Anda di halaman 1dari 34

20

BAB III
TEORI DASAR

3.1 Pemindahan Tanah Mekanis

Pemindahan tanah mekanis adalah segala macam perkejaan yang

berhubungan dengan kegiatan penggalian (digging, breaking, loosening), pemuatan

(loading), pengangkutan (hauling), penimbunan (dumping), perataan (spreading and

leveling), dan pemadatan (compacting) tanah atau batuan dengan menggunakan

alat-alat mekanis. Meskipun diberi nama pemindahan tanah mekanis tetapi

sebenarnya tidak hanya terbatas pada tanah (soil) saja, tetapi berhubungan juga

dengan batuan.

Pekerjaan-pekerjaan pemindahan tanah mekanis, banyak terlihat dibidang

pekerjaan bangunan sipil, seperti pembuatan jalan raya, tanggul, saluran irigasi,

kanal, lapangan terbang, dan lain sebagainya. Selain itu pemindahan tanah

mekanis juga dapat diaplikasikan dalam kegiatan penambangan, seperti untuk

pengupasan lapisan tanah penutup, pengambilan material tambang, dan

pembuatan jalan-jalan tambang.

Alat-alat mekanis yang digunakan dalam kegiatan pemindahan tanah baik

dalam dunia sipil maupun tambang pada umumnya tidak jauh berbeda, dimana alat-

alat yang digunakanya terdiri dari :

1. Alat Gali : berbagai macam jenis bor, backhoe, bucket wheel excavator,

dragline, power shovel, dan sebagainya.

2. Alat muat : Berbagai jenis Excavator, wheel loader, dragline, dan sebagainya.

3. Alat Angkut : berbagai jenis dump truck, power scraper, belt conveyor, dan

sebagainya.
20
21

4. Alat Garu : contohnya adalah tractor, bulldozer yang dilengkapi dengan alat

garu.

5. Alat Gilas : sheepfoot rollers, smooth steel rollers, segment rollers, dan

sebagainya.

3.2 Tahapan Kegiatan Penambangan

Kegiatan penambangan adalah suatu kegiatan untuk mengambil suatu

material yang berharga dari dalam bumi untuk dimanfaatkan oleh manusia. Dalam

kegiatan penambangan tentunya melibatkan kegiatan pemindahan tanah atau

material dengan menggunakan alat mekanis, dari mulai menggali material hingga

pada kegiatan penimbunan material hasil tambang itu sendiri. Pada umumnya

tahapan kegiatan penambangan pada secara garis besar adalah sebagai berikut :

1. Pengupasan tanah penutup

Pengupasan tanah penutup dimaksudkan untuk membuang tanah penutup

(overburden) agar endapan bahan galiannya terkupas dan mudah untuk

ditambang.

2. Penggalian atau penambangan

Penggalian atau penambangan adalah kegiatan pengambilan endapan bahan

galian atau batubara dari kulit bumi dan dibawa ke permukaan untuk

dimanfaatkan atau untuk diproses selanjutnya. Proses penggalian dapat

dilakukan dengan :

a. Alat gali non mekanis seperti linggis, belincong, cangkul, dll.

b. Alat gali mekanis seperti bulldozer, power shovel, backhoe, dll.

c. Pemboran dan peledakan.

21
22

3. Kegiatan Pemuatan dan Pengangkutan

Setelah digali baru kemudian dimuat ke dalam alat angkut dengan alat muat

seperti wheel loader, power shovel, hydraulic shovel, track loader, dll dan

selanjutnya diangkut dengan alat angkut seperti dump truck, belt conveyor,

lori, dll ketempat penimbunan atau pengolahan selanjutnya.

3.3 Analisis Tempat Kerja

Agar pekerjaan pemindahan tanah dan batuan dengan menggunakan alat

mekanis dapat berjalan dengan baik dan optimal, maka harus dipelajari dan diamati

dengan teliti kondisi kerjanya terlebih dahulu. Banyak faktor yang perlu diamati

untuk menganalisis tempat kerja alat mekanis, terutama untuk pekerjaan

pemindahan tanah mekanis di lokasi tambang, dimana faktor-faktor tersebut akan

dijelaskan pada sub-bab berikut ini :

3.3.1 Iklim dan Ketinggian Dari Permukaan Air Laut (Altitude)

Iklim merupakan faktor yang perlu diperhatikan, karena akan berpengaruh

terhadap efisiensi kerja mesin maupun operator, karena iklim sendiri dapat

menghambat suatu pekerjaan di lapangan, contohnya adalah ketika musim hujan,

maka jam kerja akan terganggu, dan hari-hari kerja akan lebih pendek sehingga

mengakibatkan berkurangnya produksi, atau sebaliknya jika pada musim kemarau

maka akan terdapat banyak debu dijalan tambang, maka perlu dilakukan

penyiraman terhadap jalan tersebut, dan tentunya dapat menghambat kegiatan

penambangan yang sedang berlangsung. Selain itu iklim juga berpengaruh

terhadap kondisi material, dimana jika udara memiliki kelembaban yang cukup tinggi

atau pada saat musim hujan maka material akan menjadi lengket dan sukar untuk

digali terutama untuk material clay atau lempung.


22
23

Faktor lainnya yang perlu diperhatikan dalam analisis tempat kerja ini adalah

ketinggian (elevasi) lokasi kerja, karena kerapatan udara akan semakin rendah

pada lokasi yang elevasinya tinggi, sehingga dapat mempengaruhi kinerja alat yang

dipakai serta menyebabkan mesin alat bekerja lebih berat sehingga biaya produksi

akan naik karena konsumsi bahan bakar yang besar.

3.3.2 Jalan Angkut Tambang

Jalan angkut pada lokasi tambang sangat mempengaruhi kelancaran operasi

penambangan terutama dalam kegiatan pengangkutan, karena hal ini akan

menentukan waktu yang diperlukan untuk pengangkutan material (cycle time) yang

tentunya akan berpengaruh terhadap produksi alat yang digunakan, oleh karena itu

geometri jalan angkut perlu diperhatikan dengan teliti.

Terdapat Beberapa geometri jalan angkut yang perlu diperhatikan agar tidak

menimbulkan hambatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan kegiatan

pengangkutan, salah satunya adalah memperhitungkan lebar jalan angkut, dimana

lebar jalan angkut didasarkan pada lebar kendaraan terbesar yang digunakan.

Semakin lebar jalan angkut yang digunakan maka operasi pangangkutan akan

semakin aman dan lancar. Adapun lebar jalan angkut dua jalur dapat dilihat pada

(Gambar 3.1).

CATERPILLAR

778 778
Tanggul

Parit

1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt

L min
Sumber : Bangun, Filianti, 2009
Gambar 3.1
Geometri Jalan Angkut Dua Jalur

23
24

Lebar jalan angkut tambang pada keadaan lurus dan belokan penting

ditentukan untuk kelancaran dan keberhasilan operasi pengangkutan. Lebar jalan

angkut minimum pada tikungan selalu lebih besar daripada jalan angkut pada jalan

lurus. Selain itu kemiringan jalan juga berpengaruh terhadap kegiatan

pengangkutan material dengan alat mekanis, dimana kemiringan jalan adalah

besarnya gaya berat yang melawan atau membantu gerak kendaraan karena

kemiringan jalur jalan yang dilaluinya. Jika jalan naik maka disebut dengan

kemiringan positif, maka tahanan kemiringan akan melawan gerak kendaraan

sehingga memperbesar tractive effort atau rimpull yang diperlukan. Sebaliknya jika

jalur jalan itu turun disebut kemiringan negatif, maka tahanan kemiringannya akan

membantu gerak kendaraan artinya mengurangi rimpull yang dibutuhkan.

3.3.3 Faktor Operator

Operator alat mekanis merupakan faktor yang perlu diamati dan dinilai juga

karena berkaitan dengan efisiensi kerja yang akan berpengaruh terhadap

produktivitas alat yang dioperasikanya. menurut westinghouse terdapat 4 (empat)

faktor penilaian untuk menilai kinerja operator di tempat kerja, dimana faktor-faktor

tersebut adalah sebagai berikut :

1. Keterampilan

Keterampilan operator ditunjau dari pengamatan siklus waktu alat mekanis.

Karena siklus waktu menunjukan gambaran keterampilan operator dalam

pengoperasian alat. Semakin kecil siklus waktu maka semakin baik

keterampilan operator, begitupun sebaliknya.

2. Usaha

Usaha operator untuk melakukan pekerjaan dapat dilihat dari efisiensi kerja

operator, yaitu besarnya persen waktu yang digunakan dari waktu yang
24
25

tersedia. Semakin besar efisiensi kerja operator maka semakin besar pula

usaha yang dilakukan operator dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan

waktu yang tersedia.

3. Kondisi Kerja

Kondisi kerja yang nyaman akan meberikan semangat dan minat operator

dalam melakukan pekerjaan yang semakin besar. Dalam hal ini usaha

operator dalam bekerja semakin meningkat. Sehingga, efisieinsi kerja

operator akan semakin meningkat pula.

4. Konsistensi

Kestabilan operator dalam bekerja berkaitan erat dengan kondisi fisik

lingkungan kerja yang diterima operator. Kestabilan waktu kerja operator

dalam melakukan pekerjaan dapat dilihat dari efisiensi operator. Konsistensi

ini memberikan gambaran seberapa besar waktu yang digunakan dari

operator dalam bekerja selama waktu yang tersedia.

3.3.4 Kondisi Material

Setiap jenis tanah atau batuan pada dasarnya memiliki sifat fisik dan

mineralogi yang berbeda-beda. Oleh sebab itu sebaiknya jika akan melakukan

perkejaan pemindahan tanah atau material dengan alat mekanis maka harus

diketahui terlebih dahulu jenis serta kondisi materialnya, seperti :

1. Ukuran dan Bentuk Butir Material

Salah satu faktor penting dari material yang perlu diamati adalah ukuran dan

bentuk butir material tersebut, karena akan berpengaruh terhadap banyaknya

material untuk dapat menempati suatu ruangan tertentu. Contohnya, jika

material yang memiliki ukuran butiran yang halus dengan bentuk butir yang

bundar, maka volume material tersebut dapat hampir sama dengan volume
25
26

ruangan yang ditempatinya, karena tidak akan banyak terdapat pori (void)

pada tumpukan material yang berada pada ruangan yang ditempatinya.

Sedangkan material dengan ukuran yang kasar dan bentuk butir yang

menyudut, maka volumenya akan lebih kecil dari nilai volume ruangan yang

ditempatinya karena akan terdapat banyak pori (void) pada tumpukan material

yang berada pada ruanga yang ditempatinya. Ukuran dan bentuk butir ini

akan sangat berpengaruh terhadap faktor pengisian bucket alat gali-muat (Fill

Factor). Adapun pengelempokan ukuran butir material menurut Uden

Wentworth, yang disebut dengan skala Wentworth yang dapat dilihat pada

(Tabel 3.1)

Tabel 3.1
Skala Wentworth
Diameter (mm) Material
≥ 256 Bongkah
64 Berangkal
4 Kerakal
2 Kerikil
1 Pasir sangat kasar
0,5 Pasir kasar
0,25 Pasir sedang
0,125 Pasir halus
0,0625 Pasir sangat halus
0,00395 Lanau
1/256 Lempung
Sumber : R.D. Dean & R.A Dalrymple, 2002

2. Kekerasan Material

Kekerasan material adalah faktor lainnya yang penting untuk diamati,

karena akan berpengaruh juga terhadap kegiatan pemindahan material

dengan alat mekanis, dimana dengan diketahuinya kekerasan material

yang akan digali maka dapat ditentukan alat apa yang akan digunakan
26
27

untuk menggali atau memberaikan material tersebut. Karena tingkat

kekerasan material itu bervariasi maka sering dilakukan pengelompokan

maerial berdasarkan mudah atau sukarnya material tersebut untuk digali

dengan peralatan mekanis seperti berikut ini :

a. Lunak (soft) atau mudah digali (easy digging), misalnya tanah atas atau

top soil, pasir (sand), lempung pasiran (sandy clay), pasir lempungan

(clayed sand).

b. Agak keras atau medium hard digging, misalnya tanah liat atau lempung

(clay) yang basah dan lengket. Batuan yang sudah lapuk (weathered

rock).

c. Sukar digali atau keras (hard digging), misalnya : batu sabak (slate),

material yang kompak (compacted material), batuan sediman

(sedimentary rock), konglomerat (conglomerate), breksi (breccia).

d. Sangat sukar digali atau sangat keras (very hard digging) atau batuan

segar (fresh rock) yang memerlukan pemboran dan peledakan sebelum

dapat digali, misalnya : batuan beku segar (fresh igneous rock), batuan

malihan segar (fresh metamorphic rock).

3. Perubahan Volume Material

Pada dasarnya pemindahan tanah itu merupakan suatu pekerjaan untuk

meratakan suatu daerah, maka sebaiknya volume penggalian harus sama

dengan volume penimbunan. tetapi pada umunya tanah atau batuan akan

bertambah volumenya jika digali dari tempat asalnya (insitu), dan

volumenya akan berkurang jika dipadatkan kembali ditempat lain. Peristiwa

bertambahnya volume material ketika telah digali (dibongkar) disebut

dengan Swell Factor atau faktor pengembangan. Sedangkan peristiwa


27
28

berkurangnya volume material setelah dipadatkan disebut dengan faktor

penyusutan atau Shrinkage Factor.

3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Alat

salah satu tolak ukur yang dapat dipakai untuk mengetahui baik buruknya

hasil dari suatu pekerjaan pemindahan tanah mekanis adalah besarnya

produktivitas yang dapat dicapai oleh alat yang digunakan. oleh sebab itu usaha

dan upaya untuk mencapai produksi yang tinggi selalu menjadi perhatian yang

khusus.

Untuk memperkirakan dengan lebih teliti produktivitas alat yang telah dibahas

sebelumnya perlu dipelajari faktor-faktor yang secara langsung dapat

mempengaruhi hasil kerja alat tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi :

3.4.1 Daya Mesin Alat Mekanis

Daya mesin alat mekanis adalah kemampuan mesin suatu alat mekanis untuk

melakukan suatu pekerjaan, atau mengusung suatu beban tertentu. Daya mesin ini

biasanya dinyatakan dalam satuan tenaga kuda atau yang sering disebut dengan

Horse Power (HP) ataupun satuan lainnya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya

elevasi berpengaruh terhadap hasil kerja mesin, karena kerja mesin dipengaruhi

oleh tekanan dan temperatur udara luar. Berdasarkan pengalaman, kenaikan 1000

ft (300 m) pertama dari permukaan laut, tidak akan berpengaruh pada mesin-mesin

4-tak, tetapi untuk selanjutnya setiap kenaikan 1000 ft ke dua (dihitung dari

permukaan laut) HP rata-rata berkurang sebesar ± 3%, sedangkan pada mesin-

mesin 2 tak, kemerosotannya berkisar 1%. Atau untuk perhitungan HP efektif dapat

juga menggunakan persamaan berikut :

28
29

H0 = Hc x x√ .................................................................................................. (3.1)

Keterangan :

Ho = HP pada ketinggian tertentu.

Hc = HP yang harus dikoreksi dari pengaruh ketinggian, yaitu pada 0 ft.

Po = Tekanan barometer pada ketinggian tertentu.

Ps = Tekanan barometer standard, 29,92 in Hg atau 76 cm Hg.

To = Temperatur absolut pada ketinggian tertentu (460 + oF).

Ts = Temperatur standard (460 + 60o F = 520 oF).

3.4.2 Rimpull

Setelah diketahui nilai Ho atau daya mesin pada elevasi tertentu, maka

langkah selanjutnya adalah memperhitungkan rimpull, dimana rimpull adalah

besarnya kekuatan tarik yang dapat diberikan oleh mesin atau ban penggerak yang

menyentuh permukaan jalur jalan dari suatu kendaraan. rimpull biasanya dinyatakan

dalam satuan kg atau lbs. Jika Coefficient of Traction (CT) cukup tinggi sehingga

roda tidak selip, atau CT mampu mengatasi selip, maka besarnya rimpull

maksimum yang dapat diberikan oleh mesin pada ban kendaraan adalah fungsi dari

tenaga mesin (dalam Horse Power) dan verseneling antara mesin dan rodanya.

Untuk menghitung rimpull dapat menggunakan persamaan berikut :

RPi = ................................................................................. (3.2)

29
30

Keterangan :

RPi = Rimpull pada gigi ke-n (lb).

HP = Daya Mesin (HP).

375 = Angka konversi.

Emesin = (H0 / Hc) x 100%.

Vmi = Kecepatan maksimal pada gigi ke-n (mph).

3.4.3 Tahanan Gali (Digging Resistance)

Tahanan gali (Digging Resistance, sering disingkat DR) marupakan tahanan

yang dialami oleh alat gali pada waktu melakukan penggalian material, penyebab

timbulnya tahanan ini adalah :

1. Gesekan antara alat gali dan tanah, umumnya semakin besar kelembaban

dan kekerasan butiran tanah, maka semakin besar pula gesekan alat dan

tanah yang terjadi.

2. Kekerasan dari material yang digali.

3. Kekasaran dan ukuran butiran tanah atau material yang digali.

4. Adanya adhesi antara tanah dengan alat gali, dan kohesi antara butiran tanah

itu sendiri.

5. Berat jenis tanah (terutama berpengaruh pada alat gali yang berfungsi

sebagai alat muat, misalnya power shovel, clamshell, dragline dan

sejenisnya).

Besarnya tahanan gali (DR) tak dapat dicari angka reratanya, oleh karena itu

biasanya langsung ditentukan di tempat.

30
31

3.4.4 Tahanan Gulir/ Tahanan Gelinding (Rolling Resistance)

Tahanan guling/tahanan gelincir (Rolling Resistance, biasa disingkat RR)

merupakan segala gaya-gaya luar yang berlawanan arah dengan arah gerak

kendaraan yang sedang berjalan di atas suatu jalur. (Lihat Gambar 3.2).

Sumber : Bangun, Filianti, 2009


Gambar 3.2
Arah Tahanan Gulir

Bagian yang mengalami Rolling Resistance (RR) secara langsung adalah ban

bagian luar kendaraan, tahanan gulir (RR) tergantung pada banyak faktor,

diantaranya yang terpenting adalah :

1. Keadaan jalan (kekerasan dan kemulusan permukaan jalan), semakin keras

dan mulus atau rata jalan tersebut, maka tahanan gulingnya (RR) semakin

kecil.

2. Keadaan ban yang bersangkutan dan permukaan jalur jalan. Jika memakai

ban karet, maka yang berpengaruh adalah ukuran, tekanan, dan permukaan

dari ban alat berat yang digunakan, apakah ban luar masih baru, atau sudah

gundul, dan bagaimana model kembangan ban itu. Jika menggunakan crawler

yang berpengaruh adalah kondisi jalan. Besarnya RR dinyatakan dalam

pounds (lbs) dan rimpull yang diperlukan untuk menggerakkan tiap gross ton

berat kendaraan beserta isinya pada jalur mendatar, dan dengan kondisi jalan

31
32

tertentu. Untuk perhitungan praktis RR dapat dihitung menggunakan

persamaan sebagai berikut :

RPRR = W x RR .................................................................................... (3.3)

Keterangan :

RPRR = Rimpull untuk mengatasi Rolling Resistance (lbs).

W = Berat kendaraan (ton).

RR = Rolling Resistance (lbs/ton).

(Untuk nilai RR dapat dilihat pada Tabel 3.2)

Tabel 3.2
Angka Rata-Rata Tahanan Gulir Untuk Berbagai Macam Jalan
Macam Jalan RR untuk ban karet (lb/ton)
Hard, smooth surface, well maintained 40
Firm but flexible surface, well maintained 65
Dirt road, average construction road, little maintenance 100
Dirt road, soft or rutted 150
Deep, muddy surface, or loose sand 250-400
Sumber : Pradjosumarto, Partanto, 1993

3.4.5 Tahanan Kemiringan (Grade Resistance)

Grade Resistance (GR) adalah besarnya gaya berat yang melawan atau

membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang dilalui. Jika jalur

jalan itu naik disebut kemiringan positif, tahanan kemiringan atau Grade Resistance

(GR) akan melawan gerak kendaraan, tetapi sebaliknya, jika jalan itu turun disebut

kemiringan negatif, tahanan kemiringan akan membantu gerak kendaraan (Gambar

3.3).

32
33

Sumber : Bangun, Filianti, 2009


Gambar 3.3
Tahanan Kemiringan (GR)

Untuk menghitung rimpull untuk mengatasi tahanan kemiringan digunakan

persamaan sebagai berikut :

RPGR = W α GR ....................................................................................... (3.4)

Keterangan :

RPGR = Rimpull untuk mengatasi kemiringan (lbs).

W = Berat kendaran (ton).

α = Kemiringan jalan (%).

GR = Grade Resistance (lb/ton).

(Untuk nilai GR dapat dilihat pada Tabel 3.3 pada halaman berikutnya)

33
34

Tabel 3.3
Pengaruh Kemiringan Jalan Terhadap Tahanan Kemiringan
Kemiringan (%) GR (lb/ton)
1 20
2 40
3 60
4 80
5 100
6 119,8
7 139,8
8 159,2
9 179,2
10 199
11 218
12 238,4
13 257,8
14 277,4
15 296,6
20 392,3
25 485,2
30 574,7
35 660,6
40 742,8
45 820,8
50 894,4
Sumber : Pradjosumarto, Partanto, 1993

3.4.6 Koefisien Traksi (Coefficient of Traction)

Coefficient of Traction (CT) adalah faktor yang menunjukkan berapa bagian

dari seluruh kendaraan itu pada ban atau truck yang dapat dipakai untuk menarik

atau mendorong. Jadi CT adalah suatu faktor dimana jumlah berat kendaraan pada

ban penggerak itu harus dikalikan untuk menunjukkan rimpull maksimum antara ban

dengan jalur jalan, tepat sebelum roda itu selip. Jika terdapat gesekan yang cukup

antara permukaan roda dengan permukaan jalan, maka tenaga mesin tersebut

dijadikan tenaga traksi yang maksimal. (Gambar 3.4).

34
35

Sumber : Bangun, Filianti, 2009


Gambar 3.4
Koefisien Traksi

Untuk menghitung rimpull untuk mengatasi koefisien traksi atau roda

penggerak dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

RPRP = W x CT x %WRP ..................................................................... (3.5)

Keterangan:

RPRP = Rimpull untuk mengatasi roda penggerak (lbs).

W = Berat kendaran (ton).

CT = Coefficient of Traction (%) (lihat Tabel 3.4).

%W RP = Beban yang diterima roda penggerak (100%).

Tabel 3.4
Coefficient of Traction Untuk Berbagai Macam Jalan
Macam Jalan Ban Karet (%) Crawler Track (%)
Dry, rough concrete 80 – 100 45
dry, clay loam 50 -70 90
wet, clay loam 40 – 50 70
wet sand and gravel 30 – 40 35
loose, dry sand 20 – 30 30
Sumber : Pradjosumarto, Partanto, 1993

35
36

3.4.7 Percepatan (Acceleration)

Percepatan (Acceleration) adalah waktu yang diperlukan untuk mempercepat

kendaraan dengan memakai kelebihan rimpull yang tidak digunakan untuk

menggerakkan kendaran pada jalur tertentu. Lama waktu yang dibutuhkan untuk

mempercepat kendaraan tergantung pada beberapa faktor yaitu:

1. Berat kendaraan, semakin berat kendaraan beserta isinya, semakin lama

waktu yang dibutuhkan oleh kendaraan tersebut untuk menambah

kecepatannya.

2. Kelebihan rimpull yang ada, semakin besar kelebihan Rimpull pada suatu

kendaraan, maka semakin cepat kendaraan itu dapat dipercepat. Percepatan

tak mungkin dihitung secara tepat, tetapi dapat diperkirakan memaka

persamaan hukum Newton sebagai berikut :

a= ................................................................................................. (3.6)

Keterangan :
F = Kelebihan rimpull setiap gigi (lbs).

g = Percepatan gravitasi (32,2 ft/sec2).

W = Berat alat yang harus dipercepat (lbs).

a = percepatan (ft/sec2).

Selain itu adapun rumus untuk menghitung rimpull untuk mengatasi

akselerasi, yaitu sebagai berikut :

RPAR = W x AR .................................................................................. (3.7)

36
37

Keterangan :

RPAR = Rimpull untuk mengatasi akselerasi (lbs).

W = Berat kendaraan (ton).

AR = Acceleration Resistance (20 lbs/ton).

3.4.8 Efisiensi Kerja

pekerja atau mesin tidak mungkin selamanya bekerja 60 menit dalam 1 (satu)

jam, karena akan terdapat hambatan-hambatan yang selalu terjadi, misalnya

operator terlambat datang, istirahat terlalu lama, berhenti bekerja lebih awal,

menunggu alat, dan lain sebagainya. hal ini perlu dibedakan dari hambatan-

hambatan karena kerusakan alat-alat atau pengaruh iklim.

Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap suatu pelaksanaan pekerjaan yang

merupakan perbandingan antara waktu yang dipakai untuk bekerja dengan waktu

yang tersedia yang dinyatakan dalam (%). Untuk menghitung efisiensi kerja dapat

menggunakan persamaan berikut :

We = Wp – Wh ........................................................................................... (3.8)

Keterangan :

We = Waktu Kerja Efektif (menit).

Wp = Waktu Produktif (menit).

\Wh = Waktu Hambatan kerja (menit).

............................................................................................ (3.9)

37
38

Keterangan :

E = Efisiensi Kerja (%).

We = Waktu kerja efektif (menit).

WP = Waktu kerja produktif (menit).

Menurut Prof. Ir. Partanto Prodjosumarto, kondisi kerja suatu kegiatan

pemindahan tanah mekanis dibagi kedalam beberapa kategori yang dinilai

berdasarkan efisiensi kerja, seperti berikut (Tabel 3.5) :

Tabel 3.5
Penilaian Kondisi Kerja Berdasarkan Nilai Efisiensinya
Operating Condition Job Efficiency
Good ≥ 0,83
Average 0,75 - 0,83
Rather Poor 0,67 - 0,75
Poor 0,58 - 0,67
Very Poor ≤ 0,58
Sumber : Pradjosumarto, Partanto, 1993

3.4.9 Waktu Edar Alat

Waktu Edar sangat dipengaruhi oleh keahlian operator dan kondisi material itu

sendiri, dimana waktu edar alat ini merupakan waktu yang digunakan oleh alat

mekanis untuk melakukan satu siklus kegiatan. Lamanya waktu edar dari alat-alat

mekanis akan berbeda antara material yang satu dengan yang lainnya. Hal ini

tergantung dari jenis alat serta sifat dari material yang ditangani. Waktu edar alat

muat merupakan penjumlahan dari waktu menggali. Waktu ayunan

bermuatan,waktu menumpahkan material dan waktu ayunan kosong. Untuk

menghitung waktu edar alat muat dapat menggunakan persamaan berikut :

.............................................................. (3.10)

38
39

Keterangan :

Cm = Waktu edar alat muat (menit).

Tm = Waktu Menggali (menit).

Tmu = Waktu Ayunan Bermuatan (menit).

Td = Waktu menumpahkan material (menit).

Tk = Waktu Ayunan Kosong (menit).

Sedangakan waktu edar alat angkut adalah sebagai berikut :

.......................................................................... (3.11)

FT = TL + (Tg + a) + (Tb x nb) + Td .................................................. (3.12)

Keterangan :

Ca = Waktu edar alat angkut (menit).

FT = Waktu tetap (menit).

Tma = Waktu mengangkut (menit).

Tba = Waktu kembali (menit).

TL = Waktu Pengisian material (menit).

Tg + a = Waktu ganti gigi dan akselerasi (menit).

Tb = Waktu berbelok (menit).

nb = Jumlah belokan.

Td = waktu menumpahkan material (menit).

3.4.10 Faktor Pengembangan (Swell Factor)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, suatu material jika telah

diberaikan atau dibongkar dari tempat asalnya, maka material tersebut akan

mengalami pengembangan pada volumenya yang disebabkan oleh berbagai

39
40

kondisi, salah satunya adalah faktor jenis material itu sendiri, iklim, dan sebagainya.

Faktor pengembangan volume ini disebut dengan Swell Factor, dimana Swell Factor

ini merupakan perbandingan antara densitas loose dengan densitas insitu material,

atau perbandingan antara volume insit material dengan volume loose material yang

telah dibongkar dan dinyatakan dalam presentase. Untuk menghitung nilai SF

berdasarkan dapat menggunakan persamaan berikut :

............................................................................ (3.13)

Atau dapat juga menggunakan persamaan seperti berikut :

.......................................................................... (3.14)

Keterangan :

SF = Swell Factor (%).

ρL = Densitas loose (ton/LCM).

ρi = Densitas insitu (ton/BCM).

Vi = Volume insitu (BCM).

VL = Volume loose (LCM).

Nilai Swell Factor pada setiap jenis material itu berbeda-beda, tergantung

dari tingkat kekerasan material itu sendiri, dimana semakin lunak material maka

persentase Swell Factor nya akan semakin rendah, sebaliknya jika semakin keras

material maka nilai SF nya akan semakin besar, hal ini dibuktikan oleh penelitian

yang telah dilakukan Bernie Roseke, seorang ahli geologi dari canada dan

40
41

mempublikasikan hasil peneletianya dalam sebuah jurnal, dimana hasil penelitian

tersebut menghasilkan nilai SF untuk berbagai jenis material yang dapat dilihat pada

(Tabel 3.6).

Tabel 3.6
Swell Factor for Various Material
MATERIAL SWELL (%)
Clay
Dry 40
Wet 40
Clay and Gravel
Dry 40
Wet 40
Coal, anthracite 35
Coal, Bituminous 35
Earth, Loam
Dry 25
Wet 25
Gravel
Dry 12
Wet 12
Gypsum 74
Hardpan 50
Limestone 67
Rock, well blasted 65
Sand
Dry 12
Wet 12
Sandstone 54
Shale and Soft 65
Rock
Slate 65
Traprock 65
Sumber : Roseke, Bernie, 2013

3.4.11 Faktor Isian Mangkuk (Fill Factor)

Sama hal nya dengan Swell Factor, faktor isian mangkuk atau yang sering

disebut dengan Fill Factor itu, sebagian besar dipengaruhi oleh material yang akan

dimuat oleh alat muat itu sendiri, dimana seperti yang telah dijelaskan pada sub-bab
41
42

sebelumnya, jika ukuran butir material semakin halus dan memiliki bentuk butir yang

membundar, maka nilai Fill Factor akan mendekati atau sama dengan 1 (satu),

artinya adalah volume material yang dimuat kedalam mangkuk alat muat itu sama

dengan volume teoritis atau kapasitas asli mangkuk alat muat tersebut, karena

kemungkinan tumpukan material dalam mangkuk tersebut hanya terdapat sedikit

atau mungkin tidak ada pori (void). Sedangkan hal sebaliknya terjadi jika material

yang dimuat itu memiliki ukuran butir yang kasar dan bentuk butir yang menyudut,

maka nilai Fill Factor akan kurang dari 1 (satu), artinya adalah volume material yang

dimuat kedalam mangkuk alat muat tidak sama dengan atau kurang dari kapasitas

asli mangkuk tersebut, hal ini dikarenakan akan terdapat banyak pori (void) pada

tumpukan material yang dimuat kedalam mangkuk tersebut, sehingga

menyebabkan volume material yang dimuat kedalam mangkuk alat muat tidak

maksimal.

Pernyataan bahwa besar-kecilnya nilai Fill Factor ini dipengaruhi oleh ukuran

butir dan bentuk butir material yang dimuat kedalam mangkuk alat muat, dipertegas

oleh hasil penelitian menurut Handbook Komatsu edition 30, dimana nilai Fill Factor

dikelompokan berdasarkan berdasarkan jenis material, seperti berikut ini : (Tabel

3.7) :

Tabel 3.7
Faktor Isian Mangkuk (Fill Factor) Excavator
Excavating Condition Bucket Fill Factor
Excavating natural ground of clayey soil, clay, or soft soil 1,1 - 1,2
Excavating natural ground of soil such as sandy soil and dry soil 1,0 - 1,1
Excavating natural ground of sandy soil with gravel 0,8 - 0,9
Loading blasted rock 0,7 - 0,8
Sumber : Handbook Komatsu Edition 30, 2009

Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa

faktor Isian mangkuk merupakan perbandingan antara kapasitas nyata material

42
43

yang masuk ke dalam mangkuk dengan kapasitas teoritis dari alat muat tersebut

yang dinyatakan dalam persen. Untuk menghitung faktor isian mangkuk dapat

menggunakan persamaan berikut :

.............................................................................. (3.15)

Keterangan :

FF = Faktor Isian (Fill Factor).

Vn = Volume nyata (LCM).

Vt = Volume teoritis (LCM).

3.5 Perhitungan Produktivitas Alat Mekanis

Perhitungan produktivitas alat mekanis dapat digunakan untuk menilai kinerja

dari alat mekanis yang digunakan daam suatu kegiatan pemindahan tanah mekanis.

Semakin baik tingkat penggunaan alat maka semakin besar produktivitas yang

dihasilkan alat tersebut. Perhitungan produktivitas alat-alat mekanis dapat dihitung

dengan beberapa cara yaitu tergantung dari tingkat ketelitian yang dikehendaki.

berikut ini adalah beberapa cara untuk menghitung produktivitas alat :

1. Perhitungan Langsung (direct computation)

Yaitu suatu cara perhitungan dengan memperhatikan tiap-tiap faktor yang

mempengaruhi produksi untuk menentukan volume asli atau tonase yang

dapat dihasilkan oleh masing-masing alat yang dipergunakan. Cara ini ternyta

yang paling teliti dari yang lain-lainnya karena semua kondisi yang mungkin

akan dihadapi sudah diperhitungkan berdasarkan data lapangan yang

tersedia.

43
44

2. Tabular Method

Adalah suatu cara perhitungan dengan mempergunakan keterangan-

keterangan dan data yang berbentuk tabel yang khas untuk masing-masing

alat dan diambil dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang memiliki sifat

pekerjaan yang hampir serupa. Tetapi terkadang juga dilengkapi hasil

percobaan yang dilakukan oleh pabrik pembuat alat-alat tersebut. Pada cara

ini semua pekerjaan sifatnya disama-ratakan, sehingga variabel yang selalu

dimiliki oleh setiap proyek yang jarang-jarang dapat disamakan dengan

keadaan di tempat lain dianggap kira-kira serupa. Sebenarnya metode ini

memilki tingkat ketelitian yang lebih rendah dari perhitungan langsung, namun

akan sangat efektif jika digunakan untuk memperkirakan produksi alat

mekanis, yang alatnya tidak tersedia di lapangan.

3. Slide Rule Method

Ialah cara perhitungan dengan memakai manufacture earth moving calculator,

yang dikeluarkan oleh pabrik alat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan

pemindahan tanah mekanis, dalam metode ini perhitungan yang dilakukan

hampir sama dengan prinsip-prinsip perhitungan yang dipergunakan pada

perhitungan langsung, perbedaannya adalah dalam manufacture earth moving

calculator sudah terdapat data yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan

produksi alat tersebut. Tingkat ketelitian metode ini lebih tinggi dibandingkan

engan metode tabular.

4. Perhitungan Perkiraan (Guestimating)

Metode perhitungan ini kurang lebih sama dengan cara pertama dan ketiga,

namun bagian-bagian yang tidak dianggap begitu penting diabaikan atau

disederhanakan, sehingga perhitunganya jadi lebih mudah dan singkat.

Namun metode ini hanya dapat dilakukan seorang ahli yang teah
44
45

berpengalaman dalam bidang pemindahan tanah mekanis, jadi untuk

penelitian cara ini tidak dianjurkan.

Dalam penelitian yang dilakukan ini metode yang digunakan untuk

menghitung produktivitas alat adalah metode perhitungan langsung karena

sebagian besar data yang dibutuhkan untuk menghitung produktivitas alat diambil

langsung dari lapangan. Selain itu dalam penelitian ini menggunakan juga metode

tabular dan metode slide rule, karena selain mengambil data langsung di lapangan,

dalam perhitungan yang dilakukan menggunakan juga data dari manufacture

earthmoving data atau data yang dikeluarkan oleh pabrik alat yang digunakan, serta

menggunakan beberapa tabel yang berasal dari berbagai referensi.

Untuk melakukan perhitungan produktivitas alat gali-muat, dan alat angkut

dengan metode langsung, sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu faktor-faktor

yang mempengaruhi produktivitas alat digunakan di lapangan, sehingga setelah

semua paramater diketahui maka dapat dihitung produktivitas alat dengan

persamaan-persamaan berikut ini :

3.5.1 Perhitungan Produktivitas Alat Gali-Muat

Untuk menghitung produktivitas alat gali-muat dapat ditentukan dengan

persamaan sebagai berikut :

Pm = (Hm x FF x SF) x x Em ........................................................ (3.16)

Keterangan :
Pm = Produktivitas alat muat (BCM/jam/unit).

Hm = Kapasitas teoritis bucket alat muat (LCM).


45
46

FFm = Fill Factor alat muat (%).

SF = Swell Factor (%).

Cm = Waktu edar alat muat (menit).

Em = Efisiensi kerja alat muat (%).

3.5.2 Perhitungan Produktivitas Alat Angkut

Untuk menghitung produktivitas alat angkut dapat ditentukan dengan

persamaan sebagai berikut :

Pa = (Np x Hm x FF x SF) x x Ea ................................................... (3.17)

Keterangan :

Pa = Produktivitas alat angkut (BCM/jam/unit).

Ea = Efisiensi kerja alat angkut (%).

Np = Jumlah pemuatan.

Hm = Kapasitas teoritis bucket alat muat (LCM).

FFm = Fill Factor alat muat (%).

SF = Swell Factor (%).

Ca = Waktu edar alat angkut (menit).

3.6 Faktor Keserasian Kerja Alat (Match Factor)

Untuk mendapatkan hubungan kerja yang serasi antara alat gali-muat dan alat

angkut, maka secara perhitungan teoritis, produktivitas alat gali muat, dan alat

angkut nilainya haruslah sama dengan atau mendekati, sehingga perbandingan

antara alat angkut dan alat gali-muat mempunyai nilai satu atau mendekati satu

46
47

Adapun cara untuk menilai keserasian kerja alat muat dan alat angkut

digunakan dengan menggunakan perhitungan Match Factor yang dapat dihitung

dengan persamaan berikut :

...................................................................................... (3.18)

Keterangan :

MF = Match Factor.

na = Jumlah alat angkut (unit).

nm = Jumlah alat muat (unit).

Ltm = Loading time (menit).

Ca = Waktu edar alat angkut (menit).

Adapun cara menilai faktor keserasian kerja alat adalah sebagai :

1. MF < 1, artinya terdapat waktu tunggu bagi alat muat untuk menunggu

kedatangan alat angkut.

2. MF = 1, artinya tidak ada waktu tunggu bagi alat muat maupun waktu antrian

bagi alat angkut.

3. MF > 1, artinya terdapat tunggu atau waktu antrian bagi alat angkut.

3.7 Perhitungan Biaya Produksi Alat Mekanis

Pemilihan suatu alat itu bukan hanya didasarkan atas besarnya produksi atau

kapasitas alat tersebut, tetapi didasarkan atas ongkos termurah untuk setiap cu yd

atau ton nya. oleh karena itu harus pula diketahui bagaimana caranya

memperkirakan ongkos produksi per cu yd atau per ton suatu alat mekanis. Biaya

produksi ini terdiri dari jenis biaya yang perlu diperhitungkan diantaranya adalah :

47
48

3.7.1 Biaya Pemilikan (Owning Cost)

Biaya kepemilikan (owning cost) adalah jumlah biaya setiap jam selama umur

ekonomis alat yang harus diterima kembali oleh pemilik alat karena telah

mengeluarkan biaya untuk pembelian alat, angkutan, pajak, asuransi dan bunga

modal. Komponen Owning Cost terdiri dari :

1. Biaya Penyusutan (depresiasi)

biaya depresiasi dapat dihitung dengan menjumlahkan harga beli alat, biaya

angkut, biaya muat, biaya bongkar, dan biaya pemasangan alat dibagi dengan

perkiraan umur pakai alat. Cara pehitungan depresiasi ini disebut dengan

metode garis lurus (straight line method), dengan persamaan sebagai berikut :

D= (P-S)/n ........................................................................................ (3.19)

Keterangan :

D = nilai depresiasi per tahun (Rp).

P = nilai perolehan aset (Rp).

S = nilai sisa aset tahun ke-n (Rp).

n = umur penggunaan alat (tahun).

2. Biaya Investasi.

Adapaun biaya investasi alat ini, meliputi biaya untuk bunga modal, asuransi,

dan pajak (interest, insurance, tax).

3.7.2 Biaya Operasi (Operating Cost)

Operating Cost atau biaya operasi adalah biaya setiap jam yang harus

dikeluarkan untuk keperluan pengoperasian alat-alat mekanis. Ada beberapa

48
49

paramter yang perlu diketahui untuk menghitung biaya operasi alat mekanis,

parameter-parameter tersebut adalah :

1. Biaya Bahan Bakar

Untuk konsumsi bahan bakar alat tergantung dari besar kecilnya daya

mesin yang digunakan disamping kondisi medan yang ringan atau berat juga

menentukan. Pabrik pembuat alat biasanya memberikan prakiraan

konsumsi bahan bakar sesuai daya mesin alat yang dinyatakan dalam

liter/jam atau galon/jam. Apabila tidak ada prakiraan konsumsi bahan

bakar dapat digunakan pendekatan berikut :

a. 0,06 galon/jam untuk mesin dengan bahan bakar bensin.

b. 0,04 galon/jam untuk mesin dengan bahan bakar solar/diesel.

Perlu diperhatikan bahwa selama pengoperasian alat, mesin tidak selalu

bekerja 100%. Misalnya pada alat gali, pemakaian tenaga mesin 100%

hanya pada waktu menggali dan mengangkat tanah saja, sedang pada

waktu bucket kosong mesin tidak menggunakan tenaga penuh. Efisiensi

kerja operator dalam satu jam kerja juga tidak penuh 100%, misalnya hanya

50 menit/jam saja, hal ini disebut dengan operating factor, yang semakin

besar operating factornya makin besar pula tenaga mesin bekerja.

2. Biaya Minyak Pelumas

Kebutuhan minyak pelumas dan minyak hidrolis tergantung pada besarnya

bak karter (crank case) dan lamanya periode penggantian minyak

pelumas, biasanya antara 100 sampai 200 jam pemakaian. Untuk

kebutuhan minyak pelumas, minyak hidrolis, gemuk (grease) dan filter

biasanya pabrik pembuat memberikan prakiraan yang dinyatakan dalam

liter/jam atau gallon/jam tergantung kondisi medan kerjanya.


49
50

3. Biaya Penggantian Ban

Yaitu harga ban baru dibagi dengan umur ban yang dapat diketahui dari hasil

pengamatan atau rekomendasi dari pabrik ban tersebut.

4. Biaya Reparasi Ban

Yaitu biaya yang diperlukan untuk perbaikan ban apabila terjadi kerusakan

yang tidak terlalu fatal, seperti ban bocor, vulkanisir, dan lain-lain.

5. Biaya Reparasi Umum

Yaitu biaya yang diperlukan untuk reparasi pada alat-alat yang mengalami

kerusakan, termasuk harga suku cadang (spare part) dan ongkos pasang,

serta ongkos perawatan.

6. Upah Operator

Yaitu biaya berupa upah beserta tunjangan pengemudi baik pengemudi alat

gali-muat maupun pengemudi alat angkut.

Dalam penelitian ini perhitungan biaya yang dilakukan adalah hanya

perhitungan biaya operasi (Operating Cost) saja karena keterbatasan data ekonomi

di lapangan, selain itu juga salah satu tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji

secara ekonomi yang dinilai dari biaya operasi yang akan dihitung dengan

perhitungan Present Worth Cost sebagai salah satu dasar dalam pengambilan

keputusan penggantian alat.

50
51

3.8 Kajian Penggantian Alat

Produksi skala besar untuk mencapai skala ekonomi (economic scale) saat ini

menjadi tujuan dalam industri. Dengan skala produksi yang besar hingga titik

tertentu akan meningkatkan produktivitas kerja sehingga ongkos satuan produksi

menjadi kecil.

Produksi skala besar membutuhkan banyak aset produksi yang pada saat

tertentu harus diganti. Kesalahan dalam melakukan perancangan dan analisis

penggantian alat akan merugikan perusahaan. Untuk industri pertambangan dimana

secara umum nilai aset produksi peralatan tambang sangat mahal analisis

penggantian alat menjadi sangat penting.

Pada analisis penggantian alat dilakukan perbandingan nilai ekonomi antara

alat lama (yang digantikan) dengan alat baru (yang menggantikan). Dalam

melakukan analisis ini alat lama bukan nilai pada saat alat tersebut baru dibeli, akan

tetapi nilai pada saat alat tersebut dibandingkan.

Penggantian alat dilakukan karena berbagai macam pertimbangan,

diantaranya adalah :

1. Alat lama kapasitasnya produksinya sudah tidak memadai. Semua jenis

peralatan mempunyai kapasitas kerja yang maksimal tertentu yang tidak

dapat ditingkatkan begitu saja. Sehingga pada saat perusahaan akan

meningkatkan kapasitas produksinya, hal ini akan berpengaruh pada

peralatan yang digunakan. Analisis penggantian alat diperlukan untuk

menyelaraskan kebijakan peningkatan produksi dengan peralatan yang

digunakan.

2. Alat lama unjuk kerjanya menurun. Peralatan yang digunakan semakin lama

unjuk kerjanya akan semakin menurun. Penurunan unjuk kerja mengakibatkan

menurunnya nilai layanan alat, meningkatkan biaya operasi, dan


51
52

meningkatkan ongkos perawatan. Penurunan unjuk kerja suatu alat, misalnya

bulldozer akan mengakibakan menurunnya volume tanah penutup yang

dipindahkan, meningkatnya kebutuhan bahan bakar dan pelumas yang

digunakan serta meningkatnya biaya perawatan.

3. Alat lama teknologiya sudah tertingggal. Peralatan yang teknologinya telah

tertingal diakibatkan oleh terjadinya perubahan teknologi yang berkelanjutan.

Perubahan teknologi ini dapat mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi

alat. Jika alat tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan

teknologi yang ada maka alat tersebut telah ketinggalan zaman. Contoh yang

aktual adalah tentang kemajuan teknologi bidang komputer.

Meskipun demikian dalam melakukan keputusan penggantian alat harus

didasarkan pada perhitungan ekonomis bukan hanya pada pertimbangan

penurunan fisik alat seperti yang telah disebutkan di atas. Sering pula keputusan

diganti atau tidaknya alat tidak ditentukan oleh faktor ekonomi tetapi oleh faktor-

faktor lain, misalnya faktor finansial, faktor non teknis, dan faktor ekonomis.

Teknik-teknik yang digunakan untuk mengkaji penggantian alat diantaranya

adalah analisis ROR, analisis net value (NPV, NFV, dan NAV), analisis worth cost

(present worth, annual worth, future worth). Analisis untuk semua teknik tersebut

dilakukan setelah memperhitungkan pajak (after tax analysis) dan pada umumnya

teknik-teknik ini digunakan untuk analisis penggantian alat di perusahaan-

perusahaan besar. Sedangkan untuk keperluan praktis, yang perlu diperhatikan

dalam analisis penggantian alat hanyalah masalah pemilihan keputusan antara

mengganti aset sekarang dan mendapatkan nilai Rate Of Return yang minimum

atau mengganti aset saat nanti sehingga dapat diperoleh nilai Rate Of Return yang

lebih tinggi.
52
53

Dalam penilitian ini, metode perhitungan yang digunakan untuk mengkaji

rencana penggantian alat adalah perhitungan Present Worth Cost, karena

keterbatasan data ekonomi di lapangan, dan juga jika menggunakan metode ini

hasilnya lebih nyata dibandingkan dengan menggunakan metode annual, atau

future worth cost karena biaya operasi untuk beberapa tahun kedepan hanya

estimasi hasil perhitungan saja.

3.8.1 Perhitungan Present Worth Cost

Present Worth Cost (PWC) yaitu adalah perhitungan untuk perencanaan

investasi suatu proyek pada tahun awal (present) untuk suatu jangka waktu tertenu

berdasarkan cost (biaya) yang dibutuhkan. Analisis biaya secara present worth cost

ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar investasi atau biaya yang

dibutuhkan pada saat ini (present).

Oleh karena pada penganalisaan ini menghasilkan operating cost yang

berbeda setiap tahunya, maka untuk menghitung Present Worth Cost ini dapat

menggunakan persamaan berikut :

PW Cost = C + OC1 (P/ ) + OC2 (P/ ) + (OCn – L) (P/ ) .................. (3.20)

Keterangan :

i = Tingkat suku bunga (%)

n = Periode/jangka waktu (tahun)

C = Biaya kapital (investasi awal)

OC = Biaya operasi (operating cost)

L = Nilai sisa.

53