Anda di halaman 1dari 18

Laporan Pendahuluan

I. Gangguan Proses Pikir Waham


a. Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar
belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan
perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang,
pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).
b. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan
kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang
kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya (Maramis,W.F,1995)
c. Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan
dalam kenyataan (Harold I, 1998).

II. Proses Terjadinya Masalah


A. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya suatu masalah terdiri
dari : Pertama adalah Faktor Genetik, faktor genetik ini terlibat dalam
perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota
keluarga dengan kelainan yang sama. Kedua adalah Faktor Bioligi meliputi:
Gangguan tumbuh kembang,terdapat lesi pada korteks frontal, temporal dan
limbik. Yang ketiga adalah Faktor Psikologis seperti: Ibu pengasuh yang
cemas/over protektif, tidak sensitif, Hubungan dengan ayah tidak
dekat/perhatian yang berlebihan dan Konflik perkawinan, Sosial budaya,
Kemiskinan, Ketidakharmonisan sosial dan Stress yang menumpuk.

B. Faktor Presipitasi
Faktor Presipitasi yang menyebabkan terjadinya suatu masalah terdiri
dari: Pertama adalah Stressor sosial budaya seperti terjadinya Stres dan
kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga,
perpisahan dengan orang yang paling penting, atau diasingkan dari
kelompok. Kedua adalah Faktor Biokimia Penelitian tentang pengaruh
dopamine, inorefinefrin,zat halusinogen diduga berkaitan dengan orientasi
realita. Ketiga adalah Faktor Psikologi: Intensitas kecemasan yang ekstrim
dan menunjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah
memungkinkan berkurangnya orientasi realiata.
C. Tanda dan Gejala
Menurut Kusumawati, (2010) yaitu :
1. Gangguan fungsi kognitif (perubahan daya ingat)
Cara berfikir magis danprimitif, perhatian, isipikir, bentuk, dan
pengorganisasian bicara (tangensial, neologisme, sirkumtansial)
2. Fungsipersepsi
Depersonalisasi dan halusinasi
3. Fungsi emosi
Afek tumpul kurang respon semosional, afek datar, afek tidak
sesuai,reaksi berlebihan, ambivalen.
4. Fungsimotorik.
Imfulsif gerakan tiba-tiba dan spontan, manerisme, stereotipik gerakan
yang diulang-ulang, tidakber tujuan, tidak dipengaruhi stimulus yang
jelas, katatonia.
5. Fungsi social kesepian.
Isolasi sosial, menarik diri, dan harga diri rendah.
6. Dalam tatanan keperawatan jiwa respons neurobiologis yang sering
muncul adalah gangguan isi pikir: wahamdan PSP: halusinasi.

D. Jenis
Jenis-Jenis Waham, Meliputi :
1) Waham Kebesaran: Individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran
atau kekuasaan khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai kenyataan.
2) Waham Curiga: Individu meyakini bahwa ada seseorang atau
kelompok yang berusaha merugikan/mencederai dirinya dan
diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan
3) Waham Agama: Individu memiliki keyakinan terhadap terhadap
suatu agama secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi
tidak sesuai kenyataan.
4) Waham Somatic: Individu meyakini bahwa tubuh atau bagian
tubuhnya terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang
kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
5) Waham Nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada
di dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan.
6) Waham Kontrol Pikir: Keyakinan klien bahwa pikirannya dikontrol
oleh kekuatan di luar dirinya.

E. Fase-Fase
Menurut Yosep (2009), proses terjadinya waham meliputi 6 fase, yaitu :
1) Fase Of Human Need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik
secara fisik maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat
terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi sangat
terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk
melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara
sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti
dengan self ideal sangat tinggi.

2) Fase Lack Of Self Esteem


Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan
antara self idealdengan self reality (keyataan dengan harapan) serta
dorongn kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar
lingkungan sudah melampaui kemampuannya.

3) Fase Control Internal External


Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-
apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan
tidak sesuai dengan keyataan, tetapi menghadapi keyataan bagi klien
adalah suatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui,
kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi
prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum
terpenuhi sejak kecil secara optimal.Lingkungan sekitar klien
mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien
itu tidak benar.

4) Fase Envinment Support


Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam
lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung, lama
kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut
sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari
sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak
berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi
perasaan dosa saat berbohong.

5) Fase Comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien
menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien sering menyendiri
dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).

6) Fase Improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap
waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema
waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu
atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat
menimbulkan ancaman diri dan orang lain.

F. Rentang Respon
Adapun rentang respon manusia terhadap stress yang menguraikan tentang
respon gangguan adaptif dan malladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut
( stuart dan sundeen, 1998 hal 302) :

Respon Adaptif Respon Maldaptif

1. Pikiran Logis Proses Pikir GPP: Waham


2. Persepsi Akurat Kadang Ilusi PSP : Halusinasi
3. Emosi Konsisten Emosi +/- Kerusakan Emosi
4. Perilaku Sesuai Prilaku Tidak Sesuai Prilaku Tidak Sesuai
5. Hubungan Sosial Menarik Diri Isolasi Sosial

Dari rentang respon neurobiologis diatas dapat dijelaskan bila individu


merespon secara adaptif maka individu akan berfikir secara logis. Apabila
individu berada pada keadaan diantara adaptif dan maladaptif kadang-kadang
pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu. Bila individu tidak
mampu berfikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia
akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir :
waham curiga.

G. Mekanisme Koping
Mekanisme Koping Dapat Dibedakan Menjadi Dua Yaitu :
1) Reaksi Yang Berorientasi Pada Tugas: Yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara reakstik tuntunan
situasi stress seperti prilaku menyerang dan menarik diri.
2) Mekanisme Pertahana Ego: Merupakan mekanismne yang dapat
membantu mengatasi cemas, jika berlangsung pada tingkat sadar
dan melibatkan penipuan diri dan disorientasi realitas, maka
mekanisme ini dapat merupakan respon maladaptive terhadap stress.
(Anonymous, 2009).

H. . Pohon Masalah

B. Masalah Keperawatan Dan Data Yang Perlu Dikaji


1. Masalah keperawatan :
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Kerusakan komunikasi : verbal
c. Perubahan isi pikir : waham
d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
2. Data yang perlu dikaji :
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
1) Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada
seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak
mampu mengendalikan diri
2) Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dan keras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar
barang-barang.
b. Kerusakan komunikasi : verbal
1) Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2) Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar
dan kontak mata kurang
c. Perubahan isi pikir : waham
1. Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak
sesuai kenyataan.
2. Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak
tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah
tersinggung
d. Gangguan harga diri rendah
1) Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
2) Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup
I. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan Proses Pikir : Waham Curiga
2) Harga Diri Rendah
3) Koping Keluarga In Efektif
4) Regimen Terapeutik In Efektif
5) Kerusakan Komunikasi : Verbal

J. Rencana Tindakan Keperawatan


1. Diagnosa I: Perubahan isi pikir : waham
Tujuan umum : Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
1)Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas
topik, waktu, tempat).
2)Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat
menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai
ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi
ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
3)Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan
perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman,
gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
4)Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan
diri
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
1)Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
2)Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan
saat ini yang realistis.
3)Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya
saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan perawatan diri).
4)Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan
waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
1) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
2) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah
maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
3) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
4) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
5) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan
wahamnya.
d. Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
1) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan
waktu).
2) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
3) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
1) Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping minum obat.
2) Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien,
obat, dosis, cara dan waktu).
3) Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
4) Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
f. Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
1) Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala
waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
2) Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga
2. Diagnosa II: gangguan konsep diri : harga diri rendah
Tujuan umum : Kien dapat mengendalikan waham.
Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
1) Bina hubungan saling percaya dengan menerapkan prinsip komunikasi
terapeutik:
a) Sapa klien dengan ramah secara verbal dan nonverbal
b) Perkenalkan diri dengan sopan
c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Jujur dan menepati janji
f) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
1) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2) Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.
3) Utamakan memberi pujian yang realistik.
c. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
1) Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilakukan.
2) Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
d. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
1) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari.
2) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
3) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya.
1) Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan.
2) Diskusikan pelaksanaan kegiatan dirumah
f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
1) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
dengan harag diri rendah.
2) Bantu keluarga memberiakn dukungan selama klien dirawat.
3) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah.
3. Diagnosa Keperawatan III: Resiko mencederai diri, orang lain dan
lingkungan berhubungan dengan waham
Tujuan Umum:
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan Khusus:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasa
3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
4) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
6) Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap
kemarahan
7) Klien mendapat dukungan dari keluarga
Tindakan:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
a. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama
perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
b. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
c. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
d. Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.
2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
a. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
b. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
c. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan
sikap tenang.
3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
a. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan
saat jengkel/kesal.
b. Observasi tanda perilaku kekerasan.
c. Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
4) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
a. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
b. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
c. Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalah nya selesai?"
5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
a. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
b. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
c. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
6) Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap
kemarahan.
a. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
b. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang
kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
c. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
d. Secara spiritual :berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk
diberi kesabaran.
7) Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
a. Bantu memilih cara yang paling tepat.
b. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
c. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
d. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
e. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
8) Klien mendapat dukungan dari keluarga.
a. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan
keluarga.
b. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
9) Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
a. Diskusikandengankliententangobat (nama, dosis, frekuensi, efek dan
efeksamping).
b. Bantuklienmengunakanobatdenganprinsip 5 benar (namaklien, obat, dosis,
cara dan waktu).
c. Anjurkanuntukmembicarakanefek dan efeksampingobat yang dirasakan.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


I. PROSES KEPERAWATAN
A. Kondisi Klien
Klien mengatakan bahwa orang-orang disekitarnya sedang membicarakan
dirinya, sering pusing dan pingin marah kalau mengingat keluarganya.
Klien apabila sedang marah sering merusak lingkungan yang disekitarnya,
klien juga sering berbicara yang menyakitkan sehingga keluarga sering
marah juga.
B. Diagnosa Keperawatan
- Gangguan Proses Pikir : Waham Curiga,
- Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan
waham

C. Tujuan Khusus
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasa

D. Tindakan Keperawatan
1) Membina Hubungan Saling Percaya Dengan Klien:
 Beri salam terapeutik
 Perkenalkan diri
 Jelaskan tujuan Interaksi
 Ciptakan lingkungan yang tenang
 Buat kontrak yg Jelas [topik, waktu, tempat]
2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasa
 Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
 Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
 Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan
klien dengan sikap tenang.

II. Proses Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan


A. Orientasi

1. Salam Terapeutik
“Selamat pagi ibu, perkenalkan nama saya Ika saya mahasiswa dari
stikes Stiekes Muhammadiyah Pekajangan. Hari ini saya akan
berkenalan dengan ibu. Nama Ibu siapa ? Ibu lebih senang di panggil,
apa bu ?”
2. Evaluasi /Validasi
“Bagaimana perasaan ibu hari ini? Ada keluhan yang ibu rasakan?
tampaknya ibu terlihat segar, apa yang ibu rasakan pada saat ini?
apakah yang membuat ibu sering curiga pada orang lain?

3. Kontrak
a) Tujuan Interaksi
“Baik ibu tujuan saya menemui ibu saat ini adalah ingin
berbincang-bincang dan mengenal lebih dekat tentang ibu
sehingga kita bisa saling kenal, dan dapat meningkatkan
hubungan saling percaya antara ibu dan saya.”

b) Topik
“Baiklah bu topik yang akan kita bicarakan tentang membina
hubungan saling percaya antara ibu dengan perawat.”
c) Tempat
“Tempatnya di rumah ibu ya Bu”
d) Waktu
“Ibu mau bertemu jam berapa ? Bagaimana jika jam 16.00,
tidak lama bu sekitar 20 menit. Bagaimana bu, apakah ibu
setuju ?

B. Kerja
“Baiklah mari kita mulai bu. “Ibu tidak usah meras khawatir
karena kita berada ditempat yang aman bu, saya ingin bertanya, ibu sudah
berapa lama disini?, ibu masih ingat tidak apa yang menyebabkan ibu di
bawa ke sini? Ibu bisa ceritakan apa yang ibu rasakan saat ini ? sekarang
coba ibu ceritakan pengalaman yang pernah ibu alami misalnya bagaimana
hubungan ibu dan keluarga atau dengan teman-teman ibu seperti apa? Oh
jadi ibu selalu merasa bahwa orang-orang disekitar ibu akan mencederai
ibu.
Lalu apa yang sudah ibu lakukan untuk mengatasi pikiran
tersebut yang datang sewaktu-waktu itu?” Apakah ibu merasa takut di
cederai kepada semua orang atau orang tertentu saja? Saya memahami apa
yang ibu rasakan dan saya mengerti dengan kondisi ibu saat ini, tapi jika
saya boleh menyarankan jika perasaan takut dicederai itu datang ibu bisa
katakan kepada diri ibu sendiri bahwa perasaan tersebut bohong dan tidak
benar karna semua orang disi menyayangi ibu”.

C. TERMINASI

1. Evaluasi Respons Klien Berharap Tindakkan Keperawatan Subyektif :


”Bagaimana perasaan ibu setelah berbincang-bincang dengan saya?”

Obyektif :
“Apakah ibu masih ingat dengan nama ibu sendiri, lalu apakah ibu
masih ingat dengan nama saya?. Sekarang coba ibu ceritakan lagi apa
yang sudah kita diskusikan tadi. Ya Bagus Bu, rasa berharap ibu lebih
bisa mengungkapkan perasaan ibu dan lebih terbuka ya bu”.

2. Rencana tindak lanjut (apa yang perlu dilatih oleh klien sesuai hasil
tindakan yang telah dilakukan).
“Baik dari hasil kegiatan kita hari ini kita telah mengetahui bahwa ibu
dapat menyebutkan nama ibu dan ibu juga sudah bisa menceritakan
perasaan curiga yang ibu alami. Saya berharap setiap ibu bertemu
dengan saya dan saat memerlukan bantuan saya, ibu mau memanggil
saya, sehingga selama ibu di sini dapat bekerjasama dengan saya dan
perawat lainnya, sehingga mempercepat proses kesembuhan ibu”.

3. Kontrak Topik Yang Akan Datang :


1) Topik : “Besok kita akan berdiskusi membahas apakah perasaan
curiga yang ibu miliki mengganggu aktivitas ibu sehari-hari.? Apa
kah ibu bersedia?
2) Waktu : “Untuk waktunya, ibu mau bertemu jam berapa,
bagaimana jika jam 10.00, tidak lama bu hanya 20 menit”.
3) Tempat : “Tempatnya di bangku taman., Bagaimana bu apakah ibu
setuju?. Baiklah bu saya permisi dulu.”

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN JIWA

Di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa ________________________________________

Nama :__________________Ruangan :_______________________ No. RM : ______________

IMPLEMENTASI TINDAKKAN EVALUASI


KEPERAWATAN
Tgl : 18 September 2014 S : Klien mengatakan merasa senang dan
Jam : 08:00
nyaman
DS :
Subyektif:
O : Klien mampu menyebutkan nama
Klien mengatakan merasa senang
dan nyaman.
A : klien mampu membina hubungan
DO :
saling percaya
Klien mampu menyebutkan nama
Diagnosis Keperawatan : Gangguan
P : Anjurkan klien
Proses Pikir :Waham Curiga. Masukkan ke jadwal

Tindakan Keperawatan :
Membina Hubungan Saling Percaya
Dengan Klien.

Rencana Tindak Lanjut :


 Beri salam terapeutik
 Perkenalkan diri
 Jelaskan tujuan Interaksi
 Ciptakan lingkungan yang
tenang
 Buat kontrak ygJelas [topik,
waktu, tempat]

JADWAL KEGIATAN HARIAN

Nama : .................................................
Ruang : .................................................

Tanggal Kegiatan
No Jam Kegiatan Ket
05.00-
1
06.00
06.00-
2
07.00
07.00-
3
08.00
08.00-
4
09.00
09.00-
5
10.00
10.00-
6
11.00
11.00-
7
12.00
12.00-
8
13.00
13.00-
9
14.00
14.00-
10
15.00
15.00-
11
16.00
16.00-
12
17.00
17.00-
13
18.00
18.00-
14
19.00
19.00-
15
20.00
20.00-
16
21.00
21.00-
17
22.00
22.00-
18
23.00
23.00-
19
24.00
24.00-
20
01.00
01.00-
21
02.00
02.00-
22
03.00
03.00-
23
04.00
04.00-
24
05.00
05.00-
25
06.00

KETERANGAN :
Isi kolom tanggal kegiatan dengan :
M : Jika melakukan secara mandiri tanpa bantuan orang lain
B : Jika melakukan dengan bantuan orang lain
T : Jika tergantung penuh pada orang lain
Tuliskan di kolom keterangan jika melakukan atau dengan bantuan serta kendalanya
BIOSTATISTIK

UJI ANOVA, UJI T INDEPENDENT

DAN UJI CHI-SQUARE

DISUSUN OLEH
ROBI NUR APRIANSYAH

120106017

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

STIKES ABDI NUSANTARA JAKARTA

2013/2014