Anda di halaman 1dari 44

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembedahan atau biasa disebut operasi merupakan semua tindakan

pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka bagian tubuh yang

akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat

sayatan. Setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan dilakukan tindakan

perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidayat,

1996). Salah satu jenis operasi yang sering dilakukan yaitu operasi seksio sesarea.

Seksio Sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan

pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina (Mochtar, 1998). Seksio

sesarea merupakan pilihan terakhir untuk menyelamatkan ibu dan janin pada saat

kehamilan atau persalinan yang kritis, namun akhir-akhir ini seksio sesarea dilakukan

atas permintaan ibu atau keluarga tanpa indikasi obstetrik dengan perawatan pre

operatif yang baik atau disebut juga seksio sesarea elektif.

Persalinan sectio caesaria adalah proses melahirkan janin melalui insisi pada

dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi).(William, 2001) Istilah

sectio caesaria berasal dari perkataan Latin caedera yang artinya memotong.

Pengertian ini semula dijumpai dalam Roman Law (Lex Regia) dan Emperor’s Law

(Lex Caesarea) yaitu undang – undang yang menghendaki supaya janin dalam

kandungan ibu – ibu yang meninggal harus dikeluarkan dari dalam rahim. (Rustam,

2003).
Pada study pendahuluan pada bulan oktober di Rumah Sakit Islam Lumajang

jumlah pasien SC sebanyak 24 dan meningkat pada bulan November menjadi 27

pasien dan 10 dari 20 pasien mengalami kecemasan saat mau melakukan operasi

seksio sesaria

Di Indonesia persalinan metode seksio sesarea bukan merupakan hal yang baru

lagi. Hal ini terbukti dengan meningkatnya angka sectio caesarea dalam kurun waktu 4

tahun terakhir di Indonesia dari 20% menjadi 29,8% pada tahun 2013 (Riskesdas,

2013). Menurut data dari register rumah sakit di 5 kabupaten sePropinsi D.I

Yogyakarta tahun 2011, angka kejadian sectio caesareasebanyak 5.222 kasus

(Sumarah, dkk 2013). Respon paling umum pada pasien pre-operasi salah satunya

adalah respon psikologi (kecemasan), secara mental penderita akan menghadapi

sectio caesareaharus dipersiapkan karena selalu ada rasa cemas dan takut terhadap 2

penyuntikan, nyeri luka, anesthesi, bahkan terhadap kemungkinan cacat atau mati.

Sejalan dengan teori tentang tindakan pembedahan yang merupakan salah satu

ancaman potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat

membangkitkan kecemasan ketika akan menghadapinya, sehingga perlu adanya

persiapan secara psikologi ketika akan menghadapi sectio caesarea. Kecemasan

(ansietas/anxiety) adalah gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai dengan

perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak

mengalami gangguan dalam menilai realita (Reality Testing Ability/RTA masih baik),

kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/splitting of

personality), perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal. Gejala

kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan

(psychiatric disorder). Secara klinis gangguan kecemasan dibagi dalam beberapa


kelompok, yaitu :gangguan cemas (anxiety disorder), gangguan cemas menyeluruh

(generalized anxiety disorder/GAD), gangguan panik (panic disorder), gangguan

phobik (phobic disorder) dan gangguan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive

disorder) (Hawari, 2016).

Tindakan operasi seperti seksio sesarea adalah salah satu bentuk terapi medis

yang dapat mendatangkan stres karena adanya ancaman terhadap tubuh integritas

dan jiwa seseorang (Long, 1996). Oleh karena itu, Carpenito (2000) menjelaskan

bahwa secara mental pasien harus dipersiapkan untuk menghadapi operasi karena

kebanyakan pasien pre operasi atau sebelum operasi merasakan cemas.

Cemas merupakan respon yang lazim menjelang operasi, dalam hal ini dapat

mengganggu proses operasi bila kecemasan meningkat. Kenyamanan mendorong

pasien lebih siap melakukan operasi dan pasien menjadi mampu menguasai

mekanisme penyesuaian. Oleh karena itu perawat berperan untuk menerapkan

tindakan keperawatan yang mendukung mekanisme tubuh dalam menangani

kecemasan yaitu secara farmakologi dan non farmakologis (Long, 1996). Tindakan

farmokologi umumnya merupakan tindakan kolaboratif antara lain dengan

menggunakan obat golongan benzodiazepin dan non benzodiazepin. Tindakan

keperawatan untuk mengurangi kecemasan secara nonfarmokologis yaitu

menyediakan penjelasan atau informasi, menggali perasaan, memfasilitasi

pemecahan masalah, bifeedback, distraksi, relaksasi termasuk relaksasi progressif

(Long 1996).

Salah satu dari tindakan non Farmakologi untuk menurunkan kecemasan

adalah relaksasi progressif yang terdiri dari peregangan dan relaksasi sekelompok

otot. Relaksasi yang terprogram menunjukkan efek menurunkan tekanan darah,

denyut nadi dan menurunkan kecemasan. Ada empat komponen utama dari teknik
relaksasi yaitu lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman, sikap yang dapat

diubah dan mental yang baik (Long, 1996).

Mengingat teknik relaksasi progressif ini dapat dilakukan oleh semua orang

karena mudah, tidak memerlukan tempat khusus, ekonomis dan menurut Mohammad

Arie (2008),

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

ini.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

adakah pengaruh relaksasi progressif terhadap kecemasan pada pasien pre operasi

seksio sesarea di RS Islam Lumajang

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh relaksasi progresif

terhadap kecemasan pada pasien pre operasi secio sesaria di Rumah Sakit

Islam Lumajang

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi kecemasan pada pasien pre operasi secio sesaria yang

dilakukan latihan relaksasi progresif

b. Mengidentifikasi kecemasan pada pasien pre operasi secio sesaria yang

tidak dilakukan latihan relaksasi progresif

c. Menganalisis pengaruh relaksasi progresif terhadap kecemasan pada

pasien pre operasi secio sesaria di Rumah Sakit Islam Lumajang


1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Peneliti

Memberikan pengalaman dalam pelaksanaan penelitian dan mengetahui

tentang pengaruh relaksasi progressif terhadap kecemasan pada pasien pre

operasi seksio sesarea di Rumah Sakit Islam Lumajang

1.4.2 Bagi Perawat

Menambah pengetahuan di bidang keperawatan terhadap intervensi

menurunkan kecemasan dengan menggunakan latihan relaksasi progressif

pada pasien pre operasi seksio sesarea di Rumah Sakit Islam Lumajang

1.4.3 Bagi Institusi Rumah Sakit

Untuk meningkatkan pelayanan Rumah Sakit khususnya untuk

menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea.

1.4.4 Bagi Pasien

Menambah pengetahuan tentang latihan relaksasi progressif yang dapat

mengurangi kecemasan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Seksio Sesarea

2.1.1 Pengertian

Seksio Sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan

pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina (Mochtar, 1998).

2.1.2 Istilah Seksio Sesarea

2.1.2.1 Seksio Sesarea primer (elektif)

Adalah dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara

seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit.

2.1.2.2 Seksio Sesarea sekunder

Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus

percobaan), bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru

dilakukan seksio sesarea.

2.1.2.3 Seksio Sesarea ulang (repeat caesarean section)

Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio sesarea (previous caesarean

section) dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan seksio sesarea ulang.

2.1.2.4 Seksio Sesarea histerektomi

Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan seksio sesarea,

langsung dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.


2.1.2.5 Operasi Porro (Porro Operation)

Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya

janin sudah mati), dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan

infeksi rahim yang berat (Mochtar, 1998).

2.1.3 Indikasi Seksio Sesarea

1. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)

2. Panggul sempit

3. Disporposi sefalo-pelvik yaitu ketidak seimbangan antara ukuran kepala

dan panggul

4. Ruptura Uteri mengancam

5. Partus lama (prolonged labor)

6. Partus tak maju (obstructed labor)

7. Distosia servik

8. Pre-eklamsi dan hipertensi

9. Malpresentasi janin seperti : letak lintang, letak bokong, presentasi dahi dan

muka (letak defleksi) bila reposisi dan cara yang lain tidak berhasil,

presentasi rangkap bila reposisi tidak berhasil, gemelli (Mochtar, 1998).

2.1.4 Pengertian Pre Operasi

Pre Operasi adalah suatu keadaan yang dimulai sejak klien diputuskan untuk

intervensi bedah dibuat sampai pasien akan dikirim ke meja operasi (Smeltzer &

Bare, 2001).

2.1.5 Persiapan Pre Operasi

2.1.5.1 Persiapan Mental

Secara mental, pasien harus dipersiapkan untuk menghadapi pembedahan

karena selalu ada rasa cemas atau takut terhadap penyuntikan, nyeri luka, anestesi,
bahkan terhadap kemungkinan cacat atau mati. Dalam hal ini hubungan baik antara

pasien, keluarga dan dokter sangat menentukan. Kecemasan ini adalah reaksi

normal yang dapat dihadapi dengan sikap terbuka dari dokter dan petugas

pelayanan kesehatan lainnya (Sjamsuhidayat, 1996). Selain itu pasien diberikan

penjelasan tentang operasi yang akan dilakukan. Pasien dan keluarga dapat

menyetujui atau menolak tindakan operasi dan menyatakannya dalam surat

persetujuan yang disebut informed consent (Manuaba, 1998).

2.1.5.2 Persiapan Fisik

Menurut Long (1996), pasien yang akan menjalani operasi harus

dipersiapkan fisiknya antara lain :

1) Diit

Pasien dipuasakan, 8 jam sebelum operasi pasien tidak boleh makan dan 4 jam

sebelum operasi pasien tidak boleh minum untuk mencegah aspirasi cairan atau

makanan dari lambung bila klien muntah saat dianestesi.

2) Persiapan Perut

Pemberian huknah sebelum operasi bertujuan untuk mencegah cidera colon,

memungkinkan visualisasi yang lebih baik kepada daerah yang akan dioperasi,

mencegah konstipasi pada pasca bedah dan mencegah kontaminasi area operasi

selama operasi berlangsung.

3) Persiapan Kulit

Tujuan persiapan kulit sebelum operasi adalah untuk membebaskan sedapat

mungkin daerah operasi dari mikroorganisme, seperti dengan mencukur rambut pada

daerah tubuh yang akan diinsisi.


4) Persiapan akhir sebelum operasi

Persiapan ini bertujuan untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau

cidera meliputi :

 Cek gelang identifikasi demi ketelitian dan legalitas

 Bila pasien mengenakan tusuk konde dan wig, maka lepaskan tusuk konde

dan wig kemudian tutup kepala

 Bila pasien mengenakan perhiasan dan kontak lensa, maka lepaskan

perhiasan dan kontak lensa kemudian amankan dalam tempat

 Bila pasien memakai, cat kuku, maka bersihkan dahulu cat kuku tersebut

 Bila pasien mengenakan gigi palsu, mata palsu, maka harus dilepas agar

tidak mengganggu operasi

 Alat bantu pendengaran boleh terpasang apabila pasien tidak dapat

mendengar tanpa alat bantu

 Pasang kaos kaki anti emboli bila pasien beresiko tinggi terhadap

tromboembolisme

 Pasien diminta untuk mengosongkan kandung kemih sebelum mendapat obat

pra anestesi

2.1.6 Masalah Kesehatan Pasien Pre Operasi

Masalah yang dialami oleh Pasien pre operasi adalah cemas sehingga terjadi

perubahan pola tidur (insomnia), sering berkemih, kenaikan kecepatan nadi, kenaikan

kecepatan pernafasan, telapak tangan basah, gerakan tangan yang terus-menerus

dan gelisah (Long, 1996).


2.2 Konsep Kecemasan

2.2.1 Pengertian

Cemas dalam bahasa latin “anxius” dan dalam bahasa Jerman “angst” kemudian

menjadi “anxiety” yang berarti kecemasan, merupakan suatu kata yang dipergunakan

oleh Freud untuk menggambarkan suatu efek negatif dan keterangsangan. Cemas

mengandung arti pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami setiap

orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi

sebaik – baiknya (Hawari, 2000).

Kecemasan (ansietas/ anxiety) adalah gangguan alam perasaan (affectiv) yang

ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan

berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing

Ability), kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam

batas – batas normal. Ada segi yang disadari dari kecemasan itu sendiri seperti rasa

takut, tidak berdaya, terkejut, rasa berdosa atau terancam, selain itu juga segi – segi

yang terjadi di luar kesadaran dan tidak dapatmenghindari perasaan yang tidak

menyenangkan (Jadman, 2001).

Cemas merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak

menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kecemasan pada individu merupakan pengalaman yang subjektif, dapat memberikan

motivasi untuk mencapai sesuatu dan sumber penting dalam usaha memelihara

keseimbangan hidup ( Suliswati, 2005 ).

2.2.2 Teori Predisposisi dan Presipitasi Kecemasan

Beberapa teori yang mengemukakan faktor pendukung terjadinya kecemasan

menurut Stuart dan Sundeen (1998) antara lain:

a. Teori Psikoanalitik
Menurut pandangan psikoanalitic, kecemasan terjadi karena adanya konflik yang

terjadi antara emosional elemen kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Id

mewakili insting, super ego mewakili hati nurani, sedangkan ego mewakili konflik

yang terjadi antara kedua elemen yang bertentangan. Dan timbulnya merupakan

upaya dalam memberikan bahaya pada elemen ego.

b. Teori Interpersonal

Menurut pandangan interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap

tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.

c. Teori Behaviour

Berdasarkan teori behaviour (perilaku), kecemasan merupakan produk frustrasi

yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai

tujuan yang diinginkan.

d. Teori Prespektif keluarga

Kajian keluarga menunjukkan pola interaksi yang terjadi didalam keluarga

kecemasan menunjukkan adanya interaksi yang tidak adaptif dalam sistem

keluarga.

e. Teori Prespektif Biologis

Kesehatan umum seseorang menurut pandangan biologis merupakan faktor

predisposisi timbulnya kecemasan.

Menurut Stuart & Sundeen (1998) faktor pencetus (presipitasi) yang menyebabkan

terjadinya kecemasan antara lain:

a. Ancaman terhadap Integritas biologi seperti:

1) Penyakit
Berbagai penyakit fisik terutama yang kronis yang mengakibatkan invaliditas

dapat menyebabkan stres pada diri seseorang, misalnya : penyakit jantung,

hati, kanker, stroke dan HIV/AIDS.

2) Trauma fisik

3) Pembedahan

b. Ancaman terhadap Konsep Diri seperti:

Proses kehilangan, perubahan peran, perubahan lingkungan, perubahan

hubungan dan Status sosial ekonomi.

2.2.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan

Tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait meliputi hal

berikut:

a. Potensi stresor

Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan

perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan

adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.

b. Maturasi (kematangan)

Individu yang matang yaitu yang memiliki kematangan kepribadian sehingga akan

lebih sukar mengalami gangguan akibat stres, sebab individu yang matang

mempunyai daya adaptasi yang besar terhadap stressor yang timbul. Sebaliknya

individu yang berkepribadian tidak matang akan bergantung dan peka terhadap

rangsangan sehingga sangat mudah mengalami gangguan akibat adanya stres.

c. Status pendidikan dan status ekonomi

Status pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang menyebabkan

orang tersebut mengalami stres dibanding dengan mereka yang status pendidikan

dan status ekonomi yang tinggi.


d. Tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang

tersebut mudah stres.

e. Keadaan fisik

Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, penyakit badan, operasi,

cacat badan lebih mudah mengalami stres. Disamping itu orang yang mengalami

kelelahan fisik juga akan lebih mudah mengalami stres.

f. Tipe kepribadian

Individu dengan tipe kepribadian tipe A lebih mudah mengalami gangguan akibat

adanya stres dari individu dengan kepribadian B. Adapun ciri – ciri individu dengan

kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna,

merasa buru – buru waktu, sangat setia (berlebihan) terhadap pekerjaan, agresif,

mudah gelisah, tidak dapat tenang dan diam, mudah bermusuhan, mudah

tersinggung, otot – otot mudah tegang. Sedangkan individu dengan kepribadian

tipe B mempunyai ciri – ciri yang berlawanan dengan individu kepribadian tipe A.

g. Sosial Budaya

Cara hidup individu di masyarakat yang sangat mempengaruhi pada timbulnya

stres. Individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur dan mempunyai falsafat

hidup yang jelas maka pada umumnya lebih sukar mengalami stres. Demikian juga

keyakinan agama akan mempengaruhi timbulnya stres.

h. Lingkungan atau situasi

Individu yang tinggal pada lingkungan yang dianggap asing akan lebih mudah

mengalami stres.
i. Usia

Ada yang berpendapat bahwa faktor usia muda lebih mudah mengalami stres dari

pada usia tua, tetapi ada yang berpendapat sebaliknya.

j. Jenis kelamin

Umumnya wanita lebih mudah mengalami stres, tetapi usia harapan hidup wanita

lebih tinggi dari pada pria.

2.2.4 Faktor-faktor yang dapat mengurangi kecemasan antara lain:

a. Represi, yaitu tindakan untuk mengalihkan atau melupakan hal atau keinginan

yang tidak sesuai dengan hati nurani. Represi juga bisa diartikan sebagai usaha

untuk menenangkan atau meredam diri agar tidak timbul dorongan yang tidak

sesuai dengan hatinya (Prasetyono, 2007).

b. Relaksasi, yaitu dengan mengatur posisi tidur dan tidak memikirkan masalah

(Prasetyono, 2007). Sedangkan Dale Carnegie (2007) menambahkan bahwa

relaksasi dan rekreasi bisa menurunkan kecemasan dengan cara tidur yang

cukup, mendengarkan musik, tertawa dan memperdalam ilmu agama.

c. Komunikasi perawat, yaitu komunikasi yang disampaikan perawat pada pasien

dengan cara memberi informasi yang lengkap mulai pertama kali pasien masuk

dengan menetapkan kontrak untuk hubungan profesional mulai dari fase

orientasi sampai dengan terminasi atau yang disebut dengan komunikasi

teraupetik (Tamsuri, 2006).

d. Psikofarmaka, yaitu pengobatan untuk cemas dengan memakai obatobatan

seperti diazepam, bromazepam dan alprazolam yang berkhasiat memulihkan

fungsi gangguan neurotransmiter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf

pusat otak (lymbic system) (Hawari, 2001).


e. Psikoterapi, merupakan terapi kejiwaan dengan memberi motivasi, semangat

dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi

keyakinan serta kepercayaan diri (Hawari, 2001).

f. Psikoreligius, yaitu dengan doa dan dzikir. Doa adalah mengosongkan batin dan

memohon kepada Tuhan untuk mengisinya dengan segala hal yang kita

butuhkan. Dalam doa umat mencari kekuatan yang dapat melipatgandakan

energi yang hanya terbatas dalam diri sendiri dan melalui hubungan dengan doa

tercipta hubungan yang dalam antara manusia dan Tuhan (Prasetyono, 2007).

Terapi medis tanpa disertai dengan doa dan dzikir tidaklah lengkap, sebaliknya

doa dan dzikir saja tanpa terapi medis tidaklah efektif.

2.2.5 Manifestasi Klinik

Ansietas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis,

perilaku dan secara langsung melalui timbulnya gejala sebagai upaya untuk melawan

ansietas. Intensitas perilaku akan meningkat sejalan dengan peningkatan tingkat

kecemasan (Stuart dan Sundeen, 1998).

Berikut tanda dan gejala berdasarkan klasifikasi tingkat kecemasan - kecemasan

yang timbul secara umum adalah:

a. Tanda fisik

1) Cemas ringan:

a) Gemetaran, renjatan, rasa goyang

b) Ketegangan otot

c) Nafas pendek, hiperventilasi

d) Mudah lelah

2) Cemas sedang:

a) Sering kaget
b) Hiperaktifitas autonomik

c) Wajah merah dan pucat

3) Cemas berat:

a). Takikardi

b). Nafas pendek, hiperventilasi

c). Berpeluh

d). Tangan terasa dingin

4) Panik

a). Diare

b). Mulut kering (xerostomia)

c). Sering kencing

d). Parestesia (kesemutan pada kaki dan tangan)

e). Sulit menelan

b. Gejala psikologis

a) Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah

tersinggung

b) Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.

c) Sulit konsentrasi, hypervigilance (siaga berlebihan)

d) Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang

e) Gangguan pola tidur, mimpi – mimpi yang menegangkan

f) Gangguan konsentrasi dan daya ingat

g) Libido menurun

h) Rasa menganjal di tenggorokan

i) Rasa mual di perut

2.1.6. Tingkat kecemasan


Menurut Suliswati (2005), tingkat kecemasan dibagi 4 (empat), yaitu:

a. Kecemasan Ringan

Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari - hari.

Individu akan berhati-hati dan waspada serta lahan persepsi meluas, belajar

menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas. Respon cemas ringan seperti sesekali

bernafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, gejala ringan pada lambung, muka

berkerut dan bergetar, telinga berdengung, waspada, lapang persepsi meluas,

sukar konsentrasi pada masalah secara efektif, tidak dapat duduk tenang dan

tremor halus pada tangan.

b. Kecemasan Sedang

Pada tingkat ini, lahan persepsi terhadap masalah menurun. Individu telah berfokus

pada hal-hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal-hal yang lain.

Respon cemas sedang seperti sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik,

mulut kering, muka merah dan pucat, anoreksia, gelisah, lapang pandang

menyempit, rangsangan luar mampu diterima, bicara banyak dan lebih cepat,

susah tidur dan perasaan tidak enak, firasat buruk.

c. Kecemasan Berat

Pada tingkat ini, lapangan persepsi individu sangat sempit. Seseorang cenderung

hanya memikirkan hal kecil saja dan mengabaikan hal yang penting. Tidak mampu

berpikir berat lagi dan membutuhkan lebih banyak pengarahan atau tuntutan.

Responnya meliputi nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, rasa

tertekan pada dada, berkeringat dan sakit kepala, mula-mual, gugup, lapang

persepsi sangat sempit, tidak mampu menyelesaikan masalah, verbalisasi cepat,

takut pikiran sendiri dan perasaan ancaman meningkat dan seperti ditusuk-tusuk.

d. Panik
Pada tingkat ini, lapangan persepsi individu telah terganggu sehingga tidak dapat

mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa, walaupun telah diberi

pengarahan. Respon panik seperti napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi,

penglihatan kabur, hipotensi, lapang persepsi sempit, mudah tersinggung, tidak

dapat berpikir logis, agitasi, mengamuk, marah, ketakutan, berteriak-teriak,

kehilangan kendali dan persepsi kacau, menjauh dari orang.

Tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan Hamilton Rating Scale

for Anxiety (HRS-A) yang sudah dikembangkan oleh kelompok Psikiatri Biologi

Jakarta (KPBJ) dalam bentuk Anxiety Analog Scale (AAS). Validitas AAS sudah

diukur oleh Yul Iskandar pada tahun 1984 dalam penelitiannya yang mendapat

korelasi yang cukup dengan HRS A (r = 0,57 – 0,84).

Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat

ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Skala HARS

merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom

pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14

syptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item

yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4

(severe).

Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh

Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan

terutama pada penelitian trial clinic. Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas

dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran kecemasan pada

penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa

pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil

yang valid dan reliable.


Skala HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) yang dikutip Nursalam (2003)

penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi:

a. Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah

tersinggung.

b. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan

lesu.

c. Ketakutan: takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal

sendiri dan takut pada binatang besar.

d. Gangguan tidur: sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur

tidak pulas dan mimpi buruk.

e. Gangguan kecerdasan: penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit

konsentrasi.

f. Perasaan depresi: hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada

hobi, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.

g. Gejala somatik: nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak

stabil dan kedutan otot.

h. Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah

dan pucat serta merasa lemah.

i. Gejala kardiovaskuler: takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras

dan detak jantung hilang sekejap.

j. Gejala pernapasan: rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering

menarik napas panjang dan merasa napas pendek.

k. Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun,

mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan,

perasaan panas di perut.


l. Gejala urogenital: sering kencing, tidak dapat menahan kencing,

aminorea, ereksi lemah atau impotensi.

m. Gejala vegetatif: mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu

roma berdiri, pusing atau sakit kepala.

n. Perilaku sewaktu wawancara: gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan

dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek

dan cepat.

Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan

kategori:

0 = Tidak ada gejala sama sekali

1 = Satu dari gejala yang ada

2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada

3 = Berat/lebih dari ½ gejala yang ada

4 = Sangat berat semua gejala ada

Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor

dan item 1-14 dengan hasil:

a. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.

b. Skor 7 – 14 = kecemasan ringan.

c. Skur 15 – 27 = kecemasan sedang.

d. Skor lebih dari 27 = kecemasan berat.

2.1.7 Respon Terhadap Ancietas

Menurut Stuart (2013) ada 4 respons tubuh terkait ansietas yaitu respons

fisiologis, respons perilaku, respons afektif, dan respons kognitif.

a. Respon fisiologis
1) Kardiovaskuler: palpitasi, jantung berdebar, tekana darah meningkat, rasa

ingin pingsan.

2) Pernapasan: napas cepat, sesak napas, tekanan pada dada, napas dangkal,

pembengkakan pada tenggorokan, sensasi tercekik, terengah-engah.

3) Neuromuskuler: reflek meningkat, reaksi terkejut, mata berkedip-kedip,

insomnia, tremor, gelisah, mondar mandir, wajah tegang, kelemahan umum,

tungkai lemah, gerakan yang jangkal.

4) Gastrointestinal: kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak

nyaman pada abdomen, mual, nyeri ulu hati, diare.

5) Saluran perkemihan: sering berkemih, tidak bisa menahan kencing.

6) Kulit atau integumen: wajah kemerahan, keringat berlebih, pucat.

b. Respon perilaku

Seperti gelisah, ketegangan fisik, reaksi terkejut, bicara cepat, kurang

koordinasi, menarik diri, hiperventilasi, sangat waspada.

c. Respon kognitif

Seperti konsentrasi buruk, pelupa, hambatan berpikir, lapang persepsi

menurun, kreativitas menurun, bingung, mimpi buruk.

d. Respon afektif

Seperti tidak sabar, mudah terganggu, gelisah, gugup, ketakutan,

kekhawatiran, rasa bersalah.

2.2.6 Faktor yang mempengaruhi kecemasan

Reaksi pasien terhadap kecemasan preoperasi dibentuk oleh berbagai faktor

yang saling berinteraksi mencakup pengalaman masa lalu, umur, jenis kelamin,

sosial budaya, nilai agama, lingkungan dan dukungan orang terdekat (Stuart &

Sundeen, 1998)
2.2.6.1 Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu individu dengan tindakan pembedahan akan

mempengaruhi kecemasan individu tersebut, pengalaman akan membuat individu

mampu mengontrol kecemasan namun dapat juga membuat individu semakin cemas.

Individu yang mampu mengontrol stresor akan lebih sedikit mentoleransi kecemasan.

Namun individu yang tidak mampu mengontrol stresor ataupun yang tidak

mendapatkan penanganan kecemasan pada pengalaman masa lalu akan semakin

meningkatkan kecemasan pasien. Umumnya, orang yang sering mengalami

kecemasan dalam hidupnya, cenderung mengantisipasi terjadinya cemas yang lebih

hebat (Taylor & Le mone, 1991).

2.2.6.2 Umur

Umumnya lansia menganggap kecemasan sebagai komponen alamiah dari

proses penuaan dan dapat diabaikan atau tidak ditangani oleh petugas kesehatan.

Dilain pihak, normalnya kondisi kecemasan hebat pada dewasa muda dapat

dirasakan sebagai keluhan ringan pada dewasa tua. Orang dewasa tua mengalam

perubahan neurofisiologi dan mungkin mengalami penurunan persepsi sensori

stimulus serta peningkatan penilaian terhadap stresor. (Le Mone & Burke). Menurut

Giuffre, dkk. (1991), cara lansia bereaksi terhadap kecemasan dapat berbeda dengan

cara bereaksi orang yang lebih muda. Lansia cenderung mengabaikan lama sebelum

melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan karena sebagian dari mereka

menganggap kecemasan menjadi bagian dari penuaan normal.

2.2.6.3 Jenis Kelamin

Menurut Oakley (1972) dalam Brunner (2001) jenis kelamin (sex) merupakan

perbedaan yang telah dikodratkan Tuhan dan bersifat permanen. Perbedaan antara

laki-laki dan perempuan tidak sekedar bersifat bilogis, akan tetapi juga dalam aspek
sosial kultural. Pada tahun 1995, Vallerand meninjau penelitian tentang kecemasan

dan mengusulkan amplikasi untuk praktik klinik. Meskipun penelitian tidak

menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan

kecemasannya, namun pengobatan ditemukan lebih sedikit pada perempuan.

Perempuan lebih suka mengkomunikasikan rasa cemasnya, sedangkan laki-laki lebih

sering menyembunyikan perasaan cemasnya dan berusaha terlihat lebih tegar

dihadapan keluarganya (Taylor & Le Mone, 1991).

2.2.6.4 Sosial Budaya

Bentuk ekspresi kecemasan yang dihindari oleh satu budaya mungkin

ditunjukkan oleh budaya yang lain (Taylor & Le Mane). Menurut Zatzick dan Dimsdale

(1990), budaya dan etniksitas mempunyai pengaruh pada cara seseorang bereaksi

terhadap stresor. Namun, budaya dan etnik tidak mempengaruhi persepsi kecemasan

tersebut (Smeltzer & Bare, 2001). Perawat yang mengetahui perbedaan budaya akan

mempunyai pemahaman yang lebih besar tentang kecemasan pasien dan akan lebih

akurat dalam mengkaji tingkat kecemasan dan reaksi perilaku terhadap stresor juga

efektif dalam menghilangkan kecemasan pasien (Smeltzer & Bare, 2001).

2.2.6.5 Nilai Agama

Pada beberapa agama, individu menganggap kecemasan akibat penderitaan

sebagai hal yang wajar dan merupakan cobaan dari Tuhan. Pemahaman ini

membantu individu menghadapi kecemasan dan menjadikan sebagai sumber

kekuatan. Pasien dengan kepercayaan ini mungkin menolak analgetik dan metode

penyembuhan lainnya karena mereka yakin bahwa Tuhan akan membantu dan

melindungi mereka walaupun dalam penderitaan (Taylor & Le Mone, 1991)


2.2.6.6 Lingkungan dan dukungan orang terdekat

Lingkngan dan kehadiran dukungan keluarga juga dapat mempengaruhi

kecemasan seseorang. Banyak orang yang merasa lingkungan pelayanan kesehatan

yang asing, khususnya cahaya, kebisingan, aktivitas yang sama di ruang perawatan

intensif, dapat menambah cemas yang dirasakan. Pada beberapa pasien, kehadiran

keluarga yang dicintai atua teman bisa mengurangi rasa cemas mereka, namun ada

juga yang lebih suka menyendiri ketika merasakan cemas. Beberapa pasien

menggunakan kecemasan untuk memperoleh perhatian khusus dan pelayanan dari

keluarganya (Taylor & Le Mone, 1991)

2.2.7 Teknik Menurunkan Kecemasan

Menurut Long (1996) ada beberapa cara untuk menurunkan kecemasan yaitu :

1. Penggunaan obat-obat anti cemas (obat golongan benzodiazepin dan non

benzodizepin)

2. Menyediakan penjelasan/informasi

3. Mengerjakan teknik relaksasi termasuk relaksasi progressif

2.2.8 Cara Mengukur Tingkat Kecemasan

Alat ukur kecemasan menggunakan kuesiener yang sudah baku yaitu DASS 42

(Depression Anxiety Stress Scale). Adapun kisi-kisi kuesiener kecemasan tersebut

yaitu aspek fisik, emosi dan kognitif. Kuesiener tersebut nantinya akan diskoring dan

ditolak berdasarkan rentang kecemasan untuk mengetahui tingkat kecemasan.

Dengan penilaian setiap pernyataan itu :

Nilai 0 : Tidak pernah

1 : Jarang
2 : Kadang-kadang

3 : Sering Selalau

Pertanyaan dalam kuisioner DASS 42 adalah sebagai berikut :

1. Merasa marah setelah diberi tahu tentang rencana operasi

2. Merasa mulut kering dan haus

3. Merasa tidak ada hal yang baik dalam diri sehubungan dengan rencana

pembedahan (negatif thinking)

4. Kesulitan bernafas (sesak, nafas cepat tanpa aktivitas berlebihan)

5. Merasa melakukan reaksi berlebihan terhadap situasi yang dialami

6. Tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari saat menunggu rencana

pembedahan

7. Merasa tak terkendali (ingin pergi)

8. Sulit bersantai setelah tahu tentang rencana pembedahan

9. Berada dalam situasi yang membuat perasaan tidak enak saat menunggu

hari operasi

10. Merasa pesimis dengan hasil pembedahan

11. Mudah marah terutama setelah tahu akan dilakukan pembedahan

12. Merasa kehilangan energi (tidak bersemangat)

13. Merasa dan tertekan karena adanya rencana pembedahan

14. Merasa tidak sabar saat menunggu hari operasi

15. Tidak yakin (meragukan) akan prosedur pembedahan

16. Merasa tidak diperhatikan

17. Merasa tidak berharga akibat rencana pembedahan yang akan dilakukan

18. Kehilangan semangat dalam menjalani hari-hari menjelang operasi

19. Berkeringat walaupun tidak panas dan tidak beraktivitas berat


20. Merasa takut tanpa alasan

21. Kesulitan menelan

22. Merasa hidup tidak menyenangkan setelah tahu akan dioperasi

23. Tidak menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini

24. Merasa denyut jantung meningkat, berdebar-debar walaupun tanpa

aktivitas berlebih

25. Merasa rendah diri terutama saat menunggu hari operasi

26. Mudah tersinggung

27. Sering panik dan tidak terkendali

28. Sulit merasa tenang setelah diberi penjelasan tentang rencana

pembedahan

29. Takut disingkirkan atau dijauhi

30. Tidak tertarik pada hal baru

31. Merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan saat ini

32. Berada dalam keadaan gugup selama menunggu hari pembedahan

33. Tidak senang dengan campur tangan orang lain saat melakukan atau

memutuskan sesuatu

34. Merasa khawatir dengan keadaan diri saat di meja operasi

35. Merasa diri tidak menarik

36. Merasa selalu ingin bergerak

37. Merasa hidup tanpa arti (selama masa menunggu pembedahan)

38. Merasa masa depan tidak ada harapan terutama saat menunggu masa

operasi

39. Merasa selalu ingin bergerak

40. Khawatir dengan keadaan dan bertindak bodoh


41. Merasa gemetaran

42. Merasa kehilangan inisiatif untuk beraktivitas (malas)

Skoring jumlah dari hasil jawaban akan diinterpretasikan sebagai berikut :

Kecemasan Skor
Normal 0-7
Ringan 8-9
Sedang 10-14
Berat 15-19
Sangat berat/panik 20+

2.3 Konsep Relaksasi Progressif

2.3.1 Pengertian Relaksasi Progressif

Relaksasi adalah suatu keadaan dimana terjadi pengendoran otot-otot tubuh

dikarenakan suatu usaha untuk mencapai keadaan tersebut (Brooker, 2001).

Menurut Ignativicious (1995) relaksasi progressif adalah metode yang terdiri

dari peregangan dan relaksasi sekelompok otot dan memfokuskan pada perasaan

rileks.

Relaksasi progressif meliputi penegangan dan pelemasan otot tubuh secara

berurutan dan merasakan perbedaannya (Smeltzer & Bare, 2001).

2.3.2 Komponen Utama Dari Teknik Relaksasi

Menurut Long (1996) terdapat 4 komponen utama dari teknik relaksasi

yaitu:

1. Lingkungan yang tenang, menghindarkan sebanyak mungkin kebisingan dan

gangguan-gangguan

2. Posisi yang nyaman, duduk tanpa ketegangan otot


3. Sikap yang dapat diubah, mengosongkan semua pikiran-pikiran dari alam

sadar

4. Keadaan mental (memusatkan perhatian pada suara, kata-kata, ungkapan,

imaginasi, obyek atau pola napas untuk merubah pikiran-pikiran secara

internal menjadi pikiran yang lebih dapat diterima)

2.3.3 Efek Yang Ditimbulkan Dari Relaksasi Progressif

1. Kelompok otot yang telah mengalami relaksasi maka akan lebih rileks lagi

2. Tiap-tiap kelompok otot utama rileks secara bergantian. Kalau otot yang

baru ditambah, maka kelompok otot yang lama juga akan mengalami

relaksasi

3. Lebih banyak jumlah relaksasi yang dialami seseorang, maka orang itu

akan bergerak menuju fase relaksasi (Long, 1996).

2.3.4 Teknik Relaksasi Progressif

1. Yakinkan posisi yang nyaman dalam ruangan yang tenang

2. Mulai dengan memusatkan perhatian pada pernafasan yang lambat

3. Regangkan kelompok otot-otot yang diinginkan (lihat langkah 5) selama 5-7

detik, kemudian relaksasi secara cepat

4. Pusatkan perhatian selama 10 detik pada sensasi-sensasi pada otot yang

berileksasi

5. Ikuti petunjuk ini, ulangi untuk setiap kelompok otot, regangkan 2 atau 3 kali

a) Tangan dan lengan : mengepalkan tangan, menarik siku dengan kuat, kerutkan

hidung, purse lip senyum dengan gigi terekat kuat

b) Wajah : mengerutkan dahi, tutup mata dengan rapat, mengerutkan hidung, purse

lip, senyum dengan gigi terekat kuat

c) Leher : dekatkan dagu dengan dada


d) Dada : tarik kedua bahu secara bersama-sama, keraskan perut dan bokong

e) Kaki dan tungkai : dorong kebawah dengan kaki, jari-jari menjauhi (dorrsofleksi),

utamakan kaki yang terdahulu

6. Ulangi proses pada setiap area yang mengalami ketegangan (Long, 1996).

2.3.5 Pengaruh Relaksasi Progressif Terhadap Kecemasan

Menurut Edmund Jacobson (1929) dalam Zimbardo dijelaskan bahwa

relaksasi progressif merupakan teknik relaksasi otot ke dalam yang tidak

memerlukan imajinasi, ketekunan dan sugesti. Teknik ini didasarkan pada keyakinan

bahwa tubuh berespon pada kecemasan yang merangsang pikiran dan kejadian

dengan ketegangan otot. Ketegangan fisiologis meningkatkan pengalaman subyektif

terhadap kecemasan. Respon relaksasi mempunyai efek penyembuhan yang

memberi kesempatan untuk beristirahat dari stres lingkungan eksternal dan stres

internal dari pikiran. Respon relaksasi yaitu mengembalikan tubuh dalam

keadaan seimbang. Pupil, pendengaran, tekanan darah, denyut jantung, pernafasan

dan sirkulasi kembali normal dan otot-otot rileks. Relaksasi mengembalikan proses

fisik, mental dan emosi (Davis, 1995).

Pada tubuh manusia internal mempunyai mekanisme koping yang membantu

mengontrol persepsi cemas pada sistem saraf pusat endogen opiate "morphin

reseptor" dari sistem analgesia yang berasal dari otak yang disebut beta

endorphin. Zat ini dihasilkan dari latihan-latihan dan bentuk lain seperti stimuli fisik

diantaranya dengan relaksasi progressif. Beberapa ahli meyakini bahwa kegiatan

ini menambah atau meningkatkan duksi produksi endorphin (Roshdal, 1999).


BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

Faktor-faktor yang Ibu Pre Operasi Seksio


mempengaruhi kecemasan
sesarea
- Pengalaman masa lalu
- Umur
- Jenis kelamin
- Sosial budaya
- Nilai agama Kecemasan
- Lingkungan dan dukungan
orang terdekat

Terapi farmakologi - Tidak cemas


- Cemas ringan
- Benzodiazepin
- Cemas sedang
- Nonbenzodiazepin
- Cemas berat

Terapi non farmakologi

- Relaksasi progresif

- Menyediakan penjelasan /
informasi
- Menggali perasaan
- Memfasilitasi pemecahan
masalah
- Distraksi
3.2 Hipotesis Penelitian
Menurut Nursalam (2013) hipotesis adalah suatu asumsi pernyataan tentang
hubungan antara dua atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu
pertanyaan dalam penelitian. Hipotesis yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah
H1 : Ada pengaruh relaxasi progresif terhadap kecemasan pasien pre operasi
seksio sesaria di Rumah Sakit Islam Lumajang.
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu strategi dalam mengidentifikasi permasalahan

sebelum perencanaan akhir pengumpulan data (Nursalam, 2003).

Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian "Pra Eksperimen".

Bentuk rancangan yang digunakan adalah "One Group Pretest-Postest" yaitu

rancangan yang mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan

suatu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan

intervensi kemudian diobservasi lagi setelah intervensi. Rancangan ini dapat

diilustrasikan sebagai berikut :

01 X 02

02

Keterangan :

01 : Pretest

X : Perlakuan berupa relaksasi progressif

02 : Postes

(Notoatmodjo, 2002)
4.2 Kerangka Kerja Penelitian

Identifikasi tingkat Relaksasi Identifikasi tingkat


kecemasan (post)
Progressif

Pengolahan data
Editing, coding, skoring, tabulating

Pengolahan data
Analisa data uji wilcoxon match pats test

Penarikan kesimpulan ada atau tidak ada pengaruh terhadap relaxasi


progresif terhadap kecemasan pada px SC

Gambar 4.2 Kerangka Kerja Pengaruh Relaksasi Progressif Terhadap


Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Sesarea Di RS Islam
Lumajang
4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi adalah setiap subyek (misalnya : manusia, pasien) yang memenuhi

kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah

pasien pre operasi seksio sesarea di RS Islam Lumajang yang mengalami

kecemasan.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari

karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Nursalam, 2003). Sesuai dalam Arikunto

(2002), penelitian pra eksperimental minimum besar sampel yang diambil 20

responden. Kriteria sampei meliputi kriteria inklusi yaitu :

1) Pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di RS Islam Lumajang

2) Pasien adalah seksio sesarea elektif yang masuk RS Islam Lumajang

3) Pasien akan menjalani operasi seksio sesarea tanpa komplikasi yang

menyertai

4) Tingkat kesadaran composmentis

5) Usia 18-45 tahun (usia reproduksi aktif)

6) Pasien mengalami kecemasan

7) Pasien tidak mendapat obat-obat anti cemas (golongan benzodiazepin dan non

benzodiazepin)

8) Bersedia menjadi responden

4.3.2 Sampling

Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk

dapat mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh


dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai

dengan keseluruhan subyek penelitian (Nursalam, 2003).

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan non probability sampling dengan

teknik consecutive sampling yaitu pemilihan sample dengan menetapkan subjek

yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun

waktu tertentu sehingga jumlah pasien yang diperlukan terpenuhi (Nursalam, 2003).

4.4 Variabel Penelitian

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda

terhadap sesuatu (benda, manusia). (Soeparto, Taat Putra dan Haryanto, 2000)

4.4.1 Variabel Independen

Adalah suatu stimulasi aktivitas yang dimanipulasi oleh peneliti untuk

menciptakan suatu dampak pada variabel dependen (Nursalam, 2003). Adapun

variabel Independen dalam penelitian ini adalah tindakan relaksasi progressif.

4.4.2 Variabel Dependen

Adalah variabel respon atau output yang akan mencul sebagai akibat dari

manipulasi suatu variabel-variabel lainnya (Nursalam, 2003). Adapun variabel

dependen dalam penelitian ini adalah kecemasan pada pasien pre operasi seksio

sesarea

4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.5.1 Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Islam Lumajang.
4.5.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan...2019
4.6 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan

bagaimana caranya menentukan variabel dan mengukur suatu variabel,

sehingga definisi operasional ini merupakan suatu informasi ilmiah yang akan

membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama.

(Setiadi, 2007). Dalam penelitian ini definisi operasionalnya adalah :

Definisi Operasional
Definisi Skor
No Variabel Parameter Alat Ukur Skala Data
Operasional
1. Independen : Metode 1. Yakinkan Lembar Nominal
Tindakan dengan cara posisi yang observasi
relaksasi mengendorkan nyaman relaksasi
progressif otot-otot dalam progressif
tangan dan ruangan
lengan, wajah, yang
leher, dada, tenang
kaki dan 2. Mulai
tungkai dalam dengan
waktu 5-7 detik memusatk
tiap regangan an
dan dilakukan perhatian
2-3 kali setiap pada
kelompok otot pernafasa
n yang
lambat
3. Regangkan
kelompok
otot-otot
yang
diinginkan
(lihat
langkah 5)
selama 5-7
detik,
kemudian
relaksasi
secara
cepat
4. Pusatkan
perhatian
selama 10
detik pada
sensasi-
sensasi
pada otot
yang
berileksasi
5. Ikuti
petunjuk
ini, ulangi
untuk
setiap
kelompok
otot,
regangkan
2 atau 3
kali
6. Ulangi
proses
pada
setiap area
yang
mengalami
keteganga
n (Long,
1996).
-
2 Dependen : Suatu keadaan Menggunakan Kuesiener Ordinal Penilaian
Kecemasan tidak DASS 42 derajat
pada pasien menyenangkan (Depression kecemas
pre operasi dan perasaan Anxiety Stress an
seksio gelisah yang Scale) yang Normal :
sesarea dialami oleh terdiri dari 42 0-7
pasien yang pertanyaann Ringan :
akan diukur meliputi aspek 8-9
dengan fisik, emosi, Sedang :
menggunakan kognitif dan 10-14
kuesiener setiap Berat :
DASS 42 pertanyaan 15-19
diberi penilaian Sangat
sebagai berikut berat /
: panik :
20+
Nilai 0 : tidak
pernah

Nilai 2 : jarang

Nilai 3 : sering /
selalu
4.7 Prosedur Penelitian

Peneliti melakukan pengambilan data dengan membawa rekomendasi dari

pihak STIKES HAFSHAWATY Pesantren Zainul Hasan, Kemudian peneliti

mengajukan permohonan ijin ke Bakesbangpol Lumajang kemudian diteruskan ke

direktur Rumah Sakit Islam Lumajang. Peneliti mengadakan pendekatan pada calon

responden dengan memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian. Bila bersedia /

menyetujui menjadi responden maka peneliti mempersilahkan responden

menandatangani lembar persetujuan. Responden diberikan penjelasan cara

pengisian kuesioner dan dipersilahkan bertanya bila dalam pengisian kuesioner

menemukan kesulitan tentang maksud pertanyaan. Setelah responden selesai

mengisi kuesioner peneliti memeriksa kembali kuesioner yang telah diisi dan tidak

terdapat kuesioner yang dikembalikan peneliti pada responden, karena kuesioner

sudah terisi dengan lengkap.

4.8 Teknik Pengumpulan Data

4.8.1 Instrumen

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data

pada relaksasi progressif yaitu menggunakan lembar prosedur relaksasi progressif,

sedangkan pengumpulan data pada kecemasan pada pasien pre operasi

menggunakan quesiener.

Teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1 Mengajukan perijinan ke bagian diklat RS Islam Lumajang

2 Menentukan responden yaitu pasien yang akan operasi seksio sesarea elektif di

IGD dan ruang Kaber RS Islam Lumajang yang sesuai dengan kriteria inklusi
3 Setelah itu, dilakukan teknik pendekatan kepada pasien dan pasien ditawarkan

tindakan relaksasi progressif dan pasien diberi penjelasan mengenai tujuan,

manfaat, dan prosedur relaksasi progressif

4 Jika pasien menyetujui untuk ikut dalam penelitian dan bersedia melakukan

relaksasi progressif maka pasien mengisi lembar persetujuan sebagai

responden penelitian

5 Kemudian mengukur kecemasan sebelum dilakukan perlakuan dengan teknik

wawancara dan pengisian lembar observasi. Pengukuran tingkat kecemasan

menggunakan DASS 42

6 Kemudian responden diajarkan mengenai nengenai teknik relaksasi progressif

dengan waktu 3-5 menit tiap tindakan relaksasi progressif untuk setiap

kelompok otot, regangkan 2 atau 3 kali dan sesuai prosedur

7 Setelah responden melakukan relaksasi progressif, peneliti melakukan

evaluasi dengan mengukur kiembali tingkat kecemasan pasien mengguakan

DASS 42

8 Mencatata hasil yang didapatkan pada lembar observasi


4.9 Analisa Data

Teknik pengolahan data yang sudah terkumpul melalui kuisioner yang telah

diberikan pada responden segera dilakukan editing untuk melakukan pengisian data

kuisioner. Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data melalui tahapan

coding, scoring, tabulasi data dan aplikasi data. Untuk variabel tingkat kecemasan

setelah data terkumpul melalui kuisioner dengan diberi skor jawaban dari masing-

masing gejala kecemasan dihitung menurut skala DASS 42 (Depression Anxiety

Stress Scale) yang terdiri dari 42 pertanyaan. Penelitian derajat kecemasan yaitu

dengan menjumlahkan nilai skor dari item 0 – 20 adalah sebagai berikut : Normal : 0

– 7 ; Ringan : 8 – 9 ; Sedang : 10 – 14 : Berat : 15 – 19 ; Sangat berat / panik : 20+.

Untuk mengetahui pengaruh antara pengaruh relaksasi progresif terhadap

kecemasan maka menggunakan bantuan program SPSS For Windows 11.0

dengan -uji non parametrik yaitu Uji Wilcoxon Match Pairs Test dengan taraf

signifikansi α < 0,05. Pembacaan uji Wilcoxon yaitu 110 diterimabila α > 0,05 dengan

maksud tidak ada pengaruh antara relaksasi progressif terhadap kecemasan pada

pasien pre operasi seksio sesarea dan Ho ditolak bila α < 0,05 dengan maksud

ada pengaruh relaksasi progressif terhadap kecemasan pada pasien pre operasi

seksio sesarea.

4.9 Etika Penelitian

Penelitian yang menggunakan manusia sebagai subyek tidak boleh

bertentangan dengan etik. Tujuan penelitian harus etis dalam arti, hak responden

harus dilindungi. Dalam peneltian ini, lembar informed consent diberikan kepada

subyek yang diteliti untuk diisi, dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
4.9.1 Informed Consent

Informed Consent merupakan lembar persetujuan penelitian yang diberikan

kepada responden dengan ujuan agar subyek mengetahui maksud dan tujuan

serta dampak penelitian, dengan prinsip peneliti tidak akan memaksa calon

responden dan menghormati haknya. Jika responden bersedia diteliti mereka harus

menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika tidak peneliti harus

menghormati hak-hak responden.

4.9.2 Anomi

Untuk keluarga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan memaksa

atau mencantumkan nama subyek pada lembar kuesioner yang diisi oleh subyek,

lembar tersebut hanya diisi data tertentu.

4.9.3 Confidentiality

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subyek dijamin oleh peneliti.

4.11 Keterbatasan Penelitian

Walaupun dalam penelitian ini terdapat nilai pengaruh yang signifikan,

peneliti menyadari bahwa masih didapatkan beberapa keterbatasan dalam

pelaksanaan penelitian ini, antara lain :

Peneliti tidak memperhatikan variabel perancu yang turut mempengaruhi

kecemasan misalnya peneliti tidak meneliti tentang lingkungan dan dukungan

orang terdekat dari klien, nilai agama yang digunakan, faktor sosial budaya dan

mekanisme koping yang digunakan pasien tersebut yang memungkinkan hasil

penelitian menjadi bias.


Peneliti tidak menyingkirkan penyebab kecemasan seperti kecemasan

akibat nyeri tindakan operasi dan kecemasan harapan yang berlebihan.