Anda di halaman 1dari 13

TEKNIK KOLEKSI DAN PENATAAN SPESIMEN SERANGGA

1. Penangkapan Serangga

1.1 Faktor yang mempengaruhi penangkapan serangga

Terdapat korelasi langsung antara waktu dan usaha yang dilakukan dan hasil
yang diperoleh pada saat menangkap serangga. Beberapa faktor yang
mempengaruhi penangkapan serangga, yaitu:
- Iklim, keberadaan serangga pada daerah Tropis dapat dijumpai sepanjang
hari. Berbeda dengan daerah tropis, waktu yang terbaik untuk
mengumpulkan serangga pada daerah Subtropis adalah pada musim panas,
karena pada musim ini serangga lebih banyak beraktifitas. Pada musim
dingin serangga banyak ditemukan dalam keadaan hibernasi. Agar
mendapatkan keragaman yang besar maka penangkapan serangga
dilakukan sepanjang tahun. Hal ini disebabkan karena jenis serangga yang
berbeda aktif pada waktu-waktu yang berbeda.
- Waktu, sebagian besar serangga aktif pada waktu siang hari. Kebanyakan
serangga mengunjungi bunga, hinggap pada tanaman seperti ranting dan
batang pohon, buah dan daun untuk mendapatkan makanan. Serangga
yang aktif pada sore hari selama matahari terbenam disebut krepuskuler.
Sisanya serangga yang aktif pada malam hari. Dengan mengetahui sifat-
sifat serangga maka didapat gambaran waktu yang tepat untuk mencari
dan mengkoleksi serangga.
- Cuaca, Serangga termasuk hewan berdarah dingin, suhu tubuhnya
menyesuaikan dengan suhu udara disekelilingnya. Pada suhu yang sangat
rendah dibawah 100C serangga tidak dapat aktif. Pada suhu 210C – 360C
serangga dapat aktif terbang, tetapi bila suhu lebih tinggi lagi serangga
akan mencari tempat berlindung di bawah permukaan daun dan lain-lain.
- Makanan dan tempat hidup, tanaman merupakan salah satu tempat terbaik
untuk mengumpulkan serangga karena tanaman dipergunakan serangga
sebagai tempat hidup dan mendapatkan makanan. Serangga-serangga

1
dapat dikumpulkan langsung atau disapu dengan jaring serangga.
Beberapa serangga dapat ditemui pada serasah, di bawah batu-batu, papan
dan dapat juga pada material yang membusuk seperti jamur, tumbuhan
yang sedang membusuk, hewan-hewan yang mati. Bahkan serangga juga
dapat ditemui di gedung-gedung bahkan pada hewan dan manusia.

1.2 Perlengkapan untuk menangkap serangga

Perlengkapan yang diperlukan untuk menangkap serangga dapat diperoleh


dengan mudah dan murah. Alat-alat tersebut dapat dibeli di toko khusus atau
dapat dibuat sendiri. Paling sedikit alat yang harus dipersiapkan untuk mencari
dan mengumpulkan serangga di lapang adalah sebagai berikut:
- Jaring serangga
- Botol pembunuh
- Kertas untuk membuat amplop
- Botol pengawet
- Pinset, forsep dan kwas
- Tempat untuk menyimpan kertas tissue
Barang-barang tersebut dapat dimasukkan ke dalam tas bahu, kecuali untuk jaring
serangga. Sedangkan pinset, forsep dapat dimasukkan ke dalam saku.

Barang-barang lain yang diperlukan untuk menangkap serangga adalah:


- Alat penyedot (Aspirator)
- Payung penadah
- Ayakan penyaring
- Separator
- Perlengkapan koleksi serangga akuatik
- Perangkap serangga

2
Jaring serangga
Ada beberapa macam jaring serangga yang diketahui, seperti: (1) Jaring
udara (aerial net). Biasanya jaring ini mempunyai tangkai yang panjang, ringan
dan mudah untuk dibawa-bawa. Selain itu jaring ini digunakan untuk menangkap
serangga terbang seperti kupu-kupu, lebah, lalat dan lain-lain. Jaring ini berbentuk
kerucut dengan bagian-bagian yang dapat dilihat seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Bentuk jaring serangga yang paling sederhana

(2) Jaring ayun (sweep net), bentuk jaring ini kuat dan keras, lebih kuat dari
jaring udara. Digunakan untuk menangkap serangga di tanaman dan rumput-
rumputan. Selain itu jaring ini paling cocok digunakan untuk menangkap nimfa
atau larva yang berada di semak-semak dan cabang pohon yang rendah. Bentuk
jaring ayun dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Bentuk jaring ayun

3
(3) Jaring air (aquatic net) yang sangat cocok untuk menangkap serangga air di
tempat terbuka dan penuh dengan vegetasi, di dalam lumpur dan pasir di dasar
sungai atau kolam. Jaring ini terbuat dari bahan yang kuat. Bentuk jaring serangga
dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Beberapa tipe jaring serangga air


a. Jaring berbentuk huruf U
b. Jaring berbentuk huruf V
c. Jaring berbentuk huruf D
d. Jaring berbentuk huruf bulat

Botol pembunuh
Agar serangga yang telah ditangkap di lapang dapat diawetkan maka
terlebih dahulu dimatikan dengan tidak merusak bagian tubuhnya. Oleh karena itu
serangga biasanya dimasukkan ke dalam botol pembunuh yang bentuk dan
ukurannya bermacam-macam. Sebaiknya serangga yang berukuran besar
dimasukkan ke dalam botol yang berukuran besar demikian juga untuk serangga
yang berukuran kecil dimasukkan ke dalam botol yang berukuran kecil. Pada
Gambar 4 dapat dilihat beberapa tipe botol pembunuh. Biasanya berisi Kalium
Sianida (KCN), dapat juga dengan kapas yang dibasahi Ethyl acetate, ammonium,
benzene, chloroform dan lain-lain. Pembuatan botol pembunuh dapat dilakukan
sebagai berikut: pada bagian dasar botol diletakkan tepung atau pecahan halus
kristal kalsium sianit, kemudian diatasnya diberi lapisan kapas. Lapisan teratas

4
adalah kertas karton. Kapas dan kertas karton tersebut ditekan hingga padat,
sehingga kertas karton ini berguna untuk menahan tepung kalsium sianit agar
tidak berhamburan.

Gambar 4. Beberapa tipe botol racun sianit

Amplop

Serangga seperti kupu-kupu memerlukan tempat yang cukup besar untuk


penyimpanannya. Cara yang paling tepat untuk mengurangi ruang penyimpanan
antara lain dengan amplop yang terbuat dari kertas. Kupu-kupu atau capung lebih
dulu dilakukan dengan melipat kedua sayapnya kearah punggung bersama-sama,
kemudian dibungkus dalam amplop.

Gambar 5. Cara melipat amplop

2. Relaksasi/Melemaskan serangga yang kaku

Serangga harus dibuat preparat sesegera mungkin setelah dikumpulkan.


Bila dibiarkan terlalu lama menjadi kering, rapuh dan mungkin dapat putus pada

5
proses pembuatan preparat. Pelemasan dapat dilakukan pada wadah khusus yang
terbuat dari botol yang mempunyai mulut lebar dan dibuat kedap udara. Dasar
dari tabung berisi aquades dan alkohol 70% atau 80% dengan perbandingan 10 :
1. Serangga-serangga diletakkan dalam wadah dangkal yang terbuka, selanjutnya
wadah ditutup rapat dibiarkan sampai beberapa hari tergantung besar atau
kecilnya serangga. Lama waktu pelemasan ini sangat tergantung dari pengalaman
tetapi biasanya satu atau dua hari.

3. Pemeliharaan Warna

Warna indah yang terdapat pada tubuh serangga yang telah dibuat
spesimen harus dapat dipertahankan, untuk itu pemeliharaan terhadapa warna
serangga harus dilakukan. Warna tersebut dapat bertahan apabila spesimen
disimpan di tempat yang gelap atau tidak terkena matahari langsung. Agar warna
asli wereng, tonggeret dan orthoptera dapat terpelihara maka serangga ini
diawetkan dalam formalin 5 – 7% selama beberapa hari. Setelah diangkat
serangga tersebut dapat langsung ditusuk. Perlakuan ini bertujuan untuk
melindungi serangga dari mikroorganisme dan melindungi dekomposisi jaringan
yang mempunyai warna hijau.

4. Pengawetan Serangga

4.1 Koleksi Basah

Koleksi basah merupakan suatu cara pengawetan serangga dengan


menggunakan larutan. Umumnya serangga yang diawetkan dalam larutan adalah:
serangga yang bertubuh lunak (mayflies, caddisflies dan tungau) karena serangga
ini dapat mengkerut bila dibiarkan kering di udara. Larva, pupa dan nimfa juga
diawetkan dalam larutan. Cairan yang biasa digunakan untuk pengawetan
serangga tersebut adalah etil alkohol (70-80%). Pengawetan yang biasa dilakukan
dengan modifikasi alkohol antara lain:

6
a. Larutan HOOD terdiri dari campuran:
Etil alkohol 70-80% 95cc
Gliserin 5 cc

b. Larutan KAHLE terdiri dari campuran:


Etil alkohol 95% 30 cc
Formaldehid 12 cc
Asam asetat glasial 4 cc
Aquades 60 cc

c. Larutan BOUIN terdiri dari:


Etil alkohol 80% 150 cc
Formaldehid 60 cc
Asam asetat glasial 15 cc
Asam pikrat 1 gram

Warna yang terdapat pada larva sukar dipertahankan bila larva tersebut
mati, khususnya bila diawetkan dalam alkohol. Metode yang lazim digunakan
untuk mempertahankan warna larva tersebut adalah dengan merendam larva pada
air panas atau menggunakan bahan kimia. Larva dimasukkan dalam air panas
suhu 930C dan dibiarkan terendam hingga cairan menjadi dingin mendekati
temperatur kamar. Lundi dan tempayak yang berwarna putih harus dididihkan
dalam air panas selama 1-2 menit, untuk melindungi jaringan agar tidak berwarna
gelap pada saat diawetkan dalam alkohol.

4.2 Koleksi Kering

a. Bahan yang diperlukan untuk penataan serangga koleksi kering adalah:


- Jarum serangga
Jarum anti karat yang mempunyai ukuran bermacam-macam. Penggunaan
jarum ini tergantung besar kecil serangga yang akan ditata. Jarum
mempunyai ukuran yang bervariasi dengan nomor 000, 00, 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6

7
dan 7. Jarum nomor 2 berukuran sedang sangat sering digunakan sehingga
sehingga disebut jarum serbaguna. Sedangkan jarum nomor 3 sampai 7
biasanya digunakan untuk serangga yang berukuran besar.
- Jarum mikro (micro pins/minute nadeln)
Digunakan untuk serangga yang sangat kecil dan lunak, panjang jarum 11
mm tanpa kepala.
- Trianguler point/paper card
Karton segitiga berwarna putih berukuran 2-4 mm kali 8-10 mm, digunakan
untuk serangga yang berukuran kecil yang tidak ditusuk dengan jarum.
Serangga direkatkan pada karton dengan menggunakan lem Fox atau cutex
bening.

- Jarum jahit berkepala


Jarum ini digunakan untuk menata serangga yang akan dikeringkan, teritama
perentangan sayap di atas papan perentang.
- Pinning block
Terbuat dari papan yang diberi lubang dengan ketinggian yang berbeda.
Papan ini berfungsi untuk menyeragamkan tinggi rendahnya letak serangga
yang telah ditusuk.
- Papan perentang
Papan perentang ini dapat dibuat sendiri dan disesuaikan dengan besar kecil
serangga. Biasanya posisi serangga dibentang dengan sisi dorsal di atas.
- Pinset, forcep
- Kertas minyak, digunakan untuk mengurangi terlepasnya sisik-sisik sayap.
- Kertas label, berwarna putih tidak lebih dari 1 x 2 cm.
- Kotak pengeringan
Serangga yang telah direntang harus dikeringkan di bawah sinar matahari
atau disimpan di dalam kotak pengering yang diberi lampu. Kotak dibuat dari
plat aluminium yang diberi lubang untuk sirkulasi udara.

8
b. Pinning (Penusukan serangga)
Pinning adalah cara yang terbaik untuk mengawetkan serangga-serangga
yang bertubuh keras. Keadaan serangga yang ditusuk mudah untuk dipelajari
karena dapat dilihatdari segala arah. Penusukan ini menggunakan jarum serangga
yang disesuaikan dengan ukuran serangga, yang paling umum adalah jarum
dengan nomor 2. Serangga ditusuk dengan arah tegak lurus pada abgian dorsal,
sedangkan letak tusukan tergantung pada serangganya. Lebah, tabuhan, lalat,
kupu-kupu dan ngengat dipin pada bagian torak antara dasar sayap depan. Lalat
dan tabuhan dipin sedikit pada garis tengah. Hemiptera dipin pada scutellum,
sedikit ke kanan garis tengah. Belalang dipin pada bagian posterior pronotum.
Semua spesimen harus diletakkan pada ketinggian yang seragam.
Serangga yang berukuran kecil dapat ditusuk dengan jarum mikro atau
dilekatkan dengan menggunakan perekat pada jarum serangga atau karton
segitiga.

c.Mengembangkan sayap
Bila spesimen yang telah dipin, posisi tungkai dan sayap dapat terlihat
dengan jelas maka hal ini tidak menjadi masalah. Berbeda dengan kupu-kupu,
sayap-sayapnya harus terlihat dengan jelas sehingga sayap tersebut harus
direntangkan. Cara membentang tergantung dari apakah spesimen dibuat dari
preparat pin atau tidak dan posisi dimana sayap diletakkan tergantung dari tipe
serangga.
Serangga yang akan dibentang sayapnya sisi dorsal berada pada bagian
atas, sedangkan posisi sayap belakang harus tegak lurus pada abdomen. Sayap
depan ditarik cukup jauh ke depan. Proses pembentangan ini sangat sederhana
tetapi membutuhkan ketelitian yang tinggi. Kupu-kupu dan ngengat harus
diperlakukan hatu-hati agar sisik pada sayap tidak banyak terbuang. Lama waktu
perentangan tergantung dari ukuran spesimen dan faktor lain seperti suhu dan
kelembaban.

9
d. Pengeringan serangga
Di daerah tropis karena kelembaban tinggi pengeringan perlu dilakukan di
bawah sinar matahari atau di dalam kotak pengeringan. Waktu pengeringan
tergantung besar kecilnya serangga, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya,
biasanya memerlukan waktu sekitar 10 – 14 hari. Serangga harus cukup kering,
bila tidak akan cepat busuk diserang oleh jamur. Pengeringan dengan
menggunakan kotak pengering lebih baik dilakukan daripada dibawah sinar
matahari, hal tersebut mengakibatkan warna spesimen menjadi pudar. Bila
serangga telah kering dapat disimpan di dalam kotak koleksi dan diberi obat anti
hama.

e. Pemeliharaan spesimen kering


Ruang koleksi memerlukam kelembaban 50 - 60% guna mencegah
tumbuhnya jamur. Lemari penyimpanan dapat juga diberi lampu 25 watt untuk
mencegah kelembaban yang terlalu tinggi. Agar penyebaran panas di ruang
koleksi merata maka perlu adanya AC. Spesimen yang terserang jamur dapat
disapu dengan aceton kemudian dikeringkan kembali. Pada kotak koleksi juga
dapat diberikan kapur barus yang dibungkus dengan kain kasa dan dilekatkan
pada sudut kotak.

4.3 Slide preparat

Ada dua macam cara pengawetan, yaitu: preparat sementara dan preparat
permanen. Permanen tahan bertahun-tahun sedangkan yang sementara dapat
bertahan beberapa menit atau beberapa bulan. Serangga yang berukuran kecil
dapat langsung dilakukan mounting sedangkan yang besar dengan eksoskeletan
yang tebal perlu dijernihkan terlebih dulu. Penjernihan dapat dilakukan dengan
memasukkan serangga ke dalam tabung reaksi dan direndam dengan KOH
selanjutnya dipanaskan selama 5 – 20 menit. Serangga yang bertubuh lunak cukup
direndam saja dalam KOH tanpa harus dipanaskan.
Setelah spesimen jernih, dipindahkan ke dalam cawan porselin kemudian
dicuci dengan aquades beberapa kali. Setelah bersih spesimen dipindahkan pada

10
mikroslide yang ditetesi media mounting, kemudian posisi serangga diatur lalu
ditutup dengan gelas penutup.

Medium mounting untuk preparat sementara:


1. Medium Hoyer, terdiri dari:
Aquades 50 ml
Kristal gum arab 30 g
Chloral hidrat 200 g
Glycerol 16 g

2. Medium Barlese, terdiri dari:


Aquades 20 ml
Gum arabic 30 g
Syrup glucosa 20 g 50%
Asam asetat glasial 10 ml
Chloral hidrat 60 ml

Campuran tersebut dihangatkan untuk melarutkan bahan kristal.

Spesimen yang akan dibuat preparat permanen setelah dijernihkan dalam


larutan KOH, dicuci dengan aquades beberapa kali. Kemudian direndam dalam
alkohol dengan kepekatan bertingkat (15%, 30%, 59%, 70%, 90% dan 95%)
masing-masing selama 30 menit. Dari alkohol dipindahkan ke dalam cellosolve
beberapa menit, selanjutnya dipindahkan pada mikroslide dengan ditetesi kanada
balsem 1-2 tetes. Terakhir ditutup dengan gelas penutup.

5. Pemberian Label

Label spesimen memuat semua informasi tentang serangga yang dikoleksi.


Isi label tersebut harus jelas, mudah dibaca dalam waktu singkat dan mudah
dimengerti yaitu tempat ditemukan spesimen, tanggal koleksi dan nama kolektor.
Label terbuat dari kertas putih yang berkualitas baik dan tahan air dengan ukuran

11
yang seragam 3/8 - ¾ inci , 1 – 2 cm. Isi label ditulis dengan tinta yang tahan air.
Untuk label koleksi basah dapat ditulis dengan tinta hitam India.
Susunan isi label pokok terdiri dari:
- Paling atas data letak garis lintang dan garis bujur tempat penangkapan
serangga.
- Tanggal koleksi (tanggal, bulan dan tahun)
- Lokasi
- Nama kolektor

12
DAFTAR PUSTAKA

Borror, D.J., Triplehorn, G.A., and Johnson, N.F., 1989. An Introduction to the
Study of Insect. Sixth edition. Sounders College Publishing, New York.

Chapman, R.F., 1998. The Insect, Structure and Function. 4 th edition. Cambridge
University Press, United Kingdom.

Gullan, P.J., and Cranston, P,S., 2000. The Insect, An Outline of Entomology.
Second edition. Blackwell Science, australia.

Snodgrass, R.E., 1993. Principle of Insect Morphology. Cornel University Press,


Ithaca and London.

13