Anda di halaman 1dari 5

MODUL 4

PENYAKIT TROPIS PARASIT

SKENARIO
Si Putih
Seorang wanita, Y, 38 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan keputihan dan gatal
gatal di vagina sejak 1 minggu yang lalu, pasien sudah menikah dan baru baru ini suami pasien
didiagnosa prostatitis oleh dokter, dari pemeriksaan didapatkan frothy leucorrhea, colpitis
macularis dan eritema pada vagina, dokter menganjurkan pemeriksaan sekret vagina untuk
membantu menegakkan diagnosis.
Pasien wanita tersebut juga membawa anaknya yang sakit, anaknya laki laki berumur 5
tahun, mengeluh adanya luka di kaki kanannya, luka berbentuk garis seperti terowongan dan
terasa seperti bergerak memanjang.Anak tersebut sangat suka memelihara kucing di rumah dan
alas rumah mereka masih beralaskan tanah, dari pemeriksaan didapatkan papul hiperemis,
vesikel, lesi berbentuk terowongan.
Bagaimanakah anda menjelaskan kedua kasus diatas
- kolpitis makularis : gambaran strawberi pada pengamatan mata telanjang atau
kolposkopi, merupakan petunjuk kuat trikomoniasis.

frothy leucorrhea keputihan berbusa

PARAGRAF 1 TRIKOMONIASIS
1. PENYEBAB GATAL  Fluor albus et causa T. vaginalis.
Terinfeksi Trichomonas vaginalis  Trichomonas vaginalis menginfeksi sel epitel
(dinding bagian dalam) vagina sehingga terjadi proses kematian sel hospes (host-cell-
death). Komponen yang berperan dalam proses kematian sel tersebut
adalah mikrofilamen dari Trichomonas vaginalis. Selama proses invasi, Trichomonas
vaginalis tidak hanya merusak sel epitel namun juga eritrosit. Eritrosit mengandung
kolesterol dan asam lemak yang diperlukan bagi pembentukan membran trichomonad.
Proses pengikatan dan pengenalan trichomonad dengan sel epitel hospes melibatkan
spesifik dari Trichomonas vaginalis, yang dikenal dengan sistein proteinase.
Setelah proses pengikatan, akan timbul reaksi kaskade yang
mengakibatkan sitoktosisitas dan hemolisis pada sel epitel vagina sehingga vagina
mengeluarkan cairan putih berbau tidak sedap, vulva membengkak dan terasa
nyeri serta gatal-gatal (keputihan/flour albus/ leucorrhoea), bahkan dalam kondisi
lebih parah akan terjadi peradangan dan sangat gatal (vaginitis).

2. HUB dg SUAMI (PROSTATITIS)


Penularan umumnya melalui hubungan kelamin tetapi dapat juga melalui pakaian,
handuk, atau karena berenang. Trichomonas vaginalis dapat menular melalui hubungan
seksual, kloset duduk, handuk, air mandi dan cairan vagina. Pada kloset duduk dan
handuk atau pada objek yang basah Trichomonas vaginalisdapat hidup selama 45 menit.

Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan aktivitas
seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan penderita setelah
menopause. Trikomoniasis terdapat baik pada wanita maupun pria, namun
penderita wanita lebih banyak dibandingkan pria. Pada pria dapat menyebabkan
uretritis dan prostatitis yang kira-kira merupakan 15% kasus uretritis
nongonore.(1,2)

3. Pencegahan

1. Jangan mencuci vagina dengan sabun, karena sabun bersifat basa.


2. Gunakan celana dalam yang dapat menyerap keringat.
3. Jangan biarkan vagina dalam kondisi lembab.
4. Hindari penggunaan kloset duduk.
5. Hindari pemakaian handuk secara bersama-sama.
6. Karena trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual, cara terbaik menghindarinya
adalah tidak melakukan hubungan seksual. Beberapa cara untuk mengurangi tertularnya
penyakit ini antara lain: Pemakaian kondom dapat mengurangi resiko tertularnya
penyakit ini. Tidak pinjam meminjam alat-alat pribadi seperti handuk karena parasit ini
dapat hidup di luar tubuh manusia selama 45 menit. Bersihkan diri sendiri segera setelah
berenang di tempat pemandian umum.

4. Diagnosis Banding Kandidiasis, Bakterial Vaginosis

5. Pemeriksaan Penunjang :

- pH vagina  Menentukan pH vagina dengan mengambil apusan yang berisi sekret


vagina pada kertas pH dengan range 3,5 –5,5. pH yang lebih dari 4,5 dapat disebabkan
oleh Trichomonas vaginalis dan bacterial vaginosis.

- Apusan basah/Wet mount  Apusan basah dapat digunakan untuk identifikasi dari
flagel, pergerakan dan bentuk teardrop dari protozoa dan untuk identifikasi sel. Tingkat
sensitivitasnya 40–60 %, tingkat spesifiknya mendekati 100% jika dilakukan dengan
segera.

- Pap Smear  Tingkat sensitivitasnya 40 – 60 %. Spesifikasinya mendekati 95–99%.

- Test Whiff  Tes ini digunakan untuk menunjukkan adanya amina-amina dengan
menambahkan Potassium hidroksid ke sampel yang diambil dari vagina dan untuk
mengetahui bau yang tidak sedap.

- Kultur
Dari penelitian Walner – Hanssen dkk, dari insiden Trikomoniasis dapat deteksi dengan
kultur dan tidak dapat dideteksi dengan Pap Smear atau apusan basah.Kebanyakan dokter
tidak mengadakan kultur dari sekresi vagina secara rutin.

- Direct Imunfluorescence assay  Cara ini lebih sensitive daripada apusan basah, tapi
kurang sensitive dibanding kultur. Cara ini dilakukan untuk mendiagnosa secara cepat
tapi memerlukan ahli yang terlatih dan mikroskop fluoresesensi.

- Polimerase Chain Reaction. Cara ini telah dibuktikan merupakan cara yang cepat
mendeteksi Trichomonas vaginalis.

6. PENATALAKSANAAN
Pengobatan dapat topical maupun sistemik :

a. Topikal  Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrokarbon peroksida 1-2% dan
larutan asam laktat, Bahan berupa suposituria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal, Gel
atau krim yang bersifat trikomoniasidal

b. Sistemik  Golongan obat Nitromidazol seperti : Metronidazol : dosis tunggal 2gr atau 3
x 500mg/hari selama 7 hari. Nimorazol : dosis tunggal 2gr Tinidazol : dosis tunggal 2gr.
Omidazol : dosis tunggal 1.5 gr
c. Anjuran pada waktu pengobatan: Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual
untuk mencegah terjadinya infeksi pingpong. Jangan melakukan hubungan seksual
selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh. Hindari barang-barang yang mudah
menimbulkan transmisi. Rejimen yang dianjurkan
Metronidazol 2 g dosis tunggal, peroral. Pengobatan ini sangat efektif dengan angka
keberhasilan antara 82- 90% Pengobatan juga diberikan kepada pasangan seksualnya
dengan rejimen yang sama Jika pasangan seksual-nya diobati bersama-sama maka angka
kesembuhan melebihi 95%. Angka reinfeksi 16-25% terjadi jika pasangan seksualnya
tidak diobati. Penderita dan pasangan seksualnya dianjurkan untuk tidak berhubungan
seksual hingga dinyatakan sembuh.

7. KOMPLIKASI
- Infeksi pelvis, Pada kehamilan : lahir premature, bayi berat lahir rendah,
PROGNOSIS
Metronidazol menunjukkan angka kesembuhan 95 % . Angka kesembuhan meningkat
bila kontak seksual memakai pengaman.(10)

P2 CLM (CUTANEUS LARCA MIGRANS)

1. MGP LUKA BNTUK TEROWONGAN


2. DIAGNOSIS BANDING  1) Skabies: Pada skabies terowongan yang terbentuk tidak
sepanjang seperti pada penyakit ini. 2) Dermatofitosis : Bentuk polisiklik menyerupai
dermatofitosis. 3) Dermatitis insect bite : Pada permulaan lesi berupa papul, yang dapat
menyerupai insect bite. 4) Herpes zooster : Bila invasi larva yang multipel timbul
serentak, papul – papul lesi dini dapat menyerupai herpes zooster4

3. HUB KUCING N TDAK PAKAI ALAS KAKI  Larva bisa terdapat dikotoran
kucing  msuk d kulit (tdak mggunakan alas) 

4. PROGNOSA
Penyakit ini dapat sembuh sendiri setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.
Pengobatan dimaksudkan untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa
ketidaknyamanan pasien. Umumnya pengobatan selalu memberikan hasil yang baik5.