Anda di halaman 1dari 6

RUPTUR PERINEUM TINGKAT 1-2 Disahkan oleh Kepala

No. Kode : Puskesmas Ngkeran


Terbitan :
No. Revisi :
UPTD SOP Tgl. Mulai :
Ahmadi Bahri, S. Kep
PUSKESMAS Berlaku
NIP.
NGKERAN Halaman :
198008162010031001

1. Tujuan Agar dokter dapat menegakkan diagnosa ruptur perineum tingkat 1-2
dan melakukan pengobatan dan edukasi kepada pasien tentang ruptur
perineum tingkat 1-2.
2. Kebijakan Sebagai pedoman bagi dokter untuk mendiagnosa dan mengobati pasien.
3. Ruang Lingkup Ruang KIA Puskesmas Ngkeran
4. Definisi Ruptur perineum adalah suatu kondisi robeknya perineum yang terjadi
pada persalinan pervaginam. Klasifikasi Ruptur Perineum dibagi
menjadi 4 derajat:
a. Derajat I
Robekan terjadi hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa
mengenai kulit
perineum
b. Derajat II
Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perinea transversalis,
tetapi tidak melibatkan kerusakan otot sfingter ani.
c. Derajat III
Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani dengan
pembagian , sebagai berikut:
III. a. Robekan < 50% sfingter ani eksterna
III. b. Robekan> 50% sfingter ani ekterna
III. c. Robekan juga meliputi sfingter ani interna
d. Derajat IV
Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani dan
mukosa rectum

5. Prosedur a. Pasien dibawa keluarganya keruang KIA dengan tanda- tanda


persalinan.
b. Keluarga pasien mendaftarkan pasien ke loket pendaftaran pasien.
c. Pasien ditidurkan di ruang KIA untuk melakukan persalinan normal
tunggu.
d. Perawat menulis identitas pasien di buku register.
e. Pasien melakukan partus normal ditolong oleh dokter/bidan diruang
KIA.
f. Dokter melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien
mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir setelah melahirkan
normal.
g. Dokter menanyakan apakah pasien memiliki riwayat keluhan yang
sama sebelumnya, apakah ada penyakit infeksi sebelumnya.
h. Perawat melakukan pemeriksaan tekanan darah
i. Perawat melakukan pemeriksaan nadi
j. Dokter menegakan diagnosa berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik, yaitu:
- Robekan pada perineum,
- Perdarahan yang bersifat arterial atau yang bersifat merembes,
- Pemeriksaan colok dubur, untuk menilai derajat robekan
perineum
k. Dokter menulis resep dan melakukan edukasi.
- Penatalaksanaan farmakologis:
Dosis tunggal sefalosporin golongan II atau III dapat diberikan
intravena sebelum perbaikan dilakukan (untuk ruptur perineum
yang berat).
- Manajemen Ruptur Perineum:
Ruptur perineum harus segera diperbaiki untuk meminimalisir
risiko perdarahan, edema dan infeksi. Manajemen ruptur
perineum untuk masing-masing derajatnya, antara lain sebagai
berikut :
1. Derajat I
Bila hanya ada luka lecet, tidak diperlukan penjahitan. Tidak
usah menjahit rupture derajat I yang tidak mengalami
perdarahan dan mendekat dengan baik.
Penjahitan robekan perineum derajat I dapat dilakukan hanya
dengan memakai catgut yang dijahitkan secara jelujur
(continuous suture) atau dengan cara angka delapan (figure of
eight).
2. Derajat II
Ratakan terlebih dahulu pinggiran robekan yang bergerigi,
dengan cara mengklem masing-masing sisi kanan dan kirinya
lalu dilakukan pengguntingan untuk meratakannya.
Setelah pinggiran robekan rata, baru dilakukan penjahitan
luka robekan.
3. Derajat III dan IV
Dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki
dokter spesialis obstetric dan ginekologi.
Edukasi
- Menjaga perineumnya selalu bersih dan kering.
- Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya.
- Cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir 3
sampai 4 kali perhari.
- Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan
lukanya. Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam
atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya
atau jika daerah tersebut menjadi lebih nyeri.
l. Perawat mempersilahkankeluarga pasien mengambil obat di apotik
m. Dokter melkukan observasi perdarahan pasien.
n. Dokter menulis hasil anamnesa, pemeriksaan , diagnosa dan terapi di
rekam medis pasien
o. Perawat menulis hasil diagnosa, terapi di buku register
6. Kriteria Rujukan a. Ruptur perineum tingkat 3-4
7. Diagram alir
memanggil melakukan anamnesa melakukan pemeriksaan
pasien sesuai , dan riwayat penyakit fisik meliput TD, nadi,
nomor urut sebelumnya,

Petugas menulis resep Petugas menegakan Petugas menegakan


diagnosa diagnosa berdasarkan
pemeriksaan fisik, dan
anamnesa

Petugas Petugas menulis hasil menulis hasil


memeprsilahkan pasien pemeriksaan dan terapi pemeriksaan
mengambil obat di di CM dalam buku
apotik register.

8. Referensi  Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Primer Hal 489-491,
9. Dokumen  Catatan Medik,
Terkait
 Buku Register,
 Blanko Resep
10. Distribusi  Rawat Inap
 Laboratorium

11. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
RUPTUR PERINEUM TINGKAT 1-2
No. Kode :
Terbitan :
DAFTAR No. Revisi :
UPTD TILIK Tgl. Mulai Berlaku :
PUSKESMAS Halaman :½
NGKERAN

Tidak
No Langkah Kegiatan Ya Tidak Berlaku
1 Apakah Perawat mermpersilahkan pasien keruang KIA?
2 Apakah Perawat menulis identitas pasien di buku register?
3 Apakah Dokter melakukan anamnesa pada pasien apakah
pasien mengeluhkan keluar darah dari pervaginam
setelah melahirkan?
4 Apakah Dokter menanyakan apakah pasien memiliki riwayat
keluhan yang sama sebelumnya, apakah ada penyakit
infeksi sebelumnya ?
5 Apakah Perawat melakukan pemeriksaan tekanan darah?
6 Apakah Perawat melakukan pemeriksaan nadi?
7 Apakah Dokter menegakan diagnosa berdasarkan hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu:
- Robekan pada perineum,
- Perdarahan yang bersifat arterial atau yang bersifat
merembes,
- Pemeriksaan colok dubur, untuk menilai derajat
robekan perineum
8 Apakah Dokter menulis resep dan melakukan edukasi?
- Penatalaksanaan farmakologis:
Dosis tunggal sefalosporin golongan II atau III
dapat diberikan intravena sebelum perbaikan
dilakukan (untuk ruptur perineum yang berat).
- Manajemen Ruptur Perineum:
Ruptur perineum harus segera diperbaiki
untuk meminimalisir risiko perdarahan, edema
dan infeksi. Manajemen ruptur perineum
untuk masing-masing derajatnya, antara lain
sebagai berikut :
1. Derajat I
Bila hanya ada luka lecet, tidak diperlukan
penjahitan. Tidak usah menjahit rupture
derajat I yang tidak mengalami perdarahan
dan mendekat dengan baik.
Penjahitan robekan perineum derajat I
dapat dilakukan hanya dengan memakai
catgut yang dijahitkan secara jelujur
(continuous suture) atau dengan cara angka
delapan (figure of eight).
2. Derajat II
Ratakan terlebih dahulu pinggiran robekan
yang bergerigi, dengan cara mengklem
masing-masing sisi kanan dan kirinya lalu
dilakukan pengguntingan untuk
meratakannya.
Setelah pinggiran robekan rata, baru
dilakukan penjahitan luka robekan.
3. Derajat III dan IV
Dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang memiliki dokter spesialis obstetric
dan ginekologi.
Edukasi
- Menjaga perineumnya selalu bersih dan
kering.
- Hindari penggunaan obat-obatan tradisional
pada perineumnya.
- Cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih
yang mengalir 3 sampai 4 kali perhari.
- Kembali dalam seminggu untuk memeriksa
penyembuhan lukanya. Ibu harus kembali
lebih awal jika ia mengalami demam atau
mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari
daerah lukanya atau jika daerah tersebut
menjadi lebih nyeri.

9 Apakah Perawat mempersilahkan keluarga pasien mengambil


obat di apotik?
10 Apakah Perawat menulis hasil anamnesa, pemeriksaan ,
diagnosa dan terapi direkam medik pasien?
11 Apakah Perawat menulis diagnosa di rekam medik?
12 Apakah Perawat menulis hasil diagnosa, terapi di buku
register?

CR :………………%.

Ngkeran,……………………
Pelaksana/ Auditor

(………………………………)