Anda di halaman 1dari 9

PERSALINAN NORMAL

S No. Dokumen
O No. Revisi
P Tanggal Terbit 10 Apr 2016
Halaman
UPT PUSKESMAS Mitia Marini,SKM
SUNGAI KARIAS
197809152006042026

Pertolongan perslinan normal yaitu bayi lahir melalui jalan lahir


dengan tenaga ibu sendiri
1. Pengertian
Melahirkan secara normal

2. Tujuan

3. Kebijakan

4. Referensi

5. Prosedur PERSALINAN KALA I (PEMBUKAAN)


1. Bidan cuci tangan
2. Lakukan pemeriksaan obstetri untuk menentukan
kondisi janin (leopold dan DJJ)
3. Pengawasan:KU, tanda vital, kontraksi uterus
(frekwensi dalam 10 menit/interval, lama, intensitas,
relaksasi), kandung kemih, rektum, pengeluaran
pervaginam.
4. Siapkan alat dan letakkan dalam bak instrumen
dengan urutan kebalikan dari proses persalinan.
5. elaskan pada ibu bahwa akan dilakukan periksa
dalam (VT) untuk mengetahui kemajuan persalinan. VT
setiap 4 jam (sesuai partogram) atau bila ada indikas
6. Lakukan vulva hygiene untuk periksa dalam I :
 Letakkan bengkok di depan vulva
 Pasang sarung tangan steril sebelah kanan
 Ambil kapas sublimat (secukupnya)
 Buka labia mayora, bersihkan sisi kiri dan kanan.
 Buka labia minora, bersihkan sisi kiri dan kanan.
 Bersihkan bagian tengah
7. Lakukan Periksa dalam ;
 Pegang fundus dengan tangan tidak dominan (kiri)
dan lakukan periksa dalam ((VT) :
 anjurkan klien untuk rileks/nafas dalam
 Lakukan VT dengan jari telunjuk dan jari
tengah.masukkan jari tengah terlebih dahulu.
(ceritakan : keadaan portio, pembukaan, ketuban,
posisi kepala, presentasi, ada tidaknya halangan pada
jalan lahir)
8. VT selesai, keluarkan jari tangan dari vagina, rendam
sarung tangan dalam larutan klorin 0,5%. Cuci kedua
tangan setelah pemeriksaan selesai. Jelaskan pada ibu,
kemajuan persalinan dan anjuran apa yang dapat
dilakukan ibu:
 Ibu boleh jalan-jalan, kecuali bila ketuban pecah.
 Cara mengurangi nyeri persalinan
 Posisi klien
 jelaskan proses persalinan yang akan dialami ibu.
 Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan eliminasi
 Keterlibatan pendamping
9. Lakukan pemantaun kemajuan persalinan dengan
partograf jika pembukaan sudah aktif (> 3 cm)

PERSALINAN KALA II.

I. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA II

1. Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala II


2. Ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran
3. Ibu merasa adanya tekanan pada anus
4. Perineum menonjol
5. Vulva dan anus membuka

II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN

1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan


esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana
komplikasi ibu dan bayi baru lahir. tempt datar dan
keras, 2 kain danUntuk asfiksia handuk bersih dan
kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari
tubuh bayi.
a. Menggelar kain di atas perut ibu dan tempat
resusitasi serta ganjal bahu bayi.
b. Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril
sekali pakai dalam partus set.
2. Memakai celemek plastik
3. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang
dipakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih
mengalir kemudian keringkan tangan dengan tissue atau
handuk pribadi yang bersih dan kering
4. Memakai sarung tangan DTT untuk periksa dalam.
5. Masukan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan
tangan yang memakai sarung tangan DTT atau steril,
pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik)

III. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN


JANIN BAIK

1. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan


hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan
kapas atau kassa yang dibasahi air DTT.
a. Jika introitus vagina, perineum atau anus
terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari
rah depan ke belakang.
b. Buang kapas atau kassa pembersih (terkontaminasi)
dalam wadah yang tersedia
c. Ganti sarung tangan jika terkontaminasi
(dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan
klorin 0,5%
2. Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
pembukaan lengkap.
 Bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan
sudah lengkap maka lakukan amniotomi

3. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan


tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam
larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan dan rendam

2/9
dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama
10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan
dilepaskan
4. Periksa DJJ setelah kontraksi/saat relaksasi uterus
untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-
160x/menit).
 Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak
normal
 Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam,
DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan
lainnya pada partograf

IV. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU


PROSES

BIMBINGAN MENERAN

1. Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan


keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan
posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.
a. Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan
pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin
(ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan
dokumentasikan semua temuan yang ada
b. Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana
peran mereka untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu untuk meneran secara benar
2. Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran.
(Bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang
kuat bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain
yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).
3. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa
ada dorongan kuat untuk meneran:
a. Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan
efektif

b. Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan


perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai

c. Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai


pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam
waktu yang lama)

d. Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi

e. Anjurkan keluarga memberikan dukungan dan


semangay untuk ibu

f. Beri cukup asupan cairan per oral (minum)

g. Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai

h. Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera


lahir setelah 120 menit (2 jam) meneran
(primigravida) atau 60 menit (1 jam) (multigravida)

4. Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil


posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan
untuk meneran dalam 60 menit

V. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN JANIN

3/9
1. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di
perut ibu, kepala bayi telah membuka vulva dengan
diameter 5-6 cm.

2. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah


bokong ibu

3. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali


kelengkapan alat dan bahan.

4. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

VI. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI

Lahirnya Kepala

1. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm


membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu
tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering.
Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan
posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan
ibu untuk meneran perlahan sambil bernafas cepat dan
dangkal.
2. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil
tindakkan sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan
proses kelahiran bayi.
 Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan
lewat bagian atas kepala bayi

 Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali


pusat di dua tempat dan potong di antara dua klem
tersebut

3. Tunggu hingga kepala janin melakukan putaran paksi


luar secara spontan.

Lahirnya Bahu

Setelah kepala melakukan putar paksi luar, pegang secara


biparietal. Anjurkan ibu untuk meneran saat ada kontraksi.
Dengan lembut gerakkan kepala ke a rah bawah dan distal
hingga bahu Depan muncul di bawah arkus pubis dan
kemudian gerakkan ke arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang.

Lahir Badan dan Tungkai

1. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah ke arah


perineum ibu untuk menyangga kepala, lengan dan siku
sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri
dan memegang lengan dan siku sebelah atas.
2. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut pada punggung, bokong, tungkai dan kaki.
Pegang kedua mata kaki (masukan telunjuk diantara kaki
dan pegang masig-masing mata kaki dengan ibu jari dan
jari-jari lainnya).

VII. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR

1. Lakukan penilaian (selintas):

4/9
 Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa
kesulitan?

 Apakah bayi bergerak dengan aktif?

Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas dan megap-


megap segera lakukan tindakkan resusitasi (--> langkah
25 ini berlanjut Kelangkah-langkah prosedur resusitasi
bayi baru lahir dengan asfiksia)

2. Keringkan dan posisikan tubuh bayi di atas perut ibu


 Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian
tubuh lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali
bagian tangan.
 Ganti handuk basah dengan handuk yang kering.
Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas perut ibu.
3. Periksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada
bayi lain dalam uterus (hamil tunggal).
4. Beritahukan ibu bahwa penolong akan menyuntikkan
oksitosin (agar kontraksi uterus baik).
5. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan
oksitosin 10 unit (IM) di 1/3 paha atas bagian distal
lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan
oksitosin).
6. Dengan menggunakan klem, jepit tali pusat (dua menit
setalah bayi lahir) pada sekitar 3 cm dari pusar
(umbilikus) bayi.dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu)
dan lakukan penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem
pertama.
7. Pemotongan dan Pengikatan Tali Pusat
 Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah
dijepit kemudian lakukan pengguntingan tali pusat
(lindungi perut bayi) diantara 2 klem tersebut.
 Ikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu
sisi kemudian lingkarkan kembali benang ke sisi
berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan
simpul kunci

 Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang


telah disediakan.

8. Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke


kulit bayi.

Letakkan bayi denga posisi tengkurap di dada ibu.


Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel dengan
baik di dinding dada-perut ibu. Usahakan kepala bayi
berada antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah
dari puting payudara ibu

9. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang


topi di kepala bayi.

VIII. PENATALAKSANAAN AKTIF KALA TIGA

1. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5–10 cm


dari vulva.
2. Letakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi
atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain
menegangkan tali pusat.
3. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat dengan
5/9
posisi talipusat tegak lurus dengan kasur, tangan yang di
suprapubik melakukan dorongan dorsokranial. Lakukan
PTT dan dorongan dorsokranial ini selama 30-40 detik,
bila belum ada tanda-tanda lepasnya plasenta
walaupun masih ada kontraksi uterus maka PTT dan
dorongan dorsokranial dihentikan. Lakukan PTT dan
dorongan dorsokranial ini setiap kali ada kontraksi
uterus. (Bila pada saat melakukan PTT dan dorongan
dorsokranial ada tanda-tanda lepasnya plasenta maka
talipusat dibawa ke arah bawah sambil tangan lain
mendorong uterus ke arah belakang–atas (dorso-
kranial) secara berhati-hati (untuk mencegah inversio
uteri), sementara ibu minta ibu untuk meneran
sedikit/ringan).
 Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu,
suami atau anggota keluarga untuk melakukan
stimulasi puting susu.

 Bila setelah didilakukan PTT dan doronagan


dorsokranial selama 15 menit dan plasenta belum
lepas maka beri suntikan oksitosin ke 2

 Tanda-tanda lepasnya plasenta:

a. Talipusat memanjan
b. Semburan darah tiba-tiba
c. Uterus menjadi globuler
Mengeluarkan Plasenta

1. Lakukan penegangan dan dorong dorso-kranial hingga


plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan
kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap
lakukan tekanan dorso-kranial)
 Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem
hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan
lahirkan plasenta

 Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit


menegangkan tali pusat

 Beri dosis ulangan 10 unit okstosin IM

 Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih


penu

 Minta keluarga untuk menyiapkan merujuk

 Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya

 Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30


menit setelah bayi lahir

 Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual

2. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan


plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta
hingga ketubanterpili kemudian lahirkan dan tempatkan
plasenta pada wadah yang telah disediakan. Jika selaput
ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril untuk
melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari

6/9
tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian
selaput yang tertinggal

Saat melahirkan lahirkan bagian fetal, bila selaput


ketuban tersingkap sehingga bagian maternal plasenta
terlihat, maka tutupkan kembali bagian maternal yang
tersingkap, hal ini untuk mengurangi terjadinya robekan
selaput ketuban saat dilahirkan

Rangsangan Taktil (Masase) Uterus

1. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir,


lakukan masase uterus, letakkan telapak tangan di
fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar
dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba
keras)
 lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak
berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsang
taktil/masase

XI. MENILAI PERDARAHAN

1. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi


dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh.
Masukkan plasenta kedalam kantung plastik atau tempat
khusus
2. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan
perineum. Lakukan penjahitan bila laserasi
menyebabkan perdarahan
Jikaa ada robekan yang menimbulkan perdarahan
aktif, segera lakukan penjahitan

XII. MELAKUKAN ASUHAN PASCA PERSALINAN

1. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak


terjadi perdarahan pervaginam
2. Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-
bayi (di dada ibu paling sedikit 1 jam)
 Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan Inisiasi
Menyusu Dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu
pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit.
Bayi cukup menyusu dari satu payudara.

 Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam


walaupun bayi sudah berhasil menyusu

3. Lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata


antibiotik
profilaksis, dan vitamin K1 1mg IM dipaha kiri
antrolateral setelah satu jam kontak kulit ibu-bayi
(hanya disosialisasikan dulu ke Ibu)
4. Berikan suntikan imunisasi hepatitis B (setelah satu jam
pemberian Vit K1) di paha kanan anterolateral.
 Letakkan bayi didalam jangkauan ibu agar sewaktu-
waktu bisa disusukan.
 Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum
berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan
biarkan sampai bayi berhasil menyusu (hanya
disosialisasikan dulu ke Ibu)
EVALUASI

7/9
1. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah
perdarahan per vaginam
 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan

 Setiap 15 menit pada 1jam pertama pascapersalinan

 Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan

 Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik,


melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana
atopnia uteri

2. Ajarkan ibu atau keluarga cara melakukan masase


uterus dan menilai kontraksi
3. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
4. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap
15 menit selama 1jam pertama pasca persalinan dan
setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan
 Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam,
selama 2 jam pertama pasca persalinan

 Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang


tidak normal

5. Periksa kembali kondisi bayi untuk memastikan


bahwa bayi

bernapas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu


tubuh normal

(36,5 – 37,5 °C)

Kebersihan dan Keamanan

1. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan


klorin 0,5% untuk dekontaminsi (10menit). Cuci dan
bilas peralatan setelah disekontaminasi.
2. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan
klorin 0,5% untuk dekontaminsi (10menit). Cuci dan
bilas peralatan setelah disekontaminasi.
3. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat
sampai yang sesuai
4. Bersihkan badan ibu menggunakan air biasa. Bersihkan
sisa cairan ketuban, lender, dan darah. Bantu ibu
memakai pakaian yang bersih dan kering.
5. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan
ASI. Anjurkan keluarga untuk memberi ibu makanan dan
minuman yang diinginkannya
6. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin
0,5%
7. Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin
0,5% balikkan bagian dalam keluar dan rendam dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit
8. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
kemudian keringkan denga tissu atau handuk pribadi
yang kering dan bersih
Dekumentasi

Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa


tanda vital dan asuhan kala IV

8/9
6. Diagram Alir -

7. Unit Terkait -

8. Rekam Historis
Perubahan

No. Yang diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai


diberlakukan

9/9