Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PENELITIAN HUKUM

“ANALISIS KRIMINOLOGIS TERHADAP PROSTISUSI


ONLINE ARTIS”

Disusun oleh :

Nama : SHINTA FEBRIANA


NIM : 031510038
Jurusan : Hukum
Kelas :A

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN (UNISLA)
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengaturan dalam KUHP yang merupakan induk hukum pidana
mengenai kegiatan prostitusi online yang menyangkut germo (pasal 296),
mucikari (pasal 506) dan perdagangan wanita (297), tidak diatur mengenai
pelacur dan pelanggannya. Indonesia merupakan salah satu negara yang
termasuk perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat.
Perkembangan teknologi tersebut banyak berdampak baik (positif) maupun
negatif. Dampak positif diantaranya adalah mempermudah melakukan suatu
pekerjaan, lebih mudah mendapatkan informasi. Namun selain dampak positif
terdapat juga banyak dampak negatifnya seperti : berbagai tindak kriminal di
dunia maya, hilangnya jati diri dan salah satunya adalah prostitusi online.
Kegiatan prostitusi online ini dapat dengan mudah dilakukan melalui media
elektronik.
Prostitusi di Indonesia disebut juga disebut juga sebagai kejahatan
asusila atau moral dan melawan hukum. Prostitusi merupakan peristiwa
penjualan yaiutu dengan memperjual belikan badan, kehormatan kepada
banyak orang untuk memperoleh suatu imbalan pembayaran.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia “prostitusi” mengandung makna suatu
kesepakatan antara lelaki dan perempuan untuk melakukan hubungan seksual,
dalam mana pihak laki-laki membayar dengan sejumlah uang kompensasi
pemenuhan kebutuhan biologis yang diberikan dari pihak perempuan, yang
biasanya dilakukan dilokalisasi, hotel dan tempat lainnya sesuai dengan
kesepakatan. Selanjutnya secara etimologis prostitusi berasal dari bahasa
inggris yaitu “Prostitute/prostitution” yang berarti pelacuran, perempuan jalang
atau hidup sebagai perempuan jalang. Dengan kata lain prostitusi adalah
praktek melakukan hubungan seksual tanpa memperdulikan emosial dan
keadaan dengan mengandalkan pada pembayaran. Dalam prostitusi terlibat 3
komponen yaitu pelaku prostitusi (pelacur), germo (mucikari) dan
pelanggan/lelaki hidung belang (client). Berikut ini adalah kasus prostitusi
online yang dilakukan oleh sejumlah artis yang terbongkar oleh pihak
kepolisisan :
- Surabaya :
Tertangkapnya dua selebritis, Vanessa Angel dan model berinisial AS,
ketika diduga tengah melayani tamu mereka di Surabaya, Jawa Timur,
memperpanjang daftar selebriti Indonesia yang disinyalir terjun kedunia
prostisusi online. Menurut polisi, Vanessa memasang tarif Rp. 80.000.000
sekali kencan, sementara AS mematok harga Rp. 25.000.000, hanya
mucikari yang menjadi sasaran. Sementara itu, Minggu (06 Januari 2019),
Polda Jatim melepas Vanessa setelah memeriksanya selama 24 jam. Ia pun
berstatus sebagai saksi dan hanya dikenai wajib lapor kepada Polda Jatim.
Pakar hukum Universitas Indonesia Eva Ahyani Djulfa menyebutkan
bahwa ketentuan hukum Indonesia memang hanya memenjarakan
mucikari. Mengenai terlibatnya artis yang berinisial VA yang dalam kasus
prostitusi daring ini melanggar hukum pasal UU ITE no. 27 ayat 1 hukum
pidana maksimal 6 tahun.
Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa semakin maraknya praktek-
praktek prostitusi online melalui media elektronik, media yang sering
digunakan dalam praktik prostitusi ini adalah whatsap, twitter, facebook dan
lain-lain. Tindakan seperti ini bisa terjadi akibat dari kebutuhan hidup yang
sulit dipenuhi.
Kitab Undang-Undang hukum pidana (KUHP) melarang mereka yang
mempunyai profesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) serta mucikari atau
pelindung PSK (pasal 296 KUHP). Mereka menjual perempuan dan laki-laki
dibawah umur untuk dijadikan pelacur/PSK (pasal 297) KUHP.
Prostitusi sebagai tindak pidana konvensional, pada dasarnya telah
diatur dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) diantaranya
sebagai berikut :
1. Pasal 296 KUHP
“Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan cabul
oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian
atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun
empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.”
2. Pasal 506 KUHP
“Barangsiapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita
dan menjadikannya sebagai pencarian, diancam dengan pidana kurungan
paling lama satu tahun.”
Seiring dangan berjalannya waktu dan teknologipun berkembangn
semakin pesat, pemerintah membuat suatu peraturan perundang-undangan
untuk dijadikan dasar untuk memberlakukan Undang-Undang ITE. Dalam
pasal 27 ayat (1) dan pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 11 tahun 2008
tentang ITE, dijelaskan bahwa :
1. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang ITE
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang
melanggar kesusilaan.”
2. Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang ITE
“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal
27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”
Walaupun sudah banyak peraturan-peraturan yang telah ada tetapi tidak
dapat mengurangi angka prostitusi online yang terjadi. Alasan para pelaku
semata-mata hanya faktor ekonomi dan tuntutan gaya hidup.
Berdasarkan latar belakang yang telah saya jelaskan tersebut, maka
penelitian ini akan saya beri judul “ANALISIS KRIMINOLOGI TERHADAP
PROSTITUSI ONLINE ARTIS”

B. Rumusan Masalah
Didalam sebuah penelitian tentunya harus ada rumusan masalah karena
dapat mempermudah dan mengarahkan ketujuan yang lebih jelas. Adapun
masalah yang akan saya bahas adalah :
1. Bagaiman proses prostitusi melalui jejaring sosial ?
2. Bagaiman upaya yang dilakukan oleh Polda Jawa Timur dalam menangani
kasus prostitusi online artis VA ?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk menjelaskan bagaimana proses prostitusi online melalui jejaring
sosial
2. Untuk mengetahui bagaimana cara menangani kasus prostitusi online artis
VA.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dibuat dengan tujuan memberikan tambahan informasi
kepada masyarakat tentang cara menangani kasus prostitusi online yang
dilakukan melalui jejaring sosial
2. Manfaat Akademis
Memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai akibat yang
ditimbulkan oleh seseorang yang melakukan prostitusi online agar nantinya
dimasa depan tidak baynak orang yang terjerumus dengan bisnis haram
tersebut.

E. Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data-data yang telah saya jelaskan tersebut, saya
menggunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Metode Pendekatan
Dalam penelitian hukum, penelitian ini termasuk penelitian yuridis
sosiologis karena penelitian ini mengungkapkan hukum yang tengah hidup
ditengah-tengah masyarakat (law in action). Serta data skunder yang saya
peroleh dari Tribun News Jawa Timur. Dengan tujuan untuk meneliti suatu
masalah, fakta-fakta yang ada bahkan mencari solusi untuk menuntaskan
masalah tersebut. Secara sosiologis yaitu pendekatan yang dilakukan
dengan menghubungkan kenyataan yang ada dalam praktek dan aspek
hukum yang digunakan untuk menuntaskan masalah tersebut.
2. Sumber Data
Data sekunder yaitu pelengkap yang diperoleh dari laporan-laporan,
website, dokumen-dokumen maupun berita-berita yang ada ditelevisi.
3. Metode Pengumpulan Data
Studi Pustaka
Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data yang tidak
langsung ditunjukkan pada subyek penelitian dalam hal data diperoleh dari
peraturan perundang-undang, literatur-literatur dan internet.
4. Teknik Analisa Data
Yaitu menganalisis data skunder yang diperoleh dengan jelas dan
terperinci.

F. Sistematika Penulisan
Pada proposal penelitian ini, terbagi menjadi dua BAB, yang setiap
BAB-nya terbagi menjdai sub-sub, sistematikanya adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab 1 ini berisi tentang hal-hal yang melatar belakangi kasus
prostitusi online. Membahas tentang bagaiman kasus prostitusi
online dan cara/upaya untuk menangani kasus prostitusi online yang
dilakukan Polda Jawa Timur yang terdiri dari latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode
penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA/KAJIAN TEORI
Dalam bab II ini berisi tentang penjelasan berbagai teori-teori
hukum yang berhubungan dengan kasus prostitusi online melalui
jejaring sosial dan cara/upaya Polda Jatim dalam menuntaskan kasus
tersebut.
BAB III DAFTAR PUSTAKA
Dalam bab III ini berisi menganai sumber-sumber yang diperoleh
untuk mendukung kejelasan penelitian hukum tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Krimonologi
- Kriminolodi merupakan salah satu ilmu sosial yang terus menerus
mengenai perkembangan dan peningkatan. Kriminologi berasal dari 2 kata
yaitu kata “crime” yang memiliki arti kejahatan dan kata “logos” yang
memiliki arti ilmu pengetahuan. Dengan demikian maka tidak heran jika
kriminologi bisa diartikan sebagai sebuah kajian mengenai kejahatan.
- Ruang lingkup kriminologi
Menurut Romli Antasmita dalam arti sempit kriminologi mengenai
kejahatan. Yaitu mempelajari bentuk contoh perilaku kriminal tertentu.
Walters C. Recless didalam bukunya The Crime Problem, berpendapat jika
kriminologi memiliki 10 ruang lingkup “
a. Sebuah ilmu yang mempelajari tentang kejahatan.
b. Ilmu yang mempelajari perkembangan serta perubahan hukum pidana
c. Mempelajari keadaan penjahat.
d. Mempelajari daerah-daerah yang berhubungan dengan tindak
kejahatan.
e. Memberikan secara jelas faktor penyebab kejahatan

B. Kejahatan
Kejahatan adalah setiap tingkah laku manusia yang melanggar aturan
hukum pidana.
Unsur-unsur kejahatan :
a. Ada perbuatan
b. Harus diatur dalam kitan UU Hukum Pidana
c. Ada niat jahat (maksud)
d. Ada peleburan antara perbuatan dan niat
e. Harus ada perbauran antara kerugian dengan yang diatur dalam kitab UU
Hukum Pidana
f. Ada sanksi yang mengikat
C. Prostitusi
Prostitusi adalah pekerja yang bersifat menyerahkan diri atau menjual
jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan
mendapatkan upah sesuai dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya.
Seseorang yang menjual jasa pelacuran disebut pelacur atau biasa disebut
Pekerja Seks Komersial (PSK). Kegiatan prostitusi adalah sebuah kegiatan
yang patut ditabukan, karena secara moral dianggap bertentangan dengan nilai
agama dan kesusialaan.
- Motif-motif yang melatar belakangi pelacuran pada wanita adalah :
a. Untuk menghindarkan diri dari jalan pendek, kurang pengertian dan
kurang pendidikan.
b. Ada nafsu-nafsu seks abnormal
c. Tekanan ekonomi
d. Gaya hidup
e. Bujuk rayu untuk dijanjikan suatu pekerjaan
- Prostitusi dalam hukum pidana
Diatur dalam pasal 296, 297 dan 506
- Prostitusi dalam hukum islam
Dalam hukum islam pelcauran merupakan perbuatan zina

D. Teori Upaya Penanggulangan


Penanggulangan kejahatan empirik terdiri dari tiga pokok yaitu :
1. Pre-Emtif
Artinya yaitu upaya awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian untuk
mencegah terjadinya tindak pidana, cara pencegahan ini berasal dari teori
NKK, yaitu niat + kesempatan terjadi kejahatan.
2. Preventid
Merupakan tindakan dari upaya pre-emtif yang masih dalam tataran
pencegahan sebelum terjadinya kejahatan. Dalam upaya preventif yang
ditekankan adalah menghilangkan kesempatan untuk dilakukan kejahatan.
3. Represif
Upaya dilakukan pada saat telah terjadi tindak pidana/kejahatan yang
tindakannnya berupa penegakan hukum (law enforcement) dengan
menjatuhkan hukumam.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

W.J.S Poerwadarminto 1990.KBI. Jakarta, Penerbit Balai Pustaka. Hal. 351


Topo Santoso.1997.Seksualitas dan Hukum Pidana. Jakarta.Ind-Hill-Co.Hal.134
UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE
http://surabaya.tribunnews.com/2019/01/16/breaking-news-vanessa-angel-
tersangka-terancam-hukuman-maksimal-6-tahun-penjara