Anda di halaman 1dari 9

Review Tugas Akhir

Kewarganegaraan

Judul tentang

“Jangan Jadikan Ketenagakerjaan Isu Pinggiran Agar SDM Bisa Maju”

Oleh :

Yulia yasni

17011129

Dosen Pengampuh : Drs. Damri,M.Pd.

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
BAB 1

RESUME

Mentri Ketenagakerjaan (Menaker), M.Hanif Dhakiri, mengatakan bahwa Indonesia


harus memutus lingkaran setan yang menjadi penyebab pengagguran, kemiskinan, dan
ketimpangan sosial. Lingkaran tersebut adalah kemiskinan dan pendidikan.

Dia mengilustrasikan seseorang miskin karena pendidikan dan kompetensinya rendah,


sehingga tak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Menurut Hanif, masalah kompetensi
dan pengangguran merupakan masalah utama ketenagakerjaan.

“Sayangnya, di Indonesia masalah ketenagakerjaan masih menjadi isu pinggiran.


Belum menjadi isu utama seperti ekonomi dengan berbagai indikatornya,” ujar nya. Hanif
berharap kedepannya masalah pengangguran menjadi salah satu idikator ekonomi
makro,sehingga pemerintah dengan segala sumber daya yang ada dapat menjaga agar angka
pengangguran tidak melebihi dari angka aman yang telah ditentukan.

“Hal ini bisa dilakukan jika isu ketenagakerjaan tak lagi menjadi isu pinggiran
sebagaimana di negara-negara Barat,” ucapnya.

Hanif juga menyampaikan beberapa tantangan ketenagakerjaan yang terjadi saat


ini,antara lain lulusan pendidikan dengan pasar kerja yang belum sepenuhnya nyambung
(mismatch), rendahnya kompetensi pekerja, di mana 60 persen diantaranya merupakan
lulusan SD-SMP.

Untuk meningkatkan kompetensi, pemerintah harus menggenjot pelatihan vokasi, baik


yang dilakukan oleh Kementrian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Balai Latihan Kerja
(BLK) maupun yang dilakukan swasta melalui Lembaga Pelatihan Kerja dan training center
oleh perusahaan.

Untuk itu, Hanif berharap, pelatihan vokasi memiliki kedudukan yang seimbang
dengan pendidikan formal terutama dalam hal alokasi anggaran. Dengan demikian upaya
peningkatan SDM pekerja menjadi maksimal.

Oleh : Cahyu Cantika Amiranti pada 14 September 2017, 13:04

Sumber : m.liputan6.com > tag > sdm-indonesia


BAB 2

MASALAH HANGAT ARTIKEL

Dari resume artikel di atas berdasarkan pendapat dari Menteri Ketenagakerjaan Hanif
Dhakiri. Dapat kita lihat bahwa, ada beberapa permasalahan yang di bahas seputar SDM,
diantaranya masalah kompetensi dan pengangguran yang merupakan masalah utama dalam
ketenagakerjaan, sayangnya permasalahan di atas meluas karena di Indonesia sendiri masalah
ketenagakerjaan masih menjadi isu pinggiran, dengan kata lain pemerintah menyampingkan
isu-isu seputar masalah ketenagakerjaan.

Selain dari dua permasalahan di atas masih ada beberapa permasalahan lain yang
termuat dalam artikel tersebut yakni, banyaknya lulusan pendidikan dengan pasar kerja yang
belum sepenuhnya nyambung (mismatch). Dimana tingkat permasalahan mencapai 37 persen,
artinya tiga sampai empat dari 10 orang bekerja tidak sesuai dengan basis pendidikannya.
Selain itu Indonesia juga dihadapkan dengan masih rendahnya kompetensi pekerja, di mana
60 persen diantaranya merupakan lulusan SD-SMP. Itulah beberapa permasalahan yang
terkandung dalam artikel yang dibahas.
BAB 3

1. Resolusi

Indonesia harus memutus lingkaran setan penyebab pengangguran, kemiskinan, dan


ketimangan sosial. Lingkaran setan tersebut adalah kemiskinan dan pendidikan. Seseoarang
miskin karena pendidikan dan kompetensinya rendah, sehingga tak bisa mendapat pekerjaan
yang layak. Tak bisa mendapat pekerjaan yang layak, karena tak memiliki kompetensi.
Kompetensinya rendah, karena tidak mengenyam pendidikan yang cukup. Masalah
kompetensi dan pengangguran merupakan masalah utama ketenagakerjaan, tetapi di
Indonesia masalah ketenagakerjaan masih menjadi isu pinggiran. Karena itu di harapkan
agar masalah isu ketenagakerjaan tak lagi menjadi isu pinggiran sebagaimana di negara-
negara Barat.

2. Solusi

Berdasarkan review artikel di atas ada beberapa solusi yang telah disampaikan oleh
bapak M. Hanif Dhakiri selaku , solusi tersebut yakni,
Masalah pengangguran menjadi masalah ekonomi makro,sehingga pemerintah dengan
segala sumber daya yang ada dapat menjaga agar angka pengangguran tidak melebihi dari
angka aman yang telah di tentukan.
Agar angka pengangguran tidak tinggi, maka masalah peningkatan kompetensi
pekerja menjadi isu bersama terintegrasi.
Tidak menjadikan isu ketenagakerjaan menjadi isu sampingan, melainkan dijadikan
isu utama sebagaimana di negara-negara Barat.
Untuk memenangkan persaingan global di era digital, kompetensi dan kualitas SDM
Indonesia harus di atas standar pasar kerja. Untuk mewujudkannya, butuh kerja keras dengan
melibatakan seluruh pemangku kepentingan.
Untuk meningkatkan kompetensi, pemerintah harus menggenjot pelatihan vokasi, baik
yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan(Kemnaker) melalui Balai Latihan Kerja
(BLK) maupun yang dilakukan swasta melalui Lembaga Pelatihan Kerja dan training center
oleh perusahaan.

3. Saran

Sejalan dengan beberapa solusi di atas saya memiliki saran yaitu agar pemerintah
lebih memerhatikan mengenai isu ketenagakerjaan,sebaiknya isu ketenagakerjaan ini di
jadikan suatu pokok pembahasan bukan hanya suatu isu sampingan, karena jika isu
ketenagakerjaan di jadikan pembahasan pokok pasti akan banyak ide-ide yang muncul dari
berbagai pihak dalam upaya menyelesaikan permasalahan seputar ketenagakerjaan tersebut.
Selain itu saran saya berikutnya adalah agar tenaga kerja di Indonesia ini sebaiknya
bekerja sesuai basis pendidikannya sehingga tidak akan banyak terjadi ketimpangan serta
tenaga kerja yang bekerja sesuai denagan basisnya pasti akan lebih ahli dan total dengan
pekerjaanya ketimbang tenaga kerja yang bekerja tidak sesuai dengan basis pendididkannya.
Saran berikutnya adalah agar Indonesia meningkatkan mutu pendidikan, sehingga
dengan mutu pendidikan yang tinggi tenaga kerja indonesia dpat bersaing dengan tenaga kerja
asing,selain itu agar tenaga kerja Indonesia yang bkerja keluar negeri bukan lagi menjadi
asisten rumah tangga tetapi bisa menjadi tenga kerja ahli yang di butuh kan di luar negeri.
BAB 4

Review pendapat saya tentang artikel

Menurut saya artikel ini sangat menarik karena di dalam artikel ini termuat beberapa
pendapat yang mendukung maksud atau inti sari yang ingin di sampaikan pengarang artikel.
Dengan adanya artikel ini pemerintah bisa lebih mengetahui permasalahan yang ada dalam
ketenagakerjaan di Indonesia yang sebelumnya kurang di sorot oleh pemerintah, dengan
menjadikan ketenagakerjaan sebagai pembahasan utama maka akan mengurangi
permasalahan lain yang menyangkut ketenagakerjaan seperti pengangguran, kemiskinan dan
ketimpangan sosial, selain itu manfaat lainnya adalah meningkatnya kualitas tenaga kerja
Indonesia sehingga bisa bersaing di pasar global, pemerintah juga harus menggenjot pelatihan
vokasi dengan upaya tersebut maka pemerintah dapat meningkatakan kompetensi pekerja jadi
bagi calon pekerja yang tidak melanjutkan pendiddikan kuliah nya mereka bisa mendalami
keterampilan dengan adanya pelatihan keterampilan tersebut, dengan di angkat nya artikel ini
maka masalah ketenagakerjaan di Indonesia akan berkurang dan tak lagi menjadi masalah
besar.
ARTIKEL

Jangan Jadikan Ketenagakerjaan Isu


Pinggiran Agar SDM Bisa Maju

Cahyu
14 Sep 2017, 13:04 WIB
0

Agar SDM Maju, Jangan Jadikan Ketenagakerjaan Sebagai Isu Pinggiran


Liputan6.com, Yogyakarta Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri, mengatakan
bahwa Indonesia harus memutus lingkaran setan yang menjadi penyebab pengangguran,
kemiskinan, dan ketimpangan social. Lingkaran setan tersebut adalah kemiskinan dan
pendidikan.

Secara sederhana, dia mengilustrasikan seseorang miskin karena pendidikan dan


kompetensinya rendah, sehingga tak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Kenapa tak bisa
mendapatkan pekerjaan layak, karena tak memiliki kompetensi. Kenapa kompetensinya rendah,
karena tidak mengenyam pendidikan yang cukup.

Menurut Hanif, masalah kompetensi dan pengangguran merupakan masalah utama


ketenagakerjaan.
“Sayangnya, di Indonesia masalah ketenagakerjaan masih menjadi isu pinggiran. Belum menjadi
isu utama seperti ekonomi dengan berbagai indikatornya,” ujar dia, dalam forum konsolidasi
mahasiswa pascasarjana Indonesia bertajuk 'Bersinergi Menuju Kedaulatan Indonesia; Upaya
Refleksi, Proyeksi, dan Resolusi Masalah Negara', di Gedung Pascasarjana Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, Rabu (13/9/2017).

Masalah inflasi menjadi salah satu indikator ekonomi makro, sehingga pemerintah dengan
segala perangkatnya selalu berupaya menjaga inflasi yang aman. Hanif pun berharap, ke
depannya masalah pengangguran menjadi salah satu indikator ekonomi makro, sehingga
pemerintah dengan segala sumber daya yang ada dapat menjaga agar angka pengangguran
tidak melebihi dari angka aman yang telah ditentukan. Agar angka pengangguran tidak tinggi,
maka masalah peningkatan kompetensi pekerja menjadi isu bersama yang terintegrasi.

“Hal ini bisa dilakukan jika isu ketenagakerjaan tak lagi menjadi isu pinggiran sebagaimana di
negara-negara Barat,” ucapnya.

Untuk memenangkan persaingan global di era digital, kompetensi dan kualitas SDM Indonesia
harus di atas standar pasar kerja. Untuk mewujudkannya, butuh kerja keras dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan.

Pada kesempatan tersebut, Hanif juga menyampaikan beberapa tantangan ketenagakerjaan


yang terjadi saat ini, antara lain lulusan pendidikan dengan pasar kerja yang belum sepenuhnya
nyambung (mismatch). Tingkat permasalahan itu mencapai 37 persen, artinya tiga sampai empat
dari 10 orang bekerja tak sesuai dengan basis pendidikannya.

Indonesia juga dihadapkan masih rendahnya kompetensi pekerja, di mana 60 persen


diantaranya merupakan lulusan SD-SMP. Untuk meningkatkan kompetensi, pemerintah harus
menggenjot pelatihan vokasi, baik yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan
(Kemnaker) melalui Balai Latihan Kerja (BLK) maupun yang dilakukan swasta melalui Lembaga
Pelatihan Kerja dan training center oleh perusahaan.

Pelatihan vokasi ini selain dimaksudkan untuk meningkatan kompetensi pekerja, juga ditujukan
untuk angkatan kerja baru yang belum bisa langsung masuk dunia kerja karena belum memiliki
keterampilan. Ke depan, Kementrian Ketenagakerjaan juga sedang memikirkan adanya pelatihan
ulang (retraining) untuk korban PHK.

Untuk itu, Hanif berharap, pelatihan vokasi memiliki kedudukan yang seimbang dengan
pendidikan formal terutama dalam hal alokasi anggaran. Dengan demikian upaya peningkatan
SDM pekerja menjadi maksimal.