Anda di halaman 1dari 5

1A.

ANATOMI TELINGA LUAR DALAM

Telinga merupakan alat indera yang peka terhadap rangsangan berupa gelombang
suara. Telinga manusia mampu mendengar suara dengan frekuensi antara 20- 20.000 Hz.
Selain sebagai alat pendengaran, telinga juga berfungsi menjaga keseimbangan tubuh
manusia. Telinga manusia terdiri dari tiga bagian yaitu bagian luar, bagian tengah, dan
bagian dalam. Telinga luar sendiri terbagi atas daun telinga, liang telinga dan bagian
lateral dari membran timpani. Daun telinga dibentuk oleh tulang rawan dan otot serta
ditutupi oleh kulit. Ke arah liang telinga lapisan tulang rawan berbentuk corong menutupi
hampir sepertiga lateral, dua pertiga lainnya liang telinga dibentuk oleh tulang yang
ditutupi kulit yang melekat erat dan berhubungan dengan membran timpani. Bentuk daun
telinga dengan berbagai tonjolan dan cekungan serta bentuk liang telinga yang lurus
dengan panjang sekitar 2,5 cm, akan menyebabkan terjadinya resonansi bunyi sebesar
3500 Hz.
Telinga tengah berbentuk seperti kubah dengan enam sisi. Telinga tengah terbagi
atas tiga bagian dari atas ke bawah, yaitu epitimpanum terletak di atas dari batas atas
membran timpani, mesotimpanum disebut juga kavum timpani terletak medial dari
membran timpani dan hipotimpanum terletak kaudal dari membran. Organ konduksi di
dalam telinga tengah ialah membran timpani, rangkaian tulang pendengaran, ligamentum
penunjang, tingkap lonjong dan tingkap bundar. Kontraksi otot tensor timpani akan
menarik manubrium maleus ke arah anteromedial, mengakibatkan membran timpani
bergerak ke arah dalam, sehingga besar energi suara yang masuk dibatasi. Fungsi dari
telinga tengah akan meneruskan energi akustik yang berasal dari telinga luar ke dalam
koklea yang berisi cairan. Sebelum memasuki koklea bunyi akan diamplifikasi melalui
perbedaan ukuran membran timpani dan tingkap lonjong, daya ungkit tulang
pendengaran dan bentuk spesifik dari membran timpani. Meskipun bunyi yang diteruskan
ke dalam koklea mengalami amplifikasi yang cukup besar, namun efisiensi energi dan
kemurnian bunyi tidak mengalami distorsi walaupun intensitas bunyi yang diterima
sampai 130 dB.
Telinga dalam terdiri dari organ kesimbangan dan organ pendengaran. Telinga
dalam terletak di pars petrosus os temporalis dan disebut labirin karena bentuknya yang
kompleks. Telinga dalam pada waktu lahir bentuknya sudah sempurna dan hanya
mengalami pembesaran seiring dengan pertumbuhan tulang temporal. Telinga dalam
terdiri dari dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin membranosa. Labirin tulang
merupakan susunan ruangan yang terdapat dalam pars petrosa os temporalis (ruang

perilimfatik) dan merupakan salah satu tulang terkeras. Labirin tulang terdiri dari
vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea.

Gambar. Anatomi Telinga

SUMBER: Tortora, GJ, Derrickson, B. 2012. Principles of Anatomy & Physiology 13th Edition.
United States of America: John Wiley & Sons, Inc.

6A. ETIOLOGI KNF

Meskipun banyak ditemukan di negara dengan penduduk non Mongoloid, namun


demikian daerah Cina bagian selatan masih menduduki tempat tertinggi. Ras Mongoloid
merupakn faktor dominan timbulnya kanker nasofaring, sehingga kekerapannya cukup tinggi
pada penduduk Cina Selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan
Indonesia.

Ditemukan pula banyak kasus di Yunani, Afrika Utara, orang Eskimo yang diduga
penyebabnya adalah karena makan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan
menggunakan bahan pengawet nitrosamin.

Sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah Virus
Epstein-Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EB yang cukup
tinggi. Titer ini lebih tinggi dari titer orang sehat, pasien tumor organ tubuh lainnya, bahkan pada
kelainan nasofaring yang lain sekalipun.

Tumor ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dan apa sebabnya belum dapat
diungkapkan dengan pasti. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi oleh bahan kimia,
asap sejenis kayu tertentu, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, dan
kebiasaan makan makanan terlalu panas. Terdapat hubungan antara kadar nikel dalam air minum
dan makanan dengan mortalitas karsinoma nasofaring, sedangkan adanya hubungan dengan
keganasan lain tidak jelas. Kebiasaan penduduk Eskimo memkan makanan yang diawetkan
(daging dan ikan) terutama pada musim dingin menyebabkan tingginya kejadian karsinoma ini.

SUMBER: Iskandar, N., Soepardi, E., & Bashiruddin, J., et al (ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.

6I. GAMBARAN HISTOPATOLOGI KNF

Telah disetujui WHO bahwa hanya ada 3 bentuk karsinoma (epidermoid) pada nasofaring
yaitu karsinoma sel skuamosa (berkeratinisasi), karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma
tidak berdiferensiasi. Semua yang kita kenal selama ini dengan limfoepitelioma, sel transisional,
sel spindle, sel clear, anaplastik dan lain-lain dimasukkan dalam kelompok tidak berdiferensiasi.

Pada penelitian di Malaysia oleh Prathap dkk sering didapat kombinasi dari ketiga jenis
karsinoma seperti karsinoma sel skuamosa dan karsinoma tidak berkeratinisasi, karsinoma sel
skuamosa dan karsinoma tidak berdiferensiasi, karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma
tidak berdiferensiasi, atau karsinoma sel skuamosa dan karsinoma tidak berkeratinisasi serta
karsinoma tidak berdiferensiasi.

SUMBER: Iskandar, N., Soepardi, E., & Bashiruddin, J., et al (ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.

6M. PENCEGAHAN KNF

Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko tinggi.
Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah dengan resiko tinggi ke tempat lainnya.
Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan untuk
mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya, penyuluhan mengenai
lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan social-ekonomi dan berbagai hal yang
berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologic IgA-anti
VCS dan IgA anti EA secara masala di masa yang akan dating bermanfaat dalam menemukan
karsinoma nasofaring secara lebih dini.

SUMBER: Iskandar, N., Soepardi, E., & Bashiruddin, J., et al (ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.

10C. PEMFIS TENGGOROKAN

Pemeriksaan Faring dan Rongga Mulut

Dengan lampu kepala yang diarahkan ke rongga mulut, dilihat keadaan bibir, mukosa,
rongga mulut, lidah, dan gerakan lidah. Dengan menekan bagian tengah lidah memakai spatula
lidah maka bagian-bagian rongga mulut lebih jelas terlihat. Pemeriksaan dimulai dengan melihat
keadaan dinding belakang faring serta kelenjar limfanya, uvula, arkus faring serta gerakannya,
tonsil, mukosa pipi, gusi dan gigi geligi.

Palpasi rongga mulut diperlukan bila ada massa tumor, kista, dan lain-lain. Apakah ada
rasa nyeri di sendi temporo mandibula ketika membuka mulut.

Pemeriksaan Hipofaring dan Laring


Pasien duduk lurus agak condong ke depan dengan leher agak fleksi. Kaca laring
dihangatkan dengan api lampu spiritus agar tidak terjadi kondensasi uap air pada kaca waktu
dimasukkan ke dalam mulut. Sebelum dimasukkan ke dalam mulut kaca yang sudah dihangatkan
itu dicoba dulu pada kulit tangan kiri apakah tidak terlalu panas. Pasien diminta membuka mulut
dan menjulurkan lidahnya sejauh mungkin. Lidah dipegang dengan tangan kiri memakai kain
kasa dan ditarik keluar dengan hati-hati sehingga pangkal lidah tidak menghalangi pandangan
kea rah laring. Kemudian kaca laring dimasukkan ke dalam mulut dengan arah kaca bawah,
bersandar pada uvula dan palatum mole. Melalui kaca dapat terlihat hipofaring dan laring. Bila
laring belum terlihat jelas penarikan lidah dapat ditambahn sehingga pangkal lidah lebih ke
depan dan epiglottis lebih terangkat.

Untuk menilai gerakan pita suara aduksi pasien diminta mengucapkan “iiii”, sedangkan
untuk menilai gerakan pita suara abduksi dan melihat daerah subglotik pasien diminta untuk
inspirasi dalam.

Pemeriksaan laring dengan menggunakan kaca laring disebut laringoskopi tidak


langsung. Pemeriksaan laring juga dapat dilakukan dengan menggunakan teleskop dan monitor
video atau dengan secara langsung memakai alat laringoskopi. Bila pasien sangat sensitive
sehingga pemeriksaan ini sulit dilakukan, maka dapat diberiksan obat anastesi silokain yang
disemprotkan ke bibir, rongga mulut, dan lidah.

SUMBER: Iskandar, N., Soepardi, E., & Bashiruddin, J., et al (ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi ke6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.