Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

ASMA BRONCHIALE

A. DEFINISI
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea
dan bronchi berspon dalam secaa hiperaktif terhadap stimuli tertentu.
( Smeltzer, C . Suzanne, 2002, hal 611)

B. PENYEBAB
1. Alergen ; makanan, debu rumah, bulu binatang
2. Infeksi : virus, bakteri, jamur, parasit
3. Iritan : minyak wangi, asap rokok, polutan udara, bau tajam
4. Cuaca : perubahan tekanan udara, suhu, amgin, dan kelembaban udara
Faktor pencetus:
1. Kegiatan jasmani : kegiatan jasmani yang berat seperti: berlari, naik sepeda
2. Psikologis seperti stress
( Ngastiyah, 1997, hal 67-68)
C. PATOFISIOLOGI
Alergen masuk kedalam tubuh, kemudian allergen ini akan merangsang
sel B untuk menghasilkan sat anti. Karena terjadi penyimpangan dalam system
pertahanan tubuh maka terbentuklah imoglobulin E (Ig. E).Pada penderita alergi
sangat mudah memprouksi Ig. E. dan selai beredar didalam daerah juga akan
menempel pada permukaan basofil dan mastosit.Mastosit ini amat penting dalam
peranannya dalam reaksi alergi terutama terhadap jaringan saluan nafas, saluran
cerna dan kulit.
Bila suatu saat penderita berhubungan dengan allergen lagi, maka allergen
akan berikatan dengan Ig.E yang menempel pada mastosit, dan selanjutnya sel ini
mengeluarkan sat kimia yang di sebut mediator ke jaringan sekitarnya. Mediator
yang dilepas di sekitar rongga hidung akan menyebabkan bersin – bersin dan pilek.
Sedangkan mediator yang dilepas pada saluran nafas akan menyebabkan saluran
nafas mnengkerut, produksi lendir meningkat, selaput lendir saluran nafas
membengkak dan sel – sel peradangan berkumpul di sekitar saluran nafas.
Komponen – komponen itu menyebabkan penyimpitan saluran nafas.

D. TANDA DAN GEJALA


3. Stadium dini
Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
 Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
 Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul
 Whezing belum ada
 Belum ada kelainan bentuk thorak
 Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
 BGA belum patologis
Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan
 Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
 Whezing
 Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
 Penurunan tekanan parsial O2
4.Stadium lanjut/kronik
 Batuk, ronchi
 Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan
 Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
 Suara nafas melemah bahkan tak terdengan (silent Chest)
 Thorak seperti barel chest
 Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
 Sianosis
 BGA Pa o2 kurang dari 80%
 Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri
 Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik
(Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)

E. PENATALAKSANAAN
1. Oksigen 4 – 6 liter / menit
2. Agonis B2 ( salbutamol 5 mg atau feneterol 2,5 mg atau terbulatin 10 mg )
intalasi nebulasi dan pemberiannya dapa diulang setiap 20 menit sampai 1
jam. Pemberian agonis B2 dapat secara subcutan atau iv dengan dosis
salbutamol 0,25 mg atau terbulatin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5 % dan
diberikan perlahan.
3. Aminofilin bolus iv 5 – 6 mg / kg BB, jika sudah menggunakan obat ini
dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.
4. Kortikosteroid hidrokortison 100 – 200 mg iv jika tak ada respon segera
atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat
berat.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
5. Spirometri
6. Pemeriksaan sputum
7. Pemeriksaaan eosinofil total
8. Uji kulit
9. Pemeriksaan kadar Ig E total dan Ig E specifik dalam sputum
10. Foto thorak
11. AGD

G. FOKUS PENGKAJIAN
2. PENGKAJIAN PRIMER
 Airway
Krekels, ronkhi, batuk keras, kering/produktif
Penggunaan otot –otot aksesoris pernapasan ( retraksi interkosta)
 Breathing
Perpanjangan ekspirasi , mengi, perpendekan periode inspirasi, sesak
napfas, hipoksia
 Circulation
Hipotensi, diaforesis, sianosis, pulsus paradoxus > 10 mm

3. PENGKAJIAN SEKUNDER
 Riwayat penyakit sebelumnya
Alergi, batuk pilek, menderita penyakit infeksi saluran nafas bagian atas
 Riwayat perawatan keluarga
Adakah riwayat penyakit asma pada keluarga
 Riwayat sosial ekonomi
Jenis pekerjaan dan waktu luang, jenis makanan yang berhubungan
dengan alergen, hewan piaraan, lingkungan tempat tinggal dan stressor
emosi

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL


4. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b. d bronkospasme, peningkatan
produksi sekret, sektet kental
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif
KH:
 Bunyi nafas bersih
 Batuk efektif/mengeluarkan dahak
Intervensi:
 Ausultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas tambahan misalnya:
mengi, krekel, ronchi
 Kaji frekuensi dispnea: gelisah, ansietas distress pernapasan, penggunan
otot bantu
 Beri klien posisi yang nyaman misalnya peninggian empat tidur, duduk
(fowler)
 Pertahankan/ bantu batuk efektif
 Observasi karakteristik batuk
 Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari dan berikan air hangat
 Berikan obat sesuai indikasi
 Kolaborasi pengambilan bahan lab : Hb, Ht, leukosit, foto thorak

5. Kerusakan pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen, kerusakan


alveoli
Tujuan: pertukaran gas efektif dan adekuat
KH:
 Menunjukkan perbaikan ventilasi : RR 18-20 x/menit
 Perbaikan oksigenasi : sianosis (-), gelisah (-)
Intervensi:
 kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, catat penggunaan otot aksesoris,
ketidakmampuan berbincang –bincang
 Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien memilih posisi yang mudah
untuk bernafas, dorong nafas dengan pelan
 Dorong pengeluaran sputum ; batuk efektif
 Auskultasi bunyi nafas
 Acuan status mental/kesadaran
 Evaluasi tingkat toleransi terhadap aktivitas

6. Cemas b.d krisis situasi


Tujuan : cemas berkurang/ hilang
KH:
 Klien tampak rileks
 Klien menyatakansesak berkurang
 Tanda – tanda vital normal

Intervensi;
 Kaji tingkat kecemasan klien
 Observasi respon non verbal (gelisah)
 Ukur tanda-tanda vital
 Dengarkan keluhan klien dengan empati
 Jelaskan informasi yang diperlukan klien tentang penyakitnya, perawatan
dan pengobatannya
 Ajarkan klien tehnik relaksasi (memejamkan mata, menarik nafas
panjang)
 Menganjurkan klien untuk istirahat (Dongoes, 2000)
DAFTAR PUSTAKA

Halim Danukusantoso, Buku Saku Ilmu Penyakit Paru, Jakarta, Penerbit Hipokrates ,
2000

Smeltzer, C . Suzanne,dkk, Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 1.


Jakarta , EGC, 2002

Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Jakarta, EGC, 1997

Hudak & Gallo, Keperawatan Kritis, Edisi VI,Vol I, Jakarta, EGC, 2001

Marilynn E. Dongoes, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan , Jakarta, EGC, 2000


PATHWAYS ASMA BRONCHIALE
Intrinsik (infeksi, psikososial, stress)

Ekstinsik (inhaled
alergi)

Penurunan stimuli reseptor


terhadap iritan pd tracheobronchial
Bronchial mukosa menjadi
sensitif oleh Ig E

Hiperaktif non specifik stimuli


Peningk mast cell pd
penggerak dari cell mast
tracheobronchial

Stimulasi reflek Pelepasan histamin


Perangsang reflek reseptor
reseptor syarat tjd stimulasi pd
tracheobronchial
parasimpatis pd bronkial smooth shg
mukosa bronchial tjd kontraksi bronkus

Peningk permiabilitas
Stimuli bronchial smooth +
vaskuler akibat
kontraksi otot bronchiolus
kebocoran protein +
cairan dlm jar

Perubahan jaringan, pening Ig E dalam serum

Respon dinding bronkus

bronkospasme Udema mukosa Hipersekresi mukosa

Bronkus menyempit
whezing Penumpukan sekret
kental
Gg
pertukar Ventilasi terganggu
Gg pola an gas Sekret tak keluar
nps

Tdk
hiperkapnea Suplai o2 Supai O2
Bernapas efektifnya
jar
Gg perfusi ke otak
koma Keringnya
Resiko infeksi Batuk tdk
mlll mulut jefektif
alan nps
cemas
gelisah
hipoksemia menurun
jaringan menurun mukosa