Anda di halaman 1dari 8

KONSEP PENYAKIT

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN:


PNEUMONIA + STATUS ASMATIKUS
DI RUANG PENYAKIT PARU LAKI, RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

A. KONSEP PENYAKIT
1. STATUS ASMATIKUS
a. Definisi
Status asmatikus adalah salah satu kedaruratan medis karena serangan asma akut
yang refraktori, keadaan ini tidak berespon terhadap terapi dengan β-adrenergik atau
teofilin intravena.
b. Etiologi
1) Faktor genetik
2) Faktor lingkungan
3) Bahan alergen
4) Infeksi saluran nafas (terutama virus)
5) Polusi udara
6) Faktor makanan
Faktor pencetus biasanya:
1) alergen
2) fisik
3) bahan kimia
4) infeksi
5) faktor mekanik
6) faktor psikis

c. Manifestasi Klinis
1) Pasien menunjukkan gambaran dramatis ansietas akut, usaha
bernafas dengan keras, takikardia, dan berkeringat.
2) Penyimpangan fungsi paru menyebabkan hipoventilasi alveolar
dengan hipoksemia lanjut, hiperkapnia, dan asidemia.
3) Peningkatan PCO2 adalah indikasi objektif pertama.
4) Dehidrasi, batuk kronis, nafas pendek, mengii, obstruksi jalan
nafas, hiperinflasi dan hipoksemia skunder terhadap ketidakcocokan
ventilasi/perfusi dan penyimpangan pertukaran gas.
d. Patofisiologi
Asma

Pohon bronkial hiperaktif

Bronkospasme

Penyempitan jalan nafas

Peningkatan kerja pernafasan

Peningkatan kebutuhan O2 Peningkatan kehilangan air tak tampak


sebagai penguapan ekshalasi

Takikardia Penurunan masukan oral

Takipnea Plak mukosa

Gelisah Atelektasis

Hipoksemia
(Hudak & Gallo, 1997: 567)

e. Penatalaksanaan
1) Terapi O2, koreksi dehidrasi, koreksi nutrisi.
2) Terapi farmakologi: bronkodilator, metilksantin, amin
simpatomimetik, dan kortikosteroid.

2. PNEUMONIA
a. Definisi
Pneumonia adalah peradangan dimana terdapat konsolidasi yang disebabkan
pengisisan rongga alveoli oleh eksudat.

b. Macam – macam pneumonia, etiologi, manifestasi klinis dan


farmakoterapi:

Tipe Etiologi Faktor resiko Tanda dan gejala Farmakoterapi


Sindroma Strekokus Penyakit sickle sel, Onset mendadak Obat terpilih:
tipikal pneumonia, tanpa hipogamaglobulinemia, dingin, menggigil, Penisilin G procain, IM
penyulit. multiple myeloma. demam (39-400C), aqueous cystalline
Strekokus nyeri dada pleuritis, penisilin G, IV
pneumonia,dengan batuk produktif, penisilin V.
penyulit sputum hijau dan Obat efektif lainnya:
(empyema purulen dan mungkin eritromisin,
penyebaran mengandung bercak klindamisisn,
infeksi). darah”berkarat”, cephalosprin, penisilin
hidung kemerahan, laintrimetropin dan
retraksi sulfametoksazol.
interkostal,penggunaan
otot aksesorius, timbul
sianosis.
Sindroma Haemophilus Usia tua, COPD, Penisilin G, ampisil.
atipikal influenzae. influenza terakhir. Obat efektif
Stafilokokus lainnya;kloramfenikol
aureus. (cefamandole,
trimetroprim,
sulfametoksazol,
nafsilin).

Penyebab umum: Anak-anak, dewasa Onset bertahap dlm 3- Obat


Mycoplasma muda. 5 hari, malaise, nyeri terpilih;eritromisisn.
pneumonia, virus kepala, nyeri Obat efektif lainnya:
patogen. tenggorokan, batuk tetrasiklin.
kering, nyeri dad
karena batuk.

Penyebab tak ISN terbaru influenza. Seperti di atas Obat terpilih:


umum: ditambah nyeri eritromisin.
Legionella abdomen, diare, suhu Obat efektif
pneumophilia. >400C, distres lainnya:rifampisin,
pernafasan. gentamisin.

pneumocystic Transplantasi Gagal ginjal, Trimetroprim,


carinii. ginjal,penyakit hiponatremia, pentamidine.
otoimun,defisit hipofosfatemia,
imunologi,debilitas. kreatinin
fosfokinase/onset
bertahap dengan
peningkatan dispneu,
batuk kering, takipneu,
hipoksemia,
rontgen:gambaran
interstitial diffus.

Sindroma Aspirasi: basil Alkoholisme debilitas, Anaerob Terapi antibiotika


aspirasi gram negatif, perawatan (misal campuran:mulanya tergantung pada
klebsiela, infeksi nosokomial), onset perlahan, demam penyebab infeksi.
pseudomonas, gangguan kesadaran. rendah, batuk, sputum
serratia, produksi/bau busuk,
enteribacter, foto dada:jaringan
escherichia interstitial yang
proteus, basil terkena tergantung
gram positif. bagian parunya.
Stafilokokus, Infeksi gram
aspirasi asam positif/negatif.
lambung.
Gambaran klinik
mungkin sama dengan
pneumonia klasik,
distres respirasi
mendadak, dispneu
berat, sianosis, batuk,
hipoksemia, diikuti
tanda-tanda infeksi
skunder.
Hematogen Aspirasi zat inert: Kateter intravena yang Gejala pulmonal Obat terpilih: nafcilin
air, barium, bahan infeksi, endokarditis, timbul minimal jika IV,ampisiln IV +
makanan. Terjadi penyalahgunaan obat, dibandingkan gejala gentamisisn/tobramisin,
bila kuman abses intra abdomen, septikemia, batuk non klindamisin IV, +
patogen menyebar pyonefrosis, empyema produktif dan nyeri gentamisisn/tobramisin.
ke paru-paru kandung kemih. pleuritik sama seperti
melalui aliran pada emboli paru
darah; merupakan keluhan
stafilokokus, tersering.
E.coli, anaerob
enterik.

c. Patofisiologi
Asma

Pohon bronkial hiperaktif

Bronkospasme

Penyempitan jalan nafas


Resiko kekurangan volume
cairan
Peningkatan kerja pernafasan

Peningkatan kebutuhan O2 Peningkatan kehilangan air tak


tampak
sebagai penguapan ekshalasi
Bakteri/virus/zat alergen
Takikardia Penurunan masukan oral

Takipnea Plak mukosa


Gelisah Atelektasis

Hipoksemia
Aspirasi dari sekret yang berasal dari orofaring Kerusakan pertukaran
gas
Inhalasi butiran-butiran dahak halus (droplet)
Saluran darah dari sumber infeksi yangberada diluar paru (hematogen)

Kuman masuk ke alveoli


Perubahan
nutrisi:kurang dari
kebutuhan tubuh
Reaksi radang  meluas : Kohn dan sal.nafas ke parenkhim paru. Perubahan
kenyamanan:
Nyeri dada
pleuritik dan demam

Proses konsolidasi memenuhi satu segmen  satu lobus. Intolerans aktifitas

Jaringan paru padat  hepatisasi

d. Penatalaksanaan
1) Koreksi kelainan yang mendasari.
2) Tirah baring.
3) Obat-obat simptomatis seperti: parasetamol (pada hipereksia),
morfin (pada nyeri hebat).
4) Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit dengan batuan infus,
dekstrose 5%,normal salin atau RL.
5) Pemilihan obat-obat anti infeksi: tergantung kuman penyebab.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Riwayat atau adanya faktor resiko:
1) penyakit paru obstruktif menahun (PPOM).
2) Perokok berat.
3) Imobilisasi fisik lama.
4) Pemberian makanan melalui selang secara terus-menerus.
5) Obat-obatan imunosupresif (kemoterapi,kortikosteroid), mengisap.
6) Penyakit yang melemahkan (AIDS, kanker).
7) Menghirup atau aspirasi zat iritasn.
8) Terpapar polusi udara terus-menerus.
9) Terpasang selang endotrakeal atau trakeostomi.
10) Penurunan tingkat kesadaran (stupor, letargi, pra-koma, koma).

b. Pemeriksaan fisik, tergantung agen penyebab:


1) Demam tinggi dan menggigil (awitan mungkin tiba-tiba dan
berbahaya).
2) Nyeri dada pleuritik.
3) Takipnea dan takikardia.
4) Rales.
5) Pada awalnya batuk tidak produktif tapi selanjutnya akan
berkembnag menjadi batuk produktif dengan mukus purulen kekuning-kuningan,
kehijau-hijauan, kecoklatan atau kemerahan dan seirngakli berbau busuk.Dispnea
6) Kelemahan danmalaise.
7) Kulit berwarna keabu-abuan atau sianosis
8) Keringat hilang timbul sesuai penurunan atau peningaktan demam
9) Periode sakit kepala selama 24-48 jam, mialgia, malaise, diikuti
dengan demam, disosiasi nadi dan suhu (nadi relatif lambat pada demam tinggi.
Normalnya nadi meningkat jika suhu mengingkat). Hal tersebut merupakan tanda
klasik pada pneumonia legionella, viral dan mikoplasma.

c. Cari sumber infeksi saluran pernafasan atas (ISPA: luka tenggorok,


kongesti nasal, bersin, demam ringan).

d. Pemeriksaan diagnostik:
1) JDL menunjukkan peningkatan sel darah putih, pada pneumonia
karena pneumokokus, legionella, klebsiella, stafilokokus dan hemophylus
influenza dan akan normal pada pasien dengan pneumonia viral dan pneumonia
mikoplasma.
2) Sinar X menunjukkan konsolidasi lobar pada psien dnegan
pneumonia pneumokokus, legionella, klebsiella dan pneumonia hemophylus
influenza. Pada pneumonia mikoplasma, viral dan stafilokokus akan terlihat
infiltrat kemerahan.
3) Kultur spuutm menunjukkan adanya bakteri tapi pada pneumonia
viral negatif.
4) Kultur darah akan positif jika pneumonia didapat dari penularan
hematogen (staphylokokus aureus).
5) Pewarnaan gram positif jika infeksi disebabkan oleh bakteri gram
negatif atau gram positif.
6) Aglutinin dingin dan fiksasi komplemen dilakukan untuk
pemeriksaan viral.
7) Analisa gas darah arteri menunjukkan hipoksemia (PaO2 kurang
dari 80 mmHg) dan kemungkinan hipokapnia (PaCO2 kurang dari 35 mmHg).
8) Pemeriksaan fungsi paru-paru menunjukkan penurunan kapasitas
vital kuat (KVK).
9) Bronkoskopi.

e. Kaji respons emosional terhadap kondisinya.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kerusakan pertukaran gas b/d pneumonia.
b. Resiko kekurangan volume cairan b/d demam, diaforesis dan masukan
oral sekunder terhadap proses pneumonia.
c. Intolerans aktifitas b/d kerusakan pertukaran gas sekunder terhadap
pneumonia.
d. Perubahan kenyamanan: nyeri dada pleuritik dan demam b/d pneumonia.
e. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan
metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam.

3. RENCANA INTERVENSI
a. Kerusakan pertukaran gas b/d pneumonia.
Batasan karakteristik: batuk produktif menetap,nafas cepat, sesak nafas, rales, analisa
gas darah menunjukkan hasil tidak normal, warna kulit sianosis atau keabua-
abuan, bunyi nafas tidak normal, pemeriksaan fungsi paru, volume tidal
rendah.
Hasil pasien (kolaboratif): mendemostrasikan perbaikan ventilasi.
Kriteria evaluasi: bunyi nafas jelas, analisa gas darah dalam batas-batas normal,
frekuensi nafas 12-24 per menit, frekuensi nadi 60-100 kali/menit, tidak ada
batuk, meningkatnya volume inspirasi pada spirometer insentif.
Intervensi Rasional
  Mengid
Pantau:status pernafasan @ 8 entifikasi kemajuan atau penyimpangan
jam, tanda vital@4 jam, hasil dari hasil yang diharapkan.
analisa gas darah, foto
rontgen, pemeriksaan fungsi
paru-paru.  Ekspek
 toran membantu mengencerkan sekresi
Berikan ekspektoran sesuai sehingga sekresi dapat keluar pada sat
dnegan anjuran dan evaluasi batuk.
keefektifannya.  Memba
 ntu mengeluarkan sekresi. Cairan juga
Doorng pasien untuk minum untuk membnatu mengalirkan obat-obatan
minimal 2-3 liter cairan per di dalam tubuh.
hari.  Penghis
apan membersihkan jalan nafas.

Lkaukan penghisapan jika
pasien menderita kongesti
paru tetapi refleks batuk tidak
baik atau terjadi penurunan  Nikotin
kesadaran. dapat menyebabkan penyempitan.

Doorng pasien untuk berhenti  Posisi
merokok. tegak lurus memungkinkan ekspansi paru
 lebih penuh dengan cara menurunkan
Pertahankan posisi fowler atau tekanan abdomen pada diagfragma.
semi fowler.  Pember
ian oksigen tambhan dapat menurunkan
 kerja pernafasan dengan menyediakan
Berikan oksigen tambahan lebih bnayak oksigen untuk dikirim ke
sesuai dnegna anjuran, sel, walaupun konsentrasi oksigen yang
sesuaikan kecepatan aliran lebih tinggi dapat dilairkan mellaui
dengan hasil analisa gas masker oksigen, namun hal tersebut
darah. seringkali mencetuskan perasaan
terancam bagi pasien, khususnya pada
pasien dnegan distres pernafasan.
 Mence
gah penyebaran penyakit.


Ikuit prosedur pencegahan
secara umum atau
pencegahan khusus
(menggunakan masker untuk
penceghaan penularan
melalui pernafasan,  Pasien
menggunakna sarung tangan cenderung melakukan ekspnasi toraks
bila menangani sekresi terbatas untuk mengontrol nyeri pleuritik.
tubuh/darah). Ekspansi toraks yang terbatas dapat
 menunjang terjadinya hipoventilasi dan
Pertahankan kontrol nyeri yang atelektasis.
adekuat, jika pasien secara
verbal menyatakan sakit pada  Nafas
pleura (nyeri pleuritik) dalam dapat mengembangkan alveolus
khususnya sebelum latihan dan mencegah atelektasis. Spirometer
tarik nafas dalam. insentif dapat membantu meningkatkan
 nafa sdalam dan memungkinkan ukuran
Doorng paisen untuk yang objektif terhadap kemajuan pasien.
melakukan nafas dalam tiap 2
jam seklai dengan
menggunakan spirometer
insentif dan catat
perkembangannya.

b. Resiko kekurangan volume cairan b/d demam, diaforesis dan masukan


oral sekunder terhadap proses pneumonia.
Batasan karakteristik: menyatakan haus, hipernatremia, mukosa membran kering,
urine kental, turgor buruk, berta badan berkurang tiap hari, frekuensi nadi
lemah, tekanan darah menurun.
Hasil pasien: mendemonstarsikan perbaikan status cairan dan elektrolit.
Kriteria evaluasi: haluaran urine lebih besar dari 30 ml/jam, berta jenis urine 1,005-
1,025, natrium serum dalam batas normal, mukosa membran lembab, turgor
kulit baik, tidak ada penurunan berta badan, tidak mengeluh kehausan.
Intervensi Rasional
  Mengid
Pantau: masukan dan haluaran entifikasi kemajuan atau penyimpangan
setiap 8 jam, timbang BB tiap dari sasaran yang diharapkan.
hari, hasil pemeriksaan
analisa urine dan elektrolit
serum, kondisi kulit dan
mukosa membran tiap hari.
  Selama
Berikan terapi intravena sesuai fase akut, paisen sering terlalu lemah dan
dnegna anjuran dan berikan sesak, unutk meminum cairan per oral
dosis pemeliharaan dan secara adekuat dan untuk
tindakan-tindakan mempertahankan hidrasi yang adekuat.
pencegahan. Jika ada demam maka kebuuthna cairan
akan meningkat, karena jika demam
kehilangan cairan akan meningkat, sebab:
keringat yang berlebihan, yang terjadi jika
demam membaik; meningkatnya
penguapan yang terjadi karena
vasodilatasi perifer, hal tersebut terjadi
sebagai mekanisme kompensasi yang
digunakan oleh tubuh untuk
mengeluarkan panas.
  Cairan
Berikan caran per oral membantu distribusi obat-obatan dalam
sekurang-kurangnya tiap 2 tubuh, serta membantu menurunkan
jam sekali. Dorong pasien demam. Cairan bening membnatu
untuk minum cairan yang mencairkan mukus, kalori mambantu
bening dan mengandung mennaggulangi kehilangan BB.
kalori.  Ini
 merupakan tanda-tanda kebuuthan cairan
Lapor dokter jika ada tanda- yang meningkat atau mulai timbulnya
tanda kekurangan cairan komplikasi.
menetap atau bertambah
berat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid I,


Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
2. Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
3. Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume I, Penerbit
Buku Kedoketran EGC, Jakarta.
4. Jan Tambayonmg (2000), Patofisiologi Unutk Keperawatan, Penerbit Buku Kedoketran
EGC, Jakarta.
5. Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3, Penerbit Buku
Kedoketran EGC, Jakarta.
6. Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku
2, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta
7. Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku
Kedoketran EGC, Jakarta