Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN SERVISITIS


Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Sistem Reproduksi
yang Dibimbing Oleh:
Ns. Ukhtul Izzah, S. Kep. M. Kep.

Oleh:
Heriyanto
Ni Putu Mega Widiastuti
Silfani Minamakkata
Yunike Rindu Wastuti

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit radang pelvis merupakan suatu istilah umum bagi infeksi
genital yang telah menyebar ke dalam bagian-bagian yang lebih dalam dari
alat reproduksi wanita seperti rahim, tuba fallopii dan ovarium. Ini satu hal
yang amat mengkhawatirkan.Suatu infeksi serius dan sangat membahayakan
jiwa.Infeksi tersebut juga sangat umum. Satu dari 7 wanita Amerika telah
menjalani perawatan karena infeksi ini dan kurang lebih satu juta kasus baru
terjadi setiap tahun, demikian menurut Gay Benrubi, M. D.,profesor pada
Division of Gynegology Oncology,University of Floridadi Jacksonville.
Kurang lebih 150 wanita meninggal per tahun sehingga cukup
beralasan untuk memperhatikan gangguan medis ini secara lebih serius.
Namun, ada pula kekhawatiran lainnya,serangan infeksi ini diketahui sangat
meningkatkan risiko seorang wanita untuk menjadi mandul. Ketika bakteri-
bakteri yang menyerang menembus tuba fallopii, mereka dapat
menimbulkan luka di sepanjang lapisan dalam yang lunak, menyebabkan
sukarnya (atau tidak memungkinkannya) sebuah telur masuk ke dalam
rahim.
Pembuluh yang tertutup juga menyebabkan sukarnya sperma yang
sedang bergerak melakukan kontak dengan sel telur yang turun. Akibatnya
adalah perkiraan yang mengkhawatirkan yaitu setelah satu episode
infeksi ini, resiko seorang wanita untuk menjadi mandul adalah 10%.
Setelah infeksi kedua resikonya menjadi dua kali lipat yaitu 20%. Jika
wanita ini mendapatkan infeksi untuk ketiga kalinya, resikonya akan
melambung menjadi 55%. Secara keseluruhan, dapat diperkirakan, penyakit
radang pelvis menyebabkan kurang lebih antara 125.000 hingga 500.000
kasus baru setiap tahun.
Kekhawatiran besar lainnya mengenai infeksi ini adalah bahwa
gangguan medis ini dapat meningkatkan resiko seorang wanita mengalami
kehamilan di luar kandungan sebesar enam kali lipat.Alasannya : karena
tuba falopii sering mendapatkan parut (bekas luka) yang timbul karena
infeksi ini, telur yang turun mungkin akan macet dan hanya tertanam di
dinding tuba. Kurang lebih 30.000 kehamilan di luar kandungan per tahun
dapat dipastikan disebabkan oleh infeksi seperti ini.
Dewasa ini kasus penyakit IMS ( Infeksi Menular Seksual ) tertinggi
yaitu, infeksi bakteri vaginosis yang mencapai 80%. Sementara, lainnya
sebanyak 20% adalah servicitis, condyloma dan HIV/AIDS. Servicitis
merupakan penyakit menular seksual yang biasanya disebabkan Chlamidia
trachomatis atau Ureaplasma urelyticum (pada laki-laki), tetapi kadang-
kadang disebabkan oleh Trikomonas vaginalis atau virus Herpes simplek.
Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menjadi lebih parah
sehingga sulit dibedakan dengan karsinoma servicitis uteri dalam tingkat
permulaan. Oleh sebab sebelum dilakukan pengobatan, perlu pemeriksaan
aousan menurut Papanicolaou yang jika perlu diikuti oleh biopsy, untuk
kepastian tidak ada karsinoma. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah
ini dengan harapan dapat menjelaskan berbagai hal mengenai servicitis
sehingga pada akhirnya pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang
penyakit ini.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaimana pengertian dari servisitis?
1.2.2. Bagaimana klasifikasi dari servisitis?
1.2.3. Bagaimana penjelasan tentang penyebab servisitis?
1.2.4. Bagaimana gejala servisitis?
1.2.5. Bagaimana patofisiologi servisitis?
1.2.6. Bagaimana pathway servisitis?
1.2.7. Bagaimana komplikasi servisitis?
1.2.8. Bagaimana pemeriksaan penunjang servisitis?
1.2.9. Bagaimana penatalaksanaan servisitis?
1.2.10. Bagaimana prognosis servisitis?
1.2.11. Bagaimana konsep asuhan keperawatan yang diberikan?
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas makalah dan untuk meningkatkan
pengetahuan mahasiswa mengenai peradangan dalam genitalia
wanita pada umumnya dan servisitis pada khususnya.

1.3.2. Tujuan Khusus


1.3.2.1. Untuk mengetahui pengertian dari servisitis,
1.3.2.2. Untuk mengetahui klasifikasi dari servisitis,
1.3.2.3. Untuk mengetahui penjelasan tentang penyebab servisitis,
1.3.2.4. Untuk mengetahui gejala servisitis,
1.3.2.5. Untuk mengetahui patofisiologi servisitis,
1.3.2.6. Untuk mengetahui pathway servisitis,
1.3.2.7. Untuk mengetahui komplikasi servisitis,
1.3.2.8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang servisitis,
1.3.2.9. Untuk mengetahui penatalaksanaan servisitis,
1.3.2.10. Untuk mengetahui prognosis servisitis, dan
1.3.2.11. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan yang
diberikan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
Servisitis adalah inflamasi serviks yang mungkin akut atau kronik.
Mungkin menjalar ke uterus dan parametrium (Sinclair, 1992).
Servisitis adalah suatu proses peradangan yang melibatkan epitel
cervix dan stroma yang mendasarinya (Sanusi, 1989).
Servisitis adalah peradangan dari selaput lendiri dari kanalis
servikalis. Karena epitel selaput lendir kanalis servikalis hanya terdiri dari
satu lapisan sel silindris, sehingga lebih mudah terinfeksi dibanding selaput
lendir vagina. (Gynekologi FK UNPAD, 1998)
Cervicitis ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena
epitel selaput lendir cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris
maka mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.
(Sarwono, 2008). Pada seorang multipara dalam keadaan normal canalis
cervikalis bebas kuman, pada seorang multipara dengan ostium uteri
eksternum sudah lebih terbuka, batas atas dari daerah bebas kuman ostium
uteri internum. Walaupun begitu canalis cervicalis terlindung dari infeksi
oleh adanya lendir yang kental yang merupakan barier terhadap kuman-
kuman yang ada didalam vagina. Terjadinya cervisitis dipermudah oleh
adanya robekan serviks, terutama yang menimbulkan ectropion. (Sarwono,
2008)
Jadi dapat disimpulkan bahwa servisitis adalah peradangan dari
selaput lendiri dari kanalis servikalis dan juga merupakan infeksi non
spesifik dari serviks, erosi ringan (permukaan licin), erosi kapiler
(permukaan kasar), serosi folikuler (kistik) dan biasanya terjadi pada serviks
bagian posteriror yang disebabkan oleh kuman.

2.2. Klasifikasi
Menurut Sanusi (1989), servisitis diklasifikan menjadi 4 jenis, yaitu;
1. Servisitis Gonokokus
 Bersifat asimtomatik
 Gejalanya meliputi disuria dan sering kencing karena uretritis yang
bersamaan
 Serviks dapat tampat eritematosa, sekret serviksnya mukopurulen atau
purulen
2. Servisitis Klamidia
 Ditularkan melalui hubungan seks karena infeksi chlamydia
trachomatis.
 Bersifat asimtomatik dan dapat menetap berbulan-bulan.
 Sekret serviks bersifat mukopurulen dan epitel endoserviksnya tampak
hipertrofik.
3. Servisitis Herpetika
 Disebabkan oleh virus herpes simplex tipe 2 (HSV-2).
 Ditularkan melalui hubungan seksual dengan lama inkubasi berkisar
antara 2-20 hari dengan rata-ratanya 6 hari.
 Gejala : sering mengeluh sekret vagina, disuria dan dispareunia
introitus.
4. Servisitis Kronika Non-Spesifik
 Sering ditemukan kista
 Biasanya cervix menebal dan ostium cervicis uteri patulosa. Epitel
endoserviks terevensi (Ektropion), akibatnya sekret mukus berlebihan.

Menurut Abdul Bari Saifuddin (1994), servisitis diklasifikan menjadi


2 jenis, yaitu;
1. Servisitis Akut
 Infeksi diawali di endoserviks dan ditemukan pada gonorea dan pada
infeksi post abortum atau postpartum yang disebabkan oleh
streptokokus, stafilokokus dan lain-lain.
 Serviks merah dan membengkak dengan mengeluarkan cairan
mukopurulen.
2. Servisitis Kronik
 Dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan
 Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :
a. Serviks kelihatan normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik
ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Servisitis
ini tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran sekret yang
agak putih-kuning.
b. Pada portio uteri disekitar ostium uteri eksternum tampak daerah
kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel
porsio di sekitarnya, sekret yang dikeluarkan terdiri atas mukus
bercampur nanah.
c. Sobekan pada serviks uteri lebih luas dan mukosa endoserviks
lebih kelihatan dari luar (ekstropion). Karena radang menahun,
serviks bisa menjadi hipertrofis dan mengeras, sekret mukopurulen
bertambah banyak.

2.3. Etiologi
Menurut Bagian Obstetri & Ginekologi (1980), penyebab servisitis
yaitu;
1. Gonorrhoe : sediaan hapus dari fluor cervix terutama yang purulent.
2. Sekunder terhadap kolpitis.
3. Tindakan intrauterin : dilatasi.
4. Alat-alat/obat kontrasepsi.
5. Robekan cervix terutama yang menyebabkan ectropion.
Menurut Manuba (2001), Infeksi servisitis sering terjadi karena luka
kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi karena hubungan seks.
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas
vaginalis, kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob
endogen vagina seperti streptococcus, enterococus, e.coli, dan stapilococus .
Kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi pada epitel gepeng dan
perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks yang mengalami
trauma.
Servisitis dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang
menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine
seperti dilatasi, dan lain-lain.
Servicitis dapat disebabkan oleh salah satu dari sejumlah infeksi, yang
paling umum adalah;
a. Klamidia dan gonore, klamidia dengan akuntansi untuk sekitar 40%
kasus. Gonorroe, sediaan hapus dari fluor cerviks terutama purulen,
b. Trichomonas vaginalis dan herpes simpleks adalah penyebab yang
kurang umum dari cervicitis,
c. Peran Mycoplasma genitalium dan vaginosis, bakteri dalam
menyebabkan servisitis masih dalam penyelidikan,
d. Sekunder terhadap kolpitis,
e. Tindakan intra dilatasi,
f. Alat-alat atau obat kontrasepsi,
g. Robekan serviks terutama yang menyebabkan ectroption/ extropin, dll.

2.4. Manifestasi Klinis


Menurut Sinclair (1992), gejala servisitis yaitu;
1. Lendir purulen dan banyak.
2. Mungkin disertai dengan vulva vaginitis.
3. Serviks edema dan merah.
4. Serviks nyeri tekan/eksitasi serviks.
5. Pemeriksaan laboratorium positif untuk kuman patogen aoreb dan
anaerob.
Menurut Bagian Obstetri & Ginekologi, (1980), gejala servisitis yaitu;
1. Fluor berat biasanya kental/purulent dan kadang-kadang berbau,
2. Sering menimbulkan erosio (erythroplaki) pada portio, yang nampak
sebagai daerah yang merah menyala,
3. Pada pemeriksaan ini speculo kadang-kadang dapat dilihat fluor yang
purulent keluar dari canalis servicalis. Kalau portio normal tidak ada
ectropion, maka harus diingat kemungkinan gonorrhoe,
4. Dapat terjadi kolpitis dan vulvitis,
5. Pada servisitis yang kronis kadang-kadang dapat dilihat bintik putih
dalam daerah selaput lendir yang merah, karena infeksi bintik-bintik ini
disebut ovulo nabothii dan disebabkan oleh retensi kelenjar-kelenjar
serviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka
cervix/karena radang.

2.5. Patofisiologi
Peradangan terjadi pada serviks akibat kuman pathogen aerob dan
anaerob, peradangan ini terjadi Karena luka bekas persalinan yang tidak di
rawat serta infeksi karena hubungan seksual. Proses peradangan melibatkan
epitel serviks dan stoma yang mendasarinya. Inflamasi serviks ini bisa
menjadi akut atau kronik (Manuaba, 2010).
Masuknya infeksi dapat terjadi melalui perlukaan yang menjadi pintu
masuk saluran genetalia, yang terjadi pada waktu persalinan atau tindakan
medis yang menimbulkan perlukaan, atau terjadi karena hubungan seksual
(Manuaba, 2009).

2.6. Pathway
(Gambar. 1.)
Gambar. 1. Pathway Servisitis

Kuman patogen aerob dan anaerob Tindakan Intrauterin: Dilatasi

Robekan serviks akibat


Alat/Obat Kontrasepsi
persalinan

Erosi epitel serviks dan


stoma

Inflamasi serviks

Inflamasi akut Inflamasi kronik

Infeksi

SERVISITIS

Lendir purulen dan


Serviks edema dan merah Nyeri tekan
banyak

Bau busuk MK: Perubahan Pola MK: Nyeri


Eliminasi Urin

MK: Gangguan Harga Diri


2.7. Komplikasi
 Endometritis
Peningkatan konsentrasi flora anaerob, yang sebagian mungkin
karena perubahan pH, bisa menyebabkan peningkatan angka
endometritis.
 Salpingitis
Radang pada saluran telur dapat terjadi bila infeksi serviks menyebar ke
tuba uterine.
 Menurut www.medicastore.com, komplikasi dari servisitis yaitu infeksi
saluran telur, bisa menyebabkan nyeri, kehamilan ektopik (di luar
kandungan) dan kemandulan.

2.8. Pemeriksaan Penunjang


Menurut dr. Achmad Mediana, SpOG dari Departemen Obstetri dan
Ginekologi RSPAD Gatot Soebroto, pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan pada servisitis antara lain;
1. In Spekulo
Merupakan pemeriksaan dasar. Pemeriksaan ini menggunakan
speculum cocor bebek yang dimasukkan ke vagina. Gunanya untuk
melihat keadaan permukaan di leher rahim.
Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah permukaan leher
rahim ada infeksi, jengger ayam/kandiloma, varises, ataupun bila ada
keganasan atau kanker leher rahim.
2. Pemeriksaan Dalam/Colok Vaginal
Dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan in spekulo. Pemeriksaan
ini digunakan untuk melihat besar rahim atau ukurannya. Untuk
memantau keadaan serviks, vagina dan panggul.
3. Pemeriksaan Pap Smear
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi dini kelainan-kelainan
yang ada di leher rahim atau untuk menilai sel-sel leher rahim.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil getah serviks
kemudian diperiksa di laboratorium.
4. Kolposkopi
Dilakukan bila ada keurigaan di daerah leher rahim dengan cara
diteropong.
Alat kolposkopi terdiri atas dua alat pembesaran optic yang
ditempatkan pada penyangga yang terbuat dari besi.
Kolposkopi dilengkapi dengan layer teve, maka pasien bias melihat
hasil peneropongan tersebut dari layar televisi.
Pemeriksaan kolposkopi juga disertai alat untuk mengambil
jaringan yang dicurigai tersebut.
5. Biopsi
Adalah pengangkatan dan pemeriksaan jaringan leher rahim untuk
tujuan diagnosa. Jaringan diambil dengan semacam alat/jepitan,
selanjutnya jaringan yang telah diambil tersebut dikirim ke
laboratorium.
6. Pemeriksaan BV (Bakterial Vaginosis) atau Swab Vagina
Dilakukan pada pasien-pasien yang terkena infeksi berulang.
Misalnya, infeksi di leher rahim.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil cairan dari vagina
pasien kemudian diperiksa di laboratorium.

2.9. Penatalaksanaan
Perawat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam
pengobatan klien dengan servisitis.
Menurut Bagian Obstetri & Ginekologi (1980), penatalaksanaan pada
servisitis yaitu;
 Antibiotika, terutama bila ditemukan gonokokus pada sekret.
 Pada servisitis yang tidak spesifik dapat diobati dengan AgNO3 10% dan
irigasi.
 Servisitis kronik dapat dioperasi dengan cara konisasi.
 Pada servisitis yang disebabkan oleh etropion dapat dilakukan operasi
plastik/amputasi.
 Erosio dapat disembuhkan dengan AgNO3 10% / albathyl yang
menyebabkan nekrosis epitel silindris dengan harapan kemudian diganti
dengan epitel gepeng berlapis banyak.

Menurut Abdul Bari Saifuddin (1994), pengobatan pada servisitis


yaitu dengan jalan kauterisasi-radial dengan termokauter atau dengan
krioterapi. Sesudah kauterisasi atau krioterapi terjadi nekrosis jaringan yang
meradang terlepas dalam kira-kira 2 minggu dan diganti lambat laun oleh
jaringan sehat. Jika radang menahun mencapai endoserviks jauh ke dalam
kanalis servikalis, perlu dilakukan konisasi dengan mengangkat sebagian
besar mukosa endo serviks. Pada laserasi serviks yang agak luas perlu
dilakukan trakhelorafia. Dan apabila terjadi sobekan dan infeksi yang sangat
luas perlu dilakukan amputasi serviks. Akan tetapi pemendekan serviks
dapat mengakibatkan abortus. Jika terjadi kehamilan, sehingga pembedahan
yang akhir ini sebaiknya dilakukan pada wanita yang tidak ingin hamil lagi.

2.10. Prognosis
Infeksi akibat gonorrhea, chlamydia dan trichomoniasis dapat
disembuhkan dengan terapi antibiotik, disamping itu terapi antiviral dapat
mengurangi jumlah virus herpes simplex (HSV), durasi gejala, dan
keparahan gejala. Kutil pada genitalia eksterna yang disebabkan oleh infeksi
HPV dapat dikontrol tapi tidak selalu dapat diatasi dengan terapi topikal dan
bedah.
Komplikasi servisitis infeksi yang tidak diobati tergantung pada
patogennya. Infeksi gonorrhea dan chlamydia yang tidak diobati dapat
menyebabkan Pelvic inflammatory disease (PID) yang kemudian berakibat
kepada infertilitas, nyeri pelvic kronis, dan kehamilan ektopik. Penyakit lain
yang dapat timbul meliputi aborsi spontan, ruptur membran prematur dan
persalinan preterem.
Infeksi HSV pada ibu hamil saat masa perinatal dan neonatal dapat
menyebabkan retardasi mental, kebutaan, BBLR, meningitis dan kematian
pada janin.
2.11. Konsep Dasar Keperawatan
a. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien servisitis menggunakan
pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
Data biologis meliputi :
1. Identitas klien
2. Identitas penanggung
3. Keluhan Utama:
Riwayat kesehatan klien saat ini yang meliputi keluhan pasien,
biasanya jika klien mengalami ISK bagian bawah keluhan klien
biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing
dengan air kemih sedikit- sedikit serta rasa sakit tidak enak di
suprapubik. Dan biasanya jika klien mengalami ISK bagian atas
keluhan klien biasanya sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam,
menggigil, rasa tidak enak atau nyeri pinggang.
Riwayat kesehatan klien saat ini yang meliputi keluhan pasien,
biasanya jika klien mengalami ISK bagian bawah keluhan klien
biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing
dengan air kemih sedikit- sedikit serta rasa sakit tidak enak di
suprapubik. Dan biasanya jika klien mengalami ISK bagian atas
keluhan klien biasanya sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam,
menggigil, rasa tidak enak atau nyeri pinggang.
Pada pengkajian biasanya ditemukan kemungkinan penyebab
infeksi saluran kemih dan memberi petunjuk berapa lama infeksi
sudah di alami klien. Biasanya klien dengan ISK pada waktu dulu
pernah mengalami penyankit infeksi saluran kemih sebelumnya atau
penyakit ginjal polikistik atau batu saluran kemih, atau memiliki
riwayat penyakit DM dan pemakaian obat analgetik atau estrogen,
atau pernah di rawat di rumah sakit dengan dipasangkan kateter.
Riwayat kesehatan keluarga yang biasanya dapat meperburuk
keadaan klien akibat adanya gen yang membawa penyakit turunan
seperti DM, hipertensi dll. ISK bukanlah penyakit turunan karena
penyakit ini lebih disebabkan dari anatomi reproduksi, higiene
seseorang dan gaya hidup seseorang, namun jika ada penyakit
turunan di curigai dapat memperburuk atau memperparah keadan
klien.
Pemeriksaan Fisik
1. Kesadaran : kesadaran menurun
2. Tanda – tanda vital :
Tekanan darah : meningkat
Nadi : meningkat
Pernapasan :meningkat
Suhu :meningkat
3. Pemeriksaan fisik head to toe
N Bagian Pemeriksaan Fisik
o Tubuh
.
1 Rambut keadaan kepala klien ISK
. biasanya baik (tergantung
klien): distibusi rambut merata,
warna rambut normal (hitam),
rambut tidak bercabang, rambut
bersih. pada saat di palpasi
keadaan rambut klien ISK
biasanya lembut,tidak
berminyak, rambut halus.
2 Mata keadaan mata penderita ISK
. biasanya normal. Mata simetris,
tidak udema di sekita
mata,sklera tidak
ikterik, konjugtiva anemis,
pandangan tidak kabur.
3 Hidung normal. Simetris tidak ada
. pembengkakan ,tidak ada secret,
hidung bersih
4 Telinga Normal. telinga simetris kiri dan
. kanan, bentuk daun teling
normal, tidak terdapat
serumenm,keberihan telinga
baik.
6 Mulut mukosa bibir kering, keadaan
. dalam mulut
bersih(lidah,gigi,gusi).
7 Leher biasanya pada klien ISK Normal
. I : leher simetris,tidak ada
penonjolan JVP,terlihat pulsasi
Pa: tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid, tidak ada
pembesaran nodus limfa
7 Thoraks I : dada simetris kiri dan kanan,
. Paru pergerakan dada sama,
pernapasan cepat dan dangkal,
tidak ada penonjolan rusuk.
Pa : Normal.tulang rusuk
lengkap, tidak ada nyeri tekan
dan nyeri lepas serta edema atau
massa.tractil fremitus positif kiri
dan kanan.
Pe: suara dullness pada daerah
payudara, dan suara resonan
pada intercosta.
Au: Normal.tidak terdengar
suara tambah pada pernapasan
(ronchi,whezing)
Jantu biasanya klien dengan ISK
ng Normal. Yaitu Tidak ada terjadi
ganguan pada jantung klien
(kecuali klien memilki riwayat
sakit jantung).teraba pulsasi
pada daerah jantung klien pada
intercosta 2 dan pada intercosta
3-5 tidak teraba, pada garis mid
klavikula teraba vibrasi lembut
ketukan jantung.suara jantung
S1 dan s2 terdengar dan
seimbang pada intercosta ke 3
dan pada intercosta ke 5 bunyi
s1 lebih dominan dari pada s2.
8 Abdomen I : perut rata, tidak ada
. pembesaran hepar yang di
tandai dengan perut
buncit, tidak ada pembuluh
darah yang menonjol pada
abdomen, tidak ada selulit.
Pa : ada nyeri tekan pada
abdomen bagian bawah akibat
penekanan oleh infeksi
Pe : bunyi yang di hasilkan
timpani
Au : bising usus terdengar
9 Ekstermitas kekuatan eks.atas dan
. eks.bawah baik, dapat
melakukan pergerakan sesuai
perintah, tidak ada nyeri tekan
atau lepas pada
ekstermitas,tidak ada bunyi
krepitus pasa ekstermitas
Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan baik untuk penegakkan
diagnosa atau pengobatan antara lain adalah:
 Laboratorium
a. Analisa urine : terdapat leukosit, eritrosit, crystal, pus, bakteri dan
pH meningkat.
b. Urine kultur: Untuk menentukan jenis kuman atau penyebab infeksi
saluran kemih misalnya : streptococcus, E. Coli, dll
c. Untuk menentukan jenis antibiotik yang akan diberikan
 Darah : terdapat peningkatan leukosit, ureum dan kreatinin.
Blass Nier Ophage – Intra Venous Pyelogram ( BNO – IVP )
- Menunjukkan konfirmasi yang cepat tentang penyebab nyeri
abdominal, panggul.
- Menunjukkan abnormalitas anatomi saluran perkemihan.
- Cystoscopy : Mengetahui kerusakan dari serabut-serabut otot pada
kandung kemih.

Analisis Data
No. Data Masalah Etiologi
1. DS: Nyeri Inflamasi dan
- Biasanya Klien peningkatan aktivitas
mengatakan rasa sakit penykit
saat pipis(berkemih)
- Biasanya Klien
mengatakan rasa tidak
enak saat berkemih
pada punggung bawah
- Biasanya Klien
mengeluhkan nyeri
terasa sejak 3hari lalu
DO:
- Wajah meringis
- Biasanya Dari
pemeriksaan urinalisis
akan terdapat leukouria
positif dan terdapat 5
eritrosit pada lapang
pandang besar(LPB)
sedimen air kemih.
- Biasanya Klien
tampak memenggang
daerah supra pubik
- Biasanya Klien
tampak meringis, dan
terdapat nyeri tekan dan
lepas pada daerah
sekitar kandung kemih
klien
2. DS: Gangguan Nyeri saat BAK dan
- Klien mengatakan eliminasi kurang menjaga
sering BAK dimalam kebersihan organ
hari bawah
- Klien mengatakan
saat BAK terasa sakit
dan BAK sedikit
- DO:
- Klien tanpak
kurang memperhatikan
kebersihan organ bawah
- Klien tanpak
menahan kencing
- Klien tanpak
mengalami nokturia
3 DS : Gangguan Mekanisme koping
- Klien mengatakan : konsep tidak adekuat
saya tidak bisa, tidak diri :harga
mampu, bodoh/ tidak dirirendah
tahu apa-apa, mengkritik
diri sendiri.
- Klien
mengungkapkan
perasaan malu terhadap
diri sendiri
- Klien
mengungkapkan rasa
bersalah terhadap
sesuatu/ seseorang.
DO :
- Klien tampak lebih
suka sendiri
- Bingung bila disuruh
me-milih alternatif
tindakan
- Ingin mencederai diri/
mengahiri kehidupan
- Produktifitas menurun
- Cemas dan takut.

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
2. Gangguan eliminasi berhubungan dengan personal hygiene yang kurang
3. Gangguan Konsep diri: Harga Diri Rendah berhubungan dengan
mekanisme koping yang tidak adekuat

Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi
Keperawatan Kiteria Hasil
(NOC)
1. Nyeri Tujuan : Setelah  Pantau haluaran urine
berhubungan dilakukan terhadap perubahan warna,
dengan Inflamasi tindakan baud an pola berkemih,
dan peningkatan keperawatan masukan dan haluaran
aktivitas selama 24 jam setiap 8 jam dan pantau
penyakit. diharapkan hasil urinalisis ulang
nyerinya teratasi Rasional: untuk
Kiteria hasil : mengidentifikasi indikasi
- Skala nyeri kemajuan atau
0-3. penyimpangan dari hasil
- Wajah yang diharapkan.
klien tidak  Catat lokasi, lamanya
meringis. intensitas skala (1-10)
- Klien tidak penyebaran nyeri.
memegang Rasional: membantu
daerah nyeri. mengevaluasi tempat
obstruksi dan penyebab
nyeri.
 Berikan tindakan nyaman,
seprti pijatan punggung,
lingkungan istirahat;
Rasional: meningkatkan
relaksasi, menurunkan
tegangan otot.
 Bantu atau dorong
penggunaan nafas
berfokus.
Rasional: membantu
mengarahkan kembali
perhatian dan untuk
relaksasi otot.
 Berikan perawatan perineal
Rasional: untuk mencegah
kontaminasi uretra
 Jika dipaang kateter
indwelling, berikan
perawatan kateter 2 nkali
per hari.
Rasional: Kateter
memberikan jalan bakteri
untuk memasuki kandung
kemih dan naik ke saluran
perkemihan.
 Kolaborasi:
Konsul dokter bila:
sebelumnya kuning gading-
urine kuning, jingga gelap,
berkabut atau keruh. Pla
berkemih berubah, sring
berkemih dengan jumlah
sedikit, perasaan ingin
kencing, menetes setelah
berkemih. Nyeri menetap
atau bertambah sakit.
Rasional: Temuan- temuan
ini dapat memeberi tanda
kerusakan jaringan lanjut
dan perlu pemeriksaan
luas.
 Berikan analgesic sesuia
kebutuhan dan evaluasi
keberhasilannya
Rasional: analgesic
memblok lintasan nyeri
sehingga mengurangi nyeri.
 Berikan antibiotic. Buat
berbagai variasi sediaan
minum, termasuk air segar
. Pemberian air sampai
2400 ml/hari.
Rasional: akibta dari
haluaran urin memudahkan
berkemih sering dan
membentu membilas
saluran berkemih

2. Gangguan Tujuan: setelah  Awasi pemasukan dan


Eliminasi di lakukan pengeluaran karakteristi
tindakan urin.
perawatan Rasional: memberikan
selama 24 jam informasi tentang fungsi
klien mampu ginjal dan adanya
BAK dengan komplikasi.
normal  Dorong meningkatkan
Kiteria hasil : pemasukan cairan.
Klien Rasional: peningkatan
dapat hidrasi membilas bakteri.
mengontrol  Kaji keluhan kandung
pengeluaran kemih penuh.
urine setiap 4 Rasional: retensi urin
jam dapat terjadi menyebabkan
Tidak ada distensi jaringan(kandung
tanda-tanda kemih/ginjal)
retensi dan  Observasi perubahan
inkontinensia status mental:, perilaku
urine atau tingkat kesadaran.
Klien Rasional: akumulasi sisa
berkemih dalam uremik dan
keadaan rileks ketidakseimbangan
elektrolit dapat menjadi
toksik pada susunan saraf
pusat
 Kecuali
dikontraindikasikan: ubah
posisi pasien setiap dua
jam
Rasional: untuk mencegah
statis urin
 Kolaborasi:
- Awasi pemeriksaan
laboratorium;
elektrolit, BUN,
kreatinin
Rasional: pengawasan
terhadap disfungsi
ginjal.
- Lakukan tindakan
untuk memelihara
asam urin: tingkatkan
masukan sari buah
berri dan berikan obat-
obat untuk
meningkatkan aam
urin.
- Rasional: asam urin
menghalangi
tumbuhnya kuman.
Peningkatan masukan
sari buah dapt
berpengaruh dalm
pengobatan infeksi
saluran kemih.
3 Gangguan konsep Tujuan Umum:  Bina hubungan saling
diri: Harga diri Klien mengalami percaya dengan
rendah peningkatan harga menggunakan prinsip
diri rendah komunikasi
Tujuan Khusus: terapeutik: Sapa klien
a) Klien dapat dengan ramah baik dengan
membina verbal maupun non verbal,
berhubungan perkenalkan diri dengan
saling percaya sopan, tanyakan nama
Kriteria lengkap klien dan nama
hasil: panggilan yang disukai
Ekspresi wajah klien, jelaskan tujuan
bersahabat, pertemuan, jujur dan
menunjukkan rasa menepati janji, tunjukkan
senang, ada kontak sikap menerima klien apa
mata, adanya, beri perhatian
mau berjabat kepada kllien dan
tangan dan perhatikan kebutuhan
menyebut nama, dasar klien
mau menjawab Rasionalisasi :
salam, klien mau Hubungan saling percaya
duduk merupakan dasar untuk
berdampingan hubungan interaksi
dengan perawat, selanjutnya.
mau mengutarakan  Bina hubungan saling
masalah yang percaya dengan
dihadapi menggunakan prinsip
komunikasi
terapeutik: Sapa klien
dengan ramah baik dengan
verbal maupun non verbal,
perkenalkan diri dengan
sopan, tanyakan nama
lengkap klien dan nama
panggilan yang disukai
klien, jelaskan tujuan
pertemuan, jujur dan
menepati janji, tunjukkan
sikap menerima klien apa
adanya, beri perhatian
kepada kllien dan
perhatikan kebutuhan
dasar klien
Rasionalisasi :
Hubungan saling percaya
merupakan dasar untuk
hubungan interaksi
selanjutnya
 Diskusikan kemampuan
dan aspek positif yang
dimiliki klien,
Keluarga dan lingkungan
dan buat daftarnya.
Rasional : Diskusikan
tingkat kemampuan klien
seperti menilai
realitas, kontrol diri atau
integritas ego diperlukan
sebagai
dasar asuhan
keperawatannya.
 Setiap bertemu klien
dihindarkan dari memberi
penilaian negatif
Rasional : Reinforcement
positif akan meningkatkan
harga diri klie
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Servicitis adalah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena
epitel selaput lendir cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris
maka mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.
Sebab-sebab servicitis: Gonorroe : sediaan hapus dari fluor cerviks terutama
purulen, sekunder terhadap kolpitis, tindakan intra : dilatasi dll, alat-alat
atau obat kontrasepsi, robekan serviks terutama yang menyebabkan
ectropion.
Servicitis dibagi menjadi 2 yaitu: servicitis akut dan kronis.
3.2. Saran
 Sebagai pencegahan terkena penyakit servicitis dapat dilakukan dengan
cara menjaga kebersihan alat genitalia, dengan cara membasuh genetalia
dengan sabun dan air dari satu arah yaitu dari depan kebelakang agar
bakteri yang ada di anus tidak masuk pada daerah genetalia.
 Tidak berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks.
DAFTAR PUSTAKA

Padjajaran,Universitas. 2003. Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta : EGC


Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohadjo.
Wiknjosastro, H. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD, 1981. Ginekologi : Bandung
Prawiroharjo Sarwono, 1999. Ilmu Kandungan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka –
Sarwono Prawiroharjo.
Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, 2000. Kapita Selekta Kedokteran
Jilid I, Jakarta
Manuaba Ida Bagus Gde, Prof, Dr, SpOG, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit
Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk pendidikan Bidan, Jakarta : EGC
David Ovedoff. 1995. Kapita Kedokteran. Jakarta. Bina Pura Pustaka
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Manuaba. 1998. Ilmu Kedokteran Penyakit Kandungan dan Keluarga untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
http://onlinelibraryfree.com
http://www.askep-askeb-kita.blogspot.com/
http://www.google.com