Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PEMULIAAN TANAMAN

OPTIMALISASI INDUKSI POLIPLOID PADA TANAMAN STAWBBERY (Fragaria


spp "FESTIVAL" dan "CALIFORNICA)

(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Pemuliaan Tanaman)

Dosen :

SANTIKA SARI, S.P.,M.P.

Disusun oleh:

Huda Anugrah 41035003161013

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
Jl.Soekarno Hatta No.530 Bandung 40286
2017
KATA PENGATAR

Dengan mengucapkan puji serta syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena
berkat rahmat, hidayah, dan izin-Nya saya dapat menyelesaikan ”Makalah Tentang
OPTIMALISASI INDUKSI POLIPLOID PADA TANAMAN STAWBBERY (Fragaria spp
"FESTIVAL" dan "CALIFORNICA) Mata Kuliah Pemuliaan Tanaman”.

Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya
mengharapkan saran dan kritik yang barsifat membangun agar apa yang terdapat dalam laporan
ini dapat lebih baik lagi .

Semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya dan
umumnya bagi seluruh pembaca. Aamiin

Bandung, 6 Januari 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroberi (Fragaria spp.) merupakan tanaman komoditas buah anggota
Famili Rosaceae yang telah banyak dibudidayakan di beberapa negara di dunia
termasuk Indonesia. Beberapa kultivar stroberi yang telah dikenal di masyakarat
telah berkembang menjadi buah komersial dan sebagai buah konsumsi
masyarakat. Beberapa teknik budidaya stroberi telah dimanfaatkan oleh petani
di Indonesia untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas mutu karakter
agronomisnya.
Terdapat lebih dari 20 spesies stroberi di seluruh dunia, pengelompokan
ini berdasarkan jumlah kromosomnya. Panjang kromosom dari tanaman stroberi
berukuran 0,9 sampai dengan 1,7 mikron (Hughes, et.al., 1974). Terdapat tujuh
jenis kromosom utama yang tersebar diseluruh spesies. Beberapa spesies
adalah diploid yaitu mempunyai dua pasang dari tujuh kromosom sehingga
jumlahnya 14 kromosom. Sementara itu, yang lainnya merupakan tetraploid
yaitu memiliki empat pasang dari ketujuh kromosom sehingga jumlahnya 28
kromosom, hexaploid (6 pasang), oktoploid (8 pasang) dan dekaploid (10
pasang). Didalam pengelompokannya, yang termasuk spesies diploid adalah
Fragaria daltoniana, F. iinumae, F. nilgerrensis, E. nipponica, F. nubicola, F.
vesca, F. viridis, dan F. yezoensis. Spesies tetraploid adalah E. moupinensis
dan F. orientalis. Spesies hexaploid adalah F. moschata. Spesies oktoploid dan
variannya adalah F. ananassa, F. chiloensis, F. iturupensis dan F. virginiana.
Sementara itu yang termasuk spesies dekaploid dan variannya adalah F.
Potentilla, F. vescana dan Beberapa spesies baru telah diperkenalkan yang
merupakan subspesies dari spesies spesies sebelumnya (Byrne and
Jelenkovi'c, 1976).
Prospek penelitian tanaman stroberi melalui karakterisasi dari sifat genotip
dan fenotipnya sangat besar. Hal ini dikarenakan dapat langsung mengetahui
gen-gen yang mengkode sifat-sifat yang unggul untuk kemudian dijadikan
sebagai protokol membuat transgenik tanaman stroberi yang dapat dijual
dengan kualitas dan kuantitas yang optimal. Sifat unggul yang dikode urutan
genetik dalam gen-gen tertentu pada tanaman stroberi dapat disisipkan ke
dalam mikroorganisme yang nantinya menjadi dasar untuk pengembangan
transgenik tanaman karena hanya meggunakan gen-gen unggul untuk merakit
tanaman stroberi yang mempunyai daya saing tinggi sehingga dapat
memperkuat sistem inovasi nasional.
Poliploidi adalah keadaan bahwa individu memiliki lebih dari dua genom.
Tanaman poliploid umumnya mempunyai jumlah kromosom lebih banyak dari
pada tanaman diploid sehingga umumnya tanaman kelihatan lebih kekar dan
bagian-bagian tanaman menjadi lebih besar (Suryo, 1995). Di alam poliploid
terjadi karena kejutan listrik (petir), keadaan lingkungan ekstrem atau
persilangan yang diikuti dengan gangguan pembelahan sel. Poliploidi buatan
dapat dilakukan dengan meniru yang terjadi di alam atau dengan menggunakan
mutagen. Tingkat ploidi yang lebih tinggi dari tetraploid tidak umum ditemukan
dalam populasi alam, tetapi beberapa tumbuhan yang angat penting adalah
poliploid. Pengaruh poliploid dan ciri pada tanaman antara lain : inti dan isi sel
lebih besar, hal ini ditunjukkan oleh stomata dan butir serbuk sari, daun dan
bunga bertambah besar, pertambahan ini terbatas, dapat terjadi perubahan
senyawa kimia termasuk peningkatan atau perubahan pada jenis atau proporsi
karbohidrat, protein, vitamin atau alkaloid; laju pertumbuhan lebih lambat
dibandingkan tanaman diploid dan berbunganya juga terhambat; meiosis sering
tidak teratur, sehingga terjadi kromosom tidak berpasangan terbentuk bivalen,
trivalen, quadrivalen, dan seterusnya (Poespodarsono, 1988)
Kolkisin (C22H2506N) merupakan suatu alkaloid yang berasal dari umbi
dan biji Autumn crocus (Colchicum autumnale Linn.) yang termasuk dalam famili
Liliaceae. Nama Colchicum diambil dari nama Colchis, adalah seorang raja
yang menguasa daerah di tepi Laut Hitam, karena di daerah tersebut ditemukan
tanaman tersebut yang sangat banyak. Kolkisin merupakan salah satu reagen
untuk mutasi yang menyebabkan terjadinya poliploid yaitu organisme yang
memiliki tiga set atau lebih kromosom dalam sel-selnya. Senyawa ini dapat
menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel
sehingga menyebabkan terbentuknya individu poliploidi (Eigsti dan Dustin,
1957; Suryo, 1995). Sifat umum dari tanaman poliploid adalah menjadi lebih
kekar, bagian tanaman lebih besar (akar, batang, daun, bunga dan buah),
sehingga sifat-sifat yang kurang baik akan menjadi lebih baik tanpa mengubah
potensi hasilnya (Sulistianingsih, 2006).
Umumnya kolkisin akan bekerja efektif pada konsentrasi 0,01-1% untuk
jangka waktu 6-72 jam, namun setiap jenis tanaman memiliki respon yang
berbeda-beda (Eigsti dan Dustin, 1957; Suryo, 1995). Setiap spesies memiliki
jumlah kromosom yang khas. Sebagian besar organisme tingkat tinggi memiliki
jumlah kromosom yang bersifat diploid. Variasi jumlah set kromosom (ploidi)
sering ditemukan di alam. Pada keadaan normal materi genetik setiap makhluk
hidup stabil (tidak berubah-ubah), akan tetapi karena adanya pengaruh luar
atau dari dalam sel itu sendiri dapat terjadi perubahan. Perubahan materi
genetik karena pengaruh dari dalam sel merupakan ciri benda hidup yang
membedakannya dengan benda mati, yaitu dapat melakukan mutasi dan
menjaga keanekaragaman hayati. Perubahan materi genetik karena pengaruh
dari luar sel dapat disebabkan oleh bahan kimia maupun radiasi (Pai, 1992).

B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui optimasi induksi
poliploid pada tanaman stroberi kultivar Festival dan
Californica.
BAB II
PERMASALAHAN

Stroberi merupakan salah satu komoditas buah yang memiliki nilai ekonomis
tinggi. Menurut Syariefa (2003), pasar stroberi di Indonesia bertambah 15% per
tahun, oleh karena itu, stroberi banyak diusahakan secara komersial oleh petani
di Indonesia, khususnya petani di dataran tinggi. Pada awal perkembangannya,
usaha budi daya stroberi di Indonesia masih terbatas di daerah sentra produksi
seperti Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Cipanas dan Lembang), Jawa Timur
(Batu) dan Bali (Bedugul), namun seiring dengan semakin meningkatnya
permintaan pasar, usaha stroberi secara komersial telah diusahakan di
beberapa daerah lain, seperti Banyuwangi, Magelang, dan Purbalingga yang
memiliki ketinggian tempat berbeda. Varietas-varietas yang banyak
dikembangkan petani di Indonesia adalah hasil introduksi seperti Dorit,
California, Rosalinda, Sweet Charlie, Chandler, Earlibrite, Oso Grande,
Camarosa, dan Festival. Selain varietas introduksi, ada beberapa petani yang
masih mengembangkan varietas lokal. Sayangnya, varietas-variets stroberi
yang dikembangkan di Indonesia telah mengalami penurunan kualitas sebagai
akibat dari sistem pembibitan yang kurang baik. Di sisi lain, ketersediaan
varietas unggul stroberi masih sangat bergantung pada hasil introduksi,
sedangkan introduksi benih stroberi sejak beberapa tahun terakhir ini sangat
dibatasi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya perbaikan varietas stroberi,
salah satunya melalui persilangan varietas komersial yang telah banyak
dikembangkan, dalam hal ini adalah varietas Sweet Charlie, Earlibrite dan Dorit.
Sweet charlie termasuk short-day cultivar yang merupakan hasil persilangan
antara FL 80456 dengan Pajaro (US Plant Patent PP 8,729). Varietas ini
memiliki ukuran tanaman kecil namun memiliki vigor kompak (Anonim, 2010),
memiliki daun tebal dan berwarna hijau tua, posisi bunga tersusun dalam malai
yang berukuran panjang, bentuk buah bulat sampai oval, ukuran buah besar,
berwarna merah pucat sampai merah cerah dengan daging buah berwarna
putih dan aroma yang tajam. (Staudt, 1989). Produksi tinggi namun ukuran
buah kecil dengan tekstur lembut sehingga daya simpannya rendah (Chandler
et al., 2000) Earlibrite termasuk short-day cultivar yang merupakan hasil
persilangan antara Rosalinda dengan FL 90-38 (Chandler et al., 2000).
Varietas ini memiliki vigor tanaman kompak, buah berukutan besar (rata-rata 20
gram/buah), berwarna merah tua, biji masuk kedalam, proses pematangan buah
cepat, dan memiliki aroma yang lembut. (Hancock, 1999; Chandler, 2002).
Dorit merupakan hasil persilangan antara Dover A dengan Nurit. Varietas ini
memiliki vigor tanaman kompak dan kuat dengan densitas medium dan
memilliki stolon banyak. Bentuk buah mirip dengan Pajaro, berukuran besar,
beraroma tajam, tekstur keras shingga daya simpan lama (Izhak and Izhar,
1992).

A. Poliploidi adalah keadaan sel yang memiliki lebih dari dua genom dasar
(3x, 4x, 5x dan seterusnya), ditemukan banyak pada kingdom tanaman.
Poliploidi dapat berisikan dua atau lebih pasang genom dengan segmen
kromosom yang homolog, keseluruhan kromosom homolog atau
keseluruhan kromosom tidak homolog. Perbedaan satu dengan yang lain
pada sejumlah gen atau segmen kromosom yang menyebabkan sterilitas
sebagian atau seluruhnya(Stebbins, 1950 dalam Sareen, Chowdhury dan
Chowdhury, 1992).

Famili rumput-rumputan (gramineae) adalah famili terbesar dari


semua tanaman berbunga, meliputi 10.000 species. Famili ini
dikelompokan dalam 600 -700 genus yang berasal dari moyang purba
sekitar 50-70 juta tahun lalu (Kellogg, 2001; Huang et al, 2002). Famili ini
biasanya dipakai sebagai model dalam mempelajari poliploidi. Sebagian
besar tipe poliploidi dari famili gramineae yaitu autopolyploid,
allopolyploid segmental dan allopolyploid (Vandepoele, Simillion dan Van
de Peer, 2003)
Secara alami poliploidi sering lebih besar penampakan morfologi
dari spesies diploid seperti permukaan daun lebih luas, organ bunga
lebih besar, batang lebih tebal dan tanaman lebih tinggi. Fenomena ini
diistilahkan sebagai gigas atau jagur (Kuckuck et al., 1991). Populasi
poliploidi mempunyai kemampuan berkompetisi lebih baik dibanding
moyang diploid ditunjukkan dengan daerah penyebarannya yang luas
(Karmana, 1989). Menurut Poehlman dan Sleper (1995) poliploidi juga
memberi peluang untuk merubah karakter suatu tanaman melalui
perubahan jumlah genom dan kontribusi gen-gen alelik pada karakter
tertentu.
 Autopoliploid
Autopoliploid adalah sel yang mempunyai lebih dari dua
genom dimana genomnya identik atau mempunyai kromosom
homolog karena pada umumnya berasal dari satu spesies.
Autopoliploid muncul dari penggandaan kromosom yang
komplemen secara langsung. Autopoliploid dapat diinduksi artifisial
melalui perlakuan kolsisin dan dapat terjadi secara spontan, tetapi
yang terakhir ini jarang ditemukan. Menurut Vandepoele et al,
(2003) autopoliploid dapat berasal dari persilangan intraspesies
diikuti dengan penggandaan kromosom dimana gamet tidak
mengalami reduksi dan kromosomnya membentuk multivalent pada
saat miosis, dengan pewarisan yang multisomik Beberapa tanaman
yang termasuk autopoliploid alami adalah kentang, ubi jalar,
kacang tanah, alfalfa dan “orchardgrass”.
Beberapa sifat autopoliploid yang berbeda dengan diploid
adalah : (1) volume sel dan nukleus lebih besar, (2) bertambah
ukuran daun dan bunga serta batang lebih tebal, (3) terjadi
perubahan komposisi kimia meliputi peningkatan dan perubahan
karbohidrat, protein, vitamin dan alkaloid, (4) kecepatan
pertumbuhan lebih lambat dibanding diploid, menyebabkan
pembungaannya juga terlambat, (5) miosis sering tidak teratur
dengan terbentuknya multivalen sebagai penyebab sterilitas, (6)
poliploidi tidak seimbang terutama pada triploid dan pentaploid
(Sparrow, 1979). Dikatakan juga oleh Poehlman dan Sleper
(1995) bahwa autopoliploid berperan meningkatkan ukuran sel
merismatik tetapi jumlah total sel tidak bertambah. Menurut Sareen
et al. (1992) tanaman autotetraploid mempunyai bagian vegetatif
lebih besar, menyebabkan mereka lebih jagur dibanding diploidnya.
Tetapi efek ini tidak universal karena ada beberapa autotetraploid
yang mirip atau lebih lemah dibandingkan tetua diploid.
Menurut Poehlman dan Sleper (1995) tiga hal dasar sebagai
petunjuk untuk memproduksi dan memanfaatkan autoploidi dalam
program pemuliaan tanaman yaitu : (1) autoploidi cenderung
mempunyai pertumbuhan vegetatif lebih besar sedangkan biji yang
dihasilkan sedikit, sehingga lebih bermanfaat untuk pemuliaan
tanaman yang bagian vegetatifnya dipanen, (2) lebih berhasil untuk
mendapatkan autoploidi yang jagur dan fertil melalui penggandaan
diploid yang jumlah kromosom sedikit, (3) autoploidi yang berasal
dari spesies menyerbuk silang lebih baik dari pada autoploidi dari
spesies menyerbuk sendiri, sebab penyerbukan silang membantu
secara luas rekombinasi gen dan kesempatan untuk memperoleh
keseimbangan genotip pada poliploidi.

 Allopoliploid
Allopoliploid adalah keadaan sel yang mempunyai satu atau
lebih genom dari genom normal 2n =2x, dimana pasangan
kromosomnya tidak homolog. Allopoliploid terbentuk dari hibridisasi
antara spesies atau genus yang berlainan genom (hibridisasi
interspesies). Tanaman F1-nya akan steril karena tidak ada atau
hanya beberapa kromosom homolog. Bila terjadi penggandaan
kromosom spontan atau diinduksi maka tanaman menjadi fertil.
Beberapa tanaman yang termasuk alloploidi alami adalah gandum,
terigu, kapas, tembakau, tebu dan beberapa spesies kubis.
Allopoliploid ditemukan ada yang allopoliplod segmental
(sebagian kromosom homolog) menyebabkan steril sebagian, dan
allopolyploid (semua kromosom tidak homolog) menyebabkan steril
penuh. Allopoliploid segmental memiliki segmen kromosom
homologous dan homoeologus (homolog parsial) yang selama
miosis dapat terjadi bivalen dan multivalen sehingga pewarisannya
campuran disomik-polisomik (Vandepoele et al. 2003). Dikatakan
juga bahwa prototipe poliploidi dari rumput-rumputan seperti
gandum adalah allopolyploid, jagung adalah alloploidi segmental
dan padi adalah paleopoliploid.
Tujuan induksi allopoliploid adalah mengkombinasi sifat-sifat
yang diinginkan dari dua tetua diploid ke dalam satu tanaman
(Sparrow, 1979). Menurut Poehlman dan Sleper (1995) beberapa
manfaat alloploidi untuk para pemulia adalah : (1) dapat
mengidentifikasi asal genetik spesies tanaman poliploidi, (2)
menghasilkan genotip tanaman baru, (3) dapat memudahkan
transfer gen antar spesies dan (4) memudahkan transfer atau
subtitusi kromosom secara individual atau pasangan kromosom.
Para pemulia menginduksi poliploidi dengan menyilangkan
antara spesies budidaya tetraploid dengan kerabat liarnya dengan
tujuan supaya gen yang diinginkan dapat ditransfer dari spesies liar
ke kultivar budidaya (Sparrow, 1979). Menurut Poehlman dan
Sleper (1995) hampir semua kerabat liar Solanum dapat
disilangkan dengan Solanum tuberosum (interspesies) dengan
tujuan untuk mendapatkan resistensi terhadap stress abiotik
maupun biotik serta memperbaiki heterosigositas tanaman.
BAB III

ISI

A. Teknik Perakitan Menggunakan Metode Poliploidi


Poliploidisasi merupakan teknik untuk membuat penampakan
morfologi tanaman terlihat lebih besar seperti bunga dan buah lebih besar,
serta tanaman lebih tinggi. Kolkisin merupakan salah satu bahan kimia
yang dapat menginduksi keadaan poliploid pada suatu tanaman.

a. Teknik poliploidisasi dengan kolkisin


Konsentrasi larutan kolkisin yang digunakan pada
konsentrasi 0,01%; 0,05%; 0,1%; 0,5% dan 1%, ditambah control
(0%) dengan lama perendaman 3,6, 12, 24 dan 36 jam

b. Pembuatan preparat menggunakan Metode Squash


Ujung akar yang sudah diberi perlakukan kolkisin, dipotong
3-5 mm pada waktu jam pembelahan mtosis, dimasukkan dalam
botol flakon berisi 2-3 ml kolkisin dengan konsentrasi optimal dan
disimpan dalam lemari es bersuhu 5 0 C selama 2-4 jam, lalu dicuci
dengan akuades tiga kali, kemudian difiksasi dengan asam asetat
45% dan disimpan dalam lernari es bersuhu 5 0 C selama 15
menit, lalu dicuci dengan akuades tiga kali. Dilanjutkan hidrolisis
dengan asam klorida I N dalam oven bersuhu 60 0 C selama ± 3
menit, tegantung besarnya ujung akar, lalu dicuci dengan akuades
tiga kali. Diwarnai dengan aceto orcein selama 1-3 jam di suhu
kamar. Diambil 1-2 ujung akar dengan kuas diletakkan di atas
gelas benda dan dipotong hingga tersisa 1-2 mm lalu ditetesi
gliserin, ditutup dengan gelas penutup dan di-squash
(Tashiro,1984)

B. Keberhasilan Poliploidi
Keberhasilan poliploidisasi pada tanaman stroberi dilakukan dalam
2 tahap yaitu dengan menghitung jumlah kromosom dan mengukur luas
permukaan sel beserta inti sel ujung akar (Aliah dkk., 1993). Berikut
merupakan Hasil pengamatan dari ( Ganies Riza Aristya Laboratorium
Genetika, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Jl. Teknika Selatan
Sekip Utara Yogyakarta 55281 ) setelah dilakukan induksi poliploid
menggunakan mutagen kolkisin menunjukkan bahwa, antara kultivar
Festival dan Californica terdapat perbedaan konsentrasi dan waktu
optimal untuk melakukan induksi (Gambar 1 dan 2). Pada stroberi kultivar
Festival, konsentrasi optimal adalah 0,05% dalam waktu 36 jam dengan
jumlah kromosom 2n = 56 kromosom.
Sementara itu, pada stroberi kultivar Californica konsentrasi optimal
adalah 1% selama 36 jam dengan jumlah kromosom 2n = 7x = 42
kromosom. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini sesuai dengan
penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa stroberi mampu
mempunyai jumlah ploidi tetraploid dan oktoploid pada Fragaria moschata
(Bors,2002). Disamping itu, pada penelitian Bauer (1993) F.x ananassa
mampu berjumlah dekaploid dan pada penelitian Mochizuki et al. (2002)
F. Vesca mampu berjumlah dekaploid.
1. Optimalisasi induksi poliploid pada stroberi kultivar Festival
2. Optimalisasi induksi poliploidi pada stroberi kultivar Californica
C. Seleksi Massa
Seleksi massa pada pemuliaan tanaman atau seleksi individu pada
pemuliaan hewan merupakan salah satu metode seleksi yang tertua untuk
dapat memilih bahan tanam yang lebih baik pada generasi selanjutnya.

Dalam program pemuliaan tanaman, seleksi ini juga merupakan


yang metode yang paling sederhana dan banyak seorang pemulia yang
hanya mengandalkan nalurinya dalam menjalankan metode ini, walaupun
dasar ilmiah untuk pelaksanaannya sudah tersedia.

Dalam praktiknya, seorang pemulia hanya mengamati penampilan


fenotipe setiap individu dalam suatu populasi lalu memilih individu lain
yang akan dipelihara keturunannya nanti.
Praktek yang demikian juga disebut dengan seleksi massa positif.
Seleksi massa negatif atau sering disebut juga dengan roguing juga dapat
dipraktekan, terutama untuk memelihara kemurnian sifat suatu populasi
yakni individu-individu yang menyimpang dari penampilan normal yang
telah dibuang.
Kalangan pemuliaan tanaman menamakan seleksi massa
dikarenakan cara dari seleksi ini dilakukan terhadap ukuran populasi yang
sangat besar dalam pertanaman di ladang.
Kemajuan seleksi dalam seleksi massa ialah yang terbesar dari
semua metode seleksi yang ada, namun harus tetap memperhatikan
beberapa hal terpenting.
Latar belakang lingkungan harus menjadi bahan pertimbangan
dalam melakukan seleksi massa sebab seleksi didasarkan dengan
fenotipe.
Masalah lainnya ialah jika suatu sifat tidak dapat diamati langsung
pada suatu individu, seperti produksi susu per hari dari sapi pejantan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, metode seleksi berbasis kerabat perlu
diberlakukan.
Penggunaan seleksi dengan penanda atau marker-assisted
selection dapat berpotensi untuk menghilangkan masalah-masalah
tersebut.
Tujuan dari seleksi massa adalah untuk memperbaiki populasi
secara umum dengan memilih dan mencampur genotipe – genotipe
superior. Adapun beberapa kelemahan dari seleksi massa yaitu:
 Tanaman yang dipilih tidak homosigot dan akan segregrasi pada
generasi yang berikutnya.
 Hanya berguna untuk sifat-sifat dengan hertabilitas yang tinggi.
Umumnya tidak efisien jika“ ALELE “ yang akan dihilangkan
memiliki frekuensi yang rendah.
 Lebih efektif untuk sifat-sifat yang nampak sebelum pembuangan
dari sifat-sifat yang nampak setelah pembuangan.Contoh tanaman
kedelai, gandum, tembakau telah berhasil dengan menggunakan
seleksi massa.

Jika seleksi massa digunakan sebagai metode seleksi untuk tanaman


penyerbuk sendiri maka seleksi masa pun mempunyai kelemahan yang
antara lain :
 Tidak meungkin dapat mengetahui apakah tanaman yang
dikelompokkan homosigot atau heterosigot untuk suatu karakter
dominan tertentu, jadi seleksi fenotipe harus dilanjutkan untuk
generasi berikut.
 Lingkungan luar mempengaruhi penampilan tanaman sehingga
sulit untuk
mengetahui apakah tanaman yang superior menurut fenotipenya
dikarenakan faktor genetik atau lingkungan.
BAB IV

PENUTUP

Poliploidisasi merupakan teknik untuk membuat penampakan morfologi tanaman


terlihat lebih besar seperti bunga dan buah lebih besar, serta tanaman lebih tinggi.
Kolkisin merupakan salah satu bahan kimia yang dapat menginduksi keadaan poliploid
pada suatu tanaman.

Keberhasilan poliploidisasi pada tanaman stroberi dilakukan dalam 2 tahap yaitu


dengan menghitung jumlah kromosom dan mengukur luas permukaan sel beserta inti
sel ujung akar (Aliah dkk., 1993).

Hasil pengamatan dari ( Ganies Riza Aristya Laboratorium Genetika, Fakultas


Biologi Universitas Gadjah Mada Jl. Teknika Selatan Sekip Utara Yogyakarta 55281 )
setelah dilakukan induksi poliploid menggunakan mutagen kolkisin menunjukkan
bahwa, antara kultivar Festival dan Californica terdapat perbedaan konsentrasi dan
waktu optimal untuk melakukan induksi (Gambar 1 dan 2). Pada stroberi kultivar
Festival, konsentrasi optimal adalah 0,05% dalam waktu 36 jam dengan jumlah
kromosom 2n = 56 kromosom.

Sementara itu, pada stroberi kultivar Californica konsentrasi optimal adalah 1%


selama 36 jam dengan jumlah kromosom 2n = 7x = 42 kromosom. Hasil yang
didapatkan dari penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan
bahwa stroberi mampu mempunyai jumlah ploidi tetraploid dan oktoploid pada Fragaria
moschata (Bors,2002). Disamping itu, pada penelitian Bauer (1993) F.x ananassa
mampu berjumlah dekaploid dan pada penelitian Mochizuki et al. (2002) F. Vesca
mampu berjumlah dekaploid.
DAFTAR PUSTAKA

http://agroteknologi.id/pengertian-serta-kelebihan-dan-kelemahan-seleksi-massa-pada-
tanaman/

http://inovasi-genetika.biologi.ugm.ac.id/2017/06/09/teknik-poliploidisasi-stroberi-super/

http://www.academia.edu/19510896/MAKALAH_STRAWBERRY_MEGA_SINTIANI

https://www.google.com/search?safe=strict&q=MAKALAH+MERAKIT+STRAWBERRY+BERB
UAH+BESAR+UGM&spell=1&sa=X&ved=0ahUKEwiVso25q-LfAhVLabwKHU-
2AUoQBQgqKAA&biw=1366&bih=657

https://repository.ugm.ac.id/97013/