Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Qira’at al-Qur’an disampaikan serta diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW. kepada para sahabatnya sesuai dengan wahyu yang diterimanya dari
malaikat Jibril. Selanjutnya para sahabat menyampaikan dan mengajarkan kepada
para tabi’in dan para tabi’in pun menyampaikan serta mengajarkannya kepada
para tabi’ tabi’in dan demikian seterusnya dari generasi ke genarisi berikutnya.
Qira’at al-Qur’an yang dikenal dan dipelajari oleh kaum muslimin sejak zaman
Nabi hingga sekarang ternyata tidak hanya satu macam versi qira’at sebagaimana
yang terbaca dalam mushaf yang dimiliki umat Islam sekarang.
Qira’at memiliki berabagi versi qira’at lain yang juga bersumber dari Nabi
Muhammad SAW. Sehinggga permasalahan perbedaan qira’at ini menjadi
pembicaraan sebagian masyarakat Islam.Berbagai macam cara baca al-Quran
diajarkan kepada masyarakat Islam sahabat-sahabat besar seperti Abdullah bin
Masud, Ubai bin Ka’ab, Abu Darda’, dan Zaid bin Tsabit adalah generasi
pertama. Abdullah bin Abbas, Abdul Aswad Dualli, Al-Qomah bin Qois,
Abdullah bin Said, Aswad bin Yazid, Abu Abdirrahman Sulami dan Masruq bin
Ajda’ adalah generasi kedua. Hingga kemudian mereka melahirkan generasi
ketiga sampai kedelapan. Sejak saat itulah penyusunan qira’at dimulai dan setelah
itu tujuh orang qari’ ditentukan
Qira’at merupakan cabang ilmu tersendiri dalam ulum al-Qur’an. Tidak
banyak orang yang tertarik dengan ilmu qira’at hal itu dikarenakan ilmu ini
memang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan dan muamalah manusia
sehari-hari tidak seperti ilmu fiqih, hadits, dan tafsir. Ilmu Qira’at tidak
mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan halal-haram atau hukum-
hukum tertentu. Namun, ilmu qira’at mempelajari manhaj (cara, metode) masing-
masing imam qurra’ sab’ah atau ‘asyaroh dalam membaca al-Qur’an.
Dalam kita membaca al-Qur’an dalam satu qira’at diperlukan penguasaan
cara membaca al-Qur’an dan penguasaan dalam pengucapan lafadz-lafadz tertentu
dalam al-Qur’an secara bersamaan. Karen jika hanya menguasai salah satunya
saja kemudian membaca al-Qur’an dengan Qira’at tertentu akan kacau jadinya.
Biasanya orang yang membaca dengan qira’at syaratnya harus berguru langsung
dengan syeikh qira’at untuk menghindari terjadinya kesalahan.

B. Rumusan Masalah
a. Pengertian Qira’at Al-Qur’an
b. Latar belakang timbulnya perbedaan Qira’at dan macam Qira’at Al-Qur’an
c. Kriteria Qira’at yang di terima dan di tolak
d. Urgensi mempelajari Qira’at dan pengaruhnya dalam Istinbath Hukum

C. Tujuan Penulisan
Sebagai bentuk pengetahuan tentang qira’at dalam al-qur’an dan mengetahui
macam-macam serta pengaruh qira’at dalam huku islam.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Qira’at Al-Qur’an


Qira’at adalah bentuk jamak dari kata qira’ah yang secara bahasa berarti
bacaan1. Jadi, lafal qiro’at secara lughawi berarti beberapa pembacaan. Secara
istilah ada beberapa pendapat tentang definisi tersebut, yaitu2:
a. Menurut Az-Zarqani, qira’at adalah suatu mazhab yang dianut oleh seorang
imam yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur’an al
karim serta disepakati riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan dalam
pengucapan huruf maupun dalam pengucapan lafalnya.
Definisi ini mengandung tiga unsure pokok. Pertama qira’at dimaksud
menyangkut bacaan ayat-ayat. Kedua cara bacaan yang dianut dalam dalam
satu mazhab qira’at didasarkan atas riwayat dan bukan atas qiyas dan
ijtihad. Ketiga perbedaan qira’at bias terjadi dalam pelafalan huruf dan
dalam berbagai keadaan. Ini sesuai dengan hadis nabi SAW. yang artinya:
“sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf (cara bacanya)
maka bacalah (menurut) makna yang engkau anggap mudah”
b. Menurut Ibnu Al-Jazari, qira’at adalah pengetahuan tentang cara-cara
melafalkan kalimat-kalimat al-Qur’an denganmembangsakan kepada
penukilnya.

Pertanyaan : dari Riska Amalia


1. Apa Pengertian dari qiraat Mansyur dan qiraat Syadz ?

Jawab :

1
Mukhtar, Naqiyah. 2013. Ulumul Qur’an. Purwokerto: STAIN Press, hlm. 49.
Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i. 2008. Ulumul Qur’an 1. Bandung: Pustaka Setia, hlm.
2

224-225.
- Qiraat mansyur adalah qiraat yang memiliki sanad sahih, tetapi tidak
smapai pada kualitas muttawatir, sesuai kaidah bahasa Arab dan tulisan
mushaf utsmani, mansyur dikkalangan qurra
- Qiraat Syadz adalah Qiraat yang sanadnya tidak shahih. telah banyak kitab
yang ditulis untuk jenis qiraat ini.

Pertanyaan Dari Mutia Rahmah


2. Bagaimana sejarah perkembangan Qiraat al-Quran ?
Jawab :

B. Latar belakang timbulnya perbedaan Qira’at dan macam-macam Qira’at


Al-qur’an memiliki makna sebagai bacaan, namun dalam perihal membaca
al-qur’an ini memiliki kesukaran pada setiap pembaca dalam keadaan. Dengan
demikian timbulah ilmu qira’at yang mana qira’at sebenarnya telah muncul
semenjak Nabi SAW masih ada walaupun tentu saja pada saat itu qira’at bukan
merupakan sebuah disiplin ilmu. Ada beberapa riwayat yang dapat mendukung
asumsi diatas :
1. Suatu ketika ’Umar bin Al-Khaththab berbeda pendapat dengan Hisyam
bin Hakim ketika membaca ayat al-Qur’an. ’Umar tidak puas terhaap
bacaan Hisyam sewaktu ia membaca surat Al-Furqan. Menurut ’Umar,
bacaan Hisyam tidak benar dan bertentangan dengan apa yang diajarkan
Nabi kepadanya. Namun, Hisyam menegaskan pula bahwa bacaannya juga
berasal dari Nabi. Seusai shalat, Hisyam diajak menghadap Nabi seraya
melaporkan peristiwa diatas. Nabi menyuruh Hisyam mengulangi
bacaannya sewaktu shalat tadi. Setelah Hisyam melakukannya, Nabi
bersabda :”Memang begitulah Al-Qur’an diturunkan, Sesungguhnya al-
Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian apa
yang kalian anggap mudah dari tujuh huruf itu”
2. Di dalam riwayatnya, Ubai pernah bercerita : ”Saya masuk ke Masjid
untuk mengerjakan shalat, kemudian datanglah seseorang dan membaca
surat An-Nahl, tetapi bacaannya berbeda dengan bacaan saya. Setelah
selesai, saya bertanya, ”Siapakah yang membacakan ayat itu kepadamu?”
Ia menjawab, ”Rasulullah SAW”. Kemudian, datanglah seseorang yang
mengerjakan shalat dengan membaca permulaan surat An-Nahl [16], tetapi
bacaannya berbeda dengan bacaan saya dan bacaan teman tadi. Setelah
shalatnya selesai, saya bertanya,” Siapakah yang membacakan ayat itu
kepadamu ? ”Ia menjawab, ”Rasulullah SAW”. Kedua orang itu lalu saya
ajak menghadap Nabi. Setelah saya sampaikan masalah ini kepada Nabi,
beliau meminta salah satu dari kedua orang itu membacakannya lagi surat
itu. Setelah bacaannya selesai, Nabi bersabda, Baik. Kemudian, Nabi
meminta kepada yang lain agar melakukan hal yang sama. Dan Nabi pun
menjawabnya baik”.
Selanjutnya periodesasi qurra’ adalah sejak zaman sahabat sampai dengan
masa tabi’in. Orang-orang yang menguasai Al-Qur’an ialah yang menerimanya
dari orang-orang yang dipercaya dan dari imam ke imam yang akhirnya berasal
dari Nabi. Sedangkan mushaf-mushaf tersebut tidaklah bertitik dan berbaris, dan
bentuk kalimat didalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan.
Kalau tidak, maka kalimat itu harus ditulis pada mushaf dengan satu wajah yang
lain dan begitulah seterusnya. Tidaklah diragukan lagi bahwa penguasaan tentang
riwayat dan penerimaan merupakan pedoman dasar dalam bab qira’ah dan Al-
Qur’an. Kalangan sahabat sendiri dalam pengambilannya dari Rasul
menggunakan sara berbeda-beda. Ada yang membaca dengan satu huruf. Bahkan,
ada yang lebih dari itu. Kemudian mereka tersebar keseluruh penjuru daerah.
Kebijakan Abu Bakar Siddiq yang tidak mau memusnahkan mushaf-
mushaf lain selain yang telah disusun Zaib bin Tsabit, seperti mushaf yang
dimiliki Ibn Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, Miqdad bin amar, Ubay bin Ka’ab,
dan Ali bin Abi Thalib, mempunyai andil besar dalam kemunculan qiraat yang
kian beragam. Perlu dicatat bahwa mushaf-mushaf itu tidak berbeda dengan yang
disusun Zaid bin Tsabit dan kawan-kawannya, kecualai pada dua hal saja, yaitu
kronologi surat dan sebagian bacaan yang merupakan penafsiran yang ditulis
dengan lahjah tersendiri karena mushaf-mushaf itu merupakan catatan pribadi
mereka masing-masing.
Adanya mushaf-mushaf itu disertai dengan penyebaran para qari’ ke
berbagai penjuru, pada gilirannya melahirkan sesuatu yang tidak diinginkan, yakni
timbulnya qiraat yang semakin beragam. Lebih-lebih setelah terjadinya
transformasi bahasa dan akulturasi akibat bersentuhan dengan bangsa-bangsa
bukan Arabin sehingga pada akhirnya perbedaan qiraat itu sudah pada kondisi
sebagaimana yang disaksikan Hudzaifah Al-Yamamah dan yang kemudian
dilaporkannya kepada ’Utsman.
Ketika mengirim mushaf-mushaf keseluruh penjuru kota, khalifah
Utsman r.a. mengirimkan pula para sahabat yang memiliki cara membaca
tersendiri dengan masing-masing mushaf yang diturunkan. Setelah para sahabat
berpencar keseluruh daerah dengan bacaan yang berbeda itu, para tabi’in
mengikuti mereka dalam hal bacaan yang dibawa oleh para sahabat tersebut.
Dengan demikian, beraneka-ragamlah pengambilan para tabi’in, sehingga masalah
ini menimbulkan imam-imam Qari’ yang masyhur yang berkecimpung
didalamnya, dan mencurahkan segalanya untuk qiraat dengan memberi tanda-
tanda serta menyebarluaskannya.
Tatkala para qori pada masa tabi’iin yaitu pada awal abad II H tersebar ke
berbagai pelosok. Mereka lebih suka mengemukakan qira’at gurunya daripada
mengikuti qiraat imam-imam lainnya. Qira’at-qira’at tersebut diajarkan turun-
temurun dari guru ke guru, sehingga sampai kepada imam-imam qira’at, baik
yang tujuh, sepuluh, atau yang empat belas.
Imam-Imam qira’at bekerja keras sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya sehingga bisa membedakan antara bacaan yang benar dan yang
salah. Mereka mengumpulkan qira’at, mengembangkan wajah-wajah dandirayah.
Sesudah itu para Imam menyusun kitab-kitab mengenai qira’at. Orang pertama
kali menyusun qira’atdalam satu kitab adalah Abu Ubaidillah al-Qasim bin
Salam3. Ia telah mengumpulkan qiraat sebanyak kurang lebih 25 Macam.

3
Khalil al-Qattan, Manna. 2013. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera
AntarNusa, hal. 250
Kemudian menyusul imam-imam lainnya. Diantara mereka, ada yang menetapkan
20 macam. Ada pula yang menetapkan dibawah bilangan itu. Persoalan qiro’at
terus berkembang sampai masa Abu Bakar Ahmad bin Abbas bin Mujahid yang
terkenal dengan nama ibn Mujahid. Dialah orang yang meringkas menjadi tujuh
macam qira’at yang disesuai dengan tujuh imam qori’. Berkat jasanya dapat
diketahui mana qira’at yang dapat diterima dan mana yang ditolak.
Di dalam ilmu qira’at ada macam-macamnya ,dilihat dari segi kuantitas
qira’at terbagi menjadi tiga macam yaitu4:
a. Qira’at sab’ah (qir’at tujuh) adalah imam-imam qira’at yang tujuh yakni
Abdullah bin Katsir Ad-Dari, Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Na’im,
Abdullah Al-Yahshibi, Abu ‘Amar, Ya’qub (nama lengkapnya Ibn Ishak
Al-Hadhrami), Hamzah, dan Ashim.
b. Qira’at ‘Asyarah (qira’at sepuluh) adalah qira’at tujuh yang telah
disebutkan di atas ditambah lagi dengan tiga imam qira’at berikut yakni
Abu Ja’far, Ya’qub bin Ishaq bin Yazid bin ‘Abdullah bin Abu
Ishaq Al-Hadhrami Al-Basri, dan Khallaf bin Hisam.
c. Qira’at Arba’at Asyarah (qira’at empat belas) adalah qira’at sepuluh yang
telah disebutkan diatas di tambah dengan empat imam qira’at berikut
yakni Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin ‘Abdirrahman (dikenal dengan
Ibn Mahishan), Yahya’ bin Al-Mubarak Al-Yazidi An-Nahwi Al-
Baghdadi, dan Abu Al-Farj Muhammad bin Ahmad Asy-Syanbudz.
As-Suyuti mengutip Ibnu Al-Jazari yang mengelompokkan Qira’at berdasarkan
sanad terbagi menjadi enam macam yaitu5:
1. Qira’ah Mutawatir yakni qiraa’at yang diriwayatkan oleh sejumlah besar
perawi yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta, sanadnya bersambung

4
Mukhtar, Naqiyah. 2013. Ulumul Qur’an. Purwokerto: STAIN Press, hal. 63

5
Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i. 2008. Ulumul Qur’an 1. Bandung:
Pustaka Setia, hal. 228
hingga penghabisan yakni sampai kepada Rasululllah saw. inilah yang
umum dalam hal qira’at.
2. Qira’ah Masyhur yakni qira’at yang memiliki sanad shahih tetapi tidak
sampai pada kualitas mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan
tulisan mushaf Utsmani, masyhur dikalangan qurra’, dibaca sebagaimana
ketentuan yang telah ditetapkan Al-Jazari, dan tidak termasuk qira’ah yang
keliru dan menyimpang. Para ulama menyebutkan bahwa qira’at macam
ini termasuk qira’at yang dapat diamalkan bacaannya.
3. Qira’ah Ahad yakni qira’at yang memiliki sanad shahih tetapi menyalahi
tulisan mushaf Utsmani dan kaidah bahasa Arab, tidak masyhur
dikalangan qurra’ sebagaimana qira’at mutawatir dan qira’at masyhur.
Qira’at macam ini tidak boleh dibaca dan tidak wajib meyakininya.
4. Qira’ah Syadz (menyimpang) yakni qira’at yang sanadnya tidak shohih.
5. Qira’at Maudhu’ (palsu atau dibuat-buat) yakni qira’at yang tidak ada
asalnya.
6. Qira’at Mudraj (sisipan) yakni qira’at yang disisipkan atau ditambahkan ke
dalam qira’at yang sah.
Menurut jumhur ulama, qira’at yang tujuh itu mutawatir. Dan yang tidak
mutawatir, seperti masyhur tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar
shalat. Imam An-Nawawi menjelaskan qira’at syadz al-muhazzab bahwa tidak
boleh dibaca baik di dalam maupun di luar sholat karena ia bukan al-Qur’an. Al-
Qur’an hanya ditetapkan dengan sanad mutawatir, sedangkan qira’at syadz tidak
mutawatir. Orang yang berpendapat selain ini adalah salah. Apabila seseorang
menyalahi pendapat ini dan membaca dengan qira’at yang syadz, maka tidak
boleh dibenarkan baik di dalam maupun diluar sholat. Para fuqaha Baghdad
sepakat bahwa orang yang membaca al-qur’an dengan qira’at yang syadz harus
disuruh bertaubat. Ibnu Abdil Barr menukilkan ijma’ kaum muslimin tentang al-
Qur’an yang tidak boleh dibaca dengan qira’at yang syadz, tidak sah shalat
dibelakang orang yang membaca al-Qur’an dengan qira’at-qira’at yang syadz itu.

C. Kriteria Qira’at yang di terima dan di tolak


Untuk menangkal penyelewengan Qira’at yang sudah mulai muncul, para
ulama membuat persyaratan-persyaratan bagi Qira’at yang dapat di terima. Untuk
membedakan Qira’at yang benar dan yang aneh (syazzah), para ulama membuat
tiga syarat bagi Qira’at yang benar, yaitu6:
1. Qira’at itu sesuai dengan bahasa arab sekalipun menurut satu jalan.
2. Qira’at itu sesuai dengan salah satu mushaf-mushaf Utsmani sekalipun
secara potensial.
3. Bahwa shahih sanadnya, baik diriwayatkan dari imam Qira’at yang di
terima selain mereka.
Setiap Qira’at yang memenuhi kriteria ini adalah Qira’at yang benar yang
tidak boleh di tolak dan harus diterima. Sebaliknya, Qira’at yang kurang dari salah
satu dari tiga syarat ini di sebut sebagai Qira’at yang lemah atau aneh atau batal,
baik Qira’at itu di riwayatkan dari imam Qira’at yang tujuh maupun dari imam
yang lebih besar dari mereka. Inilah pendapat yang benar menurut imam-imam
yang meneliti dari kalangan salaf dan khalaf. Demikiann di tegaskan oleh Al-
Dani, Makki, Al-Mahdi, dan Abu Syamah. Bahkan menurut As-Suyuti, pendapat
ini menjadi mazhab salaf yang tidak di ketahui seorangpun dari mereka
menyalahinya.

D. Urgensi mempelajari Qira’at dan pengaruhnya dalam Istinbath


(Penetapan) Hukum
Adapun urgensi mempelajari Qira’at adalah sebagai berikut7:
1. Dapat memelihara dan melindungi Kitab Allah dari pergantian dan
perubahan dengan adanya bacaan yang beragam.
2. Dapat meringankan dan memudahkan terhadapat umat dalam
membacanya.
6
Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i. 2008. Ulumul Qur’an 1. Bandung: Pustaka Setia.
hal.228

7
Mukhtar, Naqiyah. 2013. Ulumul Qur’an. Purwokerto: STAIN Press, hal. 70
3. Sebagai i’jaz al-Qur’an dalam hal ijaz-nya, apabila setiap Qira’at
menunjukan pada suatu hukum syar’i.
4. Untuk menjelaskan muhtamal apabila lafazh atau kalimat itu mujmal.
Perbedaan-perbedaan qira’at itu terkadang mempengaruhi dalam
penetapan ketentuan hukum.

Contohnya:
1. Surah Al-Baqarah: 222
  
    
   
  
   
   
    
 
 
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu
adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka
suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(QS. Al-Baqarah:
222)
Berkaitan dengan ayat diatas, diantara tujuh imam qira’at yaitu Abu Bakar
Syu’bah, Hamzah, dan Al-Kisa’i membaca kata “yathhurna” dengan memberi
syiddah pada huruf tha’ dan ha. Maka, bunyinya menjadi “yaththahharna”8.
Berdasarkan perbedaan qira’at ini, para ulama fiqih berbeda pendapat sesuai
dengan banyaknya perbedaan qira’at. Ulama yang membaca “yathhurna”
berpendapat bahwa seorang suami tidak diperkenankan berhubungan dengan

8
Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i. 2008. Ulumul Qur’an 1. Bandung: Pustaka Setia, hal.
233
istrinya yang sedang haid, kecuali telah suci atau berhenti dari keluarnya darah
haid. Sementara yang membaca “yaththahharna” menafsirkan bahwa seorang
suami tidak boleh melakukan hubungan seksual dengan istrinya, kecuali telah
bersih.
Sehubungan dengan hal tersebut, batas keharaman seorang suami untuk
mencampuri istrinya yang haid adalah sampai wanita tersebut suci dalam arti telah
berhenti darah haidnya, dan telah mandi dari hadas besarnya
2. Surat An-Nisa’: 43

 
  
  
   
    
   
   
    
  
  
  
  
   
   


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu
dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan
pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar
berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir
atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan,
Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah
yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pema'af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 43)
Berkaitan dengan ayat ini, Imam Hamzah dan Al-Kisa’I memendekkan
huruf lam pada kata “lamastum”,sementara imam-imam lainnya
memanjangkannya. Bertolak dari perbedaan qira’at ini, terdapat tiga versi
pendapat para ulama mengenai maksud kata itu, yaitu bersetubuh, bersentuh dan
sambil bersetubuh9. Berdasarkan perbedaan qiraat itu pula, para ulam fiqih ada
yang berpendapat bahwa persentuhan laki-laki dan perempuan itu membatalkan
wudhu. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa persentuhan itu tidak
membatalkan wudhu, kecuali kalau berhubungan badan.
3. Surah Al-Ma’idah: 6
 
   
 
  
 
 
   
   
    
    
  
  
  
  
 
    
   
  
  
  
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu
junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali
dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak

9
Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i. 2008. Ulumul Qur’an 1. Bandung: Pustaka Setia, hal.
234
memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6)
Berkaitan dengan ayat ini, Nafi’, Ibn ‘Amir, Hafs, dan Al-Kisa’i
membacanya dengan “arjulakum”, sementara imam-imam yang lainnya
membacanya dengan “arjulikum”. Dengan membaca “arjulikum”, mayoritas
ulama berpendapat wajibnya membasuh kedua kaki dan tidak membedakan
dengan menyapunya. Qira’at dipahami oleh jumhur ulama dengan menghasilkan
ketentuan hukum, bahwa dalam berwudhu diwajibkan mencuci kedua kaki.
Sementara qira’at versi lainnya dipahami oleh sebagian ulama dengan
mengahasilkan ketentuan hukum, bahwa dalam berwudhu tidak diwajibkan
mencuci kedua kaki, akan tetapi hanya diwajibkan mengusapnya (dengan air).
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwasannya:
1. Qira’at Al-Qur’an adalah ilmu yang mempelajari cara mengucapkan
lafadz-lafadz al-Qur’an.
2. Qira’at ini muncul pada masa nabi Muhammad SAW sampai sekarang.
3. Orang yang pertama kali menyusun qira’at dalam satu buku adalah Abu
Ubaidillah Al-Qasim bin Salam kemudian imam-imam lainnya mulai
menyusun qira’at.
4. Dari segi kuantitasnya qira’at terbagi menjadi tiga yaitu Qira’ah Sab’ah
(Qira’at Tujuh), Qira’at ‘Asyarah (Qira’at Sepuluh), dan Qira’at ‘Arba’at
Asyarah (Qira’at Empat Belas). Dan dari segi kualitasnya Qira’at terbagi
menjadi enam macam yaitu Qira’ah Mutawatir, Qira’ah Masyhur, Qira’ah
Ahad, Qira’ah Syadz (menyimpang), Qira’ah Maudhu (palsu) dan Qira’at
Mudraj.
5. Yang dimaksud dengan al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf adalah
memberi kelonggaran kepada umat manusia dalam membaca al-Qur’an
sesuai dengan bacaan yang mudah bagi mereka. Namun, bacaan ayat-ayat
al-Qur’an tidak boleh dibaca sesuka hati si pembacanya karena sudah ada
aturan yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah.
6. Di dalam penetapan hukum, qira’at dapat menguatkan ketentuan-
ketentuan hukum yang telah disepakati para ulama.

Saran
Dengan sangat menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kami menyarankan kepada pembaca untuk memberikan
sumbang saran serta kritikan dalam memperbaiki makalah kami untuk yang akan
datang.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i. 2008. Ulumul Qur’an 1. Bandung: Pustaka Setia

Mukhtar, Naqiyah. 2013. Ulumul Qur’an. Purwokerto: STAIN Press

Khalil al-Qattan, Manna. 2013. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera
AntarNusa