Anda di halaman 1dari 56

MAKALAH EKOWISATA

“Penerapan Ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo, Taman

Nasional Bromo-Tengger-Semeru”

Dosen Pembimbing: Dr.Pipin Noviati Sadikin,S.S.,MM

Disusun oleh :

Kelompok VIII

Sulton Abdulloh K 2016337090

Rini Afriani 2016330064

Nabilah 2017339067

Fahreza Gusnawan 2016330037

Jumadra 2013330004

UNIVERSITAS SAHID JAKARTA

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan

makalah ini sehingga dapat terselesaikan. Tanpa pertolongan-NYA mungkin penyusun

tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca

dapat mengetahui proses-prose pengembangan ekologi pariwisata di suatu daerah

tertentu yang terjadi di sekitar kita yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari

beberapa sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik

itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh

kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat

terselesaikan. Makalah ini berisi tentang “Penerapan Ekowisata berbasis masyarakat di

kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru” dan sengaja dipilih

karena menarik perhatian kami untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari

semua pihak yang peduli terhadap dunia pariwisata. Penyusun juga mengucapkan

terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini

sehingga kini bisa dibaca dan memberikan informasi tertentu pada pembaca.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada

pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon

untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penulis

Kelompok

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar ..................................................................................................................i

Daftar isi .............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ..............................................................................................................1

1.2 Rumusan masalah ..........................................................................................................5

1.3 Batasan Masalah ............................................................................................................5

1.4 Tujuan Masalah ............................................................................................................5

1.5 Manfaat Penelitian .........................................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pariwisata .......................................................................................................7

2.2 Pengertian Strategi .......................................................................................................11

2.3 Definisi Ekowisata .......................................................................................................11

2.4 Taman Nasional ...........................................................................................................14

2.5 Zonasi Taman Nasional ................................................................................................ 15

BAB III METODE PENULISAN

3.1 Populasi .......................................................................................................................23

ii
3.2 Waktu Dan Lokasi Penelitian .......................................................................................23

3.3 Jenis Dan Sumber Data ................................................................................................ 23

3.4 Teknik Pengumpulan Data ...........................................................................................25

BAB IV GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Kawasan Gunung Bromo .....................................................................26


B. Kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru .........................................27
C. Daya Tarik Wisata .............................................................................................32
D. Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru .....................................35

BAB V PEMBAHASAN

A. Penerapan Ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo, Taman


Nasional Bromo-Tengger-Semeru ...........................................................................38
B. Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Gunung
Bromo Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ..................................................41
C. Faktor Pendukung Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan
Gunung Bromo ........................................................................................................42
D. Faktor Penghambat Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan
Gunung Bromo ........................................................................................................43
E. Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Gunung
Bromo ......................................................................................................................44

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan ..............................................................................................................48
B. Saran .......................................................................................................................49

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................50

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara.Dengan
adanya pariwisata, akan menarik perkembangan sektor-sektor lain karena produk-
produknya diperlukan untuk menunjang industri pariwisata, seperti sektor pertanian,
peternakan, kehutanan, perkebunan, kelautan dan perikanan, dan lain sebagainya.
Mata rantai sektor-sektor yang berkesinambungan satu sama lain dengan sektor
pariwisata memiliki dampak multiganda terhadap sektor pariwisata, atau biasa juga
disebut multiplier effects based tourism. Menurut Glasson (1990) multiplier
effects adalah suatu kegiatan yang dapat memacu timbulnya kegiatan lain.
Berdasarkan teori ini dapat dijelaskan bahwa industri pariwisata akan menggerakkan
industri-industri pada sektor lain sebagai pendukungnya.

Dalam hal sektor kehutanan, Indonesia merupakan negara yang memiliki


hamparan hutan luas serta memiliki peran penting bagi kehidupan isi bumi, selain itu
hutan yang kita miliki menyimpan kekayaan hayati serta memiliki berbagai flora dan
fauna yang kini menjadi kekayaan tersendiri bagi Indonesia.Selain itu, Indonesia
dikaruniai salah satu hutan tropis yang paling luas dan paling kaya keanekaragaman
hayatinya di dunia.Puluhan juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup dan mata
pencahariannya dari hutan, baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka atau bekerja pada beberapa sektor industri
kehutanan. Hutan tropis di Indonesia merupakan habitat flora dan fauna yang
kelimpahannya tidak tertandingi oleh negara lain dengan ukuran luas yang sama.
Untuk melindungi kekayaan alam yang kita miliki ini, tentu kita sebagai penerus
bangsa memiliki tugas untuk menjaga kelestarian serta menjaga ekosistem yang
terdapat disana, agar flora dan fauna serta manfaat hutan untuk makhluk hidup yang
ada di bumi tidak terganggu.Mengingat, selain fungsi hutan yang memberikan
banyak manfaat untuk mata pencaharian bagi masyarakat sekitar, hutan juga mampu
mengurangi polusi di dunia dan mampu menekan global warming yang semakin
meninggi akibat polusi udara yang semakin menyeruak.

1
Di Indonesia, adapun kawasan hutan yang dilindungi oleh pemerintah yaitu
Taman Nasional. Taman Nasional merupakan tanah yang dilindungi, biasanya
oleh pemerintahpusat, dari perkembangan manusia dan polusi.Taman nasional
merupakan kawasan yang dilindungi (protected area) oleh World Conservation
Union Kategori II. Adapun pengertian lain mengenai Taman Nasional adalah
kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem
zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Kriteria suatu wilayah dapat ditunjuk
dan ditetapkan sebagai kawasan taman nasional meliputi: (1) memiliki sumber daya
alam hayati dan ekosistem yang khas dan unik yang masih utuh dan alami serta
gejala alam yang unik; (2) memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh;
(3) mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis
secara alami; dan (4) merupakan wilayah yang dapat dibagi kedalam zona inti, zona
pemanfaatan, zona rimba, dan/atau zona lainnya sesuai dengan keperluan.

Salah satu taman nasional yang terkenal di Indonesia adalah Taman Nasional
Bromo-Tengger-Semeru. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru adalah taman
nasional di Jawa Timur, Indonesia, yang terletak di wilayah administratif Kabupaten
Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.
Taman yang bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara-selatannya
sekitar 40 km ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar
50.276,3 ha, dan di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6290 ha.
Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-
700 meter.Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru merupakan satu-satunya
kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas
5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Konservasi dilakukan untuk melestarikan dan melindungi alam.menurut ilmu


lingkungan, Konservasi adalah: (a.) Upaya efisiensi dari penggunaan energi,
produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi
energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya; (b) Upaya
perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya
alam; (c) (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi

2
kimia atau transformasi fisik; (d) Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang
terhadap lingkungan; dan (e) Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu
wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat
berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.

Upaya konservasi ini dilakukan oleh pihak Taman Nasional Bromo-Tengger-


Semeru yang bekerja sama dengan pihak masyarakat sekitar. Kerja sama tersebut
dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di kawasan
hutan Bromo-Tengger-Semeru. Untuk melibatkan masyarakat yang notabennya
petani, pihak Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru melakukan beberapa kegiatan
yang berkesinambungan seperti sosialisasi dan pelatihan yang berkaitan dengan
konservasi tersebut.Manfaat yang dihasilkan dari kegiatan pelatihan memberikan
gambaran kepada masyarakat mengenai tentang pentingnya menjaga kelestarian
hutan, dari kegiatan ini timbul pula istilah ekowisata yang juga berkaitan erat dengan
kegiatan konservasi yang melibatkan masyarakat. Menurut The International
Ecotourism Society (TIES) Ekowisata adalah “perjalanan yang bertanggung jawab
ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan
meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”. Adapun pengertian ekowisata
menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No.33 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pengembangan Ekowisata di Daerah, yang menyatakan bahwa Ekowisata adalah
kegiatan wisata alam di daerah yang bertanggungjawab dengan memperhatikan unsur
pendidikan, pemahaman, dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi
sumberdaya alam, serta peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Bedanya,
ekowisata ini merupakan kegiatan yang lebih mengarah pada wisata yang melibatkan
pelestarian lingkungan alam, dimana upaya menjaga alam serta melestarikannya
mampu menghasilkan produk wisata yang bisa dijual kepada wisatawan yang tertarik
akan alam.

Mengingat kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru adalah salah


satu dari 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Indonesia yang
berdasarkan Lampiran III, Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2011 tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional 2010-2025. Oleh karena itu
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru cukup terkenal dan ramai dikunjungi oleh

3
kalangan wisatawan domestik maupun internasional. Hal ini menuntut pihak Taman
Nasional Bromo-Tengger-Semeru dan masyarakat sekitar akan tanggung jawab
menjaga keasrian Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dengan menerapkan atau
melaksanakan kegiatan konservasi dan ekowisata sebagai langkah utama.

Melihat kondisi Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru sekarang, kegiatan


konservasi dan ekowisata sudah terlihat jelas memberikan manfaat pada kawasan
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dilihat dari tatanannya yang rapi serta
peraturan-peraturan yang berkaitan dengan menjaga ekosistem alam di sekitar
kawasan taman nasional. Akan tetapi, kondisi yang optimal belum terlihat dari segi
kebersihan, hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya sampah yang
ditemukan di sekitar kawasan Taman Nasional.

Hal tersebut bertolakbelakang dengan kenyataan akan kegiatan sosialisasi


yang diadakan secara berkelanjutan oleh pihak Taman Nasional Bromo-Tengger-
Semeru yang bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Upaya yang dilakukan seperti
pelatihan, pemberian materi, ajakan untuk masyarakat membangun usaha kecil, serta
banyaknya pembentukan kelompok-kelompok yang memiliki tugas dan fungsi yang
sama yaitu memanfaatkan hutan untuk kesejahteraan masyarakat, dari upaya
tersebut belumbisamenyelesaikan masalah dan memberikan hasil yang optimal di
kawasan Taman Nasional khususnya kawasan Gunung Bromo.

Mengenai masalah yang timbul di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-


Semeru memancing rasa ingin tahu kami sebagai peneliti yang berlatarbelakang
kepariwisataan serta mempelajari secara mendalam mengenai ekowisata dan
konservasi tersebut untuk menggali penyebab akan masalah yang jelas terlihat di
kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru yang diketahui aktif dalam
melakukan konservasi dan ekowisata disana. Sehingga, dengan berlatarbelakang dari
masalah yang nyata tersebut, kami melakukan penelitian di kawasan Gunung Bromo
yang merupakan kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dengan judul
“Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Gunung Bromo,
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru”

4
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana penerapan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung


Bromo Taman Nasional Bromo Tengger Semeru?
2. Bagaimana strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di
kawasan Gunung Bromo Taman Nasional Bromo Tengger Semeru?

1.3 Batasan Masalah

1. Penerapan Ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo,


Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dalam hal ini peneliti fokus
pada bagaimana penerapan konsep Ekowisata dilihat dari prinsip dan
kriteria Ekowisata berbasis masyarakat.
2. Strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan
Gunung Bromo Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dalam hal ini
peneliti menggunakan teknik analisis SWOT mengukur kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki untuk menghasilkan
strategi.

1. 4 Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui penerapan Ekowisata berbasis masyarakat di kawasan


Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
2. Untuk mengetahui Strategi Pengembangan Ekowisata berbasis
masyarakat di Kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo-
Tengger-Semeru.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti ; sebagai referensi bagi peneliti yang ingin meneliti lebih
mendalam tentang pengembangan Ekowisata kawasan Gunung Bromo
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
2. Bagi Akademik; hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
masukan dan referensi untuk penelitian maupun penulisan yang serupa
serta menambah kepustakaan yang ada di Akademi Pariwisata Makassar.

5
3. Bagi Pengelola, Pemerintah, dan instansi yang terkait; dari hasil
penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam
pengambilan kebijakan atau keputusan terhadap permasalahan yang
dihadapi di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
4. Bagi Masyarakat; dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
informasi dan acuan untuk ikut serta dalam pengembangan Taman
Nasional Bromo-Tengger-Semeru.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI PARIWISATA

A. Pengertian Pariwisata

Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan,


pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk
pengelola atau penyelenggara serta pengusahaan daya tarik wisata serta usaha-usaha
yang terkait di bidang ini sehingga orang/wisatawan datang untuk mengunjunginya.
Sedangkan pengertian pariwisata menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2009
adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah
daerah. Di lain sisi, WTO mendefinisikan pariwisata sebagai :

“…the activities of persons travelling to and staying in places outside their usual
environment for not more than one concecutive years for leisure, business, and
other purposes…”, (Dalam Muljadi 2009:9).

Kemudian menurut Spilane (1987: 21), dalam arti luas pariwisata adalah
perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan
maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan
kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu.
Ditambahkan pula bahwa pariwisata terbagi atas beberapa jenis, yaitu : 1) Pariwisata
untuk menikmati perjalanan (pleasure time), 2) Pariwisata untuk
berekreasi (recreation tourism), 3) Pariwisata untuk kebudayaan (culture tourism), 4)
Pariwisata untuk olahraga (sports tourism), 5) Pariwisata untuk urusan usaha
dagang (business tourism), dan 6) Pariwisata untuk berkonvensi (convention
tourism).

7
Menurut Fandeli (1995: 37), pariwisata adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek daya tarik wisata serta usaha-usaha
yang terkait di bidang tersebut. Dijelaskan pula bahwa wisata merupakan suatu
kegiatan bepergian dari suatu tempat ke tempat tujuan lain di luar tempat tinggalnya,
dengan maksud bukan untuk mencari nafkah, melainkan untuk menciptakan kembali
kesegaran baik fisik maupun psikis agar dapat berprestasi lagi.

Sementara itu menurut Pendit (1990:29) bahwa pariwisata merupakan suatu


sektor yang kompleks, yang juga melibatkan industri-industri klasik, seperti
kerajinan tangan dan cinderamata, serta usaha-usaha penginapan dan transportasi.
Ditambahkan pula bahwa pariwisata terdiri atas 10 unsur pokok yaitu : 1) politik
pemerintah, 2) perasaan ingin tahu, 3) sifat ramah tamah, 4) jarak dan waktu, 5)
atraksi, 6) akomodasi, 7) pengangkutan, 8) harga-harga, 9) publisitas, dan 10)
kesempatan berbelanja.

Jadi dari ulasan beberapa pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa


pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, bukan
untuk bekerja atau berusaha melainkan untuk bersenang-senang/bertamasya dan
mencari pengalaman serta menambah wawasan dalam pengetahuan.

B. Kawasan Strategis Pariwisata

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.10 tahun 2009 Bab I pasal 10


menjelaskan tentang Kawasan strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki
fungsi utama Pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang
mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan
ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung
lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Kemudian dipertegas di dalam
Bab V pasal 12 yaitu :

1. Penetapan kawasan strategis pariwisata dilakukan dengan memperhatikan :


(a). Sumber daya pariwisata alam dan budaya yang potensial menjadi daya
tarik pariwisata. (b). Potensi pasar. (c). Lokasi strategis yang berperan

8
menjaga persatuan bangsa dan keutuhan wilayah.(d). Perlingdungan terhadap
lokasi tertentu yang mempunyai peran strategis dalam menjaga fungsi dan
daya dukung lingkungan hidup. (e). Lokasi yang strategis yang mempunyai
peran dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya. (f). Kesiapan
dan dukungan masyarakat. (g). Kekhususan dari wilayah.

2. Kawasan strategis pariwisata dikembangkan untuk berpartisipasi dalam


terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa, keutuhan negara Republik
Indonesia serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3. Kawasan strategis pariwisata harus memperhatikan aspek budaya, sosial, dan


agama masyarakat setempat.

• Usaha Pariwisata

Menurut Undang-Undang Pariwisata No.10 pasal 1 ayat 7 tahun 2009, usaha


Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan
kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.

Menurut Undang-undang No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Usaha


pariwisata meliputi:

1. Daya tarik wisata;

2. Kawasan pariwisata;

3. Jasa transportasi wisata;

4. Jasa perjalanan wisata;

5. Jasa makanan dan minuman;

6. Penyediaan akomodasi;

7. Penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi;

8. Penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi dan pameran;

9. Jasa informasi pariwisata;

10. Jasa konsultan pariwisata;

9
11. Jasa pramuwisata;

12. Wisata tirta;

• Pengertian Pengembangan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun


2002.Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yangbertujuan
memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbuktikebenarannya
untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmupengetahuan dan teknologi
yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru.Pengembangan secara umum
berarti pola pertumbuhan, perubahan secaraperlahan (evolution) dan perubahan
secara bertahap.

Menurut Seels & Richey (Alim Sumarno, 2012) pengembangan berartiproses


menterjemahkan atau menjabarkan spesifikasi rancangan kedalambentuk fitur fisik.
Pengembangan secara khusus berarti proses menghasilkanbahan-bahan
pembelajaran. Sedangkan menurut Tessmer dan Richey (AlimSumarno, 2012)
pengembangan memusatkan perhatiannya tidak hanya padaanalisis kebutuhan, tetapi
juga isu-isu luas tentang analisis awal-akhir, sepertianalisi
kontekstual.Pengembangan bertujuan untuk menghasilkan produkberdasarkan
temuan-temuan uji lapangan.

• Pengertian Penerapan

Menurut J.S Badudu dan Sutan Mohammad Zain, penerapan adalah hal, cara
atau hasil (Badudu & Zain, 1996:1487). Adapun menurut Lukman Ali, penerapan
adalah mempraktekkan,memasangkan (Ali, 1995:1044). Berdasarkan pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan merupakan sebuah tindakan
yangdilakukan baik secara individu maupun kelompok dengan maksud untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Adapun unsur-unsu rpenerapan meliputi :

1. Adanya program yang dilaksanakan

10
2. Adanya kelompok target, yaitu masyarakat yang menjadi sasaran dan
diharapkan akan menerima manfaat dari program tersebut.

3. Adanya pelaksanaan, baik organisasi atau perorangan yang bertanggung


jawab dalam pengelolaan, pelaksanaan maupun pengawasan dari proses
penerapan tersebut (Wahab, 1990:45).

2.2 PENGERTIAN STRATEGI

Kata strategi berasal dari kata Strategos dalam bahasa Yunani merupakan
gabungan dari Stratos atau tentara dan ego atau pemimpin.Suatu strategi mempunyai
dasar atau skema untuk mencapai sasaran yang dituju.Jadi pada dasarnya strategi
merupakan alat untuk mencapai tujuan.

Menurut Marrus (2002:31) strategi didefinisikan sebagai suatu proses


penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang
organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut
dapat dicapai. Selanjutnya Quinn (1999:10) mengartikan strategi adalah suatu bentuk
atau rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan
rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang utuh.

Dari kedua pendapat di atas, maka strategi dapat diartikan sebagai suatu
rencana yang disusun untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Rencana ini meliputi :
tujuan, kebijakan, dan tindakan yang harus dilakukan oleh suatu organisasi.

2.3 DEFINISI EKOWISATA

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No.33 Tahun 2009 tentang


Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah, Ekowisata adalah kegiatan wisata
alam di daerah yang bertanggungjawab dengan memperhatikan unsur pendidikan,
pemahaman, dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi sumberdaya alam, serta
peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Pengembangan ekowisata adalah kegiatan
perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ekowisata.

11
Berdasarkan Damanik dkk. (2006) selanjutnya disebutkan ada tiga perspektif
ekowisata yaitu:

1. Ekowisata sebagai produk yaitu semua atraksi yang berbasis pada sumber
daya alam.

2. Ekowisata sebagai pasar yaitu perjalanan diarahkan pada upaya-upaya


pelestarian lingkungan.

3. Ekowisata sebagai pendekatan pengembangan yaitu metode pemanfaatan dan


pengelolaan sumberdaya pariwisata secara ramah lingkungan.

Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2009),


ekowisata memiliki banyak definisi, yang seluruhnya berprinsip pada pariwisata
yang kegiatannya mengacu pada 5 (lima) elemen penting, yaitu :

1. Memberikan pengalaman dan pendidikan kepada wisatawan, sehingga dapat


meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap daerah tujuan wisata yang
dikunjunginya. Pendidikan diberikan melalui pemahaman tentang pentingnya
pelestarian lingkungan, sedangkan pengalaman diberikan melalui kegiatan-
kegiatan wisata yang kreatif disertai dengan pelayanan yang prima.

2. Memperkecil dampak negatif yang bisa merusak karakteristik lingkungan dan


kebudayaan pada daerah yang dikunjungi.

3. Mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan dan pelaksanaannya.

4. Memberikan keuntungan ekonomi terutama kepada masyarakat lokal. Oleh


karena itu, kegiatan ekowisata harus bersifat profit (menguntungkan).

5. Dapat terus bertahan dan berkelanjutan.

Berdasarkan dari elemen ekowisata, terdapat beberapa cakupan ekowisata


yaitu untuk edukasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi, serta upaya
dalam kegiatan konservasi.Pengembangan ekowisata di dalam hutan yang tidak
mengenal kejenuhan pasar, dapat menjadikan wisata alam sebagai salah
tujuan wisatawan.Oleh karena itu, pengembangan ekowisata harus mengacu pada

12
prinsip-prinsip ekowisata, untuk mencapai keberhasilan ekowisata dalam
mempertahankan kelestarian dan pemanfaatan (Fandeli, 2000).Berdasarkan Damanik
dkk. (2006), prinsip-prinsip ekowisata antara lain

1. Mengurangi dampak negatif berupa kerusakan atau pencemaran lingkungan


dan budaya lokal akibat kegiatan wisata.

2. Membangun kesadaran dan penghargaan atas lingkungan dan budaya dengan


tujuan wisata, baik pada diri wisatawan, masyarakat lokal, maupun pelaku
wisata lainnya.

3. Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi bagi wisatawan maupun


masyarakat lokal, melalui kontak budaya yang lebih intensif dan kerjasama
dalam pemeliharaan atau konservasi daerah tujuan objek wisata.

4. Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi keperluan konservasi


melalui kontribusi atau pengeluaran ekstra wisatawan.

5. Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat local,


dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal.

6. Memberikan kepekaan terhadap situasi sosial, lingkungan dan politik di


daerah tujuan wisata.

7. Menghormati hak asasi manusia dan perjanjian kerja, dalam arti memberikan
kebebasan kepada wisatawan dan masyarakat lokal untuk menikmati atraksi
wisata sebagai wujud hak asasi, serta tunduk kepada aturan main yang adil
dan disepakati bersama dalam pelaksanaan transaksi-transaksi wisata.

Dalam pengembangan ekowisata, diperlukan sebuah dukungan khusus dalam


pengadaan sebuah produk wisata, yang dapat menjadi bahan pertimbangan
wisatawan.

Wisatawan dengan minat khusus, umumnya memiliki latar belakang


intelektual yang lebih baik, pemahaman serta kepekaan yang lebih terhadap etika,
moralitas, dan nilai-nilai tertentu, sehingga bentuk dari wisata ini adalah untuk

13
mencari pengalaman baru (Fandeli dkk., 2000). Secara umum, basis pengembangan
wisata minat khusus menurut Fandeli dkk. (2000), yaitu:

1. Aspek alam seperti flora, fauna, fisik geologi, vulkanologi, hidrologi, hutan
alam atau taman nasional.

2. Objek dan daya tarik wisata budaya yang meliputi budaya peninggalan
sejarah dan budaya kehidupan masyarakat. Potensi ini selanjutnya dapat
dikemas dalam bentuk wisata budaya peninggalan sejarah, wisata pedesaan
dan sebagainya. Wisatawan memiliki minat untuk terlibat langsung dan
berinteraksi dengan budaya masyarakat setempat, serta belajar berbagai hal
dari aspek-aspek budaya yang ada.

2.4 TAMAN NASIONAL

Taman Nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai


ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan
penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan
rekreasi.

Kriteria suatu wilayah dapat ditunjuk dan ditetapkan sebagai kawasan taman nasional
meliputi:

1. Memiliki sumber daya alam hayati dan ekosistem yang khas dan unik yang
masih utuh dan alami serta gejala alam yang unik;

2. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh;

3. Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis


secara alami; dan

4. Merupakan wilayah yang dapat dibagi kedalam zona inti, zona pemanfaatan,
zona rimba, dan/atau zona lainnya sesuai dengan keperluan.

Taman nasional dapat dimanfaatkan untuk kegiatan:

14
1. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan; misalnya : tempat
penelitian, uji coba, pengamatan fenomena alam, dll

2. Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam; misalnya :


tempat praktek lapang, perkemahan, out bond, ekowisata, dll

3. Penyimpanan dan/atau penyerapan karbon, pemanfaatan air serta energi air,


panas, dan angin serta wisata alam; misalnya : pemanfaatan air untuk industri
air kemasan, obyek wisata alam, pembangkit listrik (mikrohidro/pikohidro),
dll

4. Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar; misalnya : penangkaran rusa, buaya,


anggrek, obat-obatan, dll

5. Pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya; misalnya :


kebun benih, bibit, perbanyakan biji, dll.

6. Pemanfaatan tradisional. Pemanfaatan tradisional dapat berupa kegiatan


pemungutan hasil hutan bukan kayu, budidaya tradisional, serta perburuan
tradisional terbatas untuk jenis yang tidak dilindungi.

Mekanisme pemanfaatan bersama pihak ketiga: terlebih dahulu membangun


kesepahaman/kesepakatan/kolaborasi dengan pengelola Taman Nasional dalam
rangka pemanfaatan potensi kawasan. (Permenhut No.P19/ Menhut/2004). Terhadap
masyarakat di sekitar Taman Nasional dilakukan kegiatan pemberdayaan
masyarakat. Pemberdayaan masyarakat di sekitar Taman Nasional dilakukan melalui:

1. Pengembangan desa konservasi;

2. Pemberian izin untuk memungut hasil hutan bukan kayu di zona atau blok
pemanfaatan, izin pemanfaatan tradisional, serta izin pengusahaan jasa wisata
alam;

3. Fasilitasi kemitraan pemegang izin pemanfaatan hutan dengan masyarakat.

2.5 ZONASI TAMAN NASIONAL

Zonasi taman nasional adalah suatu proses pengaturan ruang dalam taman
nasional menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan

15
dan analisis data, penyusunan draft rancangan zonasi, konsultasi publik,
perancangan, tata batas dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari
aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.

Kriteria penetapan zonasi dilakukan berdasarkan derajat tingkat kepekaan


ekologis (sensitivitas ekologi), urutan spektrum sensitivitas ekologi dari yang paling
peka sampai yang tidak peka terhadap intervensi pemanfaatan, berturut-turut adalah
zona: inti, perlindungan, rimba, pemanfaatan, koleksi, dan lain-lain. Selain hal
tersebut juga mempertimbangkan faktor-faktor: keperwakilan (representation),
keaslian (originality) atau kealamian (naturalness), keunikan (uniqueness),
kelangkaan (raritiness), laju kepunahan (rate of exhaution), keutuhan satuan
ekosistem (ecosystem integrity), keutuhan sumberdaya/kawasan (intacness), luasan
kawasan (area/size), keindahan alam (natural beauty), kenyamanan (amenity),
kemudahan pencapaian (accessibility), nilai sejarah/arkeologi/ keagamaan
(historical/ archeological/religeus value), dan ancaman manusia (threat of human
interference), sehingga memerlukan upaya perlindungan dan pelestarian secara ketat
atas populasi flora fauna serta habitat terpenting.

Zona dalam kawasan taman nasional terdiri dari:

1. Zona Inti

Zona inti adalah bagian taman nasional yang mempunyai kondisi alam baik
biota atau fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang
mutlak dilindungi, berfungsi untuk perlindungan keterwakilan keanekaragaman
hayati yang asli dan khas.

Peruntukan Zona inti : untuk perlindungan ekosistem, pengawetan flora dan


fauna khas beserta habitatnya yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber
plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, untuk kepentingan penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, Kriteria zona
inti :

16
• Bagian taman nasional yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan
dan satwa beserta ekosistemnya;

• Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya yang


merupakan ciri khas ekosistem dalam kawasan taman nasional yang kondisi
fisiknya masih asli dan belum diganggu oleh manusia;

• Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan
tidak atau belum diganggu manusia;

• Mempunyai luasan yang cukup dan bentuk tertentu yang cukup untuk
menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis tertentu untuk menunjang
pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis
secara alami;

• Mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang


keberadaannya memerlukan upaya konservasi;

• Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa liar beserta ekosistemnya


yang langka yang keberadaannya terancam punah;

• Merupakan habitat satwa dan atau tumbuhan tertentu yang prioritas dan
khas/endemik;

• Merupakan tempat aktivitas satwa migran.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona inti meliputi:

• Perlindungan dan pengamanan;

• Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya;

• Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan atau


penunjang budidaya;

• Dapat dibangun sarana dan prasarana tidak permanen dan terbatas untuk
kegiatan penelitian dan pengelolaan.

2. Zona Rimba

Kriteria zona rimba:

17
• Kawasan yang merupakan habitat atau daerah jelajah untuk melindungi dan
mendukung upaya perkembangbiakan dari jenis satwa liar;

• Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga


pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan;

• Merupakan tempat kehidupan bagi jenis satwa migran.

Peruntukkan Zona rimba : untuk kegiatan pengawetan dan pemanfaatan


sumberdaya alam dan lingkungan alam bagi kepentingan penelitian, pendidikan
konservasi, wisata terbatas, habitat satwa migran dan menunjang budidaya serta
mendukung zona inti.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona rimba meliputi:

• Perlindungan dan pengamanan;

• Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya;

• Pengembangan penelitian, pendidikan, wisata alam terbatas, pemanfaatan jasa


lingkungan dan kegiatan penunjang budidaya;

• Pembinaan habitat dan populasi dalam rangka meningkatkan keberadaan


populasi hidupan liar;

• Pembangunan sarana dan prasarana sepanjang untuk kepentingan penelitian,


pendidikan, dan wisata alam terbatas.

3. Zona Pemanfaatan

Zona pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan
potensi alamnya yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan
kondisi/jasa lingkungan lainnya.

Peruntukkan Zona pemanfaatan : untuk pengembangan pariwisata alam dan


rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang
pemanfaatan, kegiatan penunjang budidaya. Kriteria zona pemanfaatan:

18
• Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi
ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik;

• Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya
tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;

• Kondisi lingkungan yang mendukung pemanfaatan jasa


lingkungan, pengembangan pariwisata alam, penelitian dan pendidikan;

• Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangunnya sarana prasarana bagi


kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata alam, rekreasi, penelitian
dan pendidikan;

• Tidak berbatasan langsung dengan zona inti.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona pemanfaatan meliputi:

• Perlindungan dan pengamanan;

• Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya;

• Penelitian dan pengembangan pendidikan, dan penunjang budidaya;

• Pengembangan potensi dan daya tarik wisata alam;

• Pembinaan habitat dan populasi;

• Pengusahaan pariwisata alam dan pemanfatan kondisi/jasa lingkungan;

• Pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan, penelitian, pendidikan,


wisata alam dan pemanfatan kondisi/jasa lingkungan.

4. Zona Tradisional

Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk
kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan
mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam.

Peruntukkan Zona tradisional : untuk pemanfaatan potensi tertentu taman


nasional oleh masyarakat setempat secara lestari melalui pengaturan pemanfaatan
dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

19
Kriteria zona tradisional :

• Adanya potensi dan kondisi sumberdaya alam hayati non kayu tertentu yang
telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat setempat guna
memenuhi kebutuhan hidupnya;

• Di wilayah perairan terdapat potensi dan kondisi sumberdaya alam hayati


tertentu yang telah dimanfaatkan melalui kegiatan pengembangbiakan,
perbanyakan dan pembesaran oleh masyarakat setempat guna memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona tradisional meliputi:

• Perlindungan dan pengamanan;

• Inventarisasi dan monitoring potensi jenis yang dimanfaatkan oleh


masyarakat;

• Pembinaan habitat dan populasi;

• Penelitian dan pengembangan;

• Pemanfaatan potensi dan kondisi sumberdaya alam sesuai dengan


kesepakatan dan ketentuan yang berlaku.

5. Zona Rehabilitasi

Zona rehabilitasi adalah bagian dari taman nasional yang karena mengalami
kerusakan, sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan komunitas hayati dan
ekosistemnya yang mengalami kerusakan.

Peruntukkan zona rehabilitasi : untuk mengembalikan ekosistem kawasan


yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alamiahnya.

Kriteria zona rehabilitasi :

20
• Adanya perubahan fisik, sifat fisik dan hayati yang secara ekologi
berpengaruh kepada kelestarian ekosistem yang pemulihannya diperlukan
campur tangan manusia;

• Adanya invasif spesies yang mengganggu jenis atau spesies asli dalam
kawasan;

• Pemulihan kawasan pada huruf a dan b sekurang-kurangnya memerlukan


waktu 5 (lima) tahun .

6. Zona Religi

Zona religi, budaya dan sejarah adalah bagian dari taman nasional yang
didalamnya terdapat situs religi, peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang
dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, perlindungan nilai-nilai budaya atau
sejarah.

Peruntukkan zona religi, budaya dan sejarah : untuk memperlihatkan dan


melindungi nilai-nilai hasil karya budaya, sejarah, arkeologi maupun keagamaan,
sebagai wahana penelitian, pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi dan
religius.

Kriteria zona religi, budaya dan sejarah :

• Adanya lokasi untuk kegiatan religi yang masih dipelihara dan dipergunakan
oleh masyarakat;

• Adanya situs budaya dan sejarah baik yang dilindungi undang-undang,


maupun tidak dilindungi undang-undang.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona religi, budaya dan sejarah
meliputi:

• Perlindungan dan pengamanan;

• Pemanfaatan pariwisata alam, penelitian, pendidikan dan religi;

21
• Penyelenggaraan upacara adat;

• Pemeliharaan situs budaya dan sejarah, serta keberlangsungan upacara-


upacara ritual keagamaan/adat yang ada.

7. Zona Khusus

Zona khusus adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak
dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang
kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman
nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.

Peruntukkan Zona khusus : untuk kepentingan aktivitas kelompok


masyarakat yang tinggal diwilayah tersebut sebelum ditunjuk/ditetapkan sebagai
taman nasional dan sarana penunjang kehidupannya, serta kepentingan yang tidak
dapat dihindari berupa sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.

Kriteria zona khusus :

• Telah terdapat sekelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya


yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ditetapkan sebagai taman
nasional;

• Telah terdapat sarana prasarana antara lain telekomunikasi, fasilitas


transportasi dan listrik, sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ditetapkan sebagai
taman nasional;

• Lokasi tidak berbatasan dengan zona inti.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona khusus meliputi:

• Perlindungan dan pengamanan;

• Pemanfaatan untuk menunjang kehidupan masyarakat dan;

• Rehabilitasi;

• Monitoring populasi dan aktivitas masyarakat serta daya dukung wilayah.

22
BAB III

METODE PENULISAN

3.1 P O P U L A S I

Terdapat perbedaan yang mendasar dalam pengertian antara pengertian


“populasi dan sampel” dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian
kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas :
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan
sampel adalah sebagian dari populasi tertentu. (Sugiono, 2011:215). Dalam hal ini
peneliti menentukan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-
Semeru sebagai populasi dan Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru
serta masyarakat sekitar kawasan Gunung Bromo sebagai sampel.

3.2 WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN

3.2.1 LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian berada didalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-


Semeru, namun peneliti hanya berfokus pada kawasan Gunung Bromo.

3.2.2 WAKTU PENELITIAN

Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal, 22 Desember 2018 s/d 25 Desember


2018.

3.3 JENIS DAN SUMBER DATA

Jenis penelitian ini adalah Deskriptif-Kualitatif, dimana proses penelitian dan


pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelediki suatu fenomena.
Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, laporan terinci
dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami.Adapun

23
jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data kualitatif dan data
kuantitatif.

3.3.1 JENIS DATA

1. Data kualitatif merupakan data yang tidak bernilai numerik atau nilainya
bukan angka (Kusmayadi & Sugiarto, 2000:80). Pengumpulan data kualitatif
dilakukan untuk mengetahui penerapan ekowisata dan strategi pengembangan
ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional
Bromo-Tengger-Semeru yang dilakukan oleh Balai Besar Taman Nasional
Bromo-Tengger-Semeru. Data ini diperoleh dengan melakukan observasi dan
wawancara di lokasi penelitian.

2. Data Kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka. Pengumpulan data


Kuantitatif dilakukan untuk mengetahui persepsi atau pendapat masyarakat
terhadap penerapan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung
Bromo, Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Data ini diperoleh dari
hasil

3.3.2 SUMBER DATA

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dengan


dikumpulkan sendiri oleh peneliti (Kusmayadi & Sugiarto, 2000:80). Data ini
didapatkan dengan melakukan observasi langsung.

1. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh diluar lokasi penelitian atau
instansi terkait dan merupakan data hasil pengumpulan orang lain dalam
bentuk publikasi (Kusmayadi & Sugiarto, 2000:80). Data ini dapat diperoleh
dari Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru berupa dokumen
atau arsip, internet, maupun dari buku-buku perpustakaan yang terkait dengan
penelitian.

24
3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

3.4.1 OBSERVASI

Metodeobservasi yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan


pengamatan langsung di lokasi penelitian dan mencatat secara sistematis data yang
diperlukan dengan menggunakan instrument penelitian untuk mengetahui kondisi
fisik, geografis, topografi, demografi, aksesibilitas, fasilitas, tata guna lahan dan
kondisi fasilitas pendukung lainnya (Suardika, 2005:11). Artinya peneliti akan
melakukan pengamatan secara langsung kondisi Taman Nasional Bromo-Tengger-
Semeru, khususnya di kawasan Gunung Bromo.

25
BAB IV

GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Kawasan Gunung Bromo

Gunung Bromo termasuk bagian salah satu gunung yang berada di Komplek
Pegunungan Tengger.Komplek Pegunungan Tengger berupa hamparan pasir yang
sangat luas (Laut Pasir) dengan gunung-gunung di tengahnya yaitu: G. Bromo (2.392
m dpl), G. Batok ( 2.440 m dpl), G. Widodaren (2.614 m dpl), G. Watangan (2.601 m
dpl) dan G. Kursi (2.581 m dpl). Dinding kaldera yang mengelilingi laut pasir sangat
terjal dengan kemiringan ±60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter. Di
keliling kaldera Tengger terdapat beberapa gunung diantaranya adalah G.
Penanjakan (2.770 m dpl.), G. Cemorolawang, G. Lingker (2.278m dpl.), G. Pundak
Lembu (2.635 m dpl.), G.Jantur (2.705 m dpl.),G.Ider-ider (2.527 m dpl.) serta
G.Mungal (2.480 m dpl.). Sedangkan pada Komplek Pegunungan Jambangan
terdapat G. Lanang (2.313 m dpl), G.Ayek-ayek (2.819 m dpl), G.Panggonan Cilik
(2.883 m dpl), G.Keduwung (2.334 m dpl), G.Jambangan (3.020 m dpl),
G.Widodaren (2.000 m dpl), G.Kepolo (3.035 m dpl), G.Malang (2.401 m dpl), dan
G.Semeru (3.676 m dpl).

Daya tarik Gunung Bromo yang istimewa adalah kawah di tengah kawah
dengan lautan pasirnya yang membentang luas di sekeliling kawah Bromo yang
sampai saat ini masih terlihat mengepulkan asap putih setiap saat, menandakan
gunung ini masih aktif.

Menurut sejarah terbentuknya Gunung Bromo dan lautan pasir berawal dari
dua gunung yang saling berimpitan satu sama lain, yang merupakan Strato Volcano
yang terbentuk dari lapisan andesite dan batuan basaltic. Gunung Tengger waktu itu
merupakan gunung terbesar dan tertinggi di Pulau Jawa (± 4.000m) dan telah
terbentuk sekitar satu juta tahun yang lalu.

Kemudian terjadi letusan kecil, materi vulkanik terlempar ke tenggara


sehingga membentuk lembah besar dan dalam sampai ke desa Sapi Kerep.Letusan

26
dahsyat kemudian menciptakan kaldera dengan diameter lebih dari 8 kilometer.
Karena dalamnya kaldera, materi vulkanik letusan lanjutan tertumpuk di dalam dan
sekarang menjadi lautan pasir dan diduga dahulu kala pernah terisi oleh air dan
kemudian aktivitas lanjutan adalah munculnya lorong magma di tengah kaldera
sehingga muncul gunung – gunung baru antara lain Gunung Widodaren, Gunung
Watangan, Gunung Kursi, Gunung Batok, dan Gunung Bromo.

Pegunungan vulkanik Tengger yang terbentuk sekitar satu juta tahun yang
silam telah membentuk panorama alam yang spektakuler : Laut Pasir, Gn. Kursi, Gn.
Watangan, Gn. Widodaren, Gn. Bromo, Gn. Batok, dan Segara Wedi Kidul. Latar
belakang tampak Gn. Semeru adalah bagian termuda dari Pegunungan Jambangan
telah berkembang menjadi strato-volcano luas yang terpisah, merupakan Gunung
tertinggi di Pulau Jawa.

B. Kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

Luas kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru adalah 50.276,20


Ha, terdiri dari50,265,95 Ha daratan dan 10,25 Ha perairan yang berupa danau atau
ranu.

• Letak

Secara geografis kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru terletak


antara 70 51″ 39′ – 80 19″ 35′ Lintang Selatan dan 1120 47″ 44′ – 1130 7″ 45′
Bujur Timur. Berdasarkan wilayah
administrasi pemerintahan, TN.BTS termasuk dalam 4 (empat) wilayah
kabupaten yakni Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang –
Propinsi Jawa Timur. Batas kawasan taman nasional, sebelah barat :
Kabupaten Malang meliputi lima wilayah Kecamatan antara lain Tirtoyudo,
Wajak, Poncokusumo, Tumpang dan Jabung, sebelah timur : Kabupaten
Probolinggo meliputi Kecamatan Sumber dan Kabupaten Lumajang wilayah
Kecamatan Gucialit dan Senduro, sebelah utara : Kabupaten Pasuruan
wilayah Kecamatan Tutur, Tosari, Puspo dan Lumbang. Kabupaten

27
Probolinggo wilayah Kecamatan Lumbang dan Sukapura, sebelah selatan :
Kabupaten Malang antara lain wilayah Kecamatan Ampelgading dan
Tirtoyudo, serta Kabupaten Lumajang wilayah Kecamatan Pronojiwo dan

• Topografi

Kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru berada pada ketinggian


750 – 3.676 meter dari permukaan laut, keadaan topografinya bervariasi dari
bergelombang dengan lereng yang landai sampai berbukit bahkan bergunung
dengan derajat kemiringan yang tegak.

• Geologi dan Tanah

Formasi kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru merupakan hasil


gunung api kuarter muda sampai kuarter tua. Jenis tanah di Taman Nasional
Bromo-Tengger-Semeru adalah regosol dan litosol.Bahan jenis tanah ini
adalah abu dan pasir vulkanis intermedier sampai basis dengan sifat
permiabilitas sangat rapat dan lapisan teratas sangat peka
terhadap erosi.Warna tanah mulai dari kelabu, coklat, coklat kekuning-
kuningan sampai putih, dengan tekstur tanah pada umumnya pasir sampai
lempung berdebu dengan struktur lepas atau berbutir tunggal serta
konsistensinya lepas atau teguh dan keras.

• Iklim

Suhu udara di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru berkisar


antara 50 sampai 220 C. Suhu terendah terjadi pada saat dini hari dipuncak
musim kemarau antara 30– 50 C bahkan di beberapa tempat sering bersuhu di
bawah 00 C (minus), khususnya di Ranu Kumbolo dan Puncak
Mahameru. Sedangkan suhu maximum berkisar antara 200 – 220 C.

Iklim dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru menurut


klasifilasi iklim Schmidt Ferguson (1951) adalah :

28
1. Tipe A daerah Semeru bagian Tenggara.

2. Tipe B daerah Semeru bagian Selatan, Puncak, dan lereng Semeru bagian
Timur.

3. Tipe C daerah Argowulan, Penanjakan, Keciri, Blok Argosari, Ranu


Kumbolo, dan Jambangan.

4. Tipe D daerah Laut Pasir, Ngadas, Ranupani, blok Watu Pecah sampai
dengan Poncokusumo

• Hidrologi

Tercatat lebih dari 50 (lima puluh) sungai/mata air dan 5 (empat) ranu/danau
di dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru yakni Ranu Pani,
Darungan, Regulo, Kumbolo dan Ranu Kuning. Taman Nasional Bromo-
Tengger-Semeru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengaturan
tata air untuk daerah sekitarnya, terutama dalam memenuhi kebutuhan air
bersih bagi masyarakat, untuk keperluan pertanian, perkebunan, peternakan,
perikanan, hingga industri di Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan,
Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo.

• Aksesibilitas

Untuk memasuki dan mencapai Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru


dapat ditempuh melalui 4 (empat) pintu masuk kota, yaitu Pasuruan, Malang,
Probolinggo, dan Lumajang.

Jalan masuk dapat dilalui kendaraan roda 4 maupun roda 2, namun khusus
untuk kendaraan bis hanya dapat melalui Tongas hingga Cemorolawang atau
Porbolinggo hingga Cemorolawang saja. Sedangkan untuk wisata pendakian
Gunung Semeru, semua jenis kendaraan hanya diperbolehkan hingga
Ranupani saja.

Kendaraan roda 4 dari Wonokitri dan Jemplang yang akan memasuki


kawasan, demi keselamatan penumpang dan pengunjung, hanya kendaraan

29
double gardan (four wheel drives) yang diperbolehkan memasuki kawasan.
Hal tersebut disebabkan selain karena tanahnya berupa pasir gembur, juga
medannya yang berkelok-kelok tajam dan memiliki tanjakan dan turunan
yang tajam pula. Selain itu pula, kendaraan roda 4 yang memasuki kawasan
dari Cemorolawang yang diperbolehkan adalah hanya kendaraan jeep (Toyota
Hardtop) paguyuban Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.

• Keanekaragaman Hayati

• Ekosistem Daratan

Berdasarkan perbedaan tempat tinggi kawasan dari permukaan laut,


ekosistem daratan TN.BTS dibagi dalam 3 zona, yaitu :

• Zona Sub Montana (750 – 1.500 m dpl), adalah zona tipe hutan
tropis dataran rendah dan pegunungan dengan tingkat
keanekaragaman jenis dan kerapatan yang cukup tinggi.

• Zona Montana (1.500 – 2.400 m dpl), adalah zona hutan sekunder


yang keanekaragaman jenisnya sudah mulai berkurang

• Zona Sub Alpin (di atas 2.400 m dpl), adalah zona tumbuhan yang
kerdil pertumbuhannya dan makin sedikit jenisnya.

• Ekosistem Perairan

Ekosistem perairan dalam kawasan TN.BTS terdiri dari danau (ranu) dan
air terjun (coban). Danau-danau (ranu) yang ada dalam
kawasan TN.BTS tersebut antara lain adalah :

• Ranu Darungan, danau seluas 0,5 Ha pada ketinggian 900 m dpl di


Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

• Ranupani, danau seluas 1,55 Ha pada ketinggian 2.100 m dpl di


Resort Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

• Ranu Regulo, danau seluas 1,20 Ha pada ketinggian 2.100 m dpl di


Resort Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

30
• Ranu Kumbolo, danau di lereng Gunung Semeru seluas 8 Ha pada
ketinggian 2.390 m dpl di Resort Ranupani, Kecamatan Senduro,
Kabupaten Lumajang.

Lokasi air terjun (coban) yang ada dalam kawasan TN.BTS antara lain
adalah :

• Coban Trisula di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo,


Kabupaten Malang.

• Coban Tirtowening di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo,


Kabupaten Malang.

• Coban Ranupani di Resort di Ranupani, Kecamatan Senduro,


Kabupaten Lumajang.

• Flora

Potensi flora yang ada dalam kawasan TN.BTS adalah sebanyak


kurang lebih 1.025 jenis yang terdiri dari jenis-jenis pohon, perdu, terna,
semak, belukar, liana, palm, rotan, bambu, herba, epifit, rumput-
rumputan, paku-pakuan, lumut, dan jamur. Dari semua jenis flora
tersebut, 260 jenis adalah tumbuhan hias/obat-obatan, 15 jenis flora
endemik Jawa Timur, dan 266 suku Orchidaceae (anggrek).

Dari semua jenis anggrek yang ada dalam kawasan TN.BTS, 40


jenis merupakan jenis anggrek langka, 15 jenis anggrek endemik Jawa
Timur (3 jenis diantaranya merupakan jenis anggrek langka), 3 jenis
anggrek khas Semeru Selatan (Malaxis purpureonervosa, Meleola
wetteana, dan Liparis rhodocila), 1 jenis anggrek mutiara merah
(Corybas fornicatus), dan Macodes petola yang merupakan jenis anggrek
yang dilindungi Undang Undang.

• Fauna

31
Potensi fauna yang ada dalam kawasan TN.BTS adalah 158 jenis satwa
liar yang terdiri dari :

• 22 jenis mamalia, 15 jenis diantaranya merupakan jenis yang


dilindungi Undang Undang, beberapa di anataranya adalah :Manis
javanica, Panthera pardus, Hystryx brachyura, Lariscus,
dan Muntiacus muntjak.

• 130 jenis aves/unggas, 27 jenis diantaranya dilindungi Undang


Undang, beberapa di antaranya adalah : Halianthus indus, Falcon
mauccensis, Pavo muticus, Halcyon cyanopventris, Pericrocatus
miniatus, dan Parus mator.

• 6 jenis reptilian

• Sistem Zonasi

Sistem zonasi TNBTS adalah berdasarkan SK Dirjen PHPA No. 68/Kpts/DJ-


VI/1998 tanggal 4 Mei 1998 yang menyatakan bahwa pembagian zonasi
di TN.BTS adalah sebagai berikut : 1) Zona Inti (22.006 Ha), 2) Zona Rimba
(23.485,20 Ha), 3) Zona Pemanfaatan Intensif (425 Ha), 4) Zona Pemanfaatan
Tradisional (2.360 Ha), 5) Zona Rehabilitasi (2.000 Ha).

Dengan adanya perubahan potensi pada lokasi zona tertentu (pembagian zona
yang ada sudah tidak sesuai dengan kondisi pengelolaan), maka dilakukan review
zonasi dengan hasil, zona Inti : 22.006 Ha menjadi 17.713,68 Ha, zona Rimba :
23.485,2 Ha menjadi26.544,06 Ha, zona Pemanfaatan Intensif : 425 Ha
menjadi687,68 Ha, zona Pemanfaatan Tradisional : 2.360 Ha menjadi 5.196,62 Ha,
zona Rehabilitasi : 2.000 Ha menjadi 0 Ha (semua diubah menjadi Zona Rimba),
zona Religi seluas 99,81 Ha dan zona Khusus seluas 34,35 Ha.

C. D a y a T a r i k W i s a t a

1. Wisata Alam
• Air terjun (coban)
• Coban Trisula
2. Danau (ranu)

32
• Ranu Pani dan Ranu Regulo
• Ranu Kumbolo
• Ranu Darungan

3. Kaldera Tengger dan sekitarnya

• Laut Pasir
• Gunung Bromo

Daya tarik gunung Bromo adalah merupakan gunung yang masih aktif dan
dapat dengan mudah didaki/dikunjungi.Obyek wisata Gunung Bromo merupakan
fenomena dan atraksi alami yang merupakan salah satu daya tarik
pengunjung.Kekhasan gejala alam yang tidak ditemukan di tempat lainadalah adanya
kawah di tengah kawah (creater in the creater) dengan hamparan laut pasir yang
mengelilinginya.

• Gunung Batok

• Gunung Widodaren

• Simpang Dingklik

• Padang Savana

• Bukit Teletabis

• Blok Adasan

• Gunung Penanjakan

4. Gunung Semeru

• Desa Ranupani

• Pangonan Cilik

• Tanjakan Cinta

• Oro-Oro Ombo

• Cemoro Kandang

• Kalimati

33
• Arcopodo

• Puncak Mahameru

Puncak Mahameru adalah nama dari puncak Gunung Semeru itu sendiri, di
sinilah akhir dari sebuah pendakian Gunung Semeru. Walaupun sangat melelahkan,
memakan biaya, waktu, dan tenaga, namun para pendaki tidak bosan-bosannya untuk
kembali lagi ke tempat ini di lain waktu.

• Wisata Budaya

Penduduk yang mendiami kawasan Tengger secara mayoritas adalah suku


Tengger.Tingkat pertumbuhan penduduk suku Tengger yang berdiam di kawasan
pegunungan Tengger ini dari tahun ke tahun tergolong rendah
atau lambat.Mata pencaharian sebagian besar adalah petani dan bahasa daerah yang
digunakan untuk komunikasi sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger.

Upacara adat suku Tengger terdiri dari upacara adat yang berhubungan
dengan kehidupan bermasyarakat suku Tengger, seperti :Hari Raya Karo, Yadnya
Kasada dan Unan-Unan, upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan
seseorang, seperti: kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah
(upacara walagara), kematian (entas-entas dll), upacara adat yang berhubungan
dengan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan gejala alam seperti leliwet dan
barikan.

Kesenian tradisional yang tetap hidup sejak jaman Majapahit adalah seni
tari Sodoran dan tari Ujung.Beberapa tempat pelaksanaan kegiatan suku Tengger
antara lain :

• Pura Poten
• Sumber air suci Goa Widodaren
• Pura Pendayangan Rondo Kuning
• Pure Ngadas
• Vihara Ngadas

34
D. Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

1. Organisasi dan Tupoksi

Berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam


Hayati dan Ekosistemnya, pengelolaan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru
diarahkan untuk mencapai optimalisasi fungsi kawasan sebagai :

1. Kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan.

2. Kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.

3. Kawasan pemanfaatan secara lestari potensi SDA hayati dan


ekosistemnya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.03/Menhut-II/2007


tanggal 1 Februari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis
Taman Nasional, Balai Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru ditingkatkan
menjadi Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (klasifikasi UPT TN
Kelas I-eselon IIb) dan struktur organisasi Balai Besar Taman Nasional Tipe
B. Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (BBTN.BTS) berada di
bawah dan bertanggung jawab secara langsung kepada Direktur Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan Republik
Indonesia. Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru beralamat
di Jl. Rd. Intan No: 6, Kotak Pos 54 Malang 65100 – Jawa Timur, Telepon (0341)
491828, Fax (0341) 490885.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.03/Menhut-II/2007,


Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru melakukan penyelenggaraan
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan pengelolaan kawasan
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Dalam melaksanakan tugas, Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru


menyelenggarakan fungsi :

35
1. Penataan zonasi, penyusunan rencana kegiatan, pemantauan dan evaluasi
pengelolaan kawasan Taman Nasional.

2. Pengelolaan kawasan Taman Nasional.

3. Penyidikan, perlindungan dan pengamanan kawasan Taman Nasional.

4. Pengendalian kebakaran hutan.

5. Promosi, informasi konservasi sumberdaya alam hayati dan


ekosistemnya.

6. Pengembangan bina cinta alam serta penyuluhan konservasi sumberdaya


alam hayati dan ekosistemnya.

7. Kerjasama pengembangan konservasi sumber daya alam hayati


danekosistem serta pengembangan kemitraan.

8. Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional.

9. Pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan dan pariwisata alam.

10. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

1. Visi dan Misi

Visi Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru adalah


terwujudnya kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru sebagai destinasi
ekowisata bertaraf internasional yang bermanfaat bagi
kesejahteraan masyarakat.Misi Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru
adalah :

1. Memantapkan batas dan fungsi kawasan.

2. Mengembangkan pemanfaatan objek dan daya tarik wisata alam dan jasa
lingkungan.

3. Mingkatkan perlindungan dan pengawetan sumberdaya alam hayati dan


ekosistemnya secara optimal.

36
4. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan pengelolaan Taman
Nasional.

37
BAB V

PEMBAHASAN

A. Penerapan Ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo,


Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

Dalam pembahasan ini peneliti akan membahas dan menganalisis data-data yang
diperoleh dari hasil penelitian. Data yang akan dibahas dan dianalisis adalah data
yang berkaitan dengan penerapan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan gunung
Bromo dan persepsi masyarakat tentang penerapan ekowisata berbasis masyarakat
dikawasan gunung Bromo.

Kemudian data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk membuat gambaran
yang lengkap dan memberi interpretasi berbagai macam data dan informasi yang
telah diperoleh untuk dijadikan satu kesatuan penafsiran. Adapun pembahasannya
sebagai berikut:

• Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Gunung Bromo

Ekowisata berbasis masyarakat adalah pola pengembangan ekowisata yang


mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat
dalamperencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala
keuntungan yang diperoleh.

Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitik


beratkan peran aktif komunitas.Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa
masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi
dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi
mutlak. Pola ekowisata berbasis masyarakat mengakui hak masyarakat lokal dalam
mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun
sebagai pengelola.

Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi


masyaraka tsetempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata

38
adalah darijasa-jasa wisata untuk turis: feepemandu; ongkos transportasi; homestay;
menjual kerajinan, dll. Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian
lingkungan danbudaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu
menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat
peningkatan kegiatan ekowisata.

Dengan adanya pola ekowisata berbasis masyarakat bukan berarti bahwa


masyarakatakan menjalankan usaha ekowisata sendiri. Tataran implementasi
ekowisata perludipandang sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu
yang dilakukan disuatu daerah.Untuk itu, pelibatan para pihak terkait mulai dari level
komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan organisasi non pemerintah
diharapkan membangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitraan yang baik
sesuai perandan keahlian masing-masing. (WWF & Direktorat Jendral
pengembangan Destinasi Pariwisata, 2009; 2)

Hal tersebut telah diterapkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo-
Tengger-Semeru selaku pengelola Taman Nasional sebagaimana yang dikemukakan
Bapak Rudi selaku staff Sub. Bagian Data Evaluasi Lapangan dan Humas, yang
menyatakan bahwa;

“Ekowisata sudah diberlakukan di Kawasan Gunung Bromo namun sifat


kunjungan wisatawan Bromo lebih ke wisata massal (berkelompok)”

Begitupun yang dikemukakan Bapak Setyo selaku Kepala Bidang Teknis dan
Konservasi, yang menyatakan bahwa :

“Dalam pengelolaan ekowisata stakeholder yang berperan bekerja sama


dengan Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru adalah forum
pelaku ekowisata antara lain LWG (Local Work Group), Kepala Desa, Dinas
Pariwisata 4 Kabupaten (Malang, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo), Dinas
Pariwisata Provinsi. Dalam hal ekowisata berbasis masyarakat Balai Besar Taman
Nasional Bromo-Tengger-Semeru selaku pengelola menitikberatkan pada
pemberdayaan masyarakat sekitar yang menyediakan berbagai usaha pariwisata

39
seperti penyewaan jeep, penyewaan kuda, penyediaan homestay, penyedian makan
minum, toko souvenir”

Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru juga gencar


mengadakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan khususnya tentang ekowisata terhadap
masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Hal ini juga
dibenarkan oleh Bapak Rudiselaku staf Sub.Bagian Evaluasi Lapangan dan Humas,
yang menyatakan bahwa ;

“Telah banyak diadakan pelatihan bahasa, guide dan sosialisasi tentang


pengelolaan homestay yang baik berkoordinasi dengan stakeholder terkait seperti
dinas pariwisata, PHRI, ASITA. dll. Pengembangan ekowisata terkait aspek edukasi
khususnya interpreter yang memberikan pemahaman tentang lingkungan dan
ekowisata dianggap masih perlu dilakukan”

Pada kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru juga terdapat


komunitas (Paguyuban) usaha pariwisata yang dibentuk oleh masyarakat dan
terdapat disetiap daerah masing-masing untuk mendukung kegiatan pariwisata,
seperti ; Paguyuban Jeep, sebagaimana kendaraan roda 4 seperti jeep atau 4×4 dan
sejenisnya adalah satu-satunya moda transportasi yang diperbolehkan masuk ke
dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, serta Paguyuban Kuda
sebagai moda transportasi alternatif di kawasan kaldera lautan pasir bromo. Namun,
dalam hal iniPaguyuban Jeep yang setiap harinya berada di kawasan Gunung Bromo
sedikit bertentangan dengan prinsip ekowisata karena dampak dari
mobil Jeep tersebut secara tidak langsung dapat merusak lingkungan.

Adapun komunitas yang dibentuk oleh masyarakat khususnya para pelaku


usaha pariwisata yang peduli terhadap lingkungan di kawasan Gunung Bromo
dibantu oleh pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru bernama
‘Sahabat Bromo’.Selain itu, pemerintah setempat juga ikut berperan dalam
pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan gunung Bromo. Sebagai
contoh, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), PHRI
(Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), dan ASITA (Association of the

40
Indonesia Tours & Travel Agencies) seringkali mengadakan kegiatan sosialisasi dan
pelatihan serta memeberikan modal pinjaman kepada masyarakat menyangkut usaha-
usaha penunjang kegiatan pariwisata seperti; guide, homestay, rumah makan,
toko souvenir, kios, dll.

Selanjutnya, dalam penerapan ekowisata berbasis masyarakat terdapat beberapa


aspek kunci, berikut adalah penjelasannya ;

1. Masyarakat membentuk panitia atau lembaga untuk pengelolaan kegiatan


ekowisata di daerahnya, dengan dukungan dari pemerintah dan organisasi
masyarakat (nilai partisipasi masyarakat dan edukasi)

2. Prinsip local ownership (pengelolaan dan kepemilikan oleh masyarakat


setempat) diterapkan sedapat mungkin terhadap sarana dan pra-sarana
ekowisata, kawasan ekowisata, dll (nilai partisipasi masyarakat)

3. Homestay menjadi pilihan utama untuk sarana akomodasi di lokasi


wisata (nilai ekonomi dan edukasi)

4. Pemandu adalah orang setempat (nilai partisipasi masyarakat)

5. Perintisan, pengelolaan dan pemeliharaan obyek wisata menjadi


tanggung jawab masyarakat setempat, termasuk penentuan biaya (=fee)
untuk wisatawan (nilai ekonomi dan wisata).(WWF & Direktorat Jendral
pengembangan Destinasi Pariwisata, 2009; 3).

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dari aspek kunci untuk
penerapan ekowisata berbasis masyarakat telah diterapakan oleh Balai Besar Taman
Nasional Bromo-Tengger-Semeru, namun untuk membuktikan data yang telah
diperoleh, adapun hasil analisis tentang persepsi masyarakat terhadap penerapan
ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo.

B. Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan


Gunung Bromo Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

Dalam pembahasan ini data yang akan dibahas dan dianalisis adalah data
yang berkaitan dengan strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di

41
kawasan Gunung Bromo didukung dari data yang di dapatkan dari hasil wawancara
sebelumnya yang berkaitan dengan strategi pengembangan ekowisata di kawasan
gunung Bromo.

Kemudian data dianalisis secara kualitatif untuk membuat gambaran yang


lengkap dan memberi interpretasi berbagai macam data dan informasi yang telah
diperoleh untuk dijadikan satu kesatuan penafsiran. Adapun pembahasannya sebagai
berikut.

C. Faktor Pendukung Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di


Kawasan Gunung Bromo

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Staff Sub.Bagian Data Evaluasi
Lapangan & Humas yakin Bapak Rudi telah diuraikan beberapa faktor pendukung
untuk pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan gunung bromo,
berikut adalah uraian dari hasil wawancara :

1. Kawasan gunung bromo memiliki potensi daya tarik wisata alam dan
budaya masyarakat suku tengger.

2. Telah dibuat brosur, leaflet, selembaran kawasan Gunung Bromo untuk


kepentingan promosi dan edukasi yang bekerja sama dengan stakeholder

3. Adanya pariwisata memberikan dampak positif bagi perekonomian yang


bersifat multiflier dan menyerap banyak tenaga kerja dari pengusaha
pariwisata seperti penyewaan jeep, kuda, penyediaan makan minum,
penyewaan jaket

4. Pemberdayaan Masyarakat dengan adanya kesempatan berusaha dimana


masyarakat diajak dan diarahkan untuk menyediakan akomodasi dalam
hal ini homestay.

5. Telah diadakan pelatihan bahasa, guide dan sosialisasi tentang


pengelolaan homestay yang baik berkoordinasi
dengan stakeholder terkait seperti dinas pariwisata, PHRI (Perhimpunan

42
Hotel dan Restoran Indonesia), ASITA (Association of the Indonesia
Tours & Travel Agencies). Dll

Adapun faktor pendukung dari hasil wawancara dengan Bapak Setyo


Selaku Kepala Bidang Teknis dan Konservasi, berikut adalah uraian dari hasil
wawancara :

1. Keragaman atraksi di kawasan bromo barupa bukit teletabies, pasir


berbisik, gunung pananjakan dll.

2. Keragaman aktivitas di kawasan Gunung. Bromo dengan diadakannya


berbagai event yang berbasis wisata alam antara lain; Bromo Marathon.

3. Adanya edukasi dan pelatihan terhadap masyarakat setempat untuk


standar pelayanan yang baik kepada para tamu/ pengunjung selama 3
bulan sekali.

4. Adanya komunitas “Sahabat Bromo” yang beranggotakan para pelaku


usaha pariwisata khususnya hotel-hotel yang ada di kawasan Bromo.

D. Faktor Penghambat Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di


Kawasan Gunung Bromo

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Staff Sub.Bagian Data Evaluasi
Lapangan & Humas yakin Bapak Rudi telah diuraikan beberapa faktor penghambat
untuk pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan gunung bromo,
berikut adalah uraian dari hasil wawancara :

1. Masih kurangnya pemahaman wisatawan lokal terhadap ekowisata yang


bertujuan memberikan dampak positif bagi lingkungan.

2. Secara umum Sumber Daya Manusia sudah cukup, namun secara khusus
Sumber Daya Manusia dalam hal interpreter beberapa titik di kawasan
wisata yang memberikan pemahaman terhadap ekowisata masih kurang.

43
3. Faktor penghambat pengembangan ekowisata adalah kesadaran
pengunjung dan masyarakat umum yang kurang sadarakan zonasi dan
larangan serta kebersihan kawasan.

Adapun faktor penghambat dari hasil wawancara dengan Bapak Setyo


Selaku Kepala Bidang Teknis dan Konservasi, berikut adalah uraian dari hasil
wawancara :

1. Kendala dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-


Semeru adalah kesadaran para pelaku usaha pariwisataakan kebersihan
lingkungan khususnya kotoran kuda.

2. Over carrying capacity dibeberapa titik tertentu di dalam kawasan bromo


seperti di gunung pananjakan.

3. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru masih memerlukan Sumber


Daya Manusia untuk pengelolaan kawasan.

4. Kendala dalam pembatasan jumlah pengunjung di kawasan bromo adalah


sifat pengunjung yang datang secara tiba-tiba sehingga adanya
kemungkinan resiko pengunjung akan complain ketika tiket terjual habis.

E. Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan


Gunung Bromo

Dalam Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kawasan


Gunung Bromo menggunakan analisis SWOT. Pendekatan analisis SWOT (Strength,
Weaknesses, Opportunities, Threat) untuk Strategi Pengembangan Ekowisata
Berbasis Masyarakat merupakan pendekatan yang didasarkan pada Kekuatan,
Kelemahan, Peluang dan Ancaman pada kawasan Gunung Bromo. Tahapan analisis
SWOT yang dilakukan meliputi : tahapan identifikasi dan penilaian kondisi internal
dan faktor eksternal, analisis keterkaitan unsur SWOT dan tahapan penentuan
Strategi pengembangan.

44
Dibawah ini diuraikan analisis terhadap kondisi yang dihadapi dalam upaya
pengembangan strategi ekowisataberbasis masyarakat di kawasan Gunung Bromo
berdasarkan faktor pendukung dan penghambat diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Analisis Kondisi Internal

Dalam analisis kondisi internal, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh
kawasan gunung Bromo adalah sebagai berikut :

• Strenght (Kekuatan)

1. Banyaknya daya tarik wisata alam dan budaya yang terdapat di kawasan
gunung bromo.

2. Adanya beragam aktivitas yang dapat dilakukan di kawasan gunung


bromo.

3. Adanya hubungan kerja sama yang sudah berlangsung dengan baik


antara pihak Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dan stakeholder

4. Penerapan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan gunung bromo


yang sudah termasuk dalam kategorikan baik.

5. Telah diadakannya pelatihan kepada masyarakat tentang ekowisata


oleh stakeholder

• Weakness (Kelemahan)

1. Sumber daya manusia yang memberikan pemahaman terhadap ekowisata


masih kurang.

2. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru masih memerlukan Sumber


Daya Manusia untuk pengelolaan kawasan.

3. Belum adanya penerapan tentang pembatasan jumlah pengunjung.

4. Kurangnya signboard dan tempat sampah disekitar kawasan.

5. Akses menuju ke kawasan masih belum memadai.

6. Analisis Faktor Eksternal

45
Dalam analisis kondisi eksternal, peluang dan ancaman yang dimiliki oleh
kawasan gunung Bromo adalah sebagai berikut :

• Oppourtunity (Peluang)

1. Mengurangi tingkat pengangguran dengan adanya peluang kerja dan


usaha bagi masyarakat, seperti; Guide, penyewaan jeep, penyewaan
kuda, home stay, dll

2. Memberikat pengetahuan yang lebih kepada masyarakat.

3. Peluang investasi bagi para investor usaha pariwisata.

• Threat (Ancaman)

1. Over carrying capacity sering terjadi dibeberapa titik karena sifat


pengunjung yang datang secara tiba-tiba.

2. Pemahaman wisatawan tentang ekowisata masih kurang.

3. Kurangnya pemahaman wisatawan dan masyarakat tentang sistem zonasi


dan larangan serta kebersihan kawasan.

4. Kurangnya kesadaran pelaku usaha pariwisata akan kebersihan


lingkungan.

Strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Gunung


Bromo ini didasarkan pada hasil analisis dari permasalahan dan kondisi yang ada.
Hasil analisis SWOT dari peluang, kekuatan, kelemahan dan hambatan yang ada
menunjukkan adanya pilihan strategi yang harus dilakukan dengan beberapa
alternatif kebijakan, antara lain :

1. Pemanfaatan kawasan Gunung Bromo oleh masyarakat untuk membuka


usaha.

2. Pemberdayaan masyarakat dengan pemberian materi untuk menerapkan


ekowisata.

3. Pemberdayaan stakeholder untuk mendatangkan investor.

46
4. Pemanfaatan lahan dengan beragamnya daya tarik wisata dan aktivitas
wisatawan di kawasan gunung Bromo.

5. Mengoptimalkan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran


wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha tentang ekowisata.

6. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menambah pengetahuan


masyarakat tentang ekowisata.

7. Menjalin kerja sama dengan investor untuk memenuhi kebutuhan dalam


penerapan ekowisata.

8. Menerapkan pembatasan jumlah pengunjung untuk mengurangi Over


carrying capacity.

9. Pemberdayaan sumber daya manusia dalam meningkatkan pemahaman


masyarakat tentang ekowisata.

Berdasarkan alternatif kebijakan yang telah ditentukan, maka dapat


disimpulkan beberapa pilihan kebijakan yang disusun berdasarkan prioritas adalah
sebagai berikut:

1. Mengoptimalkan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran


wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha tentang ekowisata.

2. Menjalin kerja sama dengan investor untuk memenuhi kebutuhan dalam


penerapan ekowisata.

47
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka peneliti menarik
kesimpulan dengan melihat konsep penerapan ekowisata berbasis masyarakat yang
dilakukan antara lain:

1. Menurut hasil wawancara dengan responden di Balai Besar Taman Nasional


Bromo-Tengger-Semeru ekowisata telah diterapkan di kawasan Taman Nasional
Bromo-Tengger-Semeru khususnya di kawasan Gunung Bromo, Namun dari segi
pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang ekowisata belum terlalu
mendalam, masyarakat hanya memanfaatkan kegiatan pariwisata dengan menjadi
pelaku usaha pariwisata yang memiliki nilai ekonomi, tetapi kebanyakan
masyarakat tidak didasari oleh prinsip-prinsip ekowisata. Sebagai contoh,
Paguyuban Jeep yang setiap harinya berada di kawasan Gunung Bromo sedikit
bertentangan dengan prinsip ekowisata karena dampak dari mobil Jeep tersebut
secara tidak langsung dapat merusak lingkungan.

2. Dari hasil pembahasan sebelumnya, telah diuraikan dan dijelaskan berdasarkan


hasil wawancara dengan responden di Balai Besar Taman Nasional Bromo-
Tengger-Semeru mengenaistrategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat
di kawasan Gunung Bromo.Dari hasil pembahasan tersebut terdapat 9 alternatif
kebijakan yang dihasilkan, antara lain; 1) Pemanfaatan kawasan gunung Bromo
oleh masyarakat untuk membuka usaha. 2) Pemberdayaan masyarakat dengan
pemberian materi untuk menerapkan ekowisata. 3)
Pemberdayaan stakeholder untuk mendatangkan investor. 4) Pemanfaatan lahan
dengan beragamnya daya tarik wisata dan aktivitas wisatawan di kawasan
gunung Bromo. 5) Mengoptimalkan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan
kesadaran wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha tentang ekowisata. 6)
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menambah pengetahuan
masyarakat tentang ekowisata. 7) Menjalin kerja sama dengan investor untuk
memenuhi kebutuhan dalam penerapan ekowisata. 8) Menerapkan pembatasan

48
jumlah pengunjung untuk mengurangi over carrying capacity. 9)Pemberdayaan
sumber daya manusia dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang
ekowisata. Namun beberapa alternatif kebijakan yang sudah ada kemudian
disimpulkan untuk selanjutnya dijadikan sebagai kebijakanprioritas yang
ditujukan untuk mengatasi masalah yang ada di kawasan Gunung Bromo saat ini,
yaitu :

1. Mengoptimalkan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran


wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha tentang ekowisata.

2. Menjalin kerja sama dengan investor untuk memenuhi kebutuhan dalam


penerapan ekowisata.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, maka peneliti


menyarankan kepada Balai Besar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru selaku
pengelola serta stakeholder- stakeholder terkait untuk :

1. Mengoptimalkan konsep penerapan ekowisata yang berbasiskan kepada


masyarakat dengan membuat kebijakan baru yang kiranya dapat mengatasi
masalah yang ditemukan di kawasan Gunung Bromo. Selain itu, menambah dan
meningkatkan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya agar kiranya
dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha pariwisata tentang
ekowisata dengan cara yang telah diterapkan sebelumnya oleh Balai Besar
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru seperti, mengadakan kegiatan
sosialisasi dan pelatihan tentang ekowisata yang efisien dan efektif.

2. Menambah fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan pariwisata seperti, tempat


sampah, signboard, dan sebagainya,serta membuat/menetukan jalur khusus yang
dapat dilalui kendaraan seperti jeep,dan penataan kios dengan mendatangkan
investor. Tetapi hal ini harus selalu didasari oleh prinsip-prinsip ekowisata
dengan melibatkan masyarakat sebagai pemeran utama serta Balai Besar Taman
Nasional Bromo-Tengger-Semeru sebagai pengendali dan penghubung antara
masyarakat dan investor untuk menyelesaikan danmengurangi masalah yang ada
di kawasan Gunung Bromo.

49
DAFTAR PUSTAKA

Dewi Kusuma S, 2012. Pengembangan PariwisataObyek Wisata Pantai Sigandu


Kabupaten Batang. Skripsi tidak diterbitkan.Semarang : Universitas
Diponegoro

Imam Rudi K, 2008. Pengembangan Ekowisata (Ecotourism)di Kawasan Waduk


Cacaban Kabupaten Tegal.Tesis tidak diterbitkan.Semarang : Universitas
Diponegoro

J Damanik, F Weber, 2006. Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi. DI


Yogyakarta.

Widowati.S, 2012.Kajian Potensi dan Evaluasi Penerapan Prinsip-Prinsip dan


Kriteria Ekowisata di Kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen, Desa
Taman Sari, Kabupaten Banyuwangi.Tesis tidak diterbitkan.Denpasar :
Universitas Udayana

Anca, 2011. Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan. http://anca45-kumpulan-


makalah.blogspot.com/. (di akses 1 januari 2019)

2012.Pengertian Taman Nasional.Http://tnrawku.wordpress.com/pengertian-taman-


nasional. (di akses 2 januari 2019)

2013. Ekowisata untuk Menjaga TN Bromo Tengger


Semeru. http://travel.kompas.com/. (di akses 2 januari 2019)

2013. Informasi Kawasan Wisata


Bromo. http://www.dephut.go.id/Informasi/Tn/tn_bromo.htm. (di akses 2
januari 2019)

2013. Peta obyek dan daya tarik ekowisata gunung


semeru. http://www.gunungsemeru.com/. (di akses 2 januari 2019)

2013. Potret Keadaan hutan Indonesia.http://fwi.or.id/publikasi/potret-keadaan-


hutan-indonesia.( di akses 2 januari 2019)
2014. Taman nasional bromo tengger semeru. http://reangedikober.blogspot.com/.
(di akses 2 januari 2019)

50
2014. Informasi Taman Nasional Bromo-Tengger-
Semeru.http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Bromo_Tengger_Seme
ru. (di akses 2 januari 2019)
2014 . Menelaah Tentang Pengembangan
Pariwisata. http://Pariwisata.Rejanglebongkab.Go.Id. (di akses 2 januari
2019)

2014. Pengertian Taman Nasional.http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_nasio ( di


akses 03 januari 2019

51