Anda di halaman 1dari 33

Skenario A

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Blok Sistem Kesehatan Reproduksi adalah Blok XVII pada Semester VI
dari sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Salah satu
strategi pembelajaran sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ini
adalah Problem Based Learning (PBL). Tutorial merupakan
pengimplementasian dari metode Problem Based Learning (PBL). Dalam
tutorial mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan setiap
kelompok dibimbing oleh seorang tutor/dosen sebagai fasilitator untuk
memecahkan kasus yang ada.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario A yang
memaparkan tetang Ana, anak perempuan usia 10 bulan, dibawa ibunya ke
Poli anak RSMP dengan keluhan belum bisa duduk. Menurut ibunya nafsu
makan anak kurang. Ana saat ini tidak sedang mengalami demam, batuk pilek
dan sesak nafas. Berat badan Ana naik setiap buan naik rata-rata 200-300
gram. Berat badan tertinggi adalah saat ini. Ana diberi ASI eksklusif hanya
sampai usia 1 bulan. Sejak usia 1 bulan hanya diberikan susu formula standar
6 kali sehari @ 90 cc sampai usia 4 bulan. Setelah usia 4 bulan sampai
sekarang tetap diberikan susu formula dengan jumlah yang sama ditambah MP
ASI berupa nasi 1-2 kali sehari @ 5 sendok makan.

Page 1
Skenario A

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan studi kasus ini, yaitu :
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari
sistem pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan
metode analisis dan pembelajaran studi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari pembelajaran tutorial berdasarkan langkah-
langkah seven jumps.

Page 2
Skenario A

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Data Tutorial
Tutor : dr.Miranti Dwi Hartanti
Moderator : Lebriandy Tjahya Raffaelo
Notulen : Tiara khairina
Sekretaris : Elda Ariyani
Hari/Tanggal : 1. Selasa, 20 September 2016
2.Kamis, 22 September 2016

Peraturan Tutorial : 1. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat.


2. Mengacungkan tangan jika ingin memberi pendapat.
3. Berbicara dengan sopan dan penuh tata krama.
4. Izin bila ingin keluar ruangan.

2.2 Skenario Kasus


Ana, anak perempuan usia 10 bulan, dibawa ibunya ke Poli anak RSMP
dengan keluhan belum bisa duduk. Menurut ibunya nafsu makan anak kurang.
Ana saat ini tidak sedang mengalami demam, batuk pilek dan sesak nafas.
Berat badan Ana naik setiap buan naik rata-rata 200-300 gram. Berat badan
tertinggi adalah saat ini. Ana diberi ASI eksklusif hanya sampai usia 1 bulan.
Sejak usia 1 bulan hanya diberikan susu formula standar 6 kali sehari @ 90 cc
sampai usia 4 bulan. Setelah usia 4 bulan sampai sekarang tetap diberikan susu
formula dengan jumlah yang sama ditambah MP ASI berupa nasi 1-2 kali
sehari @ 5 sendok makan.
Riwayat kehamilan dan persalinan:
Ana anak pertama dari ibu usia 24 tahun. Selama hamil ibu sehat dan periksa
hamil 4 kali ke bidan. Lahir spontan pada kehamilan 37 minggu. Segera
setelah lahir langsung menangis, skor APGAR 1 menit 9 dan 5 menit 10. Berat
badan lahir 2800 gram. Panjang badan lahir 49 cm. Lingkar kepala lahir 33
cm.

Page 3
Skenario A

Riwayat Imunisasi : BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 3 kali


Riwayat Pertumbuhan: Lampiran gambar KMS Ana
Riwayat Perkembangan: Saat ini hanya bisa duduk dengan bantuan
Riwayat Pengobatan : Tidak pernah berobat
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : Tampak kurus, apatis, cengeng, berat badan 5 kg, panjang
badan 60 cm , lingkar kepala 43 cm
Tanda Vital : HR: 112x/menit , RR : 32x/menit, T: 36,5oC
Keadaan spesifik :
Kepala :
- Wajah dismorfik tidak ada
- Wajah seperti orang tua
- Rambut kepala tipis warna merah kekuningan mudah dicabut
- Tatapan mata sayu
- Melihat dan menangis kepada pemeriksa
- Menoleh ketika dipanggil namanya
Thoraks : Iga gambang ( piano sign)
Abdomen : cekung
Ekstremitas :
- Keempat ekstremitas tampak kurus
- Edema tidak ada
- Tidak ada kelaina anatomi pada kedua tungkai kaki
Kulit: Kelainan kulit dermatosis tidak ada
Status Neurologikus :
- Gerakan normal, kekuatan otot motorik 4
- Tonus dan klonus normal
- Refleks patologis (-)
- Reflek fisiologis normal
- Tidak ada gerakan yang tidak terkontrol

Page 4
Skenario A

2.3 Klarifikasi Istilah


1. Dismorfik : Bentuk morfologi yang berbeda

2. Iga gambang : Iga yang menonjol akibat kurangnya jaringan


adiposa di bawah kulit

3. Baggy pants : Kurangnya jaringan adiposa di daerah subkutis


pada bokong sehingga seolah olah
menggunakan celana longgar
4. Asi eksklusif : Pemberian asupan makanan hanya berupa ASI
tanpa tambahan yang lain
5. APGAR skor : Penilaian keadaan bayi 1 menit setelah lahir
atas dasar frekuensi jantung, pernafasan, tonus
otot, warna kulit dan reaksi terhadap rangsang

6. Apatis : Keadaan di mana pasien tampak segan dan


acuk tak acuh terhadap lingkungannya.

7. Susu formula : Susu yang dibuat dari susu sapi


atau susu buatan yang diubah komposisinya
hingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI.
8. KMS : Kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta
indikator perkembangan yang bermanfaat
untuk mencatat dan memantau tumbuh
kembang balita setiap bulan dari sejak lahir
sampai berusia 5 tahun

9. Wajah seperti orang tua : Kelainan bentuk muka tidak sesuai usia anak
diakibatkan kurangnya asupan nutrisi

Page 5
Skenario A

2.4 Identifikasi Masalah


1. Ana, anak perempuan usia 10 bulan, dibawa ibunya ke Poli anak
RSMP dengan keluhan belum bisa duduk. Menurut ibunya nafsu
makan anak kurang. Ana saat ini tidak sedang mengalami demam,
batuk pilek dan sesak nafas.
2. Berat badan Ana naik setiap buan naik rata-rata 200-300 gram. Berat
badan tertinggi adalah saat ini. Ana diberi ASI eksklusif hanya
sampai usia 1 bulan. Sejak usia 1 bulan hanya diberikan susu formula
standar 6 kali sehari @ 90 cc sampai usia 4 bulan. Setelah usia 4
bulan sampai sekarang tetap diberikan susu formula dengan jumlah
yang sama ditambah MP ASI berupa nasi 1-2 kali sehari @ 5 sendok
makan.
3. Riwayat kehamilan dan persalinan:
Ana anak pertama dari ibu usia 24 tahun. Selama hamil ibu sehat dan
periksa hamil 4 kali ke bidan. Lahir spontan pada kehamilan 37
minggu. Segera setelah lahir langsung menangis, skor APGAR 1
menit 9 dan 5 menit 10. Berat badan lahir 2800 gram. Panjang badan
lahir 49 cm. Lingkar kepala lahir 33 cm.
Riwayat Imunisasi : BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 3 kali
Riwayat Pertumbuhan: Lampiran gambar KMS Ana
Riwayat Perkembangan: Saat ini hanya bisa duduk dengan bantuan
Riwayat Pengobatan : Tidak pernah berobat
4. Keadaan umum : Tampak kurus, apatis, cengeng, berat badan 5 kg,
panjang badan 60 cm , lingkar kepala 43 cm
Tanda Vital : HR: 112x/menit , RR : 32x/menit, T: 36,5oC
5. Keadaan spesifik :
Kepala :
- Wajah dismorfik tidak ada
- Wajah seperti orang tua
- Rambut kepala tipis warna merah kekuningan mudah dicabut
- Tatapan mata sayu

Page 6
Skenario A

- Melihat dan menangis kepada pemeriksa


- Menoleh ketika dipanggil namanya
Thoraks : Iga gambang ( piano sign)
Abdomen : cekung
Ekstremitas :
- Keempat ekstremitas tampak kurus
- Edema tidak ada
- Tidak ada kelaina anatomi pada kedua tungkai kaki
Kulit: Kelainan kulit dermatosis tidak ada
Status Neurologikus :
- Gerakan normal, kekuatan otot motorik 4
- Tonus dan klonus normal
- Refleks patologis (-)
- Reflek fisiologis normal
- Tidak ada gerakan yang tidak terkontrol

2.5 Analisis masalah


1. Ana, anak perempuan usia 10 bulan, dibawa ibunya ke Poli anak RSMP
dengan keluhan belum bisa duduk. Menurut ibunya nafsu makan anak
kurang. Ana saat ini tidak sedang mengalami demam, batuk pilek dan sesak
nafas.
a. Apa makna Ana usia 10 bulan datang dengan keluhan belum bisa
duduk?
Maknanya adalah Ana mengalami gangguan perkembangan.
Berdasarkan tahapan perkembangan normal pada anak, seharusnya
pada umur 6 bulan perkembangan motorik kasar anak tersebut sudah
bisa duduk sendiri (Marcdante, 2014).

b. Apa hubungan nafsu makan kurang dengan belum bisa duduk?

Page 7
Skenario A

Nafsu makan kurang dapat sebabkan kekurangan nutrisi atau


malnutrisi. Faktor lingkungan berinteraksi dengan efek malnutrisi
sehingga mengganggu perkembangan dan fungsi kognitif selanjutnya.
(Marcdante, 2014)

c. Bagaimana tumbuh kembang anak usia 10 bulan yang normal?


Perkembangan kognitif 9-12 bulan:
a. Mengeksplorasi benda dengan bermacam-macam cara
b. Menemukan benda yang disembunyikan
c. Menirukan gerakan tubuh dengan mudah
d. Menyukai minum dengan cangkir
e. Bermain dengan permainan bola yang simpel
f. Perhatian pada objek yang permanen
g. Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
h. Memasukkan benda ke mulut
i. Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
j. Menunjukkan ketertarikan pada buku gambar
(Adyana, 2014).

d. Apa yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan


pada anak?
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap
tumbuh kembang anak, yaitu :

1. Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil
akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan
faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya.
Melalui genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah
dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.
Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat

Page 8
Skenario A

sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan


berhentinya pertumbuhan tulang.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai
atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut
juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi
sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang cukup
baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan
yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan
lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial” yang memepengaruhi
individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :
a. Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam
kandungan (faktor pranatal)
Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh
kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir, antara lain :
1. Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada
waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir
mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak,
anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena infeksi,
abortus dan sebagainya.
2. Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam uterus
dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis
kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
3. Toksin/zat kimia
Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi
antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol beserta logam berat
lainnya.
4. Endokrin

Page 9
Skenario A

Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin,


adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta, peptida-
peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin. Apabila salah satu
dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat
menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan susunan
saraf pusat sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan
lain-lain.
5. Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat
menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau
cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki
dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.
6. Infeksi
Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi
intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah
TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan
penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza dan
lain-lain.
7. Stres
Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi
tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan
kejiwaan dan lain-lain.
8. Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus,
hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
9. Anoksia embrio
Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta
atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
setelah lahir (faktor postnatal)

Page 10
Skenario A

Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu
sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-
organ ibunya,ke suatu sistem yang tergantung pada kemempuan
genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri.

Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak


secara umum dapat digolongkan menjadi :
1. Lingkungan biologis
Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis
kelamin, umur, gizi,, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap
penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.
2. Faktor fisik
Yang termasuk dalam faktor fisik itu antara lain yaitu cuaca,
musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah
baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan
hunian, serta radiasi.
3. Faktor psikososial
Stimulasi merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak,
selain itu motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan
memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran atau
hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menimbulkan
motivasi yang kuat dalam perkembangan kepribadian anak kelak di
kemudian hari, Dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya
anak memerlukan teman sebaya, stres juga sangat berpengaruh
terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas
interaksi anak orangtua dapat mempengaruhi proses tumbuh
kembang anak.
4. Faktor keluarga dan adat istiadat
Faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak
yaitu pekerjaan/pendapatan keluarga yang memadai akan
menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat

Page 11
Skenario A

menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun


sekunder, pendidikan ayah/ibu yang baik dapat menerima informasi
dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik,
menjaga kesehatan, dan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara
yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup
akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang
yang diterima anak, jenis kelamin dalam keluarga seperti apad
masyarakat tradisonal masih banyak wanita yang mengalami
malnutrisi sehingga dapat menyebabkan angka kematian bayi
meningkat, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, adat-
istiadat, norma-norma, tabu-tabu, agama, urbanisasi yang banyak
menyebabkan kemiskinan dengan segala permasalahannya, serta
kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas
kepentingan anak, anggaran dan lain-lain (Soetjiningsih, 2014).
e. Apa makna anak tidak mengalami demam ,batuk ,pilek ,dan sesak
nafas?
Artinya tidak ada infeksi, sehingga bukan merupakan penyebab dari
nafsu makan kurang. Karena faktor penyebab nafsu makan kurang
salah satunya adalah infeksi. Infeksi akut yang dapat menimbulkan
gangguan makan adalah infeksi saluran napas akut atas/bawah.
Sedangkan untuk infeksi kronis adalah tuberkulosis paru dan malaria
(Soetjiningsih, 2014).
f. Apa kemungkinan penyebab dari nafsu makan berkurang pada anak ?
Kesulitan makan atau gangguan makan dapat disebabkan beberapa
faktor:
1. Kelainan kebiasaan makan: karena kesalahan cara pemberian makan
selama bayi.
2. Kelainan psikologis: karena kegelisahan dan kebimbangan orangtua
atau pengasuh, menyebabkan bayi gelisah, gangguan tidur,
menangis berlebih, anoreksia, bahkan muntah.
3. Kelainan organik:

Page 12
Skenario A

a) Kelainan gigi-geligi/rongga mulut: kelainan bawaan seperti celah


bibir (labioschisis), gangguan menghisap/mengunyah, infeksi pada
gigi atau rongga mulut, dsb.

b) Kelainan pada saluran cerna: kelainan bawaan seperti penyakit


Hirschsprung, penyakit infeksi seperti diare, penyakit cacingan,
dsb.

c) Penyakit infeksi secara umum: Infeksi akut yang dapat


menimbulkan gangguan makan adalah infeksi saluran napas akut
atas/bawah. Sedangkan untuk infeksi kronis adalah tuberkulosis
paru dan malaria.

d) Kelainan non-infeksi: penyakit jantung bawaan dan sindroma-


down.

e) Penyakit lainnya: tumor Willems, anemia, leukemia, dsb


(Soetjiningsih, 2014).

2. Berat badan Ana naik setiap buan naik rata-rata 200-300 gram. Berat badan
tertinggi adalah saat ini. Ana diberi ASI eksklusif hanya sampai usia 1
bulan. Sejak usia 1 bulan hanya diberikan susu formula standar 6 kali sehari
@ 90 cc sampai usia 4 bulan. Setelah usia 4 bulan sampai sekarang tetap
diberikan susu formula dengan jumlah yang sama ditambah MP ASI berupa
nasi 1-2 kali sehari @ 5 sendok makan.
a. Apa makna tiap bulan bulan BB Ana naik rata-rata 200-300 gram?
Maknanya mengalami gangguan pertumbuhan normal berat badan
bayi usia 10-12 bulan.
Dimana Bayi yang lahir cukup bulan, dan mendapat gizi yang baik
akan mengalami peningkatan berat badan berkisar antara :
1) 700-1000 gram/bulan pada triwulan I
2) 500-600 gram/bulan pada triwulan II
3) 350-450 gram/bulan pada triwulan III
4) 250-350 gram/bulan pada triwulan IV

Page 13
Skenario A

(Soetjiningsih, 2014).

b. Apa manfaat dari ASI eksklusif ?


a. Bagi bayi
Menurunkan insidens dan keparahan diare, penyakit saluran nafas,
otitis media, bakteremia, meningitis bakterialis dan enterokolitis
nekrotikans.
b. Bagi ibu
Menyusui memberi manfaat penurunan risiko perdarahan pasca
melahirkan, amenore yang lebih lama, penurunan risiko kanker
ovarium dan kanker payudara pramenopause, dan kemungkinan
berkurangnya risiko osteoporosis.
c. Bagi masyarakat
Menurunkan biaya pemeliharaan kesehatan karena bayi yang
mendapat ASI lebih jarang mengalami sakit dan menurunkan angka
absensi pekerja yang disebabkan bayi sakit.
ASI dapat menurunkan insidens alergi makanan dan eksim. ASI
juga mengandung antibodi terhadap bakteri dan virus (IgA
sekretorik) dan faktor kekebalan nonspesifik, mencakup makrofag
dan nukleotida, yang juga membantu melawan infeksi (Krebs dan
Primak, 2014).

c. Berapa batasan usia diberikan ASI eksklusif ?


Air Susu Ibu Eksklusif yang selanjutnya disebut ASI Eksklusif adalah
ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam)
bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau
minuman lain (Marcdante, 2014).

d. Bagaimana hubungan Ana di beri Asi sampai usia 1 bulan dengan


keadaan sekarang?

Page 14
Skenario A

Pemberian ASI eksklusif pada ana tidak optimal yang dapat


menyebabkan terjadinya keterlambatan pada pertumbuhan dan
perkembangan anak sehingga Ana mempunyai keluhan belum bisa
duduk (Marcdante, 2014).

e. Apa dampak dari tidak diberikan Asi eksklusif ?

Bertambahnya kerentanan terhadap penyakit (baik anak maupun ibu)


Dengan menyusui, dapat mencegah 1/3 kejadian infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA), kejadian diare dapat turun 50%, dan penyakit
usus parah pada bayi premature dapat berkurang kejadiannya sebanyak
58%. Pada ibu, risiko kanker payudara juga dapat menurun 6-10%.
Dengan mendukung ASI dapat mengurangi kejadian diare dan
pneumonia.
a. Daya tahan tidak optimal
b. Perkembangan otak kurang
c. Perkembangan gigi dan rahang kurang
d. Dampak psikologis kedekatan dengan ibu kurang
e. Sering timbul alergi dan ruam
(Marcdante, 2014).

f. Apa saja jenis makanan yang diberikan sesuai usia?

Pola pemberian makan anak 0-2 tahun sesuai dengan rekomendasi


Depkes RI (2007) seperti tertera dalam tabel berikut:

Page 15
Skenario A

Gol. Usia
Anak Jenis Makanan Frekuensi
(bulan) Sehari
0-6 ASI Sesuka bayi

ASI/susu formula, makanan


lumat (bubur susu, bubur, zASI/susu formula
sumsum, pisang saring/dikerok, sesuka bayi,
6- 9 pepaya saring, tomat saring, nasi makanan lumat 2 kali
tim saring, dll)

ASI/susu formula, makanan ASI/susu formula


9-12
lunak (bubur nasi, bubur ayam, sesuka bayi,

nasi tim, kentang pur i, dll) makanan lunak 2-3


kali

ASI/susu formula, makanan ASI/susu formula


12-24
padat atau makanan keluarga sesuka anak,
makanan keluarga 3-
5 kali

(Depkes RI, 2007)

3. Riwayat kehamilan dan persalinan:


Ana anak pertama dari ibu usia 24 tahun. Selama hamil ibu sehat dan
periksa hamil 4 kali ke bidan. Lahir spontan pada kehamilan 37 minggu.
Segera setelah lahir langsung menangis, skor APGAR 1 menit 9 dan 5
menit 10. Berat badan lahir 2800 gram. Panjang badan lahir 49 cm. Lingkar
kepala lahir 33 cm.
Riwayat Imunisasi : BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 3 kali

Page 16
Skenario A

Riwayat Pertumbuhan: Lampiran gambar KMS Ana


Riwayat Perkembangan: Saat ini hanya bisa duduk dengan bantuan
Riwayat Pengobatan : Tidak pernah berobat
a. Bagaimana interpretasi dari semua riwayat ?
Riwayat kehamilan dan persalinan

Interpretasi
ANC 4 Normal

Lahir spontan dan Normal


menangis
APGAR tidak terjadi asfiksia
BB: 2800 Normal
PB: 49 cm Normal
LK: 49 cm Normal

Riwayat Imunisasi
BCG 1 kali sudah tercukupi
DPT 3 kali sudah tercukupi
Polio 3 kali sudah terckukupi
Riwayat Pertumbuhan:
Berat Badan Menurut Panjang Badan Anak Perempuan Usia 0 - 24 Bulan
Standar WHO 2005
PB - Median -1 SD -2 SD -3 SD
TB
(cm)
60 5.9 5.4 4.9 4.5
cm

Page 17
Skenario A

z score =
= 5 – 5.9
5.9 – 5.4
= - 1.8
=-2
Maka interpretasinya adalah status gizi kurang.

Riwayat Perkembangan:
Tidak sesuai perkembangan anak usia 10 bulan.

Riwayat Pengobatan:
Menunjukan tidak pernah sakit sebelumnya.

b. Bagaimana cara mengukur APGAR skor?

Kriteria Skor APGAR:

Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2 Akronim

warna kulit tubuh warna kulit


normal merah tubuh, tangan,
Warna seluruhnya muda, dan kaki
Appearance
Kulit biru tetapi tangan dan normal merah
kaki kebiruan muda, tidak
(akrosianosis) ada sianosis

Denyut >100
>60 x/mnt 60-100 kali/menit Pulse
jantung kali/menit

tidak ada meringis/menangis meringis/bersi


Respons
respons lemah ketika n/batuk saat Grimace
Refleks
terhadap distimulasi stimulasi

Page 18
Skenario A

stimulasi saluran napas

Tonus lemah/tidak
sedikit gerakan bergerak aktif Activity
Otot ada

tidak ada menangis kuat,


atau tidak menangis lemah pernapasan
Pernapasan Respiration
menangis atau tidak teratur baik dan
spontan teratur

Interpretasi Skor APGAR

8-10: Tidak asfiksia

5-7: Asfiksia ringan

3-4: Asfiksia sedang

0-2: Asfiksia berat (Prawirohardjo, 2010).

c. Bagaimana jadwal imunisasi pada anak?

4. Keadaan umum : Tampak kurus, apatis, cengeng, berat badan 5 kg,


panjang badan 60 cm , lingkar kepala 43 cm
Tanda Vital : HR: 112x/menit , RR : 32x/menit, T: 36,5oC
a. Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik keadaan umum?

Page 19
Skenario A

b. Bagaimana mekanisme hasil pemeriksaan fisik keadaan umum yang


abnormal ?
5. Keadaan spesifik :
Kepala :
- Wajah dismorfik tidak ada
- Wajah seperti orang tua
- Rambut kepala tipis warna merah kekuningan mudah dicabut
- Tatapan mata sayu
- Melihat dan menangis kepada pemeriksa
- Menoleh ketika dipanggil namanya
Thoraks : Iga gambang ( piano sign)
Abdomen : cekung
Ekstremitas :
- Keempat ekstremitas tampak kurus
- Edema tidak ada
- Tidak ada kelaina anatomi pada kedua tungkai kaki
Kulit: Kelainan kulit dermatosis tidak ada
Status Neurologikus :
- Gerakan normal, kekuatan otot motorik 4
- Tonus dan klonus normal
- Refleks patologis (-)
- Reflek fisiologis normal
- Tidak ada gerakan yang tidak terkontrol
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik keadaan spesifik ?

Hasil Nilai Normal Interpretasi


Pemeriksaan

Tampak kurus Tidak normal

Page 20
Skenario A

Apatis Compos mentis Tidak normal

Cengeng

Berat badan 5 8,5 kg Sangat kurus


kg

Panjang badan 73 cm Sangat pendek


71 cm

Lingkar kepala 42,5 – 47,5 cm Normal


45 cm

HR 112x/menit < 1 tahun : < 160 Normal

>1 tahun : < 140

Atau

0-2 thn < 150-160

3-5 thn < 140

6-12 thn < 100-120

RR 32x/menit < 2 bulan : < 60 Normal

2 – 12 bulan : < 50

12 bln – 5 thn : <


40

Atau

0-2 thn < 40-60

3-5 thn < 35

6-12 thn < 30

Page 21
Skenario A

T 37,5o C 36,5-37,2oC Normal

Kepala:

- Wajah
dismorfik
- Kurang gizi tipe
tidak ada
marasmus
- Wajah
- Defisiensi protein,
seperti
kalori dan tembaga
wajah orang
tua
- Rambut
kepala tipis
warna
merah
kekuningan
mudah
dicabut
- Kontak mata
baik
- Melihat dan
menangis
kepada
pemeriksa
- Menoleh
ketika
dipanggil
namanya
Thoraks: Kurang gizi.
Menandakan defisiensi
Iga gambang
vitamin D dan C

Page 22
Skenario A

(piano sign)

Abdomen Kurang gizi tipe


cekung marasmus

Genitalia: Penurunan simpanan


lemak pada jaringan
Baggy pants (+)
adiposa di regio gluteus.

Ekstremitas:

- Edema tidak
ada
- Tidak ada
kelainan
anatomi pada
kedua
tungkai dan
kaki
Kulit:

Kelainan kulit
(dermatosis)
tidak ada

Gerakan normal, Gerakan normal, Gangguan


kekuatan otot kekuatan otot perkembangan motorik
motorik 4 motorik 5 kasar

Klonus dan Klonus dan tonus Normal


tonus normal normal
Refleks Refleks fisiologis Normal
fisiologis normal normal

Page 23
Skenario A

Refleks Refleks patologis Normal


patologis (-) (-)
Tidak ada Tidak ada gerakan Normal
gerakan yang yang tidak
tidak terkontrol terkontrol

b. Bagaimana mekanisme abnormal dati pemeriksaan fisik keadaan


spesifik?

Wajah seperti orangtua


Asupan nutrisi inadekuat  kurangnya kalori  ↓ Angka Kecukupan
Gizi (AKG)  cadangan lemak subkutan pada daerah wajah ↓  wajah
seperti orangtua
(Lin, 2007)

Rambut kepala tipis berwarna merah kekuningan dan mudah


dicabut
Asupan nutrisi inadekuat  defisiensi kalori, protein dan tembaga  ↓
Angka Kecukupan Gizi (AKG)  nutrisi untuk rambut ↓  rambut
kepala tipis berwarna merah kekuningan dan mudah dicabut
(Lin, 2007)
Mekanisme baggy pants :
Asupan nutrisi inadekuat  Sumber bahan untuk pembentukan energi
berkurang  Alternatif pembentukan energi menggunakan lipid di
lapisan subkutan tubuh ex:gluteus dan wajah ( Katabolime meningkat
sedangkan Anabolisme menurun)  penipisan lapisan gluteus sebagai
bantalan os.sacrum dan os. pelvis untuk duduk  Kesulitan untuk duduk

Page 24
Skenario A

6. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini ?

a) Anamnesis
- Diet yang lazim sebelum sakit
- Riwayat pemberian ASI
- Pangan dan cairan yang disantap bebeapa hari sebelum sakit
- Lama dan frekuensi muntah atau diare; tampilan muntahan dan
tinja cair
- Saat terakhir berkemih
- Kontak dengan penderita campak dan TBC
- Riwayat kematian saudara kandung
- Berat badan lahir
- Riwayat perkembangan fisik
- Riwayat imunisasi

b) Pemeriksaan Fisik
- Mengukur TB dan BB
- Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram)
dibagi dengan TB (dalam meter)
- Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah
belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga
lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan
menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit
banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak
normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada
wanita.
- Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk
memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body
massa, massa tubuh yang tidak berlemak).
- Pembesaran dan kenyerian hati, jaundi
- Ketegangan perut, suara usus

Page 25
Skenario A

- Pucat yang parah


- Tanda kolaps sirkulasi; tangan dan kaki dingin, denyut nadi
radial lemah, kesadaran menurun
- Suhu tubuh; hipotermia atau demam
- Rasa haus
- Mata ; lesi kornea (penanda KVA)
- THT: adakah tanda infeksi
- Kulit : adakah tanda infeksi atau purpura
- Frekuensi dan jenis pernapasan; tanda pneumonia atau gagal
jantung (Lin, 2007).

7. Bagaimana diagnosis banding pada kasus ini ?

Marasmus Kwashiorkor Marasmic-


kwashiorkor
Tubuh Sangat kurus Edema seluruh Edema
tubuh
Lemak Hilang Berlipat-lipat Berlipat-lipat
subkutan
Satatus Lethargy, Lethargy, apatis, Lethargy,
mental apatis, iritabilitas apatis,
iritabilitas iritabilitas
BB Penurunan Normal/Sedikit Sedikit turun
drastis BB turun
Status gizi Buruk Buruk Buruk
Wajah Seperti orang Edema Seperti orang
tua tua

8. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus ini ?

Pada pemeriksaan laboratorium Pem. Lab (uji albumin serum , transferin ,


prealbumin) untuk mengetahui kerusakan ginjal:

Page 26
Skenario A

- kadar albumin serum rendah


- kadar globumin normal atau sedikit tinggi
- peningkatan fraksi globumin alfa 1 dan globumin gama
- kadar globumin beta rendah
- kadar globumin alfa 2 menetap
- kadar kolesterol serum menurun
- uji turbiditas timol meninggi
a) Pada biopsi hati ditemukan perlemahan yang kadang-kadang demikian
hebatnya sehingga hampir semua sela hati mengandung vakual lemak
besar. Sering juga ditemukan tanda fibosis, nekrosis dan infiltrasi sel
mononukleus.
b) Pada hasil outopsi penderita kwashiorkor yang berat menunjukan
hampir semua organ mengalami perubahan seperti degenerasi otot
jantung, osteoporosis tulang dan sebagainya.
c) Pada pemeriksaan otopometri berat badan dibawah 90%, lingkar
lengan di bawah 14 cm.
(Matodang, dkk, 2003)

9. Bagaimana working diagnosis pada kasus ini ?


Gangguan perkembangan motorik kasar dan marasmus

10. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini ?


Karena pada kasus ini didapat kan gizi buruk dengan kondisi V sesusai
dengan ciri di gamabar dibawah ini:

Page 27
Skenario A

Maka tatalaksana yang di gunakan pada kasus ini dijabarkan di gambar

berikut:

catatan pemberian F75 sesuai kasus dengan berat badan 5800 :

setiap 2 jam 65 ml, setiap 3 jam 95 ml , setiap 4 jam 130 ml

(Kemenkes, 2011)

Page 28
Skenario A

11. Apa yang terjadi bila kasus ini tidak ditangani secara komprehensif?
12. Komplikasi yang mungkin terjadi menurut (Markum : 1999 : 168)
defisiensi Vitamin A, infestasi cacing, dermatis tuberkulosis,
bronkopneumonia, noma, anemia, gagal tumbuh serta keterlambatan
perkembangan mental dan psikomotor.

a. Defisiensi Vitamin A

Umumnya terjadi karena masukan yang kurang atau absorbsi yang terganggu.
Malabsorbsi ini dijumpai pada anak yang menderita malnurtrisi, sering
terjangkit infeksi enteritis, salmonelosis, infeksi saluran nafas) atau pada
penyakit hati. Karena Vitamin A larut dalam lemak, masukan lemak yang
kurang dapat menimbulkan gangguan absorbsi.

b. Infestasi Cacing

Gizi kurang mempunyai kecenderungan untuk mudahnya terjadi infeksi


khususnya gastroenteritis. Pada anak dengan gizi buruk/kurang gizi investasi
parasit seperti cacing yang jumlahnya meningkat pada anak dengan gizi
kurang.

c. Tuberkulosis

Ketika terinfeksi pertama kali oleh bakteri tuberkolosis, anak akan


membentuk “tuberkolosis primer”. Gambaran yang utama adalah pembesaran
kelenjar limfe pada pangkal paru (kelenjar hilus), yang terletak dekat bronkus
utama dan pembuluh darah. Jika pembesaran menghebat, penekanan pada
bronkus mungkin dapat menyebabkanya tersumbat, sehingga tidak ada udara
yang dapat memasuki bagian paru, yang selanjutnya yang terinfeksi. Pada
sebagian besar kasus, biasanya menyembuh dan meninggalkan sedikit
kekebalan terhadap penyakit ini. Pada anak dengan keadaan umum dan gizi
yang jelek, kelenjar dapat memecahkan ke dalam bronkus, menyebarkan
infeksi dan mengakibatkan penyakit paru yang luas.

d. Bronkopneumonia

Page 29
Skenario A

Pada anak yang menderita kekurangan kalori-protein dengan kelemahan otot


yang menyeluruh atau menderita poliomeilisis dan kelemahan otot
pernapasan. Anak mungkin tidak dapat batuk dengan baik untuk
menghilangkan sumbatan pus. Kenyataan ini lebih sering menimbulkan
pneumonia, yang mungkin mengenai banyak bagian kecil tersebar di paru
(bronkopneumonia).

e. Noma

Penyakit mulut ini merupakan salah satu komplikasi kekurangan kalori-


protein berat yang perlu segera ditangani, kerena sifatnya sangat destruktif
dan akut. Kerusakan dapat terjadi pada jaringan lunak maupun jaringan tulang
sekitar rongga mulut. Gejala yang khas adalah bau busuk yang sangat keras.
Luka bermula dengan bintik hitam berbau diselaput mulut. Pada tahap
berikutnya bintik ini akan mendestruksi jaringan lunak sekitarnya dan lebih
mendalam. Sehingga dari luar akan terlihat lubang kecil dan berbau busuk.

13. Bagaimana prognosis pada kasus ini ?


Dubia ad bonam

14. Bagaimana KDU pada kasus ini ?


Tingkat Kemampuan 4
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya :
pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat
memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga
tuntas (Konsil Kedokteran Indonesia, 2012).

15. Bagaimana NNI pada kasus ini ?


”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan

Page 30
Skenario A

kewajiban ayah member makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara yang ma’ruf.Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena
anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun
berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua
tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada
dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang
lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran
menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs Al Baqarah (2) :
233).

Page 31
Skenario A

2.6 Hipotesis
Ana, anak perempuan usia 10 bulan mengalami keluhan utama belum
bisa duduk,wajah seperti orang tua,rambut tipis warna merah dan mudah
dicabut, iga gambang, baggy pants akibat ganguan fungsi motorik kasar
dan marasmus.

2.7 Kerangka Konsep

Asi eksklusif sampai usia 1 bulan Susu formula + MP ASI inadekuat

Gangguan pada Malnutrisi


fungsi motorik kasar

Marasmus
Tidak bias duduk

- Wajah seperti orang tua


- Rambut tipis warna merah
mudah dicabut
- Iga gambang
- Baggy pants

Page 32
Skenario A

Daftar pustaka
A.H. Markum 1999. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: Balai
penerbit FKUI

Adnyana, Sugitha. 2014. Perkembangan Kognitif dalam: Tumbuh Kembang


Anak. EGC, Jakarta, Indonesia.
Depkes RI, 2002. Strategi Nasional Peningkatan Pemberian Asi. Jakarta

Kemenkes. 2011. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk, Buku I. Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bina Gizi Dan
Kesehatan Ibu Dan Anak.Jakarta
Marchadante, K. J., dkk. 2011. Nelson Essensial of Pediatric (edisi ke-6)
Terjemahan Oleh: Ikatan Dokter Anak Indonesia, Elsevier, Singapore.

Matodang, dkk. 2003. Diagnosis Fisik pada Anak Edisi ke-2. Jakarta: CV Sagung
Seto

Krebs, NF., dan Primak, LE.2014. Nutrisi Pediatrik dan Kelainan Nutrisi
Pediatrik dalam: Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi 6. Elsevier, Jakarta,
Indonesia.
Lin, CA. 2007. A Prospective Assesment of Food and Nutrient Intake in a
Population of Malawian Chidren at Risk for Kwashiorkor and Marasmus.
Journal of pediatric. (http://www.journals.lww.com, Diakses 22 September
2016).

Soetjiningsih, IG. N. Gde Ranuh. 2014. Tumbuh Kembang Anak, Ed. 2.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Prawirohardjo, Sarwono .2010. Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.Jakarta: PT Bina Pustaka

Page 33