Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA

OLEH:

KHUSNUL WIDAD

NIM. 14201.08.16017

PRODI S1 KEPERAWATAN

STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG

PAJARAKAN - PROBOLINGGO

TAHUN 2019-2020
ANATOMI

Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yang


merupakan bagian yang terbuka dari fasia tranversus abdominis. Di medial bawah, diatas
tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari
aponeurosis m.Obligus eksternus. Atapnya ialah aponeurosis m.oblikus eksternus dan di
dasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada lelaki, ligamentum
rotundum pada perempuan.1,2,4
BAB 1

A.DEFINISI

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah
dari dinding rongga bersangkutan.Hernia merupakan keadaan yang lazim terlihat oleh semua
dokter, sehungga pengetahuan umum tentang manifestasi, gambaran fisik dan penatalaksanaan
hernia sangat penting. 1,2,3

Pada masa lampau, kebayakan hernia diterapi dengan terapi penunjang, namun saat ini
hampir semua hernia diterapi dengan pembedahan, kecuali jika ada kontraindikasi bermakna
yang menolaknya. Dari hasil penelitian pada populasi hernia ditemukan sekitar 10% yang
menimbulkan masalah kesehatan dan pada umumnya terjadi pada pria.

Hernia ingunal indirek merupakan hernia yang palingsering ditemukan yaitu sekitar 50%
sedangkan hernia ingunal direk 25% dan hernia femoralis sekitar 15%. Di Amerika Serikat
dilaporkan bahwa 25% penduduk pria dan 2% penduduk wanita menderita hernia inguinal
didalam hidupnya, dengan hernia inguinal indirek yang sering terjadi.Insidens hernia inguinal
pada bayi dan anak-anak antara 1 dan 2%. Kemungkinan terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi
kiri 20-25% dan bilateral 15%. Kejadian hernia bilateral pada anak perempuan dibanding laki-
laki sama (10%).3,4

Hernia dapat terjadi akibat kelainnan kongenital maupun didapat. Pada anak-anak atau
bayi, lebih sering disebabkan oleh kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup
seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Pada orang dewasa adanya faktor pencetus
terjadinya hernia antara lain kegemukan, beban berat, batuk-batuk kronik, asites, riwayat
keluarga, dan sebagainya.4

Jika pada masalalu kekambuhan pasca bedah merupakan masalah, sekarang hal ini sudah
jarang terjadi, dengan pengecualian hernia berulang atau hernia besar yang memerlukan
pengguanaan materi prosthesis.3
1. Etiologi
Menurut Suratun (2010) ada 2 (dua) penyebab terjadinya hernia yaitu: Defek
dinding otot abdomen: Hal ini dapat terjadi sejak lahir (congenital) dan didapat.
Hernia congenital: Processus vaginalis peritoneum persisten Testis tidak samapi
scrotum, sehingga processus tetap terbuka Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum
kelahiran, sehingga processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih
tetap terbuka
Hernia yang didapat seperti karena usia, keturunan, lemahnya dinding rongga
perut, akibat dari pembedahan sebelumnya. Peningkatan tekanan intraabdominal:
Penyakit paru obtruksi menahun (batuk kronik), obesitas, adanya Benigna Prostat
Hipertropi (BPH), sembelit, mengejan saat defekasi dan berkemih, mengangkat beban
terlalu berat dapat meningkatkan tekanan intraabdominal.

2Manifestasi klinik
Menurut Grace (2007), manifestasi klinis pada pasien dengan hernia yaitu :
a. Pasien datang dengan benjolan di tempat hernia.
b. Hernia femoralis berada dibawah dan lateral dari tuberkulum pubikum. Biasanya
hernia ini mendatarkan garis-garis kulit di lipatan paha. Hernia femoralis tidak dapat
di kembalikan ketempat semula.
c. Hernia inguinalis dimulai pada bagian atas dan medial terhadap tuberkulum pubikum
namun dapat turun lebih luas jika membesar.
d. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
e. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
f. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung
kencing
g. Patofisiologis1,5,6
h. Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor congenital yaitu
kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu kehamilan yang dapat menyebabkan
masuknya isi rongga perut melalui kanalis inguinalis. Kanalis inguinalis adalah kanal
yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal
tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga
terjadi penonjolan peritoneum yang disebut prosesus vaginalis peritonei.
i. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini sudah mengalami obliterasi sehingga
isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, sering
kali kanalis ini tidak menutup. Karena testis kiri turun lebih dahulu maka kanalis kanan
lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal kanalis yang terbuka ini akan menutup pada
usia 2 bulan. Ovarium juga turun kedalam pelvis dari rigi urogenital tetapi tidak keluar
dari rongga abdomen. Bagian kranial gubernakulum berdiferensiasi menjadi ligamentum
ovarii, dan bagian inferior gubernakulum menjadi ligamentum teres uteri, yang masuk
melalui cincin dalam, ke dalam labia mayor, prosesus vaginalis pada anak wanita meluas
kedalam labia mayor melalui kanalis inguinalis, yang juga dikenal sebagai kanal
nuck.Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi), akan timbul hernia
inguinalis kongenital.
j. Pada orang tua, kanalis tersebut telah menutup namun karena lokus minoris resistensie
maka pada keadaan yang menyebabkan peninggian tekanan intra abdominal meningkat,
kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.
k. faktor yang kedua adalah faktor yang didapat seperti hamil,batuk kronis,
pekerjaan mengangkat benda berat dan faktor usia, masuknya isi rongga perut melalui
kanal ingunalis, jika cukup panjang maka akan menonjol keluar dari anulus ingunalis
eksternus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan akan sampai ke skrotum karena kanal
inguinalis berisi tali sperma pada laki- laki, sehingga menyebakan hernia. Hernia ada
yang dapat kembali secara spontan maupun manual juga ada yang tidak dapat kembali
secara spontan ataupun manual akibat terjadi perlengketan antara isi hernia dengan
dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini
akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehingga aktivitas akan
terganggu. Jika terjadi penekanan terhadap cincin hernia maka isi hernia akan mencekik
sehingga terjadi hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala ileus yaitu gejala
obstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang akan
menyebabkan kurangnya suplai oksigen yang bisa menyebabkan Iskemik. Isi hernia ini
akan menjadi nekrosis. Jika kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang
akhirnya dapat menimbulkan abses lokal atau prioritas jika terjadi hubungan dengan
rongga perut. Obstruksi usus juga menyebabkan penurunan peristaltik usus yang bisa
menyebabkan konstipasi. Pada keadaan strangulate akan timbul gejala ileus yaitu perut
kembung, muntah dan obstipasi pada strangulasi nyeri yang timbul letih berat dan
kontiniu, daerah benjolan menjadi merah.
Bayi baru lahir Pekerjaan berat,angkat
berat,riwayat jatuh,batuk
Prosesu vaginalis lama,mengejan,bersin
peritonie tidak
terobilitasi
Peningkatan tekanan intra abdomen

Kanalis ingunalis
terbuka Fasia abdomen tidak mampu
menghasilkan tekanan

Peritoneum tertarik
Fasia terkoyak
kedaerah skrotum

Hernia inguinalis
lateralis akuisita
Hernia inguinalis
lateralis kongenital

6.
7. PemeriksaanPenunjang
Menurut Suratun, (2010). Pemeriksaan penunjang pada penderita hernia dapat
dilakukan dengan cara berikut:
Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis hernia.
Namun pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG), CT Scan, maupun MRI (Magnetic
Resonance Imaging) dapat dikerjakan guna melihat lebih lanjut keterlibatan organ-organ
yang terperangkap dalam kantung hernia tersebut. Pemeriksaan laboratorium dapat
dilakukan untuk kepentingan operasi
a. sinar X abdomen menunjukan kadar gas dalam usus / abstruksi usus.
b. Laparoskopi, untuk menentukan adanya hernia inguinal lateralis apakah ada sisi yang
berlawanan atau untuk mengevaluasi terjadi hernia berulang atau tidak.
c. Pemeriksan darah lengkap, hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat
menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih
(Leukosit : >10.000– 18.000/mm3)

8. Penatalaksanaan Medis
Grace (2007), mengatakan penatalakasanaan yang diberikan kepada penderita
hernia meliputi :
a. Kaji hernia untuk: keparahan gejala, risiko komplikasi (tipe,ukuran leher hernia),
kemudahan untuk perbaikan (lokasi, ukuran), kemungkinan berhasil (ukuran,
banyakya isi perut kanan yang hilang).
b. Kaji pasien untuk : kelayakan operasi, pengaruh hernia terhadap gaya hidup
(pekerjaan dan hobi).
c. Perbaikan dengan bedah biasanya ditawarkan pada pasien – pasien dengan:
1) Hernia dengan risiko komplikasi apapun gejalanya.
2) Hernia dengan adanya gejala-gejala obstruksi sebelumnya.
3) Hernia dengan risiko komplikasi yang rendah namun dengan gejala yang
mengganggu gaya hidup dan sebagainya.
Secara konservatif (non operatif)
1) Reposisi hernia
Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan
2) Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara,
misalnya pemakaian korset
Secara operatif (prinsip pembedahan)
1) Herniotomi
Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan pada klien
dengan hernia yang sudah nekrosis. Eksisi kantung hernianya saja untuk pasien
anak.
2) Herniorafi
Memperbaiki defek, perbaikan dengan pemasangan jaring (mesh) yang biasa
dilakukan untuk hernia inguinalis, yang dimasukkan melalui bedah terbuka atau
laparoskopik.
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA HERNIA

1. Pengkajian
Menurut Dermawan & Rahayuningsih (2010), hal yang perlu di kaji pada penderita
hernia inguinalis adalah memiliki riwayat pekerjaan mengangkat beban berat, duduk
yang terlalu lama, terdapat benjolan pada bagian yang sakit, nyeri tekan, klien merasa
tidak nyaman karena nyeri pada perut.

1. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang lazim muuncul pada pasien dengan Hernia menurut NANDA (2013) yaitu
sebagai berikut :
a. Pre Operasi Hernia
a) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik.
b) Mual berhubungan dengan regurgitasi usus akibat obstruksi usus
c) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual, muntah, gangguan peristaltic usus
d) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan luka post operasi
e) Kerusakan Integritas jaringan berhubungan dengan tindakan operatif
f) Deficit pengetahuan berhubungan dengan potensial komplikasi gastrointestinal
dan kurangnya informasi.
b. Post Operasi Hernia
a) Nyeri akut berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
b) Kerusakan Integritas jaringan berhubungan dengan tindakan operatif
c) Risiko infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
d) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan luka post operasi
2. Intervensi keperawatan
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Perencanaan/Intervensi Rasional
Dx
INTERVENSI PRE OPERASI
Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
 Kontrol nyeri Manajemen nyeri
dengan agen injuri fisik
Indikator : 1. Lakukan pengkajian nyeri secara 1. Dengan mengetahui lokasi,
1. Tidak pernah menunjukkan komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,kualitas dan derajat
manajemen nyeri karakteristik, durasi, frekuensi, nyeri sebelum pemberian, dapat
2. Jarang menunjukkan kualitas dan intensitas atau dijadikan acuan untuk tindakan
manajemen nyeri keparahan nyeri, dan faktor penghilang nyeri setelah pemberian
3. Kadang-kadang menunjukkan presipitasinya obat
manajemen nyeri
4. Sering menunjukkan
manajemen nyeri 2. Observasi isyarat nonverbal 2. Untuk mengetahui tingkat
5. Secara konsisten ketidaknyamanan, khususnya keparahan nyeri pasien yang tidak
menunjukkan manajemen pada mereka yang tidak mampu mampu berkomunikasi efektif
nyeri berkimunikasi efektif

Hasil yang diharapkan 4-5

kriteria hasil: 3. Berikan informasi tentang nyeri 3. Mengetahui perkembangan nyeri


1. Mengenali kapan nyeri terjadi seperti penyebab nyeri, berapa dan tanda-tanda nyeri sehingga
2. Menggambarkan faktor lama nyeri akan berkurang dan dapat menentukan intervensi
penyebab antisipasi ketidaknyamaanan selanjutnyaserta informasi yang
3. Menggunakan jurnal han prosedur tepat dan akurat membantu pasien
untuk memonitor gejala dari dalam mengetahui tentang
waktu ke waktu kondisinya
4. Menggunakan tindakan
pencegahan
5. Menggunakan tindakan 4. Ajarkan tentang teknik non 4. Untuk meningkatkan alveoli,
pengurangan nyeri tanpa farmakologi: nafas dalam memelihara prtukaran gas,
analgesik mencegah atektasi paru,
6. Menggunakan analgesik yang meningkatkan efisiensi batuk,
direkomendasikan mengurangi stress fisik maupun
7. Melaporkan perubahan emosional, menurunkan intensitas
terhadap gejala nyeri pada nyeri dengan merelaksasikan otot-
profesional kesehatan otot pernafasan seperti rektus
8. Mengguankan sumber daya abominis, tranversus abdominis,
yang disediakan internal abdominal oblique, dan
9. Mengenali apa yang terkait external abdominal oblique.
dengan gejala nyeri 5. Ajarkan tentang teknik non 5. Massage dapat meningkatkan
10. Melaporkan nyeri yang farmakologi: massase area vaskularisasi sehingga dapat
terkontrol punggung menimbulkan kenyamanan bagi
pasien
6. berikan pasien penurun nyeri 6. Obat analgesik dapat mengurangi
yang optimal dengan peresepan atau meringankan nyeri
analgesik

Pemberian analgesik
7. Cek perintah pengobatan meliputi 7. Menghindari terjadinya kesalahan
obat, dosis, dan frekuensi obat dalam pemberian obat ke pasien
analgesik yang diresepkan dan perintah pemberian obat
8. Cek adanya riwayat alergi obat 8. Mengetahui adanya riwayat alergi
9. Berikan kebutuhan kenyamanan obat pasien
dan aktivitas lain yang dapat 9. Meciptakan lingkungan yang
membantu relaksasi untuk nyaman dengan membersihkan
memfasilitasi penurunan nyeri tempat tidur, mengatur suhu, dan
mengurangi kebisingan.

. Mual berhubungan NOC NIC


dengan regurgitasi usus  Control mual dan muntah 1. Observasi tanda-tanda nonverbal 1. Isyarat tubuh, ekspresi wajah dapat
1. Tidak pernah menunjukkan dari ketidaknyamanan menjadi acuan menilai
kontrol mual ketidaknyamanan terhadap mual
2. Jarang menunjukkan kontrol yang dialami pasien terutama pada
mual bayi, anak-anak, orang-orang yang
3. Kadang-kadang menunjukkan tidak mampu berkomunikasi secara
kontrol mual efektif seperti individu dengan
4. Sering menunjukkan kontrol penyakit Alzheimer.
mual 2. Lakukan penilaian lengkap 2. Untuk mengetahui frekuensi, durasi,
5. Secara konsisten menunjukkan terhadap mual, termasuk tingkat keparahan, dan faktor-faktor
kontrol mual frekuensi, durasi, tingkat pencetus dengan alat pengkajian
keparahan, dan faktor-faktor seperti duke descriptive scales, dan
Hasil yang diharapkan: 4-5 pencetus Rhodes index of nausea and vomiting
3. Dapatkan riwayat diet pasien (INV)
Dengan kriteria hasil : seperti makanan yang disukai 3. Makanan dan minuman dapat
1. Mengenali onset mual dan yang tidak disukai serta mempengaruhi tejadinya mual
2. Mendeskripsikan factor-faktor preferensi makanan terkait
penyebab budaya
3. Mengenali faktor pencetus 4. Evaluasi dampak dari 4. Mengidentifikasi dampak mual
stimulus pengalaman mual pada kualitas terhadap kualitas hidup seperti nafsu
4. Menggunakan langah-langkah hidup makan terganggu, aktivitas, prestasi
pencegahan kerja, tanggung jawab peran, dan
5. Menghindari bau yang tidak tidur.
menyenangkan 5. Identifikasi faktor-faktor yang 5. Mengetahui obat-obatan yang
6. Mendeskripsikan factor-faktor dapat menyebabkan atau memiliki efek samping yang
penyebab berkontribusi terhadap mual menimbulkan mual dan prosedur
7. Menghindari factor-faktor seperti obat-obatan dan prosedur seperti karena bau dari alkohol, obat-
penyebab obatan, atau tindakan medis yang
memicu terjadinya mual
6. Kendalikan faktor-faktor yang 6. Bau yang tidak menyenangkan,
mungkin memebangkitkan mual suara, stimulasi viasual yang tidak
menyenangkan dapat
membangkitkan mual
7. Kurangi atau hilangkan faktor- 7. Kecemasan, takut, kelelahan, dan
faktor yang bersifat personal kurangnya pengetahuan dapat
yang memicu atau meningkatkan memicu peningkatan mual
mual 8. Mengidentifikasi pelaksanaan
8. Identifikasi strategi yang telah strategi mengurangi mual yang telah
berhasil dilakukan dalam dilakukan pasien
mengurangi mual 9. Untuk menghindari tekanan
9. Ajarkan untuk makan secara berlebihan dalam usus agar tidak
perlahan memicu peningkatan mual
10. Untuk mengurangi rasa ingin
10. Ajarkan untuk membatasi minum muntah akibat naiknya cairan dari
1 jam sebelum, 1 jam setelah, usus
dan selama makan
Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang dari Status nutrisi menejemen nutrisi
kebutuhan tubuh indikator:
berhubungan dengan 1. Sangat menyimpang dari 1. Identifikasi adanya alergi atau 1. Mengetahui adanya alergi terhadap
mual, muntah, gangguan rentang normal intoleransi makanan yang obat-obatan untuk keamanan
peristaltic usus 2. Banyak menyimpang dari dimiliki pasien pemberian tindakan pemberian obat
rentang normal 2. Berikan pilihan makanan sambil 2. Mengidenifikasi dengan
3. Cukup menyimang dari menawarkan bimbingan terhadap menganjurkan pasien
rentang normal pilihan makanan yang lebih sehat mengungkapkan makann pilihan
4. Sedikit menyimpang dari pasien untuk mendukung
rentang normal merencanakan diet diirumah sakit
5. Tidak menyimpang dari 3. Atur diet yang diperlukan yaitu 3. Mencegah terjadinya kekurangan
rentang normal menyediakan makanan tinggi atau kelebihan intake atau output
Dengan hasil yang diharapkan : 4- protein: menyarankan
5 menggunakan bumbu dan
rempah-rempah sebagai alternatif
Dengan kriteria hasil:
untuk garam, menyediakan
1. Asupan gizi
pengganti gula; menambah atau
2. Asupan makanan
mengurangi kalori, menambah
3. Asupan cairan
atau mengurangi vitamin,
4. Energi
mineral, atau suplemen.
5. Rasio berat badan/tinggi
4. Ciptakan lingkungan yang 4. Meningkatkan kenyamanan dan
badan nafsu makan pasien
optimal pada saat mengkonsumsi
6. Hidrasi
makanan
5. Lakukan atau bantu pasien 5. Perawatan mulut dilakukan untuk
terkait dengan perawaan mulut memberikan oral hygiene seperti
sebelum makan gosok gigi, mengatasi stomatitis,
untuk meningkatkan kenyamanan
pasien selama makan dan setelah
makan
6.
Anjurkan pasien untuk duduk
pada posisi tegak dikursi, jika 6. Makan dalam posisi duduk akan
memungkinkan mempermudah jalannya makanan
dalam saluran cerna
7. Anjurkan keluarga untuk 7. Meningkatkan nafsu makan pasien
membawa makanan favorit selain makanan dari rumah sakit
pasien sementara pasien berada
dirumah sakit atau fasilitas
perawatan
8. Tawarkan makanan ringan yang
padat gizi 8. Makanan ringan yag padat gizi
sebagai makanan sampingan atau
cemilan yang dapat membantu
mempertahankan nutrisi pasien yang
9. Pastikan diet mencakup makanan adekuat
tinggi kandungan serat 9. Mencegah terjadinya konstipasi
Kerusakan
5 Integritas  Integritas jaringan: kulit Perawatan luka
Jaringan berhubungan dan membran mukosa 1. Bersihkan luka dengan normal 1. untuk mengatasi iritasi pada luka
dengan kerusakan jaringan Indikator : saline ata pembersih yang tidak
akibat isi hernia nekrosis 1. Sangat terganggu beracun
2. Banyak terganggu 2. Oleskan salep yang sesuai dengan 2. salep yang sesuai dapat membantu
3. Cukup terganggu kulit/lesi menjaga agar kulit tetap lkembab
4. Sedikit terganggu 3. Berikan balutan yang sesuai 3. balutan yang sesuai dengan jenis
5. Tidak terganggu dengan jenis luka luka dapat mempengaruhi proses
penyembuhan
Hasil yang diharapkan 4-5 4. Periksa luka setiap kali perbahan 4. memeriksa luka untuk mengetahui
balutan perubahan-perubahan pada luka
5. Reposisi pasien setidaknya setiap 5. untuk mencegah terjadinya luka
2 jam decubitus
kriteria hasil :
1. Suhu kulit Kontrol risiko : proses infeksi
2. Sensasi 6. Anjurkan pengunjung untuk 6. Menghindari masuknya
3. Elastisitas mencuci tangan pada saat mikroorganisme atau bakteri yang
4. Hidrasi memasuki dan meninggalkan akan menyebabkan infeksi
5. Tekstur ruang pasien
6. Perfusi jaringan 7. batasi jumlah pengunjung bila 7. menghindari terjadinya penularan
7. Integritas kulit perlu atau penyebaran infeksi
8. Dorong asupan cairan: tawari
Kontrol risiko : proses infeksi makanan ringan, minuman ringan 8. untuk membantu perbaikan
Indikator : dan buah-buahan segar/jus buah) jaringan yang rusak dari dalam
1. Tidak pernah menunjukkan 9. Tingkatkan intake nutrisi yang tubuh
2. Jarang menunjukkan tepat: dengan memotivasi pasien 9. Nutrisi yang tepat dapat membantu
3. Kadang-kadang menunjukkan untuk makan sesuai dengan porsi memperbaiki sel/jaringan yang
4. Sering menunjukkan yang disediakan dari rumah sakit. rusak dari dalam tubuh.
5. Secara konsisten
menunjukkan

Hasil yang diharapkan 4-5


(kontrol infeksi pasien pada awal
pengkajian skala 2 : jarang
melakukan)
Kriteria hasil:
1. Mengidentifikasi faktor risiko
infeksi
2. Mengidentifikasi risiko
infeksi dalam aktivitas sehari-
hari
3. Mengidentifikasi strategi
umtuk melindungi diri dari
orang lain yang terkena
infeksi
4. Mempraktikkan strategi untuk
mengontrol infeksi
5. Mempertahankan lingkungan
yang bersih
Deficit Pengetahuan NOC : NIC :
 Pengetahuan : Manajemen Pengetahuan : manajemen
berhubungan dengan
penyakit akut penyakit akut
potensial komplikasi Indikator: 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien 1. Berikan kesempatan untuk
1. Tidak ada pengetahuan terkait proses penyakit yang mengidentifikasi tingkat pengetahuan
gastrointestinal dan
2. Pengetahuan terbatas spesifik pasien tentang penyakitnya
kurangnya informasi. 3. Pengetahuan sedang 2. Menjelaskan dengan pasien dan
4. Pengetahuan banyak 2. Jelaskan patofisiologi penyakit dan keluarga bahwa hernia dapat diawali
5. Pengetahuan sangat banyak bagaimana hubungannya dengan karena lemahnya dinding abdomen
anatomi dan fisiologi,sesuai baik pada bayi baru lahir, dewasa,
Dengan hasil yang diharapkan 3-4 kebutuhan. bahkan paling sering terjadi pada
lansia, lemahnya dinding abdomen
Kriteria hasil: dapa menimbulkan jalan keluarnya
1. Faktor-faktyor penyebab dan isi dari perut seperti usus sehingga
faktor yang berkontribusi perut menjadi timbul benjolan dan
2. Perjalan penyakit b uasanya nyeri yang dikarenakan jepitan usus
3. Tanda dan gejala penyakit pada jaringan lain di dalam perut.
4. Tanda dan gejala kompikasi 3. Kenali pengetahuan pasien 3. Mengidentifikasi respon pasien
5. Strategi untuk mencegah mengenai kondisinya terhadap kondisinya selama sakit
komplikasi 4. Jelaskan tanda dan gejala umum 4. Tanda dan gejalanya meliputi
6. Penggunaan obat-obat dan dari penyakit terdapatnya benjolan pada area
resep yang benar abdomen, nyeri, sering juga disertai
dengan mual.
5. Identifikasi kemungkinan 5. Penyebab hernia diantaranya adalah
penyebab, sesuai kebutuhan. lemahnya dinding bdomen, dan
faktor pencetusnya seperti obesitas,
batuk, mengangkat beban berat,
mengejan saat BAB, dan umur >50
tahun beresiko tinggi terjadinya
6. Identifikasi perubahan kondisi hernia.
pasien 6. Mengidentifikasi adanya dampak
atau bahkan komplikasi dari penyakit
7. Beri ketenangan terkait kondisi pasien
pasien 7. Kondisi pasienyang cmas, takut,
bahkan kurangnya pengetahuan dapat
memperburuk emosi dan proses
8. Jelaskan komplikasi kronik yang penyakit pasien
mungkin ada 8. Jika tidak segera dilakukan
penanganan yang tepat seperti
operasi ditakutkan akan terjadi
kematian jaringan yang menyebabkan
terhmbatnya suplai darah dalam
tubuh sehingga nyeri akan memberat
9. Edukasi pasien mengenai tindakan sampai menyebabkan kematian
untuk mengontrol/meminimalkan 9. Cara meminimalkan terjadinya hernia
gejala adalah dengan mengurangi
mengankat beban yang berat,
menurunkan berat badan, olahraga
teratur, jika sudah terkena hernia
maka disarankan indakan konservatif
seperti memakai korset atau celana
hernia; untuk mengurangi cemas dan
nyeri dapat dilakukan teknik relaksasi
guna untuk merelaksasikan otot-otot
pernafasan seperti rektus abdominis.
INTERVENSI POST OPERASI HERNIA

2 Kerusakan Integritas  Integritas jaringan: kulit Perawatan luka


jaringan berhubungan dan membran mukosa 1. Bersihkan luka dengan normal 1. untuk mengatasi iritasi pada luka
dengan kerusakan jaringan Indikator : saline ata pembersih yang tidak
akibat dari tindakan 1. Sangat terganggu beracun
operasi. 2. Banyak terganggu 2. Oleskan salep yang sesuai 2. salep yang sesuai dapat membantu
3. Cukup terganggu dengan kulit/lesi menjaga agar kulit tetap lkembab
4. Sedikit terganggu 3. Berikan balutan yang sesuai 3. balutan yang sesuai dengan jenis
5. Tidak terganggu dengan jenis luka luka dapat mempengaruhi proses
penyembuhan
Hasil yang diharapkan 4-5 4. Periksa luka setiap kali perbahan 4. memeriksa luka untuk mengetahui
balutan perubahan-perubahan pada luka
kriteria hasil : 5. Reposisi pasien setidaknya setiap 5. untuk mencegah terjadinya luka
1. Suhu kulit 2 jam decubitus
2. Sensasi
3. Elastisitas Kontrol risiko : proses infeksi
4. Hidrasi 6. Anjurkan pengunjung untuk 6. Menghindari masuknya
5. Tekstur mencuci tangan pada saat mikroorganisme atau bakteri yang
6. Perfusi jaringan memasuki dan meninggalkan akan menyebabkan infeksi
7. Integritas kulit ruang pasien
7. batasi jumlah pengunjung bila 7. menghindari terjadinya penularan
Kontrol risiko : proses infeksi perlu atau penyebaran infeksi
Indikator : 8. Dorong asupan cairan: tawari 8. untuk membantu perbaikan
1. Tidak pernah menunjukkan makanan ringan, minuman jaringan yang rusak dari dalam
2. Jarang menunjukkan ringan dan buah-buahan segar/jus tubuh
3. Kadang-kadang menunjukkan buah) 9. Nutrisi yang tepat dapat membantu
4. Sering menunjukkan 9. Tingkatkan intake nutrisi yang memperbaiki sel/jaringan yang
5. Secara konsisten tepat: dengan memotivasi pasien rusak dari dalam tubuh.
menunjukkan untuk makan sesuai dengan porsi
yang disediakan dari rumah sakit.
Hasil yang diharapkan 4-5
Kriteria hasil:
1. Mengidentifikasi faktor risiko
infeksi
2. Mengidentifikasi risiko
infeksi dalam aktivitas sehari-
hari
3. Mengidentifikasi strategi
umtuk melindungi diri dari
orang lain yang terkena
infeksi
4. Mempraktikkan strategi
untuk mengontrol infeksi
5. Mempertahankan lingkungan
yang bersih

. Hambatan mobilitas fisik NOC NIC :


berhubungan luka post Exercise therapy : ambulation
Indikator :
operasi 1. Bantu pasien untuk duduk di sisi 1. Untuk mengurangi nyeri selama
posisi tubuh: berinisiatif sendiri tempat tidur melaukan latihan ataupun aktivitas
2. Ajarkan pasien tentang dan 2. Untuk mengetahui Terapi ambulasi
1. Sangat terganggu
2. Banyak terganggu pantau penggunaan alat bantu yang tepat untuk meningkatkan
3. Cukup terganggu mobilitas : kursi roda atau mengembalikan gerakan tubuh
4. Sedikit terganggu yang terkendali
5. Tidak terganggu 3. Ajarkan dan bantu pasien dalam 3. Untuk membantu pasien dalam
proses berpindah melatih kemampuan gerak

Hasil yang diharapkan : 4-5 Pengaturan posisi


kriteria hasil: 4. Posisikan pasien semi fowler 4. Mencegah terjadinya dispnea
5. Balikkan tubuh pasien sesuai 5. Untuk mencegah luka dekubitus
1. Bergerak dari posisi berbaring dengan kondisi kulit akibat tekanan yang terlalu lama
ke posisi berdiri 6. Minimalisir gesekan atau cedera 6. dibutuhkan bantuan dari keluarga
2. Bergerak dari posisi duduk ke ketika memposisikan dan untuk menahan dan memegangi
posisi berbaring membalikkan tubuh pasien pasien selama berpindah posisi,
3. Bergerak dari posisi duduk ke menghindarkan dari benda-benda
posisi berdiri tajam, serta memasang said rail
4. Bergerak dari posisi beriri ke agar pasien tidak jatuh.
posisi duduk 7. Dorong pasien untuk terlibat 7. Pasien kooperatif dapat
dalam perubahan posisi memudahkan proses latihan
bergerak dan berpindah.

Risiko infeksi
berhubungan dengan
luka insisi bedah/operasi.
. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status
kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Potter &
Perry, 2011). Proses Implementasi mencakup (Kozier, 2011) :
a. Mengkaji kembali pasien
b. Menentukan kebutuhan perawat terhadap bantuan
c. Mengimplementasikan intervensi keperawatan
d. Melakukan supervise terhadap asuhan yang didelegasikan
e. Mendokumentasikan tindakan keperawatan
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah aspek penting proses keperawatan karena kesimpulan yang ditarik dari
evaluasi menentukan apakah intervensi keperawatan harus diakhiri dilanjutkan, atau
diubah (Kozier, 2011).
. DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,L.J.2001. Buku Diagnosa Keperawatan (Terjemah: Monica Ester). Edisi 8. Jakarta;


EGC

Dermawan. 2010. Keperawatan medikal bedah (sistem pencernaan). Yogyakarta: Gosyen


Publishing: http://eprints.ums.ac.id/33991/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf.diakses
pada tanggal 15 September 2016, pukul 15.53 WIB

Bulechek, Butcher, Dochterman, Wagner. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC).


Edisi ke-6. Jakarta: Mocomedia

Grace. 2007. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta : Erlangga.

Hartini. 2013. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Operasi Hernia Hari Ke-1.
Surakarta

Judith M.Wilkinson. 2006. Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil
NOC. Jakarta: EGC

Kemenkes RI, 2012. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, pp. 51-83
http://eprints.ums.ac.id/31241/19/NASKAH_PUBLIKASI.pdf.diakses pada tanggal 01
Oktober 2016, pukul 05.36 WIB

Kozier. 2011. Fundamental Keperawatan (Konsep, Proses, Dan Praktik). Jakarta: EGC

Luhndorrf,Suravaram S, Bellolio MF, Enduri S, Rabinstein A, Gilmore RM, Bhagra A,


Manivannan V, Decker WW.First aid for the surgery clerkship, Intrnational edition,
The Mc Graw-Hill Companies, Inc, Singapore, 2013, 307-317:
https://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/06/hernia_files_of_drsmed_fkur.pdf.dia
kses pada tanggal 01 September 2016, pukul 14.14 WIB

Moore & Dalley. 2013. Anatomi Fisiologi Berorientasi Klinis. Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga

Moorhead, Johnson, Meridean, Swanson. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi
ke-5. Jakarta: Mocomedia