Anda di halaman 1dari 3

B.

TUJUAN PELAPORAN LABA

Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan yang dapat
menunjukan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba (earning per share). Dengan konsep
yang selama ini digunakan diharapkan para pemakai laporan dapat mengambil keputusan
ekonomi yang tepat sesuai dengan kepentingannya. Meskipun konsep laba yang digunakan
diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para pemakai, namun adanya berbagai konsep dan
tujuan laba, mengakibatkan konsep laba tunggal tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pihak
pemakai laporan. Atas dasar kenyataan ini ada dua alternatif yang dapat digunakan yaitu
memformulasikan konsep laba tunggal untuk memenuhi berbagai tujuan secara umum atau
menggunakan berbagai konsep laba dan menyajikan secara jelas konsep laba tersebut secara
khusus.

Tanpa memperhatikan masalah yang muncul, informasi laba sebenarnya dapat digunakan untuk
memnuhi berbagai tujuan. Tujuan pelaporan laba adalah untuk meyajikan informasi yang
bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan. Informasi tentang laba perusahaan dapat digunakan
:

1. Sebagai indicator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan
dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital)
2. Sebagai pengukur prestasi manajemen
3. Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
4. Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu Negara
5. Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus
6. Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
7. Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
8. Sebagai dasar pembagian deviden

PENGUKURAN BIAYA / BEBAN

Sejalan dengan penilaian aktiva dapat diukur atas dasar jumlahrupiah yang digunakan
untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu, pengukuran biaya dapat didasarkan pada :
1. Cost historis
Cost historis merupakan jumlah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperoleh
aktiva. Pengukuran biaya atas cost historis, dapat digunakan untuk jenis aktiva seperti : gedung,
peralatan dan sebagainya.
2. Cost pengganti / cost masukan terkini (replacement cost / curentinput cost)
Cost masukan menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran yang harus dikorbankan
sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama
contohnya, penilaian untuk
persediaan.
3. Setara kas (cash equivalent)
Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan cara menjual setiap
jenis aktiva di pasar bebas dalam kondisi perusahaan normal. Nilai ini biasanya didasarkan pada
catatan harga pasar barang bebas yang sejenis dalam kondisi yang sama. Pos aktiva
berwujud biasanya menggunakan dasar penilaian ini.

Pengakuan Pendapatan
Pengakuan suatu jumlah rupiah dalam akuntansi pada umumnya didasarkan pada konsep
objektivitas yaitu bahwa jumlah rupiah tersebut dapat diukur secara cukup pasti dan ada
keterlibatan pihak independen dalam pengukurannya. Dengan kata lain harus ada bukti yang
cukup objektif untuk dapat mengakui. Bila kondisi atau kejadian tertentu menjadikan kriteria
tersebut dipenuhi maka kondisi atau kejadian tersebut akan memicu pengakuan pendapatan.
Secara umum ada dua kriteria pengakuan pendapatan yaitu:
1. Pendapatan baru dapat diakui bilamana jumlah rupiah pendapatan telah terealisasi atau cukup
pasti akan segera terealisasi (Realized atau Realizable). Pendapatan dapat dikatakan telah
terealisasi bilamana telah terjadi transaksi pertukaran produk atau jasa
hasil kegiatan perusahaan dengan kas atau klaim untuk menerima kas. Pendapatan dapat
dikatakan cukup pasti akan segera terealisasi bilamana barang penukar yang diterima dapat
dengan mudah dikonversi menjadi sejumlah kas atau setara kas yang cukup pasti.
2. Pendapatan baru dapat diakui bilamana pendapatan tersebut sudah terhimpun atau terbentuk
(earned). Pendapatan dapat dikatakan telah terhimpun bilamana kegiatan menghasilkan
pendapatan tersebut telah berjalan dan secara substansial telah selesai sehingga suatu unit
usaha berhak untuk menguasai manfaat yang terkandung dalam pendapatan.
Kedua kriteria diatas harus dipenuhi untuk mengakui pendapatan walaupun bobot
pentingnya untuk suatu keadaan tertentu dapat berbeda. Kriteria pengakuan pendapatan yang
lebih teknis dikemukakan oleh kami bahwa pendapatan dapat diakui kalau memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1. Keterukuran nilai aktiva
2. Terjadinya transaksi
3. Proses penghimpunan secara substansial telah selesai.
Kebanyakan perusahaan dasar penjualan sebagai saat pengakuan dan pengukuran pendapatan
adalah yang paling jelas dan obyektif daripada dasar lain yang dapat dipakai.
Menurut Paton dan Littleton dan dikutip oleh Suwardjono (1984:154) dalam buku Teori
Akuntansi Perekayasaan Akuntansi Keuangan alasan yang mendukung bahwa pendapatan
pada saat penjualan merupakan suatu standart yang utama sehingga mendasari pada
pengertian dan konsep tentang pendapatan sebagai berikut:
1. Pendapatan adalah merupakan jumlah rupiah yang menyatakan produk akhir operasi perusahaan
dan oleh karena itu harus diakui dan diukur pada tingkat atau titik kegiatan yang menentukan
dalam aliran kegiatan operasi kegiatan.
2. Pendapatan harus benar-benar terjadi dan didukung dengan timbulnya aktiva baru yang dapat
dipercaya (sah), sebaiknya berupa kas atau piutang.
Maka dapat disimpulkan dari pengertian pendapatan diatas bahwa saat penjualan
merupakan titik yang menentukan untuk dapat menimbulkan pendapatan yang memenuhi
pengertian atau persyaratan diatas. Saat penjualan dapat dijadikan saat pengakuan karena
proses realisasi pendapatan telah terjadi.
Penjualan baru dapat dikatakan terjadi bilamana telah terjadi peralihan hak milik atas
barang, akan tetapi peralihan hak milik merupakan masalah yang sangat teknis dan untuk
dasar penentuan saat pengakuan dalam prosedur pembukuan pendapatan disarankan untuk
tidak terlalu menekankan pada aspek yuridis formal karena kegiatan penjualan sendiri terdiri
atas rangkaian kegiatan yaitu berupa penjualan yang kontinyu.

Prinsip Pengakuan Pendapatan


Permasalahan utama dalam akuntansi untuk pendapatan adalah menentukan saat pengakuan
pendapatan. Pada prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognation principle), umumnya
pendapatan diakui pada saat (1) direalisasikan atau dapat direalisasikan dan (2) dihasilkan (earned).
Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa:

1. Pendapatan dianggap direalisasikan apabila barang dan jasa, barang dagangan, atau
harta lain ditukar dengan kas atau klaim atas kas; Pendapatan dianggap dapat direalisasikan
apabila aktiva yang diterima dalam pertukaran segera dapat konversi (siap ditukar) menjadi kas
atau klaim atas kas dengan jumlah yang diketahui;
2. Pendapatan dianggap dihasilkan (earned) apabila entitas bersangkutan pada hakikatnya
telah menyelesaikan apa yang seharusnya dilakukan untuk mendapat hak atas manfaat yang
dimiliki oleh pendapatan itu, yakni apabila proses menghasilkan laba telah selesai atau
sebenarnya telah selesai.

Empat transaksi pendapatan telah diakui sesuai dengan prinsip di atas, yaitu :

1. Pendapatan dari penjualan produk diakui pada tanggal penjualan, yang biasanya
diinterpretasikan sebagai tanggal penyerahan pada pelanggan.
2. Pendapatan dari pemberian jasa diakui ketika jasa diakui ketika jasa-jasa itu telah
dilaksanakan dan dapat ditagih.
3. Pendapatan dari mengizinkan pihak lain untuk menggunakan aktiva perusahaan seperti
bunga, sewa dan royalti diakui sesuai dengan berlakunya waktu atau ketika aktiva itu digunakan.
4. Pendapatan dari pelepasan aktiva selain produk diakui pada tanggal penjualan.

Pengukuran pendapatan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah diukur dengan nilai wajar
imbalan yang diterima atau yang dapat diterima.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tentang pendapatan menyatakan
bahwa pendapatan timbul dari peristiwa ekonomi berikut ini : (1) Penjualan barang; (2) Penjualan jasa;
(3) Penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalty, dan deviden.