Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN LOGIKA DAN ILMU ASTRONOMI

OLEH :
 RUTH LEYRISNA HASUGIAN
F91115306
SASTRA JEPANG

FAKULTAS ILMU BUDAYA


UNIVERSITAS HASANUDDIN
T.A 2017

1
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas berkat dan rahmatNya
lah saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah saya yang berjudul Hubungan Logika
dan Ilmu Astronomi. Saya juga berterima kasih kepada dosen mata kuliah logika,
bapak H. Muhammad Bahar Akkase Teng, Lc. P,M. Hum, yang telah memberikan
tugas ini kepada saya.
Saya berharap kiranya karya tulis ilmiah ini bisa berguna bagi para pembaca serta
menambah wawasan mengenai hubungan logika dan ilmu Astronomi.
saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan kata-kata yang kurang
berkenaan dihati para pembaca. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sangat membantu saya dalam memperbaiki karya tulis ilmiah yang akan saya buat di
masa yang akan datang, terimakasih.

Makassar, Maret 2017

2
Daftar Isi
Halaman
Judul…………….………………………………………………………………………………………..1
Kata pengantar……………………………………………………………………………………….2
Daftar Isi………………………………………………………………………………………………...3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………………..4
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………..5
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………………………….…...5
BAB II PEMBAHASAN
A. Logika……………………………………………………………………………………………….6
B. Ilmu astronomi…………………………………………………………………………………8
C. Hubungan Logika Dan Ilmu Astronomi…………………………………………….10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………..11
B. Saran……………………………………………………………………………………………….11
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………….12

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada hakekatnya, setiap manusia telah dianugrahi logika. Namun manusia itu
sendiri kurang paham apa sebenarnya logika itu sendiri, dan mengapa setiap
manusia harus memiliki logika. Pada materi ini akan dijelaskan mengenai logika
dan keterkaitannya terhadap ilmu pengetahuan lainnya.

Sedangkan ilmu astronomi adalah ilmu alam yang melibatkan pengamatan


benda-benda langit (seperti halnya bintang, planet, komet, nebula, gugus
bintang, atau galaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar
atmosfer Bumi (misalnya radiasi latar belakang kosmik (radiasi CMB). Ilmu ini
secara pokok mempelajari berbagai sisi dari benda-benda langit — seperti asal-
usul, sifat fisika/kimia, meteorologi, dan gerak — dan bagaimana pengetahuan
akan benda-benda tersebut menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam
semesta.
Pada materi ini akan dibahas bagaimana manusia menggunakan logika untuk
mempelajari ilmu astronomi.

4
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Logika ?


2. Apa yang dimaksud dengan ilmu astronomi ?
3. Apa hubungan logika dan ilmu astronomi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar pembaca mengetahui apa sebenarnya arti logika.
2. Agar pembaca mengetahu apa sebenarnya ilmu astronomi.
3. Agar pembaca mengetahui bagaimana hubungan antara logika dan ilmu
astronomi.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. LOGIKA
Logika berasal dari kata Yunani kuno “logos” yang berarti hasil pertimbangan
akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah
salah satu cabang ilmu filsafat. Dengan kata lain, logika adalah ilmu pengetahuan
dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).
Logika dimulai sejak Thales (624 SM-548 SM), filsuf Yunani pertama yang
meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan
berpaling kepada akal budi untuk memcahkan rahasia alam semesta.

1. Dasar-Dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah initi dari logika. Konsep itu menyatakan
bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk
logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat unutuk
menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan buktu yang
diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik
modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.
 Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif, kadang disebut logika deduktif, adalah penalaran
yang membangun atau mengevaluasi argument deduktif. Argument
dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau
merupakan konsekuensilogis dari premis-premisnya. Argument
deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah.
Sebuah argument deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika
kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif :
 Setiap mamalia punya sebuah jantung.
 Semua kuda adalah mamalia.
 Setiap kuda punya jantung.

 Penalaran Induktif
Penalaran induktif kadang disebut logika induktif, adalah
penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk
mencapai kesimpulan umum.
Contoh argument induktif :
 Kambing jawa punya sebuah jantung.
 Kambing sumatera punya sebuah jantung.
 Kambing Sulawesi punya sebuah jantung.

6
 Setiap kuda punya sebuah jantung.

Ciri-ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan deduktif ialah :


a. Deduktif : juka semua premis benar maka kesimpulan pasti benar.
Induktif : jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tetapi hasil
tak pasti benar.

b. Deduktif : semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada,


sekurangnya secara implisit, dalam premis.
Induktif : kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara
implisit, dalam premis.

2. Macam-Macam Logika
 Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir
secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan
dan kecenderungan yang subjektif. Kemampuan logika alamiah
manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi
contoh penerepan dalam kehidupan nyata.

 Logika Ilmiah
Logika ilmiah memperhalus dan mempertajam pikiran serta
akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan asas-
asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan
logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja degan lebih tepat, lebih
teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk
menghindarkan kesesatan atau paling tidak dikurangi.

3. Manfaat Logika
Adapun maanfaat logika bagi manusia, ialah:
 Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir
secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis, dan koheren.
 Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan
objektif.
 Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir
secara tajam dan mandiri.
 Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-
kesalahan berpikir, kekeliruan, dan kesesatan.
 Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
 Terhindar dari klenik, tahayul, atau kepercayaan turun-temurun.
 Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan
analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan
meningkatkan citra diri seseorang.

7
B. ILMU ASTRONOMI
Kata astronomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata astron (ἄστρον,
"bintang") yang kemudian diberi akhiran -nomi dari nomos (νόμος, "hukum" atau
"budaya"). Maka secara harafiah ia bermakna "hukum/budaya bintang-bintang".
Astronomi atau dikenal dengan ilmu bintang adalah ilmu yang mempelajari
dan mengamati kejadian, wujud fisik di luar Bumi. Dalam hal ini adalah pergerakan
benda-benda luar angkasa seperti planet, satelit, komet dan lain sebagainya.
Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-
benda langit (seperti halnya bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang, atau
galaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi (misalnya
radiasi latar belakang kosmik (radiasi CMB)). Ilmu ini secara pokok mempelajari
berbagai sisi dari benda-benda langit — seperti asal-usul, sifat fisika/kimia,
meteorologi, dan gerak — dan bagaimana pengetahuan akan benda-benda tersebut
menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam semesta.
Astronomi sebagai ilmu adalah salah satu yang tertua, sebagaimana diketahui
dari artifak-artifak astronomis yang berasal dari era prasejarah; misalnya monumen-
monumen dari Mesir dan Nubia, atau Stonehenge yang berasal dari Britania. Orang-
orang dari peradaban-peradaban awal semacam Babilonia, Yunani, Cina, India, dan
Maya juga didapati telah melakukan pengamatan yang metodologis atas langit
malam. Akan tetapi meskipun memiliki sejarah yang panjang, astronomi baru dapat
berkembang menjadi cabang ilmu pengetahuan modern melalui penemuan teleskop.
Cukup banyak cabang-cabang ilmu yang pernah turut disertakan sebagai
bagian dari astronomi, dan apabila diperhatikan, sifat cabang-cabang ini sangat
beragam: dari astrometri, pelayaran berbasis angkasa, astronomi observasional,
sampai dengan penyusunan kalender dan astrologi. Meski demikian, dewasa ini
astronomi profesional dianggap identik dengan astrofisika.
Pada abad ke-20, astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang:
astronomi observasional dan astronomi teoretis. Yang pertama melibatkan
pengumpulan data dari pengamatan atas benda-benda langit, yang kemudian akan
dianalisis menggunakan prinsip-prinsip dasar fisika. Yang kedua terpusat pada upaya
pengembangan model-model komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-
benda langit serta fenomena-fenomena alam lainnya. Adapun kedua cabang ini
bersifat komplementer — astronomi teoretis berusaha untuk menerangkan hasil-
hasil pengamatan astronomi observasional, dan astronomi observasional kemudian
akan mencoba untuk membuktikan kesimpulan yang dibuat oleh astronomi teoretis.
Astronom-astronom amatir telah dan terus berperan penting dalam banyak
penemuan-penemuan astronomis, menjadikan astronomi salah satu dari hanya
sedikit ilmu pengetahuan di mana tenaga amatir masih memegang peran aktif,
terutama pada penemuan dan pengamatan fenomena-fenomena sementara.
Astronomi harus dibedakan dari astrologi, yang merupakan kepercayaan
bahwa nasib dan urusan manusia berhubungan dengan letak benda-benda langit

8
seperti bintang atau rasinya. Memang betul bahwa dua bidang ini memiliki asal usul
yang sama, namun pada saat ini keduanya sangat berbeda.

Dimulainya astronomi yang berdasarkan perhitungan matematis dan ilmiah dulu


dipelopori oleh orang-orang Babilonia. Mereka menemukan bahwa gerhana bulan memiliki
sebuah siklus yang teratur, disebut siklus saros. Mengikuti jejak astronom-astronom
Babilonia, kemajuan demi kemajuan kemudian berhasil dicapai oleh komunitas astronomi
Yunani Kuno dan negeri-negeri sekitarnya. Astronomi Yunani sedari awal memang bertujuan
untuk menemukan penjelasan yang rasional dan berbasis fisika untuk fenomena-fenomena
angkasa. Pada abad ke-3 SM, Aristarkhos dari Samos melakukan perhitungan atas ukuran
Bumi serta jarak antara Bumi dan Bulan, dan kemudian mengajukan model Tata Surya yang
heliosentris — pertama kalinya dalam sejarah. Pada abad ke-2 SM, Hipparkhos berhasil
menemukan gerak presesi, juga menghitung ukuran Bulan dan Matahari serta jarak antara
keduanya, sekaligus membuat alat-alat penelitian astronomi paling awal seperti astrolab.
Mayoritas penyusunan rasi bintang di belahan utara sekarang masih didasarkan atas
susunan yang diformulasikan olehnya melalui katalog yang waktu itu mencakup 1.020
bintang. Mekanisme Antikythera yang terkenal (ca. 150-80 SM) juga berasal dari periode
yang sama: komputer analog yang digunakan untuk menghitung letak
Matahari/Bulan/planet-planet pada tanggal tertentu ini merupakan barang paling kompleks
dalam sejarah sampai abad ke-14, ketika jam-jam astronomi mulai bermunculan di Eropa.

Di Eropa sendiri selama Abad Pertengahan astronomi sempat mengalami kebuntuan dan
stagnansi. Sebaliknya, perkembangan pesat terjadi di dunia Islam dan beberapa peradaban
lainnya, ditandai dengan dibangunnya observatorium-observatorium di belahan dunia sana
pada awal abad ke-9. Pada tahun 964, astronom Persia Al-Sufi menemukan Galaksi
Andromeda (galaksi terbesar di Grup Lokal) dan mencatatnya dalam Book of Fixed Stars
(Kitab Suwar al-Kawakib). Supernova SN 1006, ledakan bintang paling terang dalam catatan
sejarah, berhasil diamati oleh astronom Mesir Ali bin Ridwan dan sekumpulan astronom
Cina yang terpisah pada tahun yang sama (1006 M). Astronom-astronom besar dari era
Islam ini kebanyakan berasal dari Persia dan Arab, termasuk Al-Battani, Tsabit bin Qurrah,
Al-Sufi, Ibnu Balkhi, Al-Biruni, Al-Zarqali, Al-Birjandi, serta astronom-astronom dari
observatorium-observatorium di Maragha dan Samarkand. Melalui era inilah nama-nama
bintang yang berdasarkan bahasa Arab diperkenalkan. Reruntuhan-reruntuhan di Zimbabwe
Raya dan Timbuktu juga kemungkinan sempat memiliki bangunan-bangunan observatorium
— melemahkan keyakinan sebelumnya bahwa tidak ada pengamatan astronomis di daerah
sub-Sahara sebelum era kolonial.

9
C. HUBUNGAN LOGIKA DAN ILMU PERBINTANGAN
Sebagaimana yang dijelaskan bahwa logika adalah ilmu pengetahuan dan
kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Karena hal inilah logika sangat berhubungan
dengan ilmu pengetahuan lainnya, termasuk dengan ilmu astronomi. Logika adalah
dasar bagi manusia untuk mempelajari hal-hal mengenai perbintangan dan mencari
kebenaran terhadap pengetahuan tentang bintang dan alam semesta. Sebab
pengetahuan mengenai perbintangan haruslah dapat dibuktikan dan sesuai dengan
logika manusia.
Logika mengarahkan manusia berfikir yang konstruktif dan benar. Semakin
erat hubungan logika dengan ilmu astronomi, maka kebenaran ilmu pengetahuan
yang dekembangkan akan semakin logis. Penemuan-penemuan yang nyata
merupakan arahan dari logika itu sendiri. Dalam ilmu astronomi, manusia terus
mengembangkan rasa ingin tahunya susunan-susunan benda langit hingga akhirnya
ditemukanlah teleskop yang membantu manusia melahirkan teori-teori tentang
pergerakan benda-benda langit dan pemikiran-pemikiran filosofis untuk menjelaskan
asal usul Matahari, Bulan, dan Bumi. Bumi kemudian dianggap sebagai pusat jagat
raya, sedang Matahari, Bulan, dan bintang-bintang berputar mengelilinginya; model
semacam ini dikenal sebagai model geosentris, atau sistem Ptolemaik (dari nama
astronom Romawi-Mesir Ptolemeus).
Segala hal tersebut tentulah didasari oleh logika, sehingga manusia bisa
memberikan bukti kebenaran dari teori-teori tersebut yang sesuai dengan pemikiran
manusia (logis) dan bisa dipertanggungjawabkan.

10
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat), yang
mendasari ilmu pengetahuan lainnya termasuk pula ilmu astronomi. Adanya logika
manusialah yang mendorong manusia untuk mengembangkan dan menciptakan
teori-teori mengenai perbintangan yang bisa diterima secara logis.

B. SARAN
Setiap manusia harusnya bisa memahami logika, sehingga manusia bisa
mengembangkan ilmu pengetahuannya, baik mengenai ilmu astronomi maupun ilmu
pengetahuan lainnya.

11
DAFTAR PUSTAKA
Teng, Muhammad Bahar Akkase, 2016. Logika Dalam Perspektif Sejarah, Makassar:
De La Macca.

https://id.m.wikipedia.org/logika

https://id.m.wikipedia.org/astronomi

http://zhebaulil.blogspot.co.id/hubungan logika dengan ilmu-ilmu lain/

http://infopendiknas.blogspot.co.id/

12
PERTANYAAN

1. Apa yang dimaksud dengan logika?


 logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir
lurus (tepat).

2. Jelaskan 2 dasar logika.


 Penalaran deduktif, kadang disebut logika deduktif, adalah
penalaran yang membangun atau mengevaluasi argument
deduktif. Argument dinyatakan deduktif jika kebenaran dari
kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensilogis dari premis-
premisnya.
Penalaran induktif kadang disebut logika induktif, adalah
penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus
untuk mencapai kesimpulan umum.

3. Sebutkan contoh dasar argumen deduktif.


 Contoh argumen deduktif :
 Setiap mamalia punya sebuah jantung.
 Semua kuda adalah mamalia.
 Setiap kuda punya jantung.

4. Sebutkan 3 manfaat logika.


 Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir
secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis, dan koheren.
 Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan
objektif.
 Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir
secara tajam dan mandiri.

5. Apa yang dimaksud dengan logika alamiah?


 Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir
secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-
keinginan dan kecenderungan yang subjektif.

6. Apa yang dimaksud dengan logika ilmiah?


 Logika ilmiah memperhalus dan mempertajam pikiran serta akal
budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan asas-
asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat
pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja degan
lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman.

7. Sebutkan ciri-ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan


deduktif.
13
 Deduktif : jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar.
Induktif : jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tetapi
hasil tak pasti benar.

 Deduktif : semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada,


sekurangnya secara implisit, dalam premis.
Induktif : kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan
secara implisit, dalam premis.

8. Apa yang dimaksud dengan ilmu astronomi?


 Astronomi atau dikenal dengan ilmu bintang adalah ilmu yang
mempelajari dan mengamati kejadian, wujud fisik di luar Bumi.
Dalam hal ini adalah pergerakan benda-benda luar angkasa seperti
planet, satelit, komet dan lain sebagainya

9. Sebutkan 2 cabang dalam ilmu astronomi.


 astronomi observasional dan astronomi teoretis. Yang pertama
melibatkan pengumpulan data dari pengamatan atas benda-
benda langit, yang kemudian akan dianalisis menggunakan prinsip-
prinsip dasar fisika. Yang kedua terpusat pada upaya
pengembangan model-model komputer/analitis guna menjelaskan
sifat-sifat benda-benda langit serta fenomena-fenomena alam
lainnya.

10. Apa peran logika terhadap ilmu pengetahuan lainnya?


 logika merupakan ilmu yang mendorong manusia untuk mencari
dan membuktikan suatu teori pengetahuan yang logis dan dapat
dibuktikan kebenarannya.

14