Anda di halaman 1dari 7

SIFILIS STADIUM 1-2 Disahkan oleh Kepala

No. Kode : Puskesmas Ngkeran


Terbitan :
No. Revisi :
UPTD SOP Tgl. Mulai :
Ahmadi Bahri, S. Kep
PUSKESMAS Berlaku
NIP.
NGKERAN Halaman :
198008162010031001

1. Tujuan Agar dokter dapat menegakkan diagnosa sifilis dan melakukan


pengobatan dan edukasi kepada pasien tentang sifilis.
2. Kebijakan Sebagai pedoman bagi dokter untuk mendiagnosa dan mengobati pasien.
3. Ruang Lingkup Poli umum Puskesmas Ngkeran
4. Definisi Sifilis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Treponema
pallidum dan bersifat sistemik. Istilah lain penyakit ini adalah lues
veneria atau lues. Sifilis dapat menyerupai banyak penyakit dan
memiliki masa laten.
5. Prosedur a. Pasien mendaftar ke loket pendaftaran pasien.
b. Pasien antri dan duduk di ruang tunggu.
c. Perawat memanggil pasien sesuai nomor urut.
d. Perawat menulis identitas pasien di buku register.
e. Dokter melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien
mengeluhkan timbul beruntus yang menjadi luka tanpa nyeri, ruam
mulanya berwarna merah atau coklat kemerahan, ukuran dapat
bervariasi, di manapun pada tubuh termasuk telapak tangan dan
telapak kaki. Selain itu, pasien juga demam, kelelahan dan perasaan
tidak nyaman, pembesaran kelenjar getah bening dan sakit
tenggorokan dan kutil seperti luka di mulut atau daerah genital.
f. Dokter menanyakan apakah pasien memiliki riwayat keluhan yang
sama sebelumnya, apakah ada penyakit infeksi sebelumnya.
g. Perawat melakukan pemeriksaan tekanan darah
h. Perawat melakukan pemeriksaan nadi
i. Dokter menegakan diagnosa berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik, yaitu:
- Stadium I (sifilis primer)
Diawali dengan papul lentikuler yang permukaannya segera erosi dan
menjadi ulkus berbentuk bulat dan soliter, dindingnya tak bergaung
dan berdasarkan eritem dan bersih, diatasnya hanya serum. Ulkus khas
indolen dan teraba indurasi yang disebut dengan ulkus durum. Ulkus
durum merupakan afek primer sifilis yang akan sembuh sendiri dalam
3-10 minggu. Tempat predileksi : genitalia ekterna, pada pria pada
sulkus koronarius, wanita di labia minor dan mayor dan ekstragenital:
lidah, tonsil dan anus.
Seminggu setelah afek primer, terdapat pembesaran kelenjar getah
bening (KGB) regional yang soliter, indolen, tidak lunak, besarnya
lentikular, tidak supuratif dan tidak terdapat periadenitis di ingunalis
medialis.
Ulkus durum dan pembesaran KGB disebut dengan kompleks primer.
Bila sifilis tidak memiliki afek primer, disebut sebagai syphilis
d’embiee.
- Stadium II (sifilis sekunder)
1. S II terjadi setelah 6-8 minggu sejak S I terjadi. Stadium ini
merupakan great imitator. Kelainan dapat menyerang mukosa,
KGB, mata, hepar, tulang dan saraf.
2. Kelainan dapat berbentuk eksudatif yang sangat menular maupun
kering (kurang menular).
3. Perbedaan dengan penyakit lainnya yaitu lesi tidak gatal dan
terdapat limfadenitis generalisata.
4. S II terdiri dari SII dini dan lanjut, perbedaannya adalah:
5. S II dini terlihat lesi kulit generalisata, simetrik dan lebih cepat
hilang (beberapa hari – beberapa minggu), sedangkan S II lanjut
tampak setempat, tidak simetrik dan lebih lama bertahan (beberapa
minggu – beberapa bulan).
6. Bentuk lesi pada S II yaitu:
a. Roseola sifilitika: eritema makular, berbintik-bintik, atau
berbercak-bercak, warna tembaga dengan bentuk bulat atau
lonjong. Jika terbentuk di kepala, dapat menimbulkan kerontokan
rambut, bersifat difus dan tidak khas, disebut alopesia difusa. Bila
S II lanjut pada rambut, kerontokan tampak setempat, membentuk
bercak-bercak yang disebut alopesia areolaris.
b. Papul
Bentuk ini paling sering terlihat pada S II, kadang bersama-sama
dengan roseola. Papul berbentuk lentikular, likenoid, atau folikular,
serta dapat berskuama (papulo-skuamosa) seperti psoriasis
(psoriasiformis) dan dapat meninggalkan bercak leukoderma
sifilitikum. Pada S II dini, papul generalisata dan S II lanjut
menjadi setempat dan tersusun secara tertentu (susunan arsinar atau
sirsinar yang disebut dengan korona venerik, susunan polikistik dan
korimbiformis). Tempat predileksi papul: sudut mulut, ketiak, di
bawah mammae, dan alat genital.
c. Pustul
Bentuk ini jarang didapati, dan sering diikuti demam intermiten.
Kelainan ini disebut sifilis variseliformis.
d. Konfluensi papul, pustul dan krusta mirip dengan impetigo atau
disebut juga sifilis impetiginosa. Kelainan dapat membentuk
berbagai ulkus yang ditutupi krusta yang disebut dengan ektima
sifilitikum. Bila krusta tebal disebut rupia sifilitikum dan bila ulkus
meluas ke perifer membentuk kulit kerang disebut sifilis ostrasea.

- Stadium III (sifilis tersier)


Lesi pertama antara 3 – 10 tahun setelah S I. Bentuk lesi khas yaitu
guma. Guma adalah infiltrat sirkumskrip kronis, biasanya lunak dan
destruktif, besarnya lentikular hingga sebesar telur ayam. Awal lesi
tidak menunjukkan tanda radang akut dan dapat digerakkan, setelah
beberapa bulan menjadi melunak mulai dari tengah dan tanda-tanda
radang mulai tampak. Kemudian terjadi perforasi dan keluar cairan
seropurulen, kadang-kadang sanguinolen atau disertai jaringan
nekrotik. Tempat perforasi menjadi ulkus.
Guma umumnya solitar, namun dapat multipel.
Bentuk lain S III adalah nodus. Nodus terdapat pada epidermis, lebih
kecil (miliar hingga lentikular), cenderung berkonfluensi dan tersebar
dengan wana merah kecoklatan. Nodus memiliki skuama seperti lilin
(psoriasiformis).
S III pada mukosa biasanya pada mulut dan tenggorok atau septum
nasi dalam bentuk guma.
S III pada tulang sering menyerang tibia, tengkorak, bahu, femur,
fibula dan humerus.
S III pada organ dalam dapat menyerang hepar, esophagus dan
lambung, paru, ginjal, vesika urinaria, prostat serta ovarium dan testis.

j. Dokter menulis resep dan edukasi.


- Sifilis yang sedang dalam inkubasi dapat diobati dengan regimen
penisilin atau dapat menggunakan ampisilin, amoksisilin, atau
seftriakson mungkin juga efektif.
- Pengobatan profilaksis harus diberikan pada pasangan pasien, namun
sebaiknya diberikan sejak 3 bulan sebelumnya, tanpa memandang
serologi.
- Kontak seksual harus ditelusuri, diketahui dan diobati
- Pasien perlu diuji untuk penyakit lain yang ditularkan secara seksual
(sexually transmitted diseases/ STD), termasuk HIV, harus dilakukan
pada semua penderita.
- Pada sifilis dengan kehamilan untuk wanita berisiko tinggi, uji
serologis rutin harus dilakukan sebelum trimester pertama dan awal
trimester ketiga serta pada persalinan.
- Bila tanda-tanda klinis atau serologis memberi kesan infeksi aktif atau
diagnosis sifilis aktif tidak dapat dengan pasti disingkirkan, maka
indikasi untuk pengobatan.
Edukasi :
- Pasien diberikan pemahaman tentang penyakit, penularan serta
penatalaksanaan di tingkat rujukan.
- Pasien disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama
penyakit belum tuntas diobati
k. Perawat mempersilahkan pasien mengambil obat di apotik
l. Dokter menulis hasil anamnesa, pemeriksaan , diagnosa dan terapi di
rekam medis pasien
m. Perawat menulis hasil diagnosa, terapi di buku register
6. Kriteria Rujukan Semua stadium dan klasifikasi sifilis harus dirujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang memiliki dokter spesialis kulit dan kelamin.
7. Diagram alir
memanggil melakukan anamnesa melakukan pemeriksaan
pasien sesuai , dan riwayat penyakit fisik meliput TD, nadi,
nomor urut sebelumnya,

Petugas menulis resep Petugas menegakan Petugas menegakan


diagnosa diagnosa berdasarkan
pemeriksaan fisik, dan
anamnesa

Petugas Petugas menulis hasil menulis hasil


memeprsilahkan pasien pemeriksaan dan terapi pemeriksaan
mengambil obat di di CM dalam buku
apotik register.

8. Referensi  Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Primer Hal 499-506.
9. Dokumen  Catatan Medik,
Terkait
 Buku Register,
 Blanko Resep
10. Distribusi  Rawat Inap
 Laboratorium

11. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
SIFILIS STADIUM 1-2
No. Kode :
Terbitan :
DAFTAR No. Revisi :
UPTD TILIK Tgl. Mulai Berlaku :
PUSKESMAS Halaman :½
NGKERAN

Tidak
No Langkah Kegiatan Ya Tidak Berlaku
1 Apakah Perawat memanggil pasies sesuai nomor urut?
2 Apakah Perawat menulis identitas pasien di buku register?
3 Apakah Dokter melakukan anamnesa pada pasien apakah
pasien mengeluhkan timbul beruntus yang menjadi
luka tanpa nyeri, ruam mulanya berwarna merah atau
coklat kemerahan, ukuran dapat bervariasi, di
manapun pada tubuh termasuk telapak tangan dan
telapak kaki. Selain itu, pasien juga demam, kelelahan
dan perasaan tidak nyaman, pembesaran kelenjar
getah bening dan sakit tenggorokan dan kutil seperti
luka di mulut atau daerah genital.
4 Apakah Dokter menanyakan apakah pasien memiliki riwayat
keluhan yang sama sebelumnya, apakah ada penyakit
infeksi sebelumnya ?
5 Apakah Perawat melakukan pemeriksaan tekanan darah?
6 Apakah Perawat melakukan pemeriksaan nadi?
7 Apakah Dokter menegakan diagnosa berdasarkan hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu:
- Stadium I (sifilis primer)
Papul lentikuler yang permukaannya segera erosi dan
menjadi ulkus berbentuk bulat dan soliter, dindingnya
tak bergaung dan berdasarkan eritem dan bersih,
diatasnya hanya serum. Ulkus khas indolen dan teraba
indurasi yang disebut dengan ulkus durum. Ulkus
durum merupakan afek primer sifilis yang akan sembuh
sendiri dalam 3-10 minggu.
- Stadium II (sifilis sekunder)
Bentuk lesi pada S II yaitu:
a. Roseola sifilitika: eritema makular, berbintik-bintik,
atau berbercak-bercak, warna tembaga dengan bentuk
bulat atau lonjong. Jika terbentuk di kepala, dapat
menimbulkan kerontokan rambut, bersifat difus dan
tidak khas, disebut alopesia difusa. Bila S II lanjut pada
rambut, kerontokan tampak setempat, membentuk
bercak-bercak yang disebut alopesia areolaris.
b. Papul
Bentuk ini paling sering terlihat pada S II, kadang bersama-
sama dengan roseola. Papul berbentuk lentikular,
likenoid, atau folikular, serta dapat berskuama (papulo-
skuamosa) seperti psoriasis (psoriasiformis) dan dapat
meninggalkan bercak leukoderma sifilitikum. Pada S II
dini, papul generalisata dan S II lanjut menjadi setempat
dan tersusun secara tertentu (susunan arsinar atau
sirsinar yang disebut dengan korona venerik, susunan
polikistik dan korimbiformis). Tempat predileksi papul:
sudut mulut, ketiak, di bawah mammae, dan alat genital.
c. Pustul
Bentuk ini jarang didapati, dan sering diikuti demam
intermiten. Kelainan ini disebut sifilis variseliformis.
d. Konfluensi papul, pustul dan krusta mirip dengan
impetigo atau disebut juga sifilis impetiginosa. Kelainan
dapat membentuk berbagai ulkus yang ditutupi krusta
yang disebut dengan ektima sifilitikum. Bila krusta tebal
disebut rupia sifilitikum dan bila ulkus meluas ke perifer
membentuk kulit kerang disebut sifilis ostrasea.
8 Apakah Dokter menulis resep dan melakukan edukasi?
- Sifilis yang sedang dalam inkubasi dapat diobati
dengan ampisilin, amoksisilin, atau seftriakson.
- Pengobatan diberikan sejak 3 bulan sebelumnya,
tanpa memandang serologi.
- Pasien perlu diuji untuk penyakit lain yang
ditularkan secara seksual (sexually transmitted
diseases/ STD), termasuk HIV, harus dilakukan
pada semua penderita.
- Pada sifilis dengan kehamilan untuk wanita
berisiko tinggi, uji serologis rutin harus dilakukan
sebelum trimester pertama dan awal trimester
ketiga serta pada persalinan.
- Bila tanda-tanda klinis atau serologis memberi
kesan infeksi aktif atau diagnosis sifilis aktif tidak
dapat dengan pasti disingkirkan, maka indikasi
untuk pengobatan.
Edukasi :
- Pasien diberikan pemahaman tentang penyakit,
penularan serta penatalaksanaan di tingkat rujukan.
- Pasien disarankan untuk tidak melakukan
hubungan seksual selama penyakit belum tuntas
diobati

9 Apakah Perawat mempersilahkan pasien mengambil obat di


apotik?
10 Apakah Perawat menulis hasil anamnesa, pemeriksaan ,
diagnosa dan terapi direkam medik pasien?
11 Apakah Perawat menulis diagnosa di rekam medik?
12 Apakah Perawat menulis hasil diagnosa, terapi di buku
register?

CR :………………%.

Ngkeran,……………………
Pelaksana/ Auditor

(………………………………)