Anda di halaman 1dari 13

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

Sekolah : SMK Negeri 1 Rengat


Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Kelas/Semester : X / Ganjil
Materi Pokok : Hubungan pemerintahan pusat dan daerah menurut
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945
Alokasi Waktu : 4 Minggu x 2 Jam pelajaran

A. Kompetensi Inti
KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli
(gotong royong, kerja sama, toleran, damai), bertanggung-jawab, responsif,
dan proaktif melalui keteladanan, pemberian nasihat, penguatan, pembiasaan,
dan pengkondisian secara berkesinambungan serta menunjukkan sikap sebagai
bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3: Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif sesuai dengan
bidang dan lingkup kajian Pendidikan Pancasila danKewarganegaraan pada
tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja,
warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
KI-4: Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan
prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan
bidang kajian PendidikanPancasila dan Kewarganegaraan.
Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang
terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif,
kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan,
gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan
tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

1.8 Menghormati 1.8.1 Membangun nilai-nilai pro aktif secara adil


hubungan pemerintah tentang hubungan structural dan fungsional
pusat dan daerah pemerintah pusat dan daerah menurut Undang-
menurut Undang- undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
undang Dasar Negara 1945.
Republik Indonesia 1.8.2 Membangun nilai-nilai responsif secara adil
Tahun 1945 sebagai tentang hubungan struktural dan fungsional
anugerah Tuhan Yang pemerintah pusat dan daerah menurut Undang-
Maha Esa. undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2.8 Bersikap peduli 2.8.1 Membangun nilai-nilai proaktif yang terkandung


terhadap hubungan dalam hubungan structural dan fungsional
pemerintah pusat dan pemerintah pusat dan daerah menurut Undang-
daerah yang harmonis undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
di daerah setempat. 1945.
2.8.2 Membangun nilai-nilai responsive yang
terkandung dalam hubungan structural dan
fungsional pemerintah pusat dan daerah
menurut Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.

3.8 Menganalisis 3.8.1 Mendeskripsikan desentralisasi atau otonomi


hubungan pemerintah daerah dalam konteks Negara Kesatuan Republik
pusat dan daerah Indonesia.
menurut Undang- 3.8.2 Mendeskripsikan kedudukan dan peran
Undang Dasar Negara pemerintah pusat.
Republik Indonesia 3.8.3 Mendeskripsikan kedudukan dan peran
Tahun 1945 pemerintah daerah.
3.8.4 Mendeskripsikan kedudukan daerah khusus,
daerah istimewa, dan otonomi khusus.
3.8.5 Menganalisis hubungan struktural dan
fungsional pemerintah pusat dan daerah.

4.8 Menyaji hasil analisis 4.8.1 Menyajikan hasil analisis tentang hubungan
tentang hubungan structural dan fungsional pemerintah pusat dan
pemerintah pusat dan daerah menurut Undang-undang Dasar Negara
pemerintah daerah Republik Indonesia Tahun 1945.
setempat menurut 4.8.2 Mengomunikasikan hasil analisis hubungan
Undang- Undang structural dan fungsional pemerintah pusat dan
Dasar Negara Republik daerah menurut Undang-undang Dasar Negara
Indonesia Tahun 1945 Republik Indonesia Tahun 1945.

C. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui kegiatan mengamati dan mengumpulkan informasi dari berbagai
sumber, peserta didik mampu mendeskripsikan konsep desentralisasi dan
otonomi daerah secara mandiri.
2. Melalui kegiatan mengamati dan mengumpulkan informasi dari berbagai
sumber, peserta didik mampu mendeskripsikan latar belakang pelaksanaan
otonomi daerah di Indonesia secara mandiri.
3. Melalui diskusi kelompok, peserta didik mampu mendeskripsikan kedudukan
dan peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan penuh tanggung
jawab.
4. Melalui diskusi kelompok, peserta didik mampu mendeskripsikan kedudukan
daerah khusus, daerah istimewa dan otonomi khusus di Indonesia.
5. Melalui diskusi kelompok, peserta didik mampu menyaji hasil analisis
permasalahan otonomi daerah di Provinsi Riau menggunakan slide presentasi
secara kreatif dan penuh percaya diri.

D. Materi Ajar

Otonomi Daerah
Otonomi daerah dilaksanakan mengacu pada Pasal 18 Ayat (2) Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan ketentuan pasal 18 ayat 1 dan 2,
Negara Kesatuan Republik Indonesia dikenal adanya pemerintahan pusat dan
pemerintahan daerah.

Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur
dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan Otonomi Daerah


a. Mempercepat Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
b. Menjamin keadilan dan pemerataan pembangunan dan pelayanan publik
c. Menjamin pelaksanaan demokrasi di Indonesia

Asas Otonomi Daerah


1. Desentralisasi
Penyerahan sebagian wewenang dan tanggungjawab dari urusan pemerintah
pusat kepada badan atau lembaga-lembaga pemerintah daerah.
2. Dekonsentrasi
Pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada daerah otonom sebagai
wakil pemerintah atau perangkat pusat di daerah dalam kerangka negara
kesatuan.
3. Tugas Pembantuan
Penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan
sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat
atau dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota untuk melaksanakan
sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi.

Pengertian Desentralisasi
Desentralisasi berasal dari Bahasa Latin de yang
berarti ‘lepas’ dan centerum yang berarti ‘pusat’.
Secara harfiah, desentralisasi berarti ‘terlepas dari
pusat’.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah mendefinisikan desentralisasi
sebagai penyerahan urusan pemerintahan oleh
pemerintah pusat kepada daerah otonom
berdasarkan asas otonomi.
Kelebihan Desentralisasi
Kelebihan menerapkan sistem desentralisasi menurut Sarundajang adalah sebagai
berikut (Bakhtiar, 2009).
a. Mengurangi bertumpuknya pekerjaan di pusat.
b. Ketika menghadapi masalah yang amat mendesak dan membutuhkan tindakan
tepat, daerah tidak perlu menunggu instruksi dari pemerintah pusat.
c. Dapat mengurangi birokrasi dalam arti yang buruk karena setiap keputusan
dapat segera dilaksanakan.
d. Dalam sistem desentralisasi dapat diadakan pembedaan (diferensial) dan
pengkhususan (spesialisasi) yang berguna bagi kepentingan tertentu. Khususnya
desentralisasi territorial, dapat lebih mudah menyesuaikan diri dengan
kebutuhan/keperluan khusus daerah.
e. Desentralisasi memungkinkan daerah menjadi semacam laboratorium yang
dapat bermanfaat bagi seluruh negara.
f. Mengurangi kemungkinan kesewenang-wenangan pemerintah.
g. Dari segi psikologis, desentralisasi dapat lebih memberikan kewenangan
memutuskan yang lebih besar bagi daerah.
h. Memperbaiki kualitas pelayanan karena lebih dekat dengan masyarakat yang
dilayani.

Kelemahan Desentralisasi
J. Kaho menyebutkan kelemahan desentralisasi sebagai berikut (Bakhtiar, 2009).
a. Besarnya organ-organ pemerintah menyebabkan struktur pemerintahan
bertambah kompleks yang mempersulit koordinasi.
b. Keseimbangan dan keserasian antara bermacam-macam kepentingan dari
daerah dapat lebih mudah terganggu.
c. Khusus mengenai desentralisasi territorial, dapat mendorong timbulnya
daerahisme atau provinsialisme.
d. Memerlukan biaya yang besar.
e. Sulit memperoleh keseragaman dan kesederhanaan.

Kedudukan dan peran pemerintah pusat.

Penyelenggaran pemerintahan pusat dalam sistem


ketatanegaraan Indonesia adalah presiden dibantu
oleh wakil presiden dan menteri negara. Dalam
melaksanakan otonomi daerah, kebijakan yang
diambil dalam menyelenggarakan pemerintahan
dilaksanakan melalui asas desentralisasi, tugas
pembantuan dan dekonsentrasi sesuai peraturan
perundang-undangan.

Urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan menjadi urusan pemerintah


pusat yang bersifat absolute :
1. Politik Luar Negeri
2. Pertahanan
3. Keamanan
4. Agama
5. Yustisi
6. Moneter dan fiskal
Pemerintah pusat dalam pelaksanaan otonomi daerah, memiliki 3 (tiga) fungsi :
a. Fungsi Layanan (Servicing Function)
Fungsi pelayanan dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat
dengan cara tidak diskriminatif dan tidak memberatkan serta dengan kualitas yang
sama. Dalam pelaksanaan fungsi ini pemerintah tidak pilih kasih, melainkan semua
orang memiliki hak sama, yaitu hak untuk dilayaani, dihormati, diakui, diberi
kesempatan (kepercayaan) dan sebagainya.
b. Fungsi Pengaturan (Regulating Function)
Fungsi ini memberikan penekanan bahwa pengaturan tidak hanya kepada rakyat
tetapi kepada pemerintah sendiri. Artinya, dalam membuat kebijakan lebih dinamis
yang mengatur kehidupan masyarakat dan sekaligus meminimalkan intervensi
negara dalam kehidupan masyarakat. Jadi, fungsi pemerintah adalah mengatur dan
memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam menjalankan hidupnya
sebagai warga negara.
Ada enam fungsi pengaturan yang dimiliki pemerintah, diantaranya :
1. Menyediakan infrastruktur ekonomi
2. Menyediakan barang dan jasa kolektif
3. Menjembatani konflik dalam masyarakat
4. Menjaga kompetisi
5. Menjamin akses minimal setiap individu kepada barang dan jasa
6. Menjaga stabilitas ekonomi
c. Fungsi Pemberdayaan
Fungsi ini dijalankan pemerintah dalam rangka pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat tahu, menyadari diri, dan mampu memilih alternatif yang baik untuk
mengatasi atau menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Pemerintah dalam
fungsi ini hanya sebagai fasilitator dan motivator untuk membantu masyarakat
menemukan jalan keluar dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

Kedudukan dan peran pemerintah daerah.

Indonesia adalah sebuah negara yang wilayahnya


terbagi atas daerah-daerah provinsi. Daerah
provinsi tersebut terdiri atas daerah kabupaten
dan kota. Setiap daerah provinsi, daerah
kabupaten, dan daerah kota mempunyai
pemerintahan daerah yang diatur dengan
undang-undang.

Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah


daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Gubernur karena jabatannya berkedudukan sebagai wakil pemerintah pusat di wilayah


provinsi yang bersangkutan. Artinya, gubernur menjembatani dan memperpendek
rentang kendali pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah termasuk dalam pembinaan
dan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan pada pemerintahan
kabupaten dan kota. Dalam kedudukannya sebagai wakil pemerintah pusat, gubernur
bertanggung jawab kepada presiden.
Dalam hal pembagian urusan pemerintahan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa pemerintahan daerah
menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat.

Daerah Khusus, Daerah Instimewa dan Otonomi Khusus


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 B Ayat (1)
menyatakan negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah
yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang-undang.
Undang-Undang yang dimaksud adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah. Adapun yang dimaksud dengan satuan-satuan
pemerintahan daerah yang bersifat khusus adalah daerah yang diberi otonomi khusus,
yaitu Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Provinsi Papua. Adapun daerah istimewa
adalah Daerah Istimewa Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam) dan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY).

Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah menurut Undang-undang Dasar


Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.
1. Hubungan Struktural Pemerintah Pusat dan Daerah
Dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia terdapat dua cara yang dapat
menghubungkan antara pemerintah pusat dan pemeritah daerah.
a. Sentralisasi, yakni segala urusan, fungsi, tugas, dan wewenang penyelenggaraan
pemerintahan ada pada pemerintah pusat yang pelaksanaannya dilakukan
secara dekonsentrasi.
b. Desentralisasi, yakni segala urusan, tugas, dan wewenang pemerintahan
diserahkan seluas-luasnya kepada pemerintah daerah.

2. Hubungan Fungsional Pemerintah Pusat dan Daerah


Fungsi pemerintah pusat dan daerah adalah sebagai pelayan, pengatur, dan
pemberdaya masyarakat. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan
pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh
semua daerah. Sedangkan urusan pemerintahan pilihan adalah urusan
pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh daerah sesuai dengan potensi yang
dimiliki daerah. Urusan pemerintah wajib yang diselenggaraan oleh pemerintah
daerah terbagi menjadi urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan
dasar dan yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.

Pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki


hubungan dengan pemerintah pusat dan dengan pemerintahan daerah lainnya.
Hubungan tersebut meliputi hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum,
pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya.

E. Model dan Metode Pembelajaran


Pertemuan 11
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Problem Based Learning
3. Metode : Kerja Kelompok, diskusi dan tanya jawab
Pertemuan 12
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Discovery Learning
3. Metode : Diskusi dan tanya jawab

Pertemuan 13
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Discovery Learning
3. Metode : Diskusi dan tanya jawab

Pertemuan 14
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Problem Based Learning (PBL)
3. Metode : Diskusi dan tanya jawab

F. Media Pembelajaran
1. Video desentralisasi dan otonomi daerah; pilihan terbaik di unduh dari chanel
youtube https://www.youtube.com/watch?v=CGiTRcFxBmg&t=6s
2. Slide presentasi otonomi daerah, kedudukan pemerintah pusat dan daerah,
daerah khusus, daerah istimewa dan otonomi khusus, hubungan structural dan
fungsional pemerintah pusat dan daerah
3. Artikel otonomi daerah di Provinsi Riau

G. Sumber Belajar
1. Tolib, Nuryadi. (2016). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
2. Modul PPKN Kompetensi Dasar Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah.
3. Artikel dan jurnal otonomi daerah.

H. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 11
PETUNJUK KERJA

1. Silahkan Ananda kerjakan tugas sesuai kelompok yang sudah dibentuk atau
ditetapkan sebelumnya.
2. Untuk memperjelas materi pada kegiatan belajar 1, Ananda bisa menyaksikan
video desentralisasi dan otonomi daerah : pilihan terbaik melalui link
https://www.youtube.com/watch?v=amVnunUj0TI
3. Ananda diperkenankan untuk mencari sumber informasi lain untuk
menyelesaikan tugas, baik melalui buku maupun internet.
4. Bila Ananda mengalami kesulitan silahkan bertanya dengan guru.
5. Waktu penyelesaian tugas diberikan selama 30 menit.
6. Presentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas.
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
Tugas Kelompok!
Tujuan utama otonomi daerah di Indonesia adalah untuk mempercepat peningkatan
kesejahteraan masyarakat, menjamin keadilan dan pemerataan pembangunan serta
menjamin terlaksananya demokrasi di Indonesia. Namun faktanya, banyak daerah
otonom dianggap gagal dalam melaksanakan otonomi daerah dan lebih banyak
bergantung dari pemerintah pusat. Akibatnya otonomi daerah gagal membuat
daerah tersebut berkembang dan justru terancam bangkrut.

Selain itu, semenjak otonomi daerah dilaksanakan di Indonesia, banyak kepala


daerah yang terjerat kasus korupsi. Hingga pertengah tahun 2018, Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat sebanyak 95 kepala daerah di Indonesia
terjerat korupsi.

Bagaimana pandangan Ananda terhadap dua persoalan dalam pelaksanaan otonomi


daerah di Indonesia tersebut. Bagaimana dampaknya bagi masyarakat? Berikanlah
argumentasi yang tepat, jika perlu di ikuti dengan data.

……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
Pertemuan 12
PETUNJUK KERJA

1. Silahkan Ananda kerjakan tugas sesuai kelompok yang sudah dibentuk atau
ditetapkan sebelumnya.
2. Ananda diperkenankan untuk mencari sumber informasi lain untuk
menyelesaikan tugas, baik melalui buku maupun internet.
3. Bila Ananda mengalami kesulitan silahkan bertanya dengan guru.
4. Waktu penyelesaian tugas diberikan selama 30 menit.
5. Presentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK


Tugas Kelompok!
1. Jelaskan latar belakang lahirnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004.
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

2. Jelaskan pembagian urusan pemerintahan absolute, urusan pemerintahan


konkuren dan urusan pemerintahan umum?
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

3. Jelaskan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan daerah?


……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

4. Jelaskan kedudukan gubernur berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun


2014?
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

5. Jelaskan sejumlah kewenangan kabupaten/kota yang beralih menjadi


kewenangan provinsi berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014?
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
Pertemuan 13

PETUNJUK KERJA

1. Silahkan Ananda kerjakan tugas sesuai kelompok yang sudah dibentuk atau
ditetapkan sebelumnya.
2. Ananda diperkenankan untuk mencari sumber informasi lain untuk
menyelesaikan tugas, baik melalui buku maupun internet.
3. Bila Ananda mengalami kesulitan silahkan bertanya dengan guru.
4. Waktu penyelesaian tugas diberikan selama 30 menit.
5. Presentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK


Tugas Kelompok!
1. Jelaskan latar belakang diberikannya status Daerah Khusus Ibukota Jakarta,
Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Istimewa Aceh dan Otonomi Khusus
Papua?
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

2. Jelaskan kekhususan dan keistimewaan yang diberikan negara kepada Daerah


Khusus Ibukota Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Istimewa Aceh
dan Provinsi Papua jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia?

……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

3. Salah satu keistimewaan yang diberikan kepada Provinsi Aceh adalah


penerapan syariat Islam. Bagaimana penerapannya? Apakah seluruh
peraturan dalam syariat Islam diterapkan bagi masyarakat yang melanggar?
………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………..

4. Sejumlah daerah di Indonesia, terutama penghasil sumber daya alam seperti


Provinsi Riau juga menuntut diberikan perlakuan khusus atau otonomi
khusus untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat, namun
sampai saat ini keinginan tersebut tidak pernah terealisasi. Apa penyebab
pemerintah belum memberikan kekhususan untuk Provinsi Riau?
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
5. Di antara keistimewaan yang dimiliki Yogyakarta adalah dalam bidang tata
cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas dan wewenang gubernur dan wakil
gubernur. Syarat khusus bagi calon gubernur Yogyakarta adalah Sultan
Hamengku Buwono yang bertahta dan wakil gubernur adalah Adipati Paku
Alam yang bertahta. Apakah kekhususan ini bertentangan dengan prinsip-
prinsip negara demokrasi seperti yang dianut Indonesia? Jelaskan pendapat
kelompok Ananda.
.……………………………………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
Pertemuan 14

PETUNJUK KERJA

1. Silahkan Ananda baca artikel otonomi daerah di Provinsi Riau dibawah ini.
2. Analisis lah bagaimana pelaksanaan otonomi daerah di Provinsi Riau yang
terkenal sebagai daerah kaya sumber daya alam, kelebihan dan
kekurangannya, permasalahan yang muncul serta upaya penyelesaiannya?
3. Ananda diperkenankan untuk mencari sumber informasi lain untuk
menyelesaikan tugas, baik melalui buku maupun internet.
4. Bila Ananda mengalami kesulitan silahkan bertanya dengan guru.
5. Waktu penyelesaian tugas diberikan selama 30 menit.

Kantor Gubernur Riau berdiri megah semenjak otonomi daerah bergulir di


Indonesia.
Sumber : riau.go.id

Otonomi Daerah di Provinsi Riau


Provinsi Riau merupakan salah satu daerah di Indonesia yang merasakan
dampak besar dari pelaksanaan otonomi daerah. Semangat reformasi yang
membidani lahirnya otonomi daerah memungkinkan bagi daerah kaya
seperti Riau mendapatkan kucuran dana lebih.

Beberapa tahun terakhir, pembangunan di Provinsi Riau terus menggeliat


dan menjadikan daerah ini sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di
Sumatera. Pada tahun 2006, Provinsi Riau meraih angka pertumbuhan
ekonomi yang mengagumkan 8,56 persen dan yang tertinggi di Sumatera.
Hampir tiap tahun pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau mengalami
peningkatan, bahkan jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang
rata-rata 5 persen per tahun.

Dampak ikutnya, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita


masyarakat Riau menurut harga berlaku meningkat dari Rp 17,13 juta
tahun 2005 menjadi Rp 19,86 juta per kapita tahun 2006. Jika dihitung
dengan harga minyak bumi dan gas, maka angka PDRB per kapita
masyarakat Riau naik dari Rp 30,12 juta tahun 2005 menjadi Rp 35,03 juta
tahun 2006.
Perputaran roda ekonomi yang begitu cepat diiringi pembangunan gedung-
gedung dan mall serta fasilitas lain memberikan kesempatan kerja dan
usaha yang luas bagi masyarakat. Alhasil, Riau menjadi salah satu daerah
yang menjadi tujuan bagi pencari kerja. Membludaknya arus perpindahan
orang tersebut menyebabkan pertumbuhan penduduk di Provinsi Riau
sangat tinggi. Angka pertumbuhan penduduk di Riau mencapai 3,79 persen
per tahun selama periode 1998 sampai 2002. Angka ini lebih tinggi dari rata-
rata pertumbuhan penduduk nasional yang hanya 1,4 persen per tahun
pada periode yang sama.

Namun pada sisi lain, angka kemiskinan di Provinsi Riau masih terbilang
tinggi, yakni mencapai 22,9 persen pada tahun 2005. Angka itu jauh lebih
tinggi dari rata-rata kemiskinan nasional sebesar 19,5 pesen pada tahun
yang sama. Ketersediaan infrastruktur yang layak juga masih terbilang
minim. Infrastruktur seperti prasarana transportasi, komunikasi, listrik,
pendidikan serta kesehatan menjadi factor utama yang menyebabkan Riau
masih tertinggal dari daerah lain di Indonesia. (Sumber : disarikan dari
internet)