Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN SINUSITIS

OLEH :
BAYU PRADITYA
NIM : G3A016242

PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN 2017

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PADA KLIEN DENGAN SINUSITIS

1. TEORI TENTANG PENYAKIT
1.1 PENGERTIAN
Sinus adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang
terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus adalah untuk
menjaga kelembapan hidung dan menjaga pertukaran udara di daerah
hidung. Rongga sinus terdiri dari 4 jenis, yaitu:
1. Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-
masing alis.
2. Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping
hidung.
3. Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang
hidung.
4. Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang
mata.
Sinusitis adalah radang sinus paranasal. Sinusitis adalah suatu
peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus,
bakteri, maupun jamur. Biasanya yang paling sering terkena yaitu pada
sinus maxila kemudian ethmoid, frontal, dan spenoid. Sinusitis adalah
penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh infeksi virus atau kuman.
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal.
Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut
rinosinusitis (Kumar dan Clark, 2005). Lapisan mukosa dari sinus
paranasal merupakan lanjutan dari mukosa hidung. Hidung dan sinus
paranasal merupakan bagian dari sistem pernapasan. Penyakit yang
menyerang bronkus dan paru-paru juga dapat menyerang hidung dan
sinus paranasal. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan proses infeksi,
seluruh saluran nafas dengan perluasan-perluasan anatomik harus
dianggap sebagai satu kesatuan (Hueston, 2002).
1.2 FAKTOR PREDISPOSISI
Sinusitis lebih sering disebabkan adanya faktor predisposisi, yaitu:
a. Gangguan fisik akibat kekurangan gizi, kelelahan, atau penyakit
sistemik.

Edi. Gangguan faal hidung oleh karena rusaknya aktivitas silia oleh asap rokok. Bakteri Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae. c. b. Infeksi virus Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya pilek). atau karena panas dan kering.3 ETIOLOGI Sinusitis bisa bersifat akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis (berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun) (Susanto. Penyebab sinusitis akut. Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya. 1992. b. dalam Susanto. 1. Haemophilus influenzae). Berenang dan menyelam pada waktu sedang pilek e. Kelainan imunologi didapat seperti imunodefisiensi karena leukemia dan imunosupresi oleh obat (Tadjudin. 2009). yaitu antara lain: a. 2009). maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus. Edi. . sehingga terjadi infeksi sinus akut. Trauma yang menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal f. polusi udara. Kelainan anatomi yang menyebabkan gangguan saluran seperti : 1) Atresia atau stenosis koana 2) Deviasi septum 3) Hipertroti konka media 4) Polip yang dapat terjadi pada 30% anak yang menderita fibrosis kistik 5) Tumor atau neoplasma 6) Hipertrofi adenoid 7) Udem mukosa karena infeksi atau alergi 8) Benda asing d.

Edi. Karies dentis (gigi geraham atas) e. Tonsilitis yg kronik Penyebab sinusitis kronis.4 KLASIFIKASI Berdasarkan perjalanan penyakitnya. b. sinusitis terbagi atas: a. 2009). f. Penyakit tertentu. Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan sistem kekebalan. Infeksi jamur Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut. yaitu antara lain: a. . misalnya menjadi jaringan granulasi atau polipoid. Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir (Susanto. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mukosa. sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur. 1. Sinusitis akut Bila terdapat tanda-tanda radang akut b. e. Sinusitis kronik Bila perubahan histologik mukosa sinus ireversibel. d. Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika) c. Peradangan menahun pada saluran hidung Pada penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Sinusitis kronik Bila infeksi beberapa bulan sampai beberapa tahun. Sinusitis subakut Bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversibel. Sinusitis akut Bila infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu. sinusitis terbagi atas: a. Demikian pula halnya pada penderita rinitis vasomotor. f. c. Benda asing di hidung dan sinus paranasal g. Sinusitis subakut Bila infeksi beberapa minggu sampai beberapa bulan. d. Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan penderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik). Septum nasi yang bengkok g. Pada orang-orang tertentu. h. Asma b. c. c. Jika berdasarkan gejalanya. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh. Tumor di hidung dan sinus paranasal.

Jika terjadi obstruksi ostium sinus akan menyebabkan terjadinya hipooksigenasi. Perubahan salah . Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis terjadinya sinusitis yaitu apakah terjadi obstruksi dari ostium. Lapisan mukosa yang melapisi sinus dapat dibagi menjadi dua yaitu lapisan viscous superficial dan lapisan serous profunda. fungsi silia. Disfungsi silia ini akan menyebabkan retensi mukus yang kurang baik pada sinus. Cairan mukus secara alami menuju ke ostium untuk dikeluarkan jika jumlahnya berlebihan. Cairan mukus dilepaskan oleh sel epitel untuk membunuh bakteri maka bersifat sebagai antimikroba serta mengandungi zatzat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. yang menyebabkan fungsi silia berkurang dan epitel sel mensekresikan cairan mukus dengan kualitas yang kurang baik. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan dengan tiga faktor.5 PATOFISIOLOGI Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks osteomeatal. obstruksi ostium sinus serta abnormalitas sekresi mukus menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus sehingga terjadinya sinusitis maksila. Kejadian sinusitis maksila akibat infeksi gigi rahang atas terjadi karena infeksi bakteri (anaerob) menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak gigi dan sekitarnya rusak. Sinus dilapisi oleh sel epitel respiratorius. Abses periodontal ini kemudian dapat meluas dan mencapai tulang alveolar menyebabkan abses alveolar. Tulang alveolar membentuk dasar sinus maksila sehingga memicu inflamasi mukosa sinus. Infeksi ini meluas dan mengenai selaput periodontium menyebabkan periodontitis dan iritasi akan berlangsung lama sehingga terbentuk pus. dan kualitas sekresi hidung. Disfungsi silia.1. yaitu patensi ostium. Pulpa terbuka maka kuman akan masuk dan mengadakan pembusukan pada pulpa sehingga membentuk gangren pulpa.

serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat. berupa pilek dan batuk yang lama. a. serta kadang nyeri alih ke tempat lain. lebih dari 7 hari. satu dari faktor ini akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis 1. terasa di bawah kelopak mata dan kadang . serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat. Pada sinusitis maksila nyeri.6 TANDA DAN GEJALA Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil). 1. nyeri di daerah sinus yang terkena. sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari. Gejala Subyektif Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil). halitosis. Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik. ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip). halitosis. ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip). sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari. nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena. Sinusitis Maksilaris Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore. Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal. sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila 4) Ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat. serta kadang nyeri alih ke tempat lain. sehingga aliran sekret (drainase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia 3) Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris). berupa pilek dan batuk yang lama. merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena: 1) Merupakan sinus paranasal yang terbesar 2) Letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar. Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu. lebih dari 7 hari. yaitu demam dan rasa lesu. nyeri di daerah sinus yang terkena.

. di belakang bola mata dan di daerah mastoid. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas. sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya. biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga. Nyeri alih di pelipis . Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. post nasal drip dan sumbatan hidung. Pada dewasa seringkali bersama- sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dielakkan. menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. oksipital. misalnya sewaktu naik atau turun tangga. c. penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak. Sinusitis Ethmoidalis Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak. Wajah terasa bengkak. kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya. kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. terutama bila mata digerakkan. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita. b. Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea) seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita. nyeri berlokasi di atas alis mata. d. Sinusitis Sfenoidalis Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex. Batuk iritatif non produktif seringkali ada. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis. Sinusitis Frontalis Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus etmoidalis anterior. seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius.

2. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit dan provokasi test yakni suction dimasukkan pada hidung. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. 1. jika positif sinusitis maksilaris maka akan keluar pus dari hidung. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti ada penebalan ringan atau seperti meraba beludru.7 KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG MUNCUL a. namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita. sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas. Pada sinusitis maksila. Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah. pemeriksa memencet hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut dengan rapat.tumor maupun komplikasi sinusitis. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut. maksila dan ethmoid anterior) terkena secara akut dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit yang ringan akibat periostitis. pada sinusitis ethmoid jarang timbul pembengkakan. Gejala Obyektif Jika sinus yang berbatasan dengan kulit (frontal. Komplikasi orbita Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.Jika ditemukan maka kita harus melakukan penatalaksanaan yang sesuai. Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip. kecuali bila ada komplikasi. Terdapat lima tahapan : .

karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini. III. 1) Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Secara patognomonik. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. c) Gangguan penglihatan yang berat. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak. kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris. 5) Trombosis sinus kavernosus. Mukokel Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan . kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik. b) Kemosis konjungtiva. trombosis sinus kavernosus terdiri dari : a) Oftalmoplegia. Dalam sinus frontalis. e) Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan saraf kranial II. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius. IV dan VI. kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. 4) Abses orbita. pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. 2) Selulitis orbita. b. ethmoidalis dan sfenoidalis. serta berdekatan juga dengan otak. pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis. merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita. 3) Abses subperiosteal. juga proptosis yang makin bertambah. edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk. sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya. d) Kelemahan pasien.

sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial. Proses ini timbul lambat. d. pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut. setelah sistem vena. seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis. 3) Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala sistemik berupa malaise. Dalam sinus sfenoidalis. maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. Komplikasi Intra Kranial 1) Meningitis akut. adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium. infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan. demam dan menggigil. Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus. sering kali mengikuti sinusitis frontalis. 2) Abses dura. Osteomielitis dan abses subperiosteal Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah infeksi sinus frontalis. c. drainase secara bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi. Gejala yang timbul sama dengan abses dura. gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif.8 PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG . kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya. 1. dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi. 4) Abses otak. Piokel adalah mukokel terinfeksi.

Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit. 5. X Foto sinus paranasalis Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit. PM2. perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal. Transiluminasi (diaphanoscopia) Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. 3.1. sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. M1) 4.Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan : . Pada sinusitis maksila. Pemeriksaan CT –Scan Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila. Posteroanterior dan Lateral. Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila. Rinoskopi posterior Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). air fluid level. CT-Scan pada sinusitis akan tampak : penebalan mukosa. Dentogen Caries gigi (PM1. frontal dan etmoid. penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik). sphenoid dan etmoid 6. kavum nasi sempit. sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Rinoskopi anterior Tampak mukosa konka hiperemis. dan edema. yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. 2. sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang normal.

dapat juga kedua belah (bilateral). homogen. b. atrofi dan erosi tulang yang berangsur- angsur oleh massa jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer. Sinusitis etmoid akut Pemeriksaan rongga hidung. Akan terlihat perselubungan di sinus maksila. Mukokel. Pada pemeriksaan di kamar gelap. b. terdapat ingus kental di nasofaring. akan terdapat perselubungan di sinus etmoid. Sinusitis frontal akut Pemeriksaan rongga hidung. penekanan. licin. Foto roentgen. c. bentuknya konveks (bundar). 7. dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam. bila kista ini makin lama makin besar dapat menyebabkan gambaran air-fluid level. Pada pemeriksaan tenggorok. Pada kelainan sinus maksila gambar bulan sabit itu kurang terang atau tidak tampak. Polip yang mengisi ruang sinus c. Mukosa hidung tampak membengkak (edema) dan merah (hiperemis). dan kurang terang atau gelap . dapat sebelah (unilateral). pada pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Pada pemeriksaan di kamar gelap. terdapat ingus kental. ingus di meatus medius. Untuk diagnosis diperlukan foto rontgen. dengan memasukkan lampu kedalam mulut dan ditekankan ke langit-langit. Pemeriksaan di setiap sinus a. akan tampak bentuk sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal. a. Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus e. Kista retensi yang luas. mukosa hidung edema dan hiperemis. Sinusitis maksila akut Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. Kadang sukar membedakannya dengan polip yang terinfeksi. Polip antrokoanal d. akan tampak pada sinus maksila yang normal gambar bulan sabit di bawah mata.

kapas dikeluarkan. yaitu Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak). Pemberian obat simtomatik Contohnya : parasetamol . 4. Pemeriksaan radiologik. dan dicuci 2 kali seminggu dengan larutan garam fisiologis. lalu dengan trokar ditusuk di bawah konka inferior. ujung trokar diarahkan ke batas luar mata. b) Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris. Pipa itu dihubungkan dengan semprit yang berisi larutan garam fisiologis. Dekongestan oral sedo efedrin 3 X 60 mg. maka jarum trokar dicabut. Caranya ialah. Setelah 5 menit. Setelah tulang dinding sinus maksila bagian medial tembus. sehingga tinggal pipa selubungnya berada di dalam sinus maksila. Penatalaksanaan Pembedahan 1. Sinusitis sfenoid akut Pemeriksaan rongga hidung. tampak ingus atau krusta serta foto rontgen. Drainage a) Dengan pemberian obat.9 TERAPI YANG DILAKUKAN a. b. metampiron 3 x 500 mg. Pencucian sinus paranasal a) Pada sinus maksila Dilakukan fungsi sinus maksila. d. 1. 2. Untuk sinusitis kronis bisa dengan a) Cabut geraham atas bila penyebab dentogen b) Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20) c) Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi). pada sinusitis akut atau kronis. Penatalaksanaan Medis 1. Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) a) Ampisilin 4 X 500 mg b) Amoksilin 3 x 500 mg c) Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet d) Diksisiklin 100 mg/hari. atau dengan balon yang khusus untuk pencucian . dengan sebelumnya memasukkan kapas yang telah diteteskan xilokain dan adrenalin ke daerah meatus inferior. 3. tampak pada foto roentgen daerah sinus frontal berselubung.

dan ditampung di tempat bengkok. b) Pada sinus frontal. lubang di pipa tidak ditutup. Pada waktu lubang ditutup maka akan terisap ingus dari sinus. emboli udara karena setelah menyemprot dengan air disemprotkan udara dengan maksud mengeluarkan seluruh cairn yang telah dimasukkan serta perdarahan karena konka inferior tertusuk. dengan memotong dinding lateral hidung. sinus itu. Air cucian sinus akan keluar dari mulut. maka untuk memasukkan pipa dipakai trokar yang tumpul. . Karena sudah ada lubang fungsi. atau dengan memakai alat.5-1. Lubang fungsi ini dapat diperbesar. diminta untuk membuka mulut. dan dilakukan di kamar bedah.dasar mata tertusuk karena arah penusukan salah. Ke dalam lubang hidung dimasukkan pipa gelas yang dihubungkan dengan alat pengisap untuk menampung ingus yang terisap dari sinus. dengan pasien yang diberi anastesi. Pada waktu meneteskan HCL ini. Pada pipa gelas itu dibuat lubang yang dapat ditutup dan dibuka dengan ujung jari jempol. Tapi tindakan seperti ini dapat menimbulkan kemungkinan trokar menembus melewati sinus ke jaringan lunak pipi. Tindakan pencucian menurut cara ini dilakukan 2 kali seminggu. Caranya ialah dengan pasien ditidurkan dengan kepala lebih rendah dari badan.5 %. Pasien yang telah ditataki plastik di dadanya. oleh karena kepala diletakkan ebih rendah dari badan). Tindakan ini diulang 3 hari kemudian. Pasien harus menyebut “kek-kek” supaya HCL efedrin yang diteteskan tidak masuk ke dalam mulut. etmoid dan sfenoid Pencucian sinus dilakukan dengan pencucian Proetz. tetapi ke dalam rongga yang terletak dibawah ( yaitu sinus paranasal. Kedalam hidung diteteskan HCL efedrin 0. Tindakan ini disebut antrostomi. yaitu busi.

2. karies dentis. asma. tumor hidung. Sinusitis Peradangan Abnormalitas Nafsu makan sekresi mukus menurun Respon inflamasi Sekret mengental Ketidakseimb angan nutrisi Nyeri akut Hipertermi kurang dari Ketidakefektifan kebutuhan Gangguan bersihan jalan tubuh pernapasan napas Sering Gangguan pola terbangun tidur malam hari . CLINICAL PATHWAY Infeksi virus. septum nasal yang bengkok. peradangan menahun. bakteri. tonsillitis kronik. jamur. alergi.

PROSES KEPERAWATAN 3. pekerjaan 2) Riwayat Penyakit sekarang 3) Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus. 4) Riwayat penyakit dahulu : . suku.umur. bangsa. Pola nutrisi dan metabolisme Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung c. sex. Interpersonal : hubungan dengan orang lain.3. Pola istirahat dan tidur Biasanya klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek d.Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma .Pernah mempunyai riwayat penyakit THT . Pola Persepsi dan konsep diri .1 PENGKAJIAN KEPERAWATAN Pengkajian keperawatan pada klien dengan sinusitis meliputi: 1) Biodata : Nama .Pernah menderita sakit gigi geraham 5) Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. 6) Riwayat spikososial a. pendidikan. tenggorokan. Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping b. 7) Pola fungsi kesehatan a. Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0 b. alamat.

2 DIAGNOSA KEPERAWATAN a. rinuskopi (mukosa merah dan bengkak). Observasi tanda-tanda vital. serous. Meningkatkan relaksasi dan istirahat bila terasa nyeri dan pengalihan perhatian. 3. Membantu dalam mengevaluasi gejala 0-10 nyeri. 2. mukopurulen). tanda viotal. Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri. Kaji terhadap nyeri dengan skala 2. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan. klien tidak merasakan nyeri atau nyeri berkurang.3 PERENCANAAN KEPERAWATAN a. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder akibat gangguan pernafasan 3. 1. kesadaran. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung b. Berikan kesempatan waktu 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun sekunder akibat peradangan pada sinus d. b. Pola sensorik Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen . Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas jalan nafas berhubungan dengan adanya sekret yang mengental c. status kesehatan umum : keadaan umum . 8) Pemeriksaan fisik a. 3. Menghilangkan berikan posisi yang nyaman Serta ketidaknyamanan dan meningkatkan . Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun e. Kriteria hasil: 1) Skala nyeri 0-2 2) Jalan nafas menjadi efektif setelah sekret dikeluarkan 3) Klien tidak mengeluhkan penurunan nyeri INTERVENSI RASIONAL 1.

4. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan. Kriteria hasil: a. 4. 2. b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya sekret yang mengental. Kriteria hasil: 1) Intake nutrisi klien cukup 2) Klien tidak mual atau muntah 3) Berat badan klien ideal INTERVENSI RASIONAL 1. Tingkatkan masukan cairan kekentalan sekret. secret. Hidrasi membantu menurunkan 3. Kelembapan dapat menurunkan 5. Kolaborasi analgesik 4. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan. Beri O2 tambahan sesuai hipoksia. Catat intake dan output 1. Mempertahankan kadar obat lebih konstan menghindari puncak periode nyeri. kolaps jalan nafas kecil. bersihan jalan napas klien efektif. ajarkan tehnik relaksasi dan efek terapiutik analgesik. Ajarkan batuk efektif. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat / tak dimanifestasikan adanya bunyi nafas. 5. 1. Membantu untuk meminimalkan 2. Koaborasi nebulizing dengan kekentalan sekret dan tim medis untuk pembersihan mempermudah pengeluaran. Tidak ada sekret pada jalan napas INTERVENSI RASIONAL 1. metode distraksi. 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun sekunder akibat peradangan pada sinus. Auskultasi bunyi nafas. Dapat memperbaiki / mencegah 4. indikasi. kebutuhan nutrisi klien sesuai dengan kebutuhan tubuh. c. sesuai toleransi jantung. Bunyi napas vesikuler c. Jalan napas paten b. Mengetahui perkembangan .

Suasana yang nyaman merupakan nyaman. Menciptakan suasana yang 2. W.ghorayeb. abdomen dan gerakan diafragma. makanan klien. USA: McGraw-Hill. Dalam Otolaryngology Houston. pemenuhan nutrisi klien 2. Menganjurkan untuk makan meningkatkan masukan kalori sedikit. In: Hueston’s. indikator untuk klien agar dapat tidur dengan nyaman dan tenang. 3rd ed. edisi.. Diakses dari www. Dapat menghasilkan distensi 3. 4. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Hueston. Kolaborasi dengan ahli gizi 4. maksimal. Kaji kebutuhan tidur klien. 1. total. 2002. Kolaborasi dengan tim medis 3.J. Metode makan dan kebutuhan untuk membantu memilih kalori didasarkan pada kebutuhan makanan yang dapat memenuhi individu untuk memberikan nutrisi kebutuhan gizi selama sakit. Sinusitis. Respiratory disorder. 83-102 . Sinusitis. 5. 3. Buku Ajar Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher. Pernafasan dapat efektif kembali pemberian obat lewat hidung 4. DAFTAR PUSTAKA Damayanti dan Endang. Hindari makanan penghasil gas abdomen yang mengganggu nafas dan minuman karbonat. 3.html [16 September 2013].com/AnatomiSinuses. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder akibat gangguan pernafasan Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan. d. Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat atau tidur. 2. pola tidur klien baik Kriteria hasil: 1) Pola tidur klien teratur 2) Klien tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman setelah bangun tidur 3) Tidur malam klien 6-8 jam INTERVENSI RASIONAL 1. Memberikan kesempatan untuk 2.sedikit tapi sering. Ghorayeb B. 2002.

6th ed. Fungsional endoscopic sinus surgery.wikipedia.com/2009/09/sinusitis_frontalis_files _of_drsmed. 2006. Sinusitis Frontalis. dkk. dan Leher.. Endang.org/wiki/sinusitis [16 September 2013]. Tenggorok. Hidung. http://yayanakhyar. M. Wikipedia. 1153-1155 Mangunkusumo E. Sinusitis. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta: FKUI Mangunkusumo. dkk. Edi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. The Special Senses. Arif. Jakarta: Penerbit Media Ausculapius FK UI Perhati. Philadelphia : Saunders Elsevier. 2001. 2002. P.Kumar. . Jakarta: Balai Penerbit FK UI Mansjoer. Kepala. and Clark. 2007. Diakses dari www. 2005. HTA Indonesia Susanto. 2009.files. Kapita Selekta Kedokteran. edisi 3.pdf [diakses tanggal 16 September 2013]. Clinical Medicine. Soetjipto.wordpress.