Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Klinik Keperawatan


Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah

Disusun Oleh :

PROGRAM STUDI PROPESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHTAN RAJAWALI
BANDUNG
2018

1
LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA BRONCHIALE

1. Konsep Dasar Penyakit

1.1 Pengertian

Asma adalah suatu penyakit paru dengan tand-tanda khas berupa manifestasi
berupa penyumbatan (obstruksi) saluran pernafasa yang dapat pulih kembali baik
secara spontan maupun dengan pengobatan, keradangan saluran pernafasan,
peningkatan kepekaan yang berlebihan dari saluran pernafasan terhadap berbagai
rangsangan (Alsagaaf Hood, 2005).
Asma bronchiale adalah suatu penyakit paru dengan tand-tanda khas berupa
manifestasi berupa penyumbatan (obstruksi) saluran pernafasa yang dapat pulih
kembali baik secara spontan maupun dengan pengobatan, keradangan saluran
pernafasan, peningkatan kepekaan yang berlebihan dari saluran pernafasan terhadap
berbagai rangsangan (Alsagaaf Hood, 2005).
Asma bronchiale adalah suatu gangguan pada saluran bronchial dengan ciri
bronkospasme, periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Asma merupakan
penyakit kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi,
otonomik dan psikologi (Somantri, 2008).

1.2 Kalsifikasi
Menurut Konthen, P.G, dkk dalam buku pedoman diagnosis dan terapi Konthen,
P.G, dkk (2008; 53) asma dibagi menjadi 4 derajat yaitu:
1) Derajat I: intermitten
(1) Gejala muncul kurang dari sekali dalam satu minggu
(2) Kekambuhan berlangsung singkat
(3) Serangan atau gejala asma pada malam hari < 2 kali dalam sebulan
(4) FEV2 (Force Expiratory Volume dalam 2 detik) > 80% prediksi atau PEF
(Peak Expiratory Flow) > 80% nilai terbaik penderita
(5) Variabilitas PEEF atau FEV1 < 20%
2) Derajat II: persisten ringan
(1) Gejala muncul > 1 kali dalam seminggu, tetapi tidak setiap hari
(2) Kekambuhan mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengganggu tidur
(3) Serangan atau gejala asma pada malam hari > 2 kali dalam sebulan
(4) FEV1 > 80% prediksi atau PEEF > 80% nilai terbaik penderita

2
(5) Variabilitas PEF atau FEV, 20-30%
3) Derajat III: persisten sedang
(1) Gejala muncul setiap hari
(2) Kekambuhan mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengganggu tidur
(3) Serangan atau gejala asma pada malam hari > 1 x dalam seminggu
(4) FEV1 60-80% prediksi atau PEF 60-80% nilai terbaik penderita
(5) Variabilitas PEEF atau FEV1 >30%
4) Derajat IV persisten berat
(1) Gejala muncul setiap hari
(2) Kekambuhan sering terjadi
(3) Serangan atau gejala asma pada malam hari sering terjadi
(4) FEV1 < 60% prediksi atau PEF < 60% nilai terbaik penderita
Variabilitas PEF atau FEV1 > 30%.

1.3 Etiologi
Penyebab terjadinya asma menurut Kowalak (2011), Konthen, P.G, dkk
(2008;50), dan Danusantoso (2000)
1) Faktor ekstrinsik: reaksi antigen-antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-
serbuk, bulu-bulu binatang, spora jamur, dan tepung sari rerumputan). polen
(tepung sari bunga), debu rumah atau kapang, bantal kapuk atau bulu, zat aditif
pangan yang mengandung sulfit, zat lain yang menm,bulkan sensitifitas
2) Faktor intrinsik: infeksi: para influenza virus, pneumonia, Mycoplasma, Kemudian
dari fisik: cuaca dingin, perubahan temperature atau kelembapan, tertawa, faktor
genetik, emosional; takut, cemas, dan tegang, perubahan endokrin.
3) Iritan: kimia, polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ).
4) Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
5) Obat-obatan: aspirin, NSAID, β-bloker.
1.4 Patofisiologi
Menurut Smeltzer (2001:611), patologi dari asma adalah:
Asma terjadi karena adanya penyempitan pada jalan nafas dan hipereaktif
bronkus terhadap bahan iritasi, alergen, atau stimulus lain. Dengan adanya bahan
iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul
( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor
sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamine,
bradikinin, anafilaktosin. Mediator tersebut akan menyebabkan kontraksi otot polos
yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, oedema mukosa,sekresi mukus
meningkat sehingga produksi sekret meningkat.

3
Respon asma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate/ segera yang
ditandai dengan bronkokonstriksi dalam 1-2 jam (puncaknya dalam 30 menit). Dalam
beberapa menit dari paparan alergen, ditemukan degranulasi sel mast bersamaan
dengan pelepasan mediator inflamasi, termasuk histamin, prostaglandin D2, dan
leukotrien C4. Zat ini menyebabkan kontraksi otot pada saluran pernafasan serta
peningkatan permeabilitas kapiler, sekresi lendir, dan aktivasi refleks saraf. Respon
asma dini ditandai dengan bronkokonstriksi yang umumnya responsif terhadap
bronkodilator, seperti agen beta2-agonis. Tahap delayed dimana brokokontriksi dapat
berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama dan menghilang dalam
12-24 jam, tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan
nafas beberapa minggu atau bulan. Pelepasan mediator inflamasi bilangan molekul
adhesi pada epitel saluran napas dan endotelium kapiler, yang kemudian
memungkinkan sel-sel inflamasi, seperti eosinofil, neutrofil, dan basofil, untuk
melampirkan epitel dan endotelium dan kemudian bermigrasi ke dalam jaringan jalan
napas. Eosinofil melepaskan eosinophilic cationic protein (ECP) dan protein dasar
utama (MBP). Kedua ECP dan MBP menginduksi deskuamasi epitel saluran napas
dan mengekspos ujung saraf. Interaksi ini mempromosikan hyperresponsiveness
napas pada asma lebih lanjut. Hal ini dapat terjadi pada individu dengan eksaserbasi
asma ringan. Selama serangan asthmatik, bronkiolus menjadi meradang dan
peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak
dan obstruksi sehingga ventilasi tidak adekuat terjadi penurunan P02 (hipoxia).
Selama serangan astma , CO2 tertahan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas
selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea dan dapat
menimbulkan distress nafas (Constantine, 2012).

1.5 Manifestasi Klinis


Menurut Djojodibroto (2009:69) dan Muttaqin (2008:172) ada beberapa
manifestasi klinis yang dapat muncul pada pasien dengan asma:
1) Pernafasan labored (perpanjangan ekshalasi)
2) Pembesaran vena jugularis
3) Wheezing, yaitu suara yang terdengar kontinu, nadanya lebih tinggi dibanding
suara napas lainnya. Suara ini disebabkan karena adanya penyempitan saluran
napas kecil (bronkus perifer dan bronkiolus). Karena udara melewati suatu
peyempitan (Djojodibroto,2009:69).
4) Dispnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot-otot aksesoris pernafasan, cuping
hidung, retraksi dada dan stridor
Akibat dari bronkospasme, edema mukosa dan dinding bronkholus serta
hipereksresi mucus menyebabkan terjadinya penyempitan pada bronkiolus dan

4
percabangannya sehingga akan menimbulkan rasa sesak, napas berbunyi dan batuk
produktif (Muttaqin, 2008:172).
5) Gelisah
Lebih sering terjadi pada anak-anak. Anak mengalami gelisah kerana sesak napas
yang dialami.
6) Tidak toleran terhadap aktivitas, makan, bermain, berjalan, bicara
7) Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest ini timbul akibat
terjadinya overinflasi paru, overinflamasi paru terjadi karena adanya sumbatan
sehingga paru berusaha mengambil udara secara paksa)
8) Serangan berlangsung lebih dari 24 jam

1.6 Penilaian Derajat Serangan Asma (FK UNAIR, 2008:35)


Parameter
Klinis, Ancaman henti
Ringan Sedang Berat
Fungsi paru, nafas
Laboratorium
Sesak timbul Berjalan Berbicara Istirahat
pada saat Bayi: Bayi : Bayi: tidak
(breathless) menangis - Tangis mau
keras pendek makan/minum
dan lemah
- Kesulitan
makan/
minum
Bicara Kalimat Penggal Kata-kata
kalimat
Posisi Bisa Lebih suka Duduk
berbaring duduk bertopang
lengan
Kesadaran Mungkin Biasanya Biasanya Bingung dan
iritable iritable iritable mengantuk
Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada Nyata/jelas
Mengi Sedang, Nyaring, Sangat Sulit/tidak
(whezzing) sering hanya sepanjang nyaring, terdengar
pada akhir ekspirasi, ± terdengar
ekspirasi inspirasi tanpa
stetoskop
Sesak nafas Minimal Sedang Berat
Obat bantu Biasanya Biasanya ya ya Gerakan
nafas tidak paradoktorako-
abdominal
Retraksi Dangkal, Sedang, Dalam, Dangkal/ hilang

5
retraksi ditambah ditambah
interkostal retraksi nafas cuping
suprasternal hidung
Laju nafas Meningkat Meningkat Meningkat
Laju nadi Normal Takikardi Takikardi Bradikardi
Pulsus Tidak ada Ada Ada Tidak ada, tanda
paradoksus < 10 mmHg 10-20 mmHg > 20mmHg kelelahan otot
nafas
PEFR atau > 60% >80% <40%
PEV1 40-60% 60-80% <60%
- Pra Respons <2
bronkodilato jam
r
- Pasca
bronkodilato
r
SaO2 >95% 91-95% ≤90%
PaO2 Normal >60 mmHg <60 mmHg
biasanya
tidak perlu
diperiksa
PaCO2 < 45 mmHg < 45 mmHg > 45 mmHg

1.7 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Muttaqin (2008:178) ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada
penderita asma yaitu:

1) Pemeriksaan Fungsi Paru (Spirometri)


Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol
golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20 %
menunjukkan diagnosa asma
2) Tes Provokasi Bronkhus
Tes ini dilakukan pada spirometri internal. Penurunan FEV 1 sebesar 20 % atau
lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90 % dari maksimum dianggap
bermakna bila menimbulkan penurunan PEF 10 % atau lebih.
3) Pemeriksaan Kulit
Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
4) Pemeriksaan Laboratorium
(1) Analisa Gas Darah
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia,
hiperkapnea, dan asidosis respiratorik
(2) Sputum

6
Adanya badan kreola adalah karekteristik untuk serangan asma berat, karena
reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa,
sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaan
gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut kemudian diikuti kultur
dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik.
(3) Sel Eosinofil
Sel eosinofil pada status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm 3 baik asma
intriksik maupun ekstrinsik, sedangkan hitung sel eosinofil normal antara 100-
200/mm3.
(4) Pemeriksaan darah rutin dan kimia
Jumlah sel leukosit yag lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena adanya infeksi.
SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau
hiperkapnea.
5) Pemeriksaan Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronkhial biasanya normal,
tetapi prosedur ini tetap harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
adanya proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks,
pneumomediastinum, atelektasis.

1.7 Penatalaksanaan
1) Edukasi penderita
Penderita dan keluarga harus mendapatkan informasi dna pelatihan agar dapat
mencapai kendali asma semaksimal mungkin. Diharapkan penderita dan keluarga
dapat membina hubungan yang kooperatif dengan tingkat kepatuhan yang tinggi.
Pasien diinstruksikan untuk segera melapor apabila terdapat tanda-tanda dan gejala
yang menyulitkan, seperti bangun saat malam hari dengan serangan akut, tidak
mendapatkan peredaan komplit dari penggunaan inhaler, atau mengalami infeksi
pernafasa. Hidrasi adekuat harus dipertahankan di rumah untuk menjaga sekresi agar
tidka mengental (Konthen, P.G, 2008: 55).
2) Upaya menghindari faktor resiko
Kekambuhan asma seringkali dipicu oleh beberapa macam alergen, polutan,
makanan, obat-obatan, atau infeksi saluran nafas. Menghindari faktor-faktor pencetus
dapat mengurangi frekuensi kekambuhan, meningkatkan kendali asma, dan
mengurangi kebutuhan obat-obatan (Konthen, P.G, 2008: 55).
3) Terapi Medikamentosa
Terapi ditentukan berdasarkan derajat asma. Secara umum terapi
medikamentoda untuk asma dikelompokkan menjadi obat-obat pelega (reliever) dan
obat-obat pengendali (controller). Setelah kendali asma tercapai sekurangnya selama

7
3 bulan dapat dicoba untuk mengurangi secara bertahap (step down) agar kendali
asma dapat dicapai dengan terapi yang minimal (Konthen, P.G, 2008: 55).
4) Menurut Mansjoer (2000) penatalaksanaan pada pasien asma sebagai berikut:
Secara umum, terdapat dua jenis obat dalam penatalaksanaan asma, yaitu obat
pengendali (controller) dan pereda (reliever). Obat pengendali merupakan profilaksis
serangan yang diberikan tiap hari, ada atau tidak ada serangan/gejala, sedangkan obat
pereda adalah yang diberikan saat serangan. Terapi medikamentosa dapat diliat pada
gambar di bawah ini.

Asma episodik jarang Obat pereda beta agonis atau teofilin


(asma ringan) (inhalasi atau oral) bila perlu (serangan)

Dosis >3x <3x

Asma episodik sering Tambahkan obat pengendali:


(asma sedang) kromoglikat/nedokrimil hirupan

6-8 minggu, respons (-) (+)

Asma persisten obat pengendali: ganti dengan steroid inhalasi


dosis rendah
(asma berat) obat pereda: beta agonis teruskan

6-8 minggu, respons (-) (+)

(asma sangat berat) Pertimbangkan penambahan salah satu obat:


>beta agonis kerja panjang
>beta agonis lepas kendali
>teofilinlepas lambat

6-8 minggu, respons (-) (+)

Naikkan dosis steroid inhalasi

6-8 minggu, respons (-) (+)

Tambahkan steroid oral


8
5) Penatalaksanaan saat serangan asma (GINA, 2006)

9
1.8 Komplikasi
Pada tahap awal asma akut, hiperventilasi dapat menyebabkan alkalosis
pernapasan. Hal ini karena unit paru-paru yang mengalami obstruksi (kompartement
lambat) lebih banyak daripada unit paru yang tidak obstruksi (kompartement lambat).
Hiperventilasi memungkinkan penghapusan karbon dioksida melalui kompartemen
cepat. Peningkatan unit paru yang mengalami obstruksi mengakibatkan penurunan
kemampuan untuk menghilangkan karbon dioksida dan akhirnya menyebabkan
hypercarbia/peningkatan karbondioksida dalam sirkulasi darah, pneumothoraks,
pneumomediastinum, atelektasis (Constantine, 2012).

2. KONSEP KEPERAWATAN
2.1 Pengkajian
2.1.1 Identitas (Smeltzer, 2001)
1) Usia dan jenis kelamin
Asma dapat terjadi pada sembarang usia; sekitar setengah dari kasus terjadi pada
anak-anak dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun.
Asma terutama terjadi pada anak laki-laki di masa kecil, dengan rasio pria-perempuan
2:1 sampai pubertas, jika rasio pria-perempuan menjadi 1:1. Prevalensi asma lebih
besar pada wanita setelah pubertas, dan mayoritas onset dewasa kasus didiagnosis
pada orang tua dari 40 tahun terjadi pada wanita.
2) Tempat tinggal

10
Terjadi pada seseorang, terutama mereka yang tinggal dipemukiman yang padat
tempat tinggalnya, lembab, polusi udara, berdebu, ada binatang peliharaan di rumah,
dan kurangnya ventilasi dari rumah. (Morris, 2012; Konthen. P. G, dkk, 2008).
3) Pekerjaan
Pegawai pabrik, dan pekerjaan yang berhubungan dengan asap dan polusi yang
dapat menyebabkan pernapasan terganggu (Muttaqin, 2008).
2.1.2 Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Serangan asma mendadak secara klinis dapat terjadi menjadi 3 stadium.
Stadium pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Stadium kedua
ditandai dengan batuk disertai mukus yang jernih dan berbusa. Klien merasa sesak
napas, berusaha untuk bernapas dalam, ekspirasi memanjang diikuti dengan mengi
(wheezing). Stadium ketiga ditandai dengan hampir tidak terdengarnya suara napas
karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernapasan menjadi dangkal dan tidak
teratur, irama napas meningkat karena afiksia (Muttaqin 2008).
2) Riwayat penyakit dahulu
Menurut Mutaqin (2008) Salah satu riwayat penyakit dahulu selain asma yaitu
pernah mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Ada riwayat alergi, ada
riwayat sakit asma, timbul pada waktu / musim tertentu (Konthen, P.G, 2008;
Smeltzer, 2001).
3) Riwayat penyakit keluarga
Menurut teori Mutaqim (2008) riwayat penyakit keluarga didapatkan adanya
anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit asma, pneumonia, TBC,
influenza yang berulang.
4) Riwayat alergi
Menurut Smeltzer (2001: 611) pada pasien dengan asma alergik biasanya
mempunyai riwayat keluarga yang alergik dan riwayat media masa lalu ekszem dan
rhinitis alergik . pemajanan terhadap alergen mencetuskan serangan asma.
5) Riwayat Psikososialspiritual
Pasien sering mengalami kecemasan, takut, mudah tersinggung, interaksi sosial
terbatas, kurang pengetahuan terhadap kondisi penyakitnya, hubungan
ketergantungan, kurang sistem pendukung, kegagalan dukungan dari orang terdekat
(Konthen, P.G, 2008; smeltzer, 2001; Doengoes, 2000).
2.1.3 Activity Day Living
1) Kebutuhan aktivitas/istirahat: keletihan, kelemahan, malaise, ketidakmampuan
untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas, ketidamampuan

11
untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi, dispnea pada saat istirahat
(Doengoes, 2000).
2) Kebutuhan nutrisi: mual, muntah, nafsu makan menurun, ketidakmampuan
untuk makan karena distress pernafasan, turgor kulit buruk (Doengoes, 2000).
3) Kebutuhan higiene perseorangan: penurunan kemampuan/peningkatan
kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari (Doengoes, 2000).
4) Kebutuhan eliminasi/urine: cenderung normal (Smeltzer, 2001).
2.1.4 Pemeriksaan Fisik
1) Sistem pernapasan
Terjadi peningkatan usaha dan frekuensi napas yang cepat dan dangkal serta
adanya penggunaan otot bantu pernapasan. Inpeksi dada untuk melihat postur
bentuk dan kesimetrisan. Adanya peningkatan diameter anterosposterior, retraksi
otot-otot interkostalis, sifat dan irama pernapasan. Napas cuping hidung, slem
kental berbuih, terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi
lebih dari 4 detik atau lebih dari 3 kali inspirasi, adanya wheezing saat ekspirasi
(Konthen, P.G, 2008; Smeltzer, 2001; Muttaqin 2008).
2) Sistem kardiovaskuler
Nadi meningkat, tekanan darah meningkat, turgor kulit menurun, suhu tubuh
meningkat, berkeringat, ada pulsus paradoksus atau nadi kuat saat ekspirasi
(Konthen, P.G, 2008; Muttaqin 2008).
3) Sistem persarafan
Pasien gelisah, bingung, pada asma yang berat pasien akan mengalami penurunan
kesadaran apakah composmetis, somnolen atau koma (Konthen, P.G, 2008;
Smeltzer, 2001; Muttaqin 2008)
4) Sistem perkemihan
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan, namun
biasanya cenderung normal (Muttaqin 2008 dan Smeltzer, 2001).
5) Sistem pencernaan
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, penurunan berat badan, kulit kering
dengan turgor kulit yang buruk. (Smeltzer, 2001; Muttaqin, 2008)
6) Sistem muskuloskeletal
Kelemahan dan kelelahan, penurunan toleransi terhadap aktifitas. (Smeltzer,2001;
Muttaqin 2008).

2.2 Diagnosa Keperawatan


Menurut Carpenito (2006:547) dan Wilkinson (2011:696) diagnosa
keperawatan yang muncul:

12
1) PK: Hipoksia
2) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum dan batuk tidak efektif.
3) Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan penyempitan saluran
pernafasan akibat bronkospasme
4) Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah
sekunder akibat asma
5) Resiko cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran
6) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu
makan
7) Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dengan kebutuhan oksigen
8) Ansietas berhubungan dengan dampak kondisi dan lingkungan perawatan kritis
2.3 Intervensi
1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum dan batuk tidak efektif.
Tujuan: pasien menunjukkan bersihan jalan nafas yang paten setelah dilakukan
perawatan dengan kriteria hasil:
- Pasien menggungkapkan sesak berkurang, secret tidak sulit keluar
- Pasien dapat mengeluarkan secret saat batuk dan jumlah secret
berkurang
- Tidak terdengar suara nafas tambahan
- RR 20-30 x/menit dalam rentang normal
- Pasien dapat batuk efektif
Intervensi
(1) Jelaskan kepada pasien penyebab terjadinya sesak.
R/ Karena adanya alergi menyebabkan peyempitan jalan nafas dan
penumpukan secret pada jalan nafas sehingga mengganggu aliran udara
sehingga terjadi sesak.
(2) Beri posisi semi fowler (dilakukan dengan cara memodifikasi tempat
tidur atau memberi bantal pada kepala).
R/ Posisi semifowler akan meningkatkan ekspansi paru.
(3) Lakukan fisioterapi pernafasan
- Humidifikasi dengan nebulizer
R/ Kelembapan akan menurunkan kekentalan secret, sehingga
mempermudah pengeluaran dan membantu mencegah pembentukkan
mucus tebal pada bronkus.
- Perkusi dan vibrasi dada
R/ Perkusi dan vibrasi dada membantu merontokkan mucus sehingga
masuk ke saluran nafas yang lebih besar.
13
- Anjarkan dan motivasi pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif
R/ Nafas dalam akan meningkatkan inspirasi maksimal.inspirasi dalam
meningkatkan volume paru dan membuka jalan nafas untuk
memungkinkan udara mencapai bagian belakang mukus dan
mendorongnya ke depan. Batuk efektif: membersihkan secret dari
jalan nafas dengan menggunakan dorongan udara dan kontraksi otot.
(4) Berikan cairan sesuai kebutuhan
R/ cairan membantu untuk mencegah terjadi kekurangan cairan dan
mencegah sekret yang kental sehingga sekret menjadi encer dan mudah
dikeluarkan
(5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian.
- Nebulizer
R/ Dengan nebulizer dapat mengencerkan sekresi kental dan dalam
pemberian obat-obatan peralatan humidifikasi digunakan untuk
memberikan kelembapan. Nebulizer juga merupakan suatu alat
pemecah obat untuk menjadi bagian-bagian seperti uap untuk dihirup.
- Obat-obat mukolitik
R/ Obat mukolitik membantu mengencerkan dahak sehingga secret
dapat dengan mudah dikeluarkan.
(6) Observasi keluhan anak, karakteristik secret, frekuensi RR, suara nafas
tambahan, ketidakefektifan batuk.
R/ Observasi secret untuk melihat adanya manifestasi tubuh mengatasi
kesulitan bernafas akibat penyempitan saluran nafas. Ronkhi untuk
menilai adanya penumpukkan secret pada jalan nafas. Ketidakefektifan
batuk menandakan terdapat penumpukan secret pada jalan nafas.

2) PK: Hipoksia (Wilkinson, 2011: 696)


Tujuan : pasien tidak kekurangan oksigen setelah dilakukan tindakan
keperawatan dengan kriteria hasil :
- pasien tidak sesak, tidak sianosis
- frekwensi nafas normal (12-20x/menit)
- tidak ada nafas cuping hidung
- tidak menggunakan otot bantu pernafasan
- tidak ada wheezing.
- Rasio I:E=1:2 (tidak ada ekspirasi memanjang)
- Hasil BGA normal (pH: 7,35- 7,45, PCO2: 35-45mmHg, PO2: 80-
100mmHg, HCO3: 22-26 mEq/L, BE:+2)

14
Intervensi:
(1) Berikan posisi semi fowler dan bed rest.
R/Meningkatkan inspirasi maksimal, dan meningkatkan pengeluaran sekret
untuk memperbaiki ventilasi
(2) Kolaborasi dalam pemberian
- O2
R/ O2 membantu pasien untuk pernapasan secara efektif
- Steroid
R/ bekerja melalui difusi pasif melalui membran sel yang berikatan dengan
protein reseptor di dalam sitoplasma. Kompleks reseptor hormon kemudian
masuk ke dalam nukleus mempengaruhi transkripsi sejumlah gen-gen
target yang menyebabkan penurunan sintesis molekul-molekul
proinflamasi termasuk sitokin, interleukin, molekul adhesi dan protease
serta steroid membantu melawa edema mukosa bronchial.
- Bronchodilator sesuai yg ditentukan (agonis β-2 dan Xantin)
R/Bronkhodilator akan merelaksasi otot polos bronkial.
(3)Observasi RR, nadi, tanda hypoksia: gelisah, takhicardia, SpO 2, suara nafas
tambahan
R/ Deteksi efektitas jalan nafas dan adequatnya distribusi oksigen dalam
tubuh.
3) Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan penyempitan saluran
pernafasan akibat bronkospasme
Tujuan : pasien dapat mempertahankan ventilasi yang adekuat setelah dilakukan
tindakan keperawatan dengan kriteria hasil :
- Tidak ada pernafasan cuping hidung
- Tidak ada retraksi dada
- RR 20-30 x/mnt
Intervensi :
(1) Jelaskan pada keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
R/ pengetahuan yang memadai memungkinkan pasien kooperatif terhadap
tindakan keperawatan yang diberikan.
(2) Berikan posisi semi fowler atau fowler
R/ posisi semi fowler atau fowler membuat diafragma tidak terdorong
oleh isi abdomen sehingga ekspansi paru meningkat
(3) Kolaborasi dalam pemberian
- Oksigen

15
R/ oksigen akan meningkatkan konsentrasi oksigen alveoli dan oksigenasi
arteri untuk memperbaiki hipoksemia
- Pemeriksaan AGD, oksimetri
R/ hipoksemia dapat menjadi berat. Pemeriksaan dilakukan untuk
meminimalisasi terjadinya hipoksemia berat
(4) Observasi pernafasan pasien, meliputi :
- Pernafasan cepat saat beraktivitas
R/ tidak adanya pernafasan cepat saat beraktivitas menandakan suplai O2
kedalam jaringan untuk metabolisme energi tercukupi.
- Tanda-tanda sianosis
R/ menunjukkan keadekuatan sirkulasi darah ke dalam pembuluh darah
perifer

4) Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah


sekunder akibat asma (Doenges, 2000:180)
Dapat dihubungkan dengan: penghentian aliran darah arteri/vena.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
- Kardiopulmonal: ketidakcocokan ventilasi/perfusi

- Dispnea

- Sianosis sentral
Kriteria hasil: menunjukkan peningkatan perfusi sesuai dengan individual
misalnya status mental biasa/normal, irama jantung/frekuensi jantung dan nadi
perifer dalam batas normal, tidak adanya sianosis sentral dan perifer, kulit
hangat/kering, haluaran urine dan berat jenis dalam batas normal
Intervensi:
(1) Auskultasi frekuensi dan irama jantung
R/ takikardia sebagai akibat hipoksemia dan kompensasi upaya peningkatan
aliran darah dan perfusi jaringan.
(2) Observasi perubahan status mental
R/ gelisah, bingung, disorientasi, dan/atau perubahan sensori/motor dapat
menunjukkan gangguan aliran darah, hipoksia atau cedera vaskuler serebral
(3) Observasi warna dan suhu kulit/membrane mukosa
R/ kulit pucat atau sianosis, kuku, membrane bibir/lidah atau dingin
menunjukkan vasokonstriksi perifer (syok) dan atau aliran darah sistemik

16
(4) Tinggikan kaki/telapak bila di tempat tidur/kursi. Dorong pasien untuk
latihan kaki dengan fleksi/ekstensi kaki pada pergelangan kaki. Hindari
menyilangkan kaki dan duduk atau berdiri terlalu lana.
R/ tindakan ini dilakukan untuk menurunkan stasis vena di kaki dan
pengumpulan darah pada vena pelvis untuk menurunkan resiko
pembentukan thrombus.

5) Resiko cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran


Tujuan: Pasien tidak mengalami cedera selama serangan asma dilakukan
tidakan keperawatan dengan criteria hasil :
← - Tidak ada luka, memar
← - Pasien tidak jatuh
Intervensi:
(1) Jelaskan kepada orangtua tentang cara menghindari cedera pada pasien
R/ pengetahuan tentang cara menghindarkan pasien dari cedera dapat
membantu menghindari aktivitas yang dapat beresiko cedera
(2) Ciptakan lingkungan aman dan nyaman
R/ lingkungan aman dapat mengurangi resiko terjadinya cedera
(3) Bantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara perlahan
R/ ambulasi yang tergesa-gesa dapat menyebabkan pasien mudah jatuh
(4) Batasi aktivitas
R/ menghemat penggunaan oksigen
(5) Observasi keluhan pasien
R/ meminimalkan terjadinya cedera apabila pasien mengeluh pusing,
masih sesak dan gelisah.

6) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu


makan
Tujuan: pasien menunjukkan perbaikan nutrisi setelah dilakukan tindakan
keperawatan dengan kriteria hasil:
- Pasien menunjukkan peningkatan BB 0, 5 kg/minggu,
- Hasil laboratorium ( Hb dan Albumin ) dalam batas normal (> 3,5 mMol/L).
- Pasien menghabiskan ½ porsi makannya
- Intake caran terpenuhi
Intervensi:
(1) Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat dan tipe diet yang dibutuhkan
pada orang tua pasien.

17
R/ Intake nutrisi yang adekuat memberikan kalori untuk tenaga dan
protein untuk proses penyembuhan.
(2) Beri oral hygiene pada pasien sebelum makan
R/ pemberian oral hygiene pada pasien untuk mengurangi bau mulut pada
pasien
(3) Berikan makanan dalam jumlah sedikit tapi sering, jika mungkin
kombinasikan dengan makanan yang disukai anak.
R/ Makanan dalam jumlah sedikit namun sering akan menambah energi.
Makanan yang menarik dan disukai dapat meningkatkan selera makan.
(4) Kolaborasi dalam pemberian obat antiemetic, pemeriksaan Albumin dan
Hb
R/ Mengurangi gejala gastrointestinal dan perasaan tidak enak pada perut,
Albumin dan Hb merupakan indikator intake nutrisi tubuh terpenuhi
(5) Observasi BB tiap minggu sekali dengan alat ukur yang sama.
R/ Peningkatan BB 0,5 kg/minggu menandakan indikator keberhasilan
tindakan.

7) Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


oksigen dengan kebutuhan oksigen
Tujuan : Klien toleran terhadap aktivitas yang dilakukan setelah dilakukan
tindkan keperawatan dengan kriteria hasil :
- Pasien tidak sesak
- Nadi 80-110x/mnt
- RR 20-30x/mnt
- Tidak didapatkan tanda- tanda dispnea pada peningkatan aktivitas.
- Klien mampu melakukan aktivitas dengan bantuan minimal
Intervensi :
(1) Jelaskan pada pasien penyebab intoleransi aktivitas
R/ transport oksigen yang terganggu akibat asma menyebabkan pasien
akan cepat merasa lelah setelah melakukan suatu aktivitas yang melebihi
kemampuan saat masih terserang asma.
(2) Bantu dan motivasi klien dalam meningkatkan aktivitasnya secara
bertahap
R/ Peningkatan aktivitas secara bertahap memberikan kesempatan pada
tubuh menyeimbangkan persediaan oksigen dengan kebutuhan
(3) Rencanakan program istirahat diantara aktivitas yg dilakukan
R/ Mencegah kelelahan yg berlebihan, mencegah peningkatan beban
kerja jantung

18
(4) Observasi kemampuan aktivitas klien
R/ Deteksi keberhasilan tindakan dan memprogramkan aktivitas bertahap

8) Ansietas berhubungan dengan dampak kondisi dan lingkungan perawatan kritis.


Tujuan: pasien menyatakan peningkatan kenyamanan psikologi dan fisiologi
dengan kriteria hasil:
- Menggambarkan ansietas dan pola kopingnya
- Menggunakan mekanisme koping yang efektif
Intervensi
(1) Jelaskan kepada pasien tentang penyakit
R/ pasien mampu menghindari faktor-faktor yang dapat menyebabkan
penyakit.
(2) Jelaskan tentang tanda dan gejala yang perlu dilaporkan dan segera
mendapatkan penanganan
R/ keikutsertaan pasien dalam memonitor kesehatannya dan meningkatkan
tanggung jawab dalam pemeliharaan kondisi serta mencegah penyakit
berulang.
(3) Libatkan keluarga dalam membantu memberikan asuhan keperawatan
yang tepat.
R/ peran keluarga merupakan support system dalam meningkatkan
keberhasilan tindakan keperawatan
(4) Beri dukungan emosional selama masa perawatan
R/ perawatan medis menimbulkan krisis situasi. Mendengarkan
kekhawatiran serta perasaannya akan membantu pasien untuk beradaptasi
dengan krisis yang dialaminya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood dan Mukty, abdul (2005). Dasar-dasar ilmu Penyaki Paru.
Surabaya: Airlangga University Press

Carpenito, Lynda Juall, (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Alih
bahasa : Yasmin Asih EGC: Jakarta.

Doenges.E Marilynn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta: EGC.

Price, Sylvia Anderson. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Alih bahasa: Brahm U.Edisi 6. Jakarta: EGC.

Konthen, P.G dkk (2008). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bag/ SMF Ilmu
Penyakit Dalam Edisi III. Surabaya : RSU dr. Soetomo

Kowalak, Jenifer P dkk (2001). Buku Ajar Patofisiologi. Alih Bahasa: Andry
Hartono: Editor Bahasa Indonesia Renata Kumalasari dkk. Jakarta: ECG.

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol.
2. Alih Bahasa: Agung Waluyo. Jakarta: EGC.
Soemantri, Irman. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan
Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika

20