Anda di halaman 1dari 25

Refarat

OBAT PREMEDIKASI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior pada
Bagian THT-KL
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Abulyatama
Rumah Sakit Umum Datu Beru Aceh Tengah

Oleh :
NABILLAH, S.Ked
NIMP : 17174070

PEMBIMBING
dr. RAHMAT SUHENDRA, Sp.THT – KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH BESAR
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN/SMF ILMU THT-KL
RUMAH SAKIT UMUM DATU BERU
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunianya sehingga refarat dengan judul “MASTOIDITIS” dapat selesai
dengan baik dan tepat waktu.
Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik di RSUD Datu Beru
Takengon. Selain itu, penyusunan referat ini juga bertujuan agar penyusun lebih memahami
mengenai Mastoiditis.
Dalam penyusunan referat ini, Kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada dr.
Rahmat Suhendra, Sp. THT-KL selaku pembimbing kami, atas arahan dan bimbingan dalam
penyusunan referat ini.
Akhir kata, penyusun menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, baik
dari pemikran, pengetahuan, penyusunan bahasa, maupun sistematika. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang membaca referat ini sangat
diharapkan guna menjadi pelajaran bagi penyususn dalam menyusun referat di waktu yang
akan datang. Dan semoga referat ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Takengon, Mei 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................2


DAFTAR ISI .................................................................................................................... . 3
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 5
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI ....................................................... 5
2.2 MASTOIDITIS .............................................................................. 9
2.2.1 Etiologi............................................................................... 9
2.2.2 Mastoiditis koalesens akut................................................. 11
2.2.3 Infeksi kronik pada telinga tengah dan mastoid................ 14
2.3 KOMPLIKASI................................................................................ 19
BAB III KESIMPULAN................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTKA ......................................................................................................... 25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Penyakit pada telinga tengah dan mastoid lazim ditemukan di Amerika Serikat dan di
seluruh dunia. Beberapa penelitian menunjukan bahwa otitis media merupakan masalah
paling umum kedua pada praktek pediatrik, setelah pilek. Sejak penggunaan antibiotik secara
luas terhadap otitis media dan mastoiditis pada pertengahan 1930-an, angka mortalitas dan
penyulit serius dari otitis media telah sangat menurun. Namun, sekarang penyakit telinga
tengah seringkali terdapat dalam bentuk kronik atau lambat yang menyebabkan kehilangan
pendengaran dan pengeluaran sekret.
Mastoiditis adalah suatu infeksi bakteri pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol
dibelakang telinga). Mastoiditis marupakan peradangan kronik yang mengenai rongga
mastoid dan komplikasi dari otitis media kronis. Lapisan epitel dari telinga tengah adalah
sambungan dari lapisan epitel sel – sel mastoid udara yang melekat ditulang temporal.
Mastoiditis akut (MA) merupakan salah satu komplikasi intratemporal Otitis media (OM)
yang tidak tertangani dengan baik. Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel
mastoid yang terletak pada tulang temporal. Lapisan epitel dari telinga tengah adalah
sambungan dari lapisan epitel mastoid air cells yang melekat di tulang temporal. Mastoiditis
dapat terjadi secara akut maupun kronis. Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa
yang sebelumnya telah menderita infeksi akut pada telinga tengah. Gejala-gejala awal yang
timbul adalah gejala-gejala peradangan pada telinga tengah, seperti demam, nyeri pada
telinga, hilangnya sensasi pendengaran, bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu
sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya).
Pada saat belum ditemukan-nya antibiotik, mastoiditis merupakan penyebab kematian
pada anak-anak serta ketulian/hilangnya pendengaran pada orang dewasa. Jika tidak di
obati, infeksi bisa menyebar ke sekitar struktur telinga tengah, termasuk di antaranya otak,
yang bisa menyebabkan infeksi yang serius. Saat ini, terapi antibiotik ditujukan untuk
pengobatan infeksi telinga tengah sebelum berkembang menjadi mastoiditis, yang akhirnya
bisa menyebabkan kematian. 3 Untuk itu, disusunlah referat ini yang bertujuan mengetahui
lebih rinci tentang mastoiditis.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Gambar 1. Anatomi Telinga

Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam.

1. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun
telinga terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga
terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka
tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya
terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 – 3 cm.
Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut.
Kelenjar keringat terdapat pada seluruh liang telinga.Pada duapertiga bagian dalam hanya
sedikit dijumpai kelenjar serumen.

5
2. Telinga tengah

Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari :


 Membran timpani yaitu membran fibrosa tipis yang berwarna kelabu mutiara.
Berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik
terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani dibagi ats 2 bagian yaitu bagian atas
disebut pars flasida (membrane sharpnell) dimana lapisan luar merupakan lanjutan
epitel kulit liang telinga sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, dan
pars tensa merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu lapis lagi ditengah, yaitu
lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin.
 Tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran
ini dalam telinga tengah saling berhubungan.
 Tuba eustachius, yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.

3. Telinga dalam

Gambar 2. Anatomi Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran
dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea
disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli.
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk
lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah
atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya.

6
Skala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa sedangkan skala media berisi
endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Dimana
cairan perilimfe tinggi akan natrium dan rendah kalium, sedangkan endolimfe tinggi akan
kalium dan rendah natrium. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut
sebagai membran vestibuli (Reissner’s Membrane) sedangkan skala media adalah membran
basalis. Pada membran ini terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting
untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti terdiri dari satu baris sel rambut
dalam (3000) dan tiga baris sel rambut luar (12000). Sel-sel ini menggantung lewat lubang-
lubang lengan horizontal dari suatu jungkat jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong.
Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-
sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung
datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrane tektoria. Membran tektoria
disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus.

Gambar 3. Potongan melintang koklea

Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang diebut membrane
tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel
rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.

7
Tulang Mastoid
Tulang mastoid adalah tulang keras yang terletak di belakang telinga, didalamnya
terdapat rongga seperti sarang lebah yang berisi udara. Rongga-rongga udara ini ( air cells )
terhubung dengan rongga besar yang disebut antrum mastoid.
Kegunaan air cells ini adalah sebagai udara cadangan yang membantu pergerakan
normal dari gendang telinga, namun demikian hubungannnya dengan rongga telinga tengah
juga bisa mengakibatkan perluasan infeksi dari telinga tengah ke tulang mastoid yang disebut
sebagai mastoiditis.

Gambar 4. Anatomi telinga dan tulang mastoid

Struktur didalam tulang Mastoid : antrum mastoid ( rongga di belakang epitimpani/


atik). Aditus ad antrum adalah saluran yang menghubungkan antrum dengan epitimpani.
Lempeng dura (dura plate ) adalah lempeng tips yang keras dibanding tulang sekitarnya yang
membatasi rongga mastoid dengan sinus lateralis. Sudut sinodura adalah sudut yang dibentuk
oleh pertemuan duramater fosa media dan fosa posterior otak dengan sinus lateral di
posterior. Sudut ini ditemukan dengan membuang sebersih-bersihnya sel-sel pneumatisasi
mastoid di bagia posterior inferior lempeng dura dan postero superior lepeng sinus. Sudut
keras/ solid angel / hard angel adalah penulangan yang keras sekali yang dibentuk oleh
pertemuan 3 kanalis semisirkularis. Segitiga trautmann adalah daerah yang terletak di balik
antrum yang dibatasi oleh sinus sigmoid, sinus lateral ( sinus petrosus superior), dan tulang
labirin. Batas medialnya adalah lempeng dura fosa posterior.

8
2.2. MASTOIDITIS

Rongga telinga tengah dan rongga mastoid berhubungan langsung melalui aditus ad
antrum. Oleh karena itu infeksi kronis telinga tengah yang sudah berlangsung lama bisanya
disertai infeksi kronis di rongga mastoid. Infeksi rongga mastoid dikenal dengan mastoiditis.
Beberapa alhi menggolongkan mastoiditis ke dalam komplikasi OMSK.

Gambar 5. Tulang mastoid

2.2.1.Etiologi

Mastoiditis merupakan hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang
didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga
tengah. Bakteri gram negative dan Streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling
sering didapatkan pada infeksi ini.
Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke
dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang kemudian dapat menyebabkan
infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus
yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius.
Beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit adalah faktor tubuh
penderita (imunitas) dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian
anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum baik.
Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan
timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding
bakteri, pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras
dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit.

9
Kuman aerob

Gram negative :
proteus,
Gram positif : pseudomonas spp
S pyogenes dan E colli, Bakterioides spp
S. aureus kuman anaerob

Timbul Infeksi pada telinga

Eksogen infeksi dari Rinogen dari


luar melalui penyakit ronggga Endogen alergi,DM,
perforosi membrane hidung dan TBC paru
tympani sekitarnya

Peradangan pada Mastoid

Mastoiditis

Timbul suara Kemerahan pada Keluarnya push


Nyeri denging mastoid

Gangguan rasa
nyaman Nyeri Cemas Hiperemi push

Gangguan Kerusakan Otolitis


pendengaran jaringan/dikontinuitas
jaringan

Gangguan Penurunan harga


Komunikasi diri

10
2.2.2. Mastoiditis koalesens akut
Komplikasi serius pada zaman pra-antibiotik ini telah jarang ditemukan kini. Namun
karena beberapa alasan, masih dapat ditemukan satu atau dua kasus demikian per tahun pada
institusi-institusi utama. Diagnosis dapat terluputkan karena pasien telah mendapat antibiotik
yang efektif dalam mengubah temuan fisik klasik tapi tidak mampu membasmi infeksi.

Menurut H. Nurbaiti Iskandar (1997), manifestasi klinis dari mastoiditis adalah :


1. Febris / subfebris
2. Nyeri pada telinga
3. Hilangnya sensasi pendengaran
4. Bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi
telinga yang lainnya)
5. Kemerahan pada kompleks mastoid
6. Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir.
7. Matinya jaringan keras (Tulang, Tulang Rawan).
8. Adanya abses (Kumpulan jaringan mati dan nanah)

Gambar 6. Mastoiditis

11
Gejala demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga tengah
sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Jika demam tetap
dirasakan setelah pemberian antibiotik maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar.
Keluhan nyeri dirasakan cenderung menetap dan berdenyut. Gangguan pendengaran
dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi. Jika tidak
diobati dapat terjadi ketulian yang berkembang secara progresif, sepsis, meningitis, abses
otak atau kematian.
Membran timpani menonjol keluar, dinding posterior kanalis menggantung,
pembengkakan post aurikula mendorong pinna keluar dan ke depan, dan nyeri tekan pada
mastoid, terutama di posterior dan sedikit di atas liang telinga (segitiga Macewen).
Di dalam tulang juga bisa terbentuk abses. Biasanya gejala muncul dalam waktu 2
minggu atau lebih setelah otitis media akut, dimana penyebaran infeksi telah merusak bagian
dalam dari prosesus mastoideus.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan CT
scan bisa dilihat bahwa sel-sel udara dalam prosesus mastoideus terisi oleh cairan (dalam
keadaan normal terisi oleh udara) dan melebar. Contoh cairan dari telinga dibiakkan di
laboratorium untuk mengetahui organisme penyebabnya.

Gambar 7. Mastoiditis Gambar 8. CT scan mastoiditis

12
Pemeriksaan radiologis pada mastoiditis koalesens mengungkapkan adanya
opasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya trabekulasi normal dari sel-sel
tersebut. Hilangnya kontur masing-masing sel, membedakan temuan ini dengan temuan pada
otitis media serosa di mana kontur sel tetap utuh.
Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresi atau mereka yang
menelantarkan otitis media akut yang dideritanya. Penyakit ini agaknya berkaitan dengan
virulensi dari organisme penyebab. Organisme penyebab yang lazim adalah sama dengan
penyebab otitis media akut.

Tatalaksana
Pengobatan awal berupa miringotomi yang cukup lebar, biakan dan antibioltik yang
sesuai diberikan intravena. Jika dalam 48 jam tidak didapatkan perbaikan atau keadaan umum
pasien bertambah buruk, maka disarankan untuk dilakukan mastoidektomi sederhana. Bila
gambaran radiologis memperlihatkan hilangnya pola trabekular atau adanya progresi
penyakit, maka harus dilakukan mastoidektomi lengkap dengan segera untuk mencegah
komplikasi serius seperti petrosis, labirintis, meningitis dan abses otak.

Gambar 9. Miringotomi

13
2.2.3. Infeksi kronik pada telinga tengah dan mastoid

Karena telinga tengah berhubungan dengan mastoid, maka otitis media kronik sering
kali disertai mastoiditis kronik. Kedua peradangan ini dapat dianggap aktif atau inaktif. Aktif
merujuk pada adanya infeksi dengan pengeluaran sekret telinga (otorrhea) akibat perubahan
patologi dasar seperti kolesteatoma atau jaringan granulasi. Inaktif merujuk pada sekuele dari
infeksi aktif terdahulu yang telah “terbakar habis”, dengan demikian tidak ada otorrhoe.
Pasien dengan otitis media kronik inaktif seringkali mengeluh gangguan pendengaran.
Mungkin terdapat gejala lain seperti vertigo, tinitus, atau suatu rasa penuh dalam telinga.
Biasanya tampak perforasi membrana timpani yang kering. Perubahan lain dapat menunjukan
timpanosklerosis (bercak-bercak putih pada membrana timpani), hilangnya osikula yang
terkadang dapat terlihat lewat perforasi membrana timpani, serta fiksasi atau terputusnya
rangkaian osikula akibat infeksi terdahulu. Bila gangguan pendengaran dan cacat cukup
berat, dapat dipertimbangkan koreksi bedah atau timpanoplasti.

Tanda dan gejala


Otitis media kronik aktif berarti adanya pengeluaran sekret dari telinga. Otorrhoe dan
supurasi kronik telinga tengah dapat menunjukan pada pemeriksaan pertama sifat-sifat dari
proses patologi yang mendasarinya. Umumnya otorrhoe pada otitis media kronik bersifat
purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung stadium
peradangannya. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga
tengah dan mastoid. Sekret yang sangat bau, bewarna kuning abu-abu kotor memberi kesan
kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat telihat keping-keping kecil, berwarna putih
dan mengkilap.
Pemeriksaan bakteriologi dari sekret supurasi kronik telinga tengah hanya
memberikan sedikit informasi praktis mengenai penatalaksanaan. Bakteri penginvasi
sekunder, seperti stafilokok, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas aeruginosa, serta sejumlah
bakteri anaerob yang merupakan bagian dari suatu flora campuran, selalu ditemukan dalam
sekret telinga kronik. Anaerob yang paling sering ditemukan adalah dari spesies Bacteroides.
Suatu sekret yang encer berair dengan awitan tanpa nyeri harus mengarah pada kemungkinan
tuberkulosis. Jika sekret encer berbau bususk dan tercampur darah, maka perlu
dipertimbangkan kemungkinan keganasan.
Salah satu kelainan patologi yang dapat ditemukan pada otitis media dan mastoiditis
kronik adalah kolesteatoma, yaitu epitel skuamosa yang mengalami keratinisasi (“kulit”)
yang terperangkap dalam rongga telinga tengah dan mastoid. Kolesteatoma biasanya
14
terbentuk sekunder dari invasi sel-sel epitel liang telinga melalui attis ke dalam mastoid.
Suatu kolesteatoma dapat mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau
menimbulkan gangguan pendengaran, dengan akibat hilangnya tulang mastoid, osikula, dan
pembungkus tulang saraf fasialis.

Gambar 10. Kolesteatoma

Perubahan patologi lain yang tampak pada otitis media kronik adalah jaringan
granulasi, yang dapat pula menyebabkan destruksi tulang dan perubahan-perubahan hebat
dalam telinga tengah dan mastoid. Jaringan granulasi dapat matur atau imatur (fibrosa).
Sejenis jaringan granulasi khusus adalah granuloma kolesterol, dimana dijumpai celah-celah
kolesterin dalam suatu palung jaringan granulasi dengan sel-sel raksasa yang tersebar.
Kelainan ini selalu diatasi dengan pembedahan dan memerlukan mastoidektomi.
Gejala otitis media kronik yang penting lainnya adalah gangguan pendengaran, yang
biasanya konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin
ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit, ataupun
kolesteatoma, dapat menghantarkan bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. nyeri dapat
berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya
duramater atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak.
Vertigo pada pasien dengan supurasi telinga tengah kronik merupakan gejala serius
lainnya. Gejala ini memberi kesan adanya suatu fistula, berarti ada erosi pada labirin tulang.
Fistula merupakan temuan yang serius , karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga
tengah dan mastoid ke telinga dalam, sehingga timbul labirintis (ketulian komplit), dan dari
sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada setiap kasus
supurasi telinga tengah kronik dengan riwayat vertigo.

15
Perforasi membrana timpani dapat bersifat sentral atau marginal. Jika perforasi
marginal atau pada attic, maka kolesteatoma perlu dicurigai. Jaringan granulasi dapat tampak
mengisi perforasi atau pada beberapa kasus, membentuk polip yang cukup besar dan
menonjol ke dalam liang telinga.

Gambar 11. Perforasi attic

Gambar 12. Kolesteatoma dan Polip

Pemeriksaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik,


lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid satunya atau yang
normal. Erosi tulang, terutama pada daerah attic (kehilangan skutum) memberi kesan
kolesteatoma.

16
Penatalaksanaan
Terapi konservatif untuk otitis media kronik pada dasarnya berupa nasihat untuk
menjaga telinga agar tetap kering, serta pembersihan telinga dengan penghisap secara
berhati-hati. Untuk membersihkan dapat digunakan hidrogen peroksida atau alkohol dengan
menggunakan aplikator kawat berujung kapas untuk mengangkat jaringan yang sakit dan
supurasi yang tidak berhasil keluar. Kemudian dapat diberikan bubuk atau obat tetes yang
biasanya mengandung antibiotik dan steroid.
Antibiotik dapat membantu dalam mengatasi eksaserbasi akut otitis media kronik.
Namun antibiotik tidak sepenuhnya berguna untuk mengobati penyakit ini, sebab dari
definisinya, otitis media kronik bersrti telah ada perubahan patologi yang membandel, dan
antibiotika tidak terbukti bermanfaat dalam penyembuhan kelainan ini. Jika direncanakan
tindakan bedah, maka pemberian antibiotik sistemik bebrapa minggu sebelum operasi dapat
mengurangi atau menghentikan supurasi aktif dan memperbaiki hasil pembedahan.

Gambar 13. Mastoidektomy

Pembedahan bertujuan membasmi infeksi dan mendapatkan telinga yang kering, dan
aman melalui berbagai prosedur timpanoplasti dan mastoidektomi. Tujuan utama dari
pembedahan adalah menghilangkan penyakit, dan hal ini tercapai bila terjadi kesembuhan.

17
Tujuan mastoidektomi adalah menghilangkan jaringan infeksi, menciptakan telinga
yang kering dan aman. Sedangkan tujuan timpanoplasti adalah menyelamatkan dan
memulihkan pendengaran, dengan cangkok membrana timpani dan rekonstruksi telinga
tengah. Tujuan sekunder adalah mempertahankan atau memperbaiki pendengaran
(timpanoplasti) bilamana mungkin.

Gambar 14. Timpanoplasti

Jika otitis media dan mastoiditis kronik bersifat serius, dan terutama bila telah ada
komplikasi atau ancaman komplikasi, maka dapat dipertimbangkan pembedahan mastoid
pada usia berapapun. Secara umum, timpanoplasti lebih jarang dilakukan pada anak di bawah
usia lima tahun. Hal ini karena tingginya insidens infeksi telinga pada kelompok umur kuran
dari lima tahun.

Gambar 15. Pembersihan kolesteatoma

18
2.3. KOMPLIKASI
Komplikasi penyakit otitis media dan mastoiditis (akut dan kronik) dapat melibatkan
perubahan-perubahan langsung dalam telinga tengah dan mastoid, atau infeksi sekunder pada
struktur di sekitarnya.
Tendensi otitis media mendapatkan komplikasi tergantung pada kelainan patologik
yang menyebabkan otore. Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna.
Akan tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman virulen pada
OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan suatu komplikasi.
Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang
normal dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur di sekitarnya.
Pertahanan pertama adalah mukosa kavum timpani yang menyerupai mukosa saluran nafas
yang mampu melokalisasi dan mengatasi infeksi. Bila sawar ini runtuh, masih ada sawar
kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel mastoid. Bila sawar ini runtuh, maka
struktur lunak di sekitarnya akan terkena.

Gambar 16. Infeksi di telinga tengah memungkinkan penjaralan ke struktur di sekitarnya

Runtuhnya periosteum akan menyebabkan terjadinya abses sub-periosteal. Tetapi bila


infeksi mengarah ke tulang temporal, maka akan menyebabkan paresis fasialis atau labirintis.
Bila ke arah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural, tromboflebitis sinus lateralis,
meningitis atau abses otak. Pada kebanyakan kasus, bila sawar tulang terlampaui, suatu
dinding pertahanan ketiga, yaitu jaringan granulasi akan terbentuk.

19
Pada kasus akut atau eksaserbasi akut, penyebaran biasanya melalui
osteotromboflebitis (hematogen). Pada kasus lain, terutama yang kronis, penyebaran biasanya
melalui erosi tulang. Cara penyebaran lainnya ialah melalui jalan yang sudah ada, misalnya
fenestra rotundum, meatus akustikus interna, dusktus perilimfatik atau duktus endolimfatik.

Complications in acute
mastoiditis. Extension of the
infectious process beyond
the mastoid system leads to
intracranial and extracranial
suppurative complications,
including :
- subperiosteal abscess (A),
- epidural abscess (B),
- subdural empyema
(C), - brain abscess (D), -
meningitis (E),
- lateral sinus thrombosis (F),
- carotid artery involvement (G),
- apical petrositis (H).

Gambar 17. Komplikasi dari mastoiditis

Beberapa pola penyebaran penyakit :


 Penyebaran hematogen, yaitu penyebaran melalui osteotromboflebitis dapat diketahui
dengan adanya :
1. Komplikasi terjadi pada awal suatu infeksi atau eksaserbasi akut, dapat terjadi
pada hari pertama atau kedua sampai hari kesepuluh
2. Gejala prodromal tidak jelas seperti didapatkan pada gejala meningitis lokal
3. Pada operasi, didapatkan dinding tulang telinga utuh dan tulang serta lapisan
mukoperiosteal meradang dan mudah berdarah, sehingga disebut juga
mastoidits hemoragika.

20
 Penyebaran melalui erosi tulang, dapat diketahui, bila :
1. Komplikasi terjadi beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit
2. Gejala prodromal infeksi lokal biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih
luas, misalnya paresis n. Fasialis ringan yang total, atau gejala meningitis
lokal mendahului meningitis purulen
3. Pada operasi dapat ditemukan lapisan tulang yang rusak di antara fokus
supurasi dengan struktur di sekitarnya. Struktus jaringan lunak yang terbuka
biasanya dilapisi ileh jaringan granulasi

 Penyebaran melalui jalan yang sudah ada, penyebaran ini dapat diketahui bila :
1. Komplikasi terjadi pada awal penyakit
2. Ada serangan labirintis atau meningitis berulang, mungkin dapat ditemukan
fraktur tengkorak, riwayat operasi tulang atau riwayat otitis media yang sudah
sembuh. Komplikasi intrakranial mengikuti komplikasi labirintis supuratif.
3. Pada operasi dapat ditemukan jalan penjalaran melalui sawar tulang yang
bukan oleh karena erosi.

Beberapa penulis mengemukakan klasifikasi komplikasi otitis media yang berlainan,


tetapi dasarnya tetap sama.

Adams dkk (1989) mengmukakan klasifikasi sebagai berikut :


a. Komplikasi telinga tengah :
- Perforasi membran tumpani persisten
- Erosi tulang pendengaran
- Paralisis nervus fasialis
b. Komplikasi telinga dalam :
- Fistula labirin
- Labirintis supuratif
- Tuli saraf (sensorineural)

21
c. Komplikasi ekstradural :
- Abses ekstradural
- Trombosis sinus lateralis
- Petrosis
d. Komplikasi ke susunan saraf pusat
- Meningitis
- Abses otak
- Hidrosefalus otitis

Souza dkk (1999) membagi komplikasi otitis media menjadi :


I. Komplikasi intratemporal
a. Komplikasi telinga tengah
- Paresis nervus fasialis
- Kerusakan tulang pendengaran
- Perforasi membran timpani
b. Komplikasi ke rongga mastoid
- Petrositis
- Mastoiditis koalesen
c. Komplikasi ke telinga dalam
- Labirintis
- Tuli saraf / sensorineural

II. Komplikasi ekstratemporal


a. Komplikasi intrakranial
- Abses ekstradura
- Abses subdura
- Abses otak
- Meningitis
- Tromboflebitis sinus lateralis
- Hidrosefalus otikus
b. Komplikasi ekstrakranial
- Abses retroaurikular
- Abses Bezold’s
- Abses zygomatikus

22
Schambough (2003) membagi komplikasi otitis media sebagai berikut :
a. Komplikasi intratemporal
- Perforasi membran timpani
- Mastoiditis akut
- Paresis nervus fasialis
- Labirintis
- Petrosis
b. Komplikasi ekstratemporal
- Abses subperiosteal
c. Komplikasi intrakranial
- Abses otak
- Tromboflebitis
- Hidrosefalus otikus
- Empiema subdura
- Abses subdura / ekstradura

23
BAB III

KESIMPULAN

Mastoiditis adalah suatu infeksi bakteri pada prosesus mastoideus (tulang yang
menonjol dibelakang telinga). Mastoiditis merupakan hasil dari infeksi yang lama pada
telinga tengah, bakteri penyebab yang paling banyak ditemukan adalah bakteri gram
negative dan Streptococcus aureus. Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien muda
dengan imunosupresi atau mereka yang menelantarkan otitis media akut yang dideritanya.
Diagnosis mastoiditis ditegakkan melalui gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang radiologi yang menunjukkan mastoiditis baik foto polos mastoid Schuller
maupun CT scan mastoid. Tatalaksana mastoiditis dapat berupa antibiotik, miringotomi,
mastoidektomi sederhana sesuai dengan kondisi pasien dan indikasi. Komplikasi penyakit
mastoiditis (akut dan kronik) dapat melibatkan perubahan-perubahan langsung dalam
telinga tengah dan mastoid, atau infeksi sekunder pada struktur di sekitarnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007.

2. Ludman, Harold. Petunjuk Penting Pada Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan.


Jakarta: Hipokrates. 1996.

3. Dejong, W., Sjamsuhidajat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : 2005

4. Rasad, sjahriar. Radiologi Diagnostik edisi ke 2. Jakarta:FKUI. 2005

5. Widodo P dkk. Pola Sebaran Kuman dan Uji Kepekaan Antibiotika Sekret Telinga
Tengah Penderita Mastoiditis Akutdi RS Dr Kariadi Semarang. 2005.

6. Mukmin, Sri; Herawati, Sri. Teknik Pemeriksaan THT. Laboratorium Ilmu Penyakit
THT, FK UNAIR. Surabaya. 2000.

7. Palva, T., Pukkinen, K. Mastoiditis. J. Laryngol. Otol. 1959;73:573–588.

8. Ogle, J.W., Lauer, B.A. Acute mastoiditis. Am. J. Dis. Child. 2000.

9. Bluestone, C.D., Klein, J.O. Intratemporal complications and sequelae of otitis media.
in: C.D. Bluestone, S.E. Stool (Eds.) Pediatric Otolaryngology. Saunders,
Philadelphia, PA; 2003

10. Mygind, H. Subperiosteal abscess of the mastoid region. Ann. Otol. Rhinol. Laryngol.
2000.

11. Kelompok Studi Otologi. Guideline Penyakit THT di Indonesia. Dalam:Perhimpunan


Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Jakarta: 2007 p. 55

12. Zanetti D, Nassif N. Indications for Surgery in Acute Mastoiditis and Their
Complications in Children. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology
(2006) 70, 1175—1182

13. Wicker AM, Mohundro BL. Management of Pediatric Otitis Media. US Pharm
2010;35(3):44-9

14. Tarantino V, Agostino RD, Taborelli et al. Acute mastoiditis: a 10 year retrospective
study. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 2002; 66 :143-8

25