di dalam bola mata. Endophthalmitis dan kehilangan
penglihatan dapat terjadi dalam waktu singkat dari onset infeksi bakteri (Felton,
2013).

3.6 Acyclovir
Aciclovir aktif melawan virus herpes simplex tipe 1 dan tipe 2 dan
melawan virus varicella-zoster. Aksi ini memerlukan konversi intraseluler dari
asiklovir oleh viral kinase thymidine ke monofosfat dengan konversi berikutnya
oleh enzim seluler ke difosfat dan triphosphate aktif. Bentuk aktif ini menghambat
sintesis DNA virus dan replikasi dengan menghambat enzim DNA polimerase
herpes virus serta dimasukkan ke dalam DNA virus. Proses ini sangat selektif
untuk sel yang terinfeksi. Studi pada hewan dan in vitro telah menemukan
berbagai kepekaan tetapi menunjukkan bahwa virus target dihambat oleh
konsentrasi asiklovir yang mudah dicapai secara klinis. Virus herpes simplex tipe
1 tampaknya paling rentan, kemudian tipe 2, diikuti oleh virus varicella-zoster.
Virus Epstein-Barr dan CMV juga rentan terhadap asiklovir pada tingkat yang
lebih rendah. Namun, untuk CMV tampaknya tidak diaktifkan oleh timidin kinase
dan dapat bertindak melalui mekanisme yang berbeda. Virus Epstein-Barr
mungkin telah mengurangi aktivitas timidin kinase tetapi DNA polymerase-nya
sangat sensitif terhadap penghambatan oleh aciclovir triphosphate, yang dapat
menjelaskan aktivitas parsial. Aciclovir tidak memiliki aktivitas melawan virus
laten, tetapi ada beberapa bukti yang menghambat herpes simplexvirus laten pada
tahap awal reaktivasi (Sweetman, 2009).
Aciclovir diekskresikan sebagian besar tidak berubah dalam urin, oleh
filtrasi glomerulus dan beberapa sekresi tubular aktif, dengan hingga 14% muncul
di urin sebagai metabolit 9-karboksimetoksimetilguanin yang tidak aktif. Pada
pasien dengan fungsi ginjal normal, waktu paruh adalah sekitar 2 hingga 3 jam.
Pada pasien dengan gagal ginjal kronis, nilai ini meningkat dan bisa mencapai
19,5 jam pada pasien anurik. Selama hemodialisis, waktu paruh dilaporkan
berkurang menjadi 5,7 jam, dengan 60% dosis asiklovir dikeluarkan. Ekskresi
feses dapat mencapai sekitar 2% dari dosis. Probenesid meningkatkan waktu
paruh dan area di bawah kurva konsentrasi-waktu plasma asiklovir. Aciclovir
melintasi plasenta dan didistribusikan ke ASI dalam konsentrasi sekitar 3 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan serum ibu. Penyerapan asiklovir biasanya
sedikit setelah aplikasi topikal untuk kulit utuh, meskipun dapat ditingkatkan
dengan perubahan formulasi. Aciclovir diserap setelah aplikasi salep 3% ke mata
memberikan konsentrasi yang relatif tinggi dalam aqueous humor tetapi jumlah
yang dapat diabaikan dalam darah. Pada herpes simplex keratitis, salep mata 3%
dapat diterapkan 5 kali sehari sampai 3 hari setelah penyembuhan.(Sweetman,
2009).
IV. FORMULASI
1. Acyclovir

Struktur

BM : 225,2
(Farmakope Indonesia, Edisi 5, hlm 173 pdf).
Pemerian Serbuk hablur; putih hingga hampir putih; melebur pada suhu lebih
dari 250 disertai peruraian.
(Farmakope Indonesia, Edisi 5, hlm 173 pdf).
Kelarutan Larut dalam asam klorida encer; sukar larut dalam air; tidak larut
dalam etanol.
(Farmakope Indonesia, Edisi 5, hlm 173 pdf).
Stabilitas
 Panas Suhu terjadinya dekomposisi dari Acyclovir dimulai dari
>150ºC setelah titik lelehnya (±400ºC).
(dalam jurnal Thermal stability and Decomposition Kinetics
Studies of Acyclovir and Zidovudine Drug Compounds)
 Hidrolisis Acyclovir lebih stabil pada larutan yang bersifat basa
dibandingkan asam.
(The Pharmaceutical Codex, hlm 712)
 Oksidasi Harus terhindar dari udara dan disimpan pada wadah yang
kedap udara.
(USP 30 – NF25)
 pH Pada suhu 25ºC, stabilitas Acyclovir pada rentang pH 5-6
(dalam jurnal Topical Delivery of Acyclovir and
Ketoconazole)
 log P -1,59

Inkompatibilitas Dilaporkan bahwa Acyclovir inkompatibel dengan Foscarnet.


(Martindale, Edisi 36, hlm 862 pdf)
Penyimpanan Simpan di suhu kamar (25 – 300C) harus terlindung dari
cahaya
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : base
Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : salep
Cara sterilisasi sediaan :
Sterilisasi awal dengan metode panas kering menggunakan oven pada suhu 170⁰C
selama 60 menit.
Kemasan :
Dalam wadah obat salep mata (Polipropilen)
Eksipien
2. Parrafin Liquid

Pemerian Berupa minyak transparan tidak berwarna; cairan viskus tanpa


adanya flourosensi pada cahya. Tidak berasa dan tidak berbau
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol 95%, gliserin dan air; larut
dalam aseton, benzene, kloroform, carbon disulfide dan eter
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Stabilitas Mudah teroksidasi dengan adanya panas dan cahaya. Oksidasi
dimulai dengan terbentuknya peroksida. Oksidasi
menyebabkan pembentukkan/ formasi aldehid dan asama
organic, yang mana mempengaruhi rasa dan bau dari paraffin
cair.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Kegunaan Oleagenous Vehicle
Inkompatibilitas Inkompatibel denga bahan-bahan pengoksidasi kuat
(Handbook of Pharmaceutical Exipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Cara Sterilisasi Bahan Dengan menggunakan oven (sterilisasi panas kering) pada
suhu 170⁰C selama 60 menit.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).

3. Vaselin Flavum

Pemerian Berwarna kuning pucat atau berwarna kuning, tembus


cahaya dan lembut, tidak berbau dan tidak berasa.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 482,
pdf).
Kelarutan Praktis tidak larut dalam aseton, etanol panas atau dingin,
etaol 96%, gliserin dan air; larut dalam benzene, karbon
disulfida, kloroform, eter, hexane dan sebagainya.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Stabilitas Vaselin flavum sebaiknya tidak dipanaskan pada suhu 70ºC
pada waktu yang lama karena akan berubah wujud menjadi
cair. Apabila terpapar udara pada ruangan terbuka, dapat
terjadi oksidasi, menyebabkan terjadinya perubahan warna
dan bau dari vaselin.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Kegunaan Basis salep hidrokarbon
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf).
Inkompatibilitas Vaselin flavum merupakan bahan material yang inert.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 446,
pdf). (HOPE Edisi 6, hlm 654 pdf)
Cara sterlisasi Dapat disterilkan dengan panas kering menggunakan oven
pada suhu 170ºC selama 60 menit.

4. Alpha Tocopherol

Pemerian Merupakan bahan alam yang tidak berwarna atau berwarna


kuning kecoklatan, viskus atau cairan berminyak
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 32,
pdf).
Kelarutan Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, sangat mudah
larut dalam aseton, eter, etanol dan minyak sayuran
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 32,
pdf).
Stabilitas Dapat melelh pada suhu 2,5-3,5ºC. teroksidasi pada
atmosfer dan dipercepat dengan adanya garam ferrat dan
perak. Tersimpan pada wadah kedap udara dan terlindung
dari cahaya.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 32,
pdf).
Kegunaan Antioksidan
Inkompabilitas Tokoferol tidak sesuai dengan peroksida dan ion logam,
terutama besi, tembaga, dan perak. Tokoferol dapat diserap
ke dalam plastik.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 32,
pdf).
5. Cetosteril Alkohol

Pemerian Berwarna putih atau berwarna krim, berbentuk flakes atau


granul
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 150,
pdf).
Kelarutan Larut dalam etanol 95%, eter dan minyak ; praktis tidak
larut dalam air
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 150,
pdf).
Stabilitas Stabil pada kondisi penyimpanan normal. Harus disimpan
pada tempat tertutup rapat, kering dan sejuk.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm
150, pdf).
Kegunaan Emmolien
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 150,
pdf).
Inkompabilitas Inkompatibel dengan agen pengoksidasi kuat dan garam
besi.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6, hlm 150,
pdf).
V. PENDEKATAN FORMULA

No. Nama Bahan Jumlah Kegunaan Rentang


(%) penggunaan (%)
1. Acyclovir 3 Bahan Aktif
2 Alpha tocopherol 0,05 Antioksidan 0,001-0,05
3 Cetosteril alcohol 3 Emollient -
4. Paraffin liquid 10 Olegenous vehicle 3-60
5. Vaselin flavum Ad 100 Basis salep hidrokarbon Ad 100

VI. PERHITUNGAN TONISITAS, OSMOLARITAS, DAPAR


Kemurnian Acyclovir Salep mata mengandung tidak kurang dari 90% dan tidak
lebih dari 110% Acyclovir.
Acyclovir dilebihkan 10% berdasarkan kemurniannya.
Acyclovir = 3% + (10% x 3%)
= 3,3%

VII. PENIMBANGAN
Dibuat 6 vial (@ 5 gram) = 6 x 5 g = 30 g
Dilebihkan 20% = 30 g + (20% x 30 g)
= 36 g ~ 50 g
Penimbangan dibuat sebanyak 50 g untuk menghindari kehilangan selama proses
produksi.

No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang

1. Acyclovir 3,3% 3,3 gram


100 ml
𝑥 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1,65 gram

2. Alpha tocopherol 0,05% 0,05 gram


100 ml
𝑥 50 gram = 0,025 gram
3. Cetosteril Alkohol 2,5% 3 gram
100 ml
𝑥 50 gram = 1,25 gram
10 gram
4. Parrafin liquid 10% 100 ml
𝑥 50 gram = 5 gram
100% - (3,3% + 0,05% + 10% + 2,5%)
= 84,15%
84,15 gram
5. Vaselin flavum ad 100% 𝑥 50 gram = 42,075 gram
100 ml

VIII. STERILISASI
a. Alat

Nama Alat Cara Sterilisasi Waktu Sterilisasi Jumlah


Beaker glass 1000 ml Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1
Beaker glass 50 ml Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 2
Panas lembab.
Gelas ukur 250 ml Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Panas lembab.
Gelas ukur 10 ml Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Batang pengaduk Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 2
Corong kaca Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1
Kaca arloji Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 5
Spatel Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 4
Buret Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1
Panas lembab.
Labu erlenmeyer 500 ml Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Panas lembab.
Pipet tetes Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 3
Tutup karet pipet tetes Desinfeksi Direndam alkohol 70%, 24 jam 3
Cawan penguap Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1
Mortir dan stamper Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1

b. Wadah

No. Nama wadah Jumlah Cara sterilisasi (lengkap)

Wadah salep mata


1. (polipropilen) 6 Desinfeksi, direndam alkohol 70%, 24 jam
Tutup wadah salep mata
2. (Polipropilen) 6 Desinfeksi, direndam alkohol 70%, 24 jam

IX. PROSEDUR PEMBUATAN

RUANG PROSEDUR

Semua pengerjaan pembuatan sediaan dilakukan di bawah LAF (Grade A Background B)

1. Semua alat dan wadah dicuci bersih, dibilas dengan aquadest dan
dikeringkan
Grey Area 2. Semua alat dan bahan disterilisasi dengan cara sterilisasi yang
(Sterilisasi alat) sesuai.
3. Setelah sterilisasi, semua alat dimasukkan ke dalam pass box
untuk dipindahkan ke white area.
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan infus ditimbang
menggunakan timbangan analitik yag sudah dikalibrasi :
1. Acyclovir diayak terlebih dahulu menggunakan mesh no. 100
kemudian ditimbang sebanyak 1,65 gram dengan kertas perkamen,
diberi nama dan jumlah bahan.
2. Alpha tocopherol ditimbang sebanyak 0,025 gram dengan kaca
arloji steril, ditutup dengan kertas perkamen, diberi nama dan
jumlah bahan.
White Area
3. Cetosteril alkohol ditimbang sebanyak 1,25 gram dengan kertas
(Ruang
perkamen, diberi nama dan jumlah bahan.
Penimbangan)
4. Paraffin cair ditimbang sebanyak 5 gram dengan cawan uap
porselen, ditutup dengan kertas perkamen, diberi nama dan jumlah
bahan.
5. Vaselin flavum ditimbang sebanyak 42,075 gram dengan cawan
uap porselen, ditutup dengan kertas perkamen, diberi nama dan
jumlah bahan.
6. Setelah itu, bahan-bahan dimasukkan ke dalam passbox yang
berada di grey area yang kemudian akan diambil di white area.
1. Bahan-bahan diambil dari passbox.
2. Meja kerja dibagi menjai 3 area, yaitu area bersih, area kerja dan area
kotor. Bersihkan meja kerja dengan alkohol 70%.
Pencampuran bahan :

1. Acyclovir , vaselin flavum, cetosteril alcohol, alfa tokoferol dan


paraffin cair disatuakn ke dalam cawan uap porselen untuk dipanaskan
White Area Grade
A background B pada suhu 60-65ºC.
(Ruang 2. Mortir dan stamper steril disiapkan.
Pencampuran) 3. Setelah campuran pada cawan uap porselen mencair, maka campuran
tersebut dituangkan ke dalam mortir, kemudian diaduk ad terbentuk
salep.
4. Biarkan salep mendingin
5. Setelah mendingin, maka salep dimasukkan ke dalam transfer box
untuk dilakukan proses filling.

1. Sediaan salep diambil dari transfer box.


2. Tube kosong steril ditimbang bobot kosongnya.
3. Salep ditimbang sebanyak 5 gram menggunakan kertas perkamen.
Kemudian kertas perkamen digulung menutupi sediaan salep.
Grade A
4. Gulungan kertas perkamen berisi salep kemudian dimasukkan ke
Background B
dalam spuit yang digunakan untuk membantu memasukkan salep ke
(Ruang Filling)
dalam tube.
5. Tube ditutup untuk menghindari kontaminasi
6. Sediaan yang sudah ditutup dimasukkan ke dalam transfer box untuk
dimasukkan ke ruang evaluasi.

White Area 1. Lakukan evaluasi sediaan


(Ruang Evaluasi) 2. Sediaan diberi etiket dan brosur kemudian dikemas dalam wadah
sekunder
X. DATA PENGAMATAN EVALUASI

Evaluasi Fisika
1. a. Jenis evaluasi : Uji Penetapan Isi Minimum
b. Prinsip evaluasi : Menghitung selisih antara tube kosong dan tube yang
berisi sediaan.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1519).
c. Prosedur evaluasi :
1) Diambil 10 wadah, hilangkan semua etiket yang dapat
mempengaruhi bobot.
2) Bersihakan dan keringkan dengan sempurna bagian luar wadah
dengan cara yang sesuai satu per satu.
3) Timbang bobot wadah berisi sediaan, catat bobotnya.
4) Keluarkan isi sediaan secara kuantitatif dari masing-masing wadah,
potong ujung wadah.
5) Timban kembali wadah kosong yang isi sediaannya telah
dikeluarkan, catat bobotnya.
6) Perbedaan antara kedua penimbangan adalah bobot bersih isi
wadah.
d. Jumlah sampel : 1 wadah
e. Persyaratan : volume bersih masing-masing wadah tidak
kurang dari 90% untuk sediaan yang tertera pada
eriket 60 gram/mL atau kurang. Jika persyaratan
tidak dipenuhi, tetapkan isi bersih dari 20 wadah
tambahan. Rata-rata dari 30 wadah tidak kurang
dari 90%.
f. Hasil pengamatan : Bobot tube isi (gram) Bobot tube kosong
(gram)
9,3469 5,775
9,8286 5,6994
Isi minimum
Tube 1 = 9,3469 g – 5,775 g
= 3,5712 g
Tube 2 = 9,8286 g – 5,6994 g
= 4,1292 g
3,5712+4,1292
Rat-rata isi minimum : = 3,8502 gram
2

g. Kesimpulan : tidak memenuhi syarat.

2. a. Jenis evaluasi : Uji Kebocoran Tube


b. Prinsip evaluasi : dengan cara menempatkan tube secara horizontal
pada kertas penyerap kemudian dioven pada suhu
dan waktu yang telah ditentukan
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1613).
a. Prosedur evaluasi :
1) Ambil 10 wadah salep mata dengan segel yag dipersyaratkan.
2) Bersihkan dan keringkan permukaan luar wadah.
3) Letakka wadah dengan posisi horizontal pada kertas penyerap dan
dioven pada suhu 60º ± 3ºC selama 8 jam.
b. Jumlah sampel : 1 tube
c. Persyaratan : tidak boleh ada kebocoran yang berarti selama
atau setelah pengujian selesai. Jika terjadi
kebocoran ulangi pengujian dengan 20 wadah salep
selanjutnya.
d. Hasil pengamatan : tidak terdapat kebocoran
e. Kesimpulan : memenuhi syarat

3. a. Jenis evaluasi : Uji Homogenitas


b. Prinsip evaluasi : Menentukan berdasarkan jumlah partikel maupun
distribusi ukuran partikelnya dengan pengambilan
sampel pada berbagai tempat yang ditentukan secara
visual.
c. Prosedur evaluasi :
1) Homogenitas sediaan diuji dengan metode visual.
2) Sejumlah sediaa yang diambil dari beberapa bagian salep digunakan
untuk pengujian.
3) Setiap salep tersebut dioleskan pada kaca transparan untuk dilihat
partikel sediaan salep tersebut
d. Jumlah sampel : 1 wadah
e. Persyaratan : tidak terdapat partikel pada sediaan
f. Hasil pengamatan : tidak terdapat partikel pada sediaan
g. Kesimpulan : memenuhi syarat

4. a. Jenis evaluasi : Penetapan Logam dalam Salep Mata


b. Prinsip evaluasi :menentukan jumlah partikel logam pada sediaan
salep mata dengan cara memanaskan sediaan salpe
dan dilihat jumlah partiket logam yang akan berada
pada bagian dasar salep setelah mengeras.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1563).
c. Prosedur evaluasi :
1) Keluarkan sesempurna mungkin isi dari 10 tube.
2) Masukkan masing-masing ke dalam cawan petri yang terpisah
ukuran 60 mm, alas datar, jernih dan bebas goresan.
3) Tutup cawan kemudian panaskan pada suhu 85ºC selama 2 jam.
Jika perlu naikkan suhu sedikit lebih tinggi hingga salep mencair.
4) Dengan menjaga kemungkinan terjadinya gangguan terhadap massa
yang meleleh, biarkan masing-masingmencapai suhu kamar dan
membeku.
5) Angkat tutup, kemudian balikkan cawan petri dan tempatkan pada
mikroskop yang sesuai untuk pembesaran 30 kali yang dilengkapi
dengan mikrometer pengukur dan dikalibrasi pada pembesaran yang
digunakan.
6) Selain sumber cahaya biasa, arahkan illuminator dari atas salep
dengan sudut 45º.
7) Amati partikel logam pada seluruh dasar cawan.
8) Hitung jumlah partikel yang ukurannya 50µm atau lebih.
d. Jumlah sampel :-
e. Persyaratan : jika jumlah partikel dari 10 tube tidak lebih dari 50
partikel dan jika tidak lebih dari 1 tube
mengandung 8 partikel
f. Hasil pengamatan : tidak dilakukan
g. Kesimpulan :-

5. a. Jenis evaluasi : Penetapan kekentalan sediaan


b. Prinsip evaluasi : dilakukan dengan menggunakan viscometer cup
dan bob
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1562).
c. Prosedur evaluasi :
1) Isi wadah viscometer dengan sejumlah sediaan
2) Rakit alat viscometer
3) Spindle dipasangkan dan pastikan mengenai sediaa
4) Viskositas sediaan akan tertera pada alat
d. Jumlah sampel :-
e. Persyaratan : 10-15 mPa.s
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-

Evaluasi Biologi

6. a. Jenis evaluasi : Uji sterilisasi


b. Prinsip evaluasi : Menguji suatu bahan dengan teknik inokulasi
langsung atau filtrasi langsung untuk melihat ada
tidaknya pertumbuhan mikroba, menggunakan
media tioglikonat cair dan soybean casein digest.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1359).

c. Prosedur evaluasi :
Metode penyaringan/filtrasi membran
1) Membran penyaring yang digunakan memiliki porositas 0,45 µm.
2) Peralatan filtrasi disterilkan terlebih dahulu dengan cara yang
sesuai.
3) Larutan uji kemudian disaring menggunakan membran dalam
kondisi aseptic.
4) Kemudian, membran dipindahkan secara aseptic ke dalam media.
5) Lakukan inkubasi.

Metode inokulasi langsung


1) Sejumlah sediaan dimasukkan ke dalam media.
2) Kemudian, ditambahkan sejumlah kecil inoculum.
3) Pada kedua cara digunakan mikroba yang sama seperti tertera pada
uji fertilitas untuk anaerob, aerob dan kapang.
4) Uji fertilitas dilakukan sebagai control positif.
5) Semua wadah diinkubasi.

d. Jumlah sampel : tidak dilakukan pengujian


e. Persyaratan : media yang berisi sedian tidak ditumbuhi
mikroorganisme.
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-

7. a. Jenis evaluasi : Uji endotoksin bakteri


b. Prinsip evaluasi : Dilakukan menggunakan Limulus amebocyte lysate
(LAL). Teknik pengujian menggunakan jendal gel
dan fotometrik.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1359).
c. Prosedur evaluasi :
Untuk bakteri P. aeroginosa dan S.aureus
1) Siapkan sampel 1 dalam 10 volume pengenceran dimana tidak lebih
dari 1 gram sediaan diuji.
2) Gunakan 10 mL atau jumlah yang sesuai dengan 1 g atau 1 mL,
inokulasi ke dalam media soybean-casein digest broth dengan jumlah
yang sesuai.
3) Campur dan inkubasi pada suhu 30-35ºC selama 18-24 jam.

d. Jumlah sampel : tidak dilakukan pengujian


e. Persyaratan : jika koloni yang tumbuh tidak seperti yang dijelaskan
pada hasil uji konformasi identifikasi negative.
Untuk bakteri S. aureus tidak ditumbuhi koloni
bakteri berwarna kuning atau putih dikelilingi
zona kuning.
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-

XI. PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini, dilakukan pembuat sediaan salep mata dengan bahan
aktif Acyclovir 3% yang diberikan secara topikal optalmik. Sediaan obat mata
adalah sediaan cair, semi-padat atau padat steril yang ditujukan untuk pemberian
pada bola mata dan / atau ke konjungtiva atau untuk dimasukkan ke dalam
kantung konjungtiva (Council of Europe, 2005). Sediaan mata semi-padat adalah
salep steril, krim atau gel yang dimaksudkan untuk aplikasi ke konjungtiva
(Bouwman, 2009).
Salep mata Sediaan ini mengandung satu atau lebih zat aktif yang
dilarutkan atau didispersikan dalam basis yang sesuai. Sediaan ini memiliki
penampilan yang homogen. Zat-zat ini tidak mempengaruhi tindakan obat yang
dimaksudkan atau, pada konsentrasi yang digunakan, menyebabkan iritasi lokal
yang tidak semestinya (Felton, 2013).
Pembuatan sediaan salep mata Acyclovir ini ditujukan untuk pegobatan
infeksi virus herpes simpleks keratitis yang terjadi pada mata. Aciclovir aktif
melawan virus herpes simplex tipe 1 dan tipe 2 dan melawan virus varicella-
zoster. Aksi ini memerlukan konversi intraseluler dari asiklovir oleh viral kinase
thymidine ke monofosfat dengan konversi berikutnya oleh enzim seluler ke
difosfat dan triphosphate aktif. Bentuk aktif ini menghambat sintesis DNA virus
dan replikasi dengan menghambat enzim DNA polimerase herpes virus serta
dimasukkan ke dalam DNA virus. Proses ini sangat selektif untuk sel yang
terinfeksi. Studi pada hewan dan in vitro telah menemukan berbagai kepekaan
tetapi menunjukkan bahwa virus target dihambat oleh konsentrasi asiklovir yang
mudah dicapai secara klinis. Virus herpes simplex tipe 1 tampaknya paling
rentan, kemudian tipe 2, diikuti oleh virus varicella-zoster. Virus Epstein-Barr
dan CMV juga rentan terhadap asiklovir pada tingkat yang lebih rendah. Namun,
untuk CMV tampaknya tidak diaktifkan oleh timidin kinase dan dapat bertindak
melalui mekanisme yang berbeda. Virus Epstein-Barr mungkin telah
mengurangi aktivitas timidin kinase tetapi DNA polymerase-nya sangat sensitif
terhadap penghambatan oleh aciclovir triphosphate, yang dapat menjelaskan
aktivitas parsial. Aciclovir tidak memiliki aktivitas melawan virus laten, tetapi
ada beberapa bukti yang menghambat herpes simplexvirus laten pada tahap awal
reaktivasi (Sweetman, 2009).
Proses pembuatan salep mata Acyclovir harus dikerjakan pada kondisi
yang bebas mikroorganisme viabel untuk menghindari bahaya infeksi atau
keadaan ini disebut sebagai steril. Untuk mendapatkan sediaan yang steril maka
semua proses, alat dan bahan yang digunakan adalah steril. Alat-alat harus
disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakanm metode sterilisasi yang
sesuai. Untuk alat yang terbuat dari kaca maka metode sterilisasi yang sesuai dan
biasa digunakan adalah metode panas kering dengan menggunakan oven pada
suhu 170⁰C selama 1 jam, sedangkan untuk alat yang terbuat dari membrane
berpori dapat dilakukan sterilisasi dengan menggunakan metode panas lembab
menggunakan autoklaf pada suhu 121⁰C selama 15 menit. Bahan yang
digunakan pada formula harus dilakukan sterilisasi dengan metode sterilisasi
yang sudah tercantum dalam monografi masing-masing bahan. Ruangan tempat
dilakukannya proses pembuatan juga memiliki kelas yang dikelompokan
berdasarkan kebersihan, jumlah partikel dan mikroorganisme yang terdapat pada
masing-masing kelas. Pada saat proses sterilisasi alat dilakukan di ruang Grey
Area, sedangkan White Area digunakan untuk proses pencampuran sampai
dengan penutupan (Aultons dan Taylor, 2013).
Sediaan salep Acyclovir tidak dapat dilakukan sterilisasi akhir. Hal
tersebut akan menyebabkan perubahan konsistensi dari salep yang dibuat. Maka,
bahan-bahan yang digunakan pada saat proses pembuatan perlu dilakukan
sterilisasi awal sesuai dengan karekteristik dari masing-masing bahan (Aulton
dan Taylor, 2013).
Acyclovir digunakan untuk pengobatan infeksi harpes simpleks keratitis
yang terjadi di mata. Selain itu, bioavailibilitas acyclovir secara sistemik sangat
buruk, hanya bersisa 14% (Sweetman, 2009). Oleh karena itu, Acyclovir dibuat
dalam bentuk seduaan topical optalmik sesuai dengan tujuan pengobatannya.
Jenis topical optalmik yang dibuat adalah salep mata. Salep mata akan lebih
lama kontak dengan mata yang terinfeksi sehingga efek terapi akan lebih cepat
dicapai (Felton, 2013).
pH stabilitas Acyclovir adalah 5-6. pH bahan aktif tersebut sesuai dengan
rentang pH toleransi untuk sediann optalmik (Bouwman, 2009). Akan tetapi,
pada sediaan salep tidak ada pengujian pH sediaan karena dalam sediaan salep
tidak mengandung air melainkan hanhya mengandung basis salep hidrokarbon
sebagai tempat dispersi bahan aktif.
Acyclovir merupakan bahan yang dibuat untuk sediaan optalmik yang
merupakan sediaan dalam dosis ganda (multiple dose) berdasarkan pemberian
dosisnya. Sediaan multiple dose memungkinkan terjadinya kontaminasi karena
penggunaan obat yang berulang kali. Sehingga, pada formulasi sediaan injeksi
multiple dose dapat ditambahkana pengawet (Aulton dan Taylor, 2013). Namun,
dalam sediaan tidak perlu ditambahkan pengawet karena, pada sediaan tidak
mengandung air yang merupakan tempat mikroba untuk hidup.
Bentuk sediaan yang dibuat adalah salep yang merupakan sediaan semi-
solid. Dimana sediaan semi-solid membutuhkan basis sebagai tempat
dispersinya bahan aktif. Basis salep yang digunakan adalah basis salep
hidrokarbon, yaitu Vaselin dan Parrafin liquid. Jenis vaselin yang digunakan
adalah Vaselin Flavum karena pada Vaselin Album masih mengandung H2SO4
yang akan mengiritasi mata (Rowe dkk, 2009). Basis yang digunakan pada
sediaan ini merupakan basis semi-solid dan cair. Kedua basis tersebut akan
membentuk salep dengan konsistensi yang terlalu lunak dan dapat menyebabkan
salep mudah keluar dari mata karena adanya system klirens pada mata dan efek
terapi sulit dicapai. Untuk meningkatkan konsistensi dari salep perlu
ditmabhakan basis padat. Basis padat yang ditambahkan adalah Cetosteril
Alkohol dengan kadar 2,5% untuk memperbaiki konsistensi dari sediaan
(Bouwman, 2009).
Basis salep Vaselin dan Parrafin liquid tidak stabil apabila terdapat udara
(Rowe dkk, 2009). Dalam formulasi perlu ditambahakan antoksidan untuk
mengurangi atau menghambat laju oksidasi yang disebabkan adanya oksigen
tersebut. Bahan antioksidan yang digunakan adalah Alfa Tokoferol 0,05%
(Rowe dkk, 2009).
Salep mata Acyclovir mengandung Acyclovir yang tidak boleh kurang dari
90% dan tidak boleh lebih dari 110% (Kemenkes RI, 2014). Pada saat proses
pembuatan dapat terjadi kehilangan bahan. Berdasarkan kemurniannya, maka
pada formula ditambahkan 10% untuk mencegah terjadinya kehilangan bahan
pada saat proses pembuatan. Pada proses pembuatan, bahan aktif tahan terhadap
pemanasan, maka metode pembuatan yang digunakan adalah fusi dengan
menambahkan 20% perhitungan bahan untuk menghindari kehilangan pada saat
proses pemanasan.
Hasil evaluasi yang didapatkan dari sediaan salep mata Acyclovir 3%
tidak semua memenuhi syarat. Uji kebocoran dilakukan dengan menggunakan 1
wadah dengan cara dibalikkan, tidak ditemukan adanya tanda kebocoran pada
sediaan obat tetes mata, hal ini dikarenakan kemasan yang digunakan adalah
kemasan yang tidak rusak dan memenuhi persyaratan yang terdapat pada
masing-masing monografi. Uji penetapan isi minimum dilakukan menggunakan
2 wadah, masing-masing wadah memiliki bobot 5 gram. Hasil dari penetapan isi
minimum tidak memenuhi syarat bahwa sediaan tidak kurang dari 90% bobot
yang tertera pada etiket. Hal tersebut terjadi karena metode untuk filling tidak
efektif dilakukan. Sehingga, total bobot sediaan yang dimasukkan bukan 5 gram
sehingga hal tersebut mempengaruhi isi minimum dari sediaan. Untuk uji
homogenitas dapat dilihat bahwa sediaan homogeny dengan indikasi bahwa
tidak ada partikel yang terlihat saat dioleskan pada kaca transparan.

XII. KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan obat tetes mata adalah sebagai berikut.

No. Nama Bahan Jumlah Kegunaan


(%)
1. Acyclovir 3,3 Bahan Aktif
2 Alpha tocopherol 0,05 Antioksidan
3 Cetosteril alcohol 3 Emollient
4. Paraffin liquid 10 Olegenous vehicle
5. Vaselin flavum Ad 100 Basis salep hidrokarbon

Jenis sterilisasi yang digunakan dalam pembuatan obat salep mata


Acyclovir 3% adalah sterilisasi awal bahan-bahan yang digunakan sesuai dengan
cara sterilisasinya masing-masing dan pembuatan dengan teknik aseptic. Dari
evaluasi didapatkan bahwa sediaan injeksi yang dibuat adalah Acyclovir 3%
memenuhi syarat (berdasarkan hasil evaluasi).
XIII. DAFTAR PUSTAKA

Abate, M. and Abel, S. K. 2006. Remington: The Science and Practice of


Pharmacy 21st Edition. Philadelphia : University of The Sciences
Anief, Moh. (2006). Ilmu Meracik Obat, Jakarta : Universitas Gadjah Mada Press
Ansel, H.C dan Allen. (2014). Pengantar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI
Press. Jakarta
Aulton, M.E., dan Taylor K.M.G., (2013), Aulton’s Pharmaceutics: The Design
and Manufacture of Medicines, Fourth Edition, Churcihill Livingstone
Elsevier
Bouwman, Yvonne dakk. (2009). Phactical Pharmateutic An Iternational
Guideline for The Preparation Care and Use of Medical Products. New
York : Springer International Publishing
British Pharmacopeia Commision. (2009). Brtitsh Pharmacopeia. Volume I & 2.
London: Medianes and Health Care Product Regulatory Agency (MHRA).
Council of Europe., European Pharmacopoeia Commission. & European
Directorate for the Quality of Medicines & Healthcare. (2004).
European pharmacopoeia 5.0. Strasbourg: Council Of Europe
Felton, L.A. (2013). Remington Essentials of Pharmaceutics. USA:
Pharmaceutical Press
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesiaedisi V,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Rowe, Raymond C, dkk. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th
edition. London: Pharmaceutal Press.
Sweetman, Sean. C. (2009). Martindale The Complete Drug Reference 36th ed.
London: The Pharmaceutical Press.
U.S. Pharmacopeia.(2007). The United States Pharmacopeia, USP 30/The
National Formulary, NF 25. Rockville, MD: U.S. Pharmacopeial
Convention, Inc.
XIV. LAMPIRAN
Etiket

Kemasan
Brosur

FITCLOVIR
Salep Mata Steril

Tiap gram mengandung:


Acyclovir ................................................................. 33 mg

INDIKASI
Acyclovir digunakan untuk pengobatan infeksi akibat virus harpes simpleks pada mata akibat.

KONTRA INDIKASI
Reaksi hipersensitifitas (reaksi alergi berlebihan) terhadap komponen Fitclovir Salep Mata

EFEK SAMPING

1. Rasa menyengat sementara


2. Mata merah
3. Blefaritis (peradangan pada tepi kelopak mata yang menyebabkan bagian tersebut jadi terlihat
bengkak dan merah)
Bila efek samping menetap bahkan memburuk, segera hentikan penggunaan Zovirax Salep Mata dan
konsultasikan ke Dokter.

DOSIS

1. Oleskan Zovirax Salep Mata pada daerah sekitar mata 5 kali sehari dengan selang waktu 4 jam.
2. Lanjutkan penggunaan Zovirax Salep Mata minimal 3 hari setelah sembuh.

KEMASAN
Isi 1 tube @ 5 gram

PENYIMPANAN
Simpan pada suhu kamar (25O C – 30O C), terlindung dari cahaya matahari langsung.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Dibuat oleh:
PT Pharamecia
Bandung – Indonesia
Uji homogenitas

Uji daya sebar