Anda di halaman 1dari 15

Pemburu Jejak

Kamis, 30 Mei 2013

Makalah Jual Beli Salam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Diantara bukti kesempurnaan agama Islam ialah dibolehkannya jual beli dengan cara
salam, yaitu akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati dan dengan
pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan. Yang demikian itu, dikarenakan dengan akad
ini kedua belah pihak mendapatkan keuntungan tanpa ada unsur tipu-menipu
atau gharar (untung-untungan).

Pembeli (biasanya) mendapatkan keuntungan berupa jaminan untuk mendapatkan


barang sesuai dengan yang ia butuhkan dan pada waktu yang ia inginkan.Sebagaimana ia
juga mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan
pembelian pada saat ia membutuhkan kepada barang tersebut.Sedangkan penjual juga
mendapatkan keuntungan yang tidak kalah besar dibanding pembeli, diantaranya penjual
mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia
dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga.

Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat menggunakan uang
pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya dan mencari keuntungan sebanyak-
banyaknya tanpa ada kewajiban apapun.Penjual memiliki keleluasaan dalam memenuhi
permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang
pesanan berjarak cukup lama.

Jual-beli dengan cara salam merupakan solusi tepat yang ditawarkan oleh Islam guna
menghindari riba. Dan mungkin ini merupakan salah satu hikmah disebutkannya syari'at jual-
beli salam sesuai larangan memakan riba.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan bai’ as-Salam dan bagaimana konsep aplikasinya dalam
kehidupan bermuamalat.

2. Apa yang dimaksud dengan salam paraleldan bagaimana konsep aplikasinya dalam
kehidupan bermuamalat.

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui bai’ as-Salam dan konsep aplikasinya dalam kehidupan bermuamalat.

2. Mengetahui salam paraleldan konsep aplikasinya dalam kehidupan bermuamalat.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BAI’ AS-SALAM

Secara bahasa, salam (‫)سلم‬ adalah al-i'tha'(‫)اإلعطاء‬dan at-


taslif (‫)التسليف‬. Keduanya bermakna pemberian.[1]Ungkapan aslama ats tsauba lil al-
khayyathbermakna : dia telah menyerahkan baju kepada penjahit.[2]

Sedangkan secara istilah syariah, akad salam sering didefinisikan oleh para fuqaha
secara umumnya menjadi: (‫)بيع موصوف في الذمة ببدل يعطى عاجال‬. Jual-beli barang yang
disebutkan sifatnya dalam tanggungan dengan imbalan (pembayaran) yang dilakukan saat
itu juga.

Penduduk Hijaz mengungkapkan akad pemesanan barang dengan istilah salam,


sedangkan penduduk Irak menyebutnya Salaf.

Jual beli salam adalah suatu benda yang disebutkan sifatnya dalam tanggungan atau
memberi uang didepan secara tunai, barangnya diserahkan kemudian/ untuk waktu yang
ditentukan. Menurut ulama syafi’iyyah akad salam boleh ditangguhkan hingga waktu tertentu
dan juga boleh diserahkan secara tunai.[3]
Secara lebih rinci salam didefenisikan dengan bentuk jual beli dengan pembayaran
dimuka dan penyerahan barang di kemudian hari (advanced payment atauforward
buying atau future sale) dengan harga, spesifikasi, jumlah, kualitas, tanggal dan tempat
penyerahan yang jelas, serta disepakati sebelumnya dalam perjanjian.[4]

Fuqaha menamakan jual beli ini dengan “penjualan Butuh” (Bai’ Al-Muhawij). Sebab
ini adalah penjualan yang barangnya tidak ada, dan didorong oleh adanya kebutuhan
mendesak pada masing-masing penjual dan pembeli. Pemilik modal membutuhkan untuk
membeli barang, sedangkan pemilik barang butuh kepada uang dari harga
barang.[5]Berdasarkan ketentuan-ketentuannya, penjual bisa mendapatkan pembiayaan
terhadap penjualan produk sebelum produk tersebut benar-benar tersedia.[6]

B. LANDASAN SYARIAH

Landasan syariah transaksi bai’ as-Salam terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadist.

a. Al-Quran

282. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[7] tidak secara tunai
untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.[8]

Dan utang secara umum meliputi utang-piutang dalam jual beli salam,dan utang-piutang
dalam jual beli lainnya. Ibnu Abbas telah menafsirkan tentang utang-piutang dalam jual beli
salam.[9]

Dalam kaitan ayat di atas Ibnu Abbas menjelaskan keterkaitan ayat tersebut dengan
transaksi bai’ as-Salam, hal ini tampak jelas dari ungkapan beliau: “Saya bersaksi bahwa
salam (salaf) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah pada
kitab-Nya dan diizinkan-Nya.” Ia lalu membaca ayat tersebut.[10]

b. Al-Hadist
‫س َن َة‬
َّ ‫س ِلفُونَ فِي اَلثِ َم ِار اَل‬ْ ُ‫ َو ُه ْم ي‬,َ‫ قَ ِد َم اَلنَّبِ ُّي صلى هللا عليه وسلم ا َ ْل َمدِينَة‬:َ‫ َقال‬-‫ع ْن ُه َما‬ َّ َ ‫ َر ِض َي‬- ‫اس‬
َ ُ‫ّللَا‬ ٍ َّ‫عب‬
َ ‫ع َِن اِب ِْن‬
.‫علَ ْي ِه‬
َ ‫ق‬ ٌ َ‫وم ) ُمتَّف‬ ٍ ُ‫ إِلَى أ َ َج ٍل َم ْعل‬,‫وم‬ٍ ُ‫ َو َو ْز ٍن َم ْعل‬,‫وم‬
ٍ ُ‫ف فِي َك ْي ٍل َم ْعل‬ ْ ُ‫ف ِفي ت َ ْم ٍر فَ ْلي‬
ْ ‫س ِل‬ ْ َ ‫ ( َم ْن أ‬:َ‫ َفقَال‬,‫سنَتَي ِْن‬
َ َ‫سل‬ َّ ‫َوال‬
ْ َ ‫ َم ْن أ‬:ِ‫َو ِل ْلبُ َخ ِاري‬
َ َ‫سل‬
ٍ‫ف فِي ش َْيء‬

Ibnu Abbas berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan
penduduknya biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun. Lalu beliau
bersabda: "Barangsiapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya dalam
takaran, timbangan, dan masa tertentu." Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Bukhari:
"Barangsiapa meminjamkan sesuatu."[11]
‫ّللَاِ صلى هللا‬ َّ َ ‫سو ِل‬ ُ ‫( ُكنَّا نُ ِص‬:‫ قَ َاَل‬-‫ع ْن ُه َما‬
ُ ‫يب ا َ ْل َمغَانِ َم َم َع َر‬ َّ َ ‫ َر ِض َي‬- ‫ّللَاِ ب ِْن أَ ِبي أَ ْوفَى‬
َ ُ‫ّللَا‬ َّ َ ‫ع ْب ِد‬َ ‫ َو‬،‫لرحْ َم ِن ب ِْن أَب َْزى‬ َّ َ ‫ع ْب ِد ا‬
َ ‫َوع َْن‬
‫ ِإ َلى أَ َج ٍل‬- ‫ت‬ َّ ‫ َو‬:ٍ‫ َو ِفي ِر َوا َية‬- ‫ب‬
ِ ‫الز ْي‬ َّ ‫ير َو‬
ِ ‫الز ِبي‬ ِ ‫ش ِع‬ ِ ‫ط ِم ْن أ َ ْن َب‬
ْ ُ‫ َفن‬,‫اط اَلش َِّام‬
َّ ‫س ِلفُ ُه ْم ِفي اَ ْل ِح ْن َط ِة َوال‬ ٌ ‫عليه وسلم َوكَانَ َيأ ْ ِتي َنا أ َ ْن َبا‬

ُّ ‫سأَلُ ُه ْم ع َْن ذَ ِلك) َر َواهُ ا َ ْلبُ َخ ِار‬


‫ي‬ ْ َ‫ َما ُكنَّا ن‬:‫ أَكَانَ لَ ُه ْم َز ْرعٌ? َق َاَل‬:َ‫ قِيل‬.‫س ًّمى‬
َ ‫ُم‬

Abdurrahman Ibnu Abza dan Abdullah Ibnu Aufa Radliyallaahu 'anhu berkata: Kami
menerima harta rampasan bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Dan
datanglah beberapa petani dari Syam, lalu kami beri pinjaman kepada mereka berupa
gandum, sya'ir, dan anggur kering -dalam suatu riwayat- dan minyak untuk suatu masa
tertentu. Ada orang bertanya: Apakah mereka mempunyai tanaman? Kedua perawi
menjawab: Kami tidak menanyakan hal itu kepada mereka. (HR. Bukhari).[12]

Abdullah bin Abu Mujalid r.a. berkata, Abdullah bin Syadad bin Haad pernah berbeda
pendapat dengan Abu Burdah tentang salaf. Lalu mereka utus saya kepada Ibnu Abi
Aufa.Lantas saya tanyakan kepadabya perihal iti.Jawabnya.‘Sesungguhnya pada masa
Rasulullah Saw., pada masa Abu Bakar, pada masa Umar, kami pernah mensalafkan
gandum, sya’ir, buah anggur, dan kurma. Dan saya pernah pula bertanya kepada Ibnu Abza,
jawabnya pun seperti itu juga.(Bukhari).[13]

Dari berbagai landasan di atas, jelaslah bahwa akad salamdiperbolehkan sebagai


kegiatan bemuamalah sesama manusia.

C. RUKUN BAI’ AS-SALAM


Pelaksanaan bai’ as-Salam harus memenuhi sejumlah rukun sebagai berikut[14]:
1. Muslam (pembeli) adalah pihak yang membutuhkan dan memesan barang.
2. Muslam ilaih (penjual) adalah pihak yang memasok barang pesanan.
3. Modal atau uang. Ada pula yang menyebut harga (tsaman).
4. Muslan fiih adalah barang yang dijual belikan.
5. Shigat adalah ijab dan qabul.

D. SYARAT JUAL BELI SALAM


Syarat-syarat sahnya jual beli salam adalah sebagai berikut:[15]
1. Pihak-pihak yang berakad disyaratkan dewasa, berakal, dan baligh.
2. Barang yang dijadikan obyek akad disyaratkan jelas jenis, ciri-ciri, dan ukurannya.
3. Modal atau uang disyaratkan harus jelas dan terukur serta dibayarkan seluruhnya ketika
berlangsungnya akad. Menurut kebanyakan fuqaha, pembayaran tersebut harus dilakukan di
tempat akad supaya tidak menjadi piutang penjual. Untuk menghindari praktek riba melalui
mekanisme Salam.pembayarannya tidak bisa dalam bentuk pembebasan utang penjual.
4. Ijab dan qabul harus diungkapkan dengan jelas, sejalan, dan tidak terpisah oleh hal-hal yang
dapat memalingkan keduanya dari maksud akad.

Para imam mazhab telah bersepakat bahwasanya jual beli salam adalah benar dengan
enam syarat yaitu jenis barangnya diketahui, sifat barangnya diketahui, banyaknya barang
diketahui, waktunya diketahui oleh kedua belah pihak, mengetahui kadar uangnya, jelas
tempat penyerahannya.[16]

Namun Imam Syafi’i menambahkan bahwa akad salam yang sah harus memenui syarat
in’iqad, syarat sah, dan syarat muslam fiih.
1. Syarat-syarat In’iqad

a. Pertama, menyatakan shigat ijab dan qabul, dengan sighat yang telah disebutkan.
b. Kedua, pihak yang mengadakan akad cakap dalam membelanjakan harta. Artinya dia telah
baligh dan berakal karena jual beli salam merupakan transaksi harta benda, yang hanya sah
dilakukan oleh orang yang cakap membelanjakan harta, sepertihalnya akad jual beli.

2. Syarat Sah Salam


a. Pertama, pembayaran dilakukan di majelis akad sebelum akad disepakati, mengingat
kesepakatan dua pihak sama dengan perpisahan. Alasannya, andaikan pembayaran salam
ditangguhkan,terjadilah transaksi yang mirip dengan jual beli utang dan piutang, jikaharga
berada dalam tanggungan. Disamping itu akad salam mengandung gharar.
b. Kedua, pihak pemesan secara khusus berhak menentukan tempat penyerahan barang
pesanan, jika dia membayar ongkos kirim barang. Jika tidak maka pemesan tidak berhak
menentukan tempat penyerahan. Apabila penerima pesanan harus menyerahkan barang itu di
suatu tempat yang tidak layak dijadikan sebagai tempat penyerahan. misalnya gurun sahara,,
atau layak dijadikan tempat penyerahan barang tetapi perlu biaya pengangkutan, akad salam
hukumnya tidak sah.

3. Syarat Muslam Fiih (barang pesanan)


Ada empat syarat yang harus dipenuhi dalam barang pesanan, yaitu sebagai berikut:
a. Pertama, barang pesanan harus jelas jenis, bentuk, kadar, dan sifatnya. Ia dapat diukur
dengan karakteristik tertentu yang membedakannya dengan barang lain dan
tentu mempunyai fungsi yang berbeda pula seperti beras tipe 101, gandum,jagung putih,
jagung kuning dan jenis barang lainnya. Barang seperti lukisan berharga dan barang-barang
langka tidak dapat dijadikan barang jual beli salam. Penyebutan karakteristik tersebut sangat
perlu dilakukan untuk menghindari ketidakjelasan barang pesanan.
b. Kedua, barang pesanan dapat diketahui kadarnya baik berdasarkan takaran, timbangan,
hitungan perbiji, atau ukuran panjang dengan satuan yang dapat diketahui. Disyaratkan
menggunakan timbangan dalam pemesanan buah-buahan yang tidak dapat diukur dengan
takaran.
‘Abdullah ibn Mas‘ud melarang adanya kontrak salam pada binatang. Tetapi ‘Abdullah ibn
‘Umar membolehkannya jikapembayaran ditentukan pada waktu yang telah disepakati.Hal ini
menunjukkan bahwa para sahabat terus mengizinkan praktek penjualan di muka.[17]
c. Ketiga, barang pesanan harus berupa utang (sesuatu yang menjadi tanggungan).
d. Keempat, barang pesanan dapat diserahkan begitu jatuh tempo penyerahan. Barang yang
sulit diserahkan tidak boleh diperjual belikan, karena itu dilarang alam akad salam.[18]
Hal-hal lain yang terkait dengan transaksi salam dapat diuraikan sebagai berikut:[19]
Ketentuan Pembiayaan Bai as-Salam sesuai dengan Fatwa No.05/1 DSN-MUI/IV/2000
Tanggal 1 April 2000.

a) Ketentuan Pembayaran Uang Kas:


i. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang,
atau manfaat;
ii. Dilakukan saat kontrak disepakati (inadvance); dan
iii. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk ibra’ (pembebasan utang). contoh
pembeli mengatakan kepada petani (penjual) “Saya beli padi Anda sebanyak 1 ton dengan
harga Rp 10 juta yang pembayarannya/uangnya adalah Anda saya bebaskan membayar utang
Anda yang dahulu (sebesar Rp 2 juta)”. Pada kasus ini petani memang memiliki utang yang
belum terbayar kepada pembeli, sebelum terjadinya akad salam tersebut.

b) Ketentuan Barang:
i. Harus jelas ciri-cirinya/spesifikasi dan dapat diakui sebagai utang;
ii. Penyerahan dilakukan kemudian;
iii. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan ber- dasarkan
kesepakatan;
iv. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum barang tersebut diterimanya
(qabadh). Ini prinsip dasar jual beli; dan
v. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.

c) Penyerahan Barang sebelum Tepat Waktu:


i. Penjual wajib menyerahkan barang tepat waktu dengan kualitas dan kuantitas
yang disepakati;
ii. Bila penjual menyerahkan barang, dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual
tidak boleh meminta tambahan harga;
iii. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas lebih rendah, dan pembeli rela
menerimanya, maka pembeli tidak boleh meminta pengurangan harga (diskon); dan
iv. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati
dengan syarat: kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan dan tidak boleh
menuntut tambahan harga.

Jika semua/sebagian barang tidak tersedia tepat pada waktu penyerahan atau
kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka pembeli memiliki dua
pilihan:
1. Membatalkan kontrak dan meminta kembali uang.
2. Menunggu sampai barang tersedia.

Pembatalan kontrak boleh dilakukan selama tidak merugikan kedua belah pihak, dan
jika terjadi di antara kedua belah pihak, maka persoalannya diselesaikan melalui pengadilan
agama sesuai dengan UU No. 3/2006 setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Para pihak dapat juga memilih BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional) dalam
penyelesaian sengketa.Tetapi jika lembaga ini yang dipilih dan disepakati sejak awal, maka
tertutuplah peranan pengadilan agama.

Menentukan Waktu Penyerahan Barang

Tentang periode minimum pengiriman, para fuqaha memiliki pendapat berikut:


a. Hanafi menetapkan periode penyerahan barang pada satu bulan. Untuk beberapa
penundaan,selambat-lambatnya adalah tiga hari. Tapi, jika penjual meninggal dunia sebelum
penundaan berlalu, salam mencapai kematangan. Dalam Ketentuan Umum tentang Akad,
pasal 89 menyebutkan “Jika penjual meninggal dan jatuh pailit setelah menerima pembayaran
tetapibelum menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli,barang tersebut dianggap
barang titipan kepunyaan pembeli yang ada di tangan penjual.
b. Menurut Syafi’i salam dapat segera dan tertunda.
c. Menurut Malik, penundaan tidak boleh kurang dari 15 hari.[20]

E. SALAM PARALEL
1. Pengertian
Salam paralel yaitu melaksanakan dua transaksi bai’ as-Salam antara bank dengan
nasabah, dan antara bank dengan pemasok (supplier) atau pihak ketiga lainnya secara
simultan.
Dewan Pengawas Syariah Rajhi Banking & Investment Corporation telah menetapkan
fatwa yang membolehkan praktek salam paralel dengan syarat pelaksanaan transaksi salam
kedua tidak tergantung pelaksanaan akad salam yang pertama.

Beberapa ulama kontemporer melarang transaksi salam paralel terutama jika


perdagangan dan transaksi semacam itu dilakukan secara terus-menerus. Hal demikian
diduga akan menjurus kepada riba.

2. Ketentuan Umum

a. Pembatalan kontrak
Pembatalan kontrak dengan pengembalian uang pembelian, menurut jumhur ulama,
dimungkinkan dalam kontrak salam. Pembatalan penuh pengiriman muslam fihi dapat
dilakukan sebagai ganti pembayaran kembali seluruh modal salam yang telah dibayarkan.
Demikian juga pembatalan sebagian penyerahan barang dapat dilakukan dengan
mengembalikan sebagian modal.

b. Penverahan muslam fihi sebelum atau pada waktunva.


Muslam ilaih harus menyerahkan muslam fihi tepat pada waktunya dengan kualitas dan
kuantitas sesuai kesepakatan.Jika muslam ilaih menyerahkan muslam fihi dengan kualitas
yang lebih tinggi,muslam harus menerimanya dengan syarat bahwa muslam ilaih tidak
meminta harga yang lebih tinggi sebagai ganti kualitas yang lebih baik tersebut.

Jika muslam ilaih mengantar muslam fihi dengan kualitas lebih rendah, pembeli
mempunyai pilihan untuk menolak atau menerimanya.Para ulama berbeda pendapat tentang
boleh tidaknyamuslam ilaih menyerahkan muslam fihi yang berbeda dari yang telah
disepakati.

Muslam ilaih dapat menyerahkan muslam fihi lebih cepat dari yang telah disepakati,
dengan beberapa syarat:
a) Kualitas dan kuantitas muslam fihi telah disepakati.
b) Kualitas dan kuantitas muslam fihi tidak lebih tinggi dari kesepakatan.
c) Kualitas dan kuantitas muslam fihi tidak lebih rendah dari kesepakatan.
d) Jika semua atau sebagian muslam fihi tidak tersedia pada waktu
penyerahan, muslammempunyai dua pilihan. Pertama, membatalkan kontrak dan meminta
kembali uangnya. Kedua, menunggu sampai muslam fihi tersedia.

3. Perbedaan Bai’ as Salam dengan Ijon


Banyak orang yang menyamakan bai’ as salam dengan ijon Padahal, terdapat perbedaan
besar di antara keduanya. Dalamijon, barang yang dibeli tidak diukur atau ditimbang secara
jelas dan spesifik.Demikian juga penetapan harga beli, sangat tergantung kepada keputusan
sepihak si tengkulak yang sering kali sangat dominan dan menekan petani yang posisinya
lebih lemah. Sedangkan transaksi bai 'as salam mengharuskan adanya 2 hal:

a. Pengukuran dan spesifikasi barang yang jelas. Hal ini tercermin dari hadits Rasulullah
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. "Barangsiapa melakukan transaksi salaf (salam), maka
hendaklah ia melakukan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, untuk jangka
waktu yang jelas pula."

b. Adanya keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak. Hal ini terutama dalam penyepakati
harga. Allah berfirman: "Kecuali denganjalanperniagaanyang berlaku dengan suka sama suka
di antara kalian." (Q.S. An Nisa: 29).

Untuk memastikan adanya harga yang “fair” ini pemerintah diwajibkan melakukan
pengawasan dan pembinaan.

Contoh Ijon:
Pembeli membeli beras yang saat itu masih belum dipanen sebanyak satu hektar, dan diantar
pada saat panen.

Contoh Bai’ as Salam:


Pembeli membeli padi sebanyak satu ton padi dari petani yang diantar pada waktu panen.

Pada contoh ijon terdapat spekulasi yang akan merugikan salah satu pihak. Jika pembeli
memperkirakan hasil panen sebanyak lima ton dan membayar seharga itu, sedangkan
kenyataannya menghasilkan tujuh ton, maka petani merugi. Ia tidak bisa menikmati duaton
kelebihannya. Tetapi sebaliknya, jika hasilnya hanya tiga ton maka pembeli yang merugi
karena telah membayar seharga lima ton.
Pada contoh bai' as salam, petani hanya menjual sebagian dari produknya. Kalau terjadi
gagal panen, ia hanya wajib menyediakan padi sebanyak yang dapat dipenuhinya.

4. Aplikasi dalam Perbankan


Bai’ as salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka
waktu yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan. Karena yang dibeli oleh bank adalah barang
seperti padi, jagung, dan cabai dan bank tidak bemiat untuk menjadikan barang-barang
tersebut sebagai simpanan atau inventory, maka dilakukan akad bai’as salam kepada pembeli
kedua, misalnya kepada Bulog, pedagang pasar induk, dan grosir. Inilah yang dalam
perbankan Islam dikenal sebagai salam paralel.

Bai ’ as salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang industri, misalnya
produk garmen (pakaian jadi) yang ukuran barang tersebut sudah dikenal umum. Caranya,
saat nasabah mengajukan pembiayaan untuk pembuatan garmen, bank mereferensikan
penggunaan produk tersebut.Hal itu berarti bahwa bank memesan dari pembuat garmen
tersebut dan membayamya pada waktu pengikatan kontrak.Bank kemudian mencari pembeli
kedua.Pembeli tersebut bisa saja rekanan yang telah direkomendasikan oleh produsen garmen
tersebut Bila garmen itu telah selesai diproduksi, produk tersebut diantarkan kepada rekanan
tersebut.Rekanan kemudian membayar kepada bank, baik secara mengangsur maupun tunai.

5. Risiko dan Manfaat


Berdasarkan sifatnya yang paralel, bai'as salam mengandung risiko berdasarkan sifatnya
yang simultan, salam paralel memiliki beberapa manfaat dan risiko yang harus diantisipasi
oleh bank syariah, di antaranya:
a. Default.Jika pemasok tidak bisa mendatangkan barang yang dipesan karena lalai atau
menipu. Maka, bank tidak bias memenuhi barang yang diminta oleh pembeli.[21]
b. Tak terjual, bank tidak bisa mencari pembeli dari barang salam. Hal terjadi
jika pemasokmengantarkan barang yang tidak sesuai dengan kesepakatan saat kontrak.
c. Harga, harga barang ketika diantar lebih rendah dari harga yang disepakati dengan penjual
saat kontrak.

Manfaat bai’as salam adalah selisih harga yang didapat dari nasabah dengan harga jual
kepada pembeli.

6. Skema Aplikasi Jual Beli Salam di Perbankan Syariah


Skema jual beli salam yang dapat diaplikasikan dalam perbankan syariah adalah seperti
pada Gambar berikut[22].

Keterangan:
Koperasi petani mangga harum manis memerlukan bantuan dana untuk mensukseskan
panen anggota-anggotanya tahun depan terhitung dari sekarang. Untuk itu, koperasi petani
tersebut mendatangi bank syariah dan menawarkan skema jual beli salam agar bank syariah
tidak rugi dan petanipun dapat panen dengan baik. Maka prosesnya adalah sebagai berikut:

1. Bank syariah membeli 10 ton mangga harum manis dari koperasi petani buah mangga
harum manis dengan harga Rp. 50.000,- per kilogram menggunakan akad jual beli salam
untuk 1 tahun kedepan.

2. Bank syariah membayar tunai kepada koperasi tersebut sebesar: Rp.50.000,- x 1000 x 10 =
Rp. 500.000.000,- .

3. Bank syariah menjual kepada pemborong buah mangga harum manis dengan harga
Rp.55.000,- per kilogram menggunakan akad jual beli salam untuk 1 tahun kedepan.

4. Pemborong membayar tunai kepada bank syariah sebesar: Rp.55.000,- x 1000 x 10 =


Rp.550.000.000,-.

5. Setelah satu tahun berlalu, koperasi petani mengirimkan mangga harum manis dengan
jumlah dan kualitas sesuai pesanan kepada bank syariah.

6. Bank syariah kemudian mengirimkan buah-buah tersebut kepada pemborong.


7. Pemborong menjual mangga harum manis di pasar buah dengan harga Rp.100.000,- per
kilogram.

8. Pemborong mendapatkan keuntungan dari penjualan mangga di pasar buah.

Dari penjelasan dalam skema di atas, terlihat bahwa semua yang terlibat dalam jual beli
salam mendapatkan keuntungan mereka masing-masing. Para petani mendapatkan
keuntungan berupa panen yang baik dengan hasil yang memuaskan disebabkan keperluan-
keperluan mereka dalam mengelola perkebunan tersebut dapat terpenuhi dengan uang tunai
yang dibayarkan di muka oleh pihak bank syariah. Sedangkan pihak bank syariah
mendapatkan keuntungan sebesar lima puluh juta rupiah yang merupakan selisih harga jual
kepada pemborong dengan harga beli dari petani mangga. Dan pihak pemborong
mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dari bank syariah dengan harga jual di pasar
buah.

Memang resiko yang ditanggung oleh pihak bank dan pemborong cukup besar,
utamanya ketika prospek harga barang tersebut ke depannya tidak terlalu positif.Oleh karena
itu, sikap kehati-hatian bank dalam model jual beli ini sangatlah tinggi, dan skema ini pada
akhirnya memang tidak dapat diterapkan untuk semua jenis produk atau hasil pertanian,
hanya pada jenis-jenis hasil pertanian yang dapat diramalkan bagus.

BAB III
KESIMPULAN

Bai'as-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sedangkan


pembayaran dilakukan di muka.Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dulu
jenis, kualitas dan jumlah barang, dan hukum awal pembayaran harus dalam bentuk uang.

Dalam transaksi Bai’ as Salam harus memenuhi 5 (lima) rukun yang mensyaratkan
harus ada pembeli, penjual, modal (uang), barang, dan ucapan (sighat).

Sebagaimana dapat dipahami dari namanya, yaitu as salam yang berarti penyerahan,
atau as salaf, yang artinya mendahulukan, maka para ulama' telah menyepakati bahwa
pembayaran pada akad as-salam harus dilakukan di muka atau kontan, tanpa ada sedikitpun
yang terhutang atau ditunda.

Telah diketahui bahwa akad salam ialah akad penjualan barang dengan kriteria tertentu
dan pembayaran di muka. Maka menjadi suatu keharusan apabila barang yang dipesan adalah
barang yang dapat ditentukan melalui penyebutan kriteria.Penyebutan kriteria ini bertujuan
untuk menentukan barang yang diinginkan oleh kedua belah pihak, seakan-akan barang yang
dimaksud ada dihadapan mereka berdua.Dengan demikian, ketika jatuh tempo, diharapkan
tidak terjadi percekcokan kedua belah pihak seputar barang yang dimaksud.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu al-Walid M ibnu, 2004.Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid,Beirut: Darul


Fikri.

Al-‘Atsqolany, Ibnu Hajar, 2011. Bulughul Maram min Adillatil ahkam, Surabaya: Mutiara Ilmu.

Al-Jaziry, Abdurrahman, 2004. Kitab Al-fiqh, Beirut: Darul fikri.

Al-Qu’an al-Karim.

Al-Zahily, Wahbah. 2007. Al-fiqhu Al-Islam wa Adillatuhu, Damaskus: Darul Fikri.

Antonio, Muhammad Syafi’i, 2006. Bank Syariah Wacana Ulama & Cendekiawan, Jakarta.

Ascarya, 2011.Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Fatih,Ibrahim bin, 2006. Uang Haram, Jakarta: Amzah.

Fahmi, Abu, Jual Beli Salam, http://sanggelombang.wordpress.com/2010/12/02/ jual-beli-salam/,


di akses tanggal 4 April 2013, pukul 9:18 WIB.

Hassan,‘Abdullah Alwi Haji, 2006. Sales And Contracts Early Islamic Commercial Law, New
Delhi: Kitab Bhavan.

Huda, Nurul dan Muhammad Haekal, 2010.Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoretis dan
Praktis,Jakarta: Kencana.

Khan,M. Fahin,1995.Essays in Islamic Economics, Nigeria: The Islamic Foundation.

Lisanul Arab, madah 'Gharar'.

Mansuri, Muhammad Tahir, 2006. IslamicLawof Contracts andBusiness Transactions, New


Delhi:Adam Publishers & Distributors.
MuhZa, Habiburrahman, Akad Salam, http://penabanten.blogspot.com/2011/06/akad-salam.html,
di akses tanggal 4 April 2013, pukul 8:48 WIB.
Rivai, Veithzal. dkk, 2012. Islamic Bussiness and Economic Ethics: Mengacu pada Al-Qur’an dan
Mengikuti Jejak Rasulullah SAW dalam Bisnis, Keuangan, dan Ekonomi, Jakarta: Bumi
Aksara.

Syafe’I, Rahmat, 2004. Fiqih Muamalah, Bandung: Pustaka Setia.

Zuhaili, Wahbah, 2008. Al-fiqhu Asy-syafi’iyyah Al-Muyassar, Beirut: Darul Fikr.

Zuhaili, Wahbah. 2008. Fiqih Imam Syafi’i, Jakarta Timur: Almahira.

[1]Salam yang dimaksud dalam pembahasan ini terdiri dari tiga huruf : sin-lam-mim (‫)سلم‬, artinya adalah
penyerahan dan bukan berarti perdamaian. Dari kata salam inilah istilah Islam punya akar yang salah
satu maknanya adalah berserah-diri. Sedangkan kata salam yang bermakna perdamaian terdiri dari 4
huruf, sin-lam-alif-mim (‫)سالم‬.
[2]Lisanul Arab, Madah 'Gharar' halaman 217
[3] Wahbah Zuhaili, Al-fiqhu Asy-syafi’iyyah Al-Muyassar, (Beirut: Darul Fikr, 2008), h. 26.
[4]Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), h. 90.
[5] Ibrahim bin Fatih bin Abd Al-Muqtadir, Uang Haram, (Jakarta: Amzah, 2006), h. 21.
[6] M. Fahin Khan, Essays in Islamic Economics, (Nigeria: The Islamic Foundation, 1995), h. 32.
[7]Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.
[8] Al-Qu’an al-Karim
[9]Abdurrahman al-Jaziry.Kitab Al-fiqh, (Beirut: Darul fikri, 2004), h. 244.
[10] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Wacana Ulama & Cendekiawan, (Jakarta, 2006), h. 131
[11]Abu al-Walid M ibnu Ahmad ibnu Rusyd al-Qurthuby al-Andalusy, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul
Muqtashid, (Beirut: Darul Fikri, 2004) h. 162.
[12] Ibnu Hajar Al-‘Atsqolany. Bulughul Maram min Adillatil ahkam, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2011),
h.382-383.
[13] Veithzal Rivai. dkk, Islamic Bussiness and Economic Ethics: Mengacu pada Al-Qur’an dan Mengikuti
Jejak Rasulullah SAW dalam Bisnis, Keuangan, dan Ekonomi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 357.
[14]Op.Cit, Ascarya, h. 91.
[15]Rahmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), h. 33.
[16] Wahbah Al-Zahily. Al-fiqhu Al-Islam wa Adillatuhu, (Damaskus: Darul Fikri, 2007), h. 3603-3605.
[17]‘Abdullah Alwi Haji Hassan, Sales And Contracts Early Islamic Commercial Law, (New Delhi: Kitab
Bhavan, 2006), h. 68.
[18] Wahbah Zuhaili. Fiqih Imam Syafi’i, (Jakarta Timur: Almahira, 2008), h. 25-32.
[19]Nurul Huda dan Muhammad Haekal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoretis dan
Praktis, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 50.
[20]Muhammad Tahir Mansuri, IslamicLawof Contracts andBusiness Transactions, (New Delhi: Adam
Publishers& Distributors, 2006), h. 203.

[21]Habiburrahman MuhZa, Akad Salam, http://penabanten.blogspot.com/2011/06/akad-salam.html, di


akses tanggal 4 April 2013, pukul 8:48 WIB.

Anda mungkin juga menyukai