Anda di halaman 1dari 11

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terbakarnya Kapal KM Dharma Kencana II ketika berlayar menuju Pelabuhan


Pontianak dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pada minggu 29 Oktober
2017 menjadi catatan kelamnya transportasi laut di indonesia.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, tentunya
sangat mengandalkan transportasi laut sebagai salah satu sarana untuk
memudahkan masyarakat dalam melakukan perjalanan antar pulau.

Kapal sebagai sarana angkutan laut antar pulau yang banyak diminati
masyarakat, memiliki resiko kecelakaan yang cukup tinggi. Tingginya kasus
kecelakaan laut di Indonesia harus menjadi perhatian seluruh pihak, bukan hanya
pemilik kapal, melainkan juga pemerintah, instansi terkait dan masyarakat.

Untuk memudahkan proses evakuasi pada korban kecelakaan tersebut, alat-


alat keselamatan seperti pelampung penolong (life buoy) sangat dibutuhkan.
kondisi yang terjadi sekarang pada pelampung penolong (life buoy) saat
digunakan pengoperasaiannya tidak dapat menjangkau korban yang jaraknya
cukup jauh dari kapal yang melakukan evakuasi.

Hal ini menjadi masalah besar ketika terdapat korban yang dalam kondisi jauh
dari kapal yang melakukan evakuasi hendak membutuhkan pertolongan namun
tidak dapat menjangkau pelampung penolong (life buoy) tersebut akibat kehabisan
tenaga atau korban tidak dapat berenang.

Melihat permasalahan tersebut dalam proposal ini akan memberikan solusi


dengan memodifikasai alat pelampung penolong (life buoy) dengan tambahan alat
penggerak yang digunakan untuk menjangkau para korban kecelakaan kapal pada
posisi jauh dari kapal yang melakukan evakuasi dan sangat membutuhkan
pertolongan agar korban tersebut dapat segera diselamatkan.

1.2 Perumusan Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini diperlukan


beberapa hal yang harus dirumuskan diantaranya:
1. Bagaimana modifikasi pelampung penolong (life buoy) tersebut dengan
penambahan motor penggerak ?
2. Bagaimana sistem kerja pelampung penolong (life buoy) dengan sistem
kontrol tersebut, sehingga dapat menjangkau korban ?
2

1.3 Tujuan Khusus


Adapun tujuan utama dilakukannya penelitian ini antara lain:
1. Membuat pelampung penolong (life bouy) dapat di kontrol jarak jauh
dengan melakukan modifikasi penambahan motor penggerak.

1.4 Urgensi (Keutamaan) Penelitian.


1. Dengena penelitian ini diharapkan Life bouy ini dapat menolong korban
dengan jarak yang jauh dari jangkauan tim evakuasi atau penolong.

1.5 Kontribusi Terhadap Keilmuan


Dikarnakan kami berasal dari jurusan teknik perkapalan pelampung penolong
(life bouy) merupakan syarat laik laut suatu kapal apabila ingin berlayar. dengan
penambahan motor penggerak terhadap life bouy menambah pengetahuan kami
mengenai memodifikasi life bouy dengan alat penggerak Water Jet dan sistem
remote control.

1.6 Luaran
1. Membuat modifikasi alat pada pelampung penolong (life bouy) berupa
motor penggerak menggunakan kontrol jarak jauh untuk memudahkan
proses evakuasi korban kecelakaan dan jatuh ke laut.

1.7 Manfaat
1. Untuk memudahkan tim yang melakukan evakuasi pada korban yang
membutuhkan pertolongan kecelakaan kapal dengan sesegera mungkin.
2. Dapat mengurangi korban jiwa jika terjadi kecelakaan kapal.
3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pelampung Keselamatan (life bouy)

Fungsi dari life buoy adalah sebagai alat apung untuk menolong apabila ada
korban jatuh ke laut (person over board). Ditempatkan sedemikian rupa di kedua
sisi kapal dan sepanjang sisi geladak terbuka dan paling kurang satu
buah ditempatkan di lokasi yang gampang terlihat diburitan kapal. Penempatan
sedemikian rupa sehingga mudah untuk digunakan.

Untuk pengoperasian pelampung penolong (Life buoy) pada saat ingin


digunakan pelampung dilempar sedekat mungkin ke orang yang jatuh itu dan
perhatikan sampai orang tersebut dapat meraihnya dan memakainya, yaitu dengan
cara pelampung dipegang kemudian dibalik atau memutar untuk selanjutnya
melingkar ke badan di bawah ketiak.

Dengan adanya pelampung penolong (life bouy) yang memiliki alat


penggerak seperti pada penelitian ini diharapkan dapat menolong korban-korban
yang jatuh kelaut agar sesegera mungkin dapat diselamatkan.

2.2 Standart solas mengenai pelampung keselamatan (life bouy)

SOLAS 1960 menentukan persyaratan Life Bouy sebagai berikut :

 Dengan beban sekurang-kurangnya 14,5 kg harus dapat terapung di dalam


air tawar selama 24 jam.
 Tahan terhadap pengaruh minyak dan hasil-hasil minyak.
 Harus mempunyai warna yang mudah dilihat dilaut.
 Nama dari kapal ditulis dengan huruf besar.
 Dilengkapi dengan tali-tali pegangan yang diikat baik-baik keliling
pelampung.
 Untuk kapal penumpang setengah dari jumlah pelampung penolong tetapi
tidak kurang dari 6 buah, untuk kapal barang sedikitnya setengah dari
jumlah pelampung penolong harus dilengkapi dengan lampu yang
menyala secara otomatis dan tidak mati oleh air. Harus menyala sekurang-
kurangnya 45 menit dan mempunyai kekuatan nyala/cahaya sekurang-
kurangnya 3,5 lumens.
 Ditempatkan sedemikian rupa sehingga siap untk dipakai dan cepat
tercapai tempatnya oleh setiap orang yang ada dikapal. Dua diantaranya
dilengkapi dengan lampu yang menyala secara otomatis pada malam hari
dan mengelarkan asap secara otomatis pada waktu siang hari.
4

 Cepat dapat dilepaskan, tak boleh diikat secara tetap dan cepat pula
dilemparkan dari anjungan ke air.
2.2.1 Life Bouy ring

Gambar 2.1 life bouy ring


Sumber:http://norwestmarine.co.uk/index.php/lifebuoy-ring.html

Spesifikasi life bouy ring


 lifebuoy ring with retro reflective tape & grab loop
 30" daiameter
 Available in 2.5 kg & 4 kg
 Maximum stowage height : 50M

2.2.2 Life Bouy Horseshoes

Gambar 2.2 life bouy Horseshoes


Sumber:http://www.planbsafety.com/mob-equipment/136-baltic-
horseshoe-lifebuoy.html

2.3 Water jet


Water jet merupakan salah satu sistem penggerak yang diaplikasikan pada
kapal, dimana memiliki prinsip kerja berupa mengambil air yang nantinya masuk
kedalam putaran jet/turbin untuk dihembuskan/dilemparkan kembali keluar, yang
nantinya akan menjadi daya dorong kapal. aplikasi dari sistem propulsi water jet
ini sering dijumpai terutama untuk kapal-kapal yang dirancang berkecepatan
tinggi, karena berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilaksanakan
menunjukkan bahwa sistem propulsi water jet memiliki beberapa keuntungan
yang tidak ada kaitannya dengan efisiensi propulsifnya.
5

Prinsip reaksi menyatakan bahwa setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang
sama besarnya tetapi berlawanan arahnya. Contoh-contoh pada prinsip reaksi
sudah banyak di kenal, misalnya jika kita menembak dengan senapan maka akan
ada reaksi dari senapan yaitu berupa gaya dorong ke belakang. Penerapan prinsip
reaksi hanya berbeda pada metode–metode dan mekanisme–mekanisme yang
digunakan untuk menghasilkan suatu aksi gerakan.
Pada penelitian ini Water Jet dipalikasikan terhadap pelampung penolong
(life bouy) yang akan mempermudah pada saat evakuasi korban kecelakaan kapal
atau korban yang jatuh kelaut.

Gambar 2.2 Water jet


Sumber:https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/mainan/remote-
control/c21aio-jual-terlaris-water-spray-nqd-7576024-rc-boat-turbo-jet-with-390-
motors?search%5Bkeywords%5D=water%20jet%20rc%20boat&from=omnisearc

2.4 Sistim Kontrol Jarak Jauh

remote control adalah alat pengendali jarak jauh yang berfungsi untuk
mengendalikan sebuah benda(biasanya memiliki komponen elektronik). Benda
yang dikendalikan tersebut kemudian akan memberikan respon sesuai jenis
instruksi yang diberikannya. Instruksi diberikan dengan cara menekan tombol
yang sesuai pada remote control. Sejarah mencatat bahwa pada masa awal
pengembangannya penerapan remote control sempat digunakan oleh pasukan
Jerman untuk menggerakan kapal-kapal lautnya dari jarak jauh untuk ditabrakan
ke kapal perang pasukan sekutu pada Perang Dunia I.

Gambar 2.4 remote control


Sumber:https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/mainan/remote-
control/7iqrxz-jual-remote-pesawat-rc-drone-aeromodelling-devo-
7?search%5Bkeywords%5D=remote%20drone&from=omnisearch
6

2.5 Mat dan WR


Mat adalah bahan baku untuk membuat fiberglass yang memiliki bentuk
fisik berupa anyaman yang mirip dengan kain dan memiliki beberapa model,
mulai dari model anyaman yang cukup halus sampai dengan model anyaman
kasar atau besar serta jarang-jarang. Bahan ini memiliki fungsi untuk pelapis
campuran adonan dasar dari fiberglass. Jadi ketika semua bahan kimia dicampur
dan bersenyawa serta mengeras, bahan ini berfungsi sebagai pengikat semua
bahan tersebut.

Gambar 2.5 WR
https://www.google.com/search?q=gambar+ma

2.5 Resin
Resin adalah bahan baku untuk membuat fiberglass yang berupa cairan
kental seperti lem dan ada yang memiliki warna hitam serta ada juga yang
berwarna bening. Bahan ini memiliki fungsi untuk mengeraskan atau membuat
keras seluruh bahan yang dicampur.

Gambar 2.6 WR
https://www.google.com/search?q=gambar+resin&safe=strict&client
7

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian harus menjelaskan secara utuh tahapan penelitian yang


akan dilaksanakan, luaran, indikataor capaian yan gterukur disetiap tahapan,
tekinik pengumpulan data dan analisa data, cara penafsiran, dan penyimpulan
hasil penelitian. Langkah-langkahnya antara lain:

3.1 Studi literatur

Studi Literatur adalah cara untuk menyelesaikan persoalan dengan menelusuri


sumber-sumber tulisan yang pernah dibuat sebelumnya yaitu penelitian yang
berkaitan dengan pelampung keselamatan (life bouy). Dengan kata lain, istilah
Studi Literatur ini juga sangat familier dengan sebutan studi pustaka. Dalam
sebuah penelitian yang hendak dijalankan, tentu saja seorang peneliti harus
memiliki wawasan yang luas terkait objek yang akan diteliti.

3.2 Pengumpulan data

a. Pengumpulan data primer meliputi, data-data yang diperoleh dari buku,


artikel, jurnal dan lain-lain yang mencakup tentang memodifikasai pelampung
penolong (life bouy) dengan menggunakan alat penggerak. Mencari ukuran
dan bentuk pelampung penolong (life bouy) berdasarkan solas.....
b. Pengumpulan data sekunder meliputi, pengamatan, wawancara dan lain-
lain. Melakukan pengamatan bentuk life bouy yang ada saat ini dan mencari
pengembangan yang lebih variatif lagi.

3.3 Modifikasi alat

Dalam penelitian ini modifikasi alat dilakukan berupa penambahan alat


penggerak berupa Water jet terhadap pelampung penolong (life bouy). Dengan
bantuan alat penggerak tersebut pelampung penolong (life bouy) dapat di control
dari jarak jauh untuk memberikan pertolongan terhadap korban sesegera mungkin.

a. Melakukan desain modifikasi life bouy dengan menggunakan Software


Auto Cad.
b. Pembuatan life bouy dari bahan fiberglass.
a. pembuatan cetakan
b. pengecoran dan
c. tahap penyelesaian
c. Pemasangan motor listrik dengan water jet
Pemasangan motor listrik pelampung ini berfungsi sebagai penggerak life
bouy. sistim gerak life bouy ini menggunakan water jet atau dengan
semprotan air. Sistim water jet dihasilkan dari motor listrik yang
8

digerakkan oleh batrai berjenis lipo. Motor listrik yang digunakan


berjumlah dua yang terletak di kanan kiri pelampung penolong (life bouy).

baterai

motor

Water Jet

Gambar 3.1 Modifikasi Life Bouy dengan tambahan Motor Penggerak.


Sumber : Desain Mandiri

3.4 Percobaan

Percobaan dilakukan untuk mengetahui apakah pelampung penolong (life


bouy) yang sudah dimodifikasi dengan penambahan alat penggerak dapat di
kontrol dari jarak jauh dan beroperasi dengan normal dan sesuai harapan. dengan
demikian apabila pelampung penolong (life bouy) telas lolos percobaan maka
pelampung penolong (life bouy) siap digunakan untuk mengevakuasi para korban
kecelakaan dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan di laut.

3.5 Laporan

Pembuatan laporan setelah percobaan dilakukan agar dapat mengetahui


kelebihan dan kekurangan dari pembuatan modifikasi alat penggerak terhadap
pelampung,dan melaporkan hasil dari penelitian tersebut.

3.6 Publikasi

Publikasi yang dilakukan yaitu melakukan seminar kepada pihak kampus


yang bertujuan agar mahasiswa lain mengetahui dan mendapat ilmu yang saya
dapati selama pembuatan pkm ini.

3.7 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Peranan pelampung penolong (life bouy) sangat penting sebagai alat
keselamatan dikapal terutama saat penumpang atau orang yang
membutuhkan pertolongan pada saat terjadi kecelakaan kapal.
9

b. Dengan adanya alat penggerak pada pelampung penolong (life bouy) dapat
memudahkan proses evakuasi terhadap korban yang jatuh kelaut agar
sesegera mungkin dapat ditolong.

3.8 Flow Chart

Berikut ini adalah tahapan penelitian yang akan dilakukan seperti yang
terlihat pada Flow Chart dibawah ini.

Star

Studi literatur

Pengumpulan data

Modifikasi alat Penambahan motor listrik

Tidak Ya

Percobaan

Laporan

Publikasi

Kesimpulan

Selesai
10

BAB 4

BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya


Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1 Peralatan penunjang Rp.1.000.000
2 Komponen yang dibutuhkan Rp.8.500.000
3 Lain-lain Rp.2.000.000
Jumlah Rp.11.500.000

4.2 Jadwal Kegiatan

Dalam melakukan penelitian membutuhkan waktu lebih kurang 5 bulan.


Berikut ini adalah waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian dalam
bentuk Bar chart:

Tabel 4.2 Jadwal kegiatan

No Jenis kegiatan Bulan


1 2 3 4 5
1 Studi literatur
2 Pengumpulan data
3 Modifikasi alat
4 Percobaan
5 Laporan
6 Publikasi
7 Seminar
11

DAFTAR PUSTAKA

1. Taufik Budi, 29 oktober 2017,Kapal dharma kencana terbakar, ratusan


penumpang selamat,
https://daerah.sindonews.com/read/1252624/22/kapal-dharma-kencana-ii-
terbakar-ratusan-penumpang-selamat-1509256308
2. Mohamad wahyudin, juli 23, 2010, pelampung penolong (life bouy)
http://kapal-cargo.blogspot.co.id/2010/07/pelampung-penolong-life-
buoy.html