Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

ASKEP KLIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY DISEASE

DENGAN HEMODIALISIS

RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG

Persiapan Praktek Ruangan : Unit Hemodialisa RS Roemani Semarang

Tanggal Praktek : 4-30 Desember 2017

Nama Mahasiswa : Indaryati

NIM : G3A016257

Nama Pembimbing :

Saran Pembimbing :

Tanda Tangan Pembimbing :

PROGRAM STUDI NERS KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2017
LAPORAN PENDAHULUAN
ASKEP KLIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY DISEASE DENGAN
HEMODIALISIS

A. PENGERTIAN
Gagal ginjal kronik atau End Stage Renal Desease (ESRD)
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana
tubuh mengalami kegagalan untuk mempertahankan metabolisme,
keseimbangan cairandan elektrolit, sehimgga menyebabkan uremia (retensi
urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Smeltzer & Bare, 2008).
Menurut proses terjadinya penyakit, gagal ginjal dibagi mnejadi 2 yaitu gagal
ginjal akut dan gagal ginjal kronis. Dikatakan akut apabila penyakit
berkembang sangat cepat, terjadi dalam beberapa jam atau dalam beberapa
hari.Sedangkan kronis, terjadi dan berkembang secara perlahan, sampai
beberapa tahun (Baradero, Dayrit, & Siswadi, 2009).
Gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal
progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah
nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak
dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal) (Nursalam,2008). Gagal ginjal
adalah ginjal kehilangan kemampuan untuk mempertahankan volume dan
komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan makanan normal. Gagal ginjal
biasanya dibagi menjadi dua kategori yaitu kronik dan akut (Nurarif &
Kusuma, 2013). Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologi
dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang
progresif, dan irreversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi
pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Brenner
& Lazarus, 2012).
B. ETIOLOGI
Penyebab tersering terjadinya gagal ginjal kronik adalah diabetes
dan tekanan darah tinggi, yaitu sekitar dua pertiga dari seluruh kasus
(National Kidney Foundation, 2015). Keadaan lain yang dapat menyebabkan
kerusakan ginjal diantaranya adalah penyakit peradangan seperti
glomerulonefritis, penyakit ginjal polikistik, malformasi saat perkembangan
janin dalam rahim ibu, lupus, obstruksi akibat batu ginjal, tumor atau
pembesaran kelenjar prostat, dan infeksi saluran kemih yang berulang
(Wilson, 2005). Gagal ginjal kronis disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya adalah gangguan klirens ginjal, penurunan laju filtrasi
glomelurus, retensi cairan dan natrium, asidosis, anemia ketidak seimbangan
kalsium dan fosfat dan penyakit tulang uremik (Smeltzer & Bare, 2008).

C. PATOFISIOLOGI
Menurunnya fungsi renal, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya di sekresikan melalui urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia
dalam darah. Uremia mempengaruhi semua bagian tubuh. Semakin banyak
timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat (Smeltzer & Bare,
2008).
1. Gangguan klirens renal
Banyak masalah yang muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari
penurunan jumlah glomelurus yang berfungsi, penurunan laju filtrasi
glomelurus/Glomerular Filtration Rate (GFR) dapat didekteksi dengan
mendapatkan urin 24 jam untuk pemeriksaan kreatinin. Penurunan GFR
mengakibatkan klirens kreatinin akan menurun dan kadar nitrogen urea/
Blood Urea Nitrogen (BUN) akan meningkat. BUN tidak hanya
dipengaruhi oleh gangguan renal tetapi dapat juga dipengaruhi oleh
masukan protein dalam diet, katabolisme dan medikasi seperti steroid
(Smeltzer & Bare, 2008).

2. Retensi cairan dan natrium.


Kerusakan ginjal menyebabkan ginjal tidak mampu mengonsentrasikan
atau mengencerkan urin. Pada gangguan ginjal tahap akhir respon ginjal
terhadap masukan cairan dan elektrolit tidak terjadi. Pasien sering
menahan natrium dan cairan sehingga menimbulkan risiko edema, gagal
jantung kongesif dan hipertensi. Hipertensi juga terjadi karena aktivitas
aksi rennin angiotensin kerjasama antara hormone rennin dan angiotensin
meningkatkan aldosteron. Pasien mempunyai kecenderungan untuk
kehilangan garam. Episode mual dan diare menyebabkan penipisan air dan
natrium, yang semakin memperburuk status uremik (Smeltzer & Bare,
2008).
3. Asidosis
Ketidak mamapuan ginjal dalam melakukan fungsinya dalam
mengeksresikan muatan asam (H+) yang berlebihan membuat asidosis
metabolik. Penurunan asam akibat ketidak mampuan tubulus ginjal untuk
menyekresikan ammonia (NH3-) dan mengabsorsi natrium bikarbonat
(HCO3-), penurunan eksresi fosfat dan asam organik lain juga terjadi.
Gejala anoreksia, mual dan lelah yang sering ditemukan pada pasien
uremia, sebagian disebabkan oleh asidosis. Gejala yang sudah jelas akibat
asidosis adalah pernafasan kusmaul yaitu pernafasan yang berat dan dalam
yang timbul karena kebutuhan untuk meningkatkan ekskresi karbon
dioksida, sehingga mengurangi keparahan asidosis (Smeltzer & Bare,
2008; Price & Wilson, 2005).
4. Anemia
Anemia terjadi akibat dari produksi eritroprotein yang tidak adekuat,
memendeknya usia sel darah merah, devisiensi nutrisi dan kecenderungan
untuk mengalami pendarahan akibat status uremik, terutama dari saluran
gastrointestinal. Pada pasien gagal ginjal, produksi eritroprotein menurun
karena adanya peningkatan hormon paratiroid yang merangsang jaringan
fibrosa dan anemia menjadi berat, disertai keletihan, angina dan napas
sesak (Smeltzer & Bare 2008; Muttaqi & Sari 2011).
5. Ketidak seimbangan kalsium dan fosfat
Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan timbal balik,
jika salah satu meningkat, maka yang lain menurun dan demikian
sebaliknya. Filtrasi glomelurus yang menurun sampai sekitar 25% dari
normal, maka terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar
kalsium serum. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi
hormon paratiroid dari kelenjar paratiroid dan akibatnya kalsium di tulang
menurun dan menyebabkan penyakit dan perubahan pada tulang. Selain itu
metabolit aktif vitamin D (1,25-dihidrokolekalsiferol) yang dibuat di ginjal
menurun seiring dengan berkembangnya gagal ginjal. Produki kompleks
kalsium meningkat sehingga terbentuk endapan garam kalsium fosfat
dalam jaringan tubuh. Tempat lazim perkembangan kalsium adalah di
dalam dan di sekitar sendi mengakibatkan artritis, dalam ginjal
menyebabkan obstruksi, pada jantung menyebabkan distritmia,
kardiomiopati dan fibrosis paru. Endapan kalsium pada mata dan
menyebabkan band keratopati (Price & Wilson, 2005).
6. Penyakit tulang uremik
Penyakit tulang uremik sering disebuat osteodistrofi renal yang terjadi dari
perubahan kompleks kalsium, fosfat dan keseimbangan hormon paratiroid.
Osteodistrofi renal merupakan komplikasi penyakit gagal ginjal kronis
yang sering terjadi (Isroin, 2013).
Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi tiga
stadium yaitu:
a. Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal)
Ditandai dengan kreatinin serum dan kadar Blood Ureum Nitrogen
(BUN) normal dan penderita asimtomatik.
b. Stadium 2 (insufisiensi ginjal)
Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (Glomerulo
filtration Rate besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini Blood
Ureum Nitrogen mulai meningkat diatas normal, kadar kreatinin
serum mulai meningklat melabihi kadar normal, azotemia ringan,
timbul nokturia dan poliuri.
c. Stadium 3 (Gagal ginjal stadium akhir / uremia)
Timbul apabila 90% massa nefron telah hancur, nilai glomerulo
filtration rate 10% dari normal, kreatinin klirens 5-10 ml permenit
atau kurang. Pada tahap ini kreatinin serum dan kadar blood ureum
nitrgen meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri. (Price, 1992:
813-814)

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat
badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas
dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem
yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga
sangat parah.
2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi,
(akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin
– aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan
berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh
toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot,
kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi)
3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Sistem kardiovaskuler
1. Hipertensi
2. Pitting edema
3. Edema periorbital
4. Pembesaran vena leher
5. Friction sub pericardial

b. Sistem Pulmoner
1. Krekel
2. Nafas dangkal
3. Kusmaull
4. Sputum kental dan liat
c. Sistem gastrointestinal
1. Anoreksia, mual dan muntah
2. Perdarahan saluran GI
3. Ulserasi dan pardarahan mulut
4. Nafas berbau amonia
d. Sistem muskuloskeletal
1. Kram otot
2. Kehilangan kekuatan otot
3. Fraktur tulang
e. Sistem Integumen
1. Warna kulit abu-abu mengkilat
2. Pruritis
3. Kulit kering bersisik
4. Ekimosis
5. Kuku tipis dan rapuh
6. Rambut tipis dan kasar

f. Sistem Reproduksi
1. Amenore
2. Atrofi testis

E. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien CKD disesuaikan
dengan stadium penyakit pasien tersebut (National Kidney Foundation,
2010). Perencanaan tatalaksana pasien CKD dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya paling tepat diberikan
sebelum terjadinya penurunan GFR sehingga tidak terjadi perburukan fungsi
ginjal. Selain itu, perlu juga dilakukan pencegahan dan terapi terhadap
kondisi komorbid dengan mengikuti dan mencatat penurunan GFR yang
terjadi. Perburukan fungsi ginjal dapat dicegah dengan mengurangi
hiperfiltrasi glomerulus, yaitu melalui pembatasan asupan protein dan terapi
farmakologis guna mengurangi hipertensi intraglomerulus. Pencegahan dan
terapi terhadap penyakit kardiovaskular merupakan hal yang penting
mengingat 40-45 % kematian pada CKD disebabkan oleh penyakit
kardiovaskular ini. Pencegahan dan terapi penyakit kardiovaskular dapat
dilakukan dengan pengendalian diabetes, pengendalian hipertensi,
pengendalian dislipidemia dan sebagainya. Selain itu, perlu dilakukan
pencegahan dan terapi terhadap komplikasi yang mungkin muncul seperti
anemia dan osteodistrofi renal (Suwitra, 2009).
F. KONSEP TEORI TENTANG DIALISIS
1. Definisi Hemodialisis
Hemodialisa berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis =
pemisahan atau filtrasi. Hemodialisis adalah suatu metode terapi dialis
yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam
tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu
melaksanakan proses tersebut. Tetapi ini dilakukan dengan menggunakan
sebuah mesin yang dilengkapi dengan membran penyaring semipermeabel
(ginjal buatan). Hemodialisis dapat dilakukan pada saar toksin atau zat
beracun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen
atau menyebabkan kematian (Mutaqin & Sari, 2011).
Hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti
fungsi ginjal untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu
dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hydrogen, urea,
kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi permeable
sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana
terjadi proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Kusuma & Nurarif, 2012).
Hemodialisis (HD) adalah suatu proses menggunakan mesin HD
dan berbagai aksesorisnya dimana terjadi difusi partikel terlarut (salut) dan
air secara pasif melalui darah menuju kompartemen cairan dialisat
melewati membrane semi permeabel dalam dializer (Price & Wilson,
2006). Hemodialisis ini bertujuan untuk mengeluarkan zat-zat terlarut
yang tidak diinginkan dari dalam darah dan mengeluarkan air yang
berlebihan (O’callaghan, 2009).
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan
biokimiawi darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan
dengan menggunakan mesin hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah
satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy/RRT) dan
hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis
dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan AKI
(Acute Kidney Injury) yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut
prosedur yang dilakukan HD dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: HD
darurat/emergency, HD persiapan/preparative, dan HD kronik/reguler
(Daurgirdas et al., 2007).

2. Tujuan Hemodialisis
Tujuan dari hemodilisis adalah untuk memindahkan produk-produk
limbah terakumulasi dalam sirkulasi klien dan dikeluarkan ke dalam mesin
dialisis. Pada klien gagal ginjal kronik, tindakan hemodialisis dapat
menurunkan risiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat akumulasi
zat toksik dalam sirkulasi, tetapi tindakan hemodialisis tidak
menyembuhkan atau mengembalikan fungsi ginjal secara permanen. Klien
GGK biasanya harus menjalani terapi dialiss sepanjang hidupnya
(biasanya tiga kali seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam perkali
terapi) atau sampai mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal
(Mutaqin & Sari, 2011).

3. Indikasi Hemodialisis
Indikasi HD dibedakan menjadi HD emergency atau HD segera
dan HD kronik. Hemodialis segera adalah HD yang harus segera
dilakukan, Indikasi hemodialisis segera antara lain (Duaurgirdas et
al., 2007):
a. Kegawatan ginjal
1) Klinis: keadaan uremik berat, overhidrasi
2) Oligouria (produksi urine <200 ml/12 jam)
3) Anuria (produksi urine <50 ml/12 jam)
4) Hiperkalemia (terutama jika terjadi perubahan ECG, biasanya K
>6,5 mmol/l )
5) Asidosis berat ( pH <7,1 atau bikarbonat <12 meq/l)
6) Uremia ( BUN >150 mg/dL)
7) Ensefalopati uremikum
8) Neuropati/miopati uremikum
9) Perikarditis uremikum
10) Disnatremia berat (Na >160 atau <115 mmol/L
11) Hipertermia
b. Keracunan akut (alkohol, obat-obatan) yang bisa melewati membran
dialisis
c. Indikasi Hemodialisis Kronik
Hemodialisis kronik adalah hemodialisis yang dikerjakan
berkelanjutan seumur hidup penderita dengan menggunakan mesin
hemodialisis. Menurut K/DOQI dialisis dimulai jika GFR <15 ml/mnt.
Keadaan pasien yang mempunyai GFR <15ml/menit tidak selalu sama,
sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai jika dijumpai salah satu
dari hal tersebut di bawah ini (Daurgirdas et al., 2007):
1) GFR <15 ml/menit, tergantung gejala klinis
2) Gejala uremia meliputi; lethargy, anoreksia, nausea, mual dan
muntah.
3) adanya malnutrisi atau hilangnya massa otot.
4) Hipertensi yang sulit dikontrol dan adanya kelebihan cairan.
5) Komplikasi metabolik yang refrakter.

4. Prinsip Kerja
Prinsip kerja fisiologis dari hemodialisis adalah filtrasi, difusi,
osmosis dan ultra filtrasi. Filtrasi adalah proses lewatnya suatu zat melalui
filter untuk memisahkan sebagian zat itu dari zat yang lain. Difusi
merupakan proses perpindahan molekul dari larutan dengan konsentrasi
tinggi ke daerah dengan larutan berkonsentrasi rendah sampai tercapai
kondisi seimbang melalui membran semipermeabel. Proses terjadinya
difusi dipengaruhi oleh suhu, visikositas dan ukuran dari molekul.
Osmosis terjadi berdasarkan prinsip bahwa zat pelarut akan bergerak
melewati membran untuk mencapai konsentrasi yang sama di kedua sisi,
dari daerah dengan konsentrasi lebih rendah ke konsentrasi yang lebih
tinggi. Dengan ini zat-zat terlarut tidak ikut melewati membran. Ini
merupakan proses pasif. Saat darah dipompa melalui dialiser maka
membran akan mengeluarkan tekanan positifnya, sehingga tekanan
diruangan yang berlawanan dengan membran menjadi rendah. Hal ini
mengakibatkan cairan dan larutan dengan ukuran kecil bergerak dari
daerah yang bertekanan tinggi menuju daerah yang bertekanan rendah
(tekanan hidrostatik). Karena adanya tekanan hidrostatik tersebut maka
cairan dapat bergerak menuju membran semipermeabel. Proses ini disebut
dengan ultrafiltrasi (O’callaghan, 2009).
Ada tiga komponen utama yang terlibat dalam proses
hemodialisis yaitu alat dialyzer, cairan dialisat dan sistem penghantaran
darah. Dialyzer adalah alat dalam proses dialisis yang mampu
mengalirkan darah dan dialisat dalam kompartemen-kompartemen di
dalamnya, dengan dibatasi membran semi permeabel (Depner, 2005).
Dialisat adalah cairan yang digunakan untuk menarik limbah-
limbah tubuh dari darah. Sementara sebagai buffer umumnya digunakan
bikarbonat, karena memiliki risiko lebih kecil untuk menyebabkan
hipotensi dibandingkan dengan buffer natrium. Kadar setiap zat di cairan
dialisat juga perlu diatur sesuai kebutuhan. Sementara itu, air yang
digunakan harus diproses agar tidak menimbulkan risiko kontaminasi
(Septiwi, 2010).
Sistem penghantaran darah dapat dibagi menjadi bagian di mesin
dialisis dan akses dialisis di tubuh pasien. Bagian yang di mesin terdiri atas
pompa darah, sistem pengaliran dialisat, dan berbagai monitor. Sementara
akses juga bisa dibagi atas beberapa jenis, antara lain fistula, graft atau
kateter. Prosedur yang dinilai paling efektif adalah dengan membuat
suatu fistula dengan cara membuat sambungan secara anastomosis
(shunt) antara arteri dan vena. Salah satu prosedur yang paling umum
adalah menyambungkan arteri radialis dengan vena cephalica, yang
biasa disebut fistula Cimino-Breschia. (Carpenter & Lazarus, 2012).

G. KONSEP ASKEP CKD DENGAN DIALISIS


1. Pengkajian Fokus
a. Keluhan Utama
Keluhan utama pada pasien hemodialisa adalah
1) Sindrom uremia
2) Mual, muntah, perdarahan GI.
3) Pusing, nafas kusmaul, koma.
4) Perikarditis, cardiar aritmia
5) Edema, gagal jantung, edema paru
6) Hipertensi
Tanda-tanda dan gejala uremia yang mengenai system tubuh (mual,
muntah, anoreksia berat, peningkatan letargi, konfunsi mental), kadar
serum yang meningkat. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1397)
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada pasien penderita gagal ginjal kronis (stadium
terminal). (Brunner & Suddarth, 2001: 1398)
c. Riwayat Obat obatan
Pasien yang menjalani dialisis, semua jenis obat dan dosisnya
harus dievaluasi dengan cermat. Terapi antihipertensi, yang sering
merupakan bagian dari susunan terapi dialysis, merupakan salah satu
contoh di mana komunikasi, pendidikan dan evaluasi dapat memberikan
hasil yang berbeda. Pasien harus mengetahui kapan minum obat dan
kapan menundanya. Sebagai contoh, obat antihipertensi diminum pada
hari yang sama dengan saat menjalani hemodialisis, efek hipotensi
dapat terjadi selama hemodialisis dan menyebabkan tekanan darah
rendah yang berbahaya. (Brunner & Suddarth, 2001: 1401)
d. Psikospiritual
Penderita hemodialisis jangka panjang sering merasa kuatir akan
kondisi penyakitnya yang tidak dapat diramalkan. Biasanya
menghadapi masalah financial, kesulitan dalam mempertahankan
pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, dipresi
akibat sakit yang kronis dan ketakutan terhadap kematian.(Brunner &
Suddarth, 2001: 1402). Prosedur kecemasan merupakan hal yang paling
sering dialami pasien yang pertama kali dilakukan
hemodialisis. (Muttaqin, 2011: 267).
e. ADL
Nutrisi : pasien dengan hemodialisis harus diet ketat dan
pembatasan cairan masuk untuk meminimalkan gejala seperti
penumpukan cairan yang dapat mengakibatkan gagal jantung kongesti
serta edema paru, pembatasan pada asupan protein akan mengurangi
penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan
gejala, mual muntah. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1400)
Eliminasi : Oliguri dan anuria untuk gagal
Aktivitas : dialisis menyebabkan perubahan gaya hidup pada
keluarga. Waktu yang diperlukan untuk terapi dialisis akan mengurangi
waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas sosial dan dapat
menciptakan konflik, frustasi. Karena waktu yang terbatas dalam
menjalani aktivitas sehai-hari.
f. Pemeriksaan Fisik
BB : Setelah melakukan hemodialisis biasanya berat badan akan
menurun.
TTV: Sebelum dilakukan prosedur hemodialisis biasanya denyut nadi
dan tekanan darah diatas rentang normal. Kondisi ini harus di ukur
kembali pada saat prosedur selesai dengan membandingkan hasil pra
dan sesudah prosedur. (Muttaqin, 2011: 268)
Manifestasi klinik
1) Kulit : kulit kekuningan, pucat, kering dan bersisik, pruritus atau
gatal-gatal
2) Kuku : kuku tipis dan rapuh
3) Rambut : kering dan rapuh
4) Oral : halitosis / faktor uremic, perdarahan gusi
5) Lambung : mual, muntah, anoreksia, gastritis ulceration.
6) Pulmonary : uremic “lung” atau pnemonia
7) Asam basa : asidosis metabolik
8) Neurologic : letih, sakit kepala, gangguan tidur, pegal
9) Hematologi : perdarahan

2. Diagnosa Keperawatan
a. Pre HD
1) Risiko Ketidakseimbangan elektrolit
2) Kerusakan integritas kulit
3) Ansietas
b. Intra HD
1) Hambatan mobilitas fisik
2) Nyeri akut
3) Risiko Infeksi
4) Risiko perdarahan
c. Post HD
1) Harga diri rendah : situasional
2) Risiko infeksi

3. Fokus Intervensi
Pre Hemodialisa
No Daftar Diagnosa NOC NIC
1 Resiko ketidakseimbangan Keseimbangan elektrolitManajemen elektrolit
- Lakukan dialisis jika perlu
elektrolit (00195) dan asam basa
- Konsultasikan dengan ahli gizi
Domain : nutrisi Keseimbangan cairan
Kelas : hidrasi Hidrasi untuk memberikan diet pembatasan
Definisi:Beresiko mengalamiSetelah dilakukan tindakan
natrium.
perubahan kadar elektrolitkeperawatan selama 1x24 - Pantau hasil laboratorium yang
serum yang dapatjam pasien mampu untuk: relevan terhadap retensicairan
1. Tercapainya
mengganggu kesehatan (misalnya, peningkatan berat jenis
keseimbangan elektrolit
urine, peningkatan BUN, penuranan
Faktor resiko
dan asam-basa, dengan
Defisiensi volume cairan hematocrit dan peningkatan kadar
Kelebihan volume cairan indikator:
osmolalitas urine)
Gangguan mekanisme- Jumlah elektrolit serum
- Observasi khususnya terhadap
regulasi (mis, diabetesdalam batas normal
kehilangan cairan yang tinggi
- Tanda-tanda vital seperti
insipidus, sindrom
elektrolit (misalnya diare, drainasse
nadi dan pernapasan dalam
ketidaktepatan sekresi
luka, pengisapan nasogastric,
batas normal.
hormon antidiuretik)
- pH urine dalam batasdiaphoresis, dan drainasse
Muntah
Disfungsi ginjal normal ileustomi)
2. Tercapainya - Laporkan abnormalitas elektrolit
Pemantauan elektrolit
keseimbangan cairan,
- Observasi khususnya terhadap
dengan indikator:
kehilangan cairan yang tinggi
- Tidak ada asites
- Tidak ada edema perifer elektrolit (misalnya diare, drainase
- Berat badan dalam
luka, pengisapan nasogastrik,
keadaan stabil
diaforesis, draninase ileostomi)
- Mempertahankan output
- Kaji ekstremitas atau bagian tubuh
urine yang sesuai dengan
yang edema terhadap gangguan
usia dan BB, BJ urine
sirkulasi dan integritas kulit
normal, HT normal - Pantau secara teratur lingkar
3. Mempertahankan hidrasi
abdomen dan ekstremitas
yang adekuat, dengan
Manajemen cairan
indikator:
- Pantau status hidrasi (misalnya,
- Tidak mengalami haus
kelembapan membran mukosa,
yang tidak normal
- Menunjukkan hidrasikeadekuatan nadi, dan tekanan
yang baik (membrandarah ortostatik)
- Timbang berat badan setiap hari
mukosa lembab, mampu
dan pantau kecenderungannya
berkeringat)
- Pertahankan keakuratan catatan
- Tidak ada tanda-tanda
asupan dan haluaran
dehidrasi
- Pantau indikasi kelebihan atau
- Tidak demam
retensi cairan (misalnya crakcle,
peningkatan CVP atau tekanan baji
kapiler paru, edema, distensi vena
leher, dan asites), sesuai dengan
keperluan
- Berikan terapi IV, sesuai program
- Konsultasi ke dokter jika tanda
dan gejala kelebihan volume cairan
menetap atau memburuk
- Pasang kateter urine, jika perlu
- Berikan cairan, sesuai dengan
keperluan
Manajemen cairan/elektrolit
- Identifikasi faktor terhadap
bertambah buruknya dehidrasi
(misalnya obat-obatan, demam,
stres, dan program pengobatan)
- Kaji adanya vertigo ataun
hipotensi postural
- Tentukan lokasi dan derajat edema
- Kaji komplikasi pulmonal atau
kardiovaskular yang diindikasikan
dengan peningkatan tanda gawat
nafas, peningkatan frekuensi nadi,
peningkatan tekanan darah, bunyi
jantung tidak normal, atau suara
nafas tidak normal.
- Kaji efek pengobatan (misalnya
steroid, diuretik, litium) pada
edema
- Berikan terapi IV sesuai program
Health Education:
- Ajarkan pasien tentang penyebab
dan cara mengatasi
edema;pembatasan diit;dan
peggunaan, dosis, dan efek samping
obat yang digunakan
- Anjurkan pasien untuk
menginformasikan perawat bila
haus
Terapi intravena (IV)
- Observasi daerah pemasangan
infus secara kontinyu
- Monitor tetesan infus
- Hindarkan pasien dari trauma
selama terapi IV
- Berikan posisi yang nyaman untuk
pasien
- Kolaborasi dalam pemberian
cairan IV
Health education:
- Anjurkan pasien untuk
melaporkan ketidaknyamanan
selama pemasangan terapi
intravena.
- Anjurkan pasien melaporkan jika
adanya nyeri dan bengkak pada
daerah sekitar pemasangan infus.
Pemantauan cairan
- Kaji riwayat jumlah dan jenis
intake cairan dan eliminasi
- Pantau warna, jumlah dan
frekuensi kehilangan cairan
2 Kerusakan Integritas Kulit
- Tissue Integrity : Skin andNIC
Pressure Management
(00046) Mucous Membranes
- Kaji lingkungan dan peralatan
Domain -: Wound Healing : primer
keamanan/perlindungan dan sekunder yang menyebabkan terjadinya
Kelas : cedera fisik
tekanan.
Definisi : Setelah dilakukan tindakan
- Hindari adanya lipatan pada
Perubahan/gangguan
keperawatan selama 3 x 24
tempat tidur.
epidermis dan/atau dermis
jam kerusakan integritas - Jaga kebersihan kulit agar tetap
Batasan karakteristik kulit teratasi denganbersih dan kering.
Kerusakan pada lapisan - Lakukan mobilisasi pasien (ubah
kriteria hasil :
kulit (dermis). - Capilarry refill < 3 detik posisi pasien) setiap dua jam sekali.
Kerusakan pada - Tidak ada pitting edema - Monitor integritas kulit akan
- Integritas kulit yang baik
permukaan kulit (epidermis) adanya kemerahan.
bisa dipertahankan (sensasi,
- Oleskan lotion atau minyak/baby
Faktor-faktor yang
elastisitas, temperatur,oil pada derah yang tertekan .
berubungan - Monitor aktivitas dan mobilisasi
hidrasi, pigmentasi
- Perubahan status cairan
pasien.
- Perubahan tugor
- Monitor status nutrisi pasien.
- Faktor perkembangan
- Mandikan pasien dengan sabun
- Ketidakseimbangan nurtisi
- Gangguan sirkulasi dan air hangat.
- Gangguan status metabolic
Healt Education
- Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian yang
longgar.
3 Ansietas (00146) Anxiety control Anxiety Reduction (penurunan
Kelas : koping/toleransi Coping
kecemasan)
stres - Gunakan pendekatan yang
Setelah dilakukan tindakan
Domain : respons koping
menenangkan
Definsi : Perasaan gelisahkeperawatan selama 1x24
- Nyatakan dengan jelas harapan
yang tak jelas darijam diharapkan kecemasan
terhadap pelaku pasien
ketidaknyamanan atauyang dirasakan klien
- Jelaskan semua prosedur dan apa
ketakutan yang disertaiberkurang dengan Kriteriayang dirasakan selama prosedur
- Temani pasien untuk memberikan
respon autonom (sumnerHasil :
- Klien mampukeamanan dan mengurangi takut
tidak spesifik atau tidak
- Berikan informasi faktual
mengidentifikasi dan
diketahui oleh individu);
mengenai diagnosis, tindakan
mengungkapkan gejala
perasaan keprihatinan
prognosis
cemas
disebabkan dari antisipasi - Dorong keluarga untuk menemani
- Mengidentifikasi,
terhadap bahaya. Sinyal ini anak
merupakan peringatanmengungkapkan dan- Lakukan back / neck rub
- Dengarkan dengan penuh
adanya ancaman yang akanmenunjukkan tehnik untuk
perhatian
datang dan memungkinkanmengontol cemas
- Identifikasi tingkat kecemasan
- Vital sign dalam batas
individu untuk mengambil - Bantu pasien mengenal situasi
normal
langkah untuk menyetujui yang menimbulkan kecemasan
- Postur tubuh, ekspresi
- Dorong pasien untuk
terhadap tindakan
wajah, bahasa tubuh dan
mengungkapkan perasaan,
Batasan karakteristik tingkat aktivitas
ketakutan, persepsi
- Gelisah
menunjukkan berkurangnya - Instruksikan pasien menggunakan
- Insomnia
- Resah kecemasan teknik relaksasi
- Ketakutan - Barikan obat untuk mengurangi
- Sedih
kecemasan
- Fokus pada diri
- Kekhawatiran
- Cemas

Intradialisis
No Daftar Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri Akut Pain Level, Pain Management
Kelas : pain control, - Lakukan pengkajian nyeri secara
Domain : comfort level
komprehensif termasuk lokasi,
Definisi : setelah dilakukan tindakan
Sensori yang tidak karakteristik, durasi, frekuensi,
keperawatan selama 1x 24
menyenangkan dan kualitas dan faktor presipitasi
jam diharapkan nyeri
- Observasi reaksi nonverbal dari
pengalaman emosional yang
berkurang dengan Kriteria
ketidaknyamanan
muncul secara aktual atau
Hasil: - Gunakan teknik komunikasi
potensial kerusakan jaringan- Mampu mengontrol nyeri
terapeutik untuk mengetahui
atau menggambarkan adanya(tahu penyebab nyeri,
pengalaman nyeri pasien
kerusakan (Asosiasi Studimampu menggunakan- Kaji kultur yang mempengaruhi
Nyeri Internasional):tehniknonfarmakologirespon nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri masa
serangan mendadak atauuntuk mengurangi nyeri,
lampau
pelan intensitasnya darimencari bantuan)
- Evaluasi bersama pasien dan tim
- Melaporkan bahwa nyeri
ringan sampai berat yang
kesehatan lain tentang
berkurang dengan
dapat diantisipasi dengan
ketidakefektifan kontrol nyeri masa
menggunakan manajemen
akhir yang dapat diprediksi
lampau
nyeri
dan dengan durasi kurang
- Mampu mengenali nyeri
- Bantu pasien dan keluarga untuk
dari 6 bulan. (skala, intensitas, frekuensimencari dan menemukan dukungan
- Kontrol lingkungan yang dapat
dan tanda nyeri)
Batasan karakteristik :
- Menyatakan rasa nyamanmempengaruhi nyeri seperti suhu
- Laporan secara verbal atau
setelah nyeri berkurang ruangan, pencahayaan dan
non verbal
- Tanda vital dalam rentang
- Fakta dari observasi kebisingan
- Posisi antalgic untuknormal - Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan nyeri
menghindari nyeri
- Gerakan melindungi (farmakologi, non farmakologi dan
- Tingkah laku berhati-hati
inter personal)
- Muka topeng
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
- Gangguan tidur (mata sayu,
menentukan intervensi
tampak capek, sulit atau
- Ajarkan tentang teknik non
gerakan kacau, menyeringai
farmakologi
- Terfokus pada diri sendiri
- Berikan analgetik untuk
- Fokus menyempit
mengurangi nyeri
(penurunan persepsi waktu,
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
kerusakan proses berpikir, - Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan dokter jika
penurunan interaksi dengan
ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
orang dan lingkungan)
- Tingkah laku distraksi, berhasil
- Monitor penerimaan pasien tentang
contoh : jalan-jalan,
manajemen nyeri
menemui orang lain dan/atau
Analgesic Administration
aktivitas, aktivitas berulang- - Tentukan lokasi, karakteristik,
ulang kualitas, dan derajat nyeri sebelum
- Respon autonom (seperti
pemberian obat
diaphoresis, perubahan - Cek instruksi dokter tentang jenis
tekanan darah, perubahan obat, dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
nafas, nadi dan dilatasi pupil)
- Pilih analgesik yang diperlukan
- Perubahan autonomic
atau kombinasi dari analgesik ketika
dalam tonus otot (mungkin
pemberian lebih dari satu
dalam rentang dari lemah ke
- Tentukan pilihan analgesik
kaku)
tergantung tipe dan beratnya nyeri
- Tingkah laku ekspresif
- Tentukan analgesik pilihan, rute
(contoh : gelisah, merintih,
pemberian, dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian secara IV, IM
menangis, waspada, iritabel,
untuk pengobatan nyeri secara
nafas panjang/berkeluh
teratur
kesah)
- Monitor vital sign sebelum dan
- Perubahan dalam nafsu
sesudah pemberian analgesik
makan dan minum
pertama kali
Faktor yang berhubungan : - Berikan analgesik tepat waktu
- Agen injuri (biologi, kimia,
terutama saat nyeri hebat
fisik, psikologis) - Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek samping)
2 Hambatan mobilitas fisik Ambulasi Ambulasi
Definisi : Pergerakan Terkoordinasi Kaji kebutuhan belajar klien
Keterbatasan dalamMobilitas Kaji kebutuhan terhadap bantuan
pergerakan fisik mandiri dan pelayanan kesehatan daari lembaga
Tujuan dan Kriteria Hasil:
terarah pada tubuh atau satuSetelah dilakukan tindakankesehatan dirumah sakit dan alat
ektremitas atau lebih.keperawatan 2 x 24 jamkesehatan yang tahan lama
Instrusikan klien untuk menyangga
Tingkat 2 : memerlukanmobilitas fisik teratasi
berat badannya
bantuan dari orang lain untukdengan indicator :
Instrusikan dan dukung klien
 Melakukan aktifitas
pertolongan, pengawasan
untuk menggunakan trapeze atau
kehidupan sehari-hari
atau pengajaran.
pemberat untuk meningkatkan serta
Kelas : secara mandiri dengan alat
Domain : mempertahankan kekuatan
bantu misalnya kursi roda
Batasan Karakteristik :
 Meminta bantuan untukektremitas atas
Penurunan waktu reaksi
Instrusikan klien untuk
Kesulitan membolak-balikaktifitas mobilisasi, jika
memperhatikan kesejajaran tubuh
posisi tubuh diperlukan
Dispnea saat beraktifitas  Menggunakan kursi rodayang benar
Perubahan cara berjalan Gunakan ahli terapi fisik dan
secara efektif
(misalnya penurunan okupasi sebagai suatu sumber untuk
aktifitas dan kecepatan mengembangkan perencanaan dan
berjalan, kesulitan untuk mempertahankan atau meningkatkan
memulai berjalan, langkah mobilitas
Gunakan sabuk penyongkong saat
kecil, berjalan dengan
memberikan bantuan ambulasi atau
menyeret kaki, pada saat
perpindahan
berjalan badan mengayuh ke Awasi sluruh upaya mobilitas dan
samping) bantu klien jika diperlukan
Tremor yang diinduksi oleh HE
Ajarkan dan dukung klien dalam
pergerakan
Ketidakstabilan postur tubuh latihan ROM aktif atau pasif untuk
(saat melakukan rutinitas mempertahankan atau meningkatkan
aktivitas kehidupan sehari- kekuatan dan ketahanan otot
hari)
10. Ajarkan dan bantu klien dalam
Melambatnya pergerakan
Faktor yang berhubungan : proses berpindah (misalnya dari
Perubahan metabolisme sel
tempat tidur ke kursi roda)
Intoleran aktivitas dan
11. Ajarkan tekhnik ambulasi dan
penurunan kekuatan dan
berpindah yang aman
ketahanan
Nyeri
Gangguan neuromuscular
Kaku sendi atau kontraktur
3 Resiko Infeksi (00004) - Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
Domain -: Knowledge : Infection Bersihkan lingkungan setelah
keamanan/perlindungan control dipakai pasien lain
Kelas : infeksi - Risk control Pertahankan teknik isolasi
Definisi : Gunakan sabun antimikrobia
Peningkatan resikoSetelah dilakukan tindakan
untuk cuci tangan
masuknya organismekeperawatan dalam 1x24 Cuci tangan setiap sebelum dan
patogen jam diharapkan kliensesudah tindakan kperawtan
Gunakan baju, sarung tangan
terhindar dari resiko infeksi
Faktor-faktor resiko :
sebagai alat pelindung
Prosedur Infasif dengan Kriteria Hasil :
Pertahankan lingkungan aseptik
Trauma - Klien bebas dari tanda dan
Kerusakan jaringan dan selama pemasangan alat
gejala infeksi
Ganti letak IV perifer dan line
peningkatan paparan
- Jumlah leukosit dalam
central dan dressing sesuai dengan
lingkungan batas normal
Agen farmasi petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten untuk
(imunosupresan)
Peningkatan paparan menurunkan infeksi kandung
lingkungan patogen kencing
Ketidakadekuatan imum Tingktkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila perlu
buatan
Tidak adekuat pertahanan Infection Protection (proteksi
sekunder (penurunan Hb, terhadap infeksi)
Monitor tanda dan gejala infeksi
Leukopenia, penekanan
sistemik dan lokal
respon inflamasi)
Monitor hitung granulosit, WBC
Tidak adekuat pertahanan
Monitor kerentanan terhadap
tubuh primer (kulit tidak
infeksi
utuh, trauma jaringan, Inspeksi kulit dan membran
penurunan kerja silia, cairan mukosa terhadap kemerahan, panas,
tubuh statis, perubahan drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
sekresi pH, perubahan
Laporkan kecurigaan infeksi
peristaltik)
4 Risiko Perdarahan (00206) - Status sirkulasi Pencegahan Perdarahan
Domain -: Status koagulasi - Memonitor pasien secara ketat
- Prosedur pengobatan
keamanan/perlindungan untukperdarahan
- Kontrol resiko
Kelas : cedera fisik - Catatan tingkat
Definisi :
Setalah dilakukan tindakanhemoglobin / hematokritsebelum
Beresiko mengalami
keperawatan selama 1x24dan sesudah kehilangan
penurunan volume darah
jam diharapkan klien tidakdarah, seperti yang
yang dapat mengganggu
mengalami perdarahanditunjukkanMemantau tanda-tanda d
kesehatan
dengan kriteria hasil: an gejala perdarahan yang
Faktor resiko - TTV dalam batas normal
persisten(misalnya memeriksa
- Aneurisme - Adanya pembentukan
- Defisiensi pengetahuan semua sekresi atau darah okultisme)
bekuan darah
- Koagulopati inheren (mis., - Melindungi pasien dari
- Pengetahuan mengenai
trombositoenia) trauma, yang
tindakan pengobatan yang
- Trauma
dapatmenyebabkan perdarahan
- Efeksamping terkait terapi dijalani
- Menginstruksikan pasien
- Resiko perdarahan dapat
untuk meningkatkan
dikenali
asupan makanan yang kaya vitamin
K
- Menginstruksikan pasien dan /
atau keluarga pada tanda-
tanda perdarahan dan tindakan yang
tepat (misalnya, memberitahukanper
awat)
Perawatan Sirkulasi
- Lakukan penilaian yang
komprehensif dari sirkulasi perifer
(misalnya, memeriksa denyut nadi
perifer, edema, pengisian kapiler,
warna, dan suhu ekstremitas)
- Evaluasi edema dan tekanan perifer
- Turunkan ekstremitas untuk
meningkatkansirkulasi arteri, yang
sesuai
- Ubah posisi pasien minimal setiap
jam 2, yang sesuaiMendorong
berbagai latihan gerak pasif atau
aktif selama istirahat di tempat tidur,
yang sesuai
- Mempertahankan hidrasi yang
adekuat untuk mencegah viskositas
darah meningkat
- Memantau Status cairan, termasuk
intake dan output

Post Hemodialisis
No Daftar Diagnosa NOC NIC
1. Harga Diri rendah - : Adaptasi Adaptasi
- Support system - Rencana memperkenalkan
situasional (00120)
- Manajemen perasaan
Domain : persepsi diri pertemuan aktivitas sehari-hari
Setelah dilakukan tindakan
Kelas : harga diri - Support system yang baik dari
Definisi : keperawatan selama 1x 24
kelompok
Perkembangan persepsi
jam diharapkan perasaan - Fasilitasi lingkungan dan kegiatan
negatif tentang harga diri
harga diri rendah klienyang akan meningkatkan harga diri
rendah sebagai respon
dapat berkurang denganklien
terhadap situasi saat ini - Pantau kegiatan yang
kriteria hasil:
(terapi) - Klien dapat menyesuaikandilaksanakan klien
- Membuat pernyataan positif
dengan kemampuan verbal
Batasan karakteristik tentang klien/apa yang sudah klien
- Evaluasi diri bahwa individu
lakukan
tidak mampu menghadapi Support system
- Bantu klien mengenali
peristiwa
- Evaluasi diri bahwa individu keuntungan dan ketidakuntungan
tidak mampu menghadapi masing-masing alternative support
situasi system
- Ekspresi ketidakberdayaan - Fasilitasi teman yang bisa diajak
kerjasama untuk membuat
Faktor yang berhubungan
- Perubahan perkembangan keputusan
- Gangguan citra tubuh - Menjalani hubungan antara klien
- Gangguan fungsional
daan keluarga
- Perubahan peran sosial
Manajemen Perasaan
- Pantau status fisik klien
- Ajarkan klien dalam kemampuan
membuat keputusan sebagai
kebutuhannya
- Gunakan dengan simple, konkret,
belajar untuk berinteraksi dengan
kesadaran yang disetujui klien.
2. Resiko Infeksi (00004) - Immune Status Infection Control (Kontrol
Domain -: Knowledge : Infection
infeksi)
keamanan/perlindungan control Bersihkan lingkungan setelah
Kelas : infeksi - Risk control
dipakai pasien lain
Definisi :
Pertahankan teknik isolasi
Peningkatan resikoSetelah dilakukan tindakan
Gunakan sabun antimikrobia
masuknya organismekeperawatan dalam 1x24
untuk cuci tangan
patogen jam diharapkan klien Cuci tangan setiap sebelum dan
terhindar dari resiko infeksisesudah tindakan kperawtan
Faktor-faktor resiko :
Gunakan baju, sarung tangan
Prosedur Infasif dengan Kriteria Hasil :
Trauma - Klien bebas dari tanda dansebagai alat pelindung
Kerusakan jaringan dan Pertahankan lingkungan aseptik
gejala infeksi
peningkatan paparan
- Jumlah leukosit dalamselama pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line
lingkungan batas normal
Agen farmasi central dan dressing sesuai dengan
(imunosupresan) petunjuk umum
Peningkatan paparan Gunakan kateter intermiten
lingkungan patogen untuk menurunkan infeksi kandung
Ketidakadekuatan imum
kencing
buatan Tingktkan intake nutrisi
Tidak adekuat pertahanan Berikan terapi antibiotik bila
sekunder (penurunan Hb, perlu
Leukopenia, penekanan
Infection Protection (proteksi
respon inflamasi)
terhadap infeksi)
Tidak adekuat pertahanan
Monitor tanda dan gejala infeksi
tubuh primer (kulit tidak
sistemik dan lokal
utuh, trauma jaringan, Monitor hitung granulosit, WBC
Monitor kerentanan terhadap
penurunan kerja silia, cairan
infeksi
tubuh statis, perubahan
Inspeksi kulit dan membran
sekresi pH, perubahan
mukosa terhadap kemerahan,
peristaltik)
panas, drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
Laporkan kecurigaan infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, M., Dayrit, MW., dan Siswadi, Y. (2009). Seri asuhan keperawatan
klien gangguan ginjal. Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.
Jakarta : EGC
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3.
Jakarta : EGC
Isroin L., Istanti Y.P., Soejono S.K., (2013). Manajeman Cairan Pada Pasien
Hemodialisi Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup di RSUD Dr. Harjono
Ponorogo. Diakses 30 oktober 2016
Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan
Mutakin, A., Sari, K. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis
Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer & Bare . (2008). Textbook of Medical Surgical Nursing Vol.2.
Philadelphia: Linppincott William & Wilkins.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II.
Jakarta.: Balai Penerbit FKUI
Wilson, L.M. 2005. Gagal Ginjal Kronik. Dalam: Wilson, L.M., Price, S.A.,
penyunting. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-
6. Jakarta:ECG.
Pathways Keperawatan

infeksi vaskuler zat toksik Obstruksi saluran kemih

reaksi antigen arteriosklerosis tertimbun ginjal Retensi urin batu besar dan iritasi / cidera
antibodi kasar jaringan
suplai darah ginjal turun
menekan saraf hematuria
perifer
anemia
nyeri pinggang
� GFR turun

GGK

sekresi protein terganggu retensi Na sekresi eritropoitis turun

sindrom uremia urokrom total CES naik resiko suplai nutrisi dalam produksi Hb turun
tertimbun di kulit gangguan nutrisi darah turun

perpospatemia gang. tek. kapiler naik oksihemoglobin turun


keseimbangan perubahan warna
pruritis gangguan intoleransi
asam - basa kulit vol. interstisial naik suplai O2 kasar turun
perfusi jaringan aktivitas
gang. prod. asam naik
edema payah jantung kiri bendungan atrium kiri
integritas kulit
as. lambung naik (kelebihan volume cairan) naik
nausea, vomitus iritasi lambung preload naik COP turun
tek. vena pulmonalis

resiko gangguan infeksi perdarahan beban jantung naik aliran darah ginjal suplai O2 suplai O2 ke
nutrisi turun jaringan turun otak turun kapiler paru naik
gastritis
- hematemesis hipertrofi ventrikel kiri
- melena RAA turun metab. anaerob syncope edema paru
mual,
(kehilangan
muntah retensi Na & H2O timb. as. laktat
anemia kesadaran)
naik naik Gang. pola napas

kelebihan vol. cairan - fatigue intoleransi aktivitas


- nyeri sendi