Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

“KEBIJAKAN DAN HUKUM K3”

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah K3

Dosen Pengampu : dr. Iwan G. Tanihatu, M.Kes

Disusun oleh:

Tito Prasetiyo P07220116118

Tingkat 3 Keperawatan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Meskipun masih banyak kekurangan didalamnya.
Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan memberi
tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu
kami berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.

Balikpapan, 6 September 2018

Penyusun

DAFTAR ISI

i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………….i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………1

a. Latar Belakang ……………………………………………………………1

b. Rumusan Masalah ……………………………………………………………2

c. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………2

d. Sistematika Penulisan ……………………………………………………3

BAB II TINJAUAN TEORI ……………………………………………………4

1. UU Kesehatan dan Keselamatan Kerja ……………………………………4

2. Pasal Dalam UU Yang Mengatur Pemeriksaan Kesehatan ……………5

3. UU Yang Mengatur Kebisingan ……………………………………………8

4. UU Yang Mengatur Vibrasi …………………………………………..10

5. Peraturan Tentang Suhu Ekstrim …………………………………………..14

6. Peraturan Tentang Radiasi …………………………………………………..15

7. Peraturan Tentang Illuminasi …………………………………………..17

8. Ratifikasi Konvensi ILO …………………………………………………..19

BAB III PENUTUP …………………………………………………………………..26

A. Kesimpulan …………………………………………………………..26

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sudah saatnya bidang ketenagakerjaan menjadi suatu kebijakan publik yang


tidak bisa ditawar untuk Kesehatan dan keselamatan para pekerja, denga melibatkan
berbagai sektor sehingga ketenagaan akan menghasilkan suatu kebijakan publik yang
bisa melindungi para pekerja baik di sektor formal maupun informal.

Kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja adalah rangkaian konsep dan asas
yang menjadi garis besar dan rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan/kepemimpinan
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja
dan menjamin keutuhan serta kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja
pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat makmur dan sejahtera.

Berdasarkan undang undang Nomor 1 TAHUN 1970 tentang keselamatan kerja


bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam
melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional, setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja terjamin pula
keselamatannya, setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien serta perlu diadakan segala daya upaya untuk membina norma-norma
perlindungan kerja;

Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2013, satu


pekerja di dunia meninggal setiap 15 detik karena kecelakaan kerja dan 160 pekerja
mengalami sakit akibat kerja. Tahun sebelumnya (2012) ILO mencatatat angka kematian
dikarenakan kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) sebanyak 2 juta kasus setiap
tahun. Sementara itu, hasil laporan pelaksanaan kesehatan kerja di 26 Provinsi di
Indonesia tahun 2013, jumlah kasus penyakit umum pada pekerja ada sekitar 2.998.766
kasus, dan jumlah kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan berjumlah 428.844
kasus (depkes.go.id). Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencatat bahwa

1
sepanjang tahun 2013 jumlah pesertanya yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak
129.911 orang, 75,8% yang menjadi korban adalah pekerja laki-laki, 69,59% dari
kecelakaan tersebut terjadi di dalam perusahaan, 10,26% terjadi di luar perusahaan dan
sisanya sekitar 20,15%.

Berdasarkan latar belakang dengan data tentang kecelakaan kerja bagaimana


konsep kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dirumusan sebagai berikut :
1. Bagaimana UU Kesehatan dan Keselamatan Kerja?
2. Bagaimana Pasal dalam UU yang mengatur Pemeriksaan Kesehatan?
3. Bagaimana UU yang mengatur kebisingan?
4. Bagaimana UU yang mengatur vibrasi?
5. Bagaimana peraturan tentang suhu ekstrim?
6. Bagaimana peraturan tentang radiasi?
7. Bagaimana peraturan tentang illuminasi?
8. Bagaimana ratifikasi konvensi ILO?

C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas di dapat tujuannya sebagai berikut :
1. Agar dapat mengerti dan memahami tentang UU Kesehatan dan Keselamatan
Kerja.
2. Agar dapat mengerti dan memahami tentang Pasal dalam UU yang mengatur
Pemeriksaan Kesehatan.
3. Agar dapat mengerti dan memahami tentang UU yang mengatur kebisingan.
4. Agar dapat mengerti dan memahami tentang UU yang mengatur vibrasi.
5. Agar dapat mengerti dan memahami Peraturan tentang suhu ekstrim.
6. Agar dapat mengerti dan memahami Peraturan tentang radiasi.
7. Agar dapat mengerti dan memahami Peraturan tentang illuminasi.
8. Agar dapat mengerti dan memahami tentang Ratifikasi konvensi ILO.

D. Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan Makalah ini, yaitu :
1. Bab I Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan penulisan serta
sistematika penulisan.
2. Bab II Tinjauan teori terdiri dari UU Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Pasal
dalam UU yang mengatur Pemeriksaan Kesehatan, UU yang mengatur
kebisingan, UU yang mengatur vibrasi, peraturan tentang suhu ekstrim,

2
peraturan tentang radiasi, peraturan tentang illuminasi, dan ratifikasi konvensi
ILO
3. Bab III Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN TEORI

6. UU Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang
sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan

3
lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Keselamatan dan kesehatan kerja
juga merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan atau kondisi tidak
selamat, yang dapat mengakibatkan kecelakaan.

Undang-Undang yang mengatur K3 adalah sebagai berikut :

a. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pimpinan


tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

b. Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

Undang- Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan


berkewajiban memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan
fisik pekerja yang baru maupun yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru,
sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta
pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga
berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar serta
mematuhi semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.
Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23 Tentang Kesehatan Kerja juga
menekankan pentingnya kesehatan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara
sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya hingga
diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Karena itu, kesehatan kerja meliputi
pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat
kesehatan kerja.

c. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan


dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti
sampai dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

4
Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang tersebut, Pemerintah juga
mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait
penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :

a.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang


Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi

b.Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas


Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida

c.Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan


Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan

d.Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul


Akibat Hubungan Kerja

7. Pasal Dalam UU Yang Mengatur Pemeriksaan Kesehatan

Dalam mengimplementasikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan


Kerja , maka perusahaan diwajibkan untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan tenaga
kerjanya. Adapun dasar hukum untuk kewajiban pemeriksaan kesehatan tenaga kerja
tertuang dalam :

a.UU no 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Pasal 86 :

(1) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas :

a) keselamatan dan kesehatan kerja;

b) moral dan kesusilaan; dan

c) perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-
nilai agama.

5
(2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja
yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.

(3) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

UU no 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, Pasal 8 :

(1) Pengurus diwajibkan memeriksa kesehatan badan, kondisi mental, dan kemampuan
fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan
sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepadanya

Mengenai jenis pemeriksaan kesehatan kerja tertuang dalam Permenakertrans


No.: Per-02/MEN/1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam
Penyelenggaraan Keselamatan Kerja, dimana jenis-jenis pemeriksaan kesehatan kerja
terdiri dari :

a. Pemeriksaan Kesehatan sebelum kerja

Definisi : pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter sebelum seorang


tenaga kerja diterima untuk melakukan pekerjaan. —–> Pasal 1

Tujuan : agar tenaga keria yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang
setinggi- tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai tenaga
kerja lainnya, dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukannya sehingga keselamatan
dan kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan dan tenaga kerja lain-lainnya juga dapat
dijamin. ——> Pasal 2

Periode : Semua perusahaan sebagaimana tersebut dalam pasal 2 ayat (2)


Undang-undang No. 1 Tahun 1970 harus mengadakan Pemeriksaan Kesehatan Sebelum
Kerja. ——> Pasal 2

2. Pemeriksaan kesehatan Berkala

Definisi : pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga


kerja yang dilakukan oleh dokter. ——–> Pasal 1

6
Tujuan : untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga keria sesudah berada
dalam pekerjaannya serta menilai kemungkinan adanya pengaruh – pengaruh dari
pekerjaan seawal mungkin yang perlu dikendalikan dengan usaha-usaha pencegahan.
——> Pasal 3

Periode : Semua perusahaan sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (2) tersebut di


atas harus melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi tenaga kerja sekurang-
kurangnya 1 tahun sekali kecuali ditentukan lain oleh Direktur Jenderal Pembinaan
Hubungan Perburuhan dan Perlindungan Tenaga Kerja. ——> Pasal 3

3. Pemeriksaan Kesehatan Khusus

Definisi : pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter secara khusus


terhadap tenaga kerja tertentu. ——–> Pasal 1

Tujuan : untuk menilai adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan tertentu


terhadap tenaga kerja atau golongan-golongan tenaga kerja tertentu. ——> Pasal 5

Periode : apabila terdapat keluhan- keluhan di antara tenaga kerja, atau atas
pengamatan pegawai pengawas keselamatan dan kesehatan kerja, atau atas penilaian
Pusat Bina Hyperkes dan Keselamatan dan Balai- balainya atau atas pendapat umum di
masyarakat. ——> Pasal 5

Pemeriksaan Kesehatan Khusus dilakukan pula terhadap:

a. Tenaga kerja yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang


memerlukan perawatan yang lebih dari 2 (dua) minggu.

b. Tenaga kerja yang berusia di atas 40 (empat puluh) tahun atau tenaga kerja
wanita dan tenaga kerja cacat serta tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan
tertentu.

7
c. Tenaga kerja yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai gangguan-
gangguan kesehatannya perlu dilakukan pemeriksaan khusus sesuai dengan
kebutuhan.

8. UU Yang Mengatur Kebisingan

Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.KEP-51/MEN/1999 menyebutkan


bahwa kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-
alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang berada pada titik tertentu dapat
menimbulkan gangguan pendengaran.

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan


R.I.No.718/MENKES/PER/XI/1987 tentang kebisingan yang berhubungan dengan
kesehatan bahwa kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki dehingga
mengganggu dan membahayakan kesehatan.

a.Baku Mutu Tingkat Kebisingan.

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-


48/MENLH/11/1996, Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan
yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak
menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.

b.Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor:


PER.13/MEN/X/2011 TAHUN 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Kimia di Tempat Kerja, Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah
standar faktor bahaya di tempat kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu
(time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit
atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam
sehari atau 40 jam seminggu.

c.Dampak Kebisingan terhadap Kesehatan

8
1) Gangguan Pendengaran

Kebisingan berpotensi mengganggu pendengaran manusia apabila


manusia terpapar suara/bising dalam suatu periode yang lama dan terus-
menerus.

2) Gangguan Kesehatan

Selain gangguan terhadap sistem pendengaran, kebisingan yang terus-


menerus dapat menimbulkan gangguan terhadap mental, emosional, serta sistem
jantung dan peredaran darah. Gangguan mental emosional berupa terganggunya
kenyamanan hidup, mudah marah, menjadi lebih peka atau mudah tersinggung.

c.Pengendalian

Kebisingan dapat dikendalikan dengan :

- Menempatkan peredam pada sumber getaran.

- Penempatan penghalang. Isolasi tenaga kerja atau mesin adalah usaha segera dan baik
bagi usaha mengurangi kebisingan. Untuk ini perencanaan harus sempurna dan baha –
bahan yang dipakai harus mampu menyerap suara.

- Proteksi dengan sumbat atau tutup telingaTutup telinga biasanya lebih efektif dari
penyumbat telinga. Alat demikian harus diseleksi, sehingga dipilih yang tepat.

9. UU Yang Mengatur Vibrasi

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

No. 49 Tahun 1996

Tentang : Baku Tingkat Getaran

9
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

Menimbang :

bahwa untuk menjamin kelestarian lingkungan hidup agar dapat bermanfaat bagi
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, setiap usaha atau kegiatan perlu
melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau perusakan lingkungan;

bahwa salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan
manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan;

bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas perlu ditetapkan Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup tentang Baku Tingkat Getaran;

Mengingat :

Undang-undang gangguan (Hinder Ordonnantie) Tahun 1926, Stbl. Nomor 226, setelah
diubah dan ditambah terakhir dengan Stbl. 1940 Nomor 450;

Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 831);

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara


Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918);

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah


(Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan


Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3215);

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun


1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);

10
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun
1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3459);

Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara


Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3538);

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan
Kabinet Pembangunan VI;

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Tugas Pokok,
Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Serta Susunan Organisasi Staf

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG BAKU


TINGKAT GETARAN

Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:

Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap
suatu titik acuan;

Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan
manusia;

Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan
manusia;

Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat;

11
Baku tingkat getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran
mekanik yang diperbolehkan dari usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak
menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan;

Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa.

Menteri adalah Menteri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup;

Pasal 2

Baku tingkat getaran mekanik dan getaran kejut untuk kenyamanan dan kesehatan,
getaran berdasarkan dampak kerusakan, getaran berdasarkan jenis bangunan, adalah
sebagaimana tersebut dalam Lampiran I, II, III dan IV Keputusan ini.

Metoda pengukuran dan analisis tingkat getaran adalah sebagaimana tersebut dalam
Lampiran V Keputusan ini.

Pasal 3

Menteri menetapkan baku tingkat getaran untuk usaha atau kegiatan diluar peruntukan
kawasan/lingkungan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini
setelah memperhatikan masukan dari instansi teknis yang bersangkutan.

Pasal 4

Gubernur dapat menetapkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan sebagaimana
tersebut dalam Lampiran Keputusan ini.

Apabila Gubernur belum menetapkan baku tingkat getaran maka berlaku ketentuan
sebagaimana tersebut dalam Lampiran Keputusan ini.

12
Pasal 5

Apabila analisis mengenai dampak lingkungan bagi usaha atau kegiatan mensyaratkan
baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan dalam Lampiran

Keputusan ini, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat getaran
sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan.

Pasal 6

Setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan wajib:

mentaati baku tingkat getaran yang telah dipersyaratkan;

memasang alat pencegahan terjadinya getaran;

menyampaikan laporan hasil pemantauan tingkat getaran sekurangkurangnya 3 (tiga)


bulan sekali kepada Gubernur, Menteri, Instansi yang bertanggung jawab di bidang
pengendalian dampak lingkungan dan instansi teknis yang membidangi kegiatan yang
bersangkutan serta instansi lain yang dipandang perlu.

Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan dalam izin yang relevan
untuk mengendalikan tingkat getaran bagi setiap usaha atau kegiatan yang bersangkutan.

Pasal 7

Bagi usaha atau kegiatan yang telah beroperasi:

baku tingkat getaran lebih longgar dari ketentuan dalam Keputusan ini, wajib
disesuaikan dalam waktu selambat-lambatnya 2 (dua) tahun terhitung sejak ditetapkan
Keputusan ini.

13
baku tingkat getaran lebih ketat dari Keputusan ini, dinyatakan tetap berlaku.

Pasal 8

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

5. Peraturan Tentang Suhu Ekstrim

Berdasarkan PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI,


KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 009 TAHUN 2010
TENTANG PROSEDUR STANDAR OPERASIONAL PELAKSANAAN
PERINGATAN DINI, PELAPORAN, DAN DISEMINASI INFORMASI CUACA
EKSTRIM, Suhu Udara Ekstrim adalah kondisi suhu udara yang mencapai 3º
C (tiga derajat celcius) atau lebih di atas nilai normal setempat.

PERATURAN
KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA
NOMOR : KEP. 009 TAHUN 2010
TENTANG
PROSEDUR STANDAR OPERASIONAL PELAKSANAAN PERINGATAN
DINI, PELAPORAN, DAN DISEMINASI INFORMASI CUACA EKSTRIM

Menimbang :
bahwa dalam rangka penyampaian informasi cuaca ekstrim yang cepat, tepat,
akurat, dan mudah dipahami, maka perlu ditetapkan Peraturan Kepala Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tentang Prosedur Standar Operasional
Pelaksanaan Peringatan Dini, Pelaporan, Dan Diseminasi Informasi Cuaca Ekstrim;

Mengingat :

14
1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 139,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5058);\
2. Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008 tentang Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika;
3. Keputusan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Nomor KEP.005 Tahun
2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Meteorologi dan Geofisika,
Stasiun Meteorologi, Stasiun Klimatologi, dan Stasiun Geofisika sebagaimana
diubah dengan Peraturan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Nomor:
007/ PKBMG.01/2006;
4. Peraturan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nomor
KEP.03 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika;
5. Peraturan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nomor KEP.
10 Tahun 2009 tentang Penyesuaian Penyebutan Peraturan Perundang-
undangan Badan Meteorologi dan Geofisika Menjadi Badan Meterologi,
Klimatologi, dan Geofisika;

6. Peraturan Tentang Radiasi

Radiasi dapat diartikan sebagai energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel
atau gelombang.Radiasi dalam istilah fisika , pada dasarnya adalah suatu cara
perambatan energy dari sumber energy ke lingkungan tanpa membutuhkan medium.

Sumber Radiasi: Radiasi alam (sumber radiasi kosmik, sumber radiasi terestrial
(primordial), sumber radiasi dari dalam tubuh manusia) dan Radiasi buatan
(radionuklida buatan, pesawat sinar-X, reaktor nuklir, akselerator)

Radiasi adalah gelombang atau partikel berenergi tinggi yang berasal dari sumber
alami atau sumber yang sengaja dibuat oleh manusia.

Prinsip Dasar Penggunaan Radiasi

15
Prinsip proteksi radiasi berdasarkan Basic Safety Standard (BSS) terdiri atas 3
unsur yaitu:

1. Justifikasi

Justifikasi adalah semua kegiatan yang melibatkan paparan radiasi hanya


dilakukan jika menghasilkan nilai lebih atau memberikan manfaat yang nyata (azas
manfaat). Justifikasi dari suatu rencana kegiatan atau operasi yang melibatkan paparan
radiasi dapat ditentukan dengan mempertimbang- kan keuntungan dan kerugian dengan
menggunakan analisa untung-rugi untuk meyakinkan bahwa akan terdapat keun- tungan
lebih dari dilakukannya kegiatan tersebut.

2. Optimasi

Pada optimasi semua paparan harus diusahakan serendah yang layak dicapai
(As Low As Reasonably Achievabl-ALARA) dengan mempertimbangkan faktor
ekonomi dan sosial. Syarat ini menyatakan bahwa kerugian/kerusakan dari suatu
kegiatan yang melibatkan radiasi harus ditekan serendah mungkin dengan menerapkan
peraturan proteksi. Dalam pelaksanaannya, syarat ini dapat dipenuhi misalnya dengan
pemilihan kriteria desain atau penentuan nilai batas/tingkat acuan bagi tindakan yang
akan dilakukan.

3. Pembatasan

Pada pembatasan semua dosis ekivalen yang diterima oleh seseorang tidak boleh
melampaui Nilai Batas Dosis (NBD) yang telah ditetapkan. Pembatasan dosis ini
dimaksud untuk menjamin bahwa tidak ada seorang pun terkena risiko radiasi baik
efek sotakastik maupun efek deterministik akibat dari penggunaan radiasi maupun zat
radioaktif dalam keadaan normal.

7. Peraturan Tentang Illuminasi

Pencahayaan atau Illuminasi. Jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.

16
Langkah penentuan tingkat pencahayaan :

1. Menentukan tingkat iluminasi kecil.

2. Menghitung tingkat penerangan yang diamati dengan menggunakan lux meter

3. Melakukan analisis dengan membandingkan kondisi aktual penerangan terhadap


harga iluminasi idel yang telah baku agar dapat menentukan teknik yang cocok untuk
memperbaiki kondisi yang ada

a.Kesilauan.

Dampak silau :

-Kerusakan mata

-Pegal di derah mata dan pegal di daerah mata

-Kelemahan mental

-Kelelahan mata

b.Pencegahan silau :

17
-Pemilihan jenis lampu

-Menempatkan penerangan sedemikian rupa sehingga tidak langsung mengenai


mata

-Tidak menempatkan benda-benda yang berbidang mengkilap dimuka jendela

-Penggunaan alat-alat pelapis bidang

-Mengusahakan agar tempat-tempat kerja tidak terhalang oleh bayangan suatu


benda

c.Alat ukur pencahayaan

Lux meter

9. Ratifikasi Konvensi ILO

Sejak tahun 1950, Indonesia telah terdaftar menjadi anggota International Labour
Organization (ILO), yang merupakan badan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selama kurun waktu sampai sekarang, Indonesia telah merativikasi 8 Konvensi Inti ILO
(Core ILO Convention) yang merupakan hak-hak mendasar pekerja.
Namun demikian, ratifikasi konvensi ILO yang dalam hukum Indonesia
dimasukan dalam Undang-Undang, tidak berarti pelaksanaannya telah berjalan dengan
18
baik. Berbagai pelanggaran atas undang-undang perburuhan masih banyak terjadi dan
dalam konteks ini, maka fungsi serikat buruh menjadi sangat penting untuk mengawasi
dan mendorong pelaksanaan dengan baik konvensi-konvensi tersebut.

Berikut adalah konvensi yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia:

1. Konvensi ILO No: 19/1925 tentang Perlakuan yang Sama bagi Pekerja Nasional
dan Asing dalam hal Tunjangan Kecelakaan Kerja (Equality of Treatment for
National And Foreign Workers as Regards to Workmen’s Compensation for
Accident). Konvensi ini diratifikasi pada tahun 1927 dan dinyatakan berlaku bagi
Indonesia dengan Indonesia staatsblad 1929 No: 53
2. Konvensi ILO No: 27/1929 tentang Pemberian Tanda Berat Pada Pengepakan
Barang-Barang Besar yang Diangkut Dengan Kapal (The Marking at The Weight
On Heavy Packages Transported By Vessels) diratifikasi pada tahun 1933 Nederland
staatsblad 1932 No: 185, Nederland staatblad 1933 No: 34 dan dinyatakan berlaku
untuk Indonesia dengan Indonesia staatblad 1933 No: 117.

3. Konvensi ILO No: 29/1930 tentang Kerja Paksa atau Kerja Wajib (Forced or
Compulsory Labour) diratifikasi pada tahun 1933 (Nederland staatsblad 1933 No:
26 jo 1933 No: 236) dan dinyatakan berlaku bagi Indonesia dengan Indonesia
staatsblad 1933 No: 261

4. Konvensi ILO No: 45/1935 tentang Memperkerjakan Perempuan di Bawah


Tanah dalam Berbagai Macam Pekerjaan Tambang (The Employnment of Women
on Underground Work in Mines of All Kind), diratifikasi pada tahun 1937
(Nederland staatsblad 1937 No: 15) dan dinyatakan berlaku bagi Indonesia dengan
Indonesia Staatsblad 1937 No: 219

5. Konvensi ILO No: 69/1946 tentang Sertifikasi Juru Masak Kapal (Certification
of Ship’s Cook) dibuat pada tahun 1946 dan diratifikasi dengan Keputusan Presiden
No: 4 tahun 1992

6. Konvensi ILO No: 81/1947 tentang Inspeksi Ketenagakerjaan (Labour


Inspection) dibuat pada tahun 1947

19
7. Konvensi ILO No: 87/1948 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan atas
Hak Berorganisasi (Freedom of Association and Protection of Right to Organize)
dibuat pada tahun 1948 dan diratifikasi pada tahun 1998

8. Konvensi ILO No: 88/1948) tentang Lembaga Pelayanan Penempatan Tenaga


Kerja (Institute for Employment Service) dibuat pada tahun 1948

9. Konvensi ILO No: 98/1949) tentang Penerapan Azas-azas Hak untuk


Berorganisasi dan Berunding Bersama (The Aplication of The Principles of The
Right to Organize and to Bargain Collectively) dibuat pada tahun 1949 dan
diratifikasi dengan Undang-undang nomor 18 tahun 1956 tentang Persetujuan
Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional No: 98 mengenai Berlakunya Dasar-
dasar dari pada Hak untuk Berorganisasi dan untuk Berunding Bersama (Lembaran
Negara No: 42 tahun 1956)

10. Konvensi ILO No: 100/1951 tentang Pengupahan yang Sama bagi Pekerja Laki-
laki dan Wanita untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya (Equal Remuneration for Men
and Women Workers for Work of Equal Value) diratifikasi dengan Undang-undang
nomor 80 tahun 1957 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan
Internasional No: 100 mengenai Pengupahan bagi Pekerja Laki-laki dan Wanita
untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya (Lembaran Negara No: 171 tahun 1957)

11. Konvensi ILO No: 105/1957 tentang Penghapusan Kerja Paksa (Abolition of
forced labour) diratifikasi pada tahun 1999

12. Konvensi ILO No: 106/1957 tentang Istirahat Mingguan dalam Perdagangan dan
Kantor-kantor (Weekly Rest In Commerce and Offices) dibuat pada tahun 1957 dan
diratifikasi dengan Undang-undang nomor 3 tahun 1961 tentang Persetujuan
Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional No: 106 mengenai Istirahat
Mingguan dalam Perdagangan dan Kantor-kantor (Lembaran Negara No: 14 tahun
1961)

20
13. Konvensi ILO No: 111/1958 tentang Diskriminasi dalam Kerja dan jabatan
(Discrimination in Respect of Employment and Occupation) dibuat pada tahun 1958
dan diratifikasi pada tahun 1999

14. Konvensi ILO No: 120/1964 tentang Kebersihan di Tempat Dagang dan Kantor
(Hygiene in Commerce and Offices) diratifikasi dengan Undang-undang nomor 3
tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional No:
120 Mengenai Hygiene dalam Perdagangan dan Kantor-Kantor (Tambahan
Lembaran Negara No: 2889 tahun 1969)

15. Konvensi ILO No: 138/1973) tentang Batas Usia Minimum untuk Bekerja
(Minimum Age for Admission to Employment) dibuat pada tahun 1973 dan
diratifikasi pada tahun 1999

16. Konvensi ILO No: 144/1976) tentang Konsultasi Tripartit untuk


Mempromosikan Pelaksanaan Standar Perburuhan Internasional (Tripartite
Consultations to Promote the Implementation of International Labour Standards),
dibuat pada tahun 1976 dan diratifikasi dengan Keputusan Presiden No: 26 tahun
2006

17. Konvensi ILO No: 182/1999) tentang Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan


Terburuk untuk Anak (Elimination of the Worst Forms of Child Labour) dibuat pada
tahun 1999 telah diratifikasi pemerintah pada tahun 2000

18. Konvensi ILO No: 185 tentang Dokumen Identitas Pelaut (Seafarers’ Identity
Documents/SID) diratifikasi pada tahun 2008

Berikut adalah 8 Konvensi Inti ILO yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia;

1. Konvensi ILO No. 29 Tentang Penghapusan Kerja Paksa, meminta semua negara
anggota ILO melarang semua bentuk kerja paksa atau wajib kerja kecuali
melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan wajib militer, wajib kerja dalam rangka
pengabdian sebagai warga negara, wajib kerja menurut keputusan pengadilan, wajib

21
melakukan pekerjaan dalam keadaan darurat atau wajib kerja sebagai bentuk kerja
gotong royong.

Dalam penerapan Konvensi No. 29 Tahun 1930 tersebut ditemukan berbagai


bentuk penyimpangan. Oleh sebab itu dirasakan perlu menyusun dan mengesahkan
konvensi yang secara khusus melarang siapapun mempekerjakan seseorang secara
paksa dalam bentuk mewajibkan tahanan politik untuk bekerja, mengerahkan tenaga
kerja dengan dalih untuk pembangunan ekonomi, mewajibkan kerja untuk
mendisiplinkan pekerja, menghukum pekerja atas keikutsertaannya dalam
pemogokan atau melakukan diskriminasi atas dasar ras, sosial, kebangsaan, atau
agama.

2. Konvensi ILO No. 105 Tentang Penghapusan Semua Bentuk Kerja Paksa.
Konferensi Ketenagakerjaan Internasional keempat puluh tanggal 25 Juni 1957 di
Jenewa, Swiss, telah menyetujui ILO Convention No. 105 concerning the Abolition
of Forced Labour (Konvensi ILO mengenai Penghapusan Kerja Paksa). Dan di
dalam peraturan nasional tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 19 tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention No. 105, mengenai
Penghapusan Kerja Paksa.
3. Konvensi ILO No. 87 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk
Berorganisasi, tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 83 tahun
1998. Setelah disidangkan di San Fransisco oleh Badan Pimpinan Kantor
Perburuhan Internasional, dan setelah mengadakan sidangnya yang ketiga puluh
satu pada tanggal 17 Juni 1948. Memutuskan untuk menerima dalam bentuk
Konvensi beberapa usul tertentu tentang kebebasan untuk berserikat dan
perlindungan atas hak untuk berorganisasi yang menjadi agenda sidang.

Namun, selama ini belum ada peraturan yang secara khusus mengatur
pelaksanaan hak berserikat bagi pekerja/buruh sehingga serikat pekerja/serikat
buruh belum dapat melaksanakan fungsinya secara maksimal. Maka pada tahun
2000, pemerintah Indonesia membuat Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000
tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

22
4. Konvensi ILO No. 98 Tentang Hak Berorganisasi dan Melakukan Perundingan
Bersama diatura dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1956
tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internatsional Nomor 98
mengenai berlakunya dasar-dasar daripada hak untuk berorganisasi dan untuk
berunding bersama.

Konvensi ILO No.98 mengenai Berlakunya Dasar-dasar Daripada Hak Untuk


Berorganisasi dan Untuk Berunding Bersama sudah diratifikasi oleh Indonesia
menjadi bagian dari peraturan perundang-undangan nasional. Namun, selama ini
belum ada peraturan yang secara khusus mengatur pelaksanaan hak berserikat bagi
pekerja/buruh sehingga serikat pekerja/serikat buruh belum dapat melaksanakan
fungsinya secara maksimal. Maka pada tahun 2000, pemerintah Indonesia membuat
Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

5. Konvensi ILO No. 100 tentang Pemberian Upah Yang Sama Bagi Para Pekerja Pria
dan Wanita. Diratifikasi oleh pemerintah Indonesia yang tertuang dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 87 tahun 1957 tentang Persetujuan Konvensi
Organisasi Perburuhan Internasional Nomor 100 mengenai Pengupahan Yang Sama
Bagi Buruh Laki-Laki dan Wanita Untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya.
6. Konvensi ILO No. 111 tentang Diskriminasi Dalam Pekerjaan dan Jabatan.
Konvensi ini dalam perundang-undangan di Indonesia tertuang dalam UU Nomor
21 Tahun 1999 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 111 Concerning
Discrimination in Respect of Employment and Occupation (Konvensi ILO
mengenai diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan)

Konferensi Ketenagakerjaan Internasional dalam sidangnya yang ke-42, tanggal


25 Juni 1958, telah menyetujui ILO Convention No. 111 mengenai Diskriminasi
dalam Pekerjaan dan Jabatan. Ketentuan itu selaras dengan keinginan bangsa
Indonesia untuk secara terus menerus menegakkan dan meningkatkan pelaksanaan
hak-hak dasar pekerja dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara.

7. Konvensi ILO No. 138 Tentang Usia Minimum Untuk Diperbolehkan Bekerja.
Konferensi Ketenagakerjaan Internasional yang kelima puluh delapan tanggal 26
23
Juni 1973, Swiss, telah menyetujui ILO Convention No.138 concerning Minimum
Age for Admission to Employment (Konvensi ILO mengenai Usia Minimum untuk
Diperbolehkan Bekerja).

Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tersebut yang tertuang dalam


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 1999 tentang Pengesahan ILO
Convention Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi
ILO mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja).

8. Konvensi ILO No. 182 Tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan
Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. Konferensi Ketenagakerjaan
Internasional yang kedelapan puluh tujuh tanggal 17 Juni 1999, telah menyetujui
Pengesahan ILO Convention No. 182 concerning The Prohibition and Immediate
Action for the Elimination of the Worst Forms of Child Labour (Konvensi ILO No.
182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk
Pekerjaan Terburuk untuk Anak).

Dan kemudian ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 2000 tentang


Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk
untuk Anak.

Konvensi-konvensi ILO yang berkaitan dengan K3


Pada tahun 2003, Indonesia masih belum meratifikasi Konvensi-konvensi ILO
yang berkaitan dengan K3 kecuali Konvensi ILO No 120/ 1964 tentang Higiene
(Komersial dan Perkantoran). Tetapi hingga tahun 2000, Indonesia sudah meratifikasi
seluruh Konvensi Dasar ILO tentang Hak Asasi Manusia yang semuanya berjumlah
delapan.
Karena Indonesia mayoritas masih merupakan negara agraris dengan sekitar 70%
wilayahnya terdiri dari daerah pedesaan dan pertanian, Konvensi ILO yang terbaru, yaitu
Konvensi No. 184/ 2001 tentang Pertanian dan Rekomendasinya, dianggap merupakan
perangkat kebijakan yang bermanfaat. Tetapi secara luas Indonesia dipandang tidak siap
untuk meratifikasi Konvensi ini karena rendahnya tingkat kesadaran K3 di antara
24
pekerja pertanian. Tingkat pendidikan umum pekerja pertanian di Indonesia juga rendah,
rata-rata hanya 3 sampai 4 tahun di sekolah dasar (Markkanen, 2004 : 16)

25
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari tinjauan pustaka dan pembahasan Kebijakan Kesehatan Keselamatan Kerja


rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan rencana dalam pelaksanaan
suatu pekerjaan/kepemimpinan dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil
karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera yang meliputi; Kriteria,
Peraturan dan Perundang-undangan, Konsep, Penyusunan pembagian, pertanggung
jawaban Kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

26
DAFTAR PUSTAKA

Markkanen, Pia K. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Indonesia. Jakarta :


Internasional Labour Organisation Sub Regional South-East Asia and The Pacific

Manila Philippines (online)


(http://sarisolo.multiply.com/journal/item/35/kecelakaan_kerja_di_perusahaan.) diunduh
pada tanggal 7 September 2018

Ade. 2016. Kebijakan Bidang K3.


(http://adeheryana.weblog.esaunggul.ac.id/2016/10/22/kebijakan-bidang-k3/

iii