Anda di halaman 1dari 6

Prinsip pengobatan atau cara mengobati tipes pada ibu hamil sama seperti

pada umumnya. Namun ada sedikit hal yang berbeda yaitu memilih obat-obatan termasuk
antibiotik yang aman bagi kehamilan dan janin. Mari kita simak penjalasan dibawah ini.
Tipes atau dalam istilah medis dikenal dengan demam tifoid adalah infeksi bakteri yang
menyerang sistem pencernaan. Namun bakteri Salmonella sp yang menjadi penyebabnya bisa
beredar dalam darah hingga menyambangi organ hati, saluran, empedu, bahkan saluran
kemaih, maka tak heran apabila gejalanya bersifat umum. mengobati tipes pada ibu hamil
Gejala tipes yang dimaksud yaitu dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, lemah, lalu
diikuti dengan gejala pencernaan berupa mual, muntah, tidak nafsu makan, serta sembelit
atau diare. Baik ibu hamil ataupun orang pada umumnya, mengalami gejala yang sama, oleh
sebab itu prinsip pengobatannya pun sama.
Ciri-ciri dan Gejala Penyakit Tipes yang Mudah Dikenali Prinsip mengobati
tipes pada umumnya yaitu; pertama menggunakan antibiotik untuk membasmi bakteri
penyebabnya, disebut sebagai terapi kaustif. Kedua mengatasi gejalanya sesuai dengan yang
dikeluhkan oleh penderita seperti obat antidemam, antinyeri, antimual-muntah, dan lain-lain
yang disebut sebagai terapi simptomatis. Ketiga adalah terapi suportif, yang bertujuan untuk
menunjang sistem pertahanan tubuh dan mempercepat penyembuhan, seperti mengatur pola
makan, istirahat, multivitamin, dan sebagainya. Nah, sekarang bagaimana cara mengobati
penyakit tipes pada ibu hamil? Terapi kausatif tipes pada ibu hamil Sebelum penggunaan
antibiotik, angka kematian akibat tipes mencapai 20%. Kematian terjadi karena infeksi yang
berlebihan, pneumonia, pendarahan usus, atau perforasi usus (usus bocor).
Dengan antibiotik dan perawatan suportif, angka kematian telah dikurangi menjadi
1% -2%. Dengan terapi antibiotik yang tepat, biasanya terjadi perbaikan dalam satu sampai
dua hari dan pemulihan dalam tujuh sampai 10 hari. Kunci mengobati tipes pada ibu hamil
dengan antibiotik adalah penggunaan antibiotik yang dapat membunuh bakteri Salmonella
namun juga aman bagi kehamilan dan janin. Dalam hal ini ada beberapa antibiotik untuk
mengobati tipes selama kehamilan, seperti Chloramphenicol, Ceftriaxone, Cefixime,
Ampisilin, amoxicillin, dan lain-lain.
Tentunya dokter akan merekomendasikan obat antibiotik untuk tipes pada ibu hamil
yang sesuai dengan kondisi penderita. Termasuk perlukah perawatan di rumah sakit atau
cukup pengobatan rawat jalan. Dosis dan cara pemberian obat pun akan ditentukan setelah
melakukan pemeriksaan dan berbagai pertimbangan. Lantas apa antibiotik yang harus
dihindari oleh ibu hamil? Ada beberapa antibiotik tertentu yang biasa digunakan untuk
mengobati tipes, namun tidak boleh untuk ibu hamil. Hal ini didasarkan pada efek samping
berupa keguguran ataupun masalah terhadap janin.
Antibiotik untuk tipes yang tidak boleh untuk ibu hamil diantaranya, golongan
quinolon (Ciprofloxacin dan Levofloxacin), Makrolida (Azithromycin, dll) kecuali
erythromycin, dan trimethoprim – sulfamethoxazole. Terapi Simtomatis Demam Tifoid pada
Ibu hamil Terapi ini digunakan sesuai dengan keluhan yang dirasakan, seperti: Demam, sakit
kepala, dan pegal Obat yang aman digunakan sebagai penurun demam dan juga analgesik
(antinyeri) adalah parasetamol. Obat ini dijual bebas di apotek ataupun toko obat, namun
harap selalu perhatikan aturan pakainya. Mual dan Muntah Pada kondisi ini dapat digunakan
obat yang mencegah produksi asam lambung berlebih, seperti Ranitidine.
Penggunaan obat ini hanya disarankan jika dibutuhkan dengan jelas dan manfaatnya
lebih besar dari risikonya. Alternatif lain yang lebih aman adalah menggunakan vitamin B6
atau Piridoksin. Namun, ketika muntah berlebihan terjadi dan tidak dapat diatasi dengan obat-
obatan yang aman, maka bisa jadi diperlukan obat seperti Ondansetron. Meskipun tidak
disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk pengobatan mual dan muntah
pada kehamilan, ondansetron adalah obat antiemetik yang paling umum diberikan pada
wanita hamil. Ondansetron harus dihindari pada trimester pertama kehamilan kecuali
perawatan lainnya tidak efektif dan itu sangat dibutuhkan. Dokter akan memberikan
rekomendasi obat yang sesuai dengan kondisi Anda.
Perawatan Suportif Pastikan bunda beristirahat dengan cukup, minum banyak cairan
dan makan makanan biasa. Bunda sebaiknya makan dengan porsi yang sedikit tapi lebih
sering, daripada tiga kali makan dengan prosi besar sekaligus setiap hari. Makanan terbaik
adalah makanan yang lebih lunak dan mudah dicerna, hindari makanan berlemak dan pedas.
Bunda juga harus menjaga standar kebersihan diri yang baik, seperti mencuci tangan secara
teratur dengan sabun dan air hangat, untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi ke orang
lain. Hubungi dokter sesegera mungkin jika gejala dirasakan memburuk atau jika mengalami
gejala baru saat dirawat di rumah. Dalam sejumlah kecil kasus, gejala atau infeksi dapat
terulang kembali.
Ibu hamil wajib menjaga kondisi kesehatannya demi si Kecil di dalam kandungan. Namun,
ada saja kasus ibu hamil yang terkena penyakit, misalnya typus atau tifus. Penyakit tifus ini
adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan
salmonella parathypi A, B, C. Penyakit ini dapat berdampak buruk pada kehamilan, seperti
menyebabkan bayi lahir prematur, infeksi dalam kehamilan, bahkan dapat mengakibatkan
bayi keguguran. Mengetahui bahaya pengaruh tifus tersebut, sebaiknya Anda mengantisipasi
terserangnya penyakit ini dengan menjaga kebersihan makanan, alat makan, dan lingkungan
sekitar untuk mencegah masuknya kuman salmonella ke saluran pencernaan.

Gejala Penyakit Tifus


Penderita tifus memiliki ciri-ciri atau gejala berikut ini:

1. Sakit kepala yang disertai dengan suhu tubuh meningkat. Sakit kepala hebat ini akan
berkurang jika suhu tubuh mulai turun.
2. Demam tinggi pada sore dan malam hari pada hari pertama. Lalu, demam akan
muncul pada pagi dan siang hari setelah seminggu.
3. Infeksi tenggorokan.
4. Lidah berwarna putih kotor dengan tepian berwarna merah.
5. Nafsu makan turun atau hilang.
6. Mual dan muntah.
7. Perut terasa nyeri atau kembung.
8. Sembelit atau susah buang air besar, diare.

Penyakit tifus merupakan penyakit menular sehinggat memerlukan upaya khusus agar Anda
tidak tertular. Di bawah ini beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk mengantisipasi
penyakit tifus.

1. Antisipasi faktor 5F
Tifus ditularkan melalui 5F, yaitu food (makanan), fingers (jari kuku tangan), fomitus
(muntah), fly (lalat), dan juga feses (kotoran). Untuk itu, selalu waspadai muntah dan
feses penderita tifus. Selain itu, jagalah kebersihan makanan dan kuku tangan serta
tubuh Anda, ya, Mam, untuk meminimalkan risiko tertular tifus.

2. Jaga kebersihan makanan dan minuman


Masaklah bahan makanan dan minuman dengan cara pengolahan yang bersih dan
benar. Hal ini untuk memastikan makanan dan minuman yang akan Anda konsumsi
tidak tercemar oleh kuman salmonella. Selain itu, usahakan untuk tidak jajan di luar
karena makanan yang dijual tersebut tidak dapat dijamin kebersihan dan
kehigienisannya.

3. Jaga kebersihan lingkungan sekitar


Menjaga kebersihan lingkungan sekitar dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan
sumber air minum, tempat pembuangan limbah rumah tangga, kandang hewan
peliharaan, kamar mandi atau wc, dll. Hal ini bertujuan untuk menghentikan
perkembangan kuman penyebab tifus. Pastikan lingkungan Anda bersih dan tidak
terdapat lalat karena lalat ini sering menjadi perantara kuman salmonella.

4. Istirahat total
Jika Anda sudah terserang tifus, Anda harus istirahat total atau bed rest total selama
beberapa minggu. Selama istirahat ini Anda menerapkan pola makan yang benar,
seperti mengonsumsi makanan lunak, menghindari makanan bercita rasa pedas, asam,
berminyak, dan berbumbu. Untuk mempercepat penyembuhan dari sakit tifus, Anda
akan disarankan untuk melakukan diet rendah serat, namun tinggi kalori dan protein.

Tifus merupakan salah satu jenis penyakit menular yang wajib diantisipasi agar tidak
mengganggu kehamilan. Tips di atas dapat Anda lakukan untuk mengatasi penyakit tifus.
Namun, apabila Anda mengalami gejala-gejala tifus di atas, segera periksakan kesehatan
Anda ke dokter ya, Mam. Dokter akan memutuskan jenis pengobatan yang aman bagi Anda
dan janin. Semoga bermanfaat.

Tifus merupakan salah satu jenis penyakit menular. Sebaiknya Ibu hamil menghindari
penyakit tifus karena dapat mengakibatkan bayi lahir prematur, infeksi kehamilan, bahkan
keguguran.

Tifus adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
thypi dan salmonella parathypi A, B, C. Jaga kebersihan makanan dan minuman yang Anda
konsumsi, alat makan, dan lingkungan sekitar untuk mencegah masuknya kuman salmonella
ke saluran pencernaan. Namun, bagi Anda yang sudah terlanjur terpapar kuman salmonella
ini, diperlukan menjaga pola makan untuk mengusir penyakit tifus. Nah, di bawah ini
beberapa tips pola makan yang disarankan untuk mempercepat penyembuhan penyakit tifus.

1. Menghindari makanan bercita rasa asam


Jeruk, belimbing, asam jawa merupakan beberapa jenis makanan yang rasanya asam.
Bagi penderita tifus, makanan tersebut dapat memperlambat penyembuhan dan juga
rasa asam ini tidak aman bagi kesehatan lambung.

2. Menghindari makanan bercita rasa pedas


Selain menghindari makanan asam, penderita tifus juga diwajibkan untuk
menghentikan konsumsi makanan pedas, seperti cabai, saus cabai, merica, lada, dan
lainnya. Makanan pedas ini akan menyebabkan organ pencernaan terasa panas,
bahkan menimbulkan pembengkakan dan pendarahan.

3. Menghindari makanan berserat tinggi


Sayur dan buah sangat baik bagi Ibu hamil karena mengandung serat. Namun, tidak
halnya jika Ibu hamil sedang menderita tifus. Sayuran dan buah dengan tinggi serat
seperti bayam, kangkung, apel, dan lainnya wajib dihindari oleh Ibu hamil hingga
penyakit tifus sembuh. Hal ini dikarenakan makanan yang mengandung serat tinggi
dapat menyebabkan iritasi lambung dan usus halus. Karena itu, saat Ibu hamil
menderita tifus, sebaiknya memilih makanan yang mengandung serat rendah.
4. Menghindari makanan yang mengandung gas
Buah nanas, durian, nangka, tape, dan lainnya merupakan jenis makanan yang tidak
aman bagi penderita tifus karena dapat memicu timbulnya gasa dalam organ
pencernaan.

5. Menghindari makanan yang berlemak


Makanan berlemak, seperti gorengan dan makanan bersantan sangat sulit untuk
dicerna oleh lambung. Karena itulah, penderita tifus disarankan untuk tidak
mengonsumsi makanan berlemak ini.

6. Mengonsumsi makanan yang bertekstur lembut


Makanan bertekstur lembut atau halus, seperti bubur, tim beras, roti, puree kentang,
tepung-tepungan yang dibuat bubur, dan lainnya aman dikonsumsi oleh penderita
tifus karena mudah dicerna dan tidak memberatkan kerja organ pencernaan.

7. Memperbanyak asupan cairan di dalam tubuh


Penderita tifus sangat membutuhkan asupan cairan yang cukup, apalagi bagi penderita
tifus yang disertai dengan diare dan demam. Untuk itulah, sebaiknya Anda menambah
asupan cairan dari air putih, susu, jus, dan sup.

8. Menghindari minuman tertentu


Kopi, teh, alkohol, minuman bersoda merupakan minuman yang wajib dihindari oleh
Ibu hamil, apalagi bila sedang sakit tifus karena minuman tersebut tidak baik bagi
kesehatan organ pencernaan.

Pengaruh terhadap ibu dan basil konsepsi:


1. Wanita yang menderita tifus dalam kehamilan apalagi dalam nifas, angka kematian
ibu lebih tinggi, dapat mencapai 15% atau lebih.

2. Terhadap basil konsepsi pengaruhnya buruk: - 60-80% basil konsepsi akan keluar
(aboitus, paxtus imaturus dan prematurus atau lahir mati); - Angka kematian janin kira-
kira 75%. Dampaknya pada kehamilan adalah karena demam parah. Semua demam
kelas tinggi adalah stimulan rahim dan fetotoxic. Efek ini dapat memicu kematian
tenaga kerja dan intra-uterin prematur. Seringkali ibu hamil permintaan untuk imunisasi
tifoid karena alasan seperti kunjungan calon ke daerah endemik tifoid, perjalanan
internasional atau untuk perlindungan selama epidemi. Dua jenis vaksin yang tersedia
oral dan intramuskular. Vaksin oral dikontraindikasikan selama kehamilan karena
merupakan virus hidup, menyajikan teori risiko penularan pada janin. Vaksin
intramuskular direkomendasikan untuk wanita-wanita ini oleh Asosiasi Guru Besar
Obstetri dan Ginekologi.